{"id":6202,"date":"2026-07-30T01:04:49","date_gmt":"2026-07-30T01:04:49","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6202"},"modified":"2026-07-30T01:04:49","modified_gmt":"2026-07-30T01:04:49","slug":"kcif-2025-masa-depan-feminisme-di-tengah-krisis-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6202","title":{"rendered":"KCIF 2025: Masa Depan Feminisme di Tengah Krisis Demokrasi"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kegiatan tahunan, Kartini Conference on Indonesian Feminisms atau KCIF kembali diselenggarakan mulai hari ini, Minggu (14\/9\/2025) dan akan berlangsung hingga 21 September mendatang.<\/p>\n<p>KCIF 2025 secara resmi dibuka dengan &ldquo;Pembukaan dan Technical Meeting&rdquo; pada Minggu, (14\/9\/2025) dengan mengusung tema &ldquo;Di Antara Badai Krisis Internal dan Eksternal: Masa Depan Feminisme dan Aktivisme Feminis.&rdquo;<\/p>\n<p>KCIF 2025 melibatkan lebih dari 350 pembicara dan presenter dan akan diikuti 1000 peserta dengan latar belakang sangat beragam, yang berasal dari Aceh hingga Papua.<\/p>\n<p>Beberapa peserta tinggal di luar negeri seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda, Irlandia, Inggris, Jerman, Selandia Baru, Korea Selatan, dan T&uuml;rkiye.<\/p>\n<p>Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Minggu (14\/9\/2025) KCIF yang tahun ini memasuki tahun ke-3, ditujukan sebagai ruang akademik sekaligus ruang aktivisme dan advokasi,<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/246570493\/kcif-2025-dibuka-malam-ini-isu-lingkungan-dan-transisi-energi-juga-jadi-bahasan\">Baca: Isu lingkungan dan transisi energi jadi bahasan KCIF 2025<\/a><\/p>\n<p>Di sini akademisi, aktivis, penyintas, pengambil kebijakan, ibu rumah tangga, dan elemen feminisme individual bisa saling berinteraksi memikirkan dan mendiskusikan berbagai isu feminisme dan isu sosial lainnya, serta menawarkan ide-ide perubahan sosial.<\/p>\n<p>KCIF 2025 diorganisasi oleh <em>A Consortium for Plural and Inclusive Indonesian Feminisms<\/em>, yang melibatkan tiga organisasi feminis, yaitu LETSS Talk, Kalyanamitra, dan Mitra Wacana.<\/p>\n<p>KCIF 2025 menjadi ruang reflektif, pembelajaran kritis, sekaligus ruang kolaboratif bagi feminis lintas generasi, organisasi, geografi, dan komunitas untuk saling menguatkan serta memperkaya produksi pengetahuan feminis keindonesiaan yang interseksional, inklusif, dan dekolonial.<\/p>\n<p>KCIF diselenggarakan secara pro bono dalam semangat kesukarelawanan;<br \/>penyelenggaraan KCIF&nbsp;2025 tidak memungut biaya pada peserta atau presenter yang<br \/>mengikuti kegiatan ini.<\/p>\n<p>Conference Chair, Farid Muttaqin dari LETSS Talk, menyatakan bahwa KCIF 2025 <br \/>merupakan salah satu media untuk terus mengampanyekan dan mengklaim ulang feminisme Indonesia sebagai realitas yang plural, dengan aktor dan agenda gerakan yang kaya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/241800290\/kcif-2023-menyoroti-nasionalisme-yang-makin-meminggirkan-tubuh-perempuan\">Baca: KCIF 2023 soroti nasionalisme yang meminggirkan perempuan<\/a><\/p>\n<p>KCIF&nbsp;juga&nbsp;menjadi&nbsp;pengakuan atas keragaman feminisme juga pengakuan atas feminisme yang dinamis, yang terus bergerak.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&#8220;Feminisme terus bergerak untuk memproduksi dan mereproduksi berbagai gagasan dan agenda feminis, berusaha memberikan respons dan jawaban pada berbagai persoalan sosial yang berkembang,&#8221; ujarnya<\/p>\n<p>KCIF 2025 diawali dengan serangkaian kegiatan pre-conference dalam bentuk forum publik bekerja sama dengan Universitas Indonesia, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).<\/p>\n<p>Forum publik ini mengangkat tema produksi pengetahuan feminis keindonesiaan dan reposisi feminisme di tengah krisis demokrasi.<\/p>\n<p>KCIF 2025 akan memberikan dua bentuk penghargaan. Pertama, <em>Best Presenter<\/em> bagi tiga presenter dengan tema presentasi yang orisinal dan punya kontribusi besar pada feminisme, serta public speaking dan cara penyampaian yang memesona.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosok\/24560504\/membaca-pemikiran-kartini-lewat-habis-gelap-terbitlah-terang\">Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat &#8220;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8221;<\/a><\/p>\n<p>Kedua, <em>Best Participant<\/em>&nbsp;yang&nbsp;diberikan&nbsp;kepada tiga peserta yang aktif berpartisipasi dalam berbagai sesi KCIF 2025, menyampaikan tanggapan, komentar, dan pertanyaan kritis dan reflektif.<\/p>\n<p>Di tengah meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender, menyempitnya ruang demokrasi, serta menguatnya gerakan anti-gender dan anti-feminis global, KCIF 2025 menegaskan pentingnya membangun solidaritas lintas isu, lintas sektor, dan lintas generasi guna menegaskan pentingnya menguatkan komitmen feminis pada perubahan sosial.<\/p>\n<p>Komnas Perempuan (2024) mencatat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan 330.097 di antaranya kekerasan berbasis gender, jadi pendorong gerakan feminis untuk terus melawan ketidakadilan, termasuk memikirkan upaya dan strategi baru resistansi.<\/p>\n<p>KCIF 2025 adalah ruang yang inklusif, interseksional, dan plural, sekaligus konsisten membuka akses pengetahuan feminis secara gratis, online, dan berbahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Dengan semangat ini, KCIF berkomitmen memastikan bahwa pengetahuan feminis tidak hanya dikuasai elit, tetapi dapat diakses dan diproduksi oleh semua orang, sekaligus berkontribusi pada kerja advokasi dan aktivisme.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kegiatan tahunan, Kartini Conference on Indonesian Feminisms atau KCIF kembali diselenggarakan mulai hari ini, Minggu (14\/9\/2025) dan akan berlangsung hingga 21 September mendatang. KCIF 2025 secara resmi dibuka dengan &ldquo;Pembukaan dan Technical Meeting&rdquo; pada Minggu, (14\/9\/2025) dengan mengusung tema &ldquo;Di Antara Badai Krisis Internal dan Eksternal: Masa Depan Feminisme dan Aktivisme Feminis.&rdquo; KCIF [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":6203,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2032,2033,38],"class_list":["post-6202","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-feminisme","tag-kcif-2025","tag-perempuan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6202","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6202"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6202\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6203"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6202"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6202"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6202"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}