{"id":9001,"date":"2026-07-30T01:17:15","date_gmt":"2026-07-30T01:17:15","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9001"},"modified":"2026-07-30T01:17:15","modified_gmt":"2026-07-30T01:17:15","slug":"melawan-perubahan-iklim-lewat-pilihan-hidangan-di-piring","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9001","title":{"rendered":"Melawan Perubahan Iklim Lewat Pilihan Hidangan di Piring"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Jika ingin hidup sehat sekaligus ramah lingkungan, kamu bisa mulai melakukannya dari hal sederhana: lewat makanan di piringmu.<\/p>\n<p>Riset membuktikan bahwa makanan yang menyehatkan&mdash;terutama dari tumbuhan&mdash;merupakan pilihan terbaik untuk manusia dan lingkungan.<\/p>\n<p>Jika masyarakat seluruh dunia menjadi vegan, emisi sektor pangan global akan turun hingga 70 persen pada 2050.<\/p>\n<p>Di saat yang sama, mengonsumsi makanan sehat (buah, sayuran, dan kacang-kacangan) berpotensi mengurangi berbagai risiko penyakit kronis, seperti diabetes, jantung koroner, dan kolesterol.<\/p>\n<p>Kabar baiknya, penelitian kami menunjukkan tren peningkatan kesadaran dalam mengonsumsi makanan berbasis nabati di Indonesia, terutama di kalangan Milenial dan Gen Z atau Zilenial di perkotaan.<\/p>\n<p>Hanya saja, anak muda yang ingin mengadopsi gaya hidup berkelanjutan ini masih harus menghadapi sejumlah tantangan, seperti harga mahal, akses terbatas, greenwashing, dan kurangnya informasi.<\/p>\n<p>\u25cf Pola makan berbasis nabati bisa mengurangi jejak karbon dan emisi gas rumah kaca<\/p>\n<p>\u25cf Kesadaran Zilenial semakin meningkat mengenai dampak makanan terhadap kesehatan dan lingkungan<\/p>\n<p>\u25cf Harga, aksesibilitas, dan greenwashing masih menjadi kendala utama yang menghambat transisi ke pola makan berkelanjutan<\/p>\n<p>Kenapa makanan nabati lebih rendah karbon?<br \/>Produksi makanan dari tumbuhan umumnya membutuhkan sumber daya dan energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan makanan hewani, sehingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lebih rendah.<\/p>\n<p>Contohnya produksi daging membutuhkan lahan yang luas untuk menanam pakan ternak dan merumput.<\/p>\n<p>Emisi terbesar berasal dari kotoran ternak yang mengandung metana&mdash;gas ini memiliki dampak pemanasan global 84 kali lebih tinggi daripada karbon dioksida (CO2) dan bisa bertahan selama 20 tahun.<\/p>\n<p>Sebaliknya, limbah dari tanaman lebih mudah dikelola dan memiliki dampak lingkungan lebih rendah. Menanam pangan nabati dengan sistem yang baik, bahkan bisa meningkatkan kesuburan tanah.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Dengan kata lain, mengonsumsi lebih banyak makanan dari tumbuhan bisa berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Makanan sehat berkelanjutan jadi kesadaran baru<br \/>Riset yang saya lakukan bersama tim menunjukkan bahwa Zilenial makin menyadari bahwa makanan yang mereka konsumsi enggak cuma berdampak buat kesehatan, tetapi juga Bumi.<\/p>\n<p>Penelitian kami berlangsung antara April hingga Juli 2023 di tiga restoran sehat hits di Jakarta: SNCTRY, SaladStop!, dan Burgreens.<\/p>\n<p>Restoran-restoran ini kami pilih karena menyajikan makanan sehat sekaligus mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam bahan baku dan bisnis mereka.<\/p>\n<p>Kami meneliti 210 responden berusia 18&ndash;42 tahun yang pernah makan di restoran tersebut. Hasilnya, mereka yang memilih makanan sehat cenderung lebih sadar lingkungan.<\/p>\n<p>Penelitian kami menunjukkan, kesadaran akan kesehatan berkontribusi 65,3 persen terhadap pola konsumsi makanan berkelanjutan. Artinya, semakin peduli seseorang terhadap kesehatannya, semakin besar kemungkinan mereka memilih makanan yang lebih ramah lingkungan.<\/p>\n<p>Selain itu, faktor kepercayaan berperan besar. Sebanyak 39,7 persen variasi pola konsumsi berkelanjutan ditentukan oleh kepercayaan konsumen.<\/p>\n<p>Artinya, semakin transparan sebuah brand soal bahan makanan dan proses produksinya, semakin tinggi kemungkinan pelanggan membeli produk nabati tersebut.<\/p>\n<p>Kesadaran ini juga didorong oleh media sosial dan influencer yang aktif mempromosikan pola makan berbasis nabati. Ditambah, makin banyak bisnis makanan yang sadar lingkungan dan menjadikan keberlanjutan sebagai nilai jual mereka.<\/p>\n<p>Sayangnya, tidak semua orang bisa dengan mudah beralih ke pola makan berkelanjutan, terutama anak muda. Ada beberapa tantangan yang masih jadi kendala utama yang harus ditangani.Apa saja, akan diulas dalam tulisan selanjutnya<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Junaid Ali Saeed Rana (Dean of Faculty of IT and Business, University of Jakarta Internationa). Dr. Evi Susanti, S.E., M.M. selaku Associate Professor dan Head of Quality Assurance University of Jakarta International (UNIJI) bersama Thalia Agustina dari Jurusan Manajemen UNIJI berkontribusi dalam penelitian ini.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Jika ingin hidup sehat sekaligus ramah lingkungan, kamu bisa mulai melakukannya dari hal sederhana: lewat makanan di piringmu. Riset membuktikan bahwa makanan yang menyehatkan&mdash;terutama dari tumbuhan&mdash;merupakan pilihan terbaik untuk manusia dan lingkungan. Jika masyarakat seluruh dunia menjadi vegan, emisi sektor pangan global akan turun hingga 70 persen pada 2050. Di saat yang sama, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":9002,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[206],"class_list":["post-9001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-ramah-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9001"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9001\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}