{"id":8812,"date":"2026-07-30T01:16:20","date_gmt":"2026-07-30T01:16:20","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8812"},"modified":"2026-07-30T01:16:20","modified_gmt":"2026-07-30T01:16:20","slug":"belajar-komunikasi-lingkungan-dari-akun-neneng-rosdiyana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8812","title":{"rendered":"Belajar Komunikasi Lingkungan dari Akun Neneng Rosdiyana"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Dari perspektif komunikasi lingkungan, bahasa yang digunakan akun facebook @Neneng Rosdiyana sangat menarik untuk dibedah.<\/p>\n<p>Kehadiran Neneng menjadi kritik atas kampanye lingkungan di Indonesia yang sering terjebak dalam narasi elitis dengan terminologi rumit seperti &ldquo;net-zero&rdquo; atau &ldquo;carbon offsetting&rdquo; yang asing bagi masyarakat desa.<\/p>\n<p>Padahal masyarakat&nbsp;desa&nbsp;dan&nbsp;kelompok&nbsp;akar&nbsp;rumput&nbsp;merupakan&nbsp;garda terdepan menghadapi dampak&nbsp;perubahan iklim.<\/p>\n<p>Alih-alih menggunakan kosakata umum sehari-hari, para intelek lebih suka memakai &lsquo;bahasa langit&rsquo; saat membahas isu-isu publik seperti krisis iklim. Kesenjangan ini menciptakan jurang yang dalam antara bahasa ilmiah dan kenyataan, sehingga membuat pesan tak sampai.<\/p>\n<p>Pesan Neneng soal&nbsp;lingkungan&nbsp;dan&nbsp;perubahan&nbsp;iklim&nbsp;terkadang mengandung humor yang membuatnya terasa ringan dan mudah diterima, meskipun kadang terkesan sinis.<\/p>\n<p>&ldquo;Lahan terbatas bukan halangan, kami menerapkan metode tumpang sari&hellip;&rdquo; curhat Neneng, sebuah satir yang kontras dengan praktik monokultur ala food estate.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/246025634\/nenengisme-sebuah-upaya-membumikan-perubahan-iklim-di-media-sosial\">Baca: Cara Neneng Rosdiyana membumikan kampanye perubahan iklim<\/a><\/p>\n<p>Di tengah diskusi perubahan iklim yang seringkali bernuansa muram dan berat, satire berbalut humor bisa menjadi cara ampuh menyampaikan pesan yang tetap lugas, namun tidak menggurui.<\/p>\n<p><strong>Belajar komunikasi dari Neneng<\/strong><br \/>Komunikasi iklim sering terjebak sebagai upaya menyampaikan informasi dari pihak &ldquo;yang lebih tahu&rdquo; kepada publik, termasuk masyarakat adat atau warga desa.<\/p>\n<p>Padahal kita lah yang seharusnya belajar dari mereka. Masyarakat adat punya kearifan lokal dan sudah lama terbukti menjaga keberlanjutan&mdash;bahkan sebelum istilah &ldquo;sustainability&rdquo; ramai digunakan.<\/p>\n<p>Komunikasi bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tapi juga proses membangun dialog dan partisipasi.<\/p>\n<p>Karena itu, kita perlu memahami pandangan dunia mereka, serta konteks sosial, psikologis, dan ekonominya agar bisa relevan dengan masyarakat.<\/p>\n<p>Bahasa Neneng menyingkap kegagalan komunikasi kita menjangkau akar rumput, sehingga potensi &ldquo;Nenengisme&rdquo; untuk mengubah cara komunikasi lingkungan layak digali.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/hiburan\/245091401\/no-music-on-a-dead-planet-ketika-kampanye-lingkungan-diusung-di-panggung-musik\">Baca: Kampanye Lingkungan lewat No Music on Dead Planet<\/a><\/p>\n<p>Fenomena ini mengingatkan bahwa kampanye yang efektif harus berangkat dari bahasa, nilai, dan realitas masyarakat yang dituju&mdash;bukan sekadar menerjemahkan istilah ilmiah ke bahasa lokal.<\/p>\n<p>Kita perlu mengakui bahwa pengetahuan lingkungan bersumber dari kearifan lokal dan pengalaman hidup sehari-hari, bukan hanya dari jurnal dan laboratorium.<\/p>\n<p>Untuk mencapai perubahan nyata, kita harus mengangkat masalah ketidakadilan struktural dalam narasi lingkungan. Masyarakat akar rumput bukan tidak memahami berbagai persoalan krisis iklim, tapi mereka tersandera dalam sistem yang membatasi pilihan.<\/p>\n<p>Penting bagi kita untuk menempatkan mereka sebagai subjek aktif dalam mengatasi krisis lingkungan, bukan sekadar objek kampanye.<\/p>\n<p>Mereka tahu tanggung jawab menjaga lingkungan seharusnya dipikul lebih besar oleh industri dan pembuat kebijakan. Tapi mereka juga tahu, kekuasaan tak berpihak pada mereka.<\/p>\n<p>Inilah esensi dari komunikasi lingkungan yang membumi: peka terhadap realitas sosial, memberi ruang partisipasi, dan membuka jalan bagi solusi yang mempertimbangkan realitas kehidupan masyarakat. Dan sepertinya kita bisa belajar dari Neneng Rosdiyana yang sudah sukses melakukannya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Snezana Swasti Brodjonegoro (PhD Candidate, The University of Queensland) dan Ardhana Riswarie (PhD Candidate, Australian National University)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Dari perspektif komunikasi lingkungan, bahasa yang digunakan akun facebook @Neneng Rosdiyana sangat menarik untuk dibedah. Kehadiran Neneng menjadi kritik atas kampanye lingkungan di Indonesia yang sering terjebak dalam narasi elitis dengan terminologi rumit seperti &ldquo;net-zero&rdquo; atau &ldquo;carbon offsetting&rdquo; yang asing bagi masyarakat desa. Padahal masyarakat&nbsp;desa&nbsp;dan&nbsp;kelompok&nbsp;akar&nbsp;rumput&nbsp;merupakan&nbsp;garda terdepan menghadapi dampak&nbsp;perubahan iklim. Alih-alih menggunakan kosakata umum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8813,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,2749,173],"class_list":["post-8812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-neneng","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8812"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8812\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8813"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}