Tag: gaza

  • Setahun Lebih Serangan ke Gaza, Kondisi Anak-anak Kian Mengenaskan

    Setahun Lebih Serangan ke Gaza, Kondisi Anak-anak Kian Mengenaskan

    7cloud.asia – Kondisi anak-anak di Gaza semakin menggenaskan dari hari ke hari, dengan pasokan makanan, air, dan obat-obatan semakin minim dan diperburuk serangan Israel serta pembatasan ketat bantuan kemanusiaan, kata juru bicara UNICEF pada Selasa (15/10).

    James Elder mengatakan dalam konferensi pers di PBB Jenewa bahwa banyak anak-anak di Gaza telah beberapa kali mengungsi sejak perang berlangsung lebih dari setahun yang lalu.

    “Setiap hari, kekurangannya semakin parah,” ujar Elder, menyoroti bahwa 85 persen dari Jalur Gaza berada di bawah perintah evakuasi dan dalam kondisi yang tak layak huni.

    Dia juga menyoroti penurunan tajam dalam pengiriman bantuan kemanusiaan, terutama di bulan Agustus, yang mencatat jumlah bantuan terendah yang masuk ke Gaza sejak konflik dimulai.

    Baca: Israel didesak lindungi lokasi bantuan kemanusiaan di Gaza

    Selain itu, baru-baru ini, tidak ada truk komersial yang diizinkan memasuki Gaza, sehingga memperparah situasi yang sudah ada.

    Elder memperingatkan, jika pembatasan terhadap bantuan tidak segera dicabut dan serangan tidak dihentikan, situasi anak-anak yang sudah parah ini hanya akan semakin memburuk.

    “Setiap harinya, kondisi bagi anak-anak semakin buruk dari hari sebelumnya, dan ini akan terus berlanjut selama serangan berlangsung dan pembatasan bantuan kemanusiaan terus diperketat,” tambahnya.

    “Sulit dibayangkan, tetapi besok akan lebih buruk bagi anak-anak daripada hari ini.”

    Baca: konflik Israel-Hamas menghancurkan masa depan anak-anak Palestina 

    Save the Children International juga menggambarkan Wilayah Pendudukan Palestina (OPT) sebagai “tempat paling mematikan di dunia bagi anak-anak saat ini.”

    “Setidaknya 3.100 anak-anak di bawah usia 5 tahun telah tewas di Gaza, dan ribuan lainnya berisiko mengalami malnutrisi berat seiring dengan ancaman kelaparan yang semakin nyata,” katanya pada Selasa melalui X.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza setelah serangan lintas batas oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

    Sejak serbuan itu, lebih dari 42.300 orang telah tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 98.600 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak oleh Israel

    Serangan Israel telah menyebabkan hampir seluruh penduduk di Jalur Gaza menjadi pengungsi, di tengah blokade yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Upaya mediasi yang dipimpin oleh AS, Mesir, dan Qatar untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas telah gagal karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak untuk menghentikan perang.

    Israel juga menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Pasukan Israel Kembali Serang Rumah Sakit Indonesia di Gaza

    Pasukan Israel Kembali Serang Rumah Sakit Indonesia di Gaza

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan pasukan Israel mengepung dan menembaki Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Kota Beit Lahia, di wilayah utara, pada Sabtu (19/10/2024) dini hari.

    Otoritas kesehatan di Gaza melaporkan bahwa Israel juga menyerang lantai atas rumah sakit itu. Disebutkan, saat itu terdapat “lebih dari 40 pasien dan orang yang terluka, termasuk staf medis” yang berada di dalamnya.

    “Tank-tank Israel mengelilingi rumah sakit, memutus aliran listrik, dan menembaki rumah sakit dengan artileri, khususnya menargetkan lantai dua dan tiga,” ujar Direktur Medis RS Indonesia, Marwan Sultan.

    “Ada risiko serius bagi staf medis dan pasien,” imbuhnya.

    Baca: Netanyahu hadapi tekanan untuk hentikan perang di Gaza

    Dalam pernyataan resminya, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa Israel juga menyerang lantai atas rumah sakit itu.

    “Tembakan beruntun” ke arah rumah sakit dan area sekitarnya menyebabkan ‘kepanikan yang luar biasa “di kalangan pasien dan staf,” tambahnya.

    Israel melancarkan serangan baru di Gaza utara pada awal bulan ini. Mereka mengklaim serangan itu dilakukan untuk menargetkan pejuang Hamas yang berkumpul kembali di sana.

    Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan serangan Israel malam sebelumnya di dekat Jabalia menewaskan 33 orang.

    Baca: Hamas bertekad lanjutkan perjuangannya untuk Palestina

    Badan Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (18/10/2024) kembali “mengeluarkan peringatan mengenai situasi yang semakin mengerikan dan berbahaya yang dihadapi oleh warga sipil di Gaza utara.

    Keluarga-keluarga di wilayah tersebut berjuang untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sangat buruk, di tengah serangan udara yang intens.” (Sumber: VOA Indonesia)

  • Pasukan Israel Bakar Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

    Pasukan Israel Bakar Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

    7cloud.asia – Tentara Israel membakar rumah sakit sumbangan dari rakyat Indonesia atau yang lebih dikenal dengan RS Indonesia di Gaza Utara pada Senin (21/10/2024)

    Sebelumnya tentara Israel telah mengepung dan menembakkan artileri ke RS Indonesia di Gaza pada Sabtu (19/10/2024) dini hari.

    “Tentara Israel membakar lantai atas Rumah Sakit Indonesia, Gaza utara,” lapor kantor berita Palestina, WAFA, sembari mengunggah visual pembakaran itu. Video pembakaran itu juga viral di media sosial.

    Sedangkan media UEA, The National, melaporkan bahwa RS Indonesia yang berada di Kota Beit Lahia, sebelah utara kamp pengungsian Jabalia, menjadi “sasaran langsung” Israel. Hal itu dikatakan pihak Kementerian kesehatan di Gaza.

    Dijelaskan juga, generator pembangkit listrik RS Indonesia dibom oleh tentara Zionis sehingga listrik putus. “Pasien meninggal setelah terputus dari perangkat oksigen,” kata Kemenkes Gaza.

    Baca: Tentara Israel serang RS Indonesia di Gaza

    Tentara Israel juga membatasi pergerakan siapa pun yang berada di rumah sakit. Akibat pergerakan terbatas ini, staf rumah sakit harus menguburkan jenazah di dalam kompleks rumah sakit, yang masih dalam pengepungan.

    “Bahkan pilihan untuk memprioritaskan (mengobati) yang terluka tidak lagi tersedia, karena banyak dari yang terluka dibiarkan mati kehabisan darah kemarin karena banyaknya korban,” imbuhnya.

    Inisiator RS Indonesia Kecam Serangan Israel
    Dalam serangan Israel pada 19 Oktober, sedikitnya dua pasien RS Indonesia tewas karena tak mendapat pasokan oksigen setelah aliran listrik mati.

    Serangan ini membuat MER-C Indonesia sebagai inisiator rumah sakit ini geram.
    MER-C adalah organisasi kemasyarakatan di bidang kegawatdaruratan dan medis. Lembaga ini berkantor pusat di Jalan Kramat Lontar, Jakarta Pusat.

    MER-C dalam pernyataannya mengatakan, Rumah Sakit Indonesia diinisiasi oleh MER-C tahun 2009, mulai dibangun 2011, didanai dari kumpulan donasi masyarakat Indonesia yang mendukung semangat “bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”.

    Baca: Netanyahu hadapi tekanan untuk hentikan perang di Gaza

    “Rumah Sakit Indonesia telah menjadi fasilitas kesehatan utama di Gaza Utara, dan simbol harapan masyarakat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan,”

    “Pengembangan pelayanan terus dilakukan MER-C sampai pecah pembantaian dalam Jalur Gaza oleh penjajah tahun 2023,” ujar MER-C dalam pernyataannya pada 20 Oktober 2024.

    Oleh karena itu, MER-C Indonesia mendesak agar kejahatan kemanusiaan terencana dan berulang-ulang terhadap manusia dan fasilitas yang mendukung hak-hak dasar kemanusiaan oleh pihak Zionis penjajah harus dihentikan.

    ”Tidak ada argumen pendukung atau rasionalisasi apa pun yang bisa diterima,” tegas MER-C.

    Tahun lalu, RS Indonesia di Gaza ini juga menjadi sasaran serangan tentara Israel. Sebelum dibombardir Israel, RS Indonesia adalah RS terbaik dari segi fasilitas medis dan terbesar kedua di Jalur Gaza.

    Serah terima RS Indonesia ke pemerintah Palestina dilakukan tahun 2016 lalu. (Sumber:kumparan.com)

  • Krisis Pembangunan di Gaza Bahayakan Generasi Mendatang

    Krisis Pembangunan di Gaza Bahayakan Generasi Mendatang

    7cloud.asia – Sebuah laporan terbaru yang dirilis PBB memperingatkan dampak kemanusiaan yang sangat besar dari perang di Gaza.

    Perang di Gaza yang sudah berlangsung lebih satu tahun menghambat pembangunan di wilayah kantong Palestina selama 70 tahun, serta membahayakan warga Palestina selama beberapa generasi dan tidak hanya di Gaza.

    Proyeksi dalam penilaian terbaru itu menegaskan bahwa di tengah penderitaan dan hilangnya nyawa secara mengerikan, krisis pembangunan yang serius juga terjadi.

    “Krisis yang membahayakan masa depan rakyat Palestina untuk generasi penerus,” kata pejabat Program Pembangunan PBB (UNDP), Achim Steiner.

    Baca: Butuh waktu 14 tahun untuk menyingkirkan puing di Gaza

    Dalam sebuah pernyataan yang bertepatan dengan peluncuran laporan UNDP hari Selasa (22/10/2024), Steiner mengamati “bahkan jika bantuan kemanusiaan diberikan setiap tahun, perekonomian mungkin tidak akan pulih ke tingkat sebelum krisis selama satu dasawarsa atau lebih.”

    Laporan ini dihasilkan melalui koordinasi dengan Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Barat (ESCWA) PBB.

    Penilaian baru itu sarat dengan statistik yang mengejutkan. Laporan itu memperkirakan, kemiskinan di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel akan meningkat menjadi 74,3 persen tahun ini, naik dari 38,8 persen pada akhir 2023.

    ”Itu berdampak pada 4,1 juta orang, termasuk 2,61 juta orang yang baru saja jatuh miskin.”

    Karena kerugian ekonomi yang “mencengangkan” itu, Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan mengalami penurunan sebesar 35,1% tahun ini, dengan potensi pengangguran meningkat menjadi 49,9 persen.

    Baca: Konflik Israel-Hamas hancurkan masa depan anak-anak Gaza

    Wilayah Palestina mengalami kemunduran pembangunan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI), yang menunjukkan hilangnya kemajuan pembangunan selama hampir 24 tahun.

    Puluhan negara mengakui negara Palestina, namun Amerika Serikat dan sebagian besar negara Eropa Barat tidak mengakuinya.

    Serangan Israel yang telah berlangsung lebih dari satu tahun meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza dan menimbulkan krisis kemanusiaan.

    Hingga hari ini, lebih dari 42.000 warga Palestina tewas, dan lebih 100.000 orang lainnya terluka, jutaan orang hidup di pengungsian tanpa fasilitas memadai menurut pejabat kesehatan Gaza.

    Konflik Israel dan Hamas juga menghambat pendidikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, di mana Israel juga mengintensifkan pembatasan pergerakan dan melakukan penggerebekan besar-besaran. (Sumber: VOA Indonesia)

     

  • Situasi Semakin Memburuk, Seluruh Penduduk Gaza Utara Berisiko Sekarat

    Situasi Semakin Memburuk, Seluruh Penduduk Gaza Utara Berisiko Sekarat

    7cloud.asia – Seorang pejabat senior urusan bantuan kemanusiaan PBB, Sabtu (26/10), memperingatkan, di tengah situasi yang semakin memburuk dan serangan hebat tentara Israel yang berlangsung selama berminggu-minggu, “seluruh penduduk di Gaza utara berisiko sekarat.”

    “Rumah sakit telah diserang dan para pekerja kesehatan telah ditahan. Tempat penampungan telah kosong dan dibakar,” kata Joyce Msuya, pejabat senior sementara PBB untuk urusan kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat.

    Msuya menyoroti dampak mengkhawatirkan dari serangan Israel terhadap layanan kesehatan dan keselamatan warga sipil, serta nasib para petugas pertolongan pertama yang telah “dicegah untuk menyelamatkan orang-orang dari bawah reruntuhan.”

    Baca: Krisis pangan di Gaza bahayakan generasi mendatang

    Kepala kemanusiaan PBB itu mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap populasi sipil, melaporkan bahwa “keluarga telah terpisah dan pria serta anak laki-laki diangkut dengan truk.”

    Kekerasan Israel itu telah mengakibatkan “ratusan warga Palestina dilaporkan tewas,” dengan “puluhan ribu sekali lagi terpaksa melarikan diri,” ujarnya.

    Sembari memperingatkan bahwa “seluruh penduduk Gaza utara berisiko tewas,” dia pun mengutuk serangan dan blokade yang sedang berlangsung sebagai indikasi “pengabaian mencolok terhadap kemanusiaan dasar dan hukum perang.”

    Baca: Kondisi anak-anak di Gaza kian mengenaskan

    Dia menyerukan tindakan internasional segera untuk menghentikan kekerasan dan memastikan perlindungan bagi warga sipil di kawasan tersebut.

    Invasi darat dan serangan bom oleh tentara Israel terus berlanjut di seluruh Gaza utara, saat pasukan Israel memaksa warga Palestina yang telah kehilangan properti mereka terus berpindah-pindah.

    Mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel terus menyerang dan menghancurkan Gaza sejak serangan lintas perbatasan oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas, tahun lalu.

    Baca: Pasukan Zionis bakar rumah sakit Indonesia di Gaza

    Hampir 43.000 orang telah tewas sejak pecah perang. Sebagian besar korban itu adalah perempuan dan anak-anak.

    Selain itu, aksi genosida rezim Zionis itu juga menyebabkan lebih dari 100.000 lainnya terluka, kata otoritas kesehatan setempat.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Pengadilan Internasional atas tindakannya di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara Beroperasi Seadanya Karena Kekurangan Pasokan

    Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara Beroperasi Seadanya Karena Kekurangan Pasokan

    7cloud.asia – Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara menyatakan bahwa mereka kesulitan merawat puluhan orang yang terluka karena kekurangan pasokan peralatan medis.

    Dilansir Anadolu, kondisi ini akibat serangan Israel yang terus berlangsung di wilayah tersebut selama lebih dari sebulan terakhir.

    Direktur Rumah Sakit Al-Awda, Mohammad Saleha, mengatakan kepada Anadolu pada Rabu (6/11/2024) malam bahwa rumah sakit tersebut menghadapi kekurangan obat-obatan dan pasokan medis yang parah selama lebih dari tiga bulan.

    Kondisi ini diperburuk dengan pemutusan pasokan bahan bakar yang menghambat operasional rumah sakit selama sebulan.

    Pada Rabu pagi, lanjutnya, generator kecil rumah sakit yang selama ini memberikan dukungan operasional minimal, rusak akibat kekurangan bahan bakar.

    Baca: ILO tingkatkan status Palestina menjadi Negara Pengamat

    “Kami terpaksa menggunakan generator utama yang mengonsumsi lebih banyak bahan bakar, namun itu diperlukan untuk melakukan empat operasi bagi pasien yang terluka parah,” kata Saleha.

    Ia menambahkan bahwa rumah sakit telah menerima beberapa jenazah dan puluhan orang yang terluka sejak Rabu pagi, termasuk kasus-kasus kritis karena layanan ambulans di wilayah tersebut telah berhenti.

    Berkurangnya ambulans, kata dia, disebabkan oleh serangan terarah oleh pasukan Israel terhadap semua kendaraan darurat, termasuk yang berasal dari rumah sakit Al-Awda, rumah sakit Kamal Adwan, dan unit pertahanan sipil.

    “Penargetan yang disengaja terhadap ambulans dan petugas medis ini telah memaksa warga untuk mengangkut yang terluka ke rumah sakit dengan berjalan kaki, dipanggul, atau menggunakan gerobak darurat yang membahayakan nyawa karena keterlambatan penanganan medis,” tambahnya.

    Mengenai operasi medis dalam kondisi saat ini, Saleha menjelaskan bahwa satu-satunya ahli bedah di Gaza Utara telah melakukan dua operasi sejak pagi dan terus menangani kasus-kasus kritis lainnya.

    Baca: Pertemuan internasional untuk wujudkan dua negara Israel dan Palestina

    Dia mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk segera memfasilitasi pasokan bahan bakar, obat-obatan, pasokan medis, dan makanan untuk pasien dan staf karena dukungan tersebut sangat penting untuk mempertahankan layanan di Gaza Utara di tengah perang genosida.

    Tentara Israel terus melakukan serangan mematikan di Gaza Utara sejak 5 Oktober dengan alasan mencegah Hamas berkumpul kembali di tengah blokade yang sangat ketat di wilayah tersebut.

    Namun, warga Palestina menuduh Israel berusaha untuk menduduki wilayah tersebut dan memaksa pengusiran penduduknya.

    Sejak saat itu, tidak ada bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar yang diizinkan masuk oleh tentara Israel ke wilayah tersebut sehingga membuat sebagian besar penduduk di sana terancam kelaparan.

    Lebih dari 1.800 orang telah tewas sejak saat itu, menurut otoritas kesehatan Palestina. (Sumber: Antaranews.com/Anadolu)

  • Pejabat WHO Keluhkan Sikap Israel yang Terus ’Hambat’ Akses Kemanusiaan ke Gaza

    Pejabat WHO Keluhkan Sikap Israel yang Terus ’Hambat’ Akses Kemanusiaan ke Gaza

    7cloud.asia – Utusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Gaza dan Tepi Barat menyatakan bahwa Israel terus menghalangi dan menghambat akses kemanusiaan ke Gaza.

    Hal itu diungkapkan utusan WHO, Dr. Rik Peeperkorn, Senin (4/11/2024) usai kembali dari misi lainnya ke Gaza utara.

    Dia mengatakan ia berpartisipasi dalam empat misi, dua di antaranya ke fasilitas kesehatan di Kota Gaza, guna memberi pengarahan kepada para wartawan secara virtual di New York.

    Ia mengatakan, ada lebih banyak lagi yang perlu dilakukan dan memperingatkan bahwa beberapa rumah sakit tidak akan lagi berfungsi jika bantuan tidak segera tiba.

    ”Misi pimpinan WHO mengirimkan bahan bakar, pasokan medis, darah, serta makanan dan air untuk para pasien dan staf kesehatan “jika kami difasilitasi,” kata Peeperkorn.

    Baca: Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara kekurangan pasokan medis

    Dia menekankan betapa dramatisnya situasi di bagian utara Gaza, setidaknya, sekarang ini. Ada tiga rumah sakit di sana, Kamal Adwan, al-Awda, dan rumah sakit Indonesia. Rumah sakit Indonesia tidak berfungsi lagi.

    ”Kamal Adwan dan al-Awda berfungsi minimal. Al-Awda mungkin akan berfungsi jika, WHO merencanakan misi lain akhir minggu ini. Jika kami tidak diizinkan, tidak difasilitasi, rumah sakit itu akan segera berhenti beroperasi juga,” katanya kepada wartawan.

    Peeperkorn menambahkan bahwa dari begitu banyak misi yang diupayakan, hanya tujuh yang diizinkan selama Oktober. Sementara yang lainnya ditolak, dihambat tanpa penjelasan, ujarnya. Selain itu, fasilitas medis juga terus menjadi sasaran.

    “Tidak lama setelah misi WHO meninggalkan Kamal Adwan, dan Anda pasti sudah mendengar hal ini juga, terdapat laporan bahwa fasilitas tersebut, lantai tiganya, dihantam kembali, [dan] melukai enam anak-anak, atau pasien di sana dan seorang anak mengalami luka kritis,” lanjutnya.

    Pengeboman dan kurangnya akses juga semakin menghambat kampanye vaksinasi polio gabungan yang digalakkan oleh UNICEF dan WHO, katanya.

    Baca: Tentara Israel bakar Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

    Kedua organisasi itu meluncurkan kampanye tersebut setelah seorang bocah lelaki berusia 10 bulan tercatat menjadi kasus pertama polio yang dikonfirmasi di wilayah Gaza pada awal tahun ini.

    Peeperkorn juga menambahkan bahwa meskipun tim-tim itu mencapai keberhasilan vaksinasi, mereka masih belum mencapai target yang ditetapkan.

    Dia memaparkan, target untuk bagian utara adalah 190.000 anak, dan setelah dua hari pertama, kami telah memvaksinasi lebih dari 90.000, hampir 94.500 anak-anak berusia di bawah 10, yang merupakan hampir 80%, persisnya 79% dari target.

    Dan 75.000 anak mendapat vitamin A. Jadi, ini lebih tinggi dari kampanye putaran pertama, setidaknya untuk Kota Gaza, karena semua ini, sekali lagi, para pengungsi internal yang berasal dari wilayah utara.

    Kampanye dalam skala kecil untuk memberikan dosis kedua vaksin polio dimulai pada hari Sabtu di beberapa bagian Gaza utara.

    Kampanye itu telah ditunda sejak dari 23 Oktober lalu karena kurangnya akses, serangan bom Israel dan perintah evakuasi massal, serta kurangnya jaminan bagi jeda kemanusiaan, kata pernyataan PBB.

    Pemberian dosis pertama dilakukan pada September lalu di seluruh Jalur Gaza, termasuk di bagian utara.

  • Hampir 70 Persen Korban Tewas di Perang Gaza adalah Perempuan dan Anak-anak

    Hampir 70 Persen Korban Tewas di Perang Gaza adalah Perempuan dan Anak-anak

    7cloud.asia – Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat (8/11/2024) menyatakan bahwa hampir 70 persen dari korban jiwa yang telah diverifikasi dalam perang Gaza adalah perempuan dan anak-anak.

    Badan PBB itu juga mengutuk apa yang disebutnya sebagai pelanggaran sistematis terhadap prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan internasional.

    Perhitungan PBB mencakup tujuh bulan pertama konflik Israel-Hamas di Jalur Gaza yang dimulai lebih dari setahun lalu.

    Jumlah 8.119 korban yang diverifikasi oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB dalam periode tujuh bulan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah korban lebih dari 43.000 yang dilaporkan oleh otoritas kesehatan Palestina selama 13 bulan penuh konflik.

    Namun perincian PBB mengenai usia dan jenis kelamin para korban mendukung pernyataan Palestina bahwa perempuan dan anak-anak mewakili sebagian besar korban tewas dalam perang tersebut.

    Temuan tersebut menunjukkan “pelanggaran sistematis terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional, termasuk perbedaan dan proporsionalitas,” kata kantor hak asasi manusia PBB dalam sebuah pernyataan yang menyertai laporan setebal 32 halaman tersebut.

    Penting untuk melakukan perhitungan yang matang sehubungan dengan tuduhan pelanggaran serius terhadap hukum internasional melalui badan peradilan yang kredibel dan tidak memihak.

    “Sementara itu, semua informasi dan bukti yang relevan dikumpulkan dan disimpan,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Urusan Kemanusiaan. Hak Volker Turk.

    Israel tidak segera mengomentari temuan laporan tersebut.
    Militer Israel, yang memulai serangannya sebagai balasan terhadap serangan 7 Oktober 2023, di mana para kombatan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menyandera lebih dari 250 orang.

    Militer Israel mengatakan pihaknya berhati-hati untuk tidak melukai warga sipil di Gaza.

    Militer Israel menegaskan bahwa sekitar satu warga sipil telah terbunuh untuk setiap pejuang, sebuah rasio yang menyalahkan Hamas, dengan mengatakan bahwa kelompok militan Palestina menggunakan fasilitas sipil.

    Hamas membantah menggunakan warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sebagai tameng manusia.

    Korban Tewas Termuda Berusia Satu Hari
    Korban termuda yang kematiannya diverifikasi oleh pemantau PBB adalah seorang bayi laki-laki berusia 1 hari, dan korban tertua adalah seorang perempuan berusia 97 tahun, kata laporan itu.

    Secara keseluruhan, anak-anak mewakili 44 persen korban. Dari proporsi tersebut, anak-anak berusia 5-9 tahun mewakili kategori usia terbesar, diikuti oleh anak-anak yang berusia 10-14 tahun, dan kemudian anak-anak yang berusia hingga 4 tahun.

    Hal ini secara umum mencerminkan demografi daerah kantong tersebut, yang menurut laporan tersebut mencerminkan kegagalan nyata dalam mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari kerugian warga sipil.

    Laporan tersebut menunjukkan bahwa dalam 88 persen kasus, lima orang atau lebih tewas dalam serangan yang sama, hal ini menunjukkan penggunaan senjata oleh militer Israel yang berdampak luas.

    Meskipun dikatakan bahwa beberapa korban jiwa mungkin disebabkan oleh proyektil yang salah sasaran dari elompok bersenjata Palestina.

  • Kelangkaan Bahan Bakar di Gaza Akibatkan 1,2 Juta Orang Kekurangan Air

    Kelangkaan Bahan Bakar di Gaza Akibatkan 1,2 Juta Orang Kekurangan Air

    7cloud.asia – Otoritas Kota Khan Younis di Gaza Selatan menyatakan bahwa wilayah itu mengalami kelangkaan bahan bakar yang sudah berlangsung selama sepekan.

    Kondisi ini telah menyebabkan lebih dari 1,2 juta warga dan para pengungsi di daerah itu tidak memiliki akses terhadap air bersih, di tengah serangan Israel yang sedang berlangsung.

    Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (16/11/2024), Otoritas Kota Khan Younis mengatakan bahwa penghentian pasokan bahan bakar yang terus menerus telah mengganggu layanan penting, termasuk pengoperasian sumur air dan pabrik desalinasi.

    “Ini menyebabkan lebih dari 1,2 juta warga dan pengungsi di Khan Younis tidak bisa memperoleh air minum dan air yang layak pakai.”

    Baca: Negara-negara Arab dan Islam Serukan Pembekuan Keanggotaan Israel di PBB

    Kota itu juga menyuarakan keprihatinannya atas penghentian sementara fasilitas pengolahan limbah, dan memperingatkan bahwa air limbah yang tidak diolah dapat membanjiri jalan.

    Kondisi ini dapat memperburuk risiko bencana lingkungan dan kesehatan, serta memudahkan penyebaran penyakit dan epidemi.

    Pemerintah kota Khan Younis menyerukan tindakan segera, mendesak masyarakat internasional dan kelompok HAM untuk “segera campur tangan guna mengakhiri perang Israel di Gaza, yang telah menghancurkan semua aspek kehidupan.”

    Pemerintah kota juga mendesak badan-badan PBB untuk “menekan Israel agar melanjutkan pasokan bahan bakar dan mengizinkan masuknya peralatan penting dan suku cadang guna mencegah hancurkan layanan publik secara total.”

    Baca: Upaya untuk mewujudkan Palestina Merdeka

    Serangan Israel ke wilayah Gaza telah berlangsung selama lebih dari 13 bulan, menewaskan lebih dari 43.700 orang dan membuat mayoritas daerah kantong itu hampir tidak dapat dihuni.

    Sekitar 1,2 juta warga Gaza kini tinggal di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi yang sangat tidak layak.

    Blokade yang terus berlangsung telah mengakibatkan kekurangan energi, makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Israel telah diputus melakukan genosida di Mahkamah Internasional karena agresinya di Gaza ini.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-OANA

  • Tiga Bayi Pengungsi Gaza Meninggal Karena Kedinginan dalam Dua Hari Terakhir

    Tiga Bayi Pengungsi Gaza Meninggal Karena Kedinginan dalam Dua Hari Terakhir

    7cloud.asia – Tiga bayi meninggal kedinginan karena tidur di tenda-tenda pengungsian di Gaza dengan suhu yang mencapai titik terendah 13 Celcius dalam dua hari terakhir.

    Hal ini disampaikan Direktur Bangsal Anak-Anak RS Nasser di Gaza, Ahmed Al-Farra, kepada Associated Press, setelah menerima jasad ketiga bayi dalam waktu 48 jam terakhir.

    Ketiganya meninggal karena hipotermia, atau kondisi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah 35 derajat Celsius.

    Ketiga bayi itu adalah Sila Mahmoud Al-Faseeh yang berusia 21 hari, seorang bayi berusia satu bulan, dan seorang bayi lainnya yang baru berusia tiga hari. Al Farra mengatakan saat dilahirkan ketiganya tidak memiliki masalah kesehatan.

    Musim Dingin di Gaza, Pengungsi Bertahan di Tenda-tenda Darurat
    Keluarga Al-Faseeh tinggal di sebuah tenda di daerah pesisir Muwasi, Khan Younis, setelah mengungsi dari Kota Gaza.

    Baca: Kelangkaan bahan bakar di Gaza akibatkan 1,2 juta orang kekurangan air

    Ayah Sila, Mahmoud Al Faseeh mengatakan telah membungkus Sila dengan selimut, tetapi hal ini tetap tidak cukup untuk membuatnya hangat di dalam tenda yang tidak tertutup rapat, senantiasa diterpa udara dingin, dengan lantai tanah yang juga dingin.

    “Malam itu sangat dingin dan sebagai orang dewasa kami bahkan tidak tahan. Kami tidak bisa menghangatkan diri,” katanya. “Ketika kami bangun, kami menemukan Sila menggigit lidahnya dan tubuhnya seperti kayu.”

    Sebuah video viral yang dibagikan oleh Muneer Al-Boursh menunjukkan tubuh Sila yang terbungkus selimut bayi dengan wajah pucat membiru dan bibir membeku.

    Bayi itu hidup dengan susu formula yang hampir tidak mencukupi karena ibunya mengalami kekurangan gizi dan tidak dapat menyusuinya.

    Menurut ayahnya, Sila biasanya menangis dan terbangun tiga kali dalam semalam, tetapi ia tidak lagi menangis pada Rabu dini hari (25/12/2024).

    Baca: Upaya mewujudkan negara Palestina merdeka

    Mahmoud segera melarikannya ke rumah sakit lapangan milik Inggris di mana para dokter mencoba menyadarkannya, namun kondisi paru-parunya sudah memburuk.

    Mahmoud mengatakan mereka sangat kekurangan pakaian, kasur, dan selimut untuk menghangatkan diri di musim dingin ini, dan sebagian besar bergantung pada dapur umum untuk makan sehari-hari.

    Kekhawatiran telah meningkat di Jalur Gaza yang kini dilanda musim dingin, di mana sekitar dua juta orang Palestina mengungsi karena berlarut-larutnya perang Israel dengan Hamas selama hampir 15 bulan ini.

    Para pekerja bantuan mengatakan telah terjadi kekurangan selimut dan pakaian hangat, sementara hanya ada sedikit kayu untuk api unggun.

    Tenda-tenda dan terpal yang ditambal-tambal yang menjadi tempat penampungan keluarga-keluarga Palestina yang terpaksa mengungsi, telah menjadi semakin lapuk setelah berbulan-bulan digunakan.