{"id":8736,"date":"2026-07-30T01:16:01","date_gmt":"2026-07-30T01:16:01","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8736"},"modified":"2026-07-30T01:16:01","modified_gmt":"2026-07-30T01:16:01","slug":"penulisan-ulang-sejarah-indonesia-rawan-terjadi-pembelokan-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8736","title":{"rendered":"Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Rawan Terjadi Pembelokan Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pemerintah Indonesia berencana menerbitkan &#8216;buku babon&#8217; sejarah nasional pada Agustus kelak, sebagai &#8216;kado&#8217; hari kemerdekaan RI ke-80.<\/p>\n<p>Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, buku ini adalah &#8220;revisi penambahan di buku sejarah&#8221; dan akan menjadi buku sejarah resmi Indonesia serta menjadi acuan buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah<\/p>\n<p>Fadli Zon menyebut paling tidak ada tiga aspek utama dalam pembaruan catatan sejarah yang akan diterbitkan Agustus nanti.<\/p>\n<p>Antara lain, revisi atas narasi yang sudah ada, penambahan materi sejarah baru, serta pelurusan sejarah yang memerlukan klarifikasi berdasarkan hasil kajian.<\/p>\n<p>Salah satu contoh bagian yang direvisi katanya adalah catatan soal zaman &#8220;prasejarah&#8221;.<\/p>\n<p>&#8220;Ada temuan-temuan baru, misalnya penelitian terbaru dalam prasejarah kita seperti Gua Leang-Leang Maros yang tadinya usianya diduga 5.000 tahun, ternyata 40.000-52.000 tahun yang lalu usianya&#8221; kata Fadli seperti dikutip dari Antaranews.com.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/246032451\/dianggap-mirip-yang-dilakukan-nazi-aksi-tolak-penulisan-ulang-sejarah-resmi-indonesia\">Baca: AKSI menolak penulisan ulang sejarah Indonesia<\/a><\/p>\n<p>Namun, penulisan ulang sejarah ini memicu polemik di kalangan sejarawan.<\/p>\n<p>Arkeolog Truman Simanjuntak yang turut menyusun buku itu mengundurkan diri setelah menolak penggantian istilah &#8220;prasejarah&#8221; menjadi &#8220;sejarah awal&#8221; yang menurutnya, &#8220;menghapus istilah dan ilmu prasejarah dari nomenklatur keilmuan&#8221;.<\/p>\n<p>Adapun, sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya, Mohammad Refi Omar Ar Razy, menyebut penyusunan buku ini terkesan terburu-buru, sementara isinya &#8220;masih sangat Indonesia sentris&#8221;, &#8220;sangat elite&#8221; dan tidak menyorot peran perempuan dalam sejarah Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Isinya tidak banyak memperbarui hal-hal yang fundamental dalam sisi historis,&#8221; ujarnya kepada wartawan Hilman Handoni yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.<\/p>\n<p>Namun begitu, Susanto Zuhdi yang menjadi ketua tim penulisan buku ini mengatakan buku sejarah ini akan &#8220;seobjektif&#8221; mungkin dan menjamin tak ada intervensi pemerintah.<\/p>\n<p><strong>&#8216;Pelurusan sejarah&#8217;<\/strong><br \/>Pemerintah Indonesia telah menerbitkan dua kali buku &#8216;babon&#8217; semacam ini. Pada 1975, pemerintah menerbitkan Buku Sejarah Nasional Indonesia&mdash;terdiri dari enam jilid.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/245927656\/gelar-pahlawan-nasional-untuk-mantan-presiden-soeharto-akan-memicu-kebingungan-sejarah\">Baca: Prokontra gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto<\/a><\/p>\n<p>Pada 2010-an, pemerintah juga mensponsori penyusunan dan penerbitan buku Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS), yang terdiri dari sembilan jilid dengan 4.500 halaman.<\/p>\n<p>Pemerintah menanggung pendanaan proyek ini, seperti halnya penyusunan dua buku babon sejarah sebelumnya.<\/p>\n<p>Kepala tim penyusun buku sejarah ini, Susanto Zuhdi, menyadari ada anggapan bahwa pemerintah saat ini punya kepentingan dalam penyusunan sejarah.<\/p>\n<p>Bagaimanapun, kata dia, penyusunan sejarah resmi di negara mana pun mesti punya pertimbangan kepentingan.<\/p>\n<p>Namun Susanto Zuhdi&mdash;yang pernah menjabat sebagai kepala direktorat sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2001&mdash;menyebut inisiatif memperbarui sejarah Indonesia kali ini tak sepenuhnya berasal dari pemerintah.<\/p>\n<p>Dia mengatakan para sejarawan telah lama menginginkan pembaruan historiografi nasional. Keinginan ini juga menjadi amanat Kongres Sejarah pada 2001.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/246035478\/hari-kebangkitan-nasional-2025-berlangsung-saat-indonesia-sedang-tidak-baik-baik-saja\">Baca: Refleksi di Hari Kebangkitan Nasional 2025<\/a><\/p>\n<p>&#8220;[Ini] kepentingan dari bawah maupun dari atas. Kelihatannya Pak Prabowo secara prinsip, secara pribadi, saya lihat suka sejarah. Bahkan jauh sebelum dia jadi presiden. Jadi ya memang kepentingan bersama,&#8221; jelas Susanto.<\/p>\n<p>Susanto kemudian mengatakan bahwa pada akhir tahun lalu dirinya diminta untuk memimpin proyek ini, yang diakuinya &#8220;waktunya mepet&#8221;.<\/p>\n<p>&#8220;Tapi saya bilang kita harus punya tekad. Nekat jadi tekad,&#8221; selorohnya.<\/p>\n<p>Dia bilang buku ini nantinya akan memiliki 10 jilid, masing-masing terdiri dari 500 halaman, yang membentang mulai masa prasejarah Indonesia hingga masa pemerintahan Joko Widodo.<\/p>\n<p>Ada 120 sejarawan yang ikut dalam proyek ini, termasuk mahasiswa pascasarjana dari luar negeri dan sejarawan dari universitas-universitas di berbagai daerah. Mulai dari Universitas Syiah Kuala di Aceh hingga Universitas Cenderawasih di Papua.<\/p>\n<p>&#8220;Pemerataan juga harus menjadi pertimbangan. Itulah Indonesia.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pemerintah Indonesia berencana menerbitkan &#8216;buku babon&#8217; sejarah nasional pada Agustus kelak, sebagai &#8216;kado&#8217; hari kemerdekaan RI ke-80. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, buku ini adalah &#8220;revisi penambahan di buku sejarah&#8221; dan akan menjadi buku sejarah resmi Indonesia serta menjadi acuan buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah Fadli Zon menyebut paling tidak ada tiga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8737,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2719],"class_list":["post-8736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8737"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}