{"id":9803,"date":"2026-07-30T01:21:06","date_gmt":"2026-07-30T01:21:06","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9803"},"modified":"2026-07-30T01:21:06","modified_gmt":"2026-07-30T01:21:06","slug":"riset-daerah-kaya-berkontribusi-lebih-besar-pada-perubahan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=9803","title":{"rendered":"Riset: Daerah Kaya Berkontribusi Lebih Besar pada Perubahan Iklim"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Penelitian&nbsp;yang&nbsp;dilakukan&nbsp;tim&nbsp;dari&nbsp;Universitas&nbsp;Indonesia&nbsp;(UI)&nbsp;mencoba melihat korelasi antara konsumsi emisi gas rumah kaca, air, dan lahan pertanian dengan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, sebagai proksi tingkat pembangunan daerah.<\/p>\n<p>Analisis penulis mengungkap PDRB per kapita berbanding lurus dengan produksi emisi gas rumah kaca dan penggunaan air.<\/p>\n<p>Semakin tinggi pendapatan daerah, semakin banyak karbondioksida atau CO\u2082 yang dikonsumsi dan juga air yang digunakan.<\/p>\n<p>Temuan ini sesuai dengan temuan di beberapa penelitian sebelumnya, di mana daerah yang lebih kaya, seperti daerah perkotaan, memiliki gaya hidup dan pola konsumsi yang lebih intensif emisi.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, peningkatan polusi CO\u2082 dan penggunaan air meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245712230\/apakah-daerah-sudah-rasakan-manfaat-perdagangan-karbon\">Baca: Daerah belum banyak rasakan manfaat perdagangan karbon<\/a><\/p>\n<p>Dan meski tidak selalu bergantung pada pertanian, daerah kaya sumber daya alam mendatangkan produk-produk pertanian dari luar daerah untuk konsumsi mereka.<\/p>\n<p>Hal ini merupakan tantangan besar bagi Indonesia yang memiliki komitmen untuk mencapai emisi nol bersih setidaknya tahun 2060.<\/p>\n<p><strong>Implikasi terhadap kebijakan publik<\/strong><br \/>Kerusakan lingkungan yang terjadi di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti Sumatra dan Kalimantan, juga disebabkan tingginya konsumsi dan permintaan dari tempat lain, seperti Pulau Jawa.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, daerah-daerah yang merupakan produsen jejak lingkungan tinggi perlu mengimplementasikan kebijakan yang menyasar produsen.<\/p>\n<p>Misalnya dengan menciptakan kawasan industri emisi nol bersih serta menegakkan atau mewajibkan standar lingkungan, seperti standar industri hijau yang lebih ketat dan mewajibkan eco-labelling.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245557165\/kritisi-pasar-karbon-global-greenpeace-perdagangan-karbon-tak-akan-selamatkan-bumi\">Baca: Greenpeace sebut perdagangan karbon tak efektif selamatkan lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Untuk daerah-daerah konsumen jejak lingkungan yang tinggi, kebijakan harus dititikberatkan pada konsumsi dan pengadaan untuk memastikan kemudahan akses pada produk yang berkelanjutan, seperti subsidi barang rendah karbon atau, sebaliknya, pajak karbon.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Dua hal ini tentu relevan untuk Pulau Jawa karena pulau ini merupakan produsen dan konsumen jejak lingkungan terbesar di Indonesia.<\/p>\n<p>Perlu dicatat bahwa kondisi ini terjadi karena kebijakan pembangunan yang Jawa-sentris atau pola pembangunan yang terpusat di Pulau Jawa.<\/p>\n<p>Saat ini, lebih dari setengah populasi di Indonesia tinggal di Pulau Jawa, dengan kontribusi PDRB sekitar 55 persen.<\/p>\n<p>Untuk itu, pemerintahan daerah terutama yang baru dilantik harus mereformasi tata kelola pemerintahan daerah dan membuahkan kebijakan-kebijakan yang lebih bertanggungjawab dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Fikri Muhammad (Senior Analyst Economics and Governance, Climateworks Centre) dan Djoni Hartono (Associate Professor at the Department of Economics, Faculty of Economics and Business, Universitas Indonesia)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Penelitian&nbsp;yang&nbsp;dilakukan&nbsp;tim&nbsp;dari&nbsp;Universitas&nbsp;Indonesia&nbsp;(UI)&nbsp;mencoba melihat korelasi antara konsumsi emisi gas rumah kaca, air, dan lahan pertanian dengan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, sebagai proksi tingkat pembangunan daerah. Analisis penulis mengungkap PDRB per kapita berbanding lurus dengan produksi emisi gas rumah kaca dan penggunaan air. Semakin tinggi pendapatan daerah, semakin banyak karbondioksida atau CO\u2082 yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":9804,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[198,17],"class_list":["post-9803","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-emisi","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9803","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9803"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9803\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}