{"id":8722,"date":"2026-07-30T01:15:58","date_gmt":"2026-07-30T01:15:58","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8722"},"modified":"2026-07-30T01:15:58","modified_gmt":"2026-07-30T01:15:58","slug":"prospek-green-jobs-di-mata-zilenial-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8722","title":{"rendered":"Prospek Green Jobs di Mata Zilenial di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Di tengah krisis iklim dan jurang kesenjangan sosial yang makin lebar, muncul gelombang baru dalam cara Gen Z dan milenial atau biasa disebut Zilenial dalam memaknai karier.<\/p>\n<p>Zilenial tidak lagi menjadikan gaji dan jabatan sebagai satu-satunya tujuan hidup. Mereka juga memilih pekerjaan berdasarkan kejelasan nilai dan dampak sosial-lingkungannya.<\/p>\n<p>Survei global yang dilakukan oleh perusahaan Big 4 Deloitte pada 2024 menunjukkan bahwa 86 persen Gen Z dan 89 persen milenial menganggap pentingnya memiliki <em>sense of purpose<\/em> dalam pekerjaan.<\/p>\n<p>Bahkan, 50 persen Gen Z dan 43 persen milenial mengaku pernah menolak proyek atau pekerjaan karena tidak sejalan dengan nilai etika pribadi mereka, termasuk yang berkaitan dengan isu lingkungan dan nilai-nilai inklusi.<\/p>\n<p>Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam etika karier: bekerja tidak lagi semata-mata mencari nafkah, tetapi juga bentuk aktualisasi nilai spiritualitas di tempat kerja.<\/p>\n<p>Aktualisasi nilai kini hadir tak hanya berbentuk ritual, tetapi melalui sikap profesionalisme yang berdampak positif pada masyarakat dan lingkungan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/244950849\/daftar-skill-dan-jurusan-yang-dibutuhkan-dalam-green-jobs-di-pembangkit-energi-terbarukan\">Baca: Ketrampilan yang dibutuhkan green jobs di pembangkit energi terbarukan<\/a><\/p>\n<p>Dalam kondisi ini, <em>green jobs<\/em> menjadi Jalan tengah antara etika, inovasi, dan upaya&nbsp;Zilenial&nbsp;dalam&nbsp;merintis&nbsp;karier&nbsp;dan&nbsp;masa depannya.<\/p>\n<p>Istilah <em>green jobs<\/em> merujuk pada pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan, seperti sektor energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, pengelolaan limbah, desain ramah lingkungan, hingga teknologi bersih.<\/p>\n<p>Sayangnya, di Indonesia, green jobs masih dimaknai sempit dan kerap disalahartikan sebagai bentuk aktivisme semata.<\/p>\n<p>Riset Coaction Indonesia menunjukkan, hanya 2 dari 5 kaum muda yang mengaku paham tentang green jobs, itu pun dalam pengertian yang dangkal.<\/p>\n<p>Hal ini tergambar dari variasi definisi yang mereka sampaikan, yang umumnya hanya mengaitkan green jobs dengan istilah seperti &ldquo;pekerjaan hijau&rdquo; atau &ldquo;ramah lingkungan&rdquo;, tanpa pengetahuan konkret mengenai sektor, dampak, atau keterampilan yang relevan.<\/p>\n<p>Meski begitu, setelah mendapatkan penjelasan, 76 persen responden mengaku sangat tertarik bekerja di bidang ini, khususnya karena <em>green jobs<\/em> menjawab tantangan yang menyatukan inovasi, teknologi, dan keberlanjutan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/244703390\/dukung-penciptaan-lapangan-kerja-hijau-atau-green-jobs-ini-yang-dilakukan-kemnaker\">Baca: Upaya pemerintah ciptakan green jobs<\/a><\/p>\n<p>Di dalam negeri, peluang <em>green jobs<\/em> terus berkembang seiring dengan tuntutan beralih ke energi bersih. Teknisi dan insinyur panel surya kini sangat dibutuhkan untuk membangun sistem energi bersih mulai dari tingkat desa hingga kawasan industri.<\/p>\n<p>Di sektor teknologi juga muncul profesi baru seperti analis emisi karbon dan pengembang aplikasi berbasis lingkungan.<\/p>\n<p>Data Coaction Indonesia menyebutkan bahwa investasi di energi terbarukan bisa menciptakan 70 persen lebih banyak lapangan kerja dibandingkan dengan sektor energi fosil. Besar sekali bukan?<\/p>\n<p>Tak hanya lapangan kerja formal, green jobs juga bisa mencakup berbagai wirausaha ramah lingkungan. Contohnya adalah usaha bank sampah, yang sudah menjadi model kewirausahaan sosial di berbagai daerah.<\/p>\n<p>Di sektor pangan, pertanian organik dan urban farming muncul sebagai bentuk usaha yang makin relevan. Contohnya adalah perusahaan Javara Indonesia, yang memberdayakan petani lokal untuk memproduksi bahan pangan organik tanpa bahan kimia berbahaya.<\/p>\n<p>Produk-produk ini kemudian dipasarkan secara luas sampai ke mancanegara, membuktikan bahwa ramah lingkungan bisa sekaligus menguntungkan secara ekonomi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/244649469\/kenali-3-indikator-green-jobs-tak-hanya-ramah-lingkungan-dan-bisa-mencakup-pekerjaan-yang-telah-ada-saat-ini\">Baca: Kenali tiga indikator green jobs<\/a><\/p>\n<p>Di industri kreatif, bisnis fesyen ramah lingkungan seperti Sejauh Mata Memandang membuktikan bahwa kesadaran terhadap limbah tekstil bisa melahirkan peluang usaha baru dengan penerimaan publik yang tinggi.<\/p>\n<p>Dengan menggunakan bahan daur ulang dan pewarna alami, usaha ini menunjukkan bahwa nilai estetika dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan serta menghasilkan cuan tentunya.<\/p>\n<p>Sementara itu, di sektor pariwisata, desa wisata berbasis ekowisata seperti Nglanggeran Yogyakarta menjadi contoh sukses green job berbasis komunitas.<\/p>\n<p>Melalui pelestarian alam, budaya lokal, dan pelibatan warga, desa ini mampu menarik wisatawan tanpa merusak lingkungan sekitarnya.<\/p>\n<p>Meski peminat tinggi dan peluang terbuka lebar, jalan menuju <em>green jobs<\/em> belum semudah yang diucapkan.<\/p>\n<p>Riset Coaction Indonesia mengungkap sejumlah hambatan struktural, seperti kurangnya informasi, keterbatasan keterampilan, dan ketimpangan akses membuat banyak kaum muda ragu melangkah ke bidang ini.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis:<\/strong><br \/><strong>Imam Salehudin (Associate professor, Universitas Indonesia),&nbsp;Aswin Dewanto Hadisumarto (Dosen Manajemen Kewirausahaan , Universitas Indonesia),&nbsp;Dony Abdul Chalid (Associate professor, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Di tengah krisis iklim dan jurang kesenjangan sosial yang makin lebar, muncul gelombang baru dalam cara Gen Z dan milenial atau biasa disebut Zilenial dalam memaknai karier. Zilenial tidak lagi menjadikan gaji dan jabatan sebagai satu-satunya tujuan hidup. Mereka juga memilih pekerjaan berdasarkan kejelasan nilai dan dampak sosial-lingkungannya. Survei global yang dilakukan oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8723,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1043,17,2612],"class_list":["post-8722","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-green-jobs","tag-lingkungan","tag-zilenial"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8722","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8722"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8722\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8723"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8722"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8722"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8722"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}