Tag: banjir

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Potensi Banjir di Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada Potensi Banjir di Wilayah Ini

    7cloud.asia – Meski musim kemarau, tetapi masih ada sejumlah wilayah yang berpotensi hujan lebat hingga menyebabkan bencana hidrometeorologi pada Rabu (24/07/2024).

    Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan lebat yang mengakibatkan bencana tersebut berpotensi mengguyur wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Gorontalo,.

    Wilayah lain yang berpotensi terjadi bencana hidrometeorolgi adalah Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan

    Sedangkan sebagian besar wilayah lainnya diperkirakan cerah berawan. Suhu udara berkisar antara 19 hingga 34 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung.

    Suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Banda Aceh, Serang, Semarang dan Medan.

    BMKG juga memperkirakan hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur wilayah perairan berpotensi terjadi di Laut Andaman, Laut Natuna Utara, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Filipina, Laut Sulawesi.

    Selain itu Selat Makassar, Perairan timur Kalimantan Utara, Teluk Tomini, Laut Halmahera,Laut Maluku, Laut Seram, Laut Arafuru, Teluk Cendrawasih juga diperkirakan hujan dengan intensitas lebat.

    Kondisi cuaca serupa diprediksi terjadi di perairan utara Halmahera hingga utara Papua, Samudra Pasifik timur Filipina dan Samudra Pasifik utara Papua.

     

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Berpotensi Mengguyur Wilayah Ini, Waspada Banjir

    Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Berpotensi Mengguyur Wilayah Ini, Waspada Banjir

    7cloud.asia – Hujan lebat berpotensi mengguyur dua kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu (31/07/2024) hingga beberapa hari mendatang.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga untuk mewaspadai dampak yang dapat terjadi akibat hujan lebat tersebut.

    “Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat harus waspada dampak hujan lebat hingga 1 Agustus,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenotek seperti yang dilansir Antaranews.

    Selanjutnya Sti menjelaskan hujan lebat tersebut dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di dua wilayah tersebut.

    Baca: Banjir Gorontalo, 7 ribu warga masih mengungsi

    Karena itu, dia mengimbau warga yang bermukim di daerah tebing yang terjal atau curam untuk waspada dengan ancaman longsor saat hujan turun dengan durasi yang lama. Demikian juga untuk warga yang tinggal di bantaran sungai.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, Sti mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di luar rumah, kecuali keadaan mendesak saat hujan deras. “Selalu berhati-hati dan waspada,” pesannya.

    Sementara itu Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Manggarai, Decky Irmawan telah mengeluarkan peringatan dini bagi warga Manggarai.

    Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah tersebut pada pagi hingga malam hari.

    Baca: waspada potensi banjir di wilayah ini

    Selain itu adanya potensi   peningkatan kecepatan angin lebih dari 35 km per jam. “Penyebabnya adanya aktivitas Gelombang Rossby,” ujar Decky.

    Sebelumnya Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan beberapa wilayah Indonesia akan mulai kembali menghadapi fenomena iklim La Nina yang diprakirakan berlangsung pada Agustus mendatang.

    Fenomena La Nina merupakan fenomena yang terjadi akibat banyaknya uap air yang masuk ke wilayah Indonesia.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi memicu bencana

    Akibatnya pertumbuhan awan-awan hujan meningkat dan potensi terjadinya hujan juga meningkat.

    BMKG memperkirakan fenomena ini dapat menimbulkan potensi hujan berintensitas sedang-lebat, disertai kilat/petir angin kencang yang mengakibatkan banjir, banjir bandang, angin puting beliung, tanah longsor.

    Sedangkan untuk wilayah DKI Jakarta sebagian besar cuaca cerah berawan seharian. Suhu berkisar antara 24 hingga 32 derajat celsius dengan kelembaban 74-86 persen.

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi, Waspada Banjir

    Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi, Waspada Banjir

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bencana hidrometeorologi melanda beberapa wilayah di Indonesia akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada Rabu (07/08/2024).

    Bencana hidrometeorologi tersebut dapat berupa bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, pohon tumbang, dan lain-lain.

    Laman resmi BMKG menyebut wilayah yang berpotensi dilanda bencana tersebut adalah sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau.

    Potensi bencana juga terjadi di sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan.

    Selain itu sebagian wilayah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan juga berpeluang terjadi bencana hidrometeorologi.

    Untuk seluruh wilayah DKI Jakarta, BMKG memperkirakan cuaca berawan tebal dari pagi hingga malam hari.

    Sementara di wilayah perairan, hujan dengan intensitas lebat berpeluang terjadi di Samudra Hindia barat Sumatra, perairan barat Sumatra, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Selat Makassar, Laut Sulawesi.

    Kondisi cuaca serupa juga berpotensi terjadi di Teluk Bone, Teluk Tomini, Laut Halmahera, Laut Maluku, Teluk Cendrawasih, Laut Arafuru, dan perairan utara Halmahera hingga Papua.

  • Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir, Ini Rekomendasi untuk Memulihkan

    Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir, Ini Rekomendasi untuk Memulihkan

    7cloud.asia – Kegiatan pariwisata di kawasan Kaldera Tengger (dikenal dengan kawasan wisata Bromo), Jawa Timur, ternyata mengakibatkan kawasan ini makin rawan banjir.

    Tanah di kawasan wisata Bromo sebagian besar terdiri atas pasir vulkanis yang sebetulnya mudah menyerap air dan menjadi kawasan resapan air hujan.

    Namun, ada dugaan bahwa kaki-kaki wisatawan maupun kendaraan yang setiap hari melintas membuat pasir tersebut menjadi padat.

    Riset yang dilakukan Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijayabekerja sama dengan pengelola TNBTS pada 2017-2018 memperkuat dugaan tersebut.

    Kawasan wisata Bromo mengalami pemadatan tanah akibat pijakan manusia, hewan, maupun kendaraan bermotor, di lokasi atau jalur-jalur ilegal (di luar jalur ‘resmi’ yang ditetapkan oleh pengelola taman nasional).

    Terbentuknya jaringan jalur-jalur ilegal dengan karakteristik tanah yang padat tidak hanya menyebabkan hilangnya vegetasi dipermukaan tanah.

    Baca: Pariwisata membuat kawasan wisata Bromo rawan banjir

    Ini juga berefek pada berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Dampaknya, terjadi peningkatan limpasan air permukaan dan banjir yang semakin sering terjadi di kawasan Bromo.

     

    Apakah kondisi ini bisa diperbaiki dan apa yang harus dilakukan? Berikut hasil rekomendasi tim peneliti dari Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijaya

    Pemadatan tanah di kawasan Bromo sebenarnya bisa pulih secara alami dengan membiarkan akar vegetasi dan hewan-hewan tanah membentuk lubang pori dan menggemburkan tanah.

    Namun, pemulihan ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebuah riset di Gurun Mojave menunjukkan bahwa secara alami, pemulihan tanah yang memadat membutuhkan waktu sekitar 70-124 tahun.

    Pemulihan ini pun baru bisa optimal jika suatu area tidak terganggu oleh pijakan kaki maupun gilasan roda kendaraan.

    Selain cara alami, tanah juga dapat kita pulihkan melalui cara mekanis dengan secara langsung memecah lapisan-lapisan tanah permukaan yang keras.

    Baca: Kawasan wisata Bromo ditutup sementara

    Ini mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah. Namun, pendekatan ini membutuhkan kerja keras dari pengelola.

    Menyeimbangkan pariwisata dan konservasi
    Untuk mencegah pemadatan tanah dan kerusakan lainnya, pengelola taman nasional sebenarnya telah membatasi akses pengunjung ke area-area yang sensitif terhadap gangguan seperti di Bukit Teletubbies.

    Pihak pengelola juga telah menerapkan sistem kuota pengunjung seperti yang diberlakukan untuk jalur pendakian Gunung Semeru.

    Namun, usaha pembatasan hanya berdasarkan kuota ini sepertinya belum cukup. Pengelola dapat menetapkan jalur wisata yang jelas dan mendorong pengunjung untuk tetap berada di jalur-jalur tersebut untuk mengurangi gangguan pada tanah.

    Penegakan aturan dan sanksi tegas terhadap pengunjung yang keluar dari jalur ‘resmi’ ini patut diperhitungkan.

    Upaya preventif seperti perbaikan dan pembangunan pagar dua sisi di sepanjang jalur juga penting untuk mencegah wisatawan masuk ke kawasan terlarang (terutama di area-area yang sensitif).

    Baca: Aksi bersih sampah di kawasan wisata Bromo

    Infrastruktur yang bagus dapat mengatur aliran pengunjung sehingga dapat mengurangi dampak buruk aktivitas wisata.

    Hal yang tak kalah penting adalah komunikasi risiko lingkungan di Bromo kepada wisatawan dan pemangku kepentingan lokal seperti pemandu wisata, pemilik jasa angkutan, maupun pemilik penginapan.

    Seluruh pihak patut menyadari bahwa aktivitas mereka dapat berdampak negatif terhadap kelangsungan kawasan Bromo.

    Kolaborasi pengelola taman nasional juga komunitas lokal sangat penting untuk menerapkan strategi penyeimbangan aktivitas wisata dan konservasi ini.

    Komunitas lokal, yang sebagian besar bergantung pada pariwisata untuk mata pencaharian mereka, perlu menjadi bagian integral dari percakapan konservasi.

    Dengan menyelaraskan kepentingan komunitas dengan tujuan lingkungan, upaya edukasi terus menerus, dan praktik manajemen yang lebih baik, sangat dimungkinkan untuk menciptakan praktik pariwisata berkelanjutan yang menguntungkan semua pihak.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Danny Dwi Saputra, Dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijaya

     

  • Riset: Aktivitas Wisatawan Akibatkan Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir

    Riset: Aktivitas Wisatawan Akibatkan Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir

    7cloud.asia – Pada Januari lalu, derasnya hujan di kawasan Kaldera Tengger (dikenal dengan kawasan wisata Bromo), Jawa Timur, memicu banjir di permukaan hingga membentuk seperti aliran sungai besar.

    Kejadian banjir ini kemudian menghambat lalu-lintas warga maupun wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan wisata Bromo.

    Banjir bukan pertama kali terjadi. Lima tahun lalu, kawasan wisata Bromo mengalami kejadian serupa. Bahkan, menurut warga setempat, banjir di kawasan yang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini sudah terjadi sejak 2011.

    Tanah di kawasan wisata Bromo sebagian besar terdiri atas pasir vulkanis yang sebetulnya mudah menyerap air dan menjadi kawasan resapan air hujan.

    Namun, ada dugaan bahwa kaki-kaki wisatawan maupun kendaraan yang setiap hari melintas membuat pasir tersebut menjadi padat.

    Baca: Kawasan Wisata Bromo ditutup untuk acara Yadnya Kasada

    Riset yang dilakukan Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijayabekerja sama dengan pengelola TNBTS pada 2017-2018 memperkuat dugaan tersebut.

    Kawasan wisata Bromo mengalami pemadatan tanah akibat pijakan manusia, hewan, maupun kendaraan bermotor, di lokasi atau jalur-jalur ilegal (di luar jalur ‘resmi’ yang ditetapkan oleh pengelola taman nasional).

    Terbentuknya jaringan jalur-jalur ilegal dengan karakteristik tanah yang padat tidak hanya menyebabkan hilangnya vegetasi dipermukaan tanah.

    Ini juga berefek pada berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Dampaknya, terjadi peningkatan limpasan air permukaan dan banjir yang semakin sering terjadi di kawasan Bromo.

    Riset ini membagi kawasan wisata Kaldera Tengger ini menjadi lima titik panas, yaitu:
    1) Area jalur masuk dekat Wonokitri sebelah utara Gunung Bromo
    2) Area parkir kendaraan dekat Pura
    3) Area sebelum tangga kawah Gunung Bromo 4) Area Pasir berbisik sebelah barat Gunung Bromo
    5) Area Bukit Teletubbies sebelah selatan Gunung Bromo.

    Baca: Aksi bersih sampah di Kawasan Wisata Bromo

    Masing-masing area hotspots dibagi menjadi tiga zona berdasarkan intensitas aktivitas/gangguan, yaitu: zona 1 (kondisi alami/tidak terganggu), zona 2 (intensitas sedang-rendah), dan zona 3 (intensitas tinggi).

    Tim menemukan bahwa area dengan tingkat gangguan yang lebih tinggi (Zona 2 dan 3), khususnya di area sensitif seperti jalur masuk Wonokitri dan area savana Bukit Teletubbies, memiliki tanah yang lebih padat dibandingkan dengan area yang kurang terganggu.

    Hal ini terlihat dari peningkatan resistensi penetrasi tanah, terutama pada 40 cm pertama kedalaman tanah.

    Secara sederhana, resistensi penetrasi tanah dapat diartikan sebagai tingkat mudah atau sulitnya suatu benda dapat menembus tanah. Ini menunjukkan kepadatan atau kekerasan tanah tersebut.

    Semakin padat suatu tanah, kemampuannya menyerap air semakin rendah. Ini menyebabkan air langsung terlimpas ke permukaan dan dapat memicu banjir.

    Baca: Kebakaran di Kawasan Wisata Bromo

    Di area savana Bukit Teletubbies, laju resapan air pada area dengan intensitas gangguan tinggi (zona 3) mencapai 25 kali lebih lambat dibandingkan dengan kondisi alami tanpa gangguan (zona 1).

    Sayangnya, hingga saat ini belum ada penelitian kuantitatif tentang luas wilayah di kawasan Bromo yang mengalami pemadatan tanah.

    Sementara itu, di area lain seperti Pasir Berbisik dan parkir kendaraan dekat pura, lambatnya penyerapan air lebih terkait dengan lapisan tanahnya yang mengeras (cemented layer).

    Lapisan ini terbentuk penumpukan material vulkanik seperti pasir dan abu, belerang, dan air, bukan karena pijakan manusia ataupun kendaraan.

    Apakah kondisi ini bisa diperbaiki dan apa yang harus dilakukan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Danny Dwi Saputra, Dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijaya

  • DKI Ajukan Pembangunan 8 Sistem Polder untuk Mencegah Banjir di APBD 2025

    DKI Ajukan Pembangunan 8 Sistem Polder untuk Mencegah Banjir di APBD 2025


    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajukan pembangunan delapan sistem polder pencegah banjir dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025. 

    “Pembangunan sistem polder ini untuk mengatasi banjir di delapan titik,” kata Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum di Jakarta, Senin (12/8/2024).

    Menurut dia, pembangunan sistem polder di Jakarta ini akan dilakukan di delapan lokasi yaitu Pompa Bulak Cabe, Pompa Kayu Putih (Rawa Terate), Cempaka Putih, Cengkareng dan Kalideres, Ancol, Cilincing KBN, Mangga Raya Granville, dan Pompa Kampung Sawah (Rawa Terate).

    Sistem polder merupakan metode penanganan banjir dengan kelengkapan bangunan sarana fisik, meliputi saluran drainase, kolam retensi, dan pompa air yang dikendalikan sebagai satu kesatuan pengelolaan.

    Ia mengatakan penanganan banjir di Jakarta melalui sistem polder ini diharapkan dapat meminimalkan banjir yang kerap terjadi di kawasan tersebut.

    Baca Juga: Mampukah Dewan Aglomerasi Atasi Kemacetan, Polusi Udara dan Banjir di Jakarta?

    Pada proses pembangunan tersebut, kata Ika, tidak ada pembebasan lahan karena berada di tempat yang sudah ada.

    “Kami upayakan tidak ada pembebasan lahan. Ini masih proses perencanaan, pastinya sebelum pembangunan kami akan sosialisasi terlebih dahulu,” tutur Ika, saat rapat kerja dengan Komisi D DPRD DKI.

    Ia mengakui proyek penanganan banjir dengan menggunakan sistem polder memang tidak mudah dan murah, karena membutuhkan anggaran yang besar untuk itu perlu ada dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI.

    “Memang proyek ini tidak mudah, maka kami butuh dukungan dari bapak ibu,” katanya.

    Pembangunan delapan sistem polder ini direncanakan bisa terlaksana mulai tahun 2024 dan ditargetkan selesai pada tahun 2027 dengan anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp3,9 triliun.

    Baca Juga: Konservasi Air: DKI Jakarta Andalkan 147 Waduk dan Embung yang Ada

    Pada lembar perencanaan anggaran, bahwa anggaran yang dibutuhkan bertahap, di mana tahun 2024 dibutuhkan anggaran Rp260 miliar, tahun 2025 Rp712 miliar, untuk tahun 2026 dibutuhkan Rp2,2 triliun, dan pada tahun 2027 sebesar Rp730 miliar.

    Akan tetapi pada rapat Komisi D DPRD dalam rangka pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun 2024 belum disetujui, dan diusulkan untuk diajukan pada APBD 2025 murni.

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa fokus Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk penanganan banjir dan stunting.

    “Eksekutif berkomitmen untuk menangani banjir sesuai dengan kebijakan yang telah disusun dalam Rencana Pembangunan Daerah tahun 2023-2026,” kata Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono.

    Menurut dia, penyusunan Raperda Perubahan APBD 2024 ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan bersama antara eksekutif dengan legislatif terhadap Perubahan Kebijakan Umum Anggaran serta Perubahan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2024.

    Baca Juga: Embung Pekayon Jakarta Timur Direvitalisasi, Jadi Area Tangkapan Air yang Dilengkapi Pusat Kegiatan Masyarakat

    Ia menjelaskan, ada sejumlah poin penting yang menjadi fokus Pemprov DKI Jakarta dalam raperda ini, seperti penanganan banjir, kemacetan, sampah, bantuan sosial dan penanganan stunting atau tengkes.

    Untuk tahap pertama ditargetkan untuk membangun dan atau revitalisasi 16 Sungai, Danau, Embung dan Waduk (SDEW) secara bertahap pada tahun 2024.

    “Kemudian, melaksanakan program pemeliharaan prasarana dan sarana pengendali banjir serta pengembangan sistem pemantauan banjir,” tuturnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Pengerukan Kali Kamal Mencapai Segmen Ketiga dan Dijadwalkan Rampung Akhir Tahun Ini

    Pengerukan Kali Kamal Mencapai Segmen Ketiga dan Dijadwalkan Rampung Akhir Tahun Ini

    7cloud.asia – Pengerukan segmen ketiga Kali Kamal di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, mulai dari Jembatan Menceng Raya sampai Jalan Satu Meret kini masuk tahap sosialisasi.

    Sosialisasi tersebut utamanya dilakukan untuk memberitahu warga tentang lalu lintas alat berat serta truk pengangkut lumpur di area sekitar selama proses pengerukan Kali Kamal berlangsung.

    “Mau turun satu alat lagi tapi masih proses sosialisasi ke warganya. Jadi sekarang sudah mau turun pengerukan yang segmen tiga,” kata Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat Purwanti Suryandari di Jakarta pada Kamis (15/8/2024).

    Adapun pengerukan Kali Kamal dibagi menjadi tiga segmen pengerjaan, yakni segmen pertama mulai dari Jembatan Kapuk Kamal sampai dengan Jembatan Risma.

    Kemudian segmen kedua mulai dari mulai dari Jembatan Risma sampai dengan Jembatan Menceng Raya.

    Baca Juga: Embung Pekayon Jakarta Timur Direvitalisasi, Jadi Area Tangkapan Air yang Dilengkapi Pusat Kegiatan Masyarakat

    Hingga 26 Juli 2024, pengerukan segmen pertama telah mencapai 90 persen dan kini sudah hampir selesai.

    “Segmen pertama sudah hampir selesai, tinggal dikit lagi persentasenya belum bisa dirinci. Terus segmen kedua juga masih terus berproses, sudah majulah dari kemarin (26 Juli 2024),” kata Purwanti.

    Pengerukan Kali Kamal yang telah dimulai sejak 2 Mei 2024 itu ditargetkan rampung akhir tahun ini.

    Purwanti menyebutkan bahwa genangan yang sering terjadi di sekitar Kali Kamal utamanya diakibatkan debit aliran dari Cisadane melalui Pintu Air 10 di Tangerang melewati Rawa Bokor menuju Saluran Irigasi.

    Genangan di sekitar Kali Kamal juga akibat genangan rob yang terjadi di daerah Muara.

    “Jakarta Barat itu kan cekungan dan punya elevasi lebih rendah dari daerah Utara. Nah itu mengakibatkan durasi waktu genangan di Tegal Alur jadi lebih lama surut,” kata Purwanti.

    Baca Juga: Konservasi Air: DKI Jakarta Andalkan 147 Waduk dan Embung yang Ada

    Selain itu, kata Purwanti, ditambah dengan adanya beberapa penghalang aliran seperti jembatan orang yang melintang sungai, banyak sedimentasi dan elevasi dasar saliran yang tidak beraturan.

    Beberapa daerah rawan genangan adalah RW 1 (Rawa Melati), RW 03, tepatnya di belakang Rusun Tegal Alur di Jalan Lingkungan III), kemudian RW 3, 15, 13 di Jalan Prepedan, RW 9 (Gang Sadun).

    “Sementara penanganannya itu pembangunan Pompa Kamal dengan Kapasitas 30 meter kubik per detik,” kata Purwanti.

    Purwanti mengatakan bahwa dengan adanya pompa tersebut lokasi Gang Sadun sampai dengan Jembatan (RW 09) tidak lagi tergenang.

    “Saat ini masih pengerukan kali, tujuannya untuk turunkan elevasi dasar saluran dan buat elevasi kali beraturan,” kata Purwanti.

    Baca Juga: DKI Ajukan Pembangunan 8 Sistem Polder untuk Mencegah Banjir di APBD 2025

    Kali Kamal awalnya merupakan saluran irigasi memiliki panjang saluran induk sekitar 4,5 kilometer dengan luas catchment area (daerah tangkapan air) sekira seluas 1.618 hektar.

    Kali Kamal berhilir di Jakarta Utara dengan sebagian alirannya mengalir melintasi wilayah Jakarta Barat dan Provinsi Banten. Saat ini perubahan Kali Kamal dari aliran irigasi ke aliran drainase belum optimal.

    Secara garis besar terdapat empat aliran yang menuju Kali Kamal, yakni Saluran Penghubung Tegal Alur yang berhulu di saluran pinggir Tol Lingkar Luar Barat, kemudian Saluran Penghunung Palem Lestari yang berhulu di Perumahan Taman Palem Lestari.

    Kemudian Saluran Penghubung Kamal Benda yang berhulu dari Tangerang dan lalu saluran irigasi yang berhulu dari Rawa Bokor Tangerang sampai Pintu Air 10 Kali Cisadane.

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Banjir, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Lebat

    Cuaca Hari Ini: Waspada Banjir, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Lebat

    7cloud.asia – Sebagian besar wilayah di Indonesia berpeluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada Sabtu (24/08/2024).

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan memperkirakan hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi.

    Selain itu wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah berpotensi hujan sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa juga terjadi di wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

    Sementara wilayah lainnya termasuk seluruh wilayah Jakarta cuaca diperkirakan cerah berawn seharian.

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 34 derajat celsius. Tingkat kelembaban udara antara 25 hingga 100 persen.

    Suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Bandung dan Jayawijaya. Sedangkan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Medan, Serang, Semarang dan Surabaya.

    BMKG juga memperkirakan hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur wilayah perairan di Indonesia.

    Seperti Perairan barat Sumatra, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Sulu, Laut Sulawesi, Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Perairan utara Papua.

    Tak hanya hujan lebat, banjir rob juga berpeluang terjadi di wilayah pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau dan pesisir Jawa Barat.

     

  • Banjir Besar di Nigeria, 33 Orang Tewas

    Banjir Besar di Nigeria, 33 Orang Tewas

    7cloud.asia – Sedikitnya 33 orang tewas akibat banjir setelah hujan deras selama beberapa hari di Negara Bagian Jigawa, Nigeria barat laut, kata seorang pejabat pada Jumat (23/8).

    Haruna Mairinga, kepala Badan Manajemen Darurat Negara, mengatakan kepada Anadolu bahwa hujan deras yang turun terus-menerus di Jigawa, yang dikenal sebagai negara bagian serta pertanian, terjadi dari pertengahan minggu hingga akhir pekan.

    Fenomena alam itu menyebabkan jembatan di sungai runtuh, meluasnya bencana banjir dan kehancuran pada wilayah yang terdampak.

    Baca: Banjir kepung Hongkong

    “Jumlah korban tewas akibat insiden banjir yang terjadi di 14 wilayah pemerintahan lokal di Negara Bagian Jigawa kini mencapai 33 orang,” meningkat dari 28 sebelumnya dalam pekan ini, katanya.

    Dia menambahkan bahwa ada sebanyak “44.000 orang telah kehilangan tempat tinggal.”

    Dia juga mengatakan banjir tersebut merusak 7.800 rumah dan menggenangi 10.337 hektar lahan pertanian.

    Baca: Banjir di Aceh, 1 balita tewas

    Ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir tersebut sedang menerima perawatan medis dan bantuan makanan di tempat penampungan sementara yang disediakan oleh pemerintah, katanya.

    Pemerintah dan masyarakat khawatir banjir ini akan terus berlanjut setelah ada peringatan banjir yang dikeluarkan Badan Layanan Hidrologi negara itu pada Jumat terkait meningkatnya permukaan air Sungai Niger di Niger, negara tetangga Nigeria.

    Sumber : Anadolu

  • Banjir Bandang Terjang Ternate, 14 Orang Meninggal

    Banjir Bandang Terjang Ternate, 14 Orang Meninggal

    7cloud.asia – Banjir bandang melanda Kecamatan Rua, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Minggu (25/08/2024) dini hari. Sebanyak 14 orang meninggal dan 2 orang lainnya selamat.

    “Empat belas meninggal dunia dan dua orang selamat,” ujar Direktur Operasi Basarnas, Edy Prakoso.

    melansir Antaranews, Edy menjelaskan data ini masih bersifat sementara dari personel SAR gabungan yang berada di lokasi. Jumlah korban kemungkinan dapat bertambah pula.

    Menurut Edy, saat ini tim SAR gabungan masih berupaya melakukan proses evakuasi sejumlah warga dari material bangunan yang roboh akibat diterjang banjir bandang pada pukul 03.30 WIT dini hari tadi.

    Baca: Banjir hingga 2 meter melanda Gorontalo

    Tim SAR gabungan tersebut terdiri dari personel Kantor SAR Ternate, TNI, Polri, BPBD, Tagana Pemerintah Kota Ternate, relawan dan warga Kelurahan Rua.

    Untuk melakukan evakuasi korban, kantor SAR Ternate mengerahkan dua unit mobil rescue, peralatan evakuasi, medis dan komunikasi.

    Pihaknya juga mengimbau masyarakat yang merasa ada anggota keluarganya hilang setelah bencana tadi dapat melapor ke petugas gabungan di lokasi bencana yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Ternate, Fathur Rahman.

    Sementara itu, kondisi cuaca di Kecamatan Rua, Kota Ternate hari ini hujan dengan intensitas ringan dengan angin berkecepatan 2-6 knots dari arah selatan.