{"id":5213,"date":"2026-07-30T00:56:23","date_gmt":"2026-07-30T00:56:23","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=5213"},"modified":"2026-07-30T00:56:23","modified_gmt":"2026-07-30T00:56:23","slug":"banyak-makanan-terbuang-mbg-menambah-persoalan-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=5213","title":{"rendered":"Banyak Makanan Terbuang, MBG Menambah Persoalan Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Selain masalah keracunan dan beban anggaran, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menyisakan persoalan lain, yakni food waste atau limbah makanan.<\/p>\n<p>Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan&nbsp;limbah makanan dari program MBG mencapai 1,1-1,4 juta ton per tahun.<\/p>\n<p>Ironisnya, dari jumlah tersebut, 451-603 ribu ton di antaranya merupakan <em>edible food<\/em> atau makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi.<\/p>\n<p>Mengapa MBG banyak terbuang?&nbsp;Untuk&nbsp;menjawab&nbsp;pertanyaan&nbsp;ini,&nbsp;penulis bersama tim dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelitian di 10 sekolah wilayah Kota Bandung dan dan Kabupaten Bandung Barat.<\/p>\n<p>Penelitian difokuskan untuk menelusuri penyebab tingginya&nbsp;limbah makanan akibat&nbsp;program MBG. Riset kami (belum dipublikasikan) menemukan setidaknya tiga persoalan:<\/p>\n<p><strong>1. Preferensi makanan<\/strong><br \/>Perbedaan preferensi makanan menjadi salah satu penyebab utama anak-anak tidak menghabiskan makanan mereka.<\/p>\n<p>Beberapa menu makanan dalam program MBG kurang disukai anak-anak. Misalnya, sayur-sayuran, telur rebus, buah bertekstur basah (seperti semangka) atau makanan dengan bumbu ringan dan kadar garam rendah.<\/p>\n<p>Meski sehat, menu yang disajikan ini tidak menggugah selera sebagian siswa. Ketidaksesuaian menu dengan selera anak membuat makanan yang disajikan berakhir di tempat sampah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/pendidikan\/246741734\/survei-kawula17-masyarakat-menilai-mbg-bukan-jawaban-atas-pendidikan-layak\">Baca: Kawula muda menilai MBG bukan jawaban atas masalah pendidikan layak<\/a><\/p>\n<p>&#8220;Kadang anak-anak tidak mau makan kalau menunya selalu sama, sehingga imbasnya kan mubazir ya. Terkadang kita bingung juga, karena ini kan uang negara, uang rakyat tapi dihambur-hamburkan begini. Kalau bisa ya ini diefektifkan, jadi sebisa mungkin menu diperhatikan, sehingga anak lebih semangat makannya.&#8221; (Salah satu guru di SMA Kota Bandung).<\/p>\n<p><strong>2. Kesegaran makanan<\/strong><br \/>Persoalan lain adalah kesegaran makanan. Kami menemukan sayur dan buah merupakan makanan yang paling sering berubah tekstur, bau, dan warna ketika hendak disantap anak-anak saat jam makan siang.<\/p>\n<p>Masalah ini terjadi karena makanan disimpan terlalu lama dan tidak sempat didinginkan setelah dimasak, karena harus segera didistribusian ke sekolah-sekolah. Waktu pengiriman yang cukup lama juga memengaruhi suhu makanan, sehingga kesegarannya menurun.<\/p>\n<p>Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus memasak 2.000 &#8211; 3.000 porsi setiap hari, lalu mendistribusikannya ke beberapa sekolah dalam radius sekitar lima kilometer dari dapur.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Untuk memproduksi makanan dalam skala besar seperti ini, menjaga kebersihan, mutu, dan konsistensi setiap makanan bakal sulit.<\/p>\n<p><strong>3. Sistem pengelolaan sampah<\/strong><br \/>Sisa makanan yang terbuang juga belum dikelola dengan baik. Beberapa sekolah ada yang berinisiatif mengelola sampah sendiri.<\/p>\n<p>Dari sepuluh sekolah yang kami datangi, dua di antaranya berkolaborasi dengan jaringan peternak maggot dan peternak lokal lainnya agar sisa makanan bisa dijadikan pakan ternak.<\/p>\n<p>Namun, secara umum, sejak awal memang belum ada antisipasi sistem pengelolaan sampah sisa makanan dalam desain program MBG. Akibatnya, program ini justru menambah beban sampah di sekolah dan lingkungan sekitar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/246697668\/keracunan-akibat-program-mbg-terus-terjadi-jppi-menilai-negara-mengabaikan-keselamatan-anak\">Baca: Keracunan akibat program MBG terus terjadi<\/a><\/p>\n<p>Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 mencatat, total sampah yang dihasilkan di 321 Kabupaten\/Kota di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 35 juta ton.<\/p>\n<p>Dari jumlah tersebut, tercatat komposisi sampah dari sisa makanan yang paling banyak, mencapai 39-40 persen selama lima tahun terakhir. Padahal di sisi lain, masih banyak masyarakat miskin yang kekurangan makanan.<\/p>\n<p><strong>Strategi mengurangi sampah makanan<\/strong><br \/>Limbah makanan mengakibatkan dampak lingkungan yang serius. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan menghasilkan leachate (lindi), yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.<\/p>\n<p>Limbah&nbsp;makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH\u2084) yang paling parah menyebabkan pemanasan global.<\/p>\n<p>Sekitar 26 persen dari total emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia berasal dari limbah makanan. Sampah dari MBG tentunya akan menambah jejak emisi yang sudah tinggi ini.<\/p>\n<p>Karena itu, perlu strategi pengelolaan sampah makanan yang sistematis untuk mengurangi sampah makanan dari Program MBG.<\/p>\n<p>Kami merekomendasikan beberapa langkah berikut:<br \/>Evaluasi menyeluruh: Program MBG tidak bisa hanya menekankan pemenuhan gizi, tetapi juga perlu mempertimbangkan selera dan kebiasaan makan anak-anak.<\/p>\n<p>Panduan teknis dan regulasi: Perlu dokumen pedoman dan aturan teknis yang mengatur pengelolaan sisa makanan agar limbah tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali.<\/p>\n<p>Kolaborasi lintas pihak: Perlu kolaborasi antara pemerintah, sekolah, pelaku usaha pangan, serta komunitas lokal untuk membangun sistem pemanfaatan limbah yang efektif dan sistematis.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lingga Utami (PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia) dan Elly Malihah (Universitas Pendidikan Indonesia)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Selain masalah keracunan dan beban anggaran, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menyisakan persoalan lain, yakni food waste atau limbah makanan. Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan&nbsp;limbah makanan dari program MBG mencapai 1,1-1,4 juta ton per tahun. Ironisnya, dari jumlah tersebut, 451-603 ribu ton di antaranya merupakan edible food atau makanan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":5214,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[888,17,39],"class_list":["post-5213","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-limbah-makanan","tag-lingkungan","tag-mbg"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5213","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5213"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5213\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5214"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5213"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5213"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5213"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}