Tag: sampah

  • World Cleanup Day: Luna Maya Mengungkap Kegelisahannya Soal Pengelolaan Sampah di Indonesia

    World Cleanup Day: Luna Maya Mengungkap Kegelisahannya Soal Pengelolaan Sampah di Indonesia

    7cloud.asia – Luna Maya mengaku punya kegelisahan soal pengelolaan sampah di Indonesia yang dirasa kurang maksimal.

    Hal itu diungkapkan Luna Maya saat berbicara di puncak acara World Cleanup Day, di Jakarta Minggu (22/9/2024).

    Luna Maya melihat, masih banyak masyarakat yang sembarangan membuah sampah sehingga membuat lingkungan tidak bersih. Dan, lebih parah bisa mencemari rantai makanan manusia.

    Luna Maya mengaku lebih memerhatikan lingkungan saat berjalan-jalan ke Jepang bertahun lalu. Ia kagum dengan kesadaran warga Jepang dalam menjaga kebersihan dan sangat disiplin dalam membuang sampah.

    Baca: Cara Cinta Laura untuk lebih peduli lingkungan

    Lantas, bagaimana Luna Maya melihat pengelolaan sampah di Indonesia? Menurutnya, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah.

    Pemerintah, ujarnya, sudah berusaha untuk melakukan banyak perubahan dengan berbagai berbagai kebijakan.

    ”Tetapi jika masyarakat tidak mendukung kebijakan pemerintah, ya percuma. Kita adalah pelaku yang menentukan sampah-sampah ini nanti kemana,” ungkapnya.

    Luna menambahkan, peranan paling penting ada dua sisi juga pemerintah untuk regulasi dan masyarakat untuk pelakunya nanti. Jadi, butuh kesadaran untuk kedua belah pihak.

    Baca: Nicholas Saputra bijak mengonsumsi karena peduli lingkungan

    Dalam kesempatan itu, Luna Maya mengajak ratusan relawan World Cleanup Day yang hadir di acara itu untuk membuat lingkungan menjadi sehat. 

    Apalagi, jika mereka ingin menua di lingkungan yang bersih dan sehat maka mulai sekarang harus bijak mengelola sampah.

    Luna Maya mengingatkan bahwa isu sampah adalah urusan bersama, termasuk kita sebagai masyarakat biasa.

    “Karena saya ingin tumbuh dan tua di tempat yang nyaman, maka dari itu saya ingin bisa ikut mendukung terciptanya ekosistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan lebih sehat di Indonesia,” tandas Luna Maya.

     

  • Sejarah Lahirnya World Cleanup Day dan Mengapa Gerakan Ini Harus Terus Ada

    Sejarah Lahirnya World Cleanup Day dan Mengapa Gerakan Ini Harus Terus Ada

    7cloud.asia – Ratusan relawan yang rata-rata masih remaja ikut meramaikan penyelenggaraan puncak World Cleanup Day di Tugu Sepeda, Jakarta Minggu (22/9/2024)

    Mereka datang dari berbagai sudut Jakarta dan sekitarnya. Ada Kevin, siswa kelas 9 yang jauh-jauh datang dari Bekasi untuk ikut meramaikan World Cleanup Day 2024 ini.

    Juga Andini yang datang bersama belasan temannya dari SMK Said Naum Jakarta Pusat. Juga Dito, mahasiswa yang datang dari Kayu Putih, Jakarta Pusat.

    Ketika ditanya apa yang membuat mereka rela bangun pagi demi acara World Cleanup Day ini, jawaban mereka seragam yakni ingin turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

    Di benak ketiganya, tidak sembarangan membuang sampah adalah langkah awal dalam menjaga lingkungan, selain dengan memelihara tanaman. Namun, saat ditanya soal perubahan iklim, ketiganya mengaku tidak terlalu paham.

    Hal ini juga diakui leader World Cleanup Day Indonesia, Andy Bahari yang mengatakan perubahan menuju Indonesia bersih dan bebas dari sampah memerlukan kerja sama antar semua pihak.

    “Melakukan perubahan tidak bisa instant, awal mula aku ikut world cleanup tahun pertama dan tahun kedua itu susah banget. Orang masih belum sadar dan ini menurut aku baru mulai kelihatan peduli dengan sampah,“ ujarnya.

    Baca: Luna Maya ajak relawan World Cleanup Day sebarkan virus peduli lingkungan

    World Cleanup Day adalah gerakan sosial di dunia yang menggerakkan masyarakat di beberapa negara untuk bersama-sama membersihkan lingkungan di sekitarnya. Aksi ini biasa dihelat setiap tanggal 20 September serentak di 180 negara.

    Gerakan World Cleanup Day berada di bawah naungan Yayasan Let’s Do It World (LDIW), yang bertujuan untuk menyatukan komunitas global dan meningkatkan kesadaran guna melakukan perubahan dalam mewujudkan aksi untuk bumi yang bersih dan sehat.

    Kegiatan bersih-bersih pertama kali dilakukan pada tahun 2008 di Republik Estonia, Eropa Utara; dan berhasil mengumpulkan 50.000 orang untuk membersihkan seluruh negara dalam waktu lima jam.

    Melihat kesuksesan ini, pada tahun 2011 Yayasan LDIW didirikan untuk menyebarkan dan menerapkan pola kegiatan bersih-bersih di suatu negara dalam satu hari, yang serentak dilakukan di seluruh dunia.

    Saat ini Yayasan LDIW sedang berfokus pada rencana besar menuju dunia bebas sampah, dengan meluncurkan program Keep It Clean, yang mengacu pada prinsip Circular Economy, dengan melakukan tiga kegiatan utama.

    Baca: Keriaan World Cleanup Day 2024 di Jakata

    Pertama, edukasi untuk pembangunan yang berkelanjutan – memberikan edukasi di beberapa sektor yang bertujuan untuk menggiring perubahan sikap.

    Kedua, bekerjasama dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memfasilitasi proses untuk mengadopsi dan menjalankan sistem Manajemen Sumber Daya yang berkelanjutan dan mengedepankan lingkungan.

    Peningkatan kesadaran melalui kegiatan sipil besar-besar seperti World Cleanup Day, pemetaan limbah, dan sebagainya.

    World Cleanup Day Indonesia (WCD Indonesia) diperkenalkan oleh Let’s Do It Indonesia yang merupakan organisasi di bawah jaringan Let’s Do It World sejak tahun 2014.

    Aksi cleanup pertama di Indonesia mulai dilakukan pada tahun 2018, kedua pada tahun 2019 dan ketiga pada tahun 2020. Indonesia menorehkan sejarah dengan menjadi negara pemimpin cleanup terbesar di dunia tiga tahun berturut-turut.

    Kegiatan World Cleanup Day biasanya digelar setahun sekali dilakukan satu hari serempak di sejumlah kota. Namun, tidak jarang relawan World Cleanup Day di Jakarta juga melakukan pluging atau memunguti sampah di sela CFD.

    Baca: Cara mudah menghentikan penggunaan plastik sekali pakai

    Dikarenakan adanya pandemi maka untuk tahun 2020, kegiatan aksi cleanup dan pilah sampah di Indonesia dilakukan selama 7 hari berturut-turut yang ditutup pada puncak 19 September 2020.

    Lima tahun belakangan, Indonesia mulai aktif bergabung dan berkontribusi dalam gerakan WCD, dan menarik sejumlah relawan untuk bergabung serta melakukan kegiatan bersih-bersih di beberapa daerah di Indonesia.

    Tahun ini World Cleanup Day Indonesia sukses menggerakkan 13 juta relawan untuk melakukan aksi bersih-bersih di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia setelah China. Di sisi lain, belum ada upaya serius dari pemerintah untuk mengurangi produksi sampah.

    Karena itu aksi bersih-bersih dan edukasi untuk lebih bertanggung jawab mengelola sampah seperti yang dilakukan World Cleanup Day ini sangat bermanfaat.

    “Dengan membangun kesadaran mulai sekarang, siapa tahu lima hingga 20 tahun ke depan, kita akan memetik hasilnya,“ ujar Andy Bahari.

  • Tekan Produksi Sampah, Pemkot Jakarta Pusat Dorong Warga Memilah Sampah Rumah Tangga

    Tekan Produksi Sampah, Pemkot Jakarta Pusat Dorong Warga Memilah Sampah Rumah Tangga

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Pusat berupaya menekan produksi sampah dari sumbernya mulai di rumah tangga, sekolah, rumah ibadah, maupun ruang terbuka.

    Langkah ini sebagai upaya Pemkot Jakarta Pusat meraih Adipura di tahun 2024, khususnya untuk kategori Kencana (tingkat kabupaten/ kota).

    Pada 2023 lalu Jakarta Pusat juga menerima penghargaan Adipura dengan kategori Metropolitan. Penghargaan untuk kebersihan itu telah diraih dua tahun berturut-turut sejak tahun 2022.

    “Masih ada waktu, saya meminta untuk mengoptimalkan di lapangan seperti memilah sampah dan pembuatan kompos yang menjadi poin penting menghadapi Adipura,” kata Wali Kota Jakarta Pusat Dhany Sukma di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2024).

    Baca: Jumlah rumah yang memilah sampah di Jakarta Pusat terus meningkat

    Dhany meminta seluruh jajaran kelurahan dan kecamatan di wilayahnya agar dapat mengoptimalkan kebersihan dan menekan sampah dari sumbernya dengan cara memilah sampah.

    “Kita harus dapat menekan sumber sampah seperti, di sekolah-sekolah, tempat ibadah, kemudian di ruang terbuka yang harus kita perhatikan,” ucap Dhany.

    Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Pusat Slamet Riyadi mengatakan penguatan signifikan perlu dilakukan mulai dari penanganan sampah rumah tangga.

    Volume sampah di Jakarta Pusat saat ini berkisar 900 hingga 1.000 ton per hari. Dari total jumlah itu, sekitar 51 persen di antaranya merupakan sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Slamet berharap jajaran kelurahan dan RT/RW bisa mendukung dan memastikan upaya pengelolaan sampah dari hulu.

    Pihaknya juga terus mendorong peningkatan partisipasi warga memilah sampah dari rumah agar bisa mengurangi produksi sampah yang harus dibuang ke Bantar Gebang.

    Apalagi, pengelolaan sampah dari hulu dimulai dari aktivitas warga memilah sampah organik, anorganik dan sampah beracun atau berbahaya (B3) rumah tangga dari rumah mereka.

    “Pemilahan sampah dari rumah tangga itu nantinya akan berlanjut oleh penanganan di bidang pengelolaan sampah (BPS) RW untuk melakukan pengelolaan sampah,” kata Slamet.

    Sumber:Antaranews.com

  • KLHK Targetkan Emisi Nol dari Sektor Sampah pada 2050

    KLHK Targetkan Emisi Nol dari Sektor Sampah pada 2050

    7cloud.asia – Pemerintah menargetkan sub-sektor limbah padat domestik atau sampah mencapai kondisi emisi nol atau net zero emission pada 2050, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    “Pasca-2030, 2050 kita ingin mewujudkan dalam sektor limbah padat domestik, sampah ini juga emisi nol ke depan,” ujar Direktur Penanganan Sampah KLHK Novrizal Tahar dalam diskusi di Jakarta, Juni lalu.

    Dia menjelaskan bahwa isu sampah dan limbah memiliki korelasi erat dengan penanganan perubahan iklim, terutama untuk menekan emisi salah satu gas rumah kaca (GRK) jenis metana.

    Emisi metana yang lebih berbahaya dibanding karbondioksida ini dihasilkan dari kurang maksimalnya pengelolaan sampah organik.

    Baca: KLHK optimistis capai emisi nol pada 2057

    “Di sektor waste Indonesia menetapkan target menurunkan 40 juta ton CO2 ekuivalen tahun 2030 dengan kemampuan sendiri, jadi kalau ada bantuan luar negeri dan lain sebagainya lebih dari itu,” tambah Novrizal.

    Sektor limbah ditargetkan menyumbang pengurangan emisi 1,4 persen dengan usaha sendiri dan 1,5 persen dengan bantuan internasional.

    Sementara target keseluruhan penurunan emisi adalah 31,89 persen dengan usaha sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan komunitas internasional.

    Untuk mencapai target pengurangan emisi di sektor limbah, jelasnya, maka pemerintah fokus dalam penanganan empat sub-sektor yaitu limbah padat domestik, limbah cair domestik, limbah cair industri dan limbah padat industri.

    Baca: Riset membuktikan hanya 63 kebijakan yang sukses turunkan emisi

    Novrizal mengatakan, pemerintah menyiapkan beberapa skenario untuk menekan emisi pada 2030 dan mencapai emisi nol pada 2060 atau lebih cepat untuk sektor limbah, bersama juga sektor kehutanan, energi, industri dan pertanian.

    Skenario yang disiapkan termasuk menekan jumlah tempat pembuangan akhir (TPA) yang tidak terkelola, karena menjadi salah satu sumber utama emisi gas metana dari dekomposisi sampah organik.

    Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, total timbulan sampah pada 2023 mencapai 24 juta ton per tahun, dengan 33,71 persen di antaranya tidak terkelola.

    Dari jumlah itu, sampah sisa makanan yang masuk dalam jenis organik mendominasi komposisi sampah dengan persentase 41,7 persen.

    Sumber:Antaranews.com

  • Serius Implementasikan Peta Jalan Pengurangan Sampah, 20 Produsen Terima Tanda Apresiasi dari KLHK

    Serius Implementasikan Peta Jalan Pengurangan Sampah, 20 Produsen Terima Tanda Apresiasi dari KLHK

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan tanda apresiasi kepada 20 produsen yang dinilai serius mengurangi sampah yang diproduksinya.

    KLHK mencatat, sebanyak 20 produsen ini telah mengimplementasikan peta jalan pengurangan sampah dan ikut mendukung pencapaian target pengelolaan sampah Indonesia.

    Tanda apresiasi dari KLHK ini diberikan dalam acara Apresiasi Pelaksanaan Peta Jalan Pengurangan Sampah Oleh Produsen yang diadakan di Jakarta, Senin (7/10/2024).

    Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati menyebut penghargaan tersebut sebagai salah satu upaya mendorong implementasi Peraturan Menteri LHK Nomor P.75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

    “Hari ini kita sama-sama bertemu dan kemudian kita khususkan hari ini untuk para penanggung jawab pelaku usaha yang membuat, mendistribusikan dan menjual barang dan atau barang dengan kemasan dalam pengelolaan sampah. Khususnya bagaimana bapak ibu sekalian produsen itu bisa mengurangi sampah,” katanya.

    Baca: KLHK targetkan emisi nol di sektor sampah pada 2050

    Dia mengingatkan bahwa dalam aturan tersebut, produsen diminta untuk melakukan kegiatan pengurangan sampah yang berasal dari produk atau kemasan yang mereka hasilkan untuk mencapai target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen.

    Aturan itu sendiri menyasar mereka yang bergerak di sektor manufaktur, jasa makanan dan minuman serta ritel.

    Vivien menjelaskan dari 556 produsen yang telah diberikan diseminasi dan bimbingan teknis oleh KLHK sampai dengan Agustus 2024, 95 produsen yang sudah memiliki akun untuk menyusun peta jalan pengurangan sampah.

    Dari jumlah itu, 52 di antaranya sudah mengirimkan dokumen peta jalan tapi belum mendapatkan persetujuan dan 21 produsen sudah menerima persetujuan serta siap melaksanakan.

    Baca: KLHK ajak masyarakat dan produsen terapkan sistem guna ulang

    Sementara itu, 20 produsen sudah melaksanakan peta jalan pengurangan sampah yang 18 di antaranya berasal dari bidang usaha manufaktur dan sisanya retail.

    Menurut Vivien, hingga saat ini belum ada produsen bidang jasa makanan dan minuman yang menyusun dan mengirimkan dokumen.

    Vivien menambahkan, pihaknya secara serius sedang melakukan kajian diskusi, konsultasi, dengar pendapat untuk bisa bersama-sama para produsen bisa bersama bergandengan tangan untuk menyelesaikan persoalan timbulan sampah ini.

    “Kita mau sama-sama bahwa persoalan sampah tidak hanya diselesaikan oleh pemerintah, pemerintah daerah kemudian individu,” demikian Rosa Vivien Ratnawati.

    Sumber:Antaranews.com

  • UNEP: Penerapan Ekonomi Sirkular Hasilkan Keuntungan Bersih hingga 108,5 Miliar Dolar per Tahun

    UNEP: Penerapan Ekonomi Sirkular Hasilkan Keuntungan Bersih hingga 108,5 Miliar Dolar per Tahun

    7cloud.asia – Dengan jumlah sampah kota yang diperkirakan akan meningkat hingga dua pertiga dan biayanya akan meningkat hampir dua kali lipat dalam satu generasi, butuh pengurangan drastis timbulan sampah guna menjamin masa depan yang layak untuk ditinggali dan terjangkau.

    Demikian hasil laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) yang diluncurkan pada sesi keenam Majelis Lingkungan Hidup PBB (UNEA-6), pada akhir Februari 2024 di kantor pusat UNEP di Nairobi, Kenya.

    Berjudul “Melampaui Usia Sampah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya,” UNEP Global Waste Management Outlook 2024 (GWMO 2024) memberikan pembaruan paling substansial mengenai timbulan sampah global dan biaya sampah serta pengelolaannya sejak tahun 2018.

    Analisis ini menggunakan penilaian siklus untuk mengeksplorasi keuntungan atau kerugian yang dapat diperoleh dunia dengan tiga skenario berbeda,

    Tiga skenario itu adalah melanjutkan bisnis seperti biasa, mengambil tindakan setengah-setengah, atau berkomitmen penuh terhadap masyarakat nihil sampah dan ekonomi sirkular.

    Menurut laporan tersebut, timbulan sampah padat perkotaan diperkirakan akan meningkat dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

    Pada tahun 2020, biaya langsung global dari pengelolaan sampah diperkirakan mencapai 252 miliar dolar.

    Namun, jika memperhitungkan biaya tersembunyi berupa polusi, kesehatan yang buruk, dan perubahan iklim akibat praktik pembuangan limbah yang buruk, biayanya meningkat menjadi 361 miliar dolar.

    Tanpa tindakan segera dalam pengelolaan sampah, pada tahun 2050 biaya tahunan global ini bisa mencapai dua kali lipat hingga mencapai 640,3 miliar dolar.

    “Timbulnya sampah secara intrinsik terkait dengan PDB, dan banyak negara dengan pertumbuhan pesat mengalami kesulitan menghadapi beban pertumbuhan sampah yang pesat,“ ujar Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen,

    Laporan itu mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti menuju masa depan yang lebih berwawasan luas dan menekankan peran penting para pengambil keputusan di sektor publik dan swasta untuk bergerak menuju zero waste.

    ”Global Waste Management Outlook ini dapat mendukung upaya pemerintah dalam mencegah hilangnya peluang untuk menciptakan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan untuk mengamankan planet yang layak huni untuk generasi mendatang,” imbuh Inge.

    GWMO 2024 merupakan panduan dan seruan aksi untuk mengkatalisasi upaya kolektif guna mendukung solusi yang berani dan transformatif, membalikkan dampak buruk dari praktik pengelolaan limbah saat ini, dan memberikan manfaat nyata bagi setiap individu yang hidup di planet ini.

    Presiden ISWA, Carlos Silva Filho mengatakan, Sebagai mitra dan pendukung GWMO sejak awal, ISWA akan memastikan bahwa GWMO kini disebarluaskan dan diterapkan di lapangan dengan memberikan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan yang da.

    Pemodelan yang dibuat dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian sampah melalui tindakan pencegahan dan pengelolaan sampah dapat membatasi biaya tahunan bersih pada tahun 2050 menjadi 270,2 miliar dolar.

    Namun, proyeksi menunjukkan bahwa model ekonomi sirkular, di mana timbulan sampah dan pertumbuhan ekonomi dipisahkan dengan penerapan penghindaran sampah, praktik bisnis berkelanjutan, dan pengelolaan sampah secara menyeluruh, ternyata dapat menghasilkan keuntungan bersih hingga 108,5 miliar dolar per tahun.

    “Temuan-temuan dalam laporan ini menunjukkan bahwa dunia perlu segera beralih ke pendekatan nihil limbah, sekaligus meningkatkan pengelolaan limbah untuk mencegah polusi yang signifikan, emisi gas rumah kaca, dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

    Polusi dari limbah tidak mengenal batas negara, sehingga setiap orang mempunyai kepentingan untuk berkomitmen terhadap pencegahan limbah dan berinvestasi dalam pengelolaan limbah jika terdapat kekurangan.

    ”Solusi sudah tersedia. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang kuat untuk menetapkan arah dan langkah yang diperlukan, dan untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal,” kata Zoë Lenkiewicz, penulis utama laporan tersebut.

  • Nestle Sediakan Fasilitas Waste Station di 10 Titik: Masyarakat Bisa Tukarkan Sampah Anorganik dengan Voucher Belanja

    Nestle Sediakan Fasilitas Waste Station di 10 Titik: Masyarakat Bisa Tukarkan Sampah Anorganik dengan Voucher Belanja

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan hingga infrastruktur pengumpulan dan pembuangan yang belum memadai.

    Menjawab tantangan itu, Nestlé yang merupakan salah satu produsen sampah anorganik menyediakan fasilitas Waste Station untuk mengumpulkan dan mengelola sampah anorganik secara optimal dan berkelanjutan.

    Fasilitas Waste Station ini merupakan kolaborasi Nestle bersama Rekosistem, dengan menggandeng mitra ritel, yakni Hero Supermarket dan Hypermart, sebagai lokasi fasilitas Waste Station.

    Dengan adanya Waste Station ini, konsumen dapat mengelola sampah rumah tangga dan menyetornya ke Waste Station terdekat sekaligus berbelanja dan mendapat poin.

    “Inisiatif itu diharapkan dapat mendukung konsumen untuk memulai perubahan perilaku dalam melakukan pilah sampah dari rumah dan memastikan sampah yang disetor akan dikelola dan didaur ulang secara optimal oleh Rekosistem,” tulis Nestlé dalam keterangan resmi yang diterima,  Jumat (18/10/2024).

    Nestlé memulai kolaborasi pertama dengan Hero Supermarket pada Desember 2023 lalu, dengan membuka fasilitas Waste Station di 5 area, yakni Hero Taman Alfa Jakbar, Hero Permata Hijau Jakbar, Hero Kota Wisata Cibubur, Hero Lebak Bulus Jaksel, dan Hero Kemang Jaksel.

    Kolaborasi berikutnya dilakukan bersama Hypermart pada Maret 2024 dengan membuka fasilitas Waste Station di 5 area yaitu, yaitu Hypermart Cyberpark Tangerang, Hypermart Gading Serpong Tangerang, Hypermart Vila Melati Mas Tangerang, Hypermart Puri Indah Jakarta Barat, dan Hypermart AR Hakim Surabaya.

    Baca: Agar Reuse, reduce dan recycle tak hanya jadi slogan

    Pilah, kumpulkan, dan dapatkan voucer belanja
    Untuk menyetor sampah di Waste Station, masyarakat diharapkan telah memilah sampah dari rumah karena fasilitas ini hanya dapat menerima sampah anorganik dan minyak jelantah.

    Masyarakat yang ingin berpartisipasi, harus memastikan sampah dalam keadaan bersih dan kering guna memastikan sampah masih memiliki nilai tinggi untuk didaur ulang.

    Kemudian, kemas sampah anorganik, baik menggunakan kardus, kantong plastik, kantong kertas, maupun tas spunbond, lalu bawa ke lokasi Nestlé Waste Station.

    Selanjutnya, pindai (scan) Nestlé Rekosistem Website QR Code di Waste Station untuk merekam penyetoran sampah dan mengumpulkan poin.

    Lalu, isi informasi sampah yang disetorkan untuk mendapatkan kode unik dan tulis kode unik pada kemasan dan setorkan pada petugas Waste Station.

    Konsumen dapat menyetorkan seluruh material sampah jenis anorganik, seperti kertas, kardus, plastik, kaleng, kaca, dan minyak jelantah.

    Material sampah tersebut masih memiliki nilai dari ulang, tetapi harus didukung dengan pemilahan agar sampah tidak terkontaminasi dengan material organik ataupun minyak dan sambal.

    Seluruh sampah akan disetorkan kepada pengepul dan pendaur ulang sampah sesuai dengan jenis material. Sampah ini akan dijadikan bahan baku material daur ulang atau dikelola secara bertanggung jawab agar tidak bermuara di TPA.

    Baca: Cara memilah sampah dari rumah

    Menariknya, masyarakat dapat mengumpulkan poin dari setiap sampah yang disetorkan. Poin ini dapat ditukarkan dengan voucer belanja partner ritel, yakni Hero Supermarket atau Hypermart, sesuai dengan lokasi penyetoran.

    Masyarakat bisa mendapatkan 800 poin untuk setiap 1 kg sampah anorganik. Konsumen yang mengemas secara terpisah sampah kemasan dari merek-merek Nestlé akan memperoleh 1.500 poin spesial untuk setiap 0,5 kg.

    Setiap 25.000 poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan voucer belanja senilai Rp 25.000 untuk digunakan berbelanja di mitra ritel.

    Selain menyediakan 10 fasilitas Waste Station, Nestlé secara berkelanjutan menjalankan upaya-upaya untuk mendukung pengurangan dan penanganan sampah dari hulu ke hilir, baik di Indonesia maupun global.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat, Indonesia menghasilkan 30,97 juta ton timbulan sampah pada 2023. Data itu bahkan belum lengkap.

    Hingga 17 Juli 2024, data sampah yang masuk baru berasal dari 280 kabupaten dan kota, sedangkan Indonesia memiliki total 514 kabupaten dan kota.

    Dari sampah yang sudah tercatat, 20,2 juta ton atau 65,24 persen di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton atau 34,76 persen tidak terkelola.

    Peraturan Menteri LHK Nomor 6 Tahun 2022 mendefinisikan “pengelolaan sampah” sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, serta berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

  • Pemprov Jabar Berencana Perluas TPA Sarimukti, Ini Kata Ketua DPRD Jabar

    Pemprov Jabar Berencana Perluas TPA Sarimukti, Ini Kata Ketua DPRD Jabar

    7cloud.asia – Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Buky Wibawa mengkritik rencana perluasan Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Sarimukti oleh Pemprov Jabar.

    Buky menilai rencana perluasan TPA Sarimukti ini berpotensi mengurangi luasan hutan dan juga merusak lingkungan dengan air limbah yang ditimbulkan.

    Dilansir Antaranews.com, Buky mengatakan perluasan TPA Sarimukti tersebut direncanakan merambah ke kawasan milik Perhutani sehingga akan mengurangi kawasan hutan.

    Belum potensi limbah yang menimbulkan kerusakan ekosistem lingkungan sekitar, seperti sungai, hingga Waduk Jatiluhur.

    “Air limbah atau lindi dari TPA Sarimukti itu pada faktanya dialirkan ke sungai dengan kadar racun yang masih tinggi, hingga ikan yang hidup di sungai saja mati,” ucap Buky Wibawa di Bandung, Jumat (1/11/2024).

    Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti

    Kemudian juga, ada risiko ledakan karena akumulasi gas metan hasil dekomposisi sampah oleh bakteri anaerob, terutama masyarakat sekitar yang dirugikan atas kerusakan lingkungan imbas dari perluasan tersebut dan dampak negatif lainnya.

    Perluasan TPA Sarimukti yang direncanakan Pemprov Jabar, lanjut Buky Wibawa, bukan solusi tepat dalam penanganan sampah.

    Ketimbang memperluas TPA Sarimukti yang sekarang sudah kelebihan kapasitas, Buky mengusulkan solusi pengurangan sampah yang dimulai dari hulu atau dari sumbernya.

    “Dengan cara memilah sampah organik dan anorganik, dengan edukasi yang terus dilakukan bagi masyarakat untuk mulai memilah sampah,” ujarnya.

    Kemudian, di pasar-pasar tradisional yang paling tinggi memproduksi sampah organik, ujarnya, harus ada penanganan sampah lewat pengolahan sampah organik menjadi pupuk atau solusi penanganan sampah organik lainnya secara mandiri.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan zaman

    “Sampah terus diproduksi setiap hari, harus ada solusi tepat untuk menangani masalah sampah ini,” kata dia.

    Buky menekankan harus ada solusi yang cepat dan tepat bagi persampahan di Bandung Raya, sambil menunggu Tempat Pengolahan dan Pemprosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka di Nagreg, Kabupaten Bandung rampung di 2028.

    Sebelumnya disebutkan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar berencana akan memperluas TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebagai solusi mengatasi darurat sampah di Bandung Raya.

    Rencananya perluasan TPA Sarimukti ini akan mulai difungsikan pada 2025.

  • Pengelolaan Sampah Pembalut Masih Semrawut: Berdampak Buruk pada Lingkungan dan Manusia

    Pengelolaan Sampah Pembalut Masih Semrawut: Berdampak Buruk pada Lingkungan dan Manusia

    7cloud.asia – Keberadaan pembalut sekali pakai bak pedang bermata dua bagi manusia. Di satu sisi, barang ini merupakan bagian penting dari siklus kehidupan banyak perempuan, tetapi juga memiliki tantangan lingkungan.

    Hasil penelitian tesis mahasiswa yang saya ampu (dalam proses penulisan) menemukan, di Kota Yogyakarta, perempuan di masa subur menggunakan 4-5 pembalut setiap hari.

    Dengan fase menstruasi rata-rata enam hari dalam sebulan, kami memperkirakan perempuan menggunakan 360 lembar pembalut setiap tahun.

    Di sisi lain, selain menambah volume sampah, pembalut sekali pakai memiliki kandungan yang berbahaya seperti zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS)yang sering disebut “forever chemical” karena bagi lingkungan dan membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai.

    Pembalut juga mengandung sekitar 2 gr plastik yang sulit terurai sehingga berisiko mencemari ikan dan kesehatan manusia.

    Dalam penelitian ini, tim menyurvei 422 perempuan usia subur dan menemukan bahwa sekitar separuh responden sudah berupaya memisahkan sampah pembalut dari sampah domestik lainnya. Sebagian besar (hampir 90persen) juga membersihkan pembalut sebelum dibuang.

    Sayangnya, upaya pengolahan dan pemilahan sampah oleh para perempuan sia-sia belaka. Pasalnya, berdasarkan penelusuran kami, Kota Yogyakarta tidak memilki sistem pengolahan sampah pembalut.

    Alhasil, sampah tersebut—menurut perhitungan kami jumlahnya sekitar 5 persen dari total volume sampah—berisiko mencemari lingkungan dan kesehatan.

    Baca: Pembalut kain lebih ramah lingkungan

    Pengelolaan sampah tak memadai
    Hampir seluruh responden dalam penelitian menyebutkan bahwa tidak ada tempat sampah khusus pembalut di lingkungan mereka. Para pengambil sampah kerap menggabungkan semua sampah menjadi satu—meskipun sampah pembalut telah terpilah.

    Keterbatasan ini menjadi kendala serius. Sebab, menurut aturan yang ada, kain atau kapas yang terkena darah atau cairan tubuh tergolong limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) atau infeksius.

    Dengan status sebagai limbah B3, sampah pembalut sebenarnya memerlukan pengolahan khusus. Organisasi yang mengelola, beserta pengangkutannya, perlu mendapatkan izin khusus dari pemerintah.

    Sialnya, jangankan fasilitas khusus, pemerintah Kota Yogyakarta bahkan belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) terkait pengelolaan sampah pembalut sekali pakai.

    Berdasarkan penelusuran kami ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, mesin pengolahan sampah yang ada tidak bisa memproses sampah pembalut. Pasalnya, sampah ini terdiri dari campuran tekstil yang dapat melilit mesin.

    Sampah pembalut sekali pakai dapat dibakar di insinerator. Namun, pengadaan fasilitas pembakaran ini membutuhkan biaya yang sangat mahal. Belum lagi risikonya mencemari kualitas udara.

    Mengubur atau menimbun sampah pembalut juga berbahaya. Soalnya, cara itu dapat merusak kesuburan tanah.

    Sampah pembalut juga sebenarnya dapat didaur ulang asalkan lapisan plastik dan gelnya sudah dipisahkan. Setelah itu, lapisan plastik dapat kita gabungkan dengan sampah anorganik atau plastik lainnya. Sementara gelnya dapat menjadi pupuk cair atau media tanam.

    Baca: Banyak perempuan yang belum teredukasi soal menopause

    Sayangnya, teknik ini masih belum populer digunakan di Indonesia. Kelayakannya secara lingkungan juga masih belum diteliti lebih mendalam.

    Membangun sistem pengolahan sampah
    Pemerintah daerah harus membangun sistem pemilahan dan pengolahan sampah pembalut sekali pakai yang terintegrasi.

    Ini terhitung mulai dari pembuangan di tingkat individu dan komunitas, pengelolaan di tempat pembuangan sampah, aktivitas daur ulang, dan sebagainya.

    Penerapan teknologi pengolahan dan pemanfaatan sampah pembalut dan popok sudah mulai dikembangkan oleh beberapa kota di Italia.

    Teknologi ini mampu mengolah 100% sampah pembalut menjadi plastik selulosa dan material penyerap air lainnya. Contoh teknologi lain mengatasi sampah pembalut adalah pirolisis, yang mulai dikembangkan di Indonesia.

    Namun, penggunaan teknologi ini di Indonesia membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan penuh tantangan.

    Sebelum memikirkan investasi teknologi, pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak swasta dan para produsen untuk memastikan pengelolaan sampah pembalut yang optimal.

    Tim menemukan bahwa beberapa tempat perbelanjaan besar sudah memiliki tempat sampah khusus pembalut di WC perempuan dan bekerja sama dengan pihak swasta. Langkah ini dapat ditiru pihak-pihak lainnya di seluruh daerah.

    Pemerintah juga sebenarnya menganjurkan pembuangan pembalut ke tempat sampah khusus, seperti di sekolah. Namun, hingga saat ini, masih banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas tersebut.

    Pemerintah juga perlu menggencarkan sosialisasi manajemen kebersihan menstruasi (MKM). MKM turut mencakup upaya membersihkan pembalut di jamban—bukan di sembarang tempat.

    Sosialisasi MKM penting karena lebih dari setengah responden kami tidak pernah mendengar informasi seputar MKM.

    Padahal, penelitian kami menunjukkan bahwa sosialisasi MKM berhubungan positif dengan perilaku pembuangan dan pemilahan sampah pembalut yang benar.

    Pemahaman juga perlu mencakup sosialisasi bahwa sampah pembalut termasuk ke dalam limbah B3 atau infeksius, sehingga perlu dipisahkan dari sampah domestik lain. Penelitian kami menunjukkan bahwa masih banyak perempuan yang belum mengetahui hal tersebut.

    Perempuan juga dapat mengurangi sampah sejak dini melalui penggunaan pembalut kain, tampon, atau menstrual cup yang bersifat guna ulang. Harapannya, kita bisa bersama-sama mengikis dilema pembalut sekali pakai dan membuat lingkungan lebih sehat.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Daniel (Lecturer in Public Health, Universitas Gadjah Mada)

  • Kementerian Lingkungan Hidup Bakal Tertibkan Tempat Pembuangan Sampah Liar

    Kementerian Lingkungan Hidup Bakal Tertibkan Tempat Pembuangan Sampah Liar

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan menertibkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah tidak berizin secara bertahap untuk memastikan transisi oleh masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari praktik tersebut.

    Hal ini diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq usai inspeksi mendadak di TPA sampah tidak berizin di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (4/11/2024)

    “Ini melanggar aturan. Ini pasti melanggar aturan. Kami akan tindak, penindakan bisa dengan paksaan pemerintah. Itu tetap akan kami paksa mereka, tetapi tentu penyelesaiannya kita tidak bisa tutup mata,” ujar Hanif.

    Mengenai TPA tidak berizin di Kabupaten Bogor yang nasibnya terkait dengan sekitar 2.000 tenaga kerja, dia menyebut akan melakukan sosialisasi penertiban TPA yang mengolah sisa impor sampah kertas dari pabrik dekat wilayah tersebut.

    Selain dari Kementerian Lingkungan Hidup, diharapkan juga intervensi dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan isu tersebut.

    Baca: KLH bakal setop impor sampah

    Hanif menargetkan dapat menyelesaikan isu sampah di wilayah tersebut sampah dengan setengah tahun, termasuk mengelola sampah plastik dan kertas yang menumpuk dengan pembakaran menggunakan insinerator.

    Hanif mengatakan, dia memminta langsung masuk ke insinerator, tidak bisa tidak. Sehingga menyiapkan mereka untuk transisi.

    Harapan saya transisinya jangan lama-lama, setengah tahun ini mestinya harus beres. Jadi saya tidak ingin terlalu lama, karena ini tanggung jawab perusahaan juga,” katanya.

    Selain itu KLH juga memastikan akan mencari sumber sampah yang dipasok di tempat pembuangan akhir (TPA) liar seperti yang berada di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat sebagai langkah penegakan hukum.

    Baca: KLHK Targetkan Emisi Nol dari Sektor Sampah pada 2050

    “Mereka harus bertanggung jawab terhadap bahan baku yang ditimpakan di sini. Dirjen Gakkum sudah saya minta telusuri sampai ke hulunya,” imbuhnya.

    Hanif menjelaskan bahwa pengelola TPA ilegal tersebut sudah diamankan, karena tindakannya telah memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

    Termasuk salah satunya dari praktik pembakaran sampah terbuka atau open burning yang dilakukan di sana.

    Dengan penangkapan pelaku yang mengelola TPA ilegal tersebut, Kementerian LH dapat melanjutkan dengan penyelidikan terhadap sumber dari sampah yang diolah di sana.

    Baca: Nestlé Indonesia kembangkan kemasan berkelanjutan

    Hanif menyebut bahwa sampah yang dikelola TPA liar Limo berasal dari sumber tertentu atau point source yang seharusnya berkewajiban mengelola sampahnya, tapi malah menyerahkan sampahnya ke tersangka pengelola.

    “Saya yakin seyakin-yakinnya sampah ini bukan dipungut dari jalan, tapi dari kawasan-kawasan, sehingga mereka harus tanggung jawab,” jelasnya.

    Mengenai kemungkinan ada pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari rumah sakit yang dibakar di TPA ilegal tersebut, Hanif menyebut pihaknya sudah meminta kepada bagian penegakan hukum untuk melakukan penyidikan secara khusus.

    Hal itu dilakukan, karena sudah dilakukan kegiatan sosialisasi sebagai langkah preventif, dan praktik yang sama terus berlanjut, maka akan dilakukan penegakan hukum. (Sumber:Antaranews.com)