Tag: gaza

  • Sejak Serangan Israel Oktober Tahun Lalu, Hampir 38 Ribu Warga Palestina Tewas

    Sejak Serangan Israel Oktober Tahun Lalu, Hampir 38 Ribu Warga Palestina Tewas

    7cloud.asia – Sedikitnya 60 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza, Rabu (25/6), sehingga menambah jumlah korban tewas di daerah kantung Palestina yang terkepung itu secara keseluruhan menjadi 37.718 orang sejak 7 Oktober 2023.

    Pernyataan dari Kementerian Kesehatan di Gaza itu menambahkan bahwa sekitar 86.377 orang lainnya terluka dalam serangan gencar tersebut.

    “Pasukan Israel membunuh 60 orang dan melukai 140 lainnya dalam empat pembantaian para keluarga dalam 24 jam terakhir,” kata kementerian itu.

    “Banyak orang masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” tambahnya.

    Mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza sejak serangan kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober 2023.

    Lebih dari delapan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade yang melumpuhkan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

    Keputusan terbaru ICJ memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasi militernya di kota selatan Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada 6 Mei.

    Sumber: Anadolu

  • Cegah Perang di Gaza Meluas, AS Desak Israel Kedepankan Diplomasi dengan Hizbullah

    Cegah Perang di Gaza Meluas, AS Desak Israel Kedepankan Diplomasi dengan Hizbullah

    7cloud.asia – Meningkatnya serangan di perbatasan Israel dan Lebanon turut meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.

    Sehari setelah Menlu AS Antony Blinken memperingatkan Israel agar tidak membiarkan konflik dengan Hamas di Gaza meluas, Menteri Pertahanan Yoav Gallant bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin di Washington pada hari Selasa (25/6/2024).

    Gallant melanjutkan pertemuannya di Washington bersama Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin di Pentagon, yang menyerukan solusi diplomatik.

    “Provokasi yang dilakukan Hizbullah mengancam akan menyeret rakyat Israel dan Lebanon ke dalam perang yang tidak mereka inginkan, dan perang tersebut akan menjadi bencana bagi Lebanon, dan akan sangat menghancurkan warga sipil Israel dan Lebanon yang tak berdosa,” ujar Austin.

    Baca: Serangan Israel ke Gaza tewaskan sekitar 38.000 warga Palestina

    Gallant mengatakan bahwa Israel berada di persimpangan jalan yang akan berdampak pada seluruh Timur Tengah.

    “Di utara, kami bertekad untuk membangun keamanan, mengubah realitas di lapangan dan membawa komunitas kami kembali ke rumah dengan selamat,” sebut Gallant.

    Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin (kanan) menyambut Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant di Pentagon, di pinggiran Washington DC, Selasa 25 Juni 2024.

    Israel sebelumnya menolak tuntutan Hamas, yang meminta agar gencatan senjata sementara berujung dengan diakhirinya perang yang telah berlangsung selama delapan bulan itu.

    Raphael Cohen, Direktur Program Strategi dan Doktrin di Proyek RAND Angkatan Udara, mengatakan kepada VOA bahwa GAllant adalah penghubung utama bagi Amerika Serikat untuk melanjutkan perundingan tersebut.

    Baca: AS dan Eropa ingatkan Israel, perang di Gaza bisa meluas

    Dia mengatakan, pemerintahan Biden secara umum melihat Menteri Pertahanan Gallant sebagai sekutu sejati dalam upaya ini. Gallant menawarkan rencana pascaperangnya sendiri bebera bulan yang lalu tetapi ditolak oleh pemerintahan Netanyahu.

    “Jadi, saya kira Menteri Austin dan Menteri Blinken percaya bahwa Gallant siap bekerja sama. Itu bisa menjadi perantara yang berguna dengan pemerintah Netanyahu,” jelas Cohen.

    Perang Israel dan Hamas dimulai pada 7 Oktober lalu, ketika Hamas melancarkan serangan mendadak ke Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 240 orang.

    Kementerian Kesehatan Gaza, yang tidak membedakan warga sipil dan kombatan, mengatakan lebih dari 37.000 warga Palestina telah tewas sejak awal pertempuran ini.

    Baca: Ketegangan Israel-Hizbullah bisa membuat perang di Gaza meluas

    Pada hari Selasa (25/6/202) di PBB, pejabat urusan kemanusiaan Yasmina Guerda memperingatkan bahwa situasi di Gaza sangat mengerikan.

    “Tak satu pun dari mereka memiliki kondisi kehidupan yang layak. Apa yang mereka miliki, jika Anda perhatikan dengan seksama, adalah kondisi bertahan hidup. Dan nyaris mustahil. Nasib mereka bagai telur di ujung tanduk,” tutur Guerda.

    Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, mengatakan bahwa banyak konvoi bantuan darat di Gaza tidak menjangkau warga sipil karena menjadi sasaran tindak kriminal.

    “Pekerjaan masih berlangsung. Situasinya masih sangat mengerikan. Kita perlu terus menyalurkan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke utara dan, tentu saja, mengatasi kemacetan – dan dalam beberapa kasus, memburuknya – situasi di selatan,” terang Miller pada hari Selasa (25/6)

    Miller mengatakan bahwa mengakhiri konflik adalah satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk mengakhiri penderitaan di Gaza.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Bantuan Kemanusiaan Makin Sulit Masuk, Gaza Terancam Bencana Kelaparan

    Bantuan Kemanusiaan Makin Sulit Masuk, Gaza Terancam Bencana Kelaparan

    7cloud.asia – Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengatakan bahwa pengiriman bantuan menjadi “semakin rumit” dan jumlah penyeberangan ke Gaza pun masih jauh dari yang dibutuhkan.

    Semakin maraknya penjarahan truk pengangkut bantuan ke Gaza juga menjadi salah satu faktor mengapa Lazzarini menyebut Gaza saat ini mengalami “kerusakan hukum dan ketertiban yang nyaris menyeluruh.”

    “Kami perlu pengiriman bantuan yang berkelanjutan, bermakna, dan tidak terputus di Jalur Gaza jika kita ingin membalikkan situasi kelaparan di sana,” jelas Lazzarini kepada wartawan di markas PBB Jenewa, Selasa (25/6/2024).

    Pengiriman bantuan melalui jalur udara ke Gaza juga masih dilakukan.

    Baca Juga: AS Desak Israel Lindungi Pekerja Kemanusiaan di Jalur Gaza

    Meski begitu, menurut laporan terbaru dari lembaga Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), hampir semua orang di Gaza berjuang untuk mendapat makanan yang cukup.

    Diperkirakan, lebih dari 495.000 orang, atau 1 dari 5 orang di Gaza, akan mengalami tingkat kelaparan tertinggi dalam beberapa bulan mendatang.

    “Selama saya berkarir, saya belum pernah melihat situasi di mana hampir 100% penduduknya menghadapi risiko kelaparan,” ujar Jeremy Konyndyk, Ketua Refugees Internasional dikutip VOA Indonesia.

    Para staf medis di Rumah Sakit Ahli Arab berduka di dekat jenazah rekan mereka yang dibungkus kafan yang terbunuh selama pemboman Israel di kamp pengungsi Shati, di lokasi rumah sakit di Kota Gaza (14/6/2024).

    Baca Juga: Ketegangan Israel dan Hizbullah Picu Kekhawatiran akan Meluasnya Perang Gaza

    “Saya kira apa yang benar-benar mengejutkan dari data IPC adalah bahwa semua upaya yang telah dilakukan, semua tekanan terhadap pemerintah Israel pada bulan Maret dan April, semua yang telah dicapai, hanyalah kembali meningkatkan risiko bencana kelaparan menjadi sangat tinggi,” pungkas Konyndyk.

    Konyndyk juga menyebut bahwa jika proses pengiriman bantuan kembali terganggu, seperti halnya yang terjadi selama operasi Rafah, maka “semua kemajuan itu, meski sedikit dan belum cukup, akan hilang lagi.”

    Setelah sempat terhenti atas dugaan adanya keterlibatan dengan Hamas, aliran bantuan dana untuk warga Palestina melalui UNRWA kembali dilanjutkan sebagian besar negara pendonor, dan sejumlah donor baru pun bermunculan.

    Lazzarini mengatakan bahwa pihaknya mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat. Namun semua ini tidak dapat mengimbangi penangguhan donor utama kami, Amerika Serikat.

    “Dan bahkan jika kami memiliki Amerika Serikat, kami pasti tidak akan berada dalam jalur yang berkelanjutan dalam hal pendanaan yang dapat diprediksi untuk lembaga ini,” ujar Lazzarini.

    Baca Juga: UNRWA Sebut Lebih dari 50 Ribu Anak di Jalur Gaza Kekurangan Gizi Akut

    Pada awal tahun ini, Israel menuduh belasan staf UNRWA ikut ambil bagian dalam serangan 7 Oktober yang berakibat penangguhan donor dari Amerika Serikat dan belasan negara lainnya.

    Semua negara, kecuali Amerika Serikat dan Inggris, kini telah melanjutkan kembali pendanaan mereka setelah dilakukan pemeriksaan independen terhadap UNRWA.

    Negara pendonor baru pun bermunculan seperti Algeria, Irak, Yordania dan Oman, ditambah donor individual dari Singapura.

    Perang antara Israel dan Hamas telah melumpuhkan hampir seluruh kapasitas Gaza untuk menghasilkan produk pangan mereka sendiri.

    Amerika Serikat telah menggalang dukungan internasional untuk proposal pembebasan sandera dan gencatan senjata permanen, namun baik Israel maupun Hamas belum sepenuhnya menerima proposal tersebut.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Israel Lancarkan Serangan Mematikan ke Khan Younis, Gaza Selatan

    Israel Lancarkan Serangan Mematikan ke Khan Younis, Gaza Selatan

    7cloud.asia – Pasukan Israel, Selasa (2/7/2024) melancarkan serangan ke bagian selatan Jalur Gaza. Para pejabat kesehatan Palestina mengatakan sedikitnya delapan orang tewas akibat serangan tersebut.

    Serangan Israel tersebut mencakup pengeboman terhadap kota Khan Younis. Sehari sebelumnya, Israel mengeluarkan perintah evakuasi terbaru terhadap warga sipil Palestina di sana.

    Militer Israel mengatakan saat melancarkan serangan udara pada malam sebelumnya di daerah Khan Younis, kelompok militan Hamas menembakkan 20 roket ke arah permukiman Israel.

    Pihak militer Israel mengatakan, Lebih banyak lagi serangan udara Israel yang menargetkan kota di bagian selatan Gaza, Rafah. Sementara pasukan darat Israel melancarkan operasi melawan Hamas di bagian tengah Gaza.

    Baca: Bantuan kemanusiaan makin sulit masuk Gaza

    Stephane Dujarric, juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, pada hari Senin (1/7/2024) mengatakan kepada wartawan bahwa perintah evakuasi Israel terhadap Khan Younis menunjukkan “bahwa tidak ada tempat yang aman di Gaza.

    Dujarric menekankan bahwa seharusnya dilakukan lebih banyak lagi upaya untuk melindungi warga sipil.”

    Israel telah berulang kali memberitahu warga Palestina untuk meninggalkan daerah-daerah tertentu di Gaza, biasanya menjelang ofensif.

    Langkah ini, menurut Israel, dimaksudkan untuk melindungi warga sipil dari perang. Perintah evakuasi semacam itu – dan pertempuran – telah membuat orang-orang harus mengungsi berkali-kali untuk mencari perlindungan.

    “Ini perhentian lainnya dari siklus mematikan yang dialami penduduk Gaza secara rutin,” kata Dujarric. “Inilah alasan mengapa kita perlu mengakhiri konflik ini.”

    Baca: AS desak Israel lindungi pekerja kemanusiaan di Gaza

    Seorang warga yang tinggal di zona target evakuasi, mengatakan “ketakutan dan kecemasan ekstrem telah mencengkeram orang-orang setelah perintah evakuasi.”

    Ia mengamati bahwa telah terjadi “pengungsian warga secara besar-besaran” di Gaza selatan.

    Perang Israel-Hamas di Gaza berawal ketika kelompok militan Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang, kebanyakan warga sipil.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan hingga hari Selasa ini hampir 38 ribu warga Palestina di wilayah kantong itu tewas.

    Sebagian besar wilayah Gaza telah luluh lantak akibat perang Israel-Hamas, dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

    Sumber:VOAIndonesia

  • UNRWA: Anak-anak Gaza Habiskan 8 Jam Sehari untuk Mendapatkan Makanan

    UNRWA: Anak-anak Gaza Habiskan 8 Jam Sehari untuk Mendapatkan Makanan

    7cloud.asia – Agresi berkelanjutan Israel di Jalur Gaza, mengakibatkan penderitaan tak terperi pada anak-anak di wilayah konflik itu.

    Menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina (UNRWA), anak-anak di Gaza menghabiskan waktu hingga 8 jam sehari hanya untuk mendapatkan makanan dan air bersih.

    “Anak-anak di Gaza bisa menghabiskan 6—8 jam sehari mengumpulkan air dan makanan, bahkan mereka harus membawa beban berat dan berjalan jauh,” demikian UNRWA dalam pernyataannya di media sosial, Sabtu (6/7/2024).

    “Fasilitas sanitasi dan infrastruktur rusak parah, sehingga memaksa ribuan keluarga mengandalkan air laut untuk mencuci, mandi, dan bahkan minum,” kata badan PBB tersebut.

    Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Makin Sulit Masuk, Gaza Terancam Bencana Kelaparan

    Israel tak kunjung menghentikan penyerbuan ke Jalur Gaza meski Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Israel, melalui putusannya yang bersifat mengikat, untuk menghentikan serangan di Rafah yang diduga melanggar Konvensi Genosida.

    Serangan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan setidaknya 38.089 warga Palestina dan melukai lebih dari 87.705 lainnya.

    Selain itu, setidaknya 10 ribu orang masih belum diketahui nasibnya dan diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur akibat bom Israel.

    Organisasi internasional dan Palestina turut menyebut bahwa sebagian besar korban yang tewas dan cedera adalah wanita dan anak-anak.

    Baca Juga: AS Desak Israel Lindungi Pekerja Kemanusiaan di Jalur Gaza

    Agresi Israel juga menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza hancur dan hampir dua juta warga Palestina terusir dari tempat tinggalnya. 

    Agresi Israel juga menyebabkan eksodus pengungsi Palestina terbesar sejak tragedi Nakba pada 1948.

    Sebagian besar dari mereka terpaksa mengungsi di kota Rafah yang berbatasan dengan Mesir.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA-OANA

  • Rumah Sakit Indonesia Jadi Tumpuan Usai Fasilitas Medis Utama di Gaza Ditutup

    Rumah Sakit Indonesia Jadi Tumpuan Usai Fasilitas Medis Utama di Gaza Ditutup

    7cloud.asia – Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara telah berubah menjadi fasilitas medis fungsional utama di bagian utara wilayah kantong Palestina tersebut.

    Sementara militer Israel melancarkan serangan jauh ke dalam Kota Gaza dan memaksa ditutupnya banyak rumah sakit dan klinik di Gaza Utara.

    Dilansir VOA Indonesia, puluhan pasien dirawat di rumah sakit tersebut setelah fasilitas medis utama di Kota Gaza ditutup, kata direktur rumah sakit Marawan al-Sultan, Selasa (9/7/2024).

    “Situasinya sangat buruk dan bukan pertanda baik,” cetusnya.

    Baca: Unjukrasa besar-besaran di Israel tandai 9 bulan perang Gaza

    Ia menambahkan bahwa pasien berisiko bertambah parah karena langkanya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan generator listrik.

    Dia mengatakan rumah sakit tersebut menerima 80 pasien dan mereka yang luka-luka dari rumah sakit al-Ahly di bagian timur Kota Gaza yang ditutup di tengah pertempuran sengit antara Israel dan militan Palestina.

    Pasukan Israel kembali memerangi militan di wilayah yang menurut tentara sebagian besar telah dibersihkan beberapa bulan lalu di Gaza utara.

    Militer Israel memerintahkan evakuasi sebelum serangan-serangan itu, namun warga Palestina mengatakan tidak ada tempat yang aman.

    Baca: Perang sengsarakan jutaan anak Palestina

    Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, Perang Israel-Hamas telah menewaskan lebih dari 38.000 orang dan melukai puluhan ribu lainnya.

    Perang juga mengakibatkan jutaan warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tinggal di tempat pengungsian.

    Perang dipicu serangan lintas batas Hamas pada 7 Oktober menewaskan 1.200 orang di Israel selatan, sebagian besar adalah warga sipil.

  • UNRWA: 453 Serangan Israel Menyasar Fasilitas Kemanusiaan Milik UNRWA

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Rabu (10/7/2024) mengatakan bahwa fasilitas mereka di Gaza telah menjadi sasaran 453 serangan Israel sejak 7 Oktober 2023.

    “Dua pertiga dari sekolah kami di Gaza diserang dan 524 orang yang mengungsi di fasilitas kami terbunuh,” ungkap UNRWA melalui sebuah pernyataan.

    Komisaris Jenderal UNRWA, Filippo Lazzarini, menyerukan gencatan senjata segera “sebelum kami kehilangan apa yang tersisa dari rasa kemanusiaan kami”.

    “Sekolah sudah berubah dari tempat yang aman untuk pendidikan dan harapan bagi anak-anak, menjadi pengungsian yang penuh sesak, yang seringkali berujung menjadi tempat kematian dan penderitaan,” katanya.

    Baca: Perjuangan anak-anak Gaza agar tak kelaparan

    Lazzarini mengatakan empat sekolah yang dikelola PBB digempur dalam empat hari terakhir.

    “Sembilan bulan lamanya, berdasarkan pengawasan kami, pembunuhan, kehancuran, dan keputusasaan yang tanpa henti masih terjadi. Gaza bukan tempat bagi anak-anak,” katanya.

    Pada Selasa (9/7) sedikitnya 25 orang tewas dan 53 orang lainnya terluka dalam serangan Israel terhadap salah satu sekolah yang menampung para pengungsi di Kota Abasan, sebelah timur Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

    Serangan itu menyusul sedikitnya 16 korban tewas dan puluhan korban luka saat Israel melancarkan aksi serupa di sebuah sekolah di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah pada 6 Juli 2024.

    Baca: 80 Persen warga Gaza kehilangan tempat tinggal akibat perang

    Israel, yang mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal ke Gaza.

    Agresi militer Israel masih berlangsung di Gaza sejak kelompok perjuangan Palestina Hamas meluncurkan serangan pada 7 Oktober.

    Hampir 38.300 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, terbunuh, dan lebih dari 88.200 orang lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Memasuki bulan kesembilan perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza luluh lantak akibat pengepungan terhadap akses makanan, air bersih serta obat-obatan yang melumpuhkan.

    Baca: Rumah Sakit Indonesia jadi tumpuan utama warga Gaza

    Israel dituding melakukan genosida dalam kasus yang dilayangkan di Mahkamah Internasional (ICJ), yang keputusan terbarunya memerintahkan Israel untuk segera menghentikan operasi militer di Kota Rafah.

    Di Rafah inilah, lebih dari satu juta warga Palestina berlindung dari perang sebelum kota itu diserbu pada 6 Mei 2024 lalu.

    Sumber: Anadolu/Antaranews.com

  • UNRWA: Jika Serangan Israel Berlanjut, Gaza Berpotensi Kehilangan Seluruh Generasi Anak-anak

    UNRWA: Jika Serangan Israel Berlanjut, Gaza Berpotensi Kehilangan Seluruh Generasi Anak-anak

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) mengatakan bahwa Jalur Gaza berpotensi besar kehilangan seluruh generasi anak-anak.

    Hal ini akibat agresi Israel yang hingga kini masih berlangsung di wilayah tersebut sejak 7 Oktober 2023.

    Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma, melalui unggahan di X menjelaskan lebih dari 600.000 anak di Gaza belum dapat bersekolah sejak perang Israel berlangsung pada Oktober.

    Baca: Lebih dari 50 ribu anak kekurangan gizi akut

    Touma juga merujuk pada penutupan sejumlah besar sekolah dan berubahnya sekolah UNRWA menjadi penampungan bagi pengungsi internal.

    “Ini artinya bahwa jika perang ini terus berlanjut, kami bakal kehilangan seluruh generasi anak-anak,” tulisnya di X.

    Pejabat UNRWA itu juga menyerukan agar segera dilakukan gencatan senjata demi anak-anak di Gaza.

    Baca: Sebanyak 453 serangan Israel sasar UNRWA

    Sebelumnya, UNRWA mengatakan bahwa fasilitas mereka di Gaza telah menjadi sasaran 453 serangan Israel sejak 7 Oktober 2023.

    “Dua pertiga dari sekolah kami di Gaza diserang dan 524 orang yang mengungsi di fasilitas kami terbunuh,” ungkap UNRWA melalui sebuah pernyataan.

    Komisaris Jenderal UNRWA, Filippo Lazzarini, menyerukan gencatan senjata segera “sebelum kami kehilangan apa yang tersisa dari rasa kemanusiaan kami”.

    “Sekolah sudah berubah dari tempat yang aman untuk pendidikan dan harapan bagi anak-anak, menjadi pengungsian yang penuh sesak, yang seringkali berujung menjadi tempat kematian dan penderitaan,” katanya.

    Sumber: WAFA

  • Indonesia Kutuk Serangan Israel ke Kamp Pengungsi di Al Mawasi

    Indonesia Kutuk Serangan Israel ke Kamp Pengungsi di Al Mawasi

    7cloud.asia – Sejumlah negara mengutuk serangan Israel ke kamp pengungsi di Al-Mawasi, Khan Younis, Gaza Selatan pada Sabtu (13/07/2024) lalu. Termasuk Indonesia.

    Melansir Antaranews, pemerintah Indonesia melalui Kemlu RI mengutuk keras mengutuk keras kebiadaban dan pembantaian Israel yang tak kunjung henti terhadap rakyat Palestina.

    “Serangan tersebut semakin menunjukkan terus berlangsungnya berbagai pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Israel,” demikian pernyataan Kemlu RI, Minggu (14/07/2024).

    Karena itu, Indonesia mendesak masyarakat internasional mengambil langkah nyata untuk memastikan Israel bertanggung jawab atas semua tindakannya terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.

    Baca: Gaza berpotensi kehilangan seluruh generasi anak-anak

    Selain itu, Indonesia juga menegaskan bahwa hukum internasional adalah berlaku untuk semua negara tanpa kecuali.

    Sebelumnya pemerintah Malaysia juga mengutuk keras serangan Israel tersebut. Hal ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) dalam keterangan persnya.

    Dia menyebut serangan yang keji dan tidak berperikemanusiaan itu terjadi di zona “aman” yang telah ditetapkan oleh Israel sendiri untuk rakyat Palestina.

    Serangan tersebut jelas merupakan suatu pengabaian dan tindakan tidak menghormati nyawa manusia serta bertentangan dengan hukum kemanusiaan internasional, hak asasi manusia, dan hukum internasional. 

    Baca: Israel melancarkan serangan di Khan Younis

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, serangan Israel ke kamp pengungsi di daerah Al-Mawasi, Gaza selatan pada Sabtu lalu telah menewaskan sedikitnya 90 warga Palestina tewas dan 300 lainnya terluka.

    Otoritas media Gaza menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan “pembantaian parah” yang dilakukan Israel. Terlebih, Israel sendiri yang menyatakan Al-Mawasi sebagai salah satu “zona aman”.

    Dalam serangan tersebut, Otoritas Palestina (PA) menuding Amerika Serikat turut bertanggung jawab. PA mendesak komunitas internasional bertindak selekas mungkin dalam menghentikan kekejaman Israel.

    Baca: Sejak Oktober 2023, Israel bantai hampir 38 ribu warga Palestina

    “Amerika Serikat terus melanggar resolusi internasional dengan terus memberikan dukungan keuangan dan militer atas penjajahan (Israel), yang terus melakukan pembantaian berdarah terhadap rakyat kami setiap harinya,” kata juru bicara kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh.

    Serangan Israel ke Jalur Gaza, yang terus berlangsung sejak 7 Oktober 2023, menyebabkan lebih dari 38.300 warga Palestina, yang sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak, meninggal serta lebih dari 88 ribu lainnya terluka.

    Berbagai negara mengecam serangan tersebut dan Resolusi DK PBB telah menginstruksikan gencatan senjata segera.Namun, Israel tetap melancarkan serangan di Jalur Gaza hingga kini.

  • Rusia Sebut Serangan Israel di Jalur Gaza sebagai Hukuman Kolektif

    Rusia Sebut Serangan Israel di Jalur Gaza sebagai Hukuman Kolektif

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyebut perang Israel di Jalur Gaza sama saja dengan melakukan hukuman kolektif.

    Sebab jumlah korban tewas di daerah kantong pesisir yang terkepung itu telah mendekati 40.000 orang.

    Berbicara kepada wartawan di markas besar PBB di New York, Rabu (17/7), Lavrov mengutuk serangan lintas batas yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.

    Dia menyatakan bahwa Rusia telah secara konsisten melakukan hal tersebut sejak serangan itu terjadi.

    Namun, dia menegaskan bahwa perang balasan Israel telah melewati batas dan sekarang menjadi bentuk hukuman kolektif terhadap 2,3 juta warga Palestina di wilayah tersebut.

    Baca: Jalur Gaza berpotensi kehilangan seluruh generasi anak-anak

    “Jika menyangkut hukuman kolektif yang melanggar hukum humaniter internasional, seseorang tidak bisa melawan satu bentuk pelanggaran melalui pelanggaran lainnya. Prinsipnya sama di sini,” katanya.

    Hizbullah, kelompok paramiliter dan politik Lebanon, telah terlibat dalam serangkaian serangan lintas batas yang meningkat selama berbulan-bulan dengan Israel dalam upaya untuk meningkatkan tekanan pada Tel Aviv agar menyetujui gencatan senjata.

    Lavrov mengatakan kelompok itu sangat menahan diri dalam tindakannya, tetapi ada upaya di Israel untuk memprovokasi mereka agar terlibat konflik secara penuh.

    Rusia, sebutnya, melakukan segala kemungkinan untuk meredakan ketegangan.

    “Baik Hizbullah, pemerintah Lebanon, maupun Iran tidak menginginkan perang besar-besaran dan karena adanya kecurigaan bahwa beberapa kalangan di Israel sedang berusaha mencapai hal tersebut, untuk memprovokasi perang besar-besaran, mencoba melibatkan AS, mencoba untuk mengambil keputusan,” ujarnta.

    Baca: Sejak Oktober 2023, serangan Israel bunuh hampir 38 ribu warga Palestina

    Dia menilai sangat buruk jika ada kelompok yang berusaha mendahulukan kepentingan pribadinya dibandingkan kepentingan bangsanya sendiri.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional yang keputusan terbarunya memerintahkan Israel untuk segera menghentikan operasi militer di kota selatan Rafah.

    Di tempat inilah lebih dari 1 juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum negara itu diinvasi pada 6 Mei.

    Tidak terpengaruh, Israel terus melanjutkan serangannya terhadap kota yang menjadi pilihan terakhir bagi banyak pengungsi yang diperintahkan oleh Israel untuk pergi ke kota tenda yang luas di dekat pantai.

    Namun Israel telah berulang kali mengebom zona aman al-Mawasi yang menyebabkan puluhan warga sipil tewas.

    Sumber : Anadolu