{"id":9612,"date":"2026-07-30T01:20:14","date_gmt":"2026-07-30T01:20:14","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9612"},"modified":"2026-07-30T01:20:14","modified_gmt":"2026-07-30T01:20:14","slug":"perubahan-mekanisme-sensor-seni-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9612","title":{"rendered":"Perubahan Mekanisme Sensor Seni di Era Digital"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Dosen Ilmu Komunikasi Universitas&nbsp;Gadjah&nbsp;Mada, Irham Nur Anshari menyebutkan, ada pergeseran mekanisme sensor di era digital saat ini.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah kemunculan fenomena techno-surveillance, yakni praktik pengawasan konten publik melalui teknologi digital. Media sosial kini memiliki berbagai fitur untuk menyaring konten-konten sensitif yang terpublikasi.<\/p>\n<p>Berbicara dalam diskusi bertajuk &ldquo;Garis Batas Kreativitas: Penyensoran dan Kebebasan Ekspresi Seni di Indonesia&rdquo; pada Jumat (21\/3\/2025), Dirham mencontohkan Instagram yang memiliki kebijakan melarang publikasi terhadap kekerasan, self-harm, kritik menyangkut SARA, dan isu sensitif pada komunitas.<\/p>\n<p>Ada juga fitur di media X yang memiliki content warning terhadap sejumlah publikasi sensitif.<\/p>\n<p>Dijelaskan Irham, upaya sensor saat ini tidak hanya dilakukan secara vertikal oleh institusi pemerintah, tapi juga secara horizontal oleh komunitas masyarakat.<\/p>\n<p>&ldquo;Sensor vertikal dan horizontal ini terkadang bisa bermesraan atau, sebaliknya, saling bertentangan,&rdquo; tuturnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/243454135\/akun-wa-butet-kartaredjasa-dilumpuhkan-bentuk-pembungkaman-atau-intimidasi\">Baca: Akun WA Butet Kartaredjasa dilumpuhkan<\/a><\/p>\n<p>Dunia digital, ujarnya, menumbuhkan independensi masyarakat yang lebih kuat dalam hal mengatur narasi dan algoritma publik di media sosial.<\/p>\n<p>Contohnya ketika seorang seniman berusaha mengkritik pemerintah dengan mewakilkan keresahan masyarakat, ada peluang dukungan horizontal hadir. Tapi di sisi lain, ada ketakutan terhadap ancaman kreativitas yang tercermin dalam self-censorship.<\/p>\n<p>Seniman asal Yogyakarta Hernandes Saranela mengatakan, sejak lama para seniman menuangkan pemikiran-pemikiran seputar isu sosial, ekonomi, dan politik dalam karya seninya.<\/p>\n<p>Ini tak lepas dari fungsi seni merupakan buah karya ide dan pikiran seseorang yang dituangkan dalam goresan, lantunan, maupun pementasan.<\/p>\n<p>Hernandes kemudian menyebut sederet seniman seperti Iwan Fals, Pramoedya Ananta Toer, hingga R.A. Kartini yang menuangkan pemikirannya dalam karya seninya.<\/p>\n<p><a href=\"Sarat kritik, pameran lukisan tunggal Yos Suprapto dibredel\">Baca: Sarat kritik, pameran lukisan tunggal Yos Suprapto dibredel<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Hasil karya&nbsp;seni tersebut seringkali membawa narasi kritik dan anarkis terhadap kondisi masyarakat dan politik terkini.<\/p>\n<p>&ldquo;Mereka tidak langsung menunjukkannya secara gamblang. Karya-karya seni mereka dirumuskan dalam bentuk metafora sehingga menjadi lebih menarik,&rdquo; ujar Hernandes Saranela<\/p>\n<p>Ia menyoroti keunikan setiap seniman dalam menyampaikan gagasannya. Metode kritis menggunakan seni memberikan ruang yang sangat luas pada siapapun yang ingin menyampaikan pendapat, karena seni bisa diciptakan dalam bentuk apapun.<\/p>\n<p>&ldquo;Karenanya, upaya sensor terhadap seni seringkali dikaitkan dengan pembatasan terhadap kebebasan berekspresi itu sendiri,&rdquo; imbuhnya.<\/p>\n<p>Namun menurut Hernandes, keberadaan sensor dalam seni tidak semata-mata merupakan ancaman. Sensor bisa menjadi alat untuk mempertajam ide terhadap seni abstrak.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/243441570\/koalisi-masyarakat-sipil-kawal-pemilu-demokratis-kecam-intimidasi-polisi-kepada-seniman-butet-kartarejasa\">Baca: Masyarakat Sipil kecam intimidasi terhadap seniman Butet Kartarejasa<\/a><\/p>\n<p>Metafora yang disajikan dapat menimbulkan persepsi dan respon yang berbeda pada penikmatnya, dan disanalah letak kebebasan pikir untuk menafsirkan ekspresi dalam seni.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Hernandes menjelaskan bahwa idealnya seniman memiliki kesadaran terhadap dampak dari karyanya.<\/p>\n<p>Bukan sebagai bentuk represi terhadap kebebasan, namun upaya agar substansi tetap dapat tersampaikan tanpa harus menghadapi pembredelan. Hal itu membutuhkan daya pikir kreatif dari seniman.<\/p>\n<p>Selain perihal sensor, diskusi juga menyinggung peran relasi komunitas seni lokal dan global, media, hingga festival sebagai ruang alternatif yang memperkuat solidaritas antar-seniman dan menjaga kebebasan berekspresi.<\/p>\n<p>Seniman tidak pernah benar-benar bebas dalam berkreasi seni karena terikat norma dan etika. Strategi kolaborasi antara seniman, media, dan komunitas bisa menjadi jalan keluar dalam menyiasati atau melawan sensor.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Dosen Ilmu Komunikasi Universitas&nbsp;Gadjah&nbsp;Mada, Irham Nur Anshari menyebutkan, ada pergeseran mekanisme sensor di era digital saat ini. Salah satunya adalah kemunculan fenomena techno-surveillance, yakni praktik pengawasan konten publik melalui teknologi digital. Media sosial kini memiliki berbagai fitur untuk menyaring konten-konten sensitif yang terpublikasi. Berbicara dalam diskusi bertajuk &ldquo;Garis Batas Kreativitas: Penyensoran dan Kebebasan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":9613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[298,2956],"class_list":["post-9612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-seni","tag-sensor"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9612"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9612\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}