7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia masih akan diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir walau sudah memasuki musim kemarau pada Juli 2024.
BMKG juga menemukan beberapa wilayah yang sudah diguyur hujan lebat sejak Jumat (5/7/2024) hingga Sabtu (6/7/2024).
Wilayah tersebut adalah Kota Bengkulu, Bengkulu yang diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di atas 100 milimeter.
Di sisi lain, Kabupaten Mimika, Papua juga dilanda hujan lebat hingga sangat lebat sebesar 117,2 mm.
Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, terjadinya hujan di tengah musim kemarau 2024 tak lepas dari letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua, yakni Australia dan Asia dan dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia.
”Letak geografis ini menjadikan Indonesia memiliki dua musim yang berbeda, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Angin monsun barat dari benua Asia membuat Indonesia mengalami musim hujan,” ujar Dwikorita, dikutip Kompas.com, Rabu (10/7/2024).
Baca: Indonesia bersiap hadapi La Nina
Sementara secara umum, lanjutnya, musim kemarau di Indonesia berkaitan dengan aktifnya angin monsun timur dari Australia yang bersifat kering.
Lantas, sampai kapan hujan lebat saat musim kemarau 2024 ini akan berlangsung? Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, pihaknya memprediksi hujan lebat saat musim kemarau masih akan terjadi hingga Senin (15/7/2024).
Guswanto menjelaskan, turunnya hujan saat musim kemarau tahun ini berkaitan dengan Madden Julian Oscillation (MJO) yang sudah memasuki fase tiga atau Indian Ocean.
MJO adalah aktivitas intra seasonal yang terjadi di wilayah tropis yang dapat dikenali dengan pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30-40 hari.
Kemunculan MJO dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap musim kemarau yang sedang berlangsung
“Meskipun umumnya musim kemarau ditandai dengan cuaca kering dan minim hujan, fase MJO ini bisa mempengaruhi pola cuaca dengan meningkatkan kemungkinan adanya periode hujan yang lebih intens atau tidak biasa selama musim kemarau, terutama pada puncak musim kemarau,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (9/7/2024).
Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia masuki musim kemarau
“Hal ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem pada musim kemarau yang cenderung konsisten kering dapat dipengaruhi oleh faktor regional seperti MJO,” tambahnya.
Selain MJO, faktor lain yang menyebabkan musim kemarau tahun ini menjadi basah adalah gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik, daerah perlambatan angin (konvergensi), daerah pertemuan angin (konfluensi), intrusi udara kering, dan labilitas lokal kuat.
Beberapa wilayah yang diperkirakan bakal dilanda hujan dengan intensitas sedang-lebat hingga Senin mendatang adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu dan Lampung.
Juga Banten, Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Utara Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara.
Maluku Utara, Maluku Papua Barat Daya Papua Barat Papua Tengah Papua Pegunungan Papua Papua Selatan.

Leave a Reply