{"id":6065,"date":"2026-07-30T01:03:33","date_gmt":"2026-07-30T01:03:33","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6065"},"modified":"2026-07-30T01:03:33","modified_gmt":"2026-07-30T01:03:33","slug":"kcif-2025-resmi-ditutup-agenda-feminisme-harus-bisa-menjawab-persoalan-yang-berkembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6065","title":{"rendered":"KCIF 2025 Resmi Ditutup: Agenda Feminisme Harus Bisa Menjawab Persoalan yang Berkembang"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; 3rd Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms&nbsp;atau KCIF 2025 resmi ditutup pada Minggu, 21 September 2025.<\/p>\n<p>Diselenggarakan secara daring selama delapan hari sejak 14 September 2025, KCIF&nbsp;2025 menghadirkan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.<\/p>\n<p>Lebih dari 350 pembicara dan presenter terlibat dalam 68 sesi yang mencakup diskusi panel, side event, roundtable forum, keynote speech, diskusi buku, sesi plenary, hingga networking and malam budaya.<\/p>\n<p>Dalam sambutan penutupan, Farid Muttaqin, Chair Conference KCIF 2025, menegaskan bahwa di tengah situasi krisis keadilan sosial, gerakan ini bisa menjadi&nbsp;sarana konsolidasi gerakan feminisme di Indonesia.<\/p>\n<p>&ldquo;Inilah waktu yang paling membutuhkan konsolidasi gerakan feminisme, untuk melakukan perlawanan terhadap rezim di satu sisi dan menyebarkan solidaritas kemanusiaan di sisi lain.&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam&nbsp;keterangan&nbsp;tertulis&nbsp;yang&nbsp;diterima&nbsp;7cloud.asia,&nbsp;Minggu&nbsp;(21\/9\/2025)&nbsp;KCIF&nbsp;2025 merespons persoalan yang berkembang di Indonesia&nbsp;dan&nbsp;di&nbsp;dunia.<\/p>\n<p>Koordinator Program KCIF 2025 sekaligus Pendiri dan Koordinator LETSS Talk, Diah Irawaty berbicara dalam sesi Diskusi dan Launching Buku &ldquo;Feminisme di Persimpangan&rdquo;<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu, dia menggarisbawahi pentingnya memosisikan feminisme Indonesia sebagai gerakan politik dan pemikiran yang tidak terisolasi dari dinamika sosial-politik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/246572259\/kcif-2025-masa-depan-feminisme-di-tengah-krisis-demokrasi\">Baca: KCIF 2025 soroti masa depan feminisme di tengah krisis demokrasi<\/a><\/p>\n<p>Karenanya, menurut Diah, agenda-agenda feminisme perlu berorientasi menjawab persoalan-persoalan yang berkembang.<\/p>\n<p>&ldquo;Melalui berbagai diskusi dan pertukaran pemikiran, KCIF menawarkan ide dan&nbsp;gagasan untuk menguatkan kerja advokasi perubahan sosial.&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Sejarawan dan antropolog feminis pengkaji Indonesia dari Universitas Amsterdam, Prof. Dr. Saskia Wieringa didapuk untuk menyampaikan pidato kunci bertema &ldquo;Konfrontasi Otoritarianisme Baru: Memosisikan Ulang Feminisme di Indonesia dan Wilayah Lainnya&rdquo;.<\/p>\n<p>Dia menyampaikan bahwa Indonesia perlu gerakan perempuan yang berisi para superwoman yang berani melakukan upaya membangun radical equality, kesetaraan yang radikal antara kelompok sosial, dengan penuh empati, kasih sayang, dan cinta.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Agama sebagai aspek penting dalam kehidupan masyarakat, ujarnya, tidak boleh jadi sumber kebencian melainkan sumber kekayaan dan kekuatan spiritual dan integritas kita sebagai manusia.<\/p>\n<p>Saskia menekankan perlunya manifesto perubahan struktural, baik legislatif, eksekutif, dan yudikatif.<\/p>\n<p>Indonesia, lanjutnya, bisa adil dan setara apabila Pancasila dan UUD 45 sudah dihormati dengan integritas moral tinggi, atas musyawarah dan supremasi sipil bukan militer.<\/p>\n<p>&rdquo;Kita bisa mencapai SDG&rsquo;s, kemudian harus ada akuntabilitas dan transparansi, perlu ada pengarusutamaan gender, serta harus melindungi hak-hak kemanusiaan, utamanya perempuan, dan juga kita harus melindungi lingkungan, serta hak-hak komunitas, kemudian melindungi dan memperbaiki pembanguan, pendidikan, dan seni di Indonesia,&rdquo; tegas Saskia.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/246570493\/kcif-2025-dibuka-malam-ini-isu-lingkungan-dan-transisi-energi-juga-jadi-bahasan\">Baca: Isu lingkungan juga jadi bahasan dalam KCIF 2025<\/a><\/p>\n<p>Kegiatan konferensi online feminis terbesar di Indonesia ini diorganisasi oleh A Consortium for Plural and Inclusive Indonesian Feminisms, melibatkan tiga organisasi feminis, yaitu LETSS Talk, Kalyanamitra, dan Mitra Wacana.<\/p>\n<p>KCIF 2025 diselenggarakan secara pro bono dalam semangat kesukarelawanan dan kolaborasi; penyelenggaraan KCIF&nbsp;2025 tidak memungut biaya pada peserta atau presenter yang mengikuti kegiatan ini.<\/p>\n<p>KCIF&nbsp;2025&nbsp;mengusung&nbsp;tema besar &ldquo;Di Antara Badai Krisis Internal dan Eksternal: Masa Depan Feminisme dan Aktivisme Feminis,&rdquo;.<\/p>\n<p>Berbagai sesi diskusi dalam KCIF&nbsp;2025 tidak hanya menjadi ruang penting bagi produksi dan sirkulasi pengetahuan feminis keindonesiaan yang mengalami perkembangan pesat dalam 10 tahun terakhir.<\/p>\n<p>Forum diskusi juga menjadi media refleksi kritis berbagai elemen feminis nasional dan internasional tentang situasi sosial politik kekinian yang sedang menghadapi berbagai krisis keadilan dan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Para peserta menyampaikan pentingnya menguatkan kolaborasi feminis lintas batas, di tengah tantangan menguatnya otoritarianisme, militerisme, dan oligarki, serta konservatisme yang semakin ekstrem yang berimplikasi pada ketidakadilan gender dan agenda-agenda feminis.<\/p>\n<p>Dengan semangat ini, KCIF 2025 berkomitmen memastikan bahwa pengetahuan feminis tidak hanya dikuasai elit, tetapi dapat diakses dan diproduksi semua orang, sekaligus berkontribusi pada kerja advokasi dan aktivisme.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; 3rd Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms&nbsp;atau KCIF 2025 resmi ditutup pada Minggu, 21 September 2025. Diselenggarakan secara daring selama delapan hari sejak 14 September 2025, KCIF&nbsp;2025 menghadirkan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Lebih dari 350 pembicara dan presenter terlibat dalam 68 sesi yang mencakup diskusi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":6066,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2032,2033],"class_list":["post-6065","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-feminisme","tag-kcif-2025"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6065"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6065\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}