{"id":677,"date":"2026-07-30T00:23:17","date_gmt":"2026-07-30T00:23:17","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=677"},"modified":"2026-07-30T00:23:17","modified_gmt":"2026-07-30T00:23:17","slug":"separuh-sampah-di-indonesia-adalah-sampah-organik-pengelolaan-sampah-di-desa-punya-peran-penting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=677","title":{"rendered":"Separuh Sampah di Indonesia adalah Sampah Organik: Pengelolaan Sampah di Desa Punya Peran Penting"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Produksi sampah nasional terus meningkat&nbsp;dan&nbsp;diperkirakan&nbsp;volumenya akan mencapai lebih dari 146 ribu ton pada tahun 2029.<\/p>\n<p>Dari angka tersebut, sekitar 50 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik yang masih dapat diolah, sementara 25 persen lainnya berpotensi didaur ulang.<\/p>\n<p>Sementara 25 persen sampah residu yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi pembangkit listrik.<\/p>\n<p>Dilansir&nbsp;ugmac.id,&nbsp;dengan pendekatan yang tepat, sampah residu ini dapat menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional.<\/p>\n<p>Saat ini pemerintah terus mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah, termasuk melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) terutama untuk mengolah sampah residu ini.<\/p>\n<p>Hal ini terungkap dalam Dialog Indonesia Punya Kamu yang bertajuk &ldquo;Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional&rdquo; yang diselenggarakan di Kampus UGM, Jumat (12\/6\/2026).<\/p>\n<p>Di kesempatan itu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Dr. Cuk Supriyadi Ali Nandar menegaskan pentingnya penguatan pengelolaan sampah dari tingkat hulu.<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan bahwa desa memiliki posisi strategis karena sebagian besar sampah organik dapat dikelola sebelum bercampur dengan sampah anorganik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247385646\/pemprov-dki-jakarta-manfaatkan-teknologi-hidrotermal-untuk-mengolah-sampah-organik-yang-dihasilkan-pasar-tradisional\">Baca: Teknologi Hidrotermal untuk Mengolah Sampah Organik<\/a><\/p>\n<p>Jika sampah sudah tercampur dan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), proses pengolahan akan menjadi jauh lebih sulit dan kurang efisien.<\/p>\n<p>Selain penguatan sistem pengelolaan, Cuk juga menilai keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis sampah.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, ia berharap semakin banyak investor dan pelaku usaha yang tertarik mengembangkan industri pengolahan sampah di Indonesia.<\/p>\n<p>Cuk menambahkan, kondisi yang ada saat ini menuntut adanya sistem pengelolaan sampah yang dimulai sejak sumbernya, terutama di tingkat desa.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&ldquo;Untuk mendukung program tersebut, kita harus mulai dari hulunya, yakni dari desa,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. Mohammad Fauzan Adziman mengatakan, meski peluangnya besar, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada skala industri.<\/p>\n<p>Karena itu, pemerintah terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, lembaga riset, dan mitra internasional guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian terkait pengolahan sampah ini.<\/p>\n<p>Fauzan menuturkan perguruan tinggi memiliki kontribusi besar dalam pengembangan riset pengelolaan sampah dan energi. Dalam pemetaan yang dilakukan kementerian, UGM menjadi salah satu institusi dengan jumlah penelitian terbanyak pada isu pengelolaan sampah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247393396\/mengintip-pengolahan-sampah-organik-jadi-maggot-di-jakarta-timur\">Baca: Mengintip Pengolahan Sampah Organik Jadi Maggot di Jakarta Timur<\/a><\/p>\n<p>Menurut Fauzan, keberhasilan pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat. Pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga menjadi langkah paling mendasar untuk memastikan proses pengolahan dapat berjalan secara optimal.<\/p>\n<p>Untuk mendukung hal tersebut, perguruan tinggi didorong terlibat melalui program pemberdayaan masyarakat dan pengabdian yang melibatkan mahasiswa secara langsung.<\/p>\n<p>Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko menyoroti agenda strategis transisi energi yang akan menentukan masa depan pemanfaatan energi berkelanjutan di tanah air.<\/p>\n<p>Menurutnya, upaya mewujudkan sistem energi yang bersih, andal, terjangkau, dan berkeadilan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.<\/p>\n<p>&ldquo;Bagi Indonesia, transisi energi ini merupakan agenda yang super penting. Bagaimana mewujudkan transisi energi yang bersih, handal, terjangkau, berkeadilan, sesuai dengan karakter bangsa Indonesia,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Danang, transisi energi tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu saja. Kompleksitas persoalan energi menuntut pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan aspek teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial, hingga kebijakan publik.<\/p>\n<p>UGM, ujarnya, terus berupaya mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>&ldquo;Isu energi tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu bidang studi saja. Oleh karena itu, UGM sebagai universitas yang komprehensif menggunakan pendekatan lintas disiplin untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,&rdquo; tuturnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247336292\/hari-tanpa-sampah-sedunia-mengolah-sampah-organik-untuk-kurangi-emisi\">Baca: Mengolah Sampah Organik untuk Kurangi Emisi<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Produksi sampah nasional terus meningkat&nbsp;dan&nbsp;diperkirakan&nbsp;volumenya akan mencapai lebih dari 146 ribu ton pada tahun 2029. Dari angka tersebut, sekitar 50 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik yang masih dapat diolah, sementara 25 persen lainnya berpotensi didaur ulang. Sementara 25 persen sampah residu yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi pembangkit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":678,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[113,351],"class_list":["post-677","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-sampah-organik","tag-sampah-residu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=677"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/677\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}