{"id":6158,"date":"2026-07-30T01:04:36","date_gmt":"2026-07-30T01:04:36","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6158"},"modified":"2026-07-30T01:04:36","modified_gmt":"2026-07-30T01:04:36","slug":"cara-cerdas-menggunakan-media-sosial-agar-tak-terjebak-dalam-echo-chamber","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6158","title":{"rendered":"Cara Cerdas Menggunakan Media Sosial Agar Tak Terjebak dalam \u2018Echo Chamber\u2019"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Masyarakat saat ini banyak mengonsumsi informasi dari media sosial. Terlebih Gen Z yang sangat aktif di Instagram dan TikTok.<\/p>\n<p>Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di media sosial, sambil sesekali berhenti karena menemukan konten yang menurut kita menarik.<\/p>\n<p>Masalahnya, media sosial bekerja berdasarkan algoritma. Ketika seseorang menonton sebuah video pendek di media sosial sampai habis, apalagi memberi like, bahkan share atau save, maka algoritmanya akan memunculkan konten-konten serupa.<\/p>\n<p>Akibatnya, tanpa disadari kita sering terjebak dalam ruang gema atau <em>echo chamber<\/em>, yaitu ruang yang berisi informasi serupa dengan apa yang dikonsumsi sebelumnya.<\/p>\n<p>Hal ini menciptakan <em>status quo<\/em> atau kondisi lingkaran pertemanan di media sosial yang tetap. Akhirnya, pengguna media sosial cenderung mengikuti satu pandangan saja dan sulit terbuka pada opini berbeda.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/246025634\/nenengisme-sebuah-upaya-membumikan-perubahan-iklim-di-media-sosial\">Baca: &lsquo;Nenengisme&rsquo; upaya membumikan narasi krisis iklim di media sosial<\/a><\/p>\n<p>Nah, sebagai &lsquo;follower&rsquo; kamu tak boleh tinggal diam. Kamu pun perlu lebih kritis dan beretika dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi. Kamu bisa menciptakan algoritmamu sendiri.<\/p>\n<p>Kasus kekecewaan publik terhadap DPR yang menguat selama beberapa minggu terakhir menunjukkan bahwa terdapat influencer yang menyampaikan pikiran tanpa klarifikasi data.<\/p>\n<p>Misalnya, influencer Deddy Corbuzier yang sering mengulas isu terkini dengan mendatangkan narasumber secara langsung, tapi kemudian menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada pengikut (<em>follower<\/em>).<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana jika pengikutnya tidak memiliki cukup data untuk menilai sehingga mereka hanya menelan mentah-mentah informasi yang disampaikan?<\/p>\n<p>Terlebih, cara berkomunikasi Deddy yang cenderung blak-blakan, sehingga tutur bahasa terkesan kurang pantas disampaikan oleh seorang influencer.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/246197598\/risiko-punya-pemimpin-yang-juga-kreator-konten-viral-dulu-substansi-dipikir-belakangan\">Baca: Risiko punya pemimpin yang juga kreator konten<\/a><\/p>\n<p>Ia misalnya mengkritik siswa yang bilang makanan bergizi gratis rasanya tidak enak, kemudian disambung dengan komentarnya &ldquo;Kurang enak, palalu pe&#8217;a!&rdquo;<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Namun, ada pula influencer yang memaparkan data untuk mengedukasi follower. Misalnya Jerome Polin yang menyatakan bahwa nilai tunjangan beras Anggota DPR bisa untuk makan sekampung, sehingga para pengikutnya semakin memahami konteks masalahnya.<\/p>\n<p>Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa ada influencer yang memberikan informasi berdasarkan data dan fakta kepada masyarakat. Namun, ada pula yang bicara tanpa data dan bahkan antikritik.<\/p>\n<p>Fenomena ini menuntut warganet sebagai konsumen konten untuk kritis dalam mengikuti akun-akun influencer.<\/p>\n<p>Jika influencer perlu mempertanyakan etika representatif mereka, maka follower juga perlu mengajukan lima pertanyaan reflektif agar kegiatannya di dunia maya lebih berdaya guna.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/246227983\/politik-kini-ditentukan-oleh-algoritma-bukan-kebijakan-substantif\">Baca: Politik kini ditentukan oleh algoritma, bukan kebijakan substantif<\/a><\/p>\n<p>Berikut sejumlah pertanyaan yang bisa membantu kamu untuk mengevaluasi kegiatan kamu di dunia maya:&nbsp;Siapa saja influencer yang kita ikuti?&nbsp;Konten seperti apa yang dibuat oleh para influencer tersebut?<\/p>\n<p>Apakah influencer yang kita ikuti berbicara berdasarkan fakta dan data, atau minimal memaparkan informasi secara seimbang?&nbsp;Mengapa kita mengikuti influencer tersebut?<br \/>Apa yang dapat kita lakukan untuk memperkaya perspektif dari influencer yang kita ikuti?<\/p>\n<p>Intinya, kita juga bisa &lsquo;melawan algoritma&rsquo; kita sendiri dengan melihat kembali apakah influencer yang kita ikuti sudah tepat atau belum. Sebab, influencer inilah yang membuat opini sering tidak netral dan menjebak followernya di dalam ruang gema.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lisa Esti Puji Hartanti (Full Lecturer at the School of Communication, Atma Jaya Catholic University of Indonesia)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Masyarakat saat ini banyak mengonsumsi informasi dari media sosial. Terlebih Gen Z yang sangat aktif di Instagram dan TikTok. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di media sosial, sambil sesekali berhenti karena menemukan konten yang menurut kita menarik. Masalahnya, media sosial bekerja berdasarkan algoritma. Ketika seseorang menonton sebuah video pendek di media [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":6159,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2058,765],"class_list":["post-6158","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-algoritma","tag-media-sosial"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6158"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6158\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}