{"id":8035,"date":"2026-07-30T01:12:37","date_gmt":"2026-07-30T01:12:37","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8035"},"modified":"2026-07-30T01:12:37","modified_gmt":"2026-07-30T01:12:37","slug":"riset-kendaraan-listrik-bisa-benar-benar-turunkan-emisi-jika-diikuti-transisi-ke-energi-bersih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8035","title":{"rendered":"Riset: Kendaraan Listrik Bisa Benar-benar Turunkan Emisi Jika Diikuti Transisi ke Energi Bersih"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pada era awal penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia, realisasi penjualan unitnya terus bertumbuh. Sepanjang 2021-2023, misalnya, laju pertumbuhan tahunannya rata-rata berkisar 206,6 persen.<\/p>\n<p>Studi kami menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik bisa mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Namun, transisi ke kendaraan listrik tidak secara otomatis menurunkan emisi.<\/p>\n<p>Tanpa transisi ke sumber energi terbarukan berkelanjutan secara paralel, penggunaan kendaraan listrik hanya akan memindahkan emisi dari asap knalpot ke cerobong pembangkit listrik.<\/p>\n<p>Lebih jauh lagi, efektivitas model kendaraan listrik sangat bergantung pada infrastruktur pendukung dan kebijakan transportasi yang mendukung efisiensi energi secara menyeluruh.<\/p>\n<p><strong>Tiga skenario adopsi kendaraan listrik<\/strong><br \/>Kami memanfaatkan data dari <em>Google Environmental Insights Explorer<\/em> (Google EIE) untuk menganalisis konsumsi BBM dan emisi sektor transportasi.<\/p>\n<p>Saat ini data terlengkap dan akurat tersedia untuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sehingga kami memakai wilayah tersebut sebagai sampel dalam studi ini.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245829699\/adopsi-kendaraan-listrik-memegang-peran-penting-dalam-aksi-iklim-namun-hadapi-banyak-masalah\">Baca: Adopsi kendaraan listrik berperan penting dalam aksi iklim<\/a><\/p>\n<p>Di NTB, mobil masih menjadi penyumbang emisi terbesar, meski sepeda motor lebih sering digunakan. Sepanjang tahun 2023 menunjukkan bahwa mobil menyumbang emisi&nbsp;sebesar&nbsp;1,78 juta ton setara karbondioksida (CO\u2082e)<\/p>\n<p>Sementara sepeda motor menyumbang&nbsp;emisi&nbsp;sekitar 0,83 juta ton&mdash;padahal jumlah perjalanan motor lima kali lebih banyak.<\/p>\n<p>Artinya, jika Indonesia ingin menekan emisi dari sektor transportasi, fokus utama harus pada elektrifikasi mobil pribadi.<\/p>\n<p>Kami juga melakukan simulasi tiga skenario adopsi kendaraan listrik dengan mempertimbangkan pertumbuhan kendaraan, kebutuhan energi atau BBM, serta dinamika emisi karbon.<\/p>\n<p>Kami memakai asumsi jumlah total kendaraan pada tahun 2050 adalah sekitar 57 juta unit. Hasilnya adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>Skenario business as usual.<br \/>Jika kendaraan listrik mencapai lebih dari 50 persen pangsa pasar (sekitar 31 juta unit) pada 2050 tanpa perubahan bauran energi&mdash;misalnya, pembangkit masih didominasi batu bara&mdash;konsumsi BBM memang bakal menurun, tetapi pasokan listrik tidak bisa mengimbangi.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Akibatnya, emisi tetap tinggi dan terjadi defisit energi. Dalam kondisi ini, masyarakat berisiko kembali beralih ke kendaraan berbahan bakar konvensional.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24560294\/yuk-beralih-ke-kendaraan-listrik-demi-lingkungan-dan-keuangan-negara\">Baca: Transisi ke kendaraan listrik bagus untuk keuangan negara<\/a><\/p>\n<p>Skenario moderat: <br \/>Jika pangsa pasar kendaraan listrik ditargetkan 23 persen (sekitar 13 juta unit) pada 2050, dengan pertumbuhan energi terbarukan 15-31 persen per tahun, pasokan listrik cukup stabil.<\/p>\n<p>Konsumsi BBM bisa ditekan hingga 25 persen, dan impor turun separuhnya. Namun, emisi tetap tinggi karena ketergantungan pada batu bara masih besar.<\/p>\n<p>Skenario optimistis: <br \/>Jika adopsi kendaraan listrik menembus 50 persen dan energi terbarukan tumbuh 30&ndash;65 persen per tahun, konsumsi BBM turun signifikan. Sayangnya, emisi masih tetap tinggi.<\/p>\n<p><strong>Skenario adopsi&nbsp;kendaraan&nbsp;listrik&nbsp;dan penurunan konsumsi BBM.<\/strong><br \/>Tiga skenario dalam upaya menghapus konsumsi BBM. Skenario optimis dapat menghapus 56 persen konsumsi BBM.<\/p>\n<p>Jadi, ketiga skenario masih menghasilkan emisi yang besar. Untuk benar-benar menurunkannya, hitungan kami, bauran energi terbarukan harus tumbuh di atas 65 persen per tahun.<\/p>\n<p>Dan yang penting dicatat, seluruh rantai pasoknya juga harus dijamin bersih. Lantas bagaimana membuat kendaraan jadi solusi transisi energi? Jawabannya akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Converstion, Penulis: Glenn Jolodoro (Researcher, Universitas Padjadjaran) dan Susanti Withaningsih (Ketua Program Studi Magister Ilmu Keberlanjutan, Universitas Padjadjaran)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pada era awal penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia, realisasi penjualan unitnya terus bertumbuh. Sepanjang 2021-2023, misalnya, laju pertumbuhan tahunannya rata-rata berkisar 206,6 persen. Studi kami menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik bisa mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Namun, transisi ke kendaraan listrik tidak secara otomatis menurunkan emisi. Tanpa transisi ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8036,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[198,704,17],"class_list":["post-8035","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-emisi","tag-kendaraan-listrik","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8035","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8035"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8035\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8036"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8035"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8035"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8035"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}