{"id":9021,"date":"2026-07-30T01:17:20","date_gmt":"2026-07-30T01:17:20","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9021"},"modified":"2026-07-30T01:17:20","modified_gmt":"2026-07-30T01:17:20","slug":"koalisi-masyarakat-sipil-desak-inisiatif-azec-dihentikan-karena-tersimpan-upaya-greenwashing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9021","title":{"rendered":"Koalisi Masyarakat Sipil Desak Inisiatif AZEC Dihentikan Karena Tersimpan Upaya \u201cGreenwashing\u201d"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pada Jumat (2\/5\/2025) kelompok masyarakat sipil yang terdiri dari WALHI, JATAM, KRuHA, dan CELIOS melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta guna menyampaikan keprihatinan mereka terhadap inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC).<\/p>\n<p>Inisiatif AZEC ini&nbsp;dipimpin Jepang yang terus didorong implementasinya di sejumlah daerah di Indonesia.<\/p>\n<p>Aksi ini merespon rencana kunjungan mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, yang bertindak sebagai Utusan Khusus Perdana Menteri dan Penasihat Utama Asosiasi Parlemen AZEC, yang akan memimpin delegasi anggota parlemen Jepang untuk mengunjungi Indonesia dengan salah satu misi khususnya untuk mempromosikan AZEC pada 3-5 Mei 2025.<\/p>\n<p>Pemerintah Jepang selalu menyebut inisiatif AZEC sebagai bagian dari upaya menuju netralitas karbon dengan menciptakan kemitraan yang luas untuk mencapai tujuan tersebut.<\/p>\n<p>Namun, kelompok masyarakat sipil di Indonesia menilai inisiatif AZEC ini sekadar upaya greenwashing yang diberi label sebagai dekarbonisasi.<\/p>\n<p>Masyarakat sipil di Indonesia menilai AZEC bisa menjadi ancaman bagi lingkungan hidup, masyarakat, bahkan bagi proses demokratisasi di Indonesia karena kurangnya transparansi, keterbukaan informasi, serta partisipasi publik yang bermakna.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245045933\/klhk-aturan-perdagangan-karbon-diperketat-untuk-cegah-praktik-greenwashing\">Baca: Aturan perdagangan karbon diperketat untuk cegah praktik &#8220;Greenwashing&#8221;<\/a><\/p>\n<p>Inisiatif AZEC juga dinilai akan memperpanjang ketergantungan Indonesia pada energi fosil, menawarkan solusi palsu yang berisiko bagi keberlanjutan lingkungan serta komunitas.<\/p>\n<p>Selain itu, AZEC berpotensi mempercepat perampasan lahan, meningkatkan deforestasi, dan menciptakan beban ekonomi dan fiskal (kesulitan utang) yang dapat merugikan Indonesia dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Kepala Divisi Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Fanny Tri Jambore dalam pernyataan yang dirilis di laman resmi WALHI mengatakan bahwa proyek, perjanjian, dan kerja sama dalam AZEC berpotensi memberikan dampak besar bagi masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p>Namun, hingga saat ini, keputusan untuk menyetujui berbagai inisiatif yang tercantum dalam dokumen AZEC belum pernah dilakukan melalui konsultasi terbuka dengan komunitas lokal di wilayah pelaksanaan proyek maupun dengan kelompok masyarakat sipil di Indonesia.<\/p>\n<p>Sorotan ini terutama karena AZEC dapat mendorong perampasan tanah serta mempercepat deforestasi di Indonesia, contohnya, melalui proyek-proyek REDD serta eksploitasi mineral kritis yang diperlukan dalam produksi baterai dan industri kendaraan listrik, yang turut didukung oleh AZEC.<\/p>\n<p>&ldquo;Di mana dalam praktiknya di Indonesia, pertambangan mineral kritis justru mempercepat deforestasi hutan hujan yang berfungsi sebagai penyerap karbon,&ldquo; tandas Fanny<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/245842463\/strategi-iklim-indonesia-kurang-berkeadilan-masyarakat-dan-lingkungan-terancam-dampak-perubahan-iklim\">Baca: Strategi iklim Indonesia dinilai abaikan prinsip berkeadilan<\/a><\/p>\n<p>Dari data pertambangan pada 2023, WALHI memperkirakan 1,3 juta hektare konsesi tambang mineral kritis di Indonesia, terletak dan\/atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan, yang dapat memicu meningkatnya angka deforestasi dan kerusakan hutan.<\/p>\n<p>Ketiadaan informasi yang memadai, transparansi, maupun partisipasi bermakna dari masyarakat dalam persetujuan terhadap proyek-proyek, perjanjian, dan kerja sama AZEC menyebabkan Pemerintah Jepang dan Indonesia gagal mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, serta hak asasi manusia yang dapat muncul dan berpengaruh pada masyarakat luas.<\/p>\n<p>&ldquo;Oleh karena itu implementasi AZEC harus dihentikan karena tidak sejalan dengan kepentingan publik,&rdquo; terang Fanny.<\/p>\n<p>Fanny mencontohkan Proyek Waste to Energy (WTE) Legok Nangka di Kabupaten Bandung bermasalah terkait transparansi dalam pemilihan teknologi incinerator dan terpilihnya konsorsium Jepang, Sumitomo-Hitachi Zosen.<\/p>\n<p>Fanny menilai, keterlibatan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang dapat memengaruhi keputusan tersebut.<\/p>\n<p>Proyek lain seperti PLTPB Muara Laboh di Sumatera Barat juga minim keterlibatan komunitas terdampak, menyebabkan petani mengalami gagal panen dan warga sekitar menghadapi dampak langsung tanpa konsultasi yang memadai.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245696099\/ketika-para-perempuan-menarasikan-transisi-energi-yang-berkeadilan\">Baca: Para Perempuan menarasikan transisi energi yang berkeadilan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pada Jumat (2\/5\/2025) kelompok masyarakat sipil yang terdiri dari WALHI, JATAM, KRuHA, dan CELIOS melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta guna menyampaikan keprihatinan mereka terhadap inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC). Inisiatif AZEC ini&nbsp;dipimpin Jepang yang terus didorong implementasinya di sejumlah daerah di Indonesia. Aksi ini merespon rencana kunjungan mantan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":9022,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1786,2800],"class_list":["post-9021","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-azec","tag-zero-emission"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9021","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9021"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9021\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9022"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}