{"id":4719,"date":"2026-07-30T00:41:29","date_gmt":"2026-07-30T00:41:29","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4719"},"modified":"2026-07-30T00:41:29","modified_gmt":"2026-07-30T00:41:29","slug":"aksi-damai-greenpeace-di-pltgu-muara-karang-memprotes-inkosistensi-kebijakan-iklim-pemerintah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4719","title":{"rendered":"Aksi Damai Greenpeace di PLTGU Muara Karang Memprotes Inkosistensi Kebijakan Iklim Pemerintah"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Bersamaan dengan pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim ke-30 PBB atau COP 30 di Bel&eacute;m, Brasil, sejumlah aktivis Greenpeace menggelar aksi damai di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Karang, Jakarta Utara.<\/p>\n<p>Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap inkonsistensi kebijakan energi nasional, yang dinilai kurang ambisius karena masih bergantung pada energi fosil.<\/p>\n<p>Aksi ini juga bentuk protes terhadap sikap pemerintah yang memberikan ruang terhadap 46 pelobi industri fosil dalam delegasi Indonesia di panggung COP 30.<\/p>\n<p>Dalam pernyataan tertulis di laman resminya,&nbsp;Greenpeace menilai Sikap pemerintah ini sama saja dengan memberikan industri tersebut karpet merah, sehingga komitmen transisi energi Indonesia patut dipertanyakan.<\/p>\n<p>Greenpeace menyebut RUPTL 2025&ndash;2034 masih memuat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan pembangkit gas fosil baru, meskipun KEN (Kebijakan Energi Nasional) dan SNDC (<em>Second Nationally Determined Contribution<\/em>) menargetkan peningkatan porsi energi terbarukan.<\/p>\n<p>Jika proyek-proyek tersebut tetap berjalan, Indonesia akan terjebak dalam jebakan emisi karbon dan metana selama puluhan tahun.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Target energi terbarukan yang ditetapkan KEN dan RUKN sebesar 22 persen pada 2030, sementara RUPTL hanya menambah sekitar 20&ndash;22 GW energi terbarukan, jauh di bawah kebutuhan jalur 1,5&deg;C yang menuntut percepatan lebih agresif.<\/p>\n<p>Untuk mendukung target 1,5&deg;C, bauran energi terbarukan idealnya harus mencapai 55 persen bahkan sampai 82 persen pada tahun 2030.<\/p>\n<p>Aksi ini secara khusus menyoroti dan menolak narasi yang menempatkan gas sebagai &ldquo;energi transisional&rdquo;, karena gas adalah energi fosil yang masih menghasilkan emisi karbon signifikan.<\/p>\n<p>Dalam laporan Greenpeace dan Celios, ekspansi pembangkit gas fosil dalam skenario 22 GW akan mengakibatkan lonjakan emisi CO2 hingga 49,02 juta ton per tahun, dan emisi Metana (CH4) hingga 43.768 ton per tahun.<\/p>\n<p>&ldquo;Penggunaan gas secara masif justru menciptakan inkonsistensi antara kebijakan energi nasional dengan komitmen transisi energi, dan berpotensi mengunci Indonesia pada infrastruktur fosil selama puluhan tahun ke depan serta menghambat laju pencapaian target iklim yang sesungguhnya&rdquo;, ucap Yuyun Harmono, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.<\/p>\n<p>Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.600 GW, termasuk 3.200 GW dari tenaga surya, menurut Kementerian Energi (ESDM).<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Namun, energi terbarukan baru berkontribusi kurang dari 15 persen terhadap bauran energi nasional, sementara pemerintah masih berencana untuk mempertahankan kapasitas energi fosil lebih dari 40 persen hingga tahun 2034.<\/p>\n<p>Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di Indonesia, Greenpeace menegaskan bahwa transisi energi harus fokus di energi terbarukan seperti surya dan angin, bukan pada peralihan dari batu bara ke gas.<\/p>\n<p>Ini adalah satu-satunya cara yang kredibel untuk mencegah dampak krisis iklim yang lebih dahsyat dan memastikan masa depan energi yang berkelanjutan dan berkeadilan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Bersamaan dengan pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim ke-30 PBB atau COP 30 di Bel&eacute;m, Brasil, sejumlah aktivis Greenpeace menggelar aksi damai di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Karang, Jakarta Utara. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap inkonsistensi kebijakan energi nasional, yang dinilai kurang ambisius karena masih bergantung pada energi fosil. Aksi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4720,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1582],"class_list":["post-4719","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cop-30"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4719","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4719"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4719\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4720"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4719"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4719"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4719"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}