Tag: bmkg

  • BMKG Sebut Wilayah Ini Berpotensi Terjadi Kekeringan, Masyarakat Harus Waspada

    BMKG Sebut Wilayah Ini Berpotensi Terjadi Kekeringan, Masyarakat Harus Waspada

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah berpotensi terjadi kekeringan pada Juli hingga September 2014. Karena itu, masyarakat harus waspada dan mengantisipasinya.

    Deputi Bidang Klimatologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan dalam rilisnya menjelaskan wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan adalah sebagian besar Pulau Jawa.

    Sebagian besar Pulau Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Pulau Sulawesi, dan sebagian Maluku dan Papua juga berpotensi mengalami kekeringan.

    Lebih lanjut Ardhasena menjelaskan pihaknya telah melakukan pemantauan adanya anomali iklim di Samudera Pasifik.

    Baca: BMKG lakukan modifikasi cuaca untuk antisipasi kekeringan

    Hingga dasarian II Mei 2024, menunjukkan indeks ENSO sebesar +0.21 atau dalam kondisi netral.

    Kondisi indeks ENSO sudah berada pada level netral selama dua dasarian, dan diprediksi akan terus netral sampai periode Juni-Juli 2024.

    Selanjutnya, pada periode Juli-Agustus-September 2024, ENSO Netral diprediksi akan beralih menuju fase La Nina lemah yang akan bertahan hingga akhir tahun 2024.

    Fenomena La Nina lemah ini diprediksi tidak berdampak pada musim kemarau yang akan segera hadir.

    Sedangkan di Samudera Hindia, pemantauan suhu muka laut menunjukkan kondisi IOD Netral namun ada kecenderungan beralih ke fase IOD Positif.

    Melihat fakta tersebut, lanjut dia, maka daerah-daerah tersebut memiliki potensi curah hujan bulanan sangat rendah.

    Baca: Status NTT awas karena selama 60 hari tak hujan

    “Yaitu masuk kategori kurang dari 50mm per bulan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dan antisipasi dampak kekeringan,” ungkap Ardhasena.

    Selain itu dari hasil monitoring hotspot yang dilakukan dengan satelit, menunjukkan telah munculnya beberapa hotspot awal pada daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Karena itu perlu adanaya perhatian khusus untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di sepanjang musim kemarau.

    “Memperhatikan dinamika atmosfer jangka pendek terkini, masih terdapat jendela waktu yang sangat singkat yang bisa dimanfaatkan secara optimal sebelum memasuki periode pertengahan musim kemarau,” terangnya.

    Baca: Kekeringan di Bali meluas

    Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto mengatakan BMKG telah merekomendasikan hal teknis yang bisa dilakukan sebagai langkah mitigasi dan antisipasi.

    Di antaranya, penerapan teknologi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di daerah yang berpotensi mengalami kondisi kering saat musim kemarau.

    Selain itu, membasahi dan menaikkan muka air tanah pada daerah yang rawan mengalami karhutla ataupun pada lahan gambut.

    Pihaknya, lanjut Seto, bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Pertanian untuk melakukan upaya modifikasi cuaca.

    Dengan kerjasama untuk memitigasi bencana kekeringan tersebut, maka kementerian terkait dapat memastikan koneksitas jaringan irigasi dari waduk ke kawasan yang terdampak kekeringan benar-benar memadai.

     

     

  • BMKG Surati Presiden Jokowi, Isinya Soal Ancaman Kekeringan di Berbagai Wilayah

    BMKG Surati Presiden Jokowi, Isinya Soal Ancaman Kekeringan di Berbagai Wilayah

    7cloud.asia – Bencana kekeringan dan kebakaran hutan berpotensi melanda Indonesia saat memasuki puncak musim kemarau nanti.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    Surat tersebut terkait dengan potensi kekeringan dan kebakaran hutan pada musim kemarau tahun ini.

    Dalam surat tersebut, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyampaikan kepada Presiden, saat ini sebagian wilayah di Indonesia mengalami kondisi kering. Apalagi di bagian selatan khatulistiwa (ekuator).

    Melansir CNBC Indonesia, hasil analisis Hari Tanpa Hujan (HTH) mayoritas terdapat di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sepanjang 21-30 hari atau lebih panjang.

    Baca: El Nino dan kebakaran hutan berisiko makin besar di tahun 2024

    Selain itu, sebanyak 19% dari zona musim (ZOM) sudah masuk musim kemarau. Diprediksi, sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara segera menyusul memasuki musim kemarau dalam 3 dasarian ke depan.

    “Analisis curah hujan dan analisis sifat hujan untuk 3 dasarian terakhir juga menunjukkan bahwa kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan Khatulistiwa,” demikian bunyi surat Dwikorita tersebut.

    “Prediksi curah hujan wilayah Indonesia dan prediksi sifat hujan menyatakan bahwa kondisi kekeringan saat musim kemarau akan mendominasi wilayah Indonesia sampai akhir bulan September,” lanjutnya lagi.

    Dalam surat tersebut, dia menjelaskan berdasarkan hasil monitoring satelit menunjukkan kemunculan beberapa titik panas atau hot spot awal pada daerah-daerah rawan karhutla.

    Baca: Empat kabupaten di NTB berstatus awas karena tak turun hujan

    “Untuk itu diperlukan perhatian khusus untuk potensi terjadinya hot spot dan karhutla perlu diwaspadai untuk daerah-daerah yang memiliki resiko menengah dan tinggi,” katanya.

    “Daerah dengan potensi curah hujan bulanan sangat rendah dengan kategori kurang dari 50 mm per bulan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dampak kekeringan,” sambungnya lagi.

    Meski bencana kekeringan dan kebakaran hutan mengintai, namun musim kemarau tahun ini tidak terjadi secara serentak.

    Menurutnya, sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada bulan April hingga Juni 2024.

    Seperti di sebagian besar wilayah Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, NTB, NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Timur.

    Baca: Sejumlah daerah berpotensi kekeringan

    Kemudian di sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil Maluku, sebagian Papua dan Papua Selatan.

    “Puncak musim kemarau umumnya akan terjadi pada bulan Agustus 2024 yaitu meliputi sebagian Sumatra Selatan, Jawa Timur, sebagian besar Pulau Kalimantan, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Pulau Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Pulau Papua,” kata Dwikorita.

    Selain itu, fenomena La Nina diprediksi akan melanda Indonesia pada saat musim kemarau terjadi.

    Saat terjadi La Nina, hembusan angin pasat dari Pasifik timur ke arah barat sepanjang ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya.

    Baca: BMKG lakukan modifikasi cuaca antisipasi kekeringan

    Menguatnya angin pasat yang mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin.

    Di Indonesia, hal ini berarti risiko banjir yang lebih tinggi, suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak badai tropis.

    La Nina merupakan salah satu fase El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Mengutip situs resmi BMKG, ENSO menunjukkan anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.

    Iklim di Samudra Pasifik terbagi ke dalam 3 fase. Yaitu, El Nino, La Nina, dan Netral.

    Meski demikian, Dwikorita masih belum memastikan apakah betul akan terjadi La Nina atau tidak.

    Baca: Waspada, ini wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan

    Karena masih diperlukan data monitoring terhadap suhu muka air laut di wilayah perairan Indonesia, dan juga suhu muka air laut di samudera pasifik.

    Jadi, ujarnya, pada akhir Maret yang lalu BMKG sudah mengeluarkan prakiraan musim, diprediksi musim kemarau mulai secara bertahap, tidak seketika.

    “Mulai bulan April sebagian kecil wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau, dan seterusnya hingga akhirnya Juni nanti sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki ke musim kemarau, di mana puncaknya di bulan Juli atau Agustus,” urai Dwikorita dalam Konferensi Pers World Water Forum ke-10 di Badung, Bali lalu.

  • BMKG: Meski Telah Memasuki Musim Kemarau Hujan Masih Berpotensi Terjadi hingga September

    BMKG: Meski Telah Memasuki Musim Kemarau Hujan Masih Berpotensi Terjadi hingga September

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, hingga akhir tahun potensi hujan masih tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.

    BMKG memperkirakan hujan masih akan terjadi di sejumlah daerah setidaknya hingga bulan September, meskipun juga sudah mulai memasuki musim kemarau.

    Deputi Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan di Jakarta, Senin (4/6/2024), mengatakan bahwa potensi peningkatan hujan dipicu oleh adanya beberapa dinamika atmosfer yang masih aktif berada di wilayah Indonesia.

    Hujan juga dipicu fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuatorial Rossby Kelvin, hingga pola sirkulasi siklonik dan potensi pembentukan daerah belokan dan perlambatan angin.

    Baca Juga: BMKG: Musim Kemarau 2024 Bakal Mundur

    Kombinasi pengaruh fenomena-fenomena tersebut diprakirakan tim meteorologi BMKG dapat menimbulkan potensi hujan berintensitas sedang-lebat yang disertai kilat/petir angin kencang.

    Bahkan, kata dia, kondisi demikian bisa juga menimbulkan dampak cuaca ekstrem kebencanaan hidro-meteorologi yang meliputi banjir, banjir bandang, banjir lahar hujan, tanah longsor dan seterusnya.

    Meskipun, di saat yang bersamaan Indonesia mulai dilanda musim kemarau kering pada medio bulan Juni – September 2024.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    BMKG mencatat, dalam 24 jam terakhir tercatat adanya intensitas hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah di Indonesia.

    Hujan sedang hingga lebat masing-masing teramati BMKG mulai dari Pulau Jawa meliputi wilayah Jawa Tengah (Kota Semarang dengan intensitas 104,4 mm/hari).

    Juga wilayah Kalimantan meliputi wilayah Kalimantan Barat (Kabupaten Sambas hujan berintensitas 103,0 mm/hari).

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Pulau Sumatera meliputi Sumatera Utara (Silangit, Tapanuli Utara berintensitas 57,3 mm/hari) dan Kepulauan Riau wilayah Tanjung Pinang berintensitas 50.8 mm/hari.

    Pulau Papua dan Maluku (meliputi wilayah Kabupaten Sarmi berintensitas 94,0 mm/hari dan Kota Ambon berintensitas 69,9 mm/hari).

    Sedangkan Sulawesi meliputi Sulawesi Tengah di Kabupaten Toli-toli berintensitas 61,1 mm/hari.

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Buruk untuk Dua Wilayah Jakarta

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Buruk untuk Dua Wilayah Jakarta

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini untuk dua wilayah Jakarta yang diperkirakan terjadi cuaca buruk pada Selasa (10/06/2024).

    Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi melanda wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada siang hingga sore hari.

    Sementara wilayah lainnya diperkirakan hujan dengan intensitas ringan pada siang atau sore hari. Hanya wilayah Kepulauan Seribu yang diperkirakan berawan.

    Sementara pada pagi dan malam hari, seluruh wilayah DKI Jakarta berawan. Suhu udara berkisar antara 24 hingga 29 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 80 hingga 95 persen.

    Sedangkan sebagian besar wilayah di Indonesia berpeluang hujan dengan intensitas ringan hingga hujan lebat disertai petir.

    Seperti wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur berpotensi hujan lebat dengan intensitas diatas 50 mm/hari.

    Wilayah Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur juga berpotensi hujan lebat.

    Kondisi cuaca serupa juga diperkirakan terjadi di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

    BMKG memperkirakan hujan disertai kilat/petir atau hujan badai berpeluang melanda wilayah Aceh, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat.

    Cuaca seperti ini berpeluang pula terjadi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan.

    Selain itu, hujan disertai kilat/petir atau hujan badai berpotensi melanda wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat.

    Tak hanya hujan, BMKG juga memperkirakan angin kencang dengan kecepatan diatas 45 km/jam melanda wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

    Wilayah  Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Maluku dan Papua juga berpotensi terjadi angin kencang.

    Suhu udara berkisar antara 19 hingga 34 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung. Sedangkan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Semarang dan Pontianak.

     

  • Waspada! BMKG Sebut Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius Berpotensi Melanda Indonesia Sepekan Kedepan

    Waspada! BMKG Sebut Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius Berpotensi Melanda Indonesia Sepekan Kedepan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu panas maksimum harian hingga 36 derajat celsius akan melanda hampir seluruh wilayah Indonesia dalam sepekan kedepan.

    Menurut Tim Pusat Meteorologi Publik BMKG, Miming, sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Aceh, Jawa Timur dan Bali mengalami kondisi suhu panas maksimum dalam dua hari terakhir.

    Hasil analisa tim ahli meteorologi BMKG pada Selasa (11/6) siang, suhu terpanas di wilayah Aceh mencapai 36,6 derajat celcius dan Sumatera Utara 35,9 derajat celcius.

    Baca: Gelombang panas berpeluang besar terjadi di Idonesia

    Selain itu, tim meteorologi juga menganalisa suhu panas maksimum hingga 34,8 – 34,0 derajat celcius melanda sebagian besar wilayah di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Banten, Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Bali.

    “Ya, kondisi ini masih perlu kita waspadai dalam sepekan ke depan yang mana siang hari jadi titik suhu terpanas,” ujar Miming seperti yang dilansir Antaranews.

    Analisa tim meteorolgi BMKG menyebut suhu panas maksimum pada siang hari tersebut umumnya disebabkan karena gerak semu matahari dengan jarak terdekat di equator.

    Baca: Gelombang panas di Thailand tewaskan 61 orang

    Fenomena ini sekaligus menandakan musim kemarau mulai melanda Indonesia yang sebagaimana diprakirakan sebelumnya akan berlangsung Juni – September 2024.

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengkonsumsi air mineral secara cukup dan teratur supaya terhindar dari dehidrasi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    Jika berada diluar ruangan, gunakan topi atau payung untuk melindungi kepala dan tubuh bagian atas, kacamata hitam melindungi mata, dan tabir surya untuk melindungi diri kulit dari paparan sinar ultra violet (UV).

  • BMKG Ingatkan Potensi Hujan Deras yang Dapat Memicu Banjir di 4 Provinsi hingga 20 Juni Mendatang

    BMKG Ingatkan Potensi Hujan Deras yang Dapat Memicu Banjir di 4 Provinsi hingga 20 Juni Mendatang

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir yang dipicu oleh curah hujan berintensitas sedang-deras di empat provinsi pada periode 11 – 20 Juni 2024.

    Berdasarkan data Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG yang dilansir Jumat (14/6/202), melaporkan keempat provinsi siaga potensi banjir akibat tingginya intensitas curah hujan tersebut, antara lain Sumatera Selatan, Maluku, Papua Tengah dan Papua Barat Daya.

    Tim ahli klimatologi BMKG mengklasifikasikan potensi hujan yang dapat memicu banjir di Sumatera Selatan dalam kategori rendah.

    Namun, berdasarkan hasil analisa dasarian II yang berlangsung hingga 20 Juni hujan akan merata mencakup seluruh 17 kabupaten/kota, sehingga tetap diperingatkan untuk siaga.

    Baca Juga: Waspada! BMKG Sebut Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius Berpotensi Melanda Indonesia Sepekan Kedepan

    BMKG memperkirakan hujan akan melanda sejumlah wilayahvdi Sumatera Selatan seperti Kabupaten Banyuasin, Empat Lawang, Lahat, Muara Enim, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir.

    Hujan juga berpotensi teradi di Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu Timur, Penukal Abab Lematang Ilir, hingga kota Pagar Alam, Lubuk Linggau, dan Palembang.

    Untuk Provinsi Maluku, Papua Tengah dan Papua Barat Daya pada medio yang sama diklasifikasikan BMKG dalam kategori daerah yang potensi banjir tinggi.

    Potensi hujan deras yang dapat memicu banjira di Maluku diprakirakan meliputi Kota Ambon (Kecamatan Baguala, Leitimur Selatan, Nusaniwe, Sirimau, Telukambon).

    Baca Juga: BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    Juga Kabupaten Maluku Tengah (Kecamatan Amahai, Leihitu, Leihitu Barat, Pulauharuku, Seram Utara), Kabupaten Seram Bagian Barat (Kecamatan Amalatu, Huamual, Inamosol, Kairatu, dan Kairatu Barat).

    Provinsi Papua Barat Daya meliputi Kabupaten Maybrat (Kecamatan Mare), Kabupaten Sorong (Kecamatan Makbon, Sayosa), dan Sorong Selatan (Kecamatan Sawiat).

    Kemudian, potensi hujan yang memicu banjir di Provinsi Papua Tengah meliputi Kabupaten Mimika (Kecamatan Amar, Iwaka, Kuala Kencana, Kwamki, Narama, Mimika Barat dan sekitarnya),

    Juga Kabupaten Deiyai (Kecamatan Bowobado, Kapiraya, Tigi Barat), dan Memberamo Raya (Kecamatan Memberamo Hulu dan Rufaer).

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Sebagian Besar Wilayah Jakarta

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Sebagian Besar Wilayah Jakarta

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini soal kondisi cuaca untuk sebagian besar wilayah Jakarta pada Sabtu (15/06/2024) malam atau malam minggu.

    Kondisi cuaca hujan dengan intensitas sedang disertai petir dan angin kencang berpotensi mengguyur hampir di seluruh wilayah Jakarta, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

    Sedangkan kondisi cuaca di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat diperkirakan akan terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Pada sore hari kondisi cuaca di seluruh wilayah Jakarta diperkirakan cerah berawan. Demikian juga pada pagi hari cuaca hampir di seluruh wilayah Jakarta diperkirakan berawan.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Peluang hujan dengan intensitas ringan diperkirakan terjadi di wilayah Kepulauan Seribu pada Sabtu pagi.

    Suhu udara berkisar antara 23 hingga 32 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 65 hingga 100 persen.

    Sementara sebagian besar besar kota di Indonesia berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan lebat disertai petir. Pada pagi hari hujan ringan berpeluang terjadi di Kota Gorontalo dan Ambon.

    Pada siang hari, hujan ringan diperkirakan terjadi di Kota Serang, Bengkulu, Yogyakarta, Ambon, Ternate, Jayapura, Manokwari, Kendari, Manado dan Padang.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Pontianak. Sedangkan hujan dengan intensitas lebat disertai petir berpotensi melanda Kota Jambi, Bandung, Banjarmasin dan Tanjung Pinang.

    Kemudian pada malam hari hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Semarang, Tarakan, Bandar Lampung, Manokwari, Jayapura, Pekanbaru dan Palembang.

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Serang, Bandung dan Ambon. Kota Bengkulu dan Medan berpotensi terjadi hujan lebat disertai petir.

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 34 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung.

    Sedangkan Kota Banda Aceh, Serang dan Pontianak diperkirakan terjadi suhu tertinggi.  

  • Cegah Kebakaran Lahan, BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di 4 Provinsi

    Cegah Kebakaran Lahan, BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di 4 Provinsi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar operasi modifikasi cuaca secara serentak di lima provinsi untuk mengatasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan di Jakarta, Rabu (19/6/2024) mengatakan bahwa operasi modifikasi cuaca berlaku aktif mulai pada 14 Juni – 15 Juli 2024.

    Ia menyebutkan, pembasahan lahan gambut dan lahan mineral menjadi fokus utama dalam operasi modifikasi cuaca tersebut.

    Modifikasi cuaca ini sebagai langkah antisipasi/ mitigasi potensi bencana kebakaran lahan menjelang musim kemarau. Dari pemantauan BMKG, ada sejumlah titik panas di sejumlah kawasan di Indonesia.

    Baca: Sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi hujan

    Adapun modifikasi cuaca dilakukan di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

    Sementara jadwal pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di Riau (dilaksanakan pada 14 Juni-3 Juli 2024), dan Jambi (20 Juni-1 Juli 2024).

    Selanjutnya untuk Sumatera Selatan (3 Juli-12 Juli 2024), Kalimantan Barat (25 Juni-5 Juli 2024), dan Kalimantan Tengah ( 5 Juli-15 Juli 2024).

    Berdasarkan laporan analisa tim meteorologi BMKG sebelumnya telah memprakirakan musim kemarau akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia dasarian II Juni – September 2024.

    Baca: Sejumlah wilayah di Indonesia bersiap hadapi La Nina

    “Termasuk provinsi yang menjadi target rawan terjadi karhutla. Jangan sampai lahan gambut di sana kering dan terbakar,” ujarnya.

    Oleh karena modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi risiko dampak yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat itu.

    Secara teknis Pelaksana tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan, hingga Rabu operasi modifikasi cuaca di Riau sudah melakukan lima sorti penyemaian awan.

    Adapun total jam terbang 11 jam 35 menit menggunakan bahan semai zat NaCI (garam) sebanyak empat ton.

    Baca: Sejumlah titik panas terpantau di Riau

    Menurut dia, operasi modifikasi cuaca tersebut penting sehingga lahan-lahan gambut yang mulai kering bisa menjadi basah sebelum wilayah-wilayah tersebut memasuki puncak musim kemarau yang akan lebih kering.

    Terlebih berdasarkan sistem pantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara kumulatif dalam dua hari terakhir sudah mulai terdeteksi titik panas sebanyak 2-3 titik per hari.

    “Demikian seterusnya, operasi ini diharapkan bisa menekan potensi lonjakan hotspot dan potensi luasan area gambut yang terbakar jangan sampai berdampak pada masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Akibat Fenomena Solstis, Hari Ini Siang Akan Lebih Panjang

    Akibat Fenomena Solstis, Hari Ini Siang Akan Lebih Panjang

    7cloud.asia – Fenomena alam Juni Solstis atau Titik Balik Matahari tepat terjadi pada hari ini Jumat (21/6/2024). Pada fenomena ini, durasi penyinaran matahari di belahan utara Bumi akan lebih panjang.

    Juni Solstis menjadi tanda pergerakan musim kemarau di Indonesia. Menurut prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dhoho Kediri, Ringga Trigusti, fenomena Solstis ini terjadi setiap Juni dan Desember.

    Adanya fenomena solstis tersebut juga sekaligus sebagai tanda terjadinya perubahan musim. Untuk wilayah Indonesia, siang menjadi lebih lama dan malam sedikit lebih singkat waktunya.

    Intensitas penyinaran matahari pada siang hari ini akan berlangsung selama kurang lebih 11,40 jam.

    “Fenomena Juni Solstis membuat durasi siang hari di bumi belahan utara jauh lebih lama,” kata Rangga.

    Baca: Indonesia bersiap hadapi La Nina pada Juli mendatang

    Selain itu, fenomena ini menyebabkan suhu di belahan bumi selatan lebih tinggi dibandingkan di belahan bumi utara.

    Hal ini menyebabkan angin Monsun Asia menjadi lebih signifikan dan berakhir meningkatkan potensi curah hujan di Indonesia.

    Sementara dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), solstis berasal dari Bahasa Latin ‘Solstitium’. ‘Sol’ berarti matahari.

    Sedangkan ‘Sitium’ merupakan bentuk kerja dari Sistere yang berarti tempat berhenti, singgah, atau balik. Karena itu, ‘Solstium’ dapat didefinisikan sebagai Titik Balik Matahari.

    Baca: Ini penyebab Indonesia terhindar dari gelombang panas

    Fenomena Solstis adalah fenomena murni astronomis yang dapat mempengaruhi musim di bumi.

    Solstis disebabkan oleh sumbu rotasi Bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika.

    Pada Solstis bulan Juni, kutub utara dan belahan bumi Utara terkadang condong ke matahari saat bumi mengorbit matahari. Sedangkan kutub selatan dan belahan bumi selatan menjauhi matahari.

    Sementara Solstis bulan Desember, kutub selatan dan belahan bumi bagian selatan condong ke Matahari. Lalu kutub utara dan belahan bumi utara menjauhi Matahari.

  • BMKG Ingatkan Potensi Pasang Laut di Sejumlah Daerah di Indonesia

    BMKG Ingatkan Potensi Pasang Laut di Sejumlah Daerah di Indonesia

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi pasang laut di sejumlah daerah di Indonesia

    BMKG Stasiun Balikpapan menyatakan pasang laut setinggi 2,8 meter di daerah pesisir Kalimantan Timur bisa mengganggu aktivitas warga, sehingga diimbau mewaspadai dampak yang bisa ditimbulkan.

    “Dasarian tiga 21-30 Juni 2024 sejumlah kawasan pesisir di Kaltim diprakirakan terjadi pasang laut 2,8 meter, sehingga perlu diwaspadai,” kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Diyan Novrida dilansir Antaranews.com, Jumat.

    Kewaspadaan diperlukan karena dampak pasang laut antara lain dapat mengganggu aktivitas petambak dan aktivitas lain baik ekonomi maupun sosial, termasuk bisa membahayakan anak-anak yang sering berenang di pantai.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Kabupaten Banyuwangi Galakkan Penanaman Cemara Laut, Ini Alasannya

    Ia merinci berdasarkan prakiraan pasang surut di Perairan Balikpapan periode 21 – 30 Juni 2024, pasang tertinggi terjadi pada 22 hingga 25 Juni dengan ketinggian 2,8 meter pada pukul 06:00 – 08:00 Wita.

    Sedangkan surut terendah diprakirakan setinggi 0,4 meter pada 21 sampai 25 Juni pada pukul 23:00, 24:00, dan 01:00 Wita.

    Kewaspadaan masyarakat menjadi perhatian karena terdapat tiga daerah yang terpengaruh oleh pasang laut di Perairan Balikpapan, yakni Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.

    Di tiga wilayah ini banyak warga yang memiliki tambak baik tambak untuk budidaya kepiting, udang, dan berbagai jenis perikanan laut.

    Baca Juga: BMKG Perkirakan Permukaan Laut Indonesia Naik 1,2 Centimeter Per Tahun Sebagai Dampak Perubahan Iklim

    Ketika terjadi pasang tinggi dikhawatirkan air laut dapat meluap ke tambak warga yang mungkin dapat menghanyutkan budidaya nelayan.

    Ikan, udang, dan kepiting yang mereka pelihara bisa terdampak arus pasang laut yang membuat rugi petambak, sehingga adanya peringatan ini petambak bisa melakukan antisipasi.

    Selain itu, pasang laut juga bisa mengganggu aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas warga yang tinggal di kawasan pesisir, bahkan bisa jadi air laut masuk ke pemukiman warga dekat pantai.

    Kewaspadaan bukan hanya disampaikan untuk warga pesisir di Balikpapan dan sekitarnya, tetapi juga sejumlah kawasan pesisir lain yang tersebar di Kaltim.

    Baca Juga: Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Naiknya Permukaan Air Laut Akibat Krisis Iklim

    Seperti di perairan Muara Sungai Berau, Kabupaten Berau, yakni pasang tertinggi diprakirakan terjadi pada 24 Juni dengan ketinggian 2,8 meter pukul 09:00 Wita, kemudian surut terendah 0,5 meter pada 21 hingga 27 Juni 2024 pukul 02:00 hingga 05:00 dan 14:00 – 17:00 Wita.

    “Kemudian di perairan Teluk Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, pasang tertinggi pada 22 hingga 24 Juni dengan ketinggian 2,5 meter pada pukul 06:00 dan 07:00 Wita, surut terendah setinggi 0,4 meter pada 22 hingga 25 Juni 2024 pukul 01:00 dan 24:00 Wita,” katanya.

    Lalu di Perairan Pulau Nubi, Muara Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara dan sekitarnya, pasang tertinggi pada 23 dan 24 Juni 2024 setinggi 2,8 meter pukul 07.00 dan 08.00 Wita.

    Sedangkan, surut terendah setinggi 0,5 meter pada 22 hingga 26 Juni sekira pukul 24.00 – 02.00 Wita.

    Sumber:Antaranews.com