{"id":6784,"date":"2026-07-30T01:07:13","date_gmt":"2026-07-30T01:07:13","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6784"},"modified":"2026-07-30T01:07:13","modified_gmt":"2026-07-30T01:07:13","slug":"arah-aksi-iklim-dunia-setelah-as-hengkang-dari-perjanjian-paris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=6784","title":{"rendered":"Arah Aksi Iklim Dunia Setelah AS Hengkang dari Perjanjian Paris"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pada awal 2025 lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa ia menarik AS dari Perjanjian Paris atau Paris agreement untuk kedua kalinya.<\/p>\n<p>Keputusan tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak. Sebab, langkah AS akan melemahkan upaya dunia mengatasi perubahan iklim atau yang lebih dikenal dengan aksi iklim.<\/p>\n<p>Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang akan mengisi kekosongan kepemimpinan ini?Penulis mempelajari dinamika politik lingkungan global, termasuk melalui negosiasi iklim PBB.<\/p>\n<p>Meski masih terlalu dini untuk menilai dampak jangka panjang pergeseran politik AS terhadap kerja sama global dalam perubahan iklim, ada tanda-tanda bahwa sejumlah pemimpin baru mulai mengambil peran.<\/p>\n<p><strong>Respons dunia terhadap penarikan diri AS<\/strong><br \/>Komitmen awal AS dalam Perjanjian&nbsp;Paris diumumkan pada 2015 oleh Presiden Barack Obama bersama Presiden China, Xi Jinping.<\/p>\n<p>Saat itu, AS sepakat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26&ndash;28 persen di bawah tingkat emisi tahun 2005 dengan target capaian pada 2025.&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245658890\/mayoritas-penandatangan-perjanjian-paris-telat-serahkan-dokumen-target-pengurangan-emisi-gas-rumah-kaca\">Baca: Mayoritas penandatangan Perjanjian Paris telat serahkan dokumen NDC<\/a><\/p>\n<p>AS juga menjanjikan bantuan dana untuk membantu negara berkembang beradaptasi terhadap risiko iklim dan mengembangkan energi terbarukan.<\/p>\n<p>Bagi sebagian pihak, komitmen ini merupakan langkah positif. Sebagian lainnya menilai komitmen ini masih terlalu lemah.<\/p>\n<p>Sejak kesepakatan itu, AS baru bisa memangkas emisi sebesar 17,2 persen, atau jauh di bawah target, sebagian karena hambatan politik di dalam negeri.<\/p>\n<p>Hanya dua tahun setelah Perjanjian&nbsp;Paris disahkan, pada 2017 Trump berdiri di Taman Mawar Gedung Putih dan mengumumkan penarikan diri AS dari kesepakatan global tersebut.<\/p>\n<p>Alasannya, kesepakatan tersebut mengancam lapangan kerja dan membebani ekonomi AS. Selain itu, Trump berpendapat perjanjian ini tidak adil karena China&mdash;penghasil emisi karbon terbesar dunia&mdash;diperkirakan tidak akan menurunkan emisinya dalam waktu dekat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245537755\/rata-rata-suhu-global-2024-lampaui-ambang-batas-perjanjian-paris-dipicu-emisi-gas-rumah-kaca-yang-terus-meningkat\">Baca: Rata-rata suhu global 2024 lampaui ambang batas Perjanjian Paris<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Para ilmuwan, politisi, dan pelaku bisnis mengkritik keputusan Trump tersebut. Mereka menyebutnya &lsquo;berpikir pendek&rsquo; dan &lsquo;ceroboh&rsquo;.<\/p>\n<p>Beberapa pihak bahkan khawatir bahwa Perjanjian Paris, yang ditandatangani oleh hampir semua negara itu akan bubar. Untungnya, itu tidak terjadi.<\/p>\n<p>Di Amerika&nbsp;Serikat, sejumlah perusahaan besar seperti Apple, Google, Microsoft, dan Tesla berkomitmen untuk tetap mematuhi target Perjanjian Paris.<\/p>\n<p>Negara bagian Hawaii menjadi yang pertama mengesahkan undang-undang selaras dengan kesepakatan tersebut. Koalisi kota dan sejumlah negara bagian di AS bersama-sama membentuk United States Climate Alliance untuk tetap bekerja mengatasi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Secara global, pemimpin dari Italia, Jerman, dan Prancis menolak ide Trump untuk menegosiasikan ulang perjanjian. Jepang, Kanada, Australia, dan Selandia Baru pun semakin mempertegas dukungan mereka.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245065838\/ini-yang-terjadi-pada-kondisi-lingkungan-jika-pemanasan-global-mencapai-2c\">Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2&deg;C<\/a><\/p>\n<p>Pada 2020, Presiden Joe Biden sempat membawa AS kembali bergabung. Namun kini, Trump kembali menarik AS keluar&mdash;seraya membatalkan kebijakan iklim AS, mendorong bahan bakar fosil, dan memperlambat energi bersih di dalam negeri.<\/p>\n<p>Negara-negara lain tampaknya mulai mengambil alih peran kepemimpinan global. Pada 24 Juli 2025, China dan Uni Eropa mengeluarkan pernyataan bersama berjanji memperkuat capaian target iklim mereka.<\/p>\n<p>Mereka menyinggung &ldquo;situasi internasional yang bergejolak&rdquo; dan menyerukan agar &ldquo;ekonomi-ekonomi besar meningkatkan upaya mengatasi perubahan iklim.&rdquo;<\/p>\n<p>Kekuatan Perjanjian Paris terletak pada sifatnya yang tidak mengikat secara hukum&mdash;tiap negara bebas menentukan targetnya sendiri. Fleksibilitas ini membuat perjanjian tetap hidup meski AS atau anggota lain keluar.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Shannon Gibson (Professor of Environmental Studies, Political Science and International Relations, USC Dornsife College of Letters, Arts and Sciences). Asisten riset Emerson Damiano, lulusan studi lingkungan USC, turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pada awal 2025 lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa ia menarik AS dari Perjanjian Paris atau Paris agreement untuk kedua kalinya. Keputusan tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak. Sebab, langkah AS akan melemahkan upaya dunia mengatasi perubahan iklim atau yang lebih dikenal dengan aksi iklim. Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":6785,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[421,198,1500],"class_list":["post-6784","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-aksi-iklim","tag-emisi","tag-perjanjian-paris"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6784"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6784\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}