{"id":871,"date":"2026-07-30T00:24:17","date_gmt":"2026-07-30T00:24:17","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=871"},"modified":"2026-07-30T00:24:17","modified_gmt":"2026-07-30T00:24:17","slug":"tradwife-dan-feminine-energy-tren-yang-membatasi-dan-mengontrol-perempuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=871","title":{"rendered":"\u2018Tradwife\u2019 dan \u2018Feminine Energy\u2019: Tren yang Membatasi dan Mengontrol Perempuan"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Beberapa&nbsp;waktu&nbsp;belakangan, di <a href=\"https:\/\/www.konde.co\/2023\/10\/trend-tradwife-apakah-cocok-untuk-hidupmu-bagaimana-feminisme-melihat-ini\/\">media sosial<\/a> sedang banyak muncul konten perempuan yang bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan estetik lengkap dengan jus segar, bunga tulip di meja makan, dan anak-anaknya berpakaian seragam bersih tanpa noda.<\/p>\n<p>Mereka memakai gaun linen, membuat kopi <em>manual brew<\/em>, menata rumah serupa vila Airbnb. Lalu, menyambut suami pulang kerja dengan senyum tenang.&nbsp;<\/p>\n<p>Di akhir video, biasanya muncul narasi lembut seperti: &ldquo;perempuan tidak diciptakan untuk stres bekerja&rdquo;, &ldquo;berhenti menjadi perempuan maskulin&rdquo;, atau &ldquo;perempuan akan lebih bahagia ketika kembali ke <em>feminine energy<\/em>.&rdquo;<\/p>\n<p>Maraknya gambaran visual tren <em>tradwife<\/em> (<em>traditional wife<\/em>), <em>soft girl<\/em>, dan estetika <em>feminine energy<\/em> di media sosial tampak menjadi hal yang menenangkan bagi perempuan di tengah dunia yang semakin kompetitif ini.<\/p>\n<p>Namun tanpa disadari, tren yang menggunakan nostalgia tahun 1950an ini justru diam-diam meromantisasi domestifikasi (pembatasan peran perempuan hanya dalam lingkup rumah tangga) sebagai reaksi atas <em>burnout<\/em> (kelelahan mental) modern dan tuntutan budaya &ldquo;<em>girlboss<\/em>&rdquo;.<\/p>\n<h2>&lsquo;Tradwife&rsquo; membatasi ambisi perempuan<\/h2>\n<p>Ironisnya, banyak konten semacam ini justru dibuat oleh <a href=\"https:\/\/www.vanityfair.com\/style\/story\/meghan-markle-gwyneth-paltrow-ballerina-farm-tradwife-mompreneurs?srsltid=AfmBOoqsULisFth7Xi41zkxVwLuB25bk9JkMopRfxUmC_QpP4Xo1asB-\"><em>influencer<\/em><\/a> yang sukses memonetisasi media sosial, kontrak merek, <em>personal branding<\/em>, hingga kerja digital yang sangat kompetitif.<\/p>\n<p>Mereka bekerja penuh waktu di depan kamera, memahami algoritma, mengelola audiens, dan mengubah kehidupan domestik menjadi komoditas visual.<\/p>\n<p>Namun, pada saat yang sama, perempuan lain yang terang-terangan ambisius dalam karier sering dianggap terlalu agresif, ambis, atau &ldquo;kurang feminin&rdquo;.<\/p>\n<p>Persoalan utama tren <em>tradwife<\/em>, <em>soft girl<\/em>, dan <em>feminine energy<\/em> bukan terletak pada pilihan perempuan untuk menjalani kehidupan domestik. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang valid.<\/p>\n<p>Masalah muncul ketika algoritma digital mulai memberi penghargaan pada femininitas tertentu sambil secara halus tidak mengakui perempuan yang terlalu ambisius, asertif, atau berorientasi karier.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, estetika <em>tradwife<\/em> tidak lagi sekadar gaya hidup. Ia seakan menjadi arahan sosial baru untuk membatasi ambisi perempuan.&nbsp;<\/p>\n<h2>Ambisi perempuan dan standar ganda yang belum selesai<\/h2>\n<p>Dalam banyak percakapan sehari-hari, kata &ldquo;ambis&rdquo; <a href=\"https:\/\/kbbi.web.id\/ambisi\">(ambisi)<\/a> sering digunakan sebagai kata negatif, terutama kepada perempuan. Padahal, definisi ambisi menurut KBBI adalah dorongan untuk mencapai prestasi atau mengembangkan potensi diri.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Ambisi berbeda dari keserakahan atau obsesi kekuasaan. Namun, pada perempuan, ambisi sering diasosiasikan dengan egoisme, agresivitas, atau sifat &ldquo;terlalu maskulin&rdquo;.<\/p>\n<p>Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep <a href=\"https:\/\/www.women-unlimited.com\/wp-content\/uploads\/prejudice_against_women.pdf\"><em>double bind<\/em><\/a>. Dalam dunia kerja, perempuan dituntut menunjukkan karakter yang diasosiasikan dengan kepemimpinan seperti tegas, kompeten, dan ambisius.<\/p>\n<p>Namun secara bersamaan, mereka juga dituntut tetap feminin, hangat, tenang, dan tidak intimidatif. Ketika perempuan terlalu memenuhi ekspektasi pertama, ia dianggap kehilangan kualitas kedua.<\/p>\n<p>Standar sosial terhadap ambisi menjadi berbeda berdasarkan gender. Laki-laki ambisius cenderung dianggap visioner atau berjiwa pemimpin. Sementara perempuan ambisius lebih mudah dicap egois, agresif, atau tidak peduli keluarga.<\/p>\n<p>Standar ganda ini terlihat jelas pada pemimpin perempuan. Ketika seorang pemimpin laki-laki tampil tegas dan ambisius, publik cenderung menilainya sebagai asertif. Sebaliknya, perempuan dengan karakter serupa sering dianggap terlalu keras atau tidak menyenangkan.<\/p>\n<p>Bahkan ketika perempuan berhasil menjadi pemimpin populer, contohnya <a href=\"https:\/\/www.suara.com\/news\/2024\/08\/25\/173452\/menikah-tiga-kali-ini-profil-suami-dan-mantan-susi-pudjiastuti\">Susi Pudjiastuti<\/a>, <a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/gwao.70170\">perhatian publik<\/a> sering tetap diarahkan pada tubuh, gaya hidup, kebiasaan pribadi, hingga kehidupan rumah tangganya. Ini jauh lebih jarang dialami pemimpin laki-laki.<\/p>\n<p>Akibatnya, perempuan sering berada dalam posisi serba salah: mereka dituntut sukses dan kompeten, tetapi di saat yang sama juga tidak boleh terlihat terlalu ambisius, terlalu tegas, atau terlalu menonjol agar tetap dianggap feminin dan &ldquo;menyenangkan&rdquo; oleh masyarakat.&nbsp;<\/p>\n<h2>Dari ibuisme negara ke algoritma digital<\/h2>\n<p>Konten tren <em>tradwife<\/em> dan <em>feminine energy<\/em> sering tampil sebagai kritik terhadap budaya kerja modern yang melelahkan perempuan. Sebagian kritik tersebut memang valid. Sistem kerja kapitalistik memang kerap tidak ramah terhadap perempuan, terutama terkait beban ganda domestik dan publik.<\/p>\n<p>Masalahnya, banyak konten <em>tradwife<\/em> justru mengalihkan fokus: dari menyalahkan sistem, jadi menyalahkan perempuan berambisi (<em>guilt-tripping<\/em>).<\/p>\n<p>Alih-alih mengkritik budaya kerja yang eksploitatif atau minim dukungan sosial, narasinya kini menjadi: perempuan akan lebih bahagia jika mundur dari ruang publik dan kembali ke peran domestik.<\/p>\n<p>Di titik ini, konsep <em>feminine energy<\/em> justru jadi problematis. Konsep yang awalnya berakar pada gagasan keseimbangan dalam tradisi timur, <a href=\"https:\/\/medium.com\/@oluchukwunwatu\/the-feminine-energy-trend-is-just-patriarchy-with-better-lighting-and-im-done-with-it-0863b5149843\">kini dibajak<\/a> industri <em>wellness<\/em> dan media sosial sebagai standar <a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/gwao.13084\">femininitas baru yang sempit<\/a>. Standar ini melabeli perempuan ideal sebagai sosok lembut, tenang, pasif, tidak terlalu ambisius, dan mampu membuat laki-laki merasa dominan.<\/p>\n<p>Secara halus, tren ini mendorong perempuan untuk <em>lean back<\/em> dari posisi publik demi menjadi &ldquo;lebih feminin&rdquo; atau &ldquo;lebih bahagia&rdquo;. Padahal <a href=\"https:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/14680777.2026.2661720#d1e194\">tidak semua perempuan<\/a> memiliki kondisi ekonomi yang memungkinkan mereka menjalani gaya hidup tersebut.<\/p>\n<p>Dalam konteks Indonesia, tren ini berkaitan erat dengan ideologi <a href=\"https:\/\/www.goodreads.com\/book\/show\/13420600-state-ibuism\">&ldquo;ibuisme negara&rdquo;<\/a>. Pada masa Orde Baru, negara mendefinisikan perempuan terutama sebagai pendamping suami dan pengurus rumah tangga.<\/p>\n<p>Setelah Reformasi dan era digital, kontrol tersebut datang bukan lagi dari negara, melainkan melalui <a href=\"https:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/14680777.2026.2661720#abstract\">algoritma, <em>influencer<\/em>, dan estetika media sosial<\/a>.<\/p>\n<p>Ini merupakan bentuk <a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/full\/10.1177\/1868103421989069\">neo-ibuisme digital<\/a>, yakni ketika perempuan tetap boleh bekerja dan tampil di ruang publik, tetapi nilai mereka tetap diukur dari kemampuan memenuhi standar femininitas domestik tertentu.&nbsp;<\/p>\n<h2>Ambisi perempuan dianggap ancaman<\/h2>\n<p class=\"class-paragraph\">Meski dampaknya <a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/271799228_Language_Is_Not_Neutral_The_Construction_of_Knowledge_in_the_Social_Sciences_and_Humanities\">tidak terlihat langsung<\/a>, romantisasi tren ini bisa mengganggu kondisi psikologis dan sosial perempuan. Banyak perempuan akhirnya merasa takut terlihat &ldquo;terlalu ambisius&rdquo; karena khawatir dianggap tidak feminin dan tidak bahagia.<\/p>\n<p>Perempuan lajang menjadi ragu mengejar posisi strategis karena takut mengintimidasi orang lain. Sementara perempuan menikah sering merasa bersalah ketika mengejar karier karena terus dibandingkan dengan ideal domestik yang romantis di media sosial.<\/p>\n<p>Ambisi bukan ancaman bagi keluarga maupun masyarakat, melainkan kapasitas manusia untuk berkembang, berkontribusi, dan mencapai versi terbaik dirinya.<\/p>\n<p>Akar masalahnya bukan pada perempuan yang memilih kehidupan domestik ataupun karier, melainkan pada sistem sosial yang terus memaksa perempuan membuktikan bahwa ambisi mereka tidak membuat mereka kehilangan nilai sebagai perempuan.<\/p>\n<p>Karena itu, kita perlu narasi yang menormalisasi hak perempuan untuk memiliki ambisi tanpa rasa bersalah.<!-- Di bawah ini adalah tag penghitung halaman The Conversation. Tolong JANGAN HAPUS. --> <!--img2--> <!-- Akhir kode. Jika Anda tidak melihat kode apa pun di atas, silakan dapatkan kode baru dari tab Lanjutan setelah Anda mengklik tombol publikasikan ulang. Penghitung halaman tidak mengumpulkan data pribadi apa pun. Info lebih lanjut: https:\/\/theconversation.com\/republishing-guidelines --><\/p>\n<hr \/>\n<p><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/profiles\/fitri-hariana-oktaviani-1225699\">Fitri Hariana Oktaviani<\/a>, Assistant professor in Organisational Communication, <em><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/institutions\/universitas-brawijaya-1561\">Universitas Brawijaya<\/a><\/em><\/p>\n<p>Artikel ini terbit pertama kali di <a href=\"https:\/\/theconversation.com\">The Conversation<\/a>. Baca <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/terjebak-tradwife-dan-feminine-energy-tren-yang-membatasi-dan-mengontrol-perempuan-282732\">artikel sumber<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia&nbsp;&#8211;&nbsp;Beberapa&nbsp;waktu&nbsp;belakangan, di media sosial sedang banyak muncul konten perempuan yang bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan estetik lengkap dengan jus segar, bunga tulip di meja makan, dan anak-anaknya berpakaian seragam bersih tanpa noda. Mereka memakai gaun linen, membuat kopi manual brew, menata rumah serupa vila Airbnb. Lalu, menyambut suami pulang kerja dengan senyum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":872,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[38],"class_list":["post-871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-perempuan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=871"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/871\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}