{"id":8234,"date":"2026-07-30T01:13:41","date_gmt":"2026-07-30T01:13:41","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8234"},"modified":"2026-07-30T01:13:41","modified_gmt":"2026-07-30T01:13:41","slug":"sistem-agroforestri-berdayakan-petani-dengan-memanfaatkan-hutan-secara-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8234","title":{"rendered":"Sistem Agroforestri: Berdayakan Petani dengan Memanfaatkan Hutan Secara Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong inovasi dalam sektor pertanian dan kehutanan melalui pengembangan model agroforestri jati-garut di Desa Barengkok, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.<\/p>\n<p>Sistem&nbsp;agroforestri&nbsp;ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dalam mengelola dan memanfaatkan hasil hutan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Melalui sosialisasi dan alih teknologi yang digelar bersama Perum Perhutani KPH Bogor, BRIN memberikan pendampingan kepada petani dalam budidaya tanaman garut serta pengolahanumbinya menjadi produk bernilai tambah.<\/p>\n<p>Dalam paparannya di Kantor Desa Barengkok Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor Jawa Barat, pada Februari 2025 lalu, Peneliti PREE BRIN, Dona Octavia menyampaikan, saat ini fokus utama adalah pengolahan pascapanen.<\/p>\n<p>Dikatakannya, agroforestri dengan tanaman pangan ini menjadi kebijakan sekaligus kebutuhan bersama. Agroforestri&nbsp;menjadi&nbsp;salah satu skema optimalisasi pemanfaatan lahan hutan untuk mendukung ketahanan pangan.<\/p>\n<p>Model agroforestri jati (<em>Tectona grandis<\/em>) dengan tanaman garut (<em>Maranta arundinacea<\/em>)&nbsp;yang melibatkan masyarakat Desa Barengkok menjadi contoh penerapannya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246089639\/kerusakan-hutan-dunia-semakin-mengkhawatirkan-akibat-pemanasan-global\">Baca: Kerusakan hutan dunia semakin mengkhawatirkan<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Apalagi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berencana mengalokasikan 20,6 juta hektare lahan hutan untuk cadangan pangan, tanpa menebang pohon yang dapat dicapai dengan praktik agroforestri,&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, dalam kerja sama BRIN dan Perhutani ini, umbi garut ditanam di bawah tegakan pohon jati. Umbi garut mampu tumbuh dengan baik meski berada di bawah naungan, lebih dari 50 persen.<\/p>\n<p>&ldquo;Manfaat umbi garut luar biasa terutama bagi kesehatan, antara lain untuk penderita diabetes dan dispepsia atau maag. Hasil riset kami juga menunjukkan bahwa kandungan antioksidannya cukup tinggi, umbi garut yang kami tanam merupakan Kultivar Creole yang lebih tahan,&rdquo; paparnya.<\/p>\n<p>Penanaman berbagai macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) di <br \/>lahan yang sama seperti ini sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245614933\/kisah-sukses-perhutanan-sosial-di-desa-wawowae-nusa-tenggara-timur\">Baca: Kisah sukses perhutanan sosial di Desa Wawowae, Nusa Tenggara Timur<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Praktek ini semakin meluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan ketersediaan lahan yang semakin terbatas.<\/p>\n<p>Dilansir CIFOR, konversi hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora&nbsp;dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global.<\/p>\n<p>Masalah ini semakin buruk dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Maka lahirlah agroforestri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian atau kehutanan.<\/p>\n<p>Ilmu ini berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dikembangkan petani di daerah beriklim tropis maupun beriklim subtropis sejak berabad-abad yang lalu.<\/p>\n<p>Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan (Bene, 1977; King 1978; King, 1979).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245532430\/kritik-terhadap-perhutanan-sosial-sentralisasi-hambat-pengelolaan-hutan-negara-secara-optimal\">Baca: Kritik terhadap praktek perhutanan sosial di Indonesia<\/a><\/p>\n<p>Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur.<\/p>\n<p>Sistem ini telah dipraktekkan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad (Michon dan de Foresta, 1995), misalnya sistem ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan.<\/p>\n<p>Contoh lain yang umum dijumpai di Jawa adalah mosaik-mosaik padat dari hamparan persawahan dan tegalan produktif yang diselang-selingi oleh rerumpunan pohon.<\/p>\n<p>Sebagian dari rerumpunan pohon tersebut mempunyai struktur yang mendekati hutan alam<br \/>dengan beraneka-ragam spesies tanaman.<\/p>\n<p>Penerapan agroforestri diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat dengan tetap menjaga tegakan pohon.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246086965\/investigasi-greenpeace-mengungkap-dalang-pembabatan-hutan-di-kalimantan-barat\">Baca: Investigasi Greenpeace ungkap dalang pembabatan hutan di Kalimantan<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia &#8211; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong inovasi dalam sektor pertanian dan kehutanan melalui pengembangan model agroforestri jati-garut di Desa Barengkok, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sistem&nbsp;agroforestri&nbsp;ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dalam mengelola dan memanfaatkan hasil hutan secara berkelanjutan. Melalui sosialisasi dan alih teknologi yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8235,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1742,477,95,2584],"class_list":["post-8234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-agroforestri","tag-brin","tag-hutan","tag-jati"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8234"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8234\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}