{"id":8255,"date":"2026-07-30T01:13:48","date_gmt":"2026-07-30T01:13:48","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8255"},"modified":"2026-07-30T01:13:48","modified_gmt":"2026-07-30T01:13:48","slug":"setelah-menghilang-selama-lebih-satu-abad-katak-terbang-sulawesi-terpantau-kembali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8255","title":{"rendered":"Setelah Menghilang Selama Lebih Satu Abad, Katak Terbang Sulawesi Terpantau Kembali"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Katak terbang (<em>Rhacophorus pardalis<\/em>) dari Sulawesi yang telah menghilang selama lebih dari satu abad akhirnya terpantau kembali.<\/p>\n<p>Adalah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alamsyah Elang N.H., yang menemukan kembali katak terbang dari Sulawesi pada Agustus 2023 lalu.<\/p>\n<p>Dilansir&nbsp;brin.go.id,&nbsp;Alamsyah, dkk. kemudian menaikkan status katak terbang asal Pulau Sangihe, Sulawesi Utara tersebut menjadi jenis baru, dan diberi nama Rhacophorus rhyssocephalus.<\/p>\n<p>Katak ini sebelumnya diketahui sebagai sub-spesies Rhacophorus pardalis yang tersebar luas dari Sumatra hingga Kalimantan.<\/p>\n<p>Katak ini disebut &ldquo;terbang&rdquo; karena memiliki selaput penuh di jari tangan dan kaki yang membantunya melayang saat melompat. Istilah &#8220;flying frog&#8221; sendiri pertama kali diperkenalkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago.<\/p>\n<p>Dalam diskusi SOS#66 bertajuk <em>Sulawesi Flying Frogs: Identity Challenges and Diversity,<\/em> secara daring, Kamis (5\/6\/2025), Alamsyah menjelaskan bahwa genus Rhacophorus merupakan bagian dari famili Rhacophoridae, dengan tipe spesies Rhacophorus reinwardtii yang ditemukan di Jawa Barat.<\/p>\n<p>Dikutip dari wikipedia, Rhacophorus adalah nama genus katak terbang dari famili Rhacophoridae, yang bersama kerabat dekatnya dari suku Hylidae menyusun kelompok katak pohon sejati.<\/p>\n<p>Anggota marga ini yang diakui saat ini berjumlah sekitar 42 spesies yang menyebar luas di Afrika, Madagaskar, India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia), hingga ke Jepang.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246104970\/kisah-para-pejuang-di-garis-depan-kawasan-konservasi\">Baca: Para pejuang di garis depan konservasi<\/a><\/p>\n<p>Katak-katak ini memiliki jari-jari kaki yang panjang, dengan selaput antar jari yang kuat, yang memungkinkan hewan-hewan ini melayang ketika mengembangkan kaki dan jari-jarinya sesaat setelah melompat, dan menahan kejatuhannya ke tanah.<\/p>\n<p>Kemampuan melayang semacam ini dikenal sebagai &#8216;lompatan parasut&#8217; (parachuting, red), suatu bentuk lokomosi arboreal (pergerakan di wilayah berpohon-pohon) seperti yang juga dipunyai cecak terbang, ular terbang, serta kubung malaya.<\/p>\n<p>Hal ini yang menyebabkan katak-katak ini dikenal sebagai katak terbang. Salah satu ciri khas Rhacophorus adalah adanya tulang penghubung antara ruas jari pertama dan kedua.<\/p>\n<p>Secara historis, genus Rhacophorus memiliki persebaran yang luas, ditemukan mulai dari India, Cina, Jepang, Malaysia, Indonesia, hingga Filipina.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&ldquo;Di Indonesia, wilayah paling timur yang diketahui menjadi habitatnya adalah Pulau Sulawesi,&rdquo; terang Alamsyah.<\/p>\n<p>Lebih jauh, dirinya merinci bahwa saat ini terdapat lima spesies Rhacophorus yang telah teridentifikasi di Sulawesi, yakni:<br \/>1. Rhacophorus edentulus (M&uuml;ller, 1894), <br \/>2. Rhacophorus monticola (Boulenger, 1896), Rhacophorus georgii (Roux, 1904), Rhacophorus rhyssocepholus (Wolf, 1936, dalam Herlambang dkk. 2025), dan <br \/>3. Rhacophorus boedii (Hamidy, Riyanto, Munir, Gonggoli, Trislaksono, dan McGuire, 2025).<\/p>\n<p>Alamsyah menuturkan bahwa hasil ekspedisi selama 20 tahun di Sulawesi menunjukkan adanya beberapa garis keturunan yang berbeda dalam kelompok Rhacophorus. Seluruhnya merupakan endemik di Pulau Sulawesi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246104284\/wgii-sudah-saatnya-pemerintah-mengubah-paradigma-konservasi-dengan-mengutamakan-masyarakat-adat\">Baca: Pemerintah didesak segera mengubah paradigma konservasi&nbsp;<\/a><\/p>\n<p>Kelompok katak terbang ini diklasifikasikan ke dalam empat grup berdasarkan karakteristik fisik.<\/p>\n<p>Pertama, Grup Batik Cokelat, memiliki corak menyerupai batik dengan moncong yang meruncing.<\/p>\n<p>Kedua, Grup Web Hitam, memiliki selaput berwarna hitam di kakinya.<\/p>\n<p>Ketiga, Grup Hijau, berwarna hijau muda dan berukuran lebih kecil. Dan keempat, Grup Pipi Putih, memiliki bercak putih di sebagian pipinya.<\/p>\n<p>Kepala Pusat Riset Biosistematika Evolusi BRIN, Arif Nurkanto, menjelaskan bahwa Sulawesi memiliki sejarah geologi yang unik, yakni&nbsp;terbentuk dari pertemuan tiga lempeng besar, yakni Asia, Indo-Australia, dan Pasifik, yang menyebabkan tingginya tingkat endemisitas.<\/p>\n<p>&ldquo;Meskipun penelitian mengenai katak terbang Rhacophorus telah mengungkap beberapa spesies baru dan garis keturunan yang berbeda, masih banyak keanekaragaman amfibi lainnya yang belum teridentifikasi sepenuhnya,&rdquo; ujar Arif.<\/p>\n<p>Sulawesi, dengan ekosistemnya yang unik dan kondisi geologisnya yang kompleks, berpotensi menjadi rumah bagi lebih banyak spesies amfibi endemik yang belum terdokumentasikan.<\/p>\n<p>Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami pola evolusi, adaptasi, serta interaksi ekologi amfibi di wilayah Pulau Sulawesi<\/p>\n<p>&ldquo;Temuan terbaru hanya menjadi awal dari eksplorasi panjang yang akan membuka lebih banyak wawasan tentang kehidupan herpetofauna di Sulawesi dan Indonesia secara keseluruhan,&rdquo; pungkas Arif.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246131710\/sejarah-biogeografis-membuat-pulau-sulawesi-kaya-akan-satwa-endemik-unik\">Baca: Mengapa Pulau Sulawesi kaya akan satwa endemik unik<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Katak terbang (Rhacophorus pardalis) dari Sulawesi yang telah menghilang selama lebih dari satu abad akhirnya terpantau kembali. Adalah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alamsyah Elang N.H., yang menemukan kembali katak terbang dari Sulawesi pada Agustus 2023 lalu. Dilansir&nbsp;brin.go.id,&nbsp;Alamsyah, dkk. kemudian menaikkan status katak terbang asal Pulau Sangihe, Sulawesi Utara tersebut menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8256,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2590,838],"class_list":["post-8255","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-katak-terbang","tag-sulawesi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8255","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8255"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8255\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8256"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8255"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8255"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8255"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}