{"id":919,"date":"2026-07-30T00:24:30","date_gmt":"2026-07-30T00:24:30","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=919"},"modified":"2026-07-30T00:24:30","modified_gmt":"2026-07-30T00:24:30","slug":"kesenjangan-ekonomi-dan-ketidakadilan-bayangi-peringatan-hari-lahir-pancasila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=919","title":{"rendered":"Kesenjangan Ekonomi dan Ketidakadilan Bayangi Peringatan Hari Lahir Pancasila"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni tahun ini&nbsp;berlangsung&nbsp;di&nbsp;tengah kondisi sosial ekonomi Nasional sedang tidak baik-baik saja.<\/p>\n<p>Menurut Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman Soebagyo, terdapat tiga tantangan nyata yang membuat nilai-nilai Pancasila masih terasa jauh dari kehidupan sebagian masyarakat.<\/p>\n<p>Pertama, kesenjangan ekonomi. Ia menilai sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat miskin, petani, nelayan, pelaku UMKM, maupun para guru.<\/p>\n<p>Mereka masih menghadapi berbagai hambatan dan regulasi yang tidak hanya tidak adil tetapi juga memberatkan.<\/p>\n<p>Kedua, polarisasi dan politik identitas. Politisi Fraksi Partai Golkar itu menyebut sila ketiga tentang Persatuan Indonesia saat ini menghadapi ujian berat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosok\/244279663\/legacy-jokowi-pasca-pilpres-2024-menguatnya-politik-dinasti-2\">Baca: Jokowi Mewariskan Menguatnya Politik Dinasti<\/a><\/p>\n<p>Perkembangan teknologi, penyebaran hoaks, serta maraknya politik identitas di media sosial menjadi penyebabnya. Pun, kebijakan pemerintah yang tak sepenuhnya berpihak kepada rakyat kecil.<\/p>\n<p>Ketiga, lemahnya keteladanan. Menurutnya, penerapan sila kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus dimulai dari para pejabat, elite pemerintahan, dan tokoh masyarakat.<\/p>\n<p>Dengan kondisi di atas, Firman menngingatkan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial.<\/p>\n<p>&ldquo;Peringatan 1 Juni bukan seremoni. Ini pengingat keras bahwa Pancasila adalah fondasi rumah besar bernama Indonesia. Kalau fondasinya retak, atapnya pasti bocor,&rdquo; ujar Firman dikutip Parlementaria, Senin (1\/6\/2026).<\/p>\n<p>Firman menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak untuk dihafal tetapi harus diresapi dan direalisasikan dalam kehidupan sehari=hari.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/244277676\/aksi-kamisan-ke-806-kami-berdiri-selamatkan-demokrasi\">Baca: Aksi Kamisan Ada Demi Keadilan dan Tegaknya Demokrasi<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Kami minta Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan. Dari warung, sawah, pabrik, sampai kantor pemerintah. Kalau negara hadir untuk rakyat kecil, Pancasila akan hidup dengan sendirinya,&rdquo; tegas Firman.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Anggota MPR RI yang aktif melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR hingga ke berbagai desa tersebut juga menekankan pentingnya pembudayaan Pancasila sejak usia dini melalui pendidikan formal.<\/p>\n<p>Ia mengusulkan agar pembacaan Pancasila dilakukan secara rutin di sekolah-sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, disertai menyanyikan lagu Indonesia Raya.<\/p>\n<p>Menurutnya, budaya serupa juga dapat diterapkan di lingkungan pemerintahan mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten\/kota hingga pemerintah pusat.<\/p>\n<p>&ldquo;Dengan cara itu, ideologi Pancasila akan lebih mudah dipahami, dijiwai, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,&rdquo; pungkas Firman.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni tahun ini&nbsp;berlangsung&nbsp;di&nbsp;tengah kondisi sosial ekonomi Nasional sedang tidak baik-baik saja. Menurut Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman Soebagyo, terdapat tiga tantangan nyata yang membuat nilai-nilai Pancasila masih terasa jauh dari kehidupan sebagian masyarakat. Pertama, kesenjangan ekonomi. Ia menilai sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":920,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[447],"class_list":["post-919","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-pancasila"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=919"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/919\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}