Tag: bmkg

  • Suhu Permukaan Bumi Meningkat, BMKG Sebut Pengamatan Sistem Kebumian Penting untuk Menghadapinya

    Suhu Permukaan Bumi Meningkat, BMKG Sebut Pengamatan Sistem Kebumian Penting untuk Menghadapinya

    7cloud.asia – Suhu permukaan bumi meningkat dengan cepat setiap tahun berdampak buruk pada manusia. Pengamatan sistem kebumian yang sistematis menjadi penting dalam menghadapinya.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam Ocean and Climate Change Dialogue 2024 yang diselenggarakan oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCC) di Bonn, Jerman beberapa waktu lalu.

    Dwikorita menjelaskan peningkatan suhu global tidak dapat dianggap sepele. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu permukaan global telah meningkat dengan cepat.

    Baca: Cara mencegah kematian manusia akibat perubahan iklim

    Rata-rata tahunan mencapai 1,45 derajat celcius pada tahun 2023 dibandingkan dengan baseline setelah era Revolusi Industri.

    Padahal di tahun 2020, menurut laporan WMO tentang keadaan iklim global, kenaikan rata-rata suhu global adalah 1,2 derajat celcius. Artinya dalam beberapa tahun, ada peningkatan suhu permukaan yang signifikan.

    “Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas, dan informasi ini hanya dapat diperoleh melalui pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian. Tanpa pengamatan kebumian yang sistematis, informasi yang diberikan bisa menyesatkan atau salah,” urai Dwikorita.

    “Pengamatan kebumian yang sistematis ini diperlukan baik di tingkat nasional, regional, maupun global,” lanjutnya lagi.

    Menurutnya pengamatan sistematis sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk memberikan data dukung dalam aksi adaptasi iklim, aksi mitigasi iklim atau keputusan, kebijakan apa pun terkait mitigasi dan adaptasi iklim.

    Pengamatan sistematis tersebut, lanjut dia, juga harus diikuti oleh tindakan yang sistematis di segala lini.

    Baca: Perubahan iklim bisa bunuh 1 milyar orang

    Dia mencontohkan informasi mengenai fenomena El Nino yang menyebabkan kenaikan panas laut yang meluas di Pasifik tropis bagian timur.

    Hal ini, lanjut Dwikorita, merupakan hasil pengamatan kebumian sistematis yang didukung juga oleh pemantauan satelit.

    Selain itu, prediksi Food and Agriculture Organization (FAO) mengenai ancaman krisis pangan pada tahun 2050 mendatang juga merupakan hasil dari pengamatan kebumian yang sistematis secara global, nasional, dan lokal.

    Karena itu, mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menekankan pentingnya pengamatan sistematis di seluruh negara di dunia untuk melakukan analisis dan prediksi lebih lanjut.

    “Analisis masa lalu merupakan cara untuk memvalidasi dampak dari peningkatan suhu yang berlangsung dan kondisi Bumi kekinian,” kata Dwikorita.

    Baca: Batubara adalah salah satu penyebab utama krisis iklim

    “Selanjutnya, pada analisisi lebih lanjut yang didasarkan pada data pengamatan sistematis dapat diketahui bahwa ternyata perubahan iklim memberi tekanan pada sumber daya air yang sudah langka, menghasilkan hotspot air. Nah, hal ini dapat ditangkap dan dianalisis lagi berdasarkan pengamatan sistematis,” jelasnya.

    Kenaikan suhu global tidak hanya berdampak pada suhu bumi yang makin panas. Tetapi juga dapat meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi.

    Dampak lainnya adalah kekeringan, buruknya kualitas udara, kebakaran hutan dan lahan, gelombang panas, risiko kesehatan, penurunan kualitas hidup, hingga ancaman kelangsungan hidup spesies di bumi.

    Kondisi ini lanjut Dwikorita, akhirnya akan menganggu stabilitas perekonomian dan politik dunia.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan Indonesia meningkatkan jaringan pengamatan kebumian baik di laut maupun darat.

    Baca: Butuh triliunan dollar untuk hadang perubahan iklim

    Hal tersebut juga diiringi dengan peningkatan kapasitas pemrosesan data dan peningkatan penyebaran informasi kepada publik dan sektorpengguna.

    “Salah satu fokus pengamatan kami (Indonesia-red) terhadap dampak perubahan iklim adalah laut. Hal ini karena kunci dari perubahan iklim adalah laut, yang juga berinteraksi dengan atmosfer. Ini adalah upaya kami untuk memperkuat kapasitas prakiraan, prediksi ataupun proyeksi,” urainya.

    “Jadi ketika kita berbicara tentang dampak perubahan iklim, kita tidak bisa mengabaikan integrasi pengamatan laut dan atmosfer, mulai dari pemrosesan data, analisis, prediksi, dan proyeksinya, hingga penyebarluasan hasil analisis/ informasi utk berbagai kepentingan layanan, ” paparnya.

    Karena itu, dia berharap UNFCC dapat menjadikan pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian sebagai dasar negosiasi dan pengambilan kebijakan.

    Hal ini perlu dilakukan untuk mendukung negara-negara di dunia untuk mengambil tindakan sistematis untuk mengatasi perubahan iklim.

    Dia khawatir jika kebijakan dibuat tanpa mempertimbangkan pengamatan sistematis fenomena kebumian bisa menjadi sesuatu yang salah atau menyesatkan.

     

  • Cuaca Hari Ini: Peringatan Dini BMKG, Sejumlah Wilayah Mengalami Cuaca Ekstrem

    Cuaca Hari Ini: Peringatan Dini BMKG, Sejumlah Wilayah Mengalami Cuaca Ekstrem

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini untuk sejumlah wilayah di Indonesia pada Senin (24/06/2024).

    Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang.

    Cuaca ekstrem tersebut akibat adanya sirkulasi siklonik terpantau di Selat Makassar yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Sulawesi Selatan bagian utara dan Selat Makassar bagian utara.

    Daerah konvergensi lainnya juga terpantau memanjang di Aceh, Sumatera Barat, Lampung, di Kepulauan Riau, dari Jawa Timur bagian utara hingga Laut Jawa, perairan utara NTT dan dari Papua Tengah hingga Papua Barat Daya.

    Selain itu, daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Sulawesi Tengah dan di perairan utara Pulau Papua.

    Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

    Wilayah yang berpotensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang adalah : Bengkulu, DI Yogyakarta , Kalimantan Utara , Kalimantan Timur.

    Kondisi cuaca yang sama juga berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Utara , Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua.

    Sedangkan wilayah yang berpotensi hujan yang disertai kilat/petir dan angin kencang adalah Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat.

    Wilayah Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan juga berpotensi diguyur hujan disertai kilat/petir dan angin kencang.  

    Tak hanya hujan, BMKG juga memprediksi angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Aceh dan Nusa Tenggara Timur

    Suhu udara berkisar antara 19 hingga 35 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung. Suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Banda Aceh.

    Sementara itu, untuk seluruh wilayah Jakarta cuaca diperkirakan cerah dan berawan dari pagi hingga malam hari.

    Suhu udara di Jakarta berkisar antara 24 hingga 32 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 60 hingga 85 persen.

     

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Berpetir di Sejumlah Wilayah Jabodetabek

    Cuaca Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Berpetir di Sejumlah Wilayah Jabodetabek

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi cuaca di Jakarta pada akhir pekan, Sabtu (29/6/2024) besok berpotensi hujan ringan di sejumlah wilayah.

    Dikutip dari laman resmi BMKG, www.bmkg.go.id, pada pagi hari diprediksi langit Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) keseluruhannya bakal cerah berawan tanpa terkecuali.

    Namun, memasuki siang hari, kondisi cuaca Jakarta sebagiannya diprediksi berawan dan cerah berawan, kecuali Jakarta Selatan yang berpotensi hujan ringan.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Pada malam hari, kondisi cuaca di Jakarta diprakirakan bakal cerah berawan, kecuali Jakarta Barat yang bakal berawan.

    Kondisi cuaca wilayah penyangganya yaitu Bekasi dan Depok, Jawa Barat, pada siang hingga malam hari diprediksi turun hujan dengan intensitas ringan.

    Sementara kondisi cuaca di Kota Bogor, Jawa Barat yang diprakirakan bakal hujan petir di siang hari dan malam hujan ringan.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    “Waspada potensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dalam skala lokal dan durasi singkat pada waktu siang hingga malam hari di sebagian wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok,” demikian peringatan BMKG dirilis di laman resminya.

    Hujan disertai kilat/petir dan angin kencang juga berpotensi terjadi di Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta Jawa Barat.

    BMKG memperkirakan kondisi cuaca hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Kota Tangerang, Banten pada siang hari.

    Sementara pada malam hari, kondisi cuaca Kota Tangerang diperkirakan bakal berawan.

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Disertai Petir di Sejumlah Provinsi

    Cuaca Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Disertai Petir di Sejumlah Provinsi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di sejumlah provinsi untuk mewaspadai turunnya hujan disertai kilat atau petir.

    Dikutip dari laman resmi BMKG di Jakarta, Minggu (30/6/2024) pagi, kondisi cuaca dengan hujan disertai petir ini diprakirakan akan mengguyur 23 provinsi di Indonesia pada Minggu,

    Adapun, 23 provinsi yang berpotensi diterjang hujan yang disertai kilat atau petir atau hujan badai itu adalah Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung

    Berikutnya adalah Provinsi Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    Juga Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat.

    Selain hujan yang disertai kilat atau petir, BMKG pun memprakirakan terdapat 22 provinsi yang berpotensi diguyur hujan lebat, yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau,

    Hujan lebat juga berpotensi terjadi di Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Provinsi lainnya adalah Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

    BMKG juga memperingatkan potensi hujan yang disertai dampak seperti banjir yang dapat melanda daerah Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara.

    Hujan lebat yang bisa memicu banjir juga berpotensi terjadi di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, dan Papua.

    BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kemunculan angin kencang di wilayah Aceh, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, dan Papua.

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan Berpotensi Mengguyur Sejumlah Wilayah Jakarta dan Sekitarnya

    Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan Berpotensi Mengguyur Sejumlah Wilayah Jakarta dan Sekitarnya

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam perkiraan cuaca yang dirilis di laman resminya menyebut, hujan ringan berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek).

    Dalam perkiraan cuaca itu, BMKG memperkirakan hujan ringan berpotensi terjadi pada malam atau dini hari. Sementara pada pagi hingga sore hari cuaca di Jakarta bakal cerah atau berawan.

    Untuk, masyarakat Jabodetabek diingatkan menyiapkan payung sebelum melakukan aktivitas.

    BMKG juga mengimbau masyarakat untuk waspada dan hati-hati jika terjadi perubahan cuaca mendadak.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    Berikut perkiraan cuaca di Jakarta, Senin (1/7/2024) dikutip dari laman resmi BMKG.

    1. Jakarta Pusat
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Berawan

    2. Jakarta Barat
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    3. Jakarta Selatan
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    4. Jakarta Timur
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    Baca Juga: Komisi VIII DPR Minta BNPB Lebih Responsif dalam Memitigasi Bencana Banjir Akibat Cuaca Ekstrem

    5. Jakarta Utara
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Hujan Ringan

    6. Kepulauan Seribu
    Pagi: Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Hujan Ringan

    7. Kota Bogor
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    8. Kota Depok
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    9. Kota Bekasi
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    10. Kota Tangerang
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Hujan Ringan
    Sore: Hujan Ringan
    Malam: Berawan

    Baca Juga: BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan Berpotensi Mengguyur Wilayah Bodetabek

    Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan Berpotensi Mengguyur Wilayah Bodetabek

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam perkiraan cuaca yang dirilis di laman resminya menyebut, hujan ringan berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Bodetabek pada Rabu (3/7/2024).

    Kondisi cuaca dengan hujan ringan antara lain berpotensi mengguyur Kepulauan Seribu, Bogor dan Depok pada malam dan dini hari.

    Sementara kondisi cuaca Jakarta diperkirakan bakal cerah berawan dari pagi hingga malam hari.

    Berikut prakiraan cuaca pada 3 Juli 2024 di Jabodetabek selengkapnya, seperti dikutip dari laman resmi BMKG:

    1. Jakarta Pusat
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Berawan 

    2. Jakarta Barat
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Berawan 

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    3. Jakarta Selatan
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Berawan 
    Dini Hari: Berawan 

    4. Jakarta Timur
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Cerah Berawan 
    Dini Hari: Berawan

    5. Jakarta Utara
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Berawan 
    Dini Hari: Berawan

    6. Kepulauan Seribu
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Cerah Berawan
    Dini Hari: Hujan Ringan

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    Prakiraan cuaca Rabu (3/7/2024) Bodetabek

    7. Kota Bogor
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Hujan Ringan
    Malam: Hujan Ringan
    Dini Hari: Berawan

    8. Kota Depok
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Hujan Ringan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Berawan

    9. Kota Bekasi
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Berawan

    10. Kota Tangerang
    Pagi: Cerah Berawan
    Siang: Cerah Berawan
    Sore: Cerah Berawan
    Malam: Berawan
    Dini Hari: Berawan

    Baca Juga: BRIN: Cuaca Ekstrem Makin Sering Terjadi sehingga Perlu Dibentuk Tim Khusus untuk Menangani

     

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    Cuaca Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam perkiraan cuaca yang dirilis di laman resminya mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada Minggu (7/7/2024).

    Potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, petir, dan angin kencang itu juga terjadi pada Sabtu (6/7/2024) kemarin.

    BMKG menyatakan, cuaca ekstrem itu dikarenakan adanya sirkulasi siklonik yang terpantau di Selat Karimata dan Samudra Pasifik timur Filipina.

    Sejumlah sirkulasi siklonik itu membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang dari Laut Jawa hingga Bangka Belitung, dari Kalimantan Utara hingga Kalimantan Barat, dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah, dan dari Filipina hingga Samudra Pasifik timur Filipina.

    Daerah konvergensi lain terpantau memanjang di pesisir barat Bengkulu, dari perairan barat Banten hingga barat daya Lampung, dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat, di Laut Banda, dan dari Papua hingga Papua Barat.

    Baca: Indonesia bersiap menyambut La Nina

    Selain itu, juga muncul daerah pertemuan angin (konfluensi) yang terpantau memanjang di Laut Jawa dan Laut Filipina.

    “Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut,” bunyi penjelasan BMKG.

    Adapun wilayah berpotensi hujan lebat, petir, dan angin kencang antara lain adalah
    Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Lampung

    Di pulau Jawa, hujan lebat, petir, dan angin kencang berpotensi terjadi di Banten dan Jawa Tengah.

    Hujan lebat, petir, dan angin kencang juga berpotensi terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur.

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau

    Wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua juga berpotensi diguyur hujan lebat, petir, dan angin kencang.

    Adapun Sumatera Barat, Jawa Barat dan DKI Jakarta berpotensi diguyur hujan berintensitas sedang, petir, dan angin kencang.

    Sedangkan angin kencang berpotensi melanda Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

  • BMKG Ajak Pihak Swasta Turut Serta Mitigasi Bencana

    BMKG Ajak Pihak Swasta Turut Serta Mitigasi Bencana

    7cloud.asia – Bencana gempa bumi dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Perlu penguatan sistem mitigasi dan pengurangan risiko bencana dari semua pihak, termasuk pihak swasta.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati di sela-sela Rakor Peningkatan Upaya Mitigasi dan Peringatan Dini Bahaya Gempabumi dan Tsunami.

    Dia menjelaskan upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana merupakan investasi jangka panjang yang juga harus dipersiapkan dunia usaha demi menjaga keberlanjutan usaha mereka.

    Karenanya, dunia usaha dapat menjadi aktor utama penggerak upaya pengurangan risiko bencana.

    Baca: Tiga opsi langkah mitigasi bencana Gunung Marapi

    “Bencana alam otomatis juga akan berdampak pada sektor swasta. Maka dari itu kami mendorong keterlibatan aktif swasta dalam manajemen risiko bencana lewat penguatan aksi mitigasi untuk membangun ketahanan serta ketangguhan sosial dan ekonomi,” jelas Dwikorita dalam laman resmi BMKG.

    Lebih jauh dia menjelaskan Indonesia merupakan negara dengan kerentanan bencana alam. Karena itu perlu kolaborasi aksi mitigasi dan pengurangan risiko bencan.

    Pemerintah dan masyarakat,lanjutnya, akan kesulitan jika harus bekerja sendiri. Sebab perlu sumber daya yang besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kompleks.

    Dia mencontohkan saat Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia (AM IMF-WBG) di Bali tahun 2018 lalu yang hampir saja batal karena terjadi erupsi Gunung Agung.

    Baca: Pegamat lingkungan menyayangkan pemerintah tak antisipasi bencana

    Tetapi acara tersebut akhirnya tetap dilaksanakan dengan baik setelah Pemerintah Indonesia mampu meyakinkan negara peserta bahwa Indonesia memiliki kesiapan sistem peringatan dini bencana dan aksi mitigasi bencana yang baik dan handal.

    Hotel-hotel tempat menginap kepala negara, delegasi, dan tamu telah tersertifikasi kesiap-siagaan bencana oleh BPBD dan BMKG.

    Indikatornya, kelengkapan infrastruktur, pemahaman bencana, sistem peringatan dini, kemampuan merespons bencana, mitigasi bencana, dan keamanan.

    “Singkatnya, mereka sudah sangat siap jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. Hal ini perlu juga dicontoh oleh penyelenggara dan pelaku wisata, khususnya di daerah rawan bencana alam,” katanya.

  • Musim Kemarau, Kok Masih Hujan? Ini Dia Penyebabnya

    Musim Kemarau, Kok Masih Hujan? Ini Dia Penyebabnya

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia masih diguyur hujan meski telah memamsuki musim kemarau. Hal ini akibat beberapa faktor diantaranya adanya gelombang Kelvin.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan selain adanya gelombang Kelvin, ada faktor lain yang menyebabkan peningkatan curah hujan.

    Yaitu aktifnya fenomena atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) dan Rossby Equatorial.

    “Sehingga berdasarkan analisis cuaca dan pengamatan perkembangan kondisi cuaca, sepekan ke depan masih terdapat potensi peningkatan curah hujan yang signifikan di wilayah Indonesia meskipun telah memasuki musim kemarau,” jelas Dwikorita dalam konferensi pers.

    Baca: Musim kemarau 2024 bakal mundur

    Dia menjelaskan fenomena MJO yang saat ini aktif menyebabkan pergerakan atau propagasi kumpulan awan-awan hujan dari Samudra Hindia sebelah timur Afrika.

    Kumpulan awan hujan tersebut bergerak di sepanjang khatulistiwa menuju Samudra Pasifik melintasi wilayah Indonesia.

    Umumnya, arak-arakan awan hujan ini masuk melalui wilayah barat menuju wilayah timur Indonesia.

    Di sisi lain, dalam sepekan ke depan fenomena gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Equatorial juga berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia.

    Baik di wilayah barat, tengah, dan timur, seperti sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.

    Baca: BMKG ingatkan hujan deras di 4 provinsi

    Selain itu, suhu permukaan laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia juga turut berkontribusi dalam menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

    Berdasarkan analisa tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca dimana diperkirakan akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat petir dan angin kencang di sebagai wilayah Indonesia pada 8-14 Juli.

    “Yaitu di sebagian besar wilayah Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Khusus untuk pulau Jawa akan mengalami penurunan potensi hujan mulai periode tanggal 11 Juli “, ujarnya.

    Baca: Sejumlah wilayah hadapi cuaca ekstrem

    Namun, lanjut Dwikorita, fenomena hujan di musim kemarau tidak lepas dari letak geografis wilayah Indonesia yang berada di dua benua,benua Asia dan benua Australia.

    Letak geografis Indonesia juga berada pada pertemuan di antara dua Samudra besar yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

    “Fenomena iklim dan cuaca di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dinamika cuaca yang beragam. Selama musim kemarau, adanya potensi gangguan seperti MJO (Madden-Julian Oscillation) dan gelombang atmosfer lainnya tetap dapat menyebabkan pembentukan awan hujan” terangnya.

    Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menambahkan bahwa peningkatan curah hujan akibat gangguan fenomena atmosfer tidak akan terjadi berhari-hari.

    Baca: BMKG ajak pihak swasta mitigasi bencana

    Setiap wilayah diprediksi hanya 1-3 hari. Di mana saat ini wilayah Jakarta, Banten, yang pada pekan kemarin diguyur hujan lebat saat ini sudah mulai cerah kembali.

    “Kondisi tersebut diprediksikan akan menurun, dimana wilayah Jawa, Banten, Bali, dan Nusa Tenggara akan kembali mengalami kondisi musim kemarau yang normal,” ujar Guswanto.

    Oleh karenanya, penting untuk masyarakat Indonesia dalam memahami kompleksitas fenomena iklim dan cuaca di Indonesia-plus dampak perubahan iklim.

     

  • BMKG Prediksi Hujan Lebat Saat Musim Kemarau Masih Akan Berlangsung hingga Pekan Depan

    BMKG Prediksi Hujan Lebat Saat Musim Kemarau Masih Akan Berlangsung hingga Pekan Depan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia masih akan diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir walau sudah memasuki musim kemarau pada Juli 2024.

    BMKG juga menemukan beberapa wilayah yang sudah diguyur hujan lebat sejak Jumat (5/7/2024) hingga Sabtu (6/7/2024).

    Wilayah tersebut adalah Kota Bengkulu, Bengkulu yang diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di atas 100 milimeter.

    Di sisi lain, Kabupaten Mimika, Papua juga dilanda hujan lebat hingga sangat lebat sebesar 117,2 mm.

    Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, terjadinya hujan di tengah musim kemarau 2024 tak lepas dari letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua, yakni Australia dan Asia dan dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia.

    ”Letak geografis ini menjadikan Indonesia memiliki dua musim yang berbeda, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Angin monsun barat dari benua Asia membuat Indonesia mengalami musim hujan,” ujar Dwikorita, dikutip Kompas.com, Rabu (10/7/2024).

    Baca: Indonesia bersiap hadapi La Nina

    Sementara secara umum, lanjutnya, musim kemarau di Indonesia berkaitan dengan aktifnya angin monsun timur dari Australia yang bersifat kering.

    Lantas, sampai kapan hujan lebat saat musim kemarau 2024 ini akan berlangsung? Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, pihaknya memprediksi hujan lebat saat musim kemarau masih akan terjadi hingga Senin (15/7/2024).

    Guswanto menjelaskan, turunnya hujan saat musim kemarau tahun ini berkaitan dengan Madden Julian Oscillation (MJO) yang sudah memasuki fase tiga atau Indian Ocean.

    MJO adalah aktivitas intra seasonal yang terjadi di wilayah tropis yang dapat dikenali dengan pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30-40 hari.

    Kemunculan MJO dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap musim kemarau yang sedang berlangsung

    “Meskipun umumnya musim kemarau ditandai dengan cuaca kering dan minim hujan, fase MJO ini bisa mempengaruhi pola cuaca dengan meningkatkan kemungkinan adanya periode hujan yang lebih intens atau tidak biasa selama musim kemarau, terutama pada puncak musim kemarau,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (9/7/2024).

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia masuki musim kemarau

    “Hal ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem pada musim kemarau yang cenderung konsisten kering dapat dipengaruhi oleh faktor regional seperti MJO,” tambahnya.

    Selain MJO, faktor lain yang menyebabkan musim kemarau tahun ini menjadi basah adalah gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik, daerah perlambatan angin (konvergensi), daerah pertemuan angin (konfluensi), intrusi udara kering, dan labilitas lokal kuat.

    Beberapa wilayah yang diperkirakan bakal dilanda hujan dengan intensitas sedang-lebat hingga Senin mendatang adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu dan Lampung.

    Juga Banten, Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Utara Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara.

    Maluku Utara, Maluku Papua Barat Daya Papua Barat Papua Tengah Papua Pegunungan Papua Papua Selatan.