BMKG Sebut Wilayah Ini Berpotensi Terjadi Kekeringan, Masyarakat Harus Waspada

Written by

in

7cloud.asia – Sejumlah wilayah berpotensi terjadi kekeringan pada Juli hingga September 2014. Karena itu, masyarakat harus waspada dan mengantisipasinya.

Deputi Bidang Klimatologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan dalam rilisnya menjelaskan wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan adalah sebagian besar Pulau Jawa.

Sebagian besar Pulau Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Pulau Sulawesi, dan sebagian Maluku dan Papua juga berpotensi mengalami kekeringan.

Lebih lanjut Ardhasena menjelaskan pihaknya telah melakukan pemantauan adanya anomali iklim di Samudera Pasifik.

Baca: BMKG lakukan modifikasi cuaca untuk antisipasi kekeringan

Hingga dasarian II Mei 2024, menunjukkan indeks ENSO sebesar +0.21 atau dalam kondisi netral.

Kondisi indeks ENSO sudah berada pada level netral selama dua dasarian, dan diprediksi akan terus netral sampai periode Juni-Juli 2024.

Selanjutnya, pada periode Juli-Agustus-September 2024, ENSO Netral diprediksi akan beralih menuju fase La Nina lemah yang akan bertahan hingga akhir tahun 2024.

Fenomena La Nina lemah ini diprediksi tidak berdampak pada musim kemarau yang akan segera hadir.

Sedangkan di Samudera Hindia, pemantauan suhu muka laut menunjukkan kondisi IOD Netral namun ada kecenderungan beralih ke fase IOD Positif.

Melihat fakta tersebut, lanjut dia, maka daerah-daerah tersebut memiliki potensi curah hujan bulanan sangat rendah.

Baca: Status NTT awas karena selama 60 hari tak hujan

“Yaitu masuk kategori kurang dari 50mm per bulan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dan antisipasi dampak kekeringan,” ungkap Ardhasena.

Selain itu dari hasil monitoring hotspot yang dilakukan dengan satelit, menunjukkan telah munculnya beberapa hotspot awal pada daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu perlu adanaya perhatian khusus untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di sepanjang musim kemarau.

“Memperhatikan dinamika atmosfer jangka pendek terkini, masih terdapat jendela waktu yang sangat singkat yang bisa dimanfaatkan secara optimal sebelum memasuki periode pertengahan musim kemarau,” terangnya.

Baca: Kekeringan di Bali meluas

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto mengatakan BMKG telah merekomendasikan hal teknis yang bisa dilakukan sebagai langkah mitigasi dan antisipasi.

Di antaranya, penerapan teknologi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di daerah yang berpotensi mengalami kondisi kering saat musim kemarau.

Selain itu, membasahi dan menaikkan muka air tanah pada daerah yang rawan mengalami karhutla ataupun pada lahan gambut.

Pihaknya, lanjut Seto, bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Pertanian untuk melakukan upaya modifikasi cuaca.

Dengan kerjasama untuk memitigasi bencana kekeringan tersebut, maka kementerian terkait dapat memastikan koneksitas jaringan irigasi dari waduk ke kawasan yang terdampak kekeringan benar-benar memadai.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *