{"id":7372,"date":"2026-07-30T01:09:42","date_gmt":"2026-07-30T01:09:42","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=7372"},"modified":"2026-07-30T01:09:42","modified_gmt":"2026-07-30T01:09:42","slug":"strategi-yang-perlu-dikembangkan-untuk-memberantas-korupsi-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=7372","title":{"rendered":"Strategi yang Perlu Dikembangkan untuk Memberantas Korupsi di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Berita korupsi Indonesia yang seakan menjadi kabar rutin ini membuat publik bertanya-tanya: Apa saja faktor penyebab korupsi?<\/p>\n<p>Penulis adalah peneliti psikologi yang mendalami faktor-faktor psikologis yang mendorong orang berperilaku, termasuk melakukan korupsi.<\/p>\n<p>Perilaku seseorang,&nbsp;termasuk&nbsp;dalam&nbsp;hal&nbsp;korupsi,&nbsp;dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor psikologis (personal) atau isi kepala pelaku.<\/p>\n<p>Meski faktor eksternal berkontribusi, tetapi faktor psikologis atau personal berperan krusial pada tindakan korupsi.<\/p>\n<p>Tanpa keputusan seseorang untuk melanggar, seberat apa pun bujukan atau tekanan eksternal tidak serta-merta berujung pada tindakan korupsi.<\/p>\n<p>Dalam tulisan sebelumnya dikupas empat alasan yang dipikirkan seorang koruptor, yakni pembenaran terhadap perilaku korupsi, ada keyakinan kecilnya peluang untuk diproses secara hukum. Ketiga adalah kurangnya sensitifitas pada urusan moralitas<\/p>\n<p>Lantas apa saja strategi pemberantasan korupsi yang harus dikembangkan di Indonesia?<\/p>\n<p>Pertama, sistem peradilan korupsi Indonesia perlu lebih tegas, adil dan transparan, tanpa tebang pilih.<\/p>\n<p>Indonesia dapat belajar dari Rwanda. Setelah mengalami konflik 1994, negara ini berfokus pada pembangunan tata kelola pemerintahan antikorupsi.<\/p>\n<p>Melalui fokus tersebut, Rwanda melakukan upaya mulai dari penetapan nilai antikorupsi sebagai target nasional, sampai ke kebijakan pengangkatan hakim yang berdasarkan pencapaian (merit-based).<\/p>\n<p>Kedua adalah pembentukan dan penanaman budaya antikorupsi secara masif dan sistematis, bukan sporadis.<\/p>\n<p>Artinya, pembentukan budaya antikorupsi harus hadir mulai dari gerakan keluarga, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, bahkan sampai ke lembaga peradilan.<\/p>\n<p>Misalnya pendidikan moral yang digalakkan Jepang melalui keluarga dan pendidikan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Kurikulum pendidikan dasar Jepang menekankan pada perkembangan moral dalam aktivitas sehari-hari, sesederhana praktik mengantre sampai rasa malu dan bersalah ketika melakukan pelanggaran moral.<\/p>\n<p>Pendidikan moral ini terbukti dapat membentuk budaya antikorupsi.<\/p>\n<p>Jika dilakukan dengan konsisten dan terencana, dua hal ini berpeluang memperkecil dorongan dan alasan seseorang untuk melakukan korupsi yang semakin menggerogoti kehidupan bernegara.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Zainal Abidin<\/strong><br \/><strong>Dosen, Universitas Padjadjaran.Kezia Kevina Harmoko turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Berita korupsi Indonesia yang seakan menjadi kabar rutin ini membuat publik bertanya-tanya: Apa saja faktor penyebab korupsi? Penulis adalah peneliti psikologi yang mendalami faktor-faktor psikologis yang mendorong orang berperilaku, termasuk melakukan korupsi. Perilaku seseorang,&nbsp;termasuk&nbsp;dalam&nbsp;hal&nbsp;korupsi,&nbsp;dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor psikologis (personal) atau isi kepala pelaku. Meski faktor eksternal berkontribusi, tetapi faktor psikologis atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":7373,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[96],"class_list":["post-7372","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-korupsi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7372"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7372\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}