{"id":8863,"date":"2026-07-30T01:16:30","date_gmt":"2026-07-30T01:16:30","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8863"},"modified":"2026-07-30T01:16:30","modified_gmt":"2026-07-30T01:16:30","slug":"apakah-kota-di-indonesia-sudah-miliki-ruang-hijau-yang-ideal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=8863","title":{"rendered":"Apakah Kota di Indonesia Sudah Miliki Ruang Hijau yang Ideal?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Saat berkunjung ke Tebet Eco Park, Taman Literasi Blok M, kompleks Gelora Bung Karno (GBK) atau tempat-tempat terbuka (outdoor) lainnya, kamu akan menemukan banyak anak muda&mdash;terutama Gen Z dan Milenial&mdash;yang asyik nongkrong di sana.<\/p>\n<p>Fenomena ini menyiratkan satu hal: anak-anak muda khususnya zilenial haus akan ruang terbuka hijau (RTH) di tengah padatnya kota dalam kepungan beton dan kaca.<\/p>\n<p>Berbagai studi membuktikan, selain penting untuk keberlangsungan ekosistem kota, ruang hijau juga bisa meredam stres, meningkatkan kesehatan mental dan fisik lewat interaksi sosial dan beragam aktivitas yang bisa dilakukan di sana.<\/p>\n<p>Jadi wajar apabila setiap momen munculnya ruang publik baru selalu jadi buruan muda-mudi metropolitan.<\/p>\n<p>Sayangnya, di tengah tingginya kebutuhan dan minat akan ruang terbuka hijau, eksistensinya justru semakin tergerus pembangunan kota yang kian masif.<\/p>\n<p><strong>Potret ruang hijau di lima kota besar<\/strong><br \/>Penulis melakukan riset pemetaan perubahan tutupan ruang terbuka hijau di lima kota besar Indonesia; Jakarta Pusat, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/24688284\/tiga-kota-di-indonesia-ini-masuk-kategori-kota-ramah-lingkungan\">Baca: Tiga kota di Indonesia masuk kategori kota ramah lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Penelitian ini menggunakan citra satelit &ldquo;remote sensing&rdquo; Sentinel-2 dan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) serta EVI (Enhanced Vegetation Index).<\/p>\n<p>Analisis dilakukan dalam tiga rentang waktu, yaitu 2019&ndash;2020, 2021&ndash;2022, dan 2023&ndash;2024.<\/p>\n<p>Hasil riset menunjukkan tidak semua kota memenuhi standar menyediakan area hijau minimal 30 persen dari luas wilayahnya, seperti ketentuan yang berlaku.<\/p>\n<p>Ruang hijau di semua kota justru menyusut bersamaan dengan berkurangnya tutupan hijau.<\/p>\n<p>Temuan riset ini mengonfirmasi bahwa tren ruang hijau semakin menyusut. Kota-kota dengan wilayah sempit dan padat seperti Jakarta Pusat dan Yogyakarta menghadapi krisis ruang hijau.<\/p>\n<p>Sementara kota besar yang masih punya banyak ruang hijau juga terus tertekan pembangunan seperti yang terjadi di Bandung, Surabaya, dan Semarang.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/245326677\/ruang-terbuka-hijau-masih-minim-dprd-dki-jakarta-dorong-pemanfaatan-jalur-hijau\">Baca: Ruang terbuka hijau di Jakarta masih minim<\/a><\/p>\n<p>Situasi ini menjadi alarm serius untuk pembenahan tata kelola dan perencanaan kota.<\/p>\n<p><strong>1. Jakarta Pusat<\/strong><br \/>Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, tutupan hijau di jantung Ibu Kota menurun drastis dari 45 persen menjadi hanya 20 persen. Begitu pun dengan ruang hijau.<\/p>\n<p>Pada 2013, porsi ruang hijau di kawasan padat penduduk ini hanya 4,65% dari total wilayah. Tren sempat membaik: naik menjadi 7,12 persen pada 2022, tapi kembali menurun tipis jadi 7,02 persen pada 2024.<\/p>\n<p>Itu pun berupa kantong-kantong kecil yang tersebar dan tak saling terhubung.<\/p>\n<p>Enhanced Vegetation Index (EVI)&nbsp;adalah peta warna dengan gradasi hijau&ndash;oranye&ndash;merah menunjukkan intensitas vegetasi (hijau lebih tinggi, oranye lebih rendah).<\/p>\n<p>Sedangkan urban green space menunjukkan peta biner (hijau\/putih) yang memetakan secara eksplisit area ruang terbuka hijau. Secara keseluruhan, ada tren positif terhadap peningkatan kualitas dan distribusi ruang hijau di Jakarta Pusat dari 2019 hingga 2024.<\/p>\n<p>Namun, tingkat vegetasi keseluruhan kota (dilihat dari EVI) masih menunjukkan dominasi vegetasi rendah (oranye).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/245131908\/minim-ruang-hijau-kota-kota-di-belahan-bumi-selatan-rentan-terhadap-panas-ekstrem\">Baca: Minim Ruang Hijau, kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem<\/a><\/p>\n<p><strong>2. Bandung<\/strong><br \/>Kota Bandung terbilang punya luas wilayah dan kondisi alami yang mendukung adanya ruang hijau. Data satelit menunjukkan tren peningkatan area hijau sekitar 532 hektare pada periode 2019&ndash;2024, tapi sebarannya tidak merata.<\/p>\n<p>Vegetasi hijau kebanyakan ada di pinggiran kota, sementara di pusat kota, ruang hijau cenderung terpecah dan terisolasi.<\/p>\n<p>Persentase ruang hijau publik sempat naik dari 6,26 persen (2019&ndash;2020) menjadi 9,23% (2021&ndash;2022), lalu turun lagi ke angka 6,99 persen (2023&ndash;2024).<\/p>\n<p>Secara umum, urban sprawl atau perluasan wilayah perkotaan yang masif terus mengancam bentang alam sekitar wilayah ini.<\/p>\n<p><strong>3. Yogyakarta<\/strong><br \/>Kota budaya ini awalnya memiliki tutupan hijau cukup merata pada 2019&ndash;2020. Namun, sejak 2023, ruang hijau mulai terpecah-pecah akibat pesatnya pembangunan.<\/p>\n<p>Ruang hijau publik sempat naik dari 13,60 persen pada 2019-2020 ke 18,22 persen&nbsp;pada 2021&ndash;2022, tapi kembali menyusut ke 14,25 persen pada 2023&ndash;2024.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/242658548\/kota-surabaya-pernah-jadi-kota-dengan-udara-terbersih-di-asia-tenggara-ini-resepnya\">Baca: Ruang terbuka hijau antar Kota Surabaya menjadi kota dengan udara terbersih di Asia Tenggara<\/a><\/p>\n<p><strong>4. Surabaya<\/strong><br \/>Kota ini pernah mencatat tutupan vegetasi yang cukup baik, bahkan melampaui Jakarta dan Yogyakarta. Tapi pada 2023&ndash;2024, sekitar 1.190 hektare area hijau hilang karena ekspansi industri dan perumahan.<\/p>\n<p>Meski masih memiliki vegetasi sekitar 46% dari total wilayah (turun dari 49% di 2022), tekanan urbanisasi tetap tinggi. Akibatnya, persentase ruang hijau publik pun menurun dari 49,35 persen&nbsp;(2021&ndash;2022) menjadi 45,94 persen pada 2023&ndash;2024.<\/p>\n<p><strong>5. Semarang<\/strong><br \/>Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini awalnya berhasil memperluas ruang hijau sekitar 1.747 hektare antara 2019&ndash;2022 lewat berbagai program penghijauan dan rehabilitasi mangrove.<\/p>\n<p>Alhasil, ruang hijau publik Semarang sempat naik dari 44,51 persen pada 2019-2020 ke 49,37 persen pada 2021&ndash;2022.<\/p>\n<p>Namun, pada 2023&ndash;2024, ruang hijau justru kembali menyusut ke 45,95 persen. Kami menemukan, belakangan semakin banyak ruang hijau dikonversi menjadi lahan pembangunan.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Agustiyara (Ph.D. Student of Environmental Science, E&ouml;tv&ouml;s Lor&aacute;nd University)<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Saat berkunjung ke Tebet Eco Park, Taman Literasi Blok M, kompleks Gelora Bung Karno (GBK) atau tempat-tempat terbuka (outdoor) lainnya, kamu akan menemukan banyak anak muda&mdash;terutama Gen Z dan Milenial&mdash;yang asyik nongkrong di sana. Fenomena ini menyiratkan satu hal: anak-anak muda khususnya zilenial haus akan ruang terbuka hijau (RTH) di tengah padatnya kota [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8864,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10,2757],"class_list":["post-8863","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kota","tag-ruang-hijau"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8863"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8863\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8864"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}