{"id":9516,"date":"2026-07-30T01:19:49","date_gmt":"2026-07-30T01:19:49","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9516"},"modified":"2026-07-30T01:19:49","modified_gmt":"2026-07-30T01:19:49","slug":"menelaah-proyek-listrik-tenaga-nuklir-indonesia-belajar-dari-eropa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9516","title":{"rendered":"Menelaah Proyek Listrik Tenaga Nuklir Indonesia: Belajar dari Eropa"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pemerintah Indonesia resmi memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, yang merupakan dokumen kebijakan jangka panjang sektor kelistrikan.<\/p>\n<p>Dalam rencana ini, pemerintah menargetkan listrik dari energi nuklir mencapai hampir 8 persen dari total kapasitas pembangkit listrik nasional pada 2060.<\/p>\n<p>Nuklir rencananya akan menjadi pemasok listrik dasar (baseload) untuk memastikan kesetabilan di tengah upaya transisi energi dan pencapaian target nol emisi.<\/p>\n<p>Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia membutuhkan pasokan energi yang stabil dan terjangkau untuk mendukung pertumbuhan industri. Tapi pertanyaannya: apakah energi nuklir adalah pilihan yang tepat?<\/p>\n<p>Belajar dari krisis energi di&nbsp;Eropa&nbsp;dan&nbsp;Jepang.&nbsp;Tragedi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl 1986 dan Fukushima 2011 menunjukkan dampak fatal dari kegagalan teknis, bencana alam, atau kesalahan manusia dalam mengelola reaktor nuklir.<\/p>\n<p>Selain risiko keamanan yang tinggi, kritikus juga sering menyoroti modal awal jumbo untuk membangun reaktor nuklir yang mencapai 10 miliar dolar&nbsp;atau Rp163,9 triliun per gigawatt (GW), dengan masa pembangunan sekitar 8-10 tahun.<\/p>\n<p>Namun, krisis energi di Eropa akibat perang Ukraina membuka mata banyak negara soal pentingnya pasokan energi yang stabil. Untuk itu, setiap negara harus berpikir ulang dalam menyusun strategi untuk beralih ke energi yang lebih bersih.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/internasional\/245189315\/kelompok-penyintas-bom-atom-jepang-raih-nobel-perdamaian-2024\">Baca: Kelompok penyintas bom atom Jepang raih Nobel Perdamaian 2024<\/a><\/p>\n<p>Prancis, misalnya, memutuskan tetap mempertahankan reaktor nuklirnya, yang kini menyuplai hampir 70 persen dari total listrik negara.<\/p>\n<p>Sementara Jerman kukuh memilih menghapus energi nuklir sepenuhnya pada tahun 2023 dan beralih pada energi terbarukan variabel (VRE) seperti tenaga angin dan surya. Sayangnya, produksi listrik dari dua energi ini kurang stabil lantaran bergantung pada kondisi cuaca.<\/p>\n<p>Selama periode &ldquo;Dunkelflaute&#8221;&mdash;saat intensitas matahari dan angin sangat rendah&mdash;produksi listrik di Jerman turun drastis. Untuk mengatasi kekurangan pasokan, Jerman akhirnya bergantung pada impor listrik dari negara tetangga seperti Prancis dan Swedia, yang mayoritas menggunakan tenaga nuklir.<\/p>\n<p>Ketergantungan ini menyebabkan harga listrik di Jerman melonjak drastis, hingga mencapai EUR936\/MWh atau Rp16,6 juta per MWh selama dunkelflaute pada Desember tahun lalu. Angka ini tertinggi dalam 18 tahun terakhir.<\/p>\n<p><strong>Harga listrik di Eropa selama periode dunkelflaute tahun 2024.<\/strong><br \/>Dari Jerman, banyak negara Eropa akhirnya belajar bahwa transisi ke energi terbarukan harus mempertimbangkan keseimbangan antara energi baseload dan VRE.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244931282\/as-bakal-ubah-bekas-fasilitas-senjata-nuklir-manhattan-project-jadi-pembangkit-listrik-tenaga-surya\">Baca: Fasilitas Senjata Nuklir Manhattan Project diubah jadi pembangkit listrik tenaga surya<\/a><\/p>\n<p>Menurut sejumlah studi, komposisi bauran energi idealnya 60&ndash;70&nbsp;persen energi baseload dan 30&ndash;40&nbsp;persen VRE.<\/p>\n<p>Dalam pidatonya di pertemuan G20 di Brasil tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berkomitmen mencapai target nol emisi pada 2050 dengan memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT).<\/p>\n<p>Indonesia memiliki potensi EBT yang besar mencapai 3.686 GW, tetapi 93,6&nbsp;persen di antaranya adalah energi variabel seperti tenaga angin dan surya.<\/p>\n<p>Untuk sumber listrik baseload, Indonesia memiliki panas bumi (geotermal), hidro (air), dan bioenergi dengan potensi kapasitas terpasang masing-masing sebesar 24 GW, 95 GW, dan 57 GW.<\/p>\n<p>Namun, tidak semua pembangkit baseload dapat beroperasi penuh sepanjang waktu. Pembangkit listrik geotermal misalnya hanya bisa menghasilkan listrik maksimum 74,3 persen dari kapasitasnya, sedangkan air 41,5 persen, dan bioenergi 67,1 persen.<\/p>\n<p>Faktor kapasitas untuk berbagai macam pembangkit tenaga listrik.<br \/>Pemanfaatan ketiga sumber energi ini juga masih sangat rendah, baru mencapai sekitar 7 persen dari total potensinya.<\/p>\n<p>Seandainya seluruh potensi energi terbarukan dimanfaatkan secara maksimal pada 2050, total energi yang dihasilkan hanya sekitar 837 terawatt jam (TWh). Angka ini masih jauh di bawah proyeksi kebutuhan listrik pada tahun tersebut, yang mencapai 2.000 TWh.<\/p>\n<p>Energi surya dan angin mungkin bisa menjadi sumber energi sepanjang waktu apabila didukung oleh teknologi penyimpanan energi skala besar.<\/p>\n<p>Namun, harga baterai penyimpanan yang berskala besar amat mahal dan memiliki risiko keamanan, seperti insiden terbakarnya fasilitas penyimpanan baterai lithium terbesar di dunia, Moss Landing di AS pada Januari lalu.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Agus Hasan (Professor, Norwegian University of Science and Technology)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pemerintah Indonesia resmi memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, yang merupakan dokumen kebijakan jangka panjang sektor kelistrikan. Dalam rencana ini, pemerintah menargetkan listrik dari energi nuklir mencapai hampir 8 persen dari total kapasitas pembangkit listrik nasional pada 2060. Nuklir rencananya akan menjadi pemasok listrik dasar (baseload) untuk memastikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":9517,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[311,271,2927],"class_list":["post-9516","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-energi","tag-listrik","tag-nuklir"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9516","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9516"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9516\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}