{"id":4921,"date":"2026-07-30T00:43:04","date_gmt":"2026-07-30T00:43:04","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4921"},"modified":"2026-07-30T00:43:04","modified_gmt":"2026-07-30T00:43:04","slug":"justcop-kebijakan-iklim-indonesia-tak-sejalan-dengan-seruan-unfccc","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4921","title":{"rendered":"JustCOP: Kebijakan Iklim Indonesia Tak Sejalan dengan Seruan UNFCCC"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; <em>United Nations Framework Convention on Climate Change<\/em> (UNFCCC) menyerukan negara-negara di dunia segera beralih ke energi bersih dengan cara yang berkeadilan&nbsp;demi&nbsp;mengadang&nbsp;dampak&nbsp;krisis&nbsp;iklim&nbsp;yang&nbsp;makin&nbsp;nyata.<\/p>\n<p>Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell dalam pidatonya di pembukaan COP 30 di<br \/>Bel&eacute;m, Brasil, 10 November 2025, mengatakan bahwa transisi dari energi fosil ke energi yang lebih bersih secara adil akan membantu mengatasi krisis iklim.<\/p>\n<p>Stiell mengatakan sudah tidak ada lagi alasan bagi negara-negara di dunia menunda komitmen Perjanjian Paris dan segera beralih ke energi bersih yang berkeadilan.<\/p>\n<p>&ldquo;Dunia telah sepakat untuk beralih dari bahan bakar fosil. Sekaranglah saatnya<br \/>untuk berfokus pada bagaimana kita melakukannya secara adil dan tertib. Berfokus pada<br \/>kesepakatan mana yang akan dicapai, untuk mempercepat penggandaan energi terbarukan<br \/>dan penggandaan efisiensi energi,&rdquo; kata Stiell.<\/p>\n<p>Dalam pidatonya, Stiell juga menegaskan jalur transisi energi harus inklusif dan adil, mencakup semua elemen masyarakat tanpa terkecuali.<\/p>\n<p>Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam JustCOP mengingatkan, pernyataan Stiell itu selayaknya menjadi arah utama Indonesia dalam memperkuat komitmen iklim.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246821899\/unfccc-dunia-butuh-solusi-iklim-transisi-ke-energi-bersih-yang-berkeadilan-tak-bisa-ditunda\">Baca: Dunia butuh solusi iklim, transisi ke energi bersih yang berkeadilan tak bisa ditunda<\/a><\/p>\n<p>Dalam beberapa pertemuan global, Presiden Prabowo Subianto memang&nbsp;menyatakan komitmen&nbsp;transisi&nbsp;energi&nbsp;menuju 100 persen energi bersih dalam satu dekade mendatang.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif CERAH Agung Budiono mengatakan, pernyataan tersebut harus diterjemahkan secara konkret dalam seluruh kebijakan energi nasional.<\/p>\n<p>&ldquo;Namun, faktanya menunjukkan arah kebijakan terkait transisi energi bersih masih kontradiktif,&rdquo; kata Agung.<\/p>\n<p>Dokumen seperti Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi<br \/>Nasional (KEN), Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025-2034, dan Rencana<br \/>Umum Ketenagalistrikan Nasional 2025&ndash;2045 masih menempatkan batu bara dan gas<br \/>sebagai sumber utama pasokan energi nasional hingga lebih dari 60 persen dalam dua<br \/>dekade mendatang.<\/p>\n<p>&ldquo;Jika tidak ada koreksi menyeluruh, maka pernyataan politik Presiden Prabowo hanya akan berhenti sebagai retorika tanpa pijakan kebijakan yang nyata,&rdquo; kata Agung.<\/p>\n<p>Ia menilai komitmen Indonesia di panggung global seperti COP 30 yang tertuang lewat<br \/>Second Nationally Determined Contribution (SNDC) dan target Net Zero Emission 2060 atau<br \/>lebih cepat menuntut keberanian untuk melakukan reformasi kebijakan energi.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246818643\/fokus-pada-perdagangan-karbon-misi-delegasi-indonesia-di-cop-30-dinilai-tak-mewakili-kelompok-rentan\">Baca: Misi delegasi Indonesia di COP 30 dinilai tak mewakili kelompok rentan<\/a><\/p>\n<p>Pemerintah harus memastikan agar peta jalan transisi energi nasional benar-benar berpihak pada energi terbarukan yang bersih dan berkeadilan.<\/p>\n<p>Tanpa penyelarasan antara komitmen internasional dan kebijakan domestik, Indonesia berisiko kehilangan kredibilitas di mata global dalam green momentum di kawasan.<\/p>\n<p>SNDC Indonesia yang diserahkan pada Oktober lalu justru sarat dengan solusi palsu yang jauh dari nilai keadilan dan inklusivitas.<\/p>\n<p>Pengkampanye Energi Terbarukan Trend Asia, Beyrra Triasdian mengatakan, pemerintah masih membuka ruang bagi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru dan mendorong gas sebagai low carbon fuel.<\/p>\n<p>&rdquo;Sebuah langkah yang mempertahankan ketergantungan pada energi fosil dan mengabaikan tanggung jawab untuk memastikan transisi yang adil bagi masyarakat dan lingkungan,&rdquo; ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Selasa (11\/11\/2025).<\/p>\n<p>Beyrra menilai arah pendanaan dan kebijakan energi nasional hingga sekarang sama sekali<br \/>belum menunjukkan keberpihakan kepada rakyat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246807972\/greenpeace-indonesia-minta-pemerintah-tak-jadikan-cop-30-sebagai-panggung-memoles-citra\">Baca: Pemerintah jadikan COP 30 sebagai panggung memoles citra<\/a><\/p>\n<p>Tidak ada dukungan berarti bagi inisiatif energi terbarukan berbasis komunitas yang selama ini menjadi bukti nyata transisi yang adil dan berakar dari bawah.<\/p>\n<p>&ldquo;Selama transisi hanya berputar di lingkaran korporasi dan solusi semu, Indonesia tidak sedang menuju transformasi energi, melainkan memperpanjang ketimpangan dan ketidakadilan atas nama iklim,&rdquo; tandas Beyrra<\/p>\n<p>Hingga saat ini, Indonesia masih mengandalkan energi fosil sebagai sumber energi. Data<br \/>Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, hingga 2024 bauran energi primer di Indonesia masih didominasi oleh batu bara sebesar 40,37 persen.<\/p>\n<p>Disusul kemudian berturut-turut minyak bumi sebesar 28,82 persen, gas bumi 16,17 persen dan Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapat 14,65 persen.<\/p>\n<p>Penggunaan batu bara yang masif telah merugikan masyarakat. Hasil riset CELIOS, CREA<br \/>dan Trend Asia yang diterbitkan 4 November 2025 lalu menunjukkan, penggunaan batu bara<br \/>di 20 PLTU menyebabkan setidaknya 156.000 kematian dini akibat polusi udara.<\/p>\n<p>Adapun biaya ekonomi dari kerugian kesehatan hingga 109 miliar dolar AS atau setara Rp1,813 triliun dari tahun 2026 hingga tahun operasional terakhir pada tahun 2050 akibat polusi udara.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246805142\/kritik-terhadap-perdagangan-karbon-yang-menjadi-topik-hangat-di-cop-30\">Baca: Kritik terhadap perdagangan karbon yang diusung delegasi Indonesia di COP 30<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Penyakit-penyakit yang timbul dari dampak kesehatan PLTU meliputi stroke, penyakit<br \/>jantung iskemik, infeksi saluran pernapasan bawah, penyakit paru obstruktif kronik, kankerparu-paru, dan diabetes.<\/p>\n<p>Kerugian ekonomi per tahun dari 20 PLTU mencapai Rp52,4 triliun dan berkurangnya<br \/>pendapatan masyarakat secara agregat sebesar Rp48,4 triliun.<\/p>\n<p>Sebanyak 1,45 juta tenaga kerja berkurang akibat operasional 20 PLTU di Indonesia, sebagian besar merupakan pekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang terdapat pencemaran lingkungan.<\/p>\n<p>Manajer Kampanye Hutan dan Kebun WALHI, Uli Arta Siagian menekankan peralihan dari energi fosil ke energi bersih harus disertai pendanaan yang berkeadilan.<\/p>\n<p>Tropical Forest Forever Facility (TFFF), pendanaan guna memulihkan hutan tropis sekaligus mendukung transisi energi, harus memastikan modalnya tidak digunakan untuk menopang industri bahan bakar fosil.<\/p>\n<p>Sebaliknya, pendanaan dari TFFF ini harus bermanfaat secara konkret bagi komunitas penjaga hutan.<\/p>\n<p>&ldquo;Telah banyak janji yang dihasilkan dalam serangkaian perundingan COP. Janji-janji itu sudah semestinya menempatkan Masyarakat Adat dan komunitas lokal sebagai aktor utama yang berhak menerima manfaat langsung dari pendanaannya,&rdquo; katanya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyerukan negara-negara di dunia segera beralih ke energi bersih dengan cara yang berkeadilan&nbsp;demi&nbsp;mengadang&nbsp;dampak&nbsp;krisis&nbsp;iklim&nbsp;yang&nbsp;makin&nbsp;nyata. Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell dalam pidatonya di pembukaan COP 30 diBel&eacute;m, Brasil, 10 November 2025, mengatakan bahwa transisi dari energi fosil ke energi yang lebih bersih secara adil akan membantu mengatasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4922,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[107,1672],"class_list":["post-4921","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-transisi-energi","tag-unfccc"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4921"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4921\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}