Blog

  • Fitur Hijau di Aplikasi Kurang Efektif Mengajak Masyarakat untuk ‘Go Green’

    Fitur Hijau di Aplikasi Kurang Efektif Mengajak Masyarakat untuk ‘Go Green’

     

    7cloud.asia – Memesan kendaraan antar jemput lewat aplikasi ride-hailing kini tak terpisahkan dari hidup banyak orang, khususnya warga kota. Mau bepergian, makan, kirim dokumen, dan belanja bulanan bisa dilakukan kapan dan di mana saja hanya dengan beberapa ketukan jempol saja.

    Namun, layanan ini ikut menambah ramai kendaraan di jalan yang berarti adanya peningkatan konsumsi bahan bakar, kemacetan, dan emisi.

    Untuk merespons masalah tersebut, sejumlah platform transportasi digital mulai menawarkan program ramah lingkungan.

    Ada yang mendorong penggunaan kendaraan listrik, menawarkan opsi carbon-neutral, atau mengajak pengguna berkontribusi pada program pengurangan emisi. 

    Masalahnya, menyediakan fitur hijau di aplikasi juga tidak otomatis membuat pengguna ikut berpartisipasi. Banyak pengguna mungkin melihat pilihan ini, tetapi mengabaikannya.

    Sebagian lain mungkin bertanya: apakah kontribusi ini benar-benar berdampak? Apakah perusahaan sungguh-sungguh peduli pada lingkungan, atau polesan citra hijau saja?

    Perlu ada bukti pada konsumen

    Dalam layanan ride-hailing, pengguna adalah konsumen pasif. Mereka membuka aplikasi, memilih tujuan, membayar, lalu duduk manis dan sampai ke tempat tujuan.

    Dengan kata lain, proses penyediaan layanan menjadi tanggung jawab platform dan pengemudi. Pengguna hanya menerima manfaatnya.

    Namun, dalam program keberlanjutan, posisi pengguna harus didorong menjadi lebih aktif. Kita memilih opsi kendaraan yang lebih rendah emisi, berdonasi untuk penanaman pohon, atau mengikuti tantangan mengurangi jejak karbon.

    Di sinilah tantangannya. Bagaimana cara mengajak masyarakat untuk ikut secara sukarela menciptakan nilai lingkungan bersama platform atau disebut green customer co-creation behavior

    Supaya warga semakin banyak terlibat, kampanye hijau tidak cukup hanya memakai slogan seperti “ramah lingkungan” atau “selamatkan Bumi”.

    Pengguna butuh melihat bukti yang lebih jelas: sejauh mana perhitungan kontribusi mereka, ke mana dana disalurkan, program apa yang didukung, serta dampak yang terukur.

    Jika informasi seperti ini tidak tersedia, pengguna bisa meragu. Bahkan, mereka bisa menganggap program hijau hanya gimik marketing semata. Kecurigaan terhadap potensi greenwashing bisa muncul dan ini bukan tanpa alasan.

    Dalam banyak sektor, klaim ramah lingkungan sering dipakai untuk memperbaiki citra tanpa perubahan operasional yang berarti. Fitur hijau dalam aplikasi adalah langkah awal. 

    Jadi intinya, fitur hijau saja tidak cukup. Pengguna perlu percaya bahwa perusahaan bertindak etis, programnya transparan, dan kontribusi mereka benar-benar menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

    Kepercayaan saja belum cukup

    Temuan krusial dalam riset kami adalah kepercayaan (300 pengguna yang kami wawancara) terhadap reputasi suatu platform/brand memang penting, tetapi bukan faktor yang langsung membuat pengguna memilih opsi hijau. 

    Kepercayaan hanya membuka pintu. Tetapi agar pengguna benar-benar bertindak, kepercayaan perlu berubah menjadi nilai, keyakinan, dan norma pribadi. Mereka perlu meyakini perjalanan harian punya dampak terhadap lingkungan.

    Karena dinamika penggunaan aplikasi ride-hailing tergolong cepat, desain aplikasi berperan besar. Tentunya, pengguna tidak punya waktu lama untuk membaca penjelasan panjang tentang emisi.

    Karena itu, aplikator perlu menerjemahkan komitmen lingkungan ke dalam desain yang sederhana dan berguna. Misalnya, aplikasi bisa menampilkan ringkasan dampak bulanan pengguna atau menunjukkan kemajuan kolektif pengguna di satu kota.

    Para aplikator juga bisa memberi pengingat setelah perjalanan, seperti bahwa pengguna telah ikut mendukung opsi mobilitas rendah emisi bersama pengguna lain yang bisa dihiasi dengan gamifikasi dan promo menarik bagi pengguna.

    Pengguna tetap perlu tahu apa arti partisipasi mereka secara konkret. Jika tidak, fitur hijau hanya menjadi ornamen aplikasi. 

    Tak boleh membebankan pengguna

    Hal yang perlu menjadi catatan kritis adalah perusahaan bisa saja terlihat seolah-olah sudah “hijau” hanya karena menyediakan pilihan bagi pengguna untuk membayar kontribusi lingkungan.

    Namun, tanggung jawab utama tetap ada pada perusahaan dengan memperbaiki operasi seperti mengurangi perjalanan kosong, memperbaiki efisiensi algoritma, mendukung kendaraan rendah emisi, memberi insentif yang adil bagi pengemudi, dan memastikan program carbon-neutral benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

    Partisipasi pengguna sebaiknya dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti tanggung jawab korporasi. Dengan kata lain, pengguna dapat menjadi mitra dalam menciptakan nilai lingkungan. Mereka tidak boleh dijadikan alat untuk menutup kekurangan strategi keberlanjutan perusahaan. 

    Inilah mengapa etika menjadi sangat penting. Pengguna akan lebih bersedia berpartisipasi jika mereka melihat perusahaan tidak hanya meminta kontribusi, tetapi juga melakukan perubahan nyata dari sisi operasional.

    Pembelajaran ke depan

    Temuan ini punya implikasi lebih luas bagi masa depan transportasi kota.

    Pertama, keberlanjutan dalam ride-hailing tidak cukup dibahas sebagai persoalan teknologi. Kendaraan listrik, algoritma yang lebih efisien, dan program pengurangan emisi memang penting. Namun, perilaku pengguna juga menentukan apakah fitur hijau digunakan secara konsisten.

    Kedua, komunikasi keberlanjutan harus lebih spesifik. Platform perlu menjelaskan program hijau dengan bahasa sederhana, data yang dapat diverifikasi, dan mekanisme yang mudah dipahami. 

    Ketiga, perusahaan perlu membangun norma sosial yang sehat. Pilihan hijau sebaiknya ditampilkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, bukan sebagai beban individual semata.

    Keempat, pemerintah dan regulator juga punya peran. Mereka dapat mendorong standar transparansi untuk klaim lingkungan dalam aplikasi digital, termasuk bagaimana program carbon-neutral dihitung, diaudit, dan dilaporkan kepada publik.

    Tanpa standar yang jelas, pengguna akan sulit membedakan antara komitmen lingkungan yang serius dan promosi hijau yang dangkal.  


    Ardy Wibowo, Peneliti, Universitas Diponegoro dan Andi Wijayanto, Peneliti, Universitas Diponegoro

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • AS Belum Cairkan Dana Senilai Ratusan Triliun Milik Iran

    AS Belum Cairkan Dana Senilai Ratusan Triliun Milik Iran

    7cloud.asia – Iran dilaporkan belum menerima dana sebesar 6 miliar dolar AS (sekitar Rp106,7 triliun) yang sebelumnya dijanjikan untuk dicairkan sebagai bagian dari pelaksanaan nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.

    Mengutip seorang pejabat AS, The New York Post pada Selasa (30/6/2026) melaporkan bahwa dana yang dibekukan tersebut belum akan dilepas sebelum Iran memenuhi ketentuan yang tercantum dalam nota kesepahaman.

    “Tidak ada dana yang dibekukan telah dicairkan, dan tidak akan ada dana yang dicairkan sampai Iran memenuhi persyaratan yang diuraikan dalam nota kesepahaman,” kata pejabat tersebut.

    Baca: Kesepakatan Damai Iran-AS Akan Disahkan Lewat Resolusi DK PBB

    Menurut pejabat itu, Washington berencana mencairkan dana tersebut secara bertahap seiring kemajuan pelaksanaan kesepakatan.

    “Iran akan dapat mengakses pencairan dana secara bertahap setelah kembali membuka Selat Hormuz, menghentikan pungutan biaya transit, dan memenuhi tahapan lainnya,” ujarnya.

    Sebelumnya pada hari yang sama, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Teheran kemungkinan akan menggelar pembicaraan dengan Qatar pada 1 Juli.

    Qatar bertindak sebagai mediator dalam dialog antara Iran dan Amerika Serikat untuk membahas implementasi nota kesepahaman tersebut.

    Baca: Iran Ajukan Syarat Ini untuk Akhiri Perang dengan AS

    Namun, pada Senin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa dana Iran sebesar 6 miliar dolar AS yang dibekukan di Qatar telah dipastikan akan dicairkan dan ditransfer ke Teheran.

    Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni 2026 lalu, usai perundingan alot yang berlangsung selama beberapa pekan di Islamabad, Pakistan.

    Dokumen tersebut memuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik militer yang dimulai pada 28 Februari, sekaligus menetapkan jadwal pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik

  • Di Tengah Disrupsi dan Gempuran AI, Media Dituntut Melakukan Diversifikasi Usaha untuk Tetap Bertahan

    Di Tengah Disrupsi dan Gempuran AI, Media Dituntut Melakukan Diversifikasi Usaha untuk Tetap Bertahan

    7cloud.asia – Dampak konsumsi konten generatif AI makin dirasakan industri media di Indonesia lantaran turut mempengaruhi terhadap trafik pembaca, termasuk media-media yang sudah punya branding besar.

    Akademisi Monash University sekaligus Co-Director Monash Data and Democracy Research Hub, Ika Idris mengungkapkan penurunan trafik itu sekitar 20-70 persen.

    Angka itu berbeda-beda (masing-masing media). Dampak terbesar terutama dirasakan media yang general news karena adanya pengunaan generatif AI yang masif.

    Dia menambahkan, media besar paling merasakan dampak ini, tetapi mereka juga yang dengan cepat mengatasi kondisi ini, karena sumber daya yang dimiliki juga besar.

    ”Karena kalau media kecil itu mungkin tidak punya tim IT, bahkan tidak punya data, terus telat untuk menyadari seperti apa,” ujar Ika dalam paparannya di acara Banten Media Hub di salah satu hotel di Kota Serang, Selasa (30/6/2026).

    Baca: Pemerintah Menyabotase Kerja Pers Demi Mengendalikan Informasi

    Meski begitu, diakui Ika, media online berbasis news masih menjadi sumber utama bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi sebuah peristiwa sehingga tingkat kepercayaan dari pembacanya masih relatif cukup tinggi dibandingkan dengan media sosial.

    Hal ini didasarkan pada survei yang dilakukan Monash Data and Democracy Research Hub melakukan survei terhadap 2.000 sampel di 44 kota seluruh Indonesia.

    Hasilnya, well established media atau media yang sudah mapan menempati posisi tertinggi sebagai sumber berita paling dipercaya.

    “Influencer itu yang paling bawah sebenarnya (tingkat kepercayaan publiknya). Cuma kalau kita lihat 50 persen itu menjawab netral terhadap influencer ini, antara mereka tidak tahu bagaimana bersikap atau mereka malu-malu,” jelas Ika.

    “Ternyata yang paling dipercaya itu well established media, kedua, ditempati media institusi pemerintah, lalu ketiga public broadcaster atau penyiaran publik, katanya.

    Baca: Pentingnya ‘Good Journalism‘ di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan

    Selain itu, Ika mengklaim telah mengukur tingkat kepercayaan publik saat terjadi protes politik di Agustus 2025 laju.

    Hasilnya, well established media tetap menjadi rujukan utama. Sementara, media-media yang terafiliasi dengan pemerintah mendapat respon sekitar 15 persen karena dinilai cocok untuk mencari informasi layanan publik seperti lalu lintas, pendidikan, dan kesehatan.

    “Jadi semakin media itu kritis terhadap kebijakan pemerintah, maka semakin tinggi pula trust publik ke media tersebut ,” ujarnya.

    Meski tingkat kepercayaan ke media besar cenderung lebih tinggi, ternyata hal itu tidak berbanding lurus dengan kesediaan berlangganan. Berbeda dengan Amerika dan Eropa Barat yang bisa mengkonversi kepercayaan publik menjadi subscription.

    “Sayangnya ketika ditanya sebenarnya mereka mau subscribe ke media nggak sih? Jadi karena orang percaya ke well established media itu mereka mau subscribe. Kalau di Indonesia justru enggak,” ujar Ika.

    Baca: Perjuangan Media Alternatif di Tengah Ketidakpastian

    Karena itu, Ika menilai, perlu ada kampanye untuk memberikan edukasi terhadap publik bahwa informasi di media online berbasih news itu lebih relevan sehingga perlu diberikan dukungan dengan cara subscribe.

    “Jadi kita harus ngasih tau ke publik kalau mereka percaya ya harus didukung juga medianya,” tandasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi suara.com, Suwarjono mengungkapkan masalah sustainability media menjadi isu penting selain juga independensi.

    Selain berubahnya pola konsumsi informasi masyarakat, pengelola media juga dihadapkan pada pendapatan dan kue iklan yang makin mengecil. Sementara untuk menjalankan kerja-kerja jurnalistik butuh biaya yang tidak kecil.

    Karena itu, diversifikasi usaha dibutuhkan agar media tetap bisa menjalankan tugas jurnalistiknya.

    “Jurnalisme itu mahal dan kita tidak bisa menghidupi media. Karenanya media harus punya model bisnis lain untuk menunjang aktifitas media,” katanya saat menyampaikan sambutan di hadapan puluhan media lokal di Banten.

  • Sebagian Indonesia Memasuki Puncak Kemarau Bulan Juli, Ini Wilayahnya

    Sebagian Indonesia Memasuki Puncak Kemarau Bulan Juli, Ini Wilayahnya

    7cloud.asia – Musim kemarau mulai memasuki fase kritis. Memasuki Juli 2026, sejumlah wilayah Indonesia diprediksi mencapai puncak musim kering, dengan ancaman berkurangnya cadangan air, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak menunggu dampak terjadi sebelum melakukan antisipasi.

    Puncak kemarau dipastikan tidak datang bersamaan di seluruh Indonesia. Berdasarkan pembaruan data BMKG pada Juni 2026, sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak kemarau pada Juli.

    Baca: Kekeringan Mulai Terjadi di Sejumlah Daerah

    Sejumlah wilayah yang diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Juli 2026 meliputi:

    • Sebagian wilayah Sumatra
    • Sebagian kecil Kalimantan
    • Sebagian kecil Pulau Jawa
    • Nusa Tenggara Timur bagian selatan
    • Sulawesi Barat bagian utara
    • Sulawesi Tengah bagian barat
    • Sebagian kecil Maluku
    • Papua Barat Daya bagian selatan
    • Papua Barat bagian tengah
    • Papua bagian timur

    Ancaman terbesar diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, BMKG memprediksi 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia berada di puncak kemarau.

    Kondisi baru akan berangsur menurun pada September dengan perkiraan 169 Zona Musim atau sekitar 25,41 persen wilayah mengalami puncak kemarau.

    Baca: BMKG Warning, El-Nino Ancam Indonesia Hingga 2027

    BMKG menjelaskan, puncak musim kemarau merupakan fase ketika curah hujan berada pada titik terendah dalam satu musim. Pada periode ini, hari tanpa hujan cenderung lebih panjang sehingga tekanan terhadap ketersediaan air semakin besar.

    Risiko tidak berhenti pada persoalan air. Wilayah dengan sumber daya air terbatas berpotensi menghadapi kekeringan meteorologis.

    Sementara kawasan dengan vegetasi kering dan lahan gambut menghadapi ancaman meningkatnya kebakaran hutan dan lahan.

    Baca: Memasuki Musim Kemarau, Warga Sumatera Utara Waspada Kebakaran Lahan

    Kondisi ini menjadi ujian bagi kesiapan pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya air, menjaga sektor pertanian, serta melindungi masyarakat dari dampak iklim yang semakin sulit diprediksi.

    BMKG mengingatkan karakteristik kemarau berbeda di setiap wilayah karena dipengaruhi kondisi geografis dan dinamika atmosfer. Karena itu, langkah antisipasi tidak bisa dilakukan dengan pola yang sama di seluruh daerah.

    Masyarakat juga diminta aktif memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim. Sebab, prediksi musim dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer yang terus bergerak.

    Di tengah ancaman kemarau panjang, kesiapan menjadi kunci agar musim kering tidak berubah menjadi krisis baru.

     

  • Studi: Konsumsi Vitamin C Meningkatkan Fungsi dan Kesehatan Otak

    Studi: Konsumsi Vitamin C Meningkatkan Fungsi dan Kesehatan Otak

    7cloud.asia – Tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri, jadi kita perlu mengonsumsi cukup nutrisi penting ini melalui makanan kita. Vitamin C mengalir melalui tubuh kita, dari lambung, ke dalam darah, dan naik ke otak.

    Studi sebelumnya telah mengisyaratkan betapa pentingnya vitamin C bagi fungsi otak. Vitamin C terkonsentrasi di jaringan otak, dengan cairan serebrospinal yang membasahi otak mengandung vitamin C dua kali lebih banyak daripada darah.

    Asupan vitamin C yang cukup juga telah dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit Alzheimer.

    Sebuah penelitian baru yang telah diterbitkan di PLOS One memberi tahu lebih banyak tentang bagaimana vitamin C dapat meningkatkan kesehatan otak di usia lanjut.

    Sebelumnya diketahui bahwa vitamin C adalah antioksidan dan terlibat dalam berbagai reaksi kimia dalam tubuh kita.

    Tetapi kita tidak banyak mengetahui tentang bagaimana kadar vitamin C dalam darah (yang lebih mudah diambil sampelnya) mungkin berhubungan dengan kesehatan otak.

    Untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut, para peneliti di Universitas Hirosaki di Jepang mengambil sampel darah dari 2.044 sukarelawan dengan usia rata-rata 69 tahun.

    Mereka lalu mempelajari bagaimana kadar vitamin C dalam sampel tersebut sesuai dengan fitur-fitur tertentu pada pemindaian otak.

    Baca: Mengonsumsi Cukup Vitamin D Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

    Mereka sangat tertarik pada sirkuit otak utama yang disebut jaringan mode default (DMN) yang bekerja secara diam-diam, menghubungkan banyak bagian otak, bahkan ketika Anda merasa tidak melakukan apa pun.

    Pelonggaran DMN juga telah dikaitkan dengan penurunan kognitif, jadi para peneliti ingin melihat seberapa erat koneksi tersebut di antara orang Jepang lanjut usia.

    Terdapat hubungan yang jelas di antara para peserta dalam penelitian ini: Lebih banyak vitamin C dalam darah dikaitkan dengan volume materi abu-abu yang lebih tinggi, jaringan otak yang menangani memori, gerakan, dan emosi.

    Kadar vitamin C yang lebih tinggi juga berkorelasi dengan konektivitas yang lebih kuat di DMN.

    Namun, ini hanya penilaian satu kali, jadi ini tidak membuktikan bahwa vitamin C secara langsung memengaruhi koneksi otak tersebut.

    Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa vitamin C mungkin berperan dalam menjaga kesehatan otak – dan mungkin, secara tidak langsung, membantu mencegah demensia.

    “Temuan ini menghasilkan hipotesis menarik bahwa diet kaya vitamin C mungkin berperan mendukung dalam menjaga kesehatan otak dan mengurangi penurunan kognitif terkait usia pada orang dewasa yang lebih tua,” kata ahli radiologi Tomohiro Shintaku, dari Universitas Hirosaki.

    Jaringan Mode Default (DMN) menghubungkan beberapa wilayah otak penting, termasuk korteks prefrontal ventromedial di dekat bagian depan otak kita (terkait dengan pemrosesan risiko, ketakutan, dan emosi), dan korteks cingulate posterior di tengah (terlibat dalam memori dan kontrol motorik).

    Baca: Lima Tahap Perkembangan Otak

    Secara keseluruhan, DMN telah dikaitkan dengan sejumlah fungsi kognitif yang berbeda, meliputi apa yang kita ingat tentang diri kita sendiri dan bagaimana kita menyebut diri kita sendiri, memikirkan masa depan, dan mengendalikan perhatian kita.

    Studi sebelumnya menemukan bahwa penderita penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan depresi cenderung memiliki DMN yang lebih lemah dan kurang terhubung dengan baik.

    Masih banyak penelitian yang diperlukan untuk meneliti hubungan ini secara lebih detail, tetapi implikasinya adalah bahwa jumlah vitamin C yang sehat dapat membantu menjaga DMN tetap berjalan lebih lancar, dan mencegah beberapa gangguan kesehatan otak ini.

    “Sejauh pengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang menunjukkan hubungan antara kadar vitamin C plasma dan konektivitas DMN,” tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan.

    Konektivitas otak
    Para peneliti melihat tiga wilayah materi abu-abu yang membentuk jaringan mode default, dan menghubungkannya dengan kadar vitamin C dalam sampel darah. (Nagaya dkk., PLOS One, 2026)

    Dalam analisis mereka, para peneliti menyesuaikan beberapa faktor yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak, termasuk usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi.

    Namun mereka ingin melihat apakah mereka dapat mereplikasi temuan mereka dalam studi longitudinal yang melacak orang selama beberapa tahun, dan dalam kelompok yang lebih beragam.

    Baca: Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    Hal itu akan membantu kita memahami apakah hubungan yang ditemukan di sini, pada orang-orang yang relatif lanjut usia yang tinggal di Jepang, berlaku untuk populasi atau kelompok usia lain.

    Meskipun demikian, ini adalah alasan lain untuk mempertimbangkan untuk mendapatkan lebih banyak vitamin C dalam diet Anda. Vitamin C tidak hanya terdapat pada jeruk, sumber yang paling terkenal, tetapi juga pada banyak buah dan sayuran lainnya.

    Studi sebelumnya telah menghubungkan kadar vitamin C yang optimal dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat – tetapi vitamin C tidak banyak membantu mengatasi flu biasa.

    Saran bahwa vitamin C juga dapat melindungi dari polusi udara, menjadi rahasia kulit yang tampak lebih muda – atau meningkatkan kesehatan otak – mungkin tidak begitu jelas.

    Hubungan ini tentu layak untuk dieksplorasi, dan sementara itu, merupakan pengingat akan manfaat mengonsumsi makanan yang seimbang sementara para ilmuwan menggali detailnya.

    “Hal yang paling menarik bagi saya dari penelitian ini adalah kami mampu mendeteksi hubungan yang halus namun signifikan antara satu faktor nutrisi dan jaringan otak skala besar dengan memanfaatkan kohort berbasis komunitas yang kuat yang terdiri dari lebih dari 2.000 orang dewasa lanjut usia,” kata Shintaku.

    “Ini benar-benar menyoroti potensi dampak kebiasaan diet kita sehari-hari terhadap struktur otak kita.” imbuhnya

  • Kementan Diminta Percepat Mitigasi El Nino

    Kementan Diminta Percepat Mitigasi El Nino

    7cloud.asia – Kementerian Pertanian (Kementan) diingatkan untuk mempercepat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau 2026.

    Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman antisipasi yang dilakukan sejak dini menjadi kunci menjaga produksi pangan nasional dan mencegah meluasnya gagal panen di berbagai daerah.

    Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama pejabat Eselon I Kementerian Pertanian di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Alex menegaskan pengalaman menghadapi El Nino pada 2015 harus menjadi pelajaran penting.

    Saat itu, luas lahan pertanian yang mengalami puso mencapai sekitar 217 ribu hektare, jauh lebih besar dibandingkan dampak El Nino pada 2023 maupun kondisi yang terjadi saat ini.

    Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memprioritaskan penguatan infrastruktur sumber daya air sebagai langkah utama menghadapi musim kemarau.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    “Optimalisasi infrastruktur sumber daya air, antara lain rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan dan pemanfaatan embung, sumur bor, irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, serta relokasi pompa air ke wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan juga harus diutamakan,” ujar Alex.

    Selain memperkuat infrastruktur, Alex juga menyoroti proyeksi perkembangan fenomena El Nino dan La Nina hingga Maret 2027.

    Berdasarkan data tersebut, kondisi iklim diperkirakan masih berada pada fase El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang.

    Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat berbagai langkah mitigasi sebelum dampaknya meluas.

    Ia juga mendorong percepatan distribusi berbagai sarana produksi pertanian, terutama bagi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan.

    Baca: WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    “Antisipasi juga diperlukan dengan cara akselerasi distribusi sarana produksi pertanian, antara lain benih atau bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pakan ternak, khususnya bagi daerah yang berisiko tinggi terdampak El Nino,” katanya.

    Di sisi lain, Alex mengingatkan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini berbasis data dari BMKG.

    Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau 2026 telah dimulai sejak April di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan secara bertahap meluas ke berbagai daerah, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

    Menurutnya, pemetaan wilayah rawan kekeringan harus dilakukan secara cepat dan akurat agar pemerintah dapat memantau perkembangan produksi pangan nasional sekaligus mengambil langkah penanganan secara tepat waktu.

    “Memperkuat sistem peringatan dini berbasis data BMKG, dan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan secara tepat waktu, sehingga perkembangan produksi pangan nasional dapat terpantau,” pungkasnya.

  • Cuaca Hari Ini: Masih Ada Peluang Hujan di Tengah Musim Kemarau

    Cuaca Hari Ini: Masih Ada Peluang Hujan di Tengah Musim Kemarau

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di sejumlah wilayah meski kemarau tengah melanda pada Kamis (02/07/2026).

    Dalam laman resminya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpeluang mengguyur wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.

    BMKG juga memprediksi angin kencang dengan kecepatan maksimal 25 knot di wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat setempat agar waspada.

  • 5 Tahun Diintimidasi dan Dikriminalisasi, Masyarakat Adat Dayak Kualan Minta DPR Turun Tangan

    5 Tahun Diintimidasi dan Dikriminalisasi, Masyarakat Adat Dayak Kualan Minta DPR Turun Tangan

    7cloud.asia – Dengan suaranya yang datar, Combeng mengungkapkan harapannya agar Komisi XIII dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) segera menyelesaikan konflik dan mendengarkan suara masyarakat adat Kualan di Kalimantan Barat terkait perampasan lahan oleh perusahaan HTI, PT Mayawana Persada.

    Dalam konferensi pers bertajuk Jerat Kriminalisasi & Perampasan Tanah Adat: Koalisi Masyarakat Sipil Desak Komisi XIII DPR Lindungi Hak Masyarakat Adat Kalbar yang dipantau secara daring pada Rabu (1/07/2026), Combeng memaparkan getirnya nasib masyarakat adat menghadapi perampasan lahan oleh perusahaan tanaman industri.

    Bagaimana masyarakat adat dayak Kualan tak hanya menghadapi penguasaan sepihak atas tanah adat mereka, tetapi juga dikriminalisasi saat berusaha memperjuangkan hak atas tanah ulayat mereka.

    Dalam kesempatan itu, juga hadir Tarsisius Fendy Sesupi Kepala Adat Lelayang, Kualan Hilir, Kabupaten Kayong Utara Kalimantan Barat.

    Dengan tegas ia berharap agar pihak perusahaan mengembalikan tanah yang diambil paksa, menmulihkan hutan yang telah dirusak, menghormati dan mengakui hak masyarakat adat.

    “Kepada pemerintah segera cabut izin PT Mayawana Persada yang nyata-nyata telah megakibatkan kerusakan lingkungan,” ujar Tendy menutup kata-katanya

    Combeng dan Tendy mewakili masyarakat adat dayak Kualan di Kalimantan Barat yang harus berhadapan dengan hukum demi mempertahankan wilayah adatnya dari penguasaan sepihak PT Mayawana Persada.

    Sehari sebelumnya, mereka mengadu ke Komisi XIII DPR agar penuntasan masalah yang mereka alami dapat segera dituntaskan.

    Baca: Lebih dari 36,4 Juta Hektare Wilayah Adat Telah Dipetakan, Namun Kurang dari 20 Persen yang Telah Diakui Negara

    Dalam pertemuan ini, Komisi XIII DPR resmi mengeluarkan rekomendasi hasil rapat yang mendorong Kementerian HAM RI untuk mengambil peran komando dalam menyelesaikan konflik agraria di Kalimantan Barat dan Riau.

    “Komisi XIII DPR merekomendasikan Kementerian HAM RI memimpin koordinasi lintas lembaga bersama Komnas HAM, LPSK, kementerian/lembaga terkait, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan lembaga terkait lainnya,” ujar Andreas.

    Ia menjelaskan bahwa gabungan instansi ini nantinya akan melebur ke dalam satu Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

    Pelibatan banyak lembaga negara, mulai dari perlindungan saksi hingga aparat penegak hukum, bertujuan agar pengumpulan bukti di lapangan berjalan objektif dan menyeluruh tanpa adanya tekanan dari pihak korporasi.

    “Untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta guna mengumpulkan bukti secara komprehensif, dan menyelesaikan persoalan yang ada dengan mengedepankan prinsip-prinsip hak asasi manusia,” tegas legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

    Perjuangan masyarakat adat Dayak Kualan di Kalimantan Barat sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

    Berdasarkan catatan Koalisi Masyarakat Sipil dalam laporan “Kerusakan ekologis – pelanggaran HAM PT. Mayawana Persada: Ugal-ugalan Ekspansi HTI di Kalimantan Barat”, pihak perusahaan telah menebangi 14 ribu hektar hutan antara Januari dan Agustus 2023.

    Baca: Tanpa Pengakuan Negara, Jutaan Hektare Wilayah Adat Terancam Green Grabbing

    Pada Oktober 2023, perusahaan group yang diduga memiliki keterkaitan dengan Royal Golden Eagle ini membuka hutan tambahan seluas 2.567 hektar. Dengan demikian, sejak 2016 hingga saat ini perusahaan telah menebang hutan seluas 35 ribu hektare

    Dampak pembukaan hutan untuk hutan industri ini telah dirasakan warga selama ini beberapa indikasi yang dipaparkan seperti pertanian pola tanam berpindah yang sebelumnya berjalan normal, dalam dua tahun terakhir mengalami gagal tanam.

    Beroperasinya perusahaan juga mengakibatkan menurunnya kualitas sumber air. Air sungai yang dulu aman diminum, sekarang untuk mencuci pakaian pun tak bisa.Akibatnya hasil perikanan juga menurun.

    “Dulu ikan sungai mudah diperoleh, sekarang hasil tangkapan ikan menurun,” terang Combeng.

    Pembukaan hutan juga berdampak pada keanekaragaman hayati, di mana tanaman obat lokal makin sulit ditemukan serta terganggunya habitat satwa endemik seperti orangutan Mongabay.

    Secara sosial-ekonomi, masyarakat kehilangan sumber penghidupan. Warga yang sebelumnya mengandalkan alam kini kehilangan ruang hidupnya.

    Selain itu juga terjadi konflik agraria, wilayah adat terganggu, dan masyarakat kesulitan ekonomi.

    Fendy, misalnya, telah 28 kali menerima surat panggilan pemeriksaan dari aparat kepolisian karena perjuangannya mempertahankan tanahnya dari pengambilalihan oleh pihak perusahaan.

    Baca: Masyarakat Adat Dayak Meratus Tolak Rencana Penetapan Taman Nasional Meratus

    Dilansir di laman resmi WALHI, PT. Mayawana Persada antara lain mengambil alih Tonah Colap Torun Pusaka milik Masyarakat Adat Benua Kualan Hilir.

    Tonah Colap Torun Pusaka atau yang disebut wilayah adat milik Masyarakat Adat Dayak Benua Kualan Hilir ini mencakup Bukit Serangkang seluas 1600 hektar, Bukit Sabarbubu seluas 1200 hektare, dan Bukit Tunggal seluas 850 hektare.

    Kawasan wilayah adat selalu dijaga dan dilindungi oleh Masyarakat Adat Dayak Benua Kualan Hilir, namun kini telah dirampas oleh Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Mayawana Persada.

    Akibatnya, Masyarakat Adat terancam kehilangan hak atas tanah dan sumber daya alam di Tanah Colap Torun Pusaka yang telah mereka jaga dan lindungi sejak dulu.

    “Saat ini, Masyarakat Adat Kualan Hilir berada dalam tekanan hebat, seiring dengan meningkatnya penetrasi kepentingan kapital dalam bungkus berbagai macam proyek atas nama investasi yang dijalankan oleh PT. Mayawana Persada,” ujarnya.

    PT Mayawana Persada mengantungi izin 136.710 hektare melalui SK.732/Menhut-II/2010, pada tahun 2016 sebagaimana dipetakan Kementerian LHK bahwa luas hutan dalam areal izin seluas 88.100 hektar.

    Selanjutnya seluas 89.410 hektare sebagaimana dipetakan pada tahun berikutnya adalah habitat orang utan dan 83.060 hektare merupakan ekosistem gambut kaya karbon.

    Hal ini ironis, karena berlangsung di saat pemerintah ingin menekan laju deforestasi guna menekan laju pemanasan global yang berdampak pada krisis iklim global, kenyataan kontras malah ditunjukkan melalui praktik yang kini dilakukan oleh eks perusahaan group Alas Kusuma ini.

     

  • Kebakaran di TPA Jatiwaringin Tangerang Meluas: Ratusan Warga Sekitar Terdampak

    Kebakaran di TPA Jatiwaringin Tangerang Meluas: Ratusan Warga Sekitar Terdampak

    7cloud.asia – Kebakaran di Tempat Pemrosesan akhir atau TPA Jatiwaringin, Tangerang, Banten terus meluas. Pada Rabu (1/7/2026) luas lahan yang terbakar telah mencapai kurang lebih 15 hektare.

    Kebakaran mulai terjadi pada Selasa (30/6/2026). Berdasarkan hasil asesmen sementara yang dilakukan BNPB di lapangan, proses pemadaman mengalami kendala karena material yang terbakar didominasi sampah dan bahan mudah terbakar.

    Selain itu, titik api berada pada tumpukan sampah dengan ketinggian tertentu sehingga sulit dijangkau oleh petugas. Kondisi tersebut diperparah dengan embusan angin yang cukup kencang serta cuaca panas yang menyebabkan api cepat menjalar ke berbagai arah.

    Untuk mempercepat pengendalian kebakaran, Kepala BNPB Suharyanto menginstruksikan pengerahan helikopter pengebom air guna mendukung operasi pemadaman dari udara.

    “Kita datangkan dua helikopter water bombing (pengebom air) dan jika diperlukan lakukan operasi modifikasi cuaca,” katanya dilansir Antaranews.com

    Baca: Surat Paksaan Penutupan TPA yang Terapkan Open Dumping

    Selain itu, upaya pemadaman di darat terus dilakukan dengan mengerahkan 10 mobil pemadam kebakaran berasal dari berbagai instansi. Petugas memfokuskan pemadaman pada area yang dapat dijangkau untuk menahan laju penyebaran api.

    Dinas Kesehatan (Dinles) Kabupaten Tangerang, Banten, melaporkan sebanyak 154 jiwa warga di wilayahnya tersebut terkena gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang diduga akibat dampak asap kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk.

    “Yang sudah kita periksa sejak Selasa malam (30/6/2026) lebih kurang 154 orang. Mayoritas itu penyakit ISPA,” kata Kadinkes Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi di Tangerang, Rabu (1/7/2026)

    Ia mengatakan, dari total 154 jiwa yang teridentifikasi iritasi saluran pernafasan ini mayoritasnya merupakan kelompok ibu dan balita. Di mana, katanya, mereka saat ini telah dilakukan penanganan medis untuk pemulihan fisiknya.

    Ia mengatakan, terhadap temuan ratusan jiwa yang terdampak ISPA ini satu pasien diantaranya dilakukan perawatan intensif dengan dirujuk ke rumah sakit umum daerah (RSUD) setempat.

    “Ada satu kasus yaitu ibu hamil kita rujuk ke RSUD untuk dilakukan penanganan,” ujarnya.

    Baca: Teknologi Landfill Mining untuk TPA yang Kelebihan Kapasitas

    Hendra juga bilang, melihat situasi kedaruratan ini, pihaknya telah menerjunkan 25 petugas medis yang tergabung dalam tim kesehatan melalui unit Puskesmas di tiga wilayah yang mencakup Kecamatan Rajeg, Mauk dan Sukadiri.

    Selain itu, pemerintah daerah Kabupaten Tangerang telah membuka lima posko terpadu untuk layanan kesehatan.

    “Sudah membuka empat posko dan satu pos siaga. Empat posko itu tiga posko ada di Kecamatan Rajeg, kemudian satu poskonya ada di Kecamatan Sukadiri, kemudian pos siaganya ada di sini, di TPA Jatiwaringin, Mauk,” jelasnya.

    Dinas Kesehatan juga tengah melakukan mitigasi dan antisipasi terhadap perluasan penyebaran asap kebakaran TPA Jatiwaringin.

    Semua Puskesmas diminta siaga jika terjadi bencana asapnya sampai ke daerah mereka, mereka harus sudah siap siaga menyiapkan masker.

  • Upaya Industri Jeans untuk Lebih Ramah Lingkungan

    Upaya Industri Jeans untuk Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Apa yang terlintas di pikiran Anda, ketika medengar istilah jeans? Bagi banyak orang yang melihat jeans adalah produk garment yang sangat multifngsi. Dan, tak banyak produk garment seuniversal celana jeans.

    Dari celana kerja di lahan pertanian hingga festival dan bahkan panggung mode kelas atas, jeans ada di mana-mana.

    Sejak tahun 1873, ketika paku keling tembaga ditambahkan ke celana kerja denim untuk memperkuat saku, sebuah desain yang dipatenkan oleh pengusaha Levi Strauss, celana jeans biru telah melintasi batas negara, kelas sosial, dan generasi.

    Meskipun penampilannya seringkali sederhana, jeans adalah produk dari rantai nilai global yang rumit. Di balik selembar jeans terdapat jaringan ekstraksi sumber daya alam, manufaktur, dan transportasi yang mencakup seluruh planet, belum lagi desain produk dan pemasaran.

    “Kompleksitas pembuatan sepasang jeans sangat mencengangkan,” kata supermodel dan Duta Besar Kehormatan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Amber Valletta dalam kunjungan baru-baru ini ke sebuah pabrik denim di Tunisia.

    Dia menambahkan, “Ada ratusan tangan yang terlibat dalam pembuatan sepasang jeans. Sungguh luar biasa.”

    Baca: Brian Szcabo Populerkan Tidak Mencuci Celana Jeans Raw Denim

    Denim adalah salah satu produk industri garmen yang paling intensif sumber daya. Satu pasang jeans dapat membutuhkan 3.800 liter air untuk diproduksi. Namun, dapatkah sistem yang begitu luas dan kompleks tetap selaras dengan batasan lingkungan?

    Itulah pertanyaan yang baru-baru ini coba dijawab Valetta dalam sebuah film dokumenter produksi UNEP.

    Ia mengunjungi pabrik-pabrik denim di Tunisia untuk melihat praktik manufaktur berkelanjutan dan berbicara dengan mereka yang memimpin upaya untuk menghasilkan jeans yang lebih ramah lingkungan.

    Industri fesyen dan tekstil termasuk di antara industri yang paling berpolusi di dunia. Industri ini juga memicu perubahan iklim dan mengonsumsi sejumlah besar sumber daya alam. Dan denim adalah salah satu produk yang paling intensif sumber daya di industri ini.

    Satu pasang jeans dapat membutuhkan 3.800 liter air untuk diproduksi, menurut merek Levi’s. Banyak jeans juga membutuhkan sejumlah besar energi dan bahan kimia untuk mencapai warna dan efek khusus tertentu.

    Meskipun sebagian besar denim dunia diproduksi dan dibuat di Asia, Tunisia termasuk di antara pemasok utama pakaian denim jadi ke Uni Eropa (UE), dengan pangsa pasar sekitar 8 persen tahun lalu.

    Baca: Slow Fashion Jadi Solusi untuk Lingkungan

    Kedekatan negara Afrika Utara ini dengan Eropa memungkinkan waktu penyelesaian yang cepat, yang membantu merek merespons pasar dan tetap berada di puncak tren.

    Produsen Tunisia secara teratur diaudit mengenai peraturan dan harapan Uni Eropa, yang semakin berfokus pada ketertelusuran, transparansi, daya tahan, dan kinerja lingkungan.

    “Industri sekarang berada di bawah tekanan yang kuat,” kata Bilel Ben Miled, Manajer Keberlanjutan di Gonser Group dekat Tunis, yang dua pabriknya ditampilkan dalam film tersebut.

    Dia mengimbuhi, “Merek, pelanggan, konsumen akhir, dan bahkan pemerintah menuntut produk berkelanjutan dengan dampak rendah.”

    Tekanan ini seringkali merupakan reaksi berantai: pemerintah mewajibkan persyaratan lingkungan dari merek, dan merek kemudian mendorong pemasok mereka untuk memenuhi standar tersebut, agar mereka tidak beralih ke produsen yang mampu memenuhinya.

    Salah satu upaya memproduksi jeans secara berkelanjutan diwujudkan lewat Gonser Denim Revolution (GDR), di mana prinsip keberlanjutan telah meningkat dari waktu ke waktu melalui serangkaian perbaikan.

    Baca: Dampak Fast Fashion Bagi Lingkungan dan Kehidupan Sosial

    Misalnya, bahan kimia seperti kalium permanganat dan hipoklorit, yang telah lama digunakan untuk menciptakan efek denim tertentu, secara bertahap dihilangkan.

    Sebagai gantinya digunakan alternatif yang lebih aman yang dapat memberikan hasil serupa dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

    Yang terpenting, air yang digunakan untuk mencuci jeans di berbagai titik dalam proses produksi diolah dan didaur ulang.

    Hal ini dan peningkatan teknologi lainnya dapat membantu mengurangi jumlah air yang digunakan dalam satu pasang jeans hingga 75 persen, kata Ben Miled. Hal ini sangat penting di negara yang rawan kekeringan berkepanjangan.

    Tetapi upaya untuk memproduksi jeans secara berkelanjutan bukan hanya ini, ada sejumlah langkah lain yang akan diulas di tulisan selanjutnya.

    Artikel ini diterjemahkan dari unep.org, baca artikel asli di sini.