Tag: sampah

  • Tips Mudik Ramah Lingkungan: Mulai dari Mengurangi Sampah yang Dihasilkan

    Tips Mudik Ramah Lingkungan: Mulai dari Mengurangi Sampah yang Dihasilkan

    7cloud.asia – Menyambut masa mudik Lebaran tahun ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali mengimbau masyarakat yang akan mudik untuk bijak dalam mengelola sampah yang mereka hasilkan.
     
    KLHK mengimbau pemudik tak hanya membuang sampah pada tempatnya tetapi juga mengendalikan sampah yang dihasilkan. Dengan kata lain KLHK mengajak pemudik untuk bersikap lebih ramah lingkungan.
     
    “”Kami mengimbau masyarakat walaupun dalam suasana hati yang senang, penuh kemenangan, dan merayakan Hari Raya Idul Fitri, tapi jangan lupa untuk merayakannya dengan mengendalikan sampahnya, termasuk membatasi sampah yang dihasilkan, pakailah produk-produk yang recyclable dan juga jangan plastik sekali pakai,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati saat meninjau  fasilitas pemilahan sampah di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Selasa (18/4/2023). 
     
    Vivien mengatakan, selama arus mudik Lebaran 2023 ini, KLHK bakal fokus menangani timbunan sampah yang dihasilkan oleh para pemudik di wilayah Sumatra dan Jawa-Bali.

    Menurutnya, Pulau Sumatera dan Jawa-Bali memiliki jumlah pemudik paling banyak ketimbang wilayah lain di Indonesia.

     

    “Padat sekali (pemudik) dan kami juga khawatir di rest area akan membludak sampahnya,” kata Vivien 
     

     

    KLHK memproyeksikan jumlah timbunan sampah mencapai 49.520 ton selama rentang dua pekan arus mudik dan arus balik Lebaran 2023.

     

    Timbunan sampah tersebut berasal dari sisa makanan, sampah plastik kemasan makanan dan minuman yang ada pada setiap titik pemberhentian ataupun di sepanjang jalur mudik.

     

    Untuk menangani sampah selam arus mudik Lebaran 2023 ini, KLHK telah meluncurkan Surat Edaran Menteri LHK Nomor 02 Tahun 2023 tentang Pengendalian Sampah Dalam Rangkaian Kegiatan Hari Raya Idul Fitri 2023.

     

    Surat edaran ini bertujuan untuk memperkuat komitmen dan peran aktif pemerintah daerah (pemda) dalam melaksanakan pengurangan dan penanganan sampah guna mengurangi timbunan sampah ke tempat pemroses akhir. 

    Surat itu sekaligus untuk memperkuat partisipasi publik dalam mengurangi sampah melalui pelaksanaan Ramadan Minim Sampah, Idul Fitri Minim Sampah, dan Mudik Minim Sampah. kemudian memperkuat komitmen dan peran aktif pelaku usaha dalam upaya pengurangan dan penanganan sampah. 

     

    Surat edaran itu juga bertujuan melaksanakan pengurangan dan penanganan sampah, melakukan komunikasi, menyebarkan informasi, dan melaksanakan edukasi kepada masyarakat dan media massa terkait pengelolaan sampah melalui media cetak, media elektronik, maupun media sosial, selama rangkaian bulan suci Ramadhan, mudik, dan Hari Raya Idul Fitri.

     

    “Kami mengadakan kampanye, pengumuman juga kami sebarkan di seluruh rest area untuk tetap menjaga sampahnya,” pungkas Vivien.

    Nah buat kamu yang ingin mudik tanpa menambah sampah yang dihasilkan, berikut 7cloud.asia rangkumkan tips mudik yang ramah lingkungan, jadi ini nggak cum asoal sampah tapi juga soal hemat BBM.
     
    1. Tidak menggunakan plastik sekali pakai dan tisu

    Salah satu langkah “kunci” untuk melaksanakan mudik ramah lingkungan yakni dengan tidak menggunakan plastik sekali pakai dan kertas tisu. Kedua benda tersebut dapat memicu produksi sampah secara berlebih yang lantas mencemari lingkungan sekitar. Sebagai gantinya, cobalah untuk membawa tas belanja, sapu tangan, atau handuk kecil ketika hendak melakukan perjalanan pulang kampung.

    2. Bawa bekal makanan

    Membawa bekal makanan dan minuman sendiri saat mudik, tak hanya bersahabat untuk kantong kamu juga dapat mengurangi volume sampah yang kamu hasilkan. Tapi, kamu juga harus ingat untuk tidak membungkus bekal makanan yang kamu bawa dengan menggunakan plastik sekali pakai atau kemasan styrofoam.

    Gantikan dengan rantang ataupun box makanan yang kini banyak tersedia di pasaran. Alih-alih membeli minuman kemasan, lebih baik kamu siapkan minum dalam tumbler.  

    3. Bawa alat makan sendiri  
    Cobalah untuk membawa peralatan makan seperti piring, sendok, garpu dan botol minum milikmu sendiri. Selain lebih higienis, membawa peralatan makan sendiri juga dapat menghindari kita dari penggunaan alat makan sekali pakai berbahan plastik.
     
    4. Sediakan kantung sampah dari rumah

    Jangan pernah membuang sampah sembarangan, termasuk saat mudik. Ini berlaku untuk baik untuk sampah organik maupun anorganik. Selama arus mudik Lebaran, jutaan orang melakukan perjalanan. Bayangkan jika semua membuang sampah sembarangan, bagaimana kotornya jalur mudik. 

    Jadi sebelum berangkat sediakan kantong sampah, akan lebih baik lagi jika kamu menyediakan dua kantung untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Membawa kantong sampah akan memudahkan kamu saat kesulitan menemukan tempat sampah selama perjalanan.  

    5. Gunakan angkutan umum 

    Alih-alih menggunakan kendaraan pribadi, cobalah untuk menggunakan angkutan umum agar mudik kamu lebih ramah lingkungan. Menggunakan angkutan umum dapat membantu mengurangi jumlah polusi udara yang timbul akibat penggunaan kendaraan pribadi lho!

    6. Merencanakan rute mudik 

    Agar perjalanan mudik menjadi lebih efektif dan efisien, rencanakan rute perjalanan dengan sebaik-baiknya. Dengan merencanakan rute perjalanan, kamu dapat menghemat penggunaan bahan bakar yang artinya dapat mencegah produksi emisi karbon berlebih.

    7. Periksa kondisi kendaraan

    Tips ini berlaku untuk mereka yang mudik dengan membawa kendaraan sendiri. Memeriksa kondisi kendaraan secara menyeluruh wajib dilakukan sebelum mudik. Selain untuk alasan keselamatan atau mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama mudik menyiapkan kondisi mobil juga akan membuat mudik kamu lebih ramah lingkungan.

    Kendaraan dengan kondisi mesin yang prima juga akan mengurangi emisi karbon. Jadi, begitulah tips mudik yang ramah lingkungan. Apakah sekarang kamu sudah siap untuk mudik tanpa membebani lingkungan?  

     

     

  • Rumitnya Mengelola Sampah yang Diproduksi Warga Jakarta

    Rumitnya Mengelola Sampah yang Diproduksi Warga Jakarta

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah di Jakarta menjadi salah satu yang terburuk di dunia. Mayoritas dari sekitar 7000 hingga 8000 ton sampah yang dihasilkan warga Jakarta setiap hari berakhir di pembuangan akhir.

    Untuk menangani jumlah sampah sebanyak itu, Jakarta masih menggunakan open dumping dan pembakaran sampah sebagai metode utama. Proses daur ulang sampah sudah mulai dilakukan di Jakarta, namun persentasenya masih sangat rendah. 

    Sampah-sampah itu diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang dengan menggunakan 1200 truk.

    Jika dilihat dari jenisnya, sampah yang paling banyak diproduksi warga Jakarta adalah sampah organik dengan persentase 49.7%. Sisanya berupa sampah anorganik atau sampah dengan kategori yang sulit terurai oleh alam, seperti botol platik, tas plastik, kaleng dan lainnya. 

    Tingginya produksi sampah yang dihasilkan oleh warga ibu kota Jakarta ini jika tidak ditangani dengan baik, tentu dapat memicu dampak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. 

    Dan ini pernah terjadi beberapa tahun lalu saat Pemkot Bekasi menolak menerima sampah dari Jakarta karena berselisih soal besarnya sewa lahan. Sampah yang tak terangkut menimbulkan bau busuk.

    Baca: Mengapa belum ada larangan penggunaan styrofoam?

    Masalah sampah di Jakarta sudah menjadi polemik sejak jaman kolonial. Saat itu, pemerintah Batavia kewalahan menangani masalah sampah yang mencemari sungai. Ini terjadi karena masyarakat masih membuang sampah ke sungai atau membakarnya.

    Itu dilakukan karena tidak ada fasilitas yang memadai untuk mengumpulkan dan mengelola sampah. Saat Gubernur Jenderal Maatsuyker berkuasa ia coba mencari solusi dengan menyediakan bak sampah di bantaran sungai. Sampah yang terkumpul lalu diangkut oleh perahu.

    Di era modern, Pemerintah provinsi DKI Jakarta telah merilis sejumlah kebijakan pengelolaan sampah yang sudah dirintis sejak era Jokowi-Ahok.

    Terakhir dirilis Peraturan Gubernur No. 108 Tahun 2019 tentang Kebijakan dan Strategi Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

    Untuk menjangkau ranah industri, juga terdapat regulasi yang diatur dalam Pergub DKI Jakarta No. 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan. 

    Contoh penerapan dari kebijakan tersebut adalah dengan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di minimarket dan supermarket. Selain itu, juga diupayakan untuk mendaur ulang sampah organik dengan maggot.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif untuk lingkungan

    Mengelola sampah dari rumah

    Pemprov DKI Jakarta, dengan menggandeng sejumlah pihak juga mendorong kebiasaan mengelola sampah dari rumah. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi produksi sampah dari sumbernya.

    Warga Jakarta diajak untuk mengurangi konsumsi produk kemasan sekali pakai lewat serangkaian kegiatan edukasi seperti penyuluhan kelompok maupun individu. Salah satu program Greeneration Foundation ini berbagi wawasan tentang pengelolaan sampah bertanggung jawab.

    Sejak 2020, sudah ada sekitar 1700 orang di 13 kelurahan Jabodetabek yang kini lebih tahu cara mengurang dan mengelola sampah secara mandiri.

    Untuk mendukung kebiasaan isi ulang warga, Siklus membantu menyediakan layanan isi ulang kebutuhan rumah tangga. Layanan ini memberikan fasilitas pada warga untuk isi ulang sabun, minyak, sampo, dan kebutuhan lainnya. Solusi ini jauh lebih praktis dan ramah lingkungan karena pengguna cukup memesan kebutuhannya lewat aplikasi.

    Kolaborasi ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus menerapkan wawasannya dan mewujudkannya jadi kebiasaan baik. Pemprov DKI Jakarta juga menggalakkan bank sampah dan menerapkan teknologi modern dalam mengatasi masalah sampah di Jakarta.

    Saat ini ada 2 cara berbasis teknologi untuk mengatasi masalah sampah, yakni landfill mining dan pengoperasian Refused Derived Fuel (RDF).

    Refused Derived Fuel (RDF)
     

    Proyek pengelolaan sampah Refused Derived Fuel (RDF) dibangun dengan biaya Rp 1,07 triliun dan dijadwalkan beroperasi awal 2023. Per harinya, mesin ini bisa mencacah hingga 1.000 ton sampah dan mengubahnya menjadi bahan bakar ramah lingkungan pengganti batu bara.
     
    Bahan bakar yang dihasilkan kemudian dijual ke industri dengan harga Rp 300 ribu per ton. Hingga akhir 2022, sudah ada 2 perusahaan semen lokal yang menandatangi perjanjian kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk membeli hasil olahan RDF, yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Solusi Bangun Indonesia.

     
     

    Landfill Mining
     
    Sementara metode pengolahan sampah lain di TPST Bantargebang yang juga sedang dikembangkan, yaitu Landfill Mining. Metode ini mampu mengurai sampah-sampah lama yang sudah terdekomposisi untuk diolah menjadi tanah dan kompos.

     
    Jika kinerja dua proyek digabungkan, maka bisa mengolah hingga 2 ribu ton sampah perharinya.
     
    Namun, dua proyek di TPST Bantargebang ini belum bisa menyelesaikan masalah sampah Jakarta, karena sampah yang dihasilkan jauh lebih banyak dari yang bisa diolah, sementara Jakarta sudah tidak punya alternatif tempat pembuangan sampah lain.

     
     
    ITF, Solusi Lain Pengolahan Sampah Jakarta

     
    Ada program lain yang sedang dijajagi oleh Pemprov sejak 2016, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) yang dapat mengolah sekitar 2.200 ton sampah per hari.

    RDF dan ITF memiliki cara kerja yang hampir sama, yaktu mampu mengolah hingga seribu ton sampah per harinya. Namun, biaya pembangunan ITF jauh lebih besar ketimbang RDF, yaitu Rp 5,2 triliun untuk 1 unit.

    Tingginya biaya yang dibutuhkan membuat program ini tidak berjalan mulus. Dari 4 lokasi pembangunan ITF yang diajukan, hanya ITF Sunter yang akhirnya mendapatkan kucuran dana dari APBD DKI Jakarta tahun anggaran 2023.
     
    Jika hanya bergantung pada 1 unit ITF, RDF, dan landfill mining, Pemprov DKI baru mampu mengolah 3 ribu ton sampah perhari. Capaian ini bahkan belum mampu mereduksi 50 persen sampah harian penduduk Jakarta. Jadi Pemprov DKI Jakarta harus terus memutar otak hingga masalah ini terpecahkan.

     

     

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    Rujukan: 

    https://greeneration.org/publication/green-info/masalah-sampah-di-jakarta-akan-tuntas/

    https://kumparan.com/kumparannews/lahan-tpst-bantargebang-menipis-bagaimana-nasib-pengolahan-sampah-di-dki-1zUkuyfufCN/4

     
  • Mengenal Teba, Cara Unik Warga Bali Mengelola Sampah Rumah Tangga

    Mengenal Teba, Cara Unik Warga Bali Mengelola Sampah Rumah Tangga

     
    “Tidak heran jika tanah di Balidi masa lalu sangat subur dan bagus untuk pertanian dan berkebun, semua berkat teba ini” ujar Santi sebagaimana dikutip Antaranews.com. 
     
    Baca: Rumitnya mengelola sampah yang dihasilkan warga Jakarta
     
    Kini sistem Teba ini diadaptasi kembali. Oleh Santi sistem ini dinamai Teba Modern. Santi berharap  Teba modern ini bisa jadi alternatif solusi yang tepat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. 
     
    Teba modern ini diharapkan jadi salah satu alternatif yang dinilai efektif dan efisien dalam menanggulangi sampah yang menumpuk. Santi menyatakan bahwa Teba Modern merupakan sebuah alat atau tempat membuat sampah organik menjadi pupuk kompos.
     
    “Yang digunakan di teba hanya sampah organik, kalau anorganik akan dibawa ke bank sampah karena masih dapat dimanfaatkan kembali serta bernilai ekonomi,” terang Santi.
     
    Teba modern tak lagi sekadar lubang besar di tanah belakang rumah, melainkan telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sebuah meja atau bangku di halaman rumah yang dapat digunakan untuk nongkrong atau bercengkerama.
     
    Mereka yang duduk di atas Teba ini tidak sadar jika di bawahnya terdapat lubang sebagai tempat membuat sampah organik menjadi kompos sehingga tidak merasa kotor atau jijik.

    Santi mengatakan, banyak yang belum mengetahui terobosan Teba Modern  karena mereka akan mengira bahwa itu sekadar meja atau kursi untuk duduk-duduk dan berkumpul saja, atau bahkan tidak mengetahui keberadaan Teba Modern karena dibentuk dengan minimalis ini. 

     
    Baca: Jangan gengsi gunakan barang bekas agar tak nyampah

    Santi memaparkan bahwa sebanyak 60 hingga 70 persen sampah organik dari sisa makanan, sayur-sayuran, buah yang membusuk, dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang diletakkan di dalam Teba Modern.

    Inovasi ini pertama kali dirancang oleh Desa Adat Cemenggaon yang kemudian mulai berkembang ke sejumlah sekolah maupun desa yang berada di Bali. Meskipun belum masif dan merata di seluruh Indonesia, Santi dan kawan-kawan pegiat lingkungan tetap optimistis akan dapat menanggulangi sampah organik dengan cara tersebut.

    Hal pertama yang harus dilakukan pada pembuatan Teba Modern adalah dengan menggali lubang biopori sedalam dua hingga 2,5 meter. Kedalaman tersebut sudah paten dan tidak dapat diubah.

    Ya, hal ini karena Teba Modern memanfaatkan bakteri untuk mempercepat proses penguraian sampah organik. Jika hal tersebut tidak dilakukan dengan benar, hal itu menyebabkan bakteri kesulitan menguraikan sampah karena tingkat keasaman yang tinggi dan oksigen tidak dapat menjangkau proses pengolahannya sehingga sampah tidak akan terurai menjadi pupuk,” urai Santi.

     
    Baca: Ini pesan Laura Kiehl pada anak muda

    Pegiat lingkungan lainnya,  Krishna Sindhu, juga turut menjelaskan terkait dengan pembuatan Teba Modern untuk menangani masalah sampah di Bali.

    Ia merinci bentuk Teba Modern yakni kedalaman yang diperlukan adalah 2,5 meter dengan lebar minimal satu meter. Buisnya dari kedalaman tanah itu hanya satu meter, dan 1,5 meter di bawahnya adalah tanah.

    Setelah proses penggalian lubang, sebenarnya Teba Modern dapat dibentuk sesuai dengan keadaan yang berlaku. Mereka menyatakan ketika luas rumah atau bangunan yang akan dibuatkan Teba Modern cenderung sempit, maka disarankan untuk membuat Teba Modern yang menyatu dengan tanah.

     
    Jika luas halaman luas, maka dapat dibuatkan dalam bentuk yang bervariasi, seperti dibuat menjadi meja dan bangku, atau hal lainnya sesuai keinginan.

    Sejumlah siswa dengan dibimbing guru dan aktivis lingkungan menggali lubang untuk “Teba Modern” di halaman SMK Negeri 1 Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. ANTARA/HO-DOk Krishna Sindhu.
    Manfaat 

    Banyak manfaat yang dapat dirasakan atas keberadaan Teba Modern ini. Komang Asti, ibu rumah tangga mengatakan banyak manfaat yang telah didapatnya setelah membuat Teba Modern ini. Pupuk kompos dari sampah organik tersebut dapat dipanen 6 bulan hingga 1 tahun sekali.

    Kemudian, pupuk kompos tersebut dapat dijual atau dipakai sendiri untuk menyuburkan tanaman di kebun.

    Pemanfaatan Teba Modern yang lainnya adalah ketika hujan deras terjadi, rumah saya tidak pernah tergenang air. Cukup buka saja tutup dari Teba Modern tersebut dan air hujan akan terserap ke lubang biopori, sehingga air akan masuk ke tanah kembali dan dapat membuat cadangan air di tanah.

    Oleh karena itu para pengusaha, baik rumah makan ataupun industri, diharapkan dapat memanfaatkan sistem ini karena dapat membantu Bumi dari momok permasalahan sampah.

    Jika semua terkendali maka Bumi yang asri dan perubahan iklim yang ekstrem dapat dikendalikan. Asti juga turut berharap  masyarakat senantiasa memiliki niat yang besar untuk menjaga Bumi.

     

     

  • Aksi Keren Anak Muda Bandung Bernama Pandawara: Nyebur Sungai Angkut Sampah

    Aksi Keren Anak Muda Bandung Bernama Pandawara: Nyebur Sungai Angkut Sampah

    7cloud.asia – Pandawara. Demikian lima anak muda asal Jalan Caringin, Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat ini menamai geng atau komunitasnya.

    Lima anak muda keren yang bergabung dalam Pandawara itu adalah Muchamad Ikhsan, Gilang Rahma, Agung Permana, Rafly Pasya, dan Rifki Sa’dula. Usia mereka rata-rata di usia awal 20an.

    Aksi Pandawara nggak tanggung-tanggung. Mereka nggak segan nyemplung ke saluran air atau sungai yang mampet untuk memunguti sampah-sampah yang menyumbat sungai tersebut.

    Bahkan tak jarang personel Pandawara nyemplung ke septic tank. Dan semua itu dilakukan dengan sukarela. Keren banget bukan?

    Pandawara yang berdiri pada 2022 ini punya tujuan besar, yakni ingin mengajak semua anak muda di Indonesia untuk peduli pada lingkungan. Aksi nyata yang dikampanyekan Pandawara adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan dan mau membersihkan sampah di depan matanya.

    “Ini jadi habit (kebiasaan) agar kita bisa menjaga lingkungan untuk bisa memperluas biar anak muda bisa mengikuti apa yang Pandawara lakukan, bahwa mengambil sampah itu gak sebosan apa yang dilihat, menjaga lingkungan juga bisa keren,” ungkap Muchamad Ikhsan seperti dikutip detik.com.

    Baca: Teba, kearifan warga Bali dalam mengelola sampah rumah tangga

    Kiprah Pandawara bermula pada pertengahan 2022 lalu. Kelima pemuda yang merupakan teman satu kompleks ini mengaku sering menjadi korban banjir kala hujan lebat mengguyur kota Bandung.

    “Pandawara ini terbentuk dari perkumpulan teman-teman SMA, inisiasinya karena kita terdampak dulu si, karena emang wilayah kita di Bandung suka banjir dan kita berlima mencari penyebab masalahnya apa sih bisa banjir,” kata Muchamad Ikhsan. 

    Awak Pandawara merasa risih saat lagi nongkrong suka kebanjiran. Ikhsan melanjutkan, dari situ timbul ide ketimbang dibersihin setelah banjir mereka coba cari sebabnya. Ternyata banjir yang sering melanda lingkungan mereka akibat tumpukan sampah yang menyumbat saluran air. 

    “Setelah ditelusuri penyebabnya apa karena penyumbatan sampah di sungai,” ujarnya.

    Soal nama Pandawara, menurut Ikhsan diambil dari dua kata yaitu Pandawa dan Wara. 
    Pandawa yang dalam kisah pewayangan artinya berlima juga, waranya di berbagai bahasa artinya membawa berita baik. Jadi Pandawara berarti lima anak muda yang membawa berita baik gitu kali ya. 

    Baca : Kurangi limbah lewat thrifting

    Awalnya Pandawara tidak turun langsung ke dalam sungai untuk membersihkan sampah seperti yang dilakukan saat ini. Mereka tadinya hanya membersihkan sampah di sisi-sisi sungai.

    Namun rupanya hal itu tidak berdampak besar untuk mengatasi banjir yang sering terjadi di wilayahnya. Dari situlah, Ikhsan dan keempat rekannya di Pandawara memutuskan untuk terjun langsung ke sungai untuk mengangkut sampah yang menumpuk disana.

    “Untuk awalnya kita mengurangi sampah di pelataran sungai, tapi selama 10 bulan berjalan kita turun ke sungai yang emang sampahnya sudah numpuk, kita eksekusi dan alhamdulillah sampai sekarang berjalan,” ungkap Ikhsan.

    Baca: Cara masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    Dengan bermodalkan peralatan seadanya, kelima pemuda ini turun ke kubangan sungai yang sudah menghitam dipenuhi sampah. Bau tak sedap hingga hewan-hewan seperti lintah sudah menjadi hal yang biasa mereka rasakan tiap beraksi.

    “Mening kotor baju pas lagi kerja? Atau dapet uang kotor diluar amanat kerja?” demikian tulis Pandawara di akun Instagram mereka @pandawaragroup.

    Jargon itu yang membuat Pandawara tidak berhenti melakukan aksi untuk membuat sungai-sungai di Bandung bersih dari sampah. Kini mereka telah menggunakan perlengkapan yang lebih memadai dengan memakai sepatu boot, sarung tangan hingga alat pengait sampah.

    “Kita coba memperluas juga kegiatan kita dan setelah di sekitaran kita sudah aman, kita cari sungai lain yang sampahnya sudah darurat numpuk. Selain di Kopo, pernah di Rancaekek, tapi banyaknya di Bandung Selatan dari sungai besar kecil dan septic tank,” ujarnya.

    Berbagai jenis sampah pernah diangkut oleh Pandawara dari sungai-sungai yang mereka bersihkan. Mulai dari sampah plastik hingga sampah ‘raksasa’ seperti kasur dan lemari.

    “Random ya, kalau nemu sampah itu di sungai ada sofa, kasur dan bongkahan lemari juga ada,” ucap Ikhsan.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Kepedulian Pandawara pada kebersihan lingkungan ini mendapat sorotan publik dan membuat Pandawara menjadi viral di sosial media. Saat ini akun medsos Pandawara telah memiliki jutaan follower dan aksi mereka menginspirasi banyak orang.

    Untuk mengajak lebih banyak orang melakukan hal yang sama, Pandawara juga sengaja membuat konten yang diunggah ke akun TikTok, Instagram hingga Youtube. 

    Aksi Pandawara dengan membuat konten bersih-bersih sungai banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Pandawara dianggap mampu menginspirasi anak muda dengan aksi menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.

    Jadi teruslah berkarya nyata Pandawara. Buat kamu yang membaca, semoga tergerak mengikuti aksi nyata Pandawara, setidaknya dengan mengurangi produksi sampah dan tidak membuang sampah sembarangan.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    https://waste4change.com/blog/pandawara-group-pemuda-inspiratif-penggiat-bebersih-sungai/

    https://www.detik.com/jabar/jabar-gaskeun/d-6496221/pandawara-group-lima-sahabat-menerjang-sungai-demi-pungut-sampah

  • Kurangi Sampah Plastik dengan Sistem Isi Ulang dari Siklus

    Kurangi Sampah Plastik dengan Sistem Isi Ulang dari Siklus

    7cloud.asia – “Membuang sampah pada tempatnya tidak cukup menjadi solusi untuk lingkungan!” demikian tagline yang tertulis di laman resmi Siklus. 

    Siapa sebenarnya Siklus? Siklus adalah start up lokal yang punya misi untuk menciptakan sistem ritel berkelanjutan yang dapat mengurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang untuk berbagai barang kebutuhan sehari-hari.

    Siklus menawarkan solusi untuk mengatasi tingginya produksi sampah plastik dengan cara yang sangat berbeda! Siklus yang berdiri pada 2020 menyediakan alternatif untuk pengganti kemasan sachet dengan produk isi ulang yang diantarkan langsung ke rumah pelanggan.

    Dengan Siklus, kita dapat belanja produk kebutuhan rumah tangga favorit dalam berbagai ukuran tanpa kemasan plastik dan tentu dengan harga yang lebih murah! 

    Produk yang disediakan Siklus meliputi cairan pencuci piring, sabun, sampo, deterjen, minyak goreng, kopi dan masih banyak lagi.

    Selain lewat aplikasi Siklus, pelanggan nantinya juga bisa memesan melalui WhatsApp ataupun DM via Instagram.

    “Solusi dari Siklus tentunya dapat menghilangkan pajak kemiskinan dan mengurangi sampah plastik sekali pakai! Semua orang diuntungkan!” demikian Siklus menuliskan misi mereka.

    Baca: Gaya hidup nggak ramah lingkungan yang layak kamu tinggalkan

     

    Siklus mengantarkan isi ulang produk rumah tangga tanpa kemasan plastik langsung ke depan rumah kita!

    Jadi untuk beli sampo, sabun cuci dan sebagainya kita tinggal menghubungi mereka, dan awak Siklus akan mendatangi rumah kita. Kita cukup menyediakan wadahnya dan membayar uang seharga produk yang kita beli. 

    “#AmbilLangkahmu dan isi ulang produk kebutuhanmu di Siklus. Pesan sekarang dan kami antar langsung ke depan rumahmu #TanpaPlastik,”  demikian pesan tambahan dari Siklus.

    Baca: 5 Ciri produk ramah lingkungan

    Dilansir di laman resminya, https://www.siklus.com, Siklus berdiri pada Juni 2020. Awalnya melayani kelompok menengah bawah di Jabodetabek, namun ke depan diharapkan bisa berkembang ke seluruh Indonesia.

    “Kami memulai perjalanan ini dengan tim yang terdiri dari dua orang yang bekerja di rumah sederhana dan hanya mengoperasikan satu Gerobak. Kami dulunya adalah tim yang kecil tetapi memiliki mimpi yang besar – untuk menciptakan cara kerja retail yang berbeda dari biasanya,” demikian Siklus menuliskan awal berdirinya usaha ini.

    Setiap hari, lanjut Siklus, kami berkomunikasi dengan pelanggan kami, mendengar cerita perjuangan dan kemenangan mereka. Mendengar cerita bagaimana mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka di tengah pandemi.

     

    Baca: Alasan untuk beralih ke mobil listrik

    Mereka tinggal di tempat yang dipenuhi sampah plastik. Kami melihat anak-anak bermain di dekat asap beracun dari pembakaran plastik dan banyak rumah-rumah terkena banjir.

    “Inilah kenapa kami peduli. Inilah kenapa kami ingin membuat sebuah perubahan bersama pelanggan kami – pada setiap isi ulang,” imbuh Siklus

    Siklus lahir karena keprihatinan atas tingginya produksi sampah plastik di Indonesia. Indonesia adalah pencemar plastik di laut terbesar kedua di dunia.

    Sebanyak satu truk plastik dibuang ke lautan Indonesia setiap 20 detik! Barang yang paling sering ditemukan di pantai Indonesia adalah sachet dan bungkus plastik yang tidak dapat didaur ulang.

    Baca: Aksi keren ini layak ditiru

    Kemasan-kemasan plastik tersebut hanya digunakan sekali dan berakhir di lautan, sungai, danau dan tempat pembuangan sampah yang menyebabkan banjir, penyakit, dan banyak hewan laut mati.

    Parahnya lagi, uang yang harus dikeluarkan untuk bungkus plastik yang akhirnya hanya mencemari laut itu tidak sedikit. Sekitar 15% dari harga produk adalah biaya kemasan plastik.
     
    “Ketika produk kebutuhan sehari-hari dijual dalam jumlah yang lebih sedikit, biaya dari kemasan plastik tersebut harus ditanggung oleh pembeli sehingga menyebabkan pembeli membayar lebih besar dan ini yang dinamakan ‘pajak kemiskinan’.
     

     

     

    Berangkat dari keprihatinan ini maka Siklus membangun armada yang siap mendatangi pemukiman untuk mengisi ulang 

    Maka mulai sekarang gunakan kembali wadah dan isi ulang produk pesananmu lewat Siklus. Karena dengan demikian kamu turut menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi sampah plastik sekali pakai.

     

     
     

     

  • 6 Cara Asyik Kurangi Sampah Plastik

    6 Cara Asyik Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Di balik beragam manfaatnya, plastik terutama plastik sekali pakai ternyata menyimpan banyak hal negatif bagi kelestarian lingkungan.

    Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Dan sebagian besar limbah plastik ini berakhir di laut, mencemari dan kemudian meracuni lingkungan.

    Banyak dari kita yang sudah tahu, bahwa sampah plastik butuh waktu ratusan tahun untuk terurai, Sampah yang terurai menjadi mikroplastik kemudian mencemari lingkungan dan bahkan meracuni makhluk hidup termasuk manusia.

    Karena itu, kesadaran untuk menghindari penggunaan plastik secara berlebihan menjadi salah satu solusinya.

    Baca: Kenali jenis plastik biar tak salah pilih

    Selain dimulai dari para individu mengurangi penggunaan plastik juga dibutuhkan dukungan kebijakan pemerintah agar pembatasan penggunaan plastik sekali pakai bisa berlangsung secara massal. 

    Dari sisi produsen juga perlu didorong agar berinovasi untuk mengurangi penggunaan plastik untuk kemasan produk mereka. 

    Namun sebelum semua itu terlaksana, kita sebagai individu bisa mulai melakukan sejumlah langkah kecil yang besar dampaknya bagi lingkungan.

    Baca: Mengapa plastik sekali pakai harus dilarang?

    Berikut sejumlah langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi produksi limbah plastik: 

    1. Bawa Kantong Belanja Sendiri
    Meskipun kantong plastik memang praktis, tapi hal inilah yang membuat sampah pada bumi terus bertumpuk tak terkendali.

    Membawa kantong belanja sendiri saat belanja atau bepergian adalah cara yang paling mudah untuk berkontribusi mengurangi sampah pribadi.

    Baca: Cara ayiik mengolah sampah rumah tangga

    2. Bawa tempat makan dan botol minum 
    Lebih baik menyiapkan air minum dari rumah dengan menggunakan botol minum atau tumbler.

    Kamu juga bisa selalu membawa tempat makan sendiri, sehingga saat beli makan tidak perlu dibungkus.

    Selain bentuk dari peduli terhadap lingkungan, membawa botol minum sendiri juga bisa menghemat uang.

    3. Tidak menggunakan sedotan plastik
    Sedotan plastik memang terlihat remeh. Tapi bayangkan jika ribuan orang yang berfikir seremeh itu?

    Tentulah sangat berdampak bagi lingkungan. Sekarang, mulailah mengganti sedotan plastik dengan sedotan bambu atau kertas yang ramah lingkungan.

    Baca: Benarkah kaca lebih ramah lingkungan?

    4. Hindari beli makanan/minuman kemasan plastik
    Membeli produk dalam kemasan sachet, tapi belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah.

    Jika memungkinkan, pilih produk yang dikemas dalam botol kaca atau daun.

    5. Beli Produk Isi Ulang

    Saat ini banyak tersedia produk isi ulang, salah satunya Siklus yang melayani pembelian kebutuhan sehari-hari dengan sistem isi ulang. Uniknya, armada Siklus melayani pembeli hingga di depan rumah mereka.

    6. Daur Ulang Sampah Plastik
    Tidak semua plastik bisa didaur ulang. Namun, beberapa barang, seperti botol minuman dan pot tanaman dapat dilakukan proses recycle.

    Kreasikan sampah plastik menjadi hiasan atau barang lain yang dibutuhkan di rumah. Atau kamu bisa memilah sampah plastik lalu menjualnya ke bank sampah. 

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang

  • Dipasang di Atas Tumpukan Sampah, Baliho Caleg PKS Menuai Kritik Warganet

    Dipasang di Atas Tumpukan Sampah, Baliho Caleg PKS Menuai Kritik Warganet

    7cloud.asia – Sebuah baliho kampanye milik caleg asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Depok, Jawa Barat menjadi sorotan.

    Pasalnya baliho bertuliskan “PKS menang, Anies Presiden RI” itu dipasang di atas tumpukan sampah yang ada di depan Pasar Agung Depok Timur. 

    Pemasang baliho seolah tak mempedulikan tumpukan sampah itu. Padahal Depok merupakan basis PKS. Selama empat periode terakhir, kota yang terletak di selatan Jakarta ini dipimpin oleh kader-kader PKS.

    Baca: Gerindra siap mendukung Kaesang Pangarep menjadi balon walikota Depok

    Keberadaan baliho PKS ini tak urung menuai ktikan publik. Pasalnya beberapa hari sebelumnya Pemkot Depok mencopot baliho parpol dengan alasan mengganggu pemandangan.

    “Daripada ngurusin spanduk dan baliho parpol, nggak mau fokus ngurus sampah dulu? Ini di Pasar Agung dan terjadi di mana-mana di Depok karena terjadi penumpukan armada truk sampah di Cipayung.

    Nunggu ada Baliho “PSI Menang, Walikota Kaesang, Sampah Pun Hilang”? demikian cuit Sigit Widodo, pemilik akun @sigitwid

    Baca: PSI sebut pencalonan Kaesang mendapat dukungan warga dan parpol

    lain lagi pendapat Icuk Pramana Putra. Dia mengunggah video pendek di akun Tiktoknya mengritisi keberadaan baliho yang dipasang juru bicara DPP PKS Muhammad Kholid yang sedang maju sebagai calon anggota DPR.

    “Waktu keliling di tadi, saya menemukan hal yang menarik. Bahwa di depan Pasar Agung Depok ada tumpukan sampah yang seharusnya menjadi prioritas walikota.

    Kalau walikota bisa membuat surat edaran terkait spanduk, harusnya teman-teman PKS juga bisa mengingatkan walikota bahwa di bawah baliho mereka ada setumpukan sampah …. ini memalukan,” ujarnya.  

    Baca: PKPU 10/2023 dinilai langkah mundur

    Kepemimpinan PKS di Kota Depok memang sedang disorot setelah PSI mendeklarasikan Kaesang Pangarep menjadi balon walikota Depok. 

    PSI beralasan, Depok butuh perubahan karena  selama hampir 20 tahun kepemimpinan kader PKS, kota Depok dinilai stagnan.

    “PSI Menang, Walikota Kaesang” demikian PSI menyatakan sikapnya. Baliho yang dipasang di Jalan utama di Kota Depok ini seolah menjadi genderang perang bagi kepemimpinan PKS.

    Baca: Kaesang siap menjadi Depok Pertama, ini respon PDIP dan PKS

    Pencalonan Kaesang Pangarep ini sempat memicu kontroversi yang dilanjutkan dengan beredarnya surat edaran dari walikota Depok untuk menertibkan baliho Partai politik.

    Kaesang sendiri sudah menyatakan kesediaannya untuk maju menjadi balon walikota Depok.

    Dan, sejauh ini PSI menyebut pihaknya telah mendapatkan dukungan baik dari warga Depok yang menginginkan perubahan maupun dari sejumlah partai politik. Dukungan untuk Kaesang antara lain telah disiratkan oleh Gerindra.

    Sementara PDIP yang selama ini menjadi jalan politik keluarga Jokowi, belum secara tegas menyatakan sikapnya atas pencalonan Kaesang menjadi balon walikota Depok

  • Mak Oyoh, Merajut Asa di Usia Senja dari Sampah Bungkus Kopi Sachet

    Mak Oyoh, Merajut Asa di Usia Senja dari Sampah Bungkus Kopi Sachet

    7cloud.asia – Tangan keriput Mak Oyoh dengan cekatan melipat-lipat bungkus kopi sachet kosong yang sudah dicuci bersih.

    Matanya lekat menatap gambar serta tulisan yang tertera di bungkus kopi sachet tersebut. Karena gambar ini akan menentukan pola yang dibuatnya.

    Dari bekas bungkus kopi sachet inilah pundi-pundinya mengalir untuk perempuan berumur 70 tahun itu.

    Usia yang tak lagi muda tidak menghalangi Mak Oyoh untuk membuat kerajinan karpet, taplak, dll dari sampah bungkus kopi sachet.

    Baca: Robries, memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Kepada 7cloud.asia sore itu, Mak Oyoh mnegatakan ia mulai menekuni kerajinan dari bungkus kopi sachet ini sejak tiga  tahun lalu.

    Dengan bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa Sunda, mak Oyoh menceritakan kegiatan ini berawal saat dirinya menunggu salah seorang saudaranya di rumah sakit beberapa tahun yang lalu.

    Untuk membunuh rasa bosannya, ia bersama keponakannya iseng belajar menganyam tas dari bungkus kopi sachet yang banyak dijumpai di rumah sakit.

    Kebiasaan menganyam bungkus kopi sachet ini terus dilakukannya saat ia kembali ke rumah. Hingga beberapa hari kemudian, tak sampai satu minggu ia berhasil membuat tikar kecil untuk digunakan sendiri.

     

    Baca: Mengintip rumah plastik milik aktivis lingkungan asal Prancis

    “Awalnya pusing juga, beberapa kali sudah jadi, bongkar lagi. Gitu terus, tapi penasaran pengen bisa,” katanya.

    Dengan prinsip belajar try and error, Mak Oyoh terus mengasah kemampuannya hingga bisa menghasilkan produk yang bagus dan layak dijual. Penjualannya di sekitar Ciamis, Tasikmalaya, Bandung hingga Jakarta.

    Bahkan beberapa waktu lalu ia mengikuti pameran UMKM yang diadakan Pemkab  Ciamis. 

    Mak Oyoh menjelaskan semua pekerjaan ini ia lakukan sendiri. Waktu yang dibutuhkan tergantung ukuran dan detil pesanannya.

    Baca: Klub pantai di Bali ini olah sampah plastiknya jadi aneka perkakas

    “Sebuah tikar berukuran 2 meter lebih biasanya selesai selama satu bulan,” terangnya.

    Dengan bekerja semampu yang ia kerjakan, hingga kini ia telah menyelasaikan ratusan karpet, tikar, taplak serta alas kursi.

    Sehelai karpet berukuran kira-kira 2 meter, biasa ia jual dengan harga Rp 500 ribu. Sementara yang paling murah adalah taplak meja berukuran setengah meter ia jual dengan harga Rp 70 ribu.

    Ibu empat orang anak ini terbiasa mencari sendiri sampah bungkus kopi sachet. Sampah itu juga ia dapat dengan membeli dari pemulung. Biasanya ia beli dengan harga 10 ribu per kilogram.

    Baca: Menyoal dampak lingkungan yang dipicu galon sekali pakai

    Setelah bungkus kopi tersebut terkumpul banyak, lalu mencucinya dengan bersih. Kemudian mulailah ia memotong, melipatnya kecil-kecil dan menganyamnya menjadi sebuah karpet.

    Di sebuah rumah sederhana, Desa Kawasen, Ciamis, Jawa Barat ini, ia melakukan semua proses pembuatan tersebut sendiri, tanpa bantuan siapapun.

    Bukannya ia menolak bantuan, tetapi orang-orang yang membantunya tersebut kerap tidak sesuai harapan hasil pekerjaannya.

    “Yang lama itu kan lipet jadi kecil-kecil. Tapi (dibantu) banyak yang salah. Jadi sama aja kerja dua kali, ya mending sendiri wae lah..,” jelasnya sambil tertawa.

    Baca: Ekosistem guna ulang mulai dibangun antisipasi larangan plastik sekali pakai

    Mak Oyoh mengaku tidak ngoyo dalam mengerjakan pekerjaan ini. Ia sadar usianya tak lagi muda. Disaat badannya sudah lelah, ia akan beristirahat. Ia akan terus bekerja semampunya hingga tangannya tak mampu lagi bergerak.

    Mak Oyoh berharap, apa yang dikerjakannya ini dapat mengurangi sampah bungkus kopi kemasan sachet yang kerap dijumpai.

    Dia juga berharap ada perhatian dari perusahaan kopi untuk membantu atau memberikan penghargaan bagi pelaku UMKM seperti dirinya.

    “Biar tulisannya dibaca dan fotonya dilihat sama perusahaan kopi, ya Neng. Biar dibantu nanti atau dapat mobil,” katanya sambil tertawa memamerkan giginya yang tak utuh lagi.

    Penulis: Nurakhmayani

  • Gerakan Mbah Dirjo di Kota Yogyakarta Mampu Turunkan Sampah hingga 50 Persen

    Gerakan Mbah Dirjo di Kota Yogyakarta Mampu Turunkan Sampah hingga 50 Persen

    7cloud.asia – Gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) yang digencarkan Pemkot Yogyakarta disebut sukses menurunkan volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, program Mbah Dirjo mampu menurunkan volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan hingga 50 persen.

    Program Mbah Dirjo ini mulai diterapkan akhir Juli 2023, menyusul penutupan TPA Piyungan. Meski TPA Piyungan ditutup, zona transisi 1 masih dibuka untuk menerima sampah hanya dari Kota Yogyakarta maksimal 100 ton per hari.

    Baca: Inovasi pengelolaan sampah Mbah Dirjo ala Yogyakarta 

    Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, pada awal gerakan itu dicanangkan, volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta bisa mencapai 100-130 ton per hari.

    Namun, tidak seluruh sampah itu dibawa ke TPA Piyungan karena dibatasi maksimal 100 ton per hari. Karena itu, Pemkot Yogyakarta bekerja sama dengan Pemkab Kulonprogo membuang sekitar 15 ton sampah per hari ke Kulonprogo.

    Sejak diterapkannya Gerakan Mbah Dirjo, volume sampah yang dihasilkan terus mengalami penurunan.

    Baca: Opsi lain mengatasi penutupan TPA Piyungan

    Bahkan, menurut Singgih, sampah yang dibawa ke TPA Piyungan turun menjadi 95 ton per hari.

    “Ini (sampah) yang ke TPA Piyungan kemarin menurun sampai 95 ton. Ini salah satunya keberhasilan dari program Mbah Dirjo,” kata Singgih di kompleks Balai Kota Yogyakarta seperti dikutip ReJogja.

    Sejak Gerakan Mbah Dirjo diluncurkan pada akhir Juli 2023 lalu, hingga kini ada sekitar 16 ribu biopori yang dibuat masyarakat bersama pemkot Yogyakarta.

    Baca: Membangun ekosistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Pemkot Yogyakarta menargetkan Gerakan Mbah Dirjo ini bisa berkontribusi mengurangi sampah sekitar 20-30 persen dari total volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta, yang sebelumnya mencapai 200 ton per hari.

    Volume sampah itu sudah berkurang sekitar 100 ton dengan adanya Gerakan Zero Sampah Anorganik, dari sebelumnya mencapai sekitar 300 ton per hari pada 2022.

    “Kami akan terus kami kembangkan biopori dengan berbagai macam varian yang ada. Baik ember tumpuk, biopori, losida, biolos, dan sebagainya, menyesuaikan kondisi masing-masing rumah,” ujar Singgih.

    Baca: Simak info sistem guna ulang di sini

  • Atasi Krisis Sampah di Sejumlah TPA di Indonesia: Pentingnya Pembangunan Biogas Tingkat Kelurahan

    Atasi Krisis Sampah di Sejumlah TPA di Indonesia: Pentingnya Pembangunan Biogas Tingkat Kelurahan

    7cloud.asia – Kebakaran besar yang melanda tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, merupakan puncak gunung es dari masalah pengelolaan sampah organik di Indonesia.

    Gunungan sampah di TPA Sarimukti terbakar sejak 19 Agustus lalu, diduga akibat puntung rokok dan gas metana dari sampah yang menumpuk.

    Saat ini, volume sampah di TPA Sarimukti sudah tujuh kali lebih besar dari kapasitas seharusnya.

    Sebelumnya juga timbul masalah di TPA Piyungan, Yogyakarta, yang tutup sementara akibat kelebihan kapasitas. Begitu juga di TPA Cipayung di Depok, Jawa Barat.

    Upaya pengurangan sampah di kota-kota besar sangat mendesak–apalagi sampah dapur yang porsinya paling besar.

    Seperti apa langkah yang harus dilakukan terkait krisis sampah ini? berikut kajian dari The Purnomo Yusgiantoro Center.

    Baca: Gerakan biopori Mabh Dirjo mampu turunkan produksi sampah di Yogyakarta

    Laporan kajiannya disusun oleh Muhammad Salman Hakim dan Vivi Fitriyanti masing-masing adalah Research Administrator dan Researcher dari The Purnomo Yusgiantoro Center yang telah diterbitkan di The Conversation.

    Kami menganggap Indonesia seharusnya menempuh langkah strategis memanfaatkan sampah dapur menjadi menjadi biogas, yaitu energi gas ramah lingkungan yang dihasilkan dari limbah organik.

    Tak perlu muluk-muluk membangun fasilitas biogas berskala besar. Pemerintah daerah hanya perlu menyiapkan fasilitas pengolahan sampah organik menjadi biogas di tingkat kelurahan atau desa bersama masyarakat setempat.

    Dengan langkah ini, kami meyakini sampah organik di kota-kota dapat berkurang. Masyarakat juga bisa memanfaatkan energinya untuk kegiatan sehari-hari, misalnya memasak.

    Baca: Start up dari Singapura mampu olah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Beraneka manfaat biogas kelurahan
    Biogas adalah sumber energi ramah lingkungan diperoleh dari hasil penguraian material organik secara anaerob (tanpa oksigen) oleh mikroba.

    Gas ini terdiri dari gas metana, karbon dioksida, nitrogen, hitrogen sulfida, hingga uap air.

    Penggunaan biogas dapat menciptakan peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat melalui konsep waste to energy.

    Sampah dapur yang dahulu langsung dibuang kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan tidak menghasilkan emisi karbon.

    Keuntungan lainnya, pemakaian biogas dapat mengurangi ketergantungan warga dengan gas LPG (liquified petroleum gas) yang berasal dari energi fosil dan kebanyakan pasokannya masih diimpor.

    Baca: Botol kaca dan plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

    Pemakaian biogas dari sampah dapur pernah dilakukan di Kelurahan Cibangkong, Kota Bandung, pada 2011.

    Upaya tersebut diinisiasi Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling)–sebuah komunitas independen di Kelurahan Cibangkong.

    Komunitas ini mengumpulkan sampah dapur yang dihasilkan oleh tiap rumah tangga.

    Setelah dikumpulkan, sampah akan diproses oleh alat bernama biodigester dan didistribusikan kepada beberapa rumah tangga.

    Biogas sampah dapur di Kelurahan Cibangkong dijual dengan harga Rp 20.000 per bulan–jauh lebih rendah dibandingkan harga LPG ukuran 12 kg saat itu sebesar Rp 70 ribu.

    Dengan harga tersebut, masyarakat bisa menghemat banyak pengeluaran. Harga biogas bahkan bisa lebih murah jika pemerintah memberlakukan program ini secara massal.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Selain biogas, proses pengolahan sampah dapur juga menghasilkan cairan sisa organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia.

    Cairan organik itu dapat dijual sebagai pupuk sehingga menjadi peluang bisnis ramah lingkungan bagi masyarakat.

    Di Kelurahan Cibangkong, pupuk cair tersebut dijual dengan harga Rp 20 ribu per liter sehingga bisa menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat.

    Usaha menjalankan proyek biogas kelurahan memang belum luput dari tantangan.

    Pertama adalah masalah biaya. Per 2020, pemasangan biodigester berukuran 6 meter bisa memakan biaya sebanyak Rp 11 juta.

    Sumber pendanaan dari pemerintah pun cukup terbatas sehingga pelaksanaannya masih membutuhkan keterlibatan swasta (biasanya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan).

    Baca: Cara bijak memilah sampah dari rumah

    Pelaksanaan program biogas saat ini juga belum diiringi kerja sama yang baik antar lembaga.

    Sebagai contoh, dari tingkat pemerintah pusat, program pengembangan biogas tersebar di banyak kementerian dan tidak diiringi dengan koordinasi yang baik.

    Perkara lainnya, Indonesia juga tidak memiliki rencana khusus untuk pengembangan biogas seperti Tiongkok, padahal potensi yang dimiliki sangat besar.

    Pada level masyarakat, koordinasi untuk mengumpulkan sampah dapur, operasionalisasi sistem biogas, dan proses pemeliharaan menjadi tantangan tersendiri.

    Masyarakat juga masih menilai penggunaan biogas cukup rumit apabila dibandingkan LPG.

    Sebagai contoh, Kelurahan Cihaurgeulis di Bandung sempat mendapatkan bantuan untuk pengembangan biogas, tapi hal tersebut tidak bertahan lama diakibatkan kurangnya pengetahuan warga dan bimbingan tentang sistem biogas.

    Baca: Cara mengolah sampah dengan cara ditimbun sudah harus diakhiri

    Rekomendasi pemanfaatan biogas
    Untuk meningkatkan pemanfaatan biogas dari sampah dapur, kami memiliki lima rekomendasi:

    Pertama, pemerintah harus mengupayakan berbagai bentuk pembiayaan lain untuk mengembangkan biogas di perkotaan.

    Misalnya melalui pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan ataupun pengalokasian anggaran daerah untuk pengeluaran modal (capital expenditure).

    Kedua, pemerintah perlu mendampingi masyarakat mulai dari wawasan lingkungan hingga aspek teknis pemanfaatan biogas dari sampah dapur.

    Pemerintah Daerah dan organisasi masyarakat dapat menjadi tokoh dalam aksi pendampingan tersebut.

    Ketiga, memotivasi masyarakat dalam memisahkan sampah dapur melalui program-program yang menyentuh kebiasaan masyarakat.

    Misalnya, warga diajak untuk melihat perjalanan sampah mereka. Bisa juga melalui penghargaan, bahkan perlombaan ‘minim sampah’ antar-RT.

    Baca: Ini yang bisa kita lakukan untuk kurangi sampah makanan

    Keempat, memastikan tata kelola dan petunjuk pelaksanaan yang jelas agar proyek biogas tidak mangkrak.

    Karena itu, pengelolaan biogas oleh perusahaan daerah, koperasi, dan organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) haruslah menjunjung prinsip tata kelola yang baik.

    Terakhir, saat ini masyarakat masih menggunakan LPG karena adanya subsidi dari pemerintah. Namun, kondisi lapangan pun membuktikan bahwa subsidi LPG tidak tepat sasaran.

    Dalam jangka panjang, pemerintah semestinya dapat mengalihkan anggaran subsidi LPG ke pengembangan biogas khususnya di daerah yang potensial sehingga mampu meningkatkan minat masyarakat.

    Sumber: The Conversation