{"id":8418,"date":"2026-07-30T01:14:28","date_gmt":"2026-07-30T01:14:28","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8418"},"modified":"2026-07-30T01:14:28","modified_gmt":"2026-07-30T01:14:28","slug":"musim-kemarau-belum-merata-ini-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8418","title":{"rendered":"Musim Kemarau Belum Merata, Ini Penyebabnya"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Musim kemarau kini melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, musim kemarau masih belum merata bahkan masih ada wilayah yang mengalami cuaca ekstrem. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.<\/p>\n<p>Melalui akun resmi instagram Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada beberapa faktor yang menyebabkan musim kemarau belum merata.<\/p>\n<p>Diantaranya keadaan angin monsun Australia yang masih lemah. &#8220;Lemahnya angin monsun Australia terutama di wilayah Selatan Indonesia, memberikan pengaruh terhadap musim kemarau yang belum merata di wilayah Indonesia,&#8221; tulis BMKG.<\/p>\n<p>Hasil pemantauan BMKG pada akhir Mei 2025, indeks monsun Australia masih berada di bawah nilai klimatologisnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246064063\/fenomena-kemarau-basah-apa-saja-dampaknya\">Baca: Dampak fenomena kemarau basah<\/a><\/p>\n<p>Melemahnya angin musim kemarau tersebut membuat massa udara kering tertahan di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).<\/p>\n<p>Kondisi ini memicu pembentukan daerah-daerah perlambatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) di sekitar ekuator. Akibatnya, pertumbuhan awan konvektif di wilayah-wilayah tersebut muncul.<\/p>\n<p>Adanya awan konvektif inilah yang sering membawa curah hujan sedang hingga lebat. Bahkan awan ini pula bisa membawa angin kencang, petir, hingga hujan es.<\/p>\n<p>Kehadiran awan konvektif semakin menyeramkan ditambah dengan kombinasi beberapa fenomena atmosfer di akhir bulan Mei 2025 lalu.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246063245\/mengenal-fenomena-kemarau-basah-yang-landa-indonesia-hingga-agustus-2025\">Baca: Mengenal fenomena kemarau basah<\/a><\/p>\n<p>Kombinasi fenomena atmosfer yang dimaksud, yaitu Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang-gelombang atmosfer (Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Low Frequency).<\/p>\n<p>Seluruh faktor ini bersama-sama menciptakan intensitas hujan yang cukup tinggi. Akibatnya hujan ekstrem terjadi di berbagai wilayah, seperti di Raja Haji Fisabilillah Kepulauan Riau dengan intensitas 155,4 mm\/hari.<\/p>\n<p> Hingga 9 Juni 2025, indeks monsun Australia akan mulai menguat. Saat menguat, aliran udara kering akan mulai memasuki wilayah Indonesia bagian selatan.<\/p>\n<p>Aliran udara ini juga dapat memicu potensi penurunan curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Hal ini mengindikasikan musim kemarau mulai meluas di wilayah RI. BMKG memprediksikan hal ini terjadi pada pekan kedua bulan Juni.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245930137\/bmkg-prediksi-musim-kemarau-2025-lebih-pendek-ini-penyebabnya\">Baca: BMKG prediksi kemarau 2025 lebih pendek<\/a><\/p>\n<p>Sementara pada awal Juni aktivitas gelombang ekuator seperti MJO, Low Frequency, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial masih cukup konsisten dan meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif.<\/p>\n<p>Peluang ini semakin diperkuat dengan interaksi angin darat\/laut maupun faktor geografis lainnya. Berbagai faktor inilah yang menimbulkan terjadinya hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang-sore hari.<\/p>\n<p>Pada beberapa daerah, hujan bisa disertai kilat\/petir dan angin kencang. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dengan kondisi cuaca yang dapat berubah cepat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Musim kemarau kini melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, musim kemarau masih belum merata bahkan masih ada wilayah yang mengalami cuaca ekstrem. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Melalui akun resmi instagram Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada beberapa faktor yang menyebabkan musim kemarau belum merata. Diantaranya keadaan angin monsun Australia yang masih lemah. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8419,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8,459,49],"class_list":["post-8418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bmkg","tag-cuaca-ekstrem","tag-kemarau"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8418"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8418\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8419"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}