{"id":8251,"date":"2026-07-30T01:13:47","date_gmt":"2026-07-30T01:13:47","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8251"},"modified":"2026-07-30T01:13:47","modified_gmt":"2026-07-30T01:13:47","slug":"makin-banyak-warga-memilih-tetap-melajang-apa-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8251","title":{"rendered":"Makin Banyak Warga Memilih Tetap Melajang, Apa Penyebabnya?"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <br \/><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Memasuki usia 20-30 tahun, banyak orang yang memasuki proses pencarian identitas dan membangun kehidupan sebagai orang dewasa.<\/p>\n<p>Masyarakat dan lingkungan di sekitar punya ekspektasi khusus untuk mereka yang memasuki usia 20-30an, yakni menemukan cinta dan membangun keluarga. Kalau di usia ini belum menjalani hubungan romansa, seseorang lantas dianggap gagal menjadi dewasa.<\/p>\n<p>Menariknya, meski ekspektasi tersebut hadir, angka individu yang memilih untuk menjadi single alias lajang di usia 20-an dan 30-an justru meningkat. Apa artinya?<\/p>\n<p>Di Kanada, jumlah individu dewasa muda yang memilih untuk jadi single konsisten meningkat. Di Indonesia, jumlah pemuda yang belum menikah mencapai 69,75 persen dengan tren yang terus meningkat setiap tahun.<\/p>\n<p>Namun, tren ini tidak mematahkan tuntutan dari standar budaya yaitu memiliki hubungan romantis bagi sosok dewasa.<\/p>\n<p>Umumnya, single atau lajang era dipandang sebagai periode sesaat, bukan sebuah pilihan hidup yang sah dan membahagiakan.<\/p>\n<p>Sebagai peneliti, penulis memimpin riset berjudul <em>Singlehood Experiences and Complexities Underlying Relationships di Simon Fraser University<\/em>. Riset ini berfokus untuk memahami pada saat apa individu single atau individu yang berpasangan bisa berkembang dan bahagia.<\/p>\n<p>Setelah mempelajarinya bertahun-tahun, berikut beberapa hal menarik yang penulis temukan dari individu single berusia 20-an dan 30-an.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244630910\/banyak-orang-lajang-merasa-bahagia-tapi-hidup-melajang-tak-selalu-sukses\">Baca: Banyak orang lajang merasa bahagia<\/a><\/p>\n<p><strong>Menjadi single semakin banyak dipilih<\/strong><br \/>Di Kanada, sejumlah 59,8 persen individu usia 25-29 tahun dan 37,6 persen individu usia 30-34 tahun tercatat belum menikah.<\/p>\n<p>Proporsi individu usia 20-34 tahun yang menikah naik menjadi 60,3 persen pada 2021. Pada 1996, angkanya hanya mencapai 50,5 persen.<\/p>\n<p>Meski di antara individu tersebut ada yang menyatakan keinginan untuk menjalani hubungan yang berkomitmen, banyak dari mereka yang menunda keputusan tersebut.<\/p>\n<p>Di Kanada, rata-rata usia individu yang menikah meningkat 8 tahun. Pada tahun 1970-an, rata-rata seseorang menikah di usia 23,3 tahun. Pada 2020, rata-rata individu baru menikah di usia 31,2 tahun.<\/p>\n<p>Tren ini mengindikasikan beberapa hal: orang-orang kini lebih berfokus mengembangkan karier, lebih ingin jalan-jalan, punya masalah dalam membangun hubungan, atau memang memilih untuk menjadi single pada awal usia dewasa mereka.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Individu-individu tersebut termasuk orang-orang yang mengklaim diri mereka &ldquo;single at heart&rdquo;. Mereka secara sadar memilih menjadi single karena memandang penting kesendirian dan kebebasan.<\/p>\n<p><strong>Tekanan sosial tetap ada<\/strong><br \/>Meski semakin banyak individu single di usia 20-an dan 30-an, entah karena pilihan atau situasi tertentu, tekanan sosial untuk melepas status single terus ada.<\/p>\n<p>Ini tak mengherankan karena kita hidup di tengah masyarakat yang memang sangat memandang penting hubungan pernikahan dan memiliki anak.<\/p>\n<p>Menjalin hubungan romantis dan membangun keluarga tentu pilihan hidup yang umum dan valid untuk dimiliki individu. Namun, obsesi dengan hubungan romantis justru dapat merugikan jika dibandingkan dengan menjadi single.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244630893\/apakah-orang-tetap-bahagia-meski-lama-melajang\">Baca: Apakah orang tetap bahagia meski lama melajang?<\/a><\/p>\n<p>Individu yang single sering kali dianggap &ldquo;belum utuh&rdquo; semata-mata karena mereka tidak punya pasangan.<\/p>\n<p>Penelitian yang penulis lakukan dengan kolega menunjukkan bahwa individu yang single sering kali merasa dikecualikan, dijauhi, dan dikasihani karena status mereka. Pandangan ini berdampak pada kesejahteraan mental mereka.<\/p>\n<p>Mereka juga menghadapi stereotip negatif seperti dianggap egois, tidak berperasaan, penyendiri, atau antisosial.<\/p>\n<p>Meski standar untuk berpasangan muncul dari masyarakat, orang-orang single bisa menyerap standar tersebut dalam hidup mereka. Alhasil, mereka justru terkena dampak negatifnya.<\/p>\n<p>Dalam riset lainnya, kami meneliti apa yang kami sebut dengan &ldquo;relationship pedestal beliefs&rdquo; atau &ldquo;kepercayaan hubungan adalah segalanya&rdquo;.<\/p>\n<p>Kami ingin mengukur sampai di level mana individu mempercayai bahwa mereka perlu berada di sebuah hubungan romantis terlebih dahulu agar bisa bahagia.<\/p>\n<p>Kami menemukan bahwa individu single yang memiliki kepercayaan tersebut cenderung tak nyaman hidup sendirian sehingga mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah. Lantas, bagaimana cara menjadi single, tetapi high-quality? Ikuti di artikel selanjutnya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Yuthika Girme (Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Memasuki usia 20-30 tahun, banyak orang yang memasuki proses pencarian identitas dan membangun kehidupan sebagai orang dewasa. Masyarakat dan lingkungan di sekitar punya ekspektasi khusus untuk mereka yang memasuki usia 20-30an, yakni menemukan cinta dan membangun keluarga. Kalau di usia ini belum menjalani hubungan romansa, seseorang lantas dianggap gagal menjadi dewasa. Menariknya, meski [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8252,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2587,2586],"class_list":["post-8251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lajang","tag-single"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8251"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8251\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8252"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}