Tag: Israel

  • Memasuki Hari ke 200, Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 34 Ribu Warga Palestina di Jalur Gaza

    Memasuki Hari ke 200, Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 34 Ribu Warga Palestina di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan di wilayah kantong Palestina menyatakan sebanyak 34.183 warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza pada hari ke-200 serangan mematikan Israel.

    “Serangan yang sedang berlangsung sejak Oktober lalu juga telah melukai 77.143 warga Gaza Palestina,” demikian bunyi keterangan resmi Kementerian Kesehatan Palestina, Selasa (23/4/2024).

    Kementerian mencatat bahwa dalam 24 jam terakhir Israel melakukan tiga pembantaian terhadap keluarga di seluruh Jalur Gaza hingga menyebabkan 32 orang tewas dan 59 lainnya luka-luka saat tiba di rumah sakit.

    Baca: Israel bunuh lebih dari 34 warga Palestina

    “Banyak orang masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan dan tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” kata kemenkes.

    Israel telah menggempur Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 orang.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan perang Israel di Gaza telah menyebabkan 85 persen penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Baca: Gaza butuh bantuan besar-besaran

    Selain itu, menurut PBB, lebih dari 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut rusak atau hancur.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Keputusan sementara pada bulan Januari memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan tindakan genosida.

    Selain itu, Tel Aviv mengambil tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

    Baca: Pengakuan kemerdekaan Palestina akan mengoreksi ketidakadilan sejarah

    Sedikitnya 350 tenaga kesehatan juga terbunuh dan 520 lainnya terluka di Jalur Gaza sejak Israel mulai melancarkan agresi ke daerah tersebut pada 7 Oktober 2023, menurut pelapor khusus PBB.

    “Kami mengetahui bahwa sekitar 520 tenaga medis terluka, serta 350 pekerja medis termasuk tenaga kesehatan lainnya, telah tewas,” ucap pelapor khusus PBB untuk hak kesehatan Tlaleng Mofokeng dalam konferensi pers pada Senin (22/4/2024).

    Ia menyatakan, jumlah korban jiwa tersebut tidak termasuk sejumlah remaja Gaza yang berinisiatif membantu tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit.

    Para remaja tersebut tidak terdaftar secara resmi sebagai tenaga kesehatan.

    Sumber: Anadolu

  • Jurnalis Gugur Lagi Akibat Serangan Israel, Kini Menjadi 141 Orang

    Jurnalis Gugur Lagi Akibat Serangan Israel, Kini Menjadi 141 Orang

    7cloud.asia – Seorang jurnalis Palestina gugur dalam serangan udara Israel pada Kamis (25/04/2024), menambah jumlah korban jurnalis tewas menjadi 141 orang sejak Oktober, lapor kantor media pemerintah Gaza.

    Reporter kantor berita Palestine Now, Mohammed al-Jamal, gugur ketika jet tempur Israel menghantam rumahnya di Kota Rafah di Jalur Gaza selatan, demikian menurut pernyataan kantor media tersebut.

    Israel melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza membalas serangan lintas batas yang dilakukan kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan hampir 1.200 orang.

    Baca: Serangan Israel tewaskan 34 ribu warga Palestina

    Sementara serangan balasan menyebabkan lebih dari 34.200 warga Palestina terbunuh dan 77.200 orang lainnya terluka di tengah pengepungan ketat yang dilakukan Israel, yang menyebabkan seluruh penduduk, terutama di Gaza utara, berada di ambang kelaparan.

    Selama lebih dari enam bulan perang Israel sebagian besar wilayah Gaza hancur, sehingga memaksa 85 persen penduduk di daerah kantong tersebut mengungsi.

    Mereka mengalami krisis makanan, air bersih dan obat-obatan yang melumpuhkan, menurut PBB.

    Pada Januari, Israel dituduh telah melakukan genosida dalam gugatan yang diajukan di Mahkamah Internasional (ICJ).

    Putusan sementara ICJ memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil sejumlah tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan menjangkau warga sipil di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Jalur Gaza Dibombardir Israel, PBB Sebut Butuh 14 Tahun Bersihkan Reruntuhan Bangunan

    Jalur Gaza Dibombardir Israel, PBB Sebut Butuh 14 Tahun Bersihkan Reruntuhan Bangunan

    7cloud.asia – Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa mungkin dibutuhkan waktu 14 tahun untuk membersihkan reruntuhan di Jalur Gaza, yang dibombardir dan dihancurkan oleh rezim Israel.

    Diperkirakan 37 juta ton puing menumpuk di Gaza, menurut stasiun TV berita RT Arabic, yang  mengutip pejabat senior Layanan Pekerja Ranjau PBB (UNMAS), Pehr Lodhammar, pada Jumat (26/4).

    “Kita berbicara tentang 14 tahun kerjaan dengan 100 truk,” lapor media asing tersebut, yang mengutip pejabat PBB tersebut.

    Baca: Lebih dari 34 ribu warga Palestina tewas di Jalur Gaza

    Sedikitnya 10 persen dari artileri yang ditemukan di Gaza belum meledak dan menjadi ancaman permanen bagi masyarakat, tim evakuasi, serta pekerja yang membersihkan reruntuhan tersebut, katanya menambahkan.

    Sejak Oktober 2023, militer Israel terus menggempur Jalur Gaza. Perang di wilayah kantong tersebut telah menewaskan lebih dari 34.000 orang, yang kebanyakan di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

    Baca: Jurnalis gugur akibat serangan Israel 141 orang

    Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan 75 pengungsi Gaza atau sekitar 1,7 juta orang, terpaksa menyelamatkan diri.

    Banyak dari mereka disebutkan beberapa kali harus mencari tempat yang cukup aman di tengah gencarnya serangan udara dan penembakan Israel yang melintasi Jalur Palestina yang terkepung itu.

    Sumber: IRNA-OANA

  • Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    7cloud.asia – Kelompok Hamas pada Sabtu (27/4/2024) mengatakan, mereka telah menerima tanggapan resmi Israel terhadap proposal gencatan senjata terbarunya.

    Wakil Ketua Hamas Khalil Al-Hayya mengatakan pihaknya akan mempelajari tanggapan Israel sebelum mengajukan jawabannya.

    “Hamas hari ini telah menerima tanggapan resmi dari pendudukan Zionis terhadap proposal yang disampaikan kepada mediator Mesir dan Qatar pada 13 April,” Khalil Al-Hayya, yang saat ini berbasis di Qatar dalam sebuah pernyataan.

    Setelah lebih dari enam bulan berperang dengan Israel di Gaza, perundingan masih menemui jalan buntu. Hamas tetap berpegang pada tuntutannya bahwa perjanjian apa pun harus mengakhiri perang.

    Delegasi Mesir mengunjungi Israel untuk berdiskusi dengan para pejabat Israel pada Jumat (26/4/202), mencari cara untuk memulai kembali perundingan guna mengakhiri konflik dan mengembalikan sisa sandera yang disandera Hamas.

    Baca Juga: Demonstrasi Besar-besaran Tuntut Diakhirinya Perang Israel-Hamas Berlangsung di Banyak Kampus di AS

    Seorang pejabat yang mengetahui pertemuan tersebut. berbicara tanpa mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa Israel tidak memiliki usulan baru untuk diajukan.

    Namun, pihaknya bersedia untuk mempertimbangkan sebuah kesepakatan gencatan senjata yang bersifat terbatas, yang melibatkan pembebasan 33 sandera oleh Hamas.

    Hal ini menjadi perbandingan dengan usulan sebelumnya yang membahas pembebasan 40 sandera.

    Pada Kamis, Amerika Serikat (AS) dan 17 negara lainnya meminta Hamas untuk membebaskan semua sandera sebagai jalan untuk mengakhiri krisis ini.

    Hamas juga menegaskan bahwa meskipun tidak akan tunduk pada tekanan internasional.

     

    Baca Juga: Rusia: Veto AS Tunjukkan Sikap Washington terhadap Palestina

    Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Jumat, Kelompok Hamas menyatakan terbuka untuk menerima ide atau proposal apapun yang memperhitungkan kebutuhan dan hak-hak rakyat mereka.

    Namun, kelompok Hamas tetap berpegang pada tuntutan utamanya yang telah ditolak oleh Israel.

    Mereka juga mengecam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh AS dan negara lain karena tidak menyerukan gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sedang berusaha mencapai kesepakatan pertukaran sandera dan gencatan senjata di Gaza seperti saat jeda pertama pertempuran hanya berlangsung seminggu pada akhir November tahun lalu.

    Dengan adanya jeda itu, bantuan masuk secara terbatas ke Jalur Gaza serta ada pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina, yang kebanyakan wanita dan anak-anak dari penjara Israel.

     

    Baca Juga: Pakar: Ketegangan Iran dan Israel Untungkan Kelompok Hamas

    Hamas diperkirakan menyandera lebih dari 130 warga Israel, sementara Tel Aviv menahan lebih dari 9.100 warga Palestina di penjaranya.

    Hamas menuntut penghentian serangan mematikan Israel di Jalur Gaza dan penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut bagi kesepakatan pertukaran sandera-tahanan dengan Tel Aviv.

    Mengutip dari dua pejabat Israel, Axios melaporkan bahwa Israel menyampaikan kepada mediator Mesir pada Jumat bahwa mereka bersedia memberikan “kesempatan terakhir” dalam perundingan sandera untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas sebelum memulai invasi ke Rafah.

    Rafah merupakan tempat perlindungan terakhir bagi sekitar satu juta orang di Gaza. Warga Palestina telah melarikan diri lebih jauh ke utara di Gaza saat awal perang, menghindari pasukan Israel.

    Sementara itu, di Rafah, pejabat kesehatan Palestina mengatakan serangan udara Israel terhadap sebuah rumah menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai lainnya.

    Sumber:VOAIndonesia/Anadolu

  • Pejabat Israel Dibayangi Surat Perintah Penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional karena Kejahatan Perang

    Pejabat Israel Dibayangi Surat Perintah Penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional karena Kejahatan Perang

    7cloud.asia – Sejumlah pejabat Israel tampak semakin khawatir bahwa Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC), akan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin negara itu.

    Kekhawatiran ini seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel terkait perang di Gaza.

    Israel berencana melancarkan invasi Rafah di Gaza, meskipun sekutu dekatnya Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara lain telah berulang kali memperingatkan agar Israel tidak melakukan itu.

    AS mengatakan ofensif akan menimbulkan bencana bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang berlindung di kota itu.

    Dalam beberapa hari ini para pejabat Israel juga merujuk pada penyelidikan ICC tiga tahun lalu terhadap kemungkinan telah dilakukannya kejahatan perang oleh Israel dan militan Palestina dalam perang Israel-Hamas pada 2014.

    Penyelidikan itu juga mengkaji pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan yang diinginkan Palestina sebagai ibu kota negara kelak.

    Baca Juga: Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    Belum ada pernyataan apapun dari ICC pada Senin, dan belum ada indikasi bahwa surat perintah penangkapan itu akan segera dikeluarkan.

    Namun Kementerian Luar Negeri Israel pada Minggu (28/4/2024) malam telah memberitahu misi Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang “isu” bahwa surat perintah penangkapan mungkin akan dikeluarkan untuk pejabat-pejabat senior politik dan militer.

    Menteri Luar Negeri Israel Katz mengatakan langkah semacam itu “akan menjadi dorongan moral” bagi Hamas dan kelompok-kelompok militan lainnya.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (26/4/2024) pekan lalu mengatakan “Israel tidak akan pernah menerima upaya apapun oleh ICC untuk merongrong hak inheren untuk membela diri.”

    Lewat platform media sosial X, Netanyahu mencuit:

    “ancaman untuk menangkap sejumlah pemimpin dan militer satu-satunya negara demokrasi dan satu-satunya negara Yahudi di Timur Tengah ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Kami tidak akan tunduk pada hal itu.”

    Baca Juga: Jalur Gaza Dibombardir Israel, PBB Sebut Butuh 14 Tahun Bersihkan Reruntuhan Bangunan

    Belum jelas apa yang memicu kekhawatiran para pejabat Israel ini. Rangkaian pengumuman yang disampaikan Israel dalam beberapa hari terakhir yang mengizinkan masuknya lebih banyak bantuan ke Gaza, tampaknya dimaksudkan untuk mencegah tindakan ICC itu.

    ICJ Lakukan Penyelidikan Terpisah

    Sementara itu, satu badan terpisah, International Court of Justice (ICJ), sedang menyelidiki apakah Israel telah melakukan genosida dalam perang di Gaza yang masih berlangsung.

    Namun keputusan ICJ diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.

    Israel telah menolak tuduhan melakukan kesalahan dan menuduh kedua pengadilan internasional itu bias.

    Sebaliknya Israel menuding Hamas telah melakukan genosida dalam serangan 7 Oktober ke bagian selatan Gaza, yang kemudian memicu perang.

    Sekitar 1.200 warga Israel tewas dalam serangan Hamas itu, sementara 250 lainnya disandera.

    Baca Juga: Demonstrasi Besar-besaran Tuntut Diakhirinya Perang Israel-Hamas Berlangsung di Banyak Kampus di AS

    Israel menanggapi serangan itu dengan melancarkan serangan darat, laut dan udara secara besar-besaran, yang menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza telah menewaskan sedikitnya 34.488 orang.

    Sebagian besar korban meninggal adalah perempuan dan anak-anak. Perang juga akibatkan 80 persen bangunan di Gaza rusak parah.

    Israel menyalahkan Hamas atas besarnya angka kematian warga sipil itu karena kelompok militan itu bertempur di daerah permukiman.

    Militer Israel mengatakan telah menewaskan lebih dari 12.000 militan, tetapi tidak memberikan bukti.

    Perang ini telah memaksa sekitar 80 prsen dari 2,3 juta penduduk Gaza meninggalkan rumah mereka, menimbulkan kehancuran yang luas di sejumlah kota.

    Perang juga mendorong jutaan penduduk Gaza bagian utara ke jurang kelaparan.

    Sumber:VOA Indonesia

  • Lebih dari 10 Ribu Orang Hilang Akibat Serangan Israel ke Palestina

    Lebih dari 10 Ribu Orang Hilang Akibat Serangan Israel ke Palestina

    7cloud.asia – Dinas Pertahanan Sipil Palestina pada Selasa mengatakan lebih dari 10.000 orang hilang di bawah puing-puing bangunan di Jalur Gaza.

    Hal ini terjadi sejak Israel menyerang habis-habisan wilayah kantong Palestina itu pada 7 Oktober 2023.

    “Kami memperkirakan lebih dari 10.000 orang hilang tertimbun reruntuhan ratusan rumah yang hancur sejak dimulainya agresi (Israel),” kata dinas tersebut dalam sebuah pernyataan.

    Disebutkan pula bahwa orang-orang yang hilang itu tidak termasuk dalam daftar korban tewas Kementerian Kesehatan sehingga “jumlah martir melebihi 44.000” orang.

    Baca: Jurnalis gugur akibat serangan Israel sebanyak 141 orang

    Tim penyelamat mulai menemukan jasad-jasad yang sudah membusuk dari bawah reruntuhan gedung-gedung di Jalur Gaza, kata pernyataan itu.

    Israel telah melancarkan serangan brutal ke Gaza sebagai balasan terhadap serangan kelompok Palestina Hamas ke Israel pada 7 Oktober tahun lalu. Menurut Tel Aviv, serangan Hamas itu menewaskan hampir 1.200 orang.

    Serangan-serangan Israel telah menewaskan lebih dari 34.500 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

    Lebih dari 77.700 lainnya terluka akibat kehancuran massal dan kurangnya pasokan kebutuhan pokok.

    Baca: Lebih dari 34 Ribu warga Palestina tewas akibat serangan Israel

    Lebih dari enam bulan setelah perang Israel itu dimulai, sebagian besar wilayah Gaza hancur.

    Dan 85 persen penduduknya terpaksa mengungsi di tengah blokade Israel terhadap kiriman bahan makanan, serta kelangkaan air bersih dan obat-obatan, menurut PBB.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang lewat putusan sela pada Januari memerintahkan Israel untuk menghentikan aksinya dan mengambil tindakan yang menjamin kelancaran bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa menyatakan keprihatinannya dengan rencana invasi darat Israel ke Kota Rafah di Gaza selatan yang dihuni lebih dari 1 juta warga Palestina yang berlindung dari perang Israel-Hamas.

    “Invasi besar-besaran di Kota Rafah akan menjadi bencana kemanusiaan. Kami minta Israel membatalkan (rencana) itu,” kata Tedros di platform media sosial X.

    “Kami mendesak semua pihak untuk mengusahakan gencatan senjata dan perdamaian yang kekal,” katanya, menambahkan.

    Baca: Lebih dari 10 ribu warga Palestina hilang akibat serangan Israel

    Pernyataan Tedros itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (30/4/2024) bersumpah akan menyerang Rafah,

    Rencana Israel untuk menyerang Rafah ini dilontarkan di tengah laporan tentang kemungkinan perjanjian gencatan senjata antara militer Israel dengan Hamas.

    Rafah menjadi tempat pertahanan dan perlindungan terakhir bagi warga Palestina di Gaza.

    Netanyahu mengatakan militer Israel akan mendatangi Rafah untuk menghancurkan pasukan Hamas di sana “dengan atau tanpa perjanjian”.

    Baca: Pejabat Israel dibayangi surat perintah penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional

    Israel terus membombardir Gaza sebagai balasan atas serangan lintas batas Hamas pada 7 Oktober lalu yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

    Lebih dari 34.500 warga Palestina, kebanyakan perempuan dan anak-anak, terbunuh dan ribuan orang lainnya terluka di tengah kehancuran massal dan krisis kebutuhan pokok.

    Selama lebih dari enam bulan perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur dan 85 persen penduduknya mengungsi di tengah kelangkaan bahan makanan, air bersih, dan obat-obatan akibat blokade oleh Israel, menurut PBB.

    Sumber: Anadolu

  • Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    7cloud.asia – Para perunding Hamas mulai mengintensifkan perundingan mengenai kemungkinan gencatan senjata di Gaza pada hari Sabtu (4/5/2024)

    Gencatan senjata akan mensyaratkan pembebasan beberapa orang yang disandera Hamas ke Israel, kata seorang pejabat Hamas kepada Reuters.

    Direktur CIA hadir di perundingan gencatan senjata antar Israel dengan Hamas yang berlangsung di Kairo, Mesir tersebut.

    Delegasi Hamas tiba dari kantor politik gerakan Islam Palestina di Doha, Qatar.

    Qatar bersama Mesir juga telah memediasi tindak lanjut gencatan senjata singkat pada bulan November di tengah kekecewaan internasional atas melonjaknya jumlah korban tewas di Gaza dan penderitaan 2,3 juta jiwa di Gaza.

    Taher Al-Nono, seorang pejabat Hamas dan penasihat ketua Hamas Ismail Haniyeh, mengatakan pertemuan dengan mediator Mesir dan Qatar telah dimulai dan Hamas menangani proposal mereka “dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab”.

    Baca Juga: Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    Namun, ia menegaskan kembali tuntutan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup penarikan Israel dari Gaza dan diakhirinya perang, syarat yang sebelumnya ditolak Israel.

    “Perjanjian apa pun yang ingin dicapai harus mencakup tuntutan nasional kita,” kata Nono dikutip Reuters.com.

    Adapun Hamas menuntut penghentian agresi secara total dan permanen, penarikan penuh dan menyeluruh pendudukan dari Jalur Gaza, pemulangan pengungsi ke rumah mereka tanpa batasan.

    Hamas juga menuntut kesepakatan pertukaran tahanan yang nyata. selain rekonstruksi dan mengakhiri blokade

    Seorang pejabat Israel memberi isyarat bahwa posisi inti Israel tidak berubah, dengan mengatakan pihaknya “dalam keadaan apa pun” tidak akan setuju untuk mengakhiri perang melalui kesepakatan untuk membebaskan sandera.

    Baca Juga: 6 Bulan Perang Israel-Hamas: Lebih 33.000 Meninggal dan Jutaan Orang Palestina Terancam Kelaparan Ekstrem

    Perang dimulai setelah Hamas mengejutkan Israel dengan serangan lintas batas pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang dan 252 sandera, menurut penghitungan Israel.

    Lebih dari 34.600 warga Palestina telah terbunuh – 32 di antaranya terjadi dalam periode 24 jam terakhir – dan lebih dari 77.000 orang terluka dalam serangan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Saat pertemuan di Kairo sedang berlangsung, pasukan Israel mengatakan mereka telah membunuh Aiman ​​​​Zaarab.

    Aiman menurut mereka adalah pemimpin pasukan Jihad Islam di Gaza selatan dan ikut serta dalam serangan 7 Oktober.

    Sebelum perundingan Kairo dimulai, terdapat sejumlah optimisme dari rakyat Palestina.

    “Keadaannya terlihat lebih baik saat ini tetapi apakah kesepakatan akan tercapai tergantung pada apakah Israel telah menawarkan apa yang diperlukan agar hal itu terwujud,” kata seorang pejabat Palestina yang mengetahui upaya mediasi tersebut.

     

  • Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    7cloud.asia – Serangan darat yang dilakukan pasukan Israel akan menimbulkan ‘risiko bencana’ bagi ratusan ribu anak yang selama ini berlindung di Rafah, Gaza Selatan.

    Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF merilis pernyataan tersebut pada Senin (6/5/2024), setelah Israel memerintahkan evakuasi di beberapa lingkungan di Rafah menjelang kemungkinan invasi darat.

    “Rafah sekarang menjadi kota anak-anak yang tidak punya tempat aman untuk dikunjungi di Gaza,” kata Catherine Russell, direktur eksekutif UNICEF.

    “Jika operasi militer skala besar dimulai di Rafah, anak-anak tidak hanya akan berisiko terkena kekerasan, tapi juga kekacauan dan kepanikan, dan pada saat kondisi fisik dan mental mereka sudah melemah,” tambahnya.

    Baca Juga: KTT OKI Lahirkan Resolusi Kecam Genosida di Gaza, Pengamat Nilai Upaya OKI untuk Palestina Belum Optimal

    UNICEF mengatakan anak-anak di Rafah tidak boleh direlokasi secara paksa, dan infrastruktur serta bantuan yang mereka andalkan harus dilindungi.

    Kebanyakan anak-anak di Rafah terluka, sakit, kekurangan gizi, trauma atau hidup dengan disabilitas.

    Menyusul perintah evakuasi pada Oktober untuk pindah ke selatan, diperkirakan 1,2 juta warga Palestina berlindung di Rafah, yang dulunya merupakan rumah bagi sekitar 250 ribu orang.

    Sekitar setengah dari populasi Rafah adalah anak-anak, banyak di antaranya telah berulang kali menjadi pengungsi.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Chaterine mengatakan, anak-anak ini terpaksa berlindung di tenda-tenda dan perumahan yang tidak stabil.

    Anak-anak, ujarnya, lebih rentan terhadap dampak perang di Jalur Gaza dibandingkan orang dewasa.

    UNICEF mengatakan jumlah mereka yang terbunuh dan terluka sangatlah banyak dan menderita lebih parah akibat gangguan terhadap layanan kesehatan, pendidikan dan akses terhadap makanan dan air.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Pemerintah Indonesia Kutuk Keras Pembakaran Markas UNRWA oleh Israel

    Pemerintah Indonesia Kutuk Keras Pembakaran Markas UNRWA oleh Israel

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk keras pembakaran markas The United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) milik PBB oleh warga kelompok ekstrem Israel di Yerusalem, pada Kamis (9/5/2024) malam.

    “Kekerasan tersebut terjadi di depan mata polisi Israel di wilayah pendudukan. Pembiaran ini tidak dapat diterima dan membuktikan bahwa Israel bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan tersebut,” kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di akun resmi X pada Jumat (10/05/2024).

    Tiindakan kekerasan secara tegas tidak dapat diterima karena menyangkut markas badan PBB yang bergerak di bidang kemanusiaan.

    Baca: Mesir desak Hamas dan Israel gencatan senjata

    Kemlu menjelaskan adanya pembakaran ini menciptakan preseden sangat buruk terhadap keselamatan dan keamanan gedung, serta personil PBB dan misi kemanusiaan lainnya.

    “Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kekerasan, pendudukan ilegal, dan berbagai pelanggaran hukum internasional dan hukum humaniter internasional yang dilakukan oleh Israel,” kata Kemlu RI.

    Pemerintah Indonesia juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran hukum internasional yang terus dilakukannya.

    “Saatnya DK PBB, terutama negara pemegang veto, menunjukkan kepemimpinan dan kebijaksanaannya demi keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian,” kata Kemlu RI.

    Baca: Sebanyak 80 ribu warga Palestina tinggalkan Rafah

    Aksi pembakaran oleh warga Israel tak hanya dilakukan kali ini saja.

    Menurut Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini pemukim Israel dua kali membakar perimeter kantor pusat mereka di Yerusalem Timur yang diduduki.

    Dalam dua aksi kebakaran tersebut tidak ada korban jiwa, tetapi menyebabkan sejumlah kerusakan di luar Markas UNRWA.

    Mengingat insiden mengerikan kedua yang terjadi dalam waktu kurang dari sepekan ini, Lazzarini memutuskan untuk menutup kompleks tersebut “sampai keamanan pulih kembali.”

    Insiden terbaru ini menandai serangan kedua terhadap kantor pusat UNRWA di Yerusalem Timur dalam waktu kurang dari dua hari.

    Baca: Serangan Israel tewaskan lebih dari 15 ribu anak

    Pada Selasa (07/05/2024) lalu, kelompok sayap kanan melakukan aksi protes di depan kantor UNRWA di kawasan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. Mereka menuntut penutupan kantor tersebut.

    Mereka juga menuduh beberapa staf UNRWA terlibat dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober tahun lalu yang dilakukan kelompok Hamas Palestina.

    UNRWA merupakan badan yang dibentuk Majelis Umum PBB lebih dari 70 tahun untuk membantu warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari tanah mereka.

    Badan ini memberikan dukungan penting kepada jutaan pengungsi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, Suriah dan wilayah lain di mana sejumlah besar warga Palestina yang terdaftar tinggal.

    Reporter: Nurakhmayani