{"id":8092,"date":"2026-07-30T01:12:52","date_gmt":"2026-07-30T01:12:52","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8092"},"modified":"2026-07-30T01:12:52","modified_gmt":"2026-07-30T01:12:52","slug":"transportasi-masih-menjadi-penyumbang-terbesar-pencemaran-udara-di-jabodetabek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8092","title":{"rendered":"Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Pencemaran udara di Jabodetabek masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)\/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.<\/p>\n<p>Data KLH dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKUA) dari 1 Mei hingga 3 Juni 2025 menunjukkan parameter kuning atau status tidak sehat.<\/p>\n<p>Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH\/BPLH, Nixon Pakpahan menjelaskan nilai konsentrasi PM 2,5 di atas 100 PPM.<\/p>\n<p>Angka ini lebih tinggi dari standar pemerintah. Total ada 35 titik SPKUA di Jabodetabek yang terpantau mengalami peningkatan skor PM 2.5.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246039171\/atasi-polusi-udara-kementerian-lingkungan-hidup-didorong-untuk-memperkuat-regulasi\">Baca: Kementerian Lingkungan Hidup perlu perkuat regulasi<\/a><\/p>\n<p>Melansir Antaranews, Nixon menerangkan pihaknya telah melakukan kajian dan ada sejumlah sumber pencemaran udara. Sumber terbesar adalah sektor transportasi.<\/p>\n<p>Sektor ini menyumbang 32-41 persen polusi udara Jabodetabek saat musim hujan dan 42-57 persen ketika musim kemarau.<\/p>\n<p>Kemudian posisi kedua adalah emisi dari sektor industri terutama yang menggunakan batu bara, menyumbang 14 persen.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245940712\/kendaraan-bermotor-pltu-batu-bara-dan-fasilitas-industri-jadi-sumber-polusi-udara-di-jakarta\">Baca: Ini dia sumber polusi udara di Jakarta<\/a><\/p>\n<p>Emisi pembakaran sampah terbuka atau ilegal atau pembersihan lahan pertanian 11 persen di musim hujan dan 9 persen di musim kemarau, debu konstruksi bangunan 13 persen dan aerosol sekunder 6-16 persen saat musim hujan dan 1-7 persen pada musim kemarau.<\/p>\n<p>&#8220;Berbicara lingkungan, mari bereskan, prioritas, bereskan dulu sumbernya. Itu lebih penting daripada membahas siklus, cuaca, arah angin dan seterusnya. Bereskan dulu sumbernya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan dan PT Pertamina agar dapat menyediakan bahan bakar rendah sulfur.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245776777\/laporan-kualitas-udara-dunia-iqair-2024-hanya-tujuh-negara-yang-penuhi-standar-kualitas-udara-who\">Baca: Hanya tujuh negara yang penuhi standar kualitas udara WHO<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain itu, penggunaan sistem pemantau emisi untuk mencapai 80 persen pada akhir tahun 2025, penggunaan gas di kawasan industri, pemantauan langsung di kawasan industri serta pendekatan melalui penegakan hukum.<\/p>\n<p>Nixon juga mengajak semua pihak termasuk masyarakat di wilayah Jabodetabek untuk ikut serta menangani masalah pencemaran udara.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak saling menyalahkan, tapi artinya semua harus bekerja sama. Karena kita hidup di satu bumi yang sama, menghirup udara yang sama, kebutuhan yang sama,&#8221; kata Nixon.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Pencemaran udara di Jabodetabek masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)\/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara. Data KLH dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKUA) dari 1 Mei hingga 3 Juni 2025 menunjukkan parameter kuning atau status tidak sehat. Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH\/BPLH, Nixon [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8093,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[198,2048,2551,281,597],"class_list":["post-8092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-emisi","tag-klh","tag-pencemaran-udara","tag-polusi","tag-transportasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8092"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8092\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}