{"id":5449,"date":"2026-07-30T00:59:10","date_gmt":"2026-07-30T00:59:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=5449"},"modified":"2026-07-30T00:59:10","modified_gmt":"2026-07-30T00:59:10","slug":"masyarakat-sipil-tfff-tidak-menyentuh-akar-masalah-deforestasi-hutan-tropis-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=5449","title":{"rendered":"Masyarakat Sipil: TFFF Tidak Menyentuh Akar Masalah Deforestasi Hutan Tropis Dunia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Pemerintah Brasil dan United Nations Development Programme (UNDP), Senin (20\/10\/2025) menyelenggarakan lokakarya regional tentang <em>Tropical Forest Forever Facility<\/em> (TFFF) bersama Negara-negara Anggota ASEAN dan para pemangku kepentingan di Jakarta.<\/p>\n<p>TFFF adalah mekanisme pembiayaan inovatif untuk memberi penghargaan kepada negara-negara tropis untuk pelestarian hutan yang dipimpin oleh Brasil dan dirancang bersama oleh komite pengarah interim yang terdiri dari negara-negara tropis (Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Ghana, Indonesia, dan Malaysia).<\/p>\n<p>Selain itu ada lima negara maju yang disebut siap menjadi sponsor TFFF, yaitu Perancis, Jerman, Norwegia, Uni Emirat Arab, dan Inggris.<\/p>\n<p>TFFF didukung partisipasi aktif organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat dan komunitas lokal, dan sektor swasta, Mekanisme ini akan memberikan insentif jangka panjang dan berkesinambungan bagi negara-negara berhutan tropis<\/p>\n<p>TFFF juga disebut akan memastikan sumber daya yang signifikan menjangkau mereka yang melindungi dan memulihkan hutan di lapangan, terutama masyarakat adat dan komunitas lokal.<\/p>\n<p>TFFF adalah fasilitas pendanaan yang bertujuan memberikan insentif sebesar 4 dolar AS\/hektare\/tahun kepada negara-negara yang berhasil menjaga tutupan hutan tropis tetap utuh.<\/p>\n<p>Dana ini dikumpulkan dari investor: 80 persen berasal dari pasar modal dan 20 persen dari sponsor negara kaya, dengan total target sebesar USD 125 miliar.<\/p>\n<p>Dana tersebut dikelola dengan target return sebesar 7,5 persen, yang kemudian disalurkan ke negara-negara pemilik hutan jika mereka memenuhi kriteria pengurangan deforestasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246727194\/jelang-cop-30-brasil-dorong-inisiatif-tfff-untuk-pelestarian-hutan-tropis\">Baca: Brasil dorong inisiatif TFFF untuk pelestarian hutan tropis<\/a><\/p>\n<p>Namun pembayaran ini bersifat bersyarat. Jika angka deforestasi naik, negara bisa kehilangan insentif atau bahkan dikenai penalti. Skema ini membuat hutan tropis menjadi semacam instrumen pasar: dievaluasi, dihitung, dan dijadikan objek pertaruhan keuangan.<\/p>\n<p>Resident Representative UNDP Indonesia,Sara Ferrer Olivella dalam pres briefing pada Senin (20\/10\/2025) di Jakarta mengatakan, TFFF merupakan contoh nyata bagaimana negara-negara di kawasan Global South merancang solusi yang menjawab tantangan bersama mereka.<\/p>\n<p>&rdquo;Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki peran penting dalam membentuk kerangka inovatif ini agar pendanaan iklim dan kehutanan dikelola secara transparan, menjangkau masyarakat lokal, serta mendorong pembangunan manusia dan pembangunan berkelanjutan,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, &ldquo;UNDP siap mendukung negara-negara dalam memperkuat sistem tata kelola dan kapasitas kelembagaan yang diperlukan agar mekanisme ini benar-benar bermanfaat bagi manusia dan bagi planet ini.&rdquo;<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Namun, TFFF menuai kritik dan disebut gagal menjawab akar masalah deforestasi hutan tropis di dunia.<\/p>\n<p>Mary Louise Malig, Direktur Kebijakan Global Forest Coalition yang menulis kertas posisi tentang TFFF menyebut, inisiatif ini tidak menyentuh penyebab utama deforestasi: ekspansi sawit, peternakan industri, tambang, dan proyek infrastruktur.<\/p>\n<p>Skema ini justru mengalihkan tanggung jawab dari negara industri ke negara-negara pemilik hutan tropis. Dengan membayar hanya 4 dolar per hektare, negara-negara kaya bisa mencuci tangan tanpa harus mengurangi emisi mereka sendiri.<\/p>\n<p>&ldquo;Ini bukan keadilan iklim&mdash;ini adalah outsourcing tanggung jawab moral dan ekologis,&ldquo; demikian kertas posisi tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246728470\/jelang-cop-30-catatan-kritis-terhadap-insiatif-tfff-untuk-lindungi-hutan-tropis-dunia\">Baca: Catatan Kritis terhadap inisiatif TFFF untuk lindungi hutan tropis dunia<\/a><\/p>\n<p>Alih-alih bergantung pada mekanisme pasar dan investor global, Mary menegaskan, perlindungan hutan tropis seharusnya dibangun di atas prinsip keadilan ekologis dan pengakuan hak masyarakat adat.<\/p>\n<p>Beberapa alternatif nyata yang layak diperjuangkan:<br \/>&bull; \u2060Pendanaan langsung ke masyarakat adat dan komunitas lokal.<br \/>&bull; \u2060Hentikan insentif ekonomi untuk industri perusak hutan seperti sawit, tambang, dan agribisnis.<br \/>&bull; \u2060Pajak emisi karbon dan industri minyak, serta realokasi sebagian anggaran militer global (hanya 1persen saja) untuk perlindungan hutan.<br \/>&bull; \u2060Hukum yang mengakui hutan sebagai subjek hukum, bukan sekadar objek ekonomi.<br \/>&bull; \u2060Akuntabilitas hukum terhadap perusahaan-perusahaan perusak lingkungan.<\/p>\n<p>&#8220;Daripada berharap pada skema pasar, kita perlu hukum yang mengakui hak hukum hutan sebagai subjek hidup, dan menuntut korporasi perusak bertanggung jawab,&#8221; tandas Mary dalam kertas posisi tersebut.<\/p>\n<p>Ditambahkan, TFFF merupakan contoh nyata bagaimana kapitalisme hijau bekerja: membungkus pendekatan neoliberal dalam narasi keberlanjutan, sambil tetap mempertahankan struktur dominasi dan ketimpangan.<\/p>\n<p>Skema ini disebutnya menguntungkan bank dan investor, tidak menghentikan sistem ekonomi ekstraktif dan mengorbankan masyarakat adat dan ekosistem hutan.<\/p>\n<p>Perlindungan hutan tropis harus dilakukan dengan berbasis pada hak-hak masyarakat adat, dilandasi regulasi ketat terhadap perusak lingkungan, dan tidak menjadikan hutan sebagai objek spekulasi pasar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia&nbsp;&#8211;&nbsp;Pemerintah Brasil dan United Nations Development Programme (UNDP), Senin (20\/10\/2025) menyelenggarakan lokakarya regional tentang Tropical Forest Forever Facility (TFFF) bersama Negara-negara Anggota ASEAN dan para pemangku kepentingan di Jakarta. TFFF adalah mekanisme pembiayaan inovatif untuk memberi penghargaan kepada negara-negara tropis untuk pelestarian hutan yang dipimpin oleh Brasil dan dirancang bersama oleh komite pengarah interim yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":5450,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1841,1712],"class_list":["post-5449","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-hutan-tropis","tag-tfff"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5449","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5449"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5449\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5450"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5449"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5449"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5449"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}