Tag: as

  • Lebih dari 50 Negara Ajukan Negosiasi Terkait Kebijakan Tarif Impor AS

    Lebih dari 50 Negara Ajukan Negosiasi Terkait Kebijakan Tarif Impor AS

    7cloud.asia – Lebih dari 50 negara yang terdampak tarif impor baru AS sudah berkomunikasi dengan Washington untuk meminta negosiasi terkait pencabutan tarif. Hal diungkapkan seorang pejabat Gedung Putih.

    “Saya mendapat laporan dari (Perwakilan Dagang AS) tadi malam bahwa sudah lebih dari 50 negara berkomunikasi dengan presiden kita untuk meminta negosiasi,” ucap Ketua Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett, Minggu (6/4/2025).

    Dalam wawancara bersama George Stephanopoulos dari acara berita “This Week” oleh ABC News, Hassett mengatakan bahwa negara-negara tersebut marah dan berusaha membalas, namun mereka “juga mau datang ke meja negosiasi”.

    “Mereka melakukannya karena paham mereka menanggung banyak sekali tarif,” kata dia.

    Hassett menganggap bahwa pemberlakuan tarif impor ini tidak akan berdampak besar bagi konsumen di AS.

    Pasalnya negara-negara tersebut “memiliki suplai yang sangat tidak elastis” sehingga AS “mengalami defisit dagang yang berkepanjangan dan berlangsung lama”.

    Sementara itu, eks menteri keuangan AS Lawrence Summers yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, tarif impor baru ini membawa dampak buruk bagi ekonomi.

    Menurut Summers, tarif impor mengakibatkan kenaikan harga dan meningkatnya inflasi.

    Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga “pekerjaan jadi berkurang”

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Donald Trump Rencanakan Tutup Puluhan Kedutaan dan Konsulat AS

    Donald Trump Rencanakan Tutup Puluhan Kedutaan dan Konsulat AS

    7cloud.asia – Pemerintah AS di bawah Donald Trump tengah mempertimbangkan rencana untuk menutup hampir 30 kedutaan dan konsulat AS di seluruh dunia.

    Penutupan ini sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kehadiran pemerintah federal di luar negeri, menurut sebuah laporan pada Selasa (15/4/2025)

    CNN melaporkan bahwa dokumen internal Departemen Luar Negeri, yang menguraikan rekomendasi oleh wakil menteri untuk manajemen, mengusulkan penutupan 10 kedutaan dan 17 konsulat, dengan mayoritas berlokasi di Eropa dan Afrika.

    Pos-pos diplomatik yang diidentifikasi untuk ditutup mencakup kedutaan di Malta, Luksemburg, Lesotho, Republik Kongo, Republik Afrika Tengah, dan Sudan Selatan, serta konsulat di Prancis, Jerman, Bosnia dan Herzegovina, Inggris, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.

    Baca: Amerika Serikat Tangguhkan Penerapan Tambahan Tarif Impor

    Namun, masih belum jelas apakah Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menyetujui perubahan yang diusulkan, mengingat penutupan tersebut dilaporkan akan diimbangi dengan mengalihkan tanggung jawab ke misi-misi terdekat.

    Dokumen internal tersebut juga merekomendasikan pengurangan jejak diplomatik AS di Irak dan Somalia beserta “pengubahan ukuran” misi-misi lainnya.

    Selain itu, usulan-usulan dalam dokumen tersebut mencakup pembentukan “pos ringan bergaya FLEX” dengan jumlah staf dan tanggung jawab yang terbatas, serta penggabungan layanan konsuler ke dalam unit-unit khusus di misi yang lebih besar di negara-negara seperti Jepang dan Kanada.

    Baca: Puluhan Negara Ajukan Negosiasi Terkait Kebijakan Tarif Impor AS

    Sementara itu juru bicara Departemen Luar Negeri Tammy Bruce menolak untuk mengonfirmasi keaslian dokumen tersebut atau memberikan informasi spesifik, ketika ditanya tentang kemungkinan penutupan sejumlah Kedutaan tersebut.

    “Saya sarankan Anda memeriksa dengan Gedung Putih dan presiden AS karena mereka terus mengerjakan rencana anggaran mereka,” kata Bruce kepada wartawan selama jumpa pers harian.

    “Jumlah yang dilaporkan dan informasi yang kami lihat sejauh ini cenderung bersifat prematur atau keliru, karena didasarkan pada dokumen yang bocor dari sumber yang tidak diketahui,” tambahnya.

    Sumber: Anadolu

  • Lindungi Industri Film AS yang Sedang Sekarat, Donald Trump Kenakan Tarif 100 Persen untuk Film Produksi Luar Negeri

    Lindungi Industri Film AS yang Sedang Sekarat, Donald Trump Kenakan Tarif 100 Persen untuk Film Produksi Luar Negeri

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan industri film di Amerika saat ini sedang sekarat “dengan sangat cepat.”

    Lesunya industri film AS ini, menurut Donald Trump, terjadi akibat maraknya insentif produksi dari negara-negara lain yang berhasil menarik rumah produksi keluar dari AS.

    “Negara-negara lain menawarkan berbagai insentif untuk menarik pembuat film dan studio kami agar pindah dari Amerika Serikat,” ujar Donald Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social.

    Ia menekankan bahwa Hollywood dan banyak wilayah lain di AS tengah “dihancurkan,” dan menyebut hal itu sebagai “upaya sistematis dari negara lain” yang menurutnya merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS.

    Baca: Amerika Serikat tangguhkan penerapan tambahan tarif impor

    “Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga menyangkut pesan dan propaganda,” tegas Donald Trump.

    Donald Trump pada Minggu (4/5/2025) waktu setempat mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 100 persen terhadap seluruh film yang diproduksi di luar negeri.

    “Saya memberi wewenang kepada Departemen Perdagangan dan Perwakilan Dagang Amerika Serikat untuk segera memulai proses penerapan tarif 100 persen atas semua film yang masuk ke negara kami dan diproduksi di luar negeri,” ujar Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social.

    Donald Trump memerintahkan Departemen Perdagangan, dan Perwakilan Dagang Amerika Serikat, untuk segera memulai proses pemberlakuan tarif tersebut.

    Baca: Donald Trump akan tutup puluhan kedutaan dan konsulat AS

    Rencana Trump ini lanagsung direspon sejumlah negara. Australia dan Selandia Baru menyatakan akan melindungi industri film masing-masing.

    Dilaporkan The Sydney Morning Herald, Menteri Seni Australia Tony Burke menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menganggap enteng rencana Trump tersebut.

    Burke mengatakan, pihaknya akan melindungi pekerja film dan industri film di negerinya.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Donald Trump: Kesepakatan Dagang antara AS dan China Sudah Selesai Dirundingkan

    Donald Trump: Kesepakatan Dagang antara AS dan China Sudah Selesai Dirundingkan

    7cloud.asia – Presiden Donald Trump mengatakan, kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China “sudah selesai” dirundingkan dan tinggal menunggu persetujuan akhir dari presiden kedua negara.

    Donald Trump, dalam unggahan di platform Truth Social, pada Rabu (11/6/2025) waktu setempat mengatakan bahwa AS akan memberlakukan tarif sebesar 55 persen, sementara China dikenakan tarif sebesar 10 persen.

    “China akan memasok magnet penuh dan logam tanah jarang yang dibutuhkan, di muka,” kata Trump.

    Baca: Tarif impor Donald Trump dibatalkan Mahkamah Perdagangan Internasional AS

    Dia menambahkan bahwa AS akan memenuhi kesepakatan yang menjadi bagiannya, termasuk mengizinkan mahasiswa asal China untuk tetap belajar di universitas-universitas di Amerika.

    “Hubungan (AS dan China) sangat baik!” kata Trump menambahkan.

    Dia menegaskan bahwa dirinya dan Presiden China Xi Jinping akan bekerja sama erat untuk membuka pasar China bagi produk AS.

    “Ini akan menjadi KEMENANGAN besar bagi kedua negara!” kata Trump.

    Baca: AS tangguhkan penerapan tambahan tarif impor

    Pertemuan antara pejabat tinggi AS dan China digelar pekan ini di London, Inggris untuk membahas tarif dagang.

    Pada April lalu, AS mulai menerapkan tarif impor yang sangat besar terhadap produk-produk yang diimpor dari China.

    Namun, sebulan kemudian tepatnya pada Mei, kedua negara sepakat untuk mencabut sebagian besar tarif selama 90 hari.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Donald Trump Sebut Serangan ke Iran Sukses, Pentagon Enggan Berkomentar

    Donald Trump Sebut Serangan ke Iran Sukses, Pentagon Enggan Berkomentar

    7cloud.asia – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menolak berkomentar kepada kantor berita RIA Novosti tentang serangan AS ke Iran dan mengarahkan pertanyaan tersebut ke Gedung Putih.

    “Kami merujuk Anda ke Gedung Putih,” kata seorang juru bicara Pentagon, dalam menanggapi permintaan wartawan untuk mengomentari pernyataan Trump soal serangan AS ke Iran tersebut.

    Menurut laporan New York Times, yang mengutip sumber pejabat Iran, diberitakan bahwa pesawat pengebom AS menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow dan Natanz pada Sabtu (21/6/2025) sekitar pukul 23:00 GMT (atau Minggu, 06.00 WIB).

    Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS telah menyelesaikan “serangan yang sangat sukses” terhadap tiga titik fasilitas nuklir di Iran, Sabtu (21/6/2025).

    Baca: Menteri Luar Negeri Negara-negara Arab Gelar Pertemuan Darurat Membahas Ketegangan Iran dan Israel

    Dalam Truth Social, Trump menyatakan bahwa semua pesawat AS telah keluar dari ruang udara Iran, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

    Serangan tersebut dilancarkan setelah Israel dilaporkan meminta AS terlibat dalam serangan udara yang sudah dilakukannya duluan terhadap sejumlah titik di Iran.

    Israel juga telah menyerang beberapa fasilitas yang terkait dengan program pengembangan nuklir Teheran sebelumnya.

    Keterlibatan AS dalam agresi Israel terhadap Iran, bertentangan dengan peringatan Teheran supaya AS tidak ikut campur, dan diperkirakan akan menyebabkan pemburukan eskalasi yang tak terhindarkan di kawasan.

    Baca: Iran-Israel saling serang, Amerika Serikat tutup kedutaannya di Tel Aviv

    Serangan tersebut membuka kemungkinan serangan balasan Iran ditujukan kepada sejumlah pangkalan militer AS yang terletak di berbagai daerah di kawasan Timur Tengah.

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan dalam pesan videonya baru-baru ini bahwa keterlibatan AS dalam konflik dengan Israel akan menimbulkan konsekuensi yang sangat berat.

    Media AS sebelumnya melaporkan bahwa alutsista militer AS, di antaranya pesawat siluman pengebom B-2 dan rudal penghancur bunker yang efektif dalam menghancurkan struktur di bawah seperti fasilitas nuklir Iran, digunakan dalam operasi serangan itu.

    Serangan Israel terhadap Iran yang diluncurkan sejak 13 Juni memicu operasi balasan Teheran yang mencakup serangan rudal ke Tel Aviv, sehingga menyebabkan banyak korban tewas dan terluka di kedua belah pihak.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA-Kyodo

  • Donald Trump Disebut Tak Akan Melanjutkan Serangan ke Iran

    Donald Trump Disebut Tak Akan Melanjutkan Serangan ke Iran

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak ingin melanjutkan serangan terhadap Iran dan berniat mengupayakan kesepakatan damai dengan Tehran setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

    Mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, Axios pada Minggu (22/6/2025) melaporkan bahwa Trump menghubungi perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu sesaat setelah serangan.

    Trump dilaporkan memberitahu Netanyahu hasil serangan dan menyatakan bahwa tujuan berikutnya adalah mengejar kesepakatan damai dengan Iran.

    “Presiden tidak ingin melanjutkan serangan. Ia siap jika Iran melakukan serangan balasan, tetapi ia sudah menyampaikan kepada Netanyahu bahwa ia menginginkan perdamaian,” kata pejabat tersebut.

    Seorang pejabat Israel juga mengonfirmasi sikap Trump, “Amerika sudah menyampaikan dengan jelas bahwa mereka ingin mengakhiri putaran ini. Mereka tidak keberatan jika kami melanjutkan serangan, tapi untuk mereka, sudah cukup.”

    Baca: Keputusan Donald Trump serang Iran dinilai inkonstitusional

    Israel dilaporkan telah menghancurkan beberapa sistem pertahanan udara Iran dalam waktu 48 jam sebelum serangan AS, atas permintaan Amerika, menurut pejabat Israel dan Amerika.

    Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa AS memberikan daftar sistem pertahanan Iran yang harus dilumpuhkan sebelum menyerang fasilitas nuklir Fordow.

    AS menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan enam bom penembus bunker (bunker-buster) yang dijatuhkan ke fasilitas Fordow dengan pesawat siluman B-2

    AS juga meluncurkan puluhan rudal jelajah dari kapal selam ke fasilitas di Natanz dan Isfahan.

    Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, mengatakan lebih dari 125 pesawat AS terlibat dalam misi tersebut, termasuk pesawat pengebom siluman, jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, kapal selam peluncur rudal, dan pesawat pengintai.

    Baca: Pentagon enggan komentari serangan AS ke Iran

    Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran itu “sangat sukses”.

    Ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv pecah sejak 13 Juni 2025, ketika Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menargetkan fasilitas militer dan nuklir. Iran merespons dengan serangan balasan.

    Pihak berwenang Israel melaporkan sedikitnya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan rudal Iran.

    Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan 430 orang meninggal dunia dan lebih dari 3.500 orang terluka akibat serangan Israel.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah: Sejumlah Anggota Senat AS Usulkan Pengakuan untuk Palestina

    Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah: Sejumlah Anggota Senat AS Usulkan Pengakuan untuk Palestina

    7cloud.asia – Sejumlah anggota Senat Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat pada Kamis (18/9/2025) waktu setempat mengajukan resolusi yang menyerukan pengakuan AS atas negara Palestina yang didemiliterisasi.

    Resolusi mendukung negara Palestina ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah Senat AS.

    Resolusi tidak mengikat tersebut mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan membebaskan sandera, serta mendesak Israel untuk mengakhiri konflik dan menghentikan perluasan permukiman.

    Menghadapi rintangan yang panjang, resolusi tersebut tidak mendapatkan dukungan dari Senat AS yang dikuasai anggota Partai Republik yang berjuluk Grand Old Party (GOP) itu.

    Para pendukung mengatakan resolusi tersebut mengirimkan pesan yang bermakna setelah beberapa sekutu AS siap untuk mengakui negara Palestina di sidang Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly/UNGA) pekan depan.

    Baca: Majelis Umum PBB mendukung solusi dua negara dan akui negara Palestina

    Mereka berharap resolusi ini dapat memberikan tekanan lebih besar kepada pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Gaza.

    Para pengusul menyebut, pengakuan negara Palestina bukan hanya langkah praktis yang dapat diambil AS untuk membantu membangun masa depan di mana warga Palestina dan Israel dapat hidup merdeka, bermartabat, dan aman, melainkan juga merupakan hal yang benar untuk dilakukan.

    “Amerika memiliki tanggung jawab untuk memimpin, dan waktunya bertindak adalah sekarang,” ujar Senator Jeff Merkley, yang memimpin upaya tersebut, dalam sebuah pernyataan pada Kamis tersebut.

    “Namun, fondasi perdamaian dan kesejahteraan di masa depan, dan satu-satunya jalan yang layak untuk itu adalah dua negara untuk dua bangsa,” ujar senator Oregon.

    Dia juga memperingatkan bahwa kebijakan dan aksi militer Israel saat ini di Gaza akan menghasilkan “visi yang buruk” bagi warga Israel maupun Palestina.

    Baca: Ribuan warga Israel dukung solusi dua negara dan akui negara Palestina

    Langkah ini menyusul tuduhan senator independen Bernie Sanders pada Rabu (17/9) bahwa Israel sedang melakukan “genosida” di Gaza.

    “Selama dua tahun terakhir, Israel tidak hanya membela diri melawan Hamas. Sebaliknya, Israel melancarkan perang habis-habisan terhadap seluruh rakyat Palestina,” tulis Sanders dalam pernyataan berjudul “Ini Genosida”, yang mengutip kesimpulan para ahli hukum. Israel telah membantah tuduhan tersebut.

    Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Kamis (18/9/2025) mengatakan pengakuan negara Palestina sebagai penyelamat hidup terakhir yang masih tersisa bagi warga sipil sedang memburuk di Gaza City.

    “Di tengah operasi militer Israel, yang telah menyebabkan banyak sekali korban jiwa, kerusakan, dan restriksi yang lebih ketat terhadap upaya kemanusiaan,” katanya

    Otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Rabu (17/9/2025) menyebutkan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas oleh tentara Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 65.000 jiwa.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Mengartikan Serangan Militer AS ke Venezuela: Lahirnya Tatanan Dunia Baru ala Trump

    Mengartikan Serangan Militer AS ke Venezuela: Lahirnya Tatanan Dunia Baru ala Trump

    7cloud.asia – Di bagian belakang setiap lembar dolar Amerika Serikat (AS), tertulis frasa Novus Ordo Seclorum yang bermakna “tatanan baru zaman”. Frasa ini menjadi sebuah prinsip yang merujuk pada strategi keamanan baru dari AS.

    Serangan terhadap Venezuela dan penangkapan Presiden Nicholás Maduro kemarin menandakan lepasnya AS, di bawah kepemimpinan Donald Trump, dari tatanan internasional berbasis aturan.

    Serangan AS ke Venezuela ini juga menandai akhir dari tatanan liberal global secara keseluruhan. Kini, sebuah tatanan internasional yang baru tengah terbentuk, dengan dasar penggunaan kekuatan, revisionisme, serta kepentingan keamanan benua Amerika.

    Berikut merupakan lima kunci utama untuk memahami dampak dari intervensi militer AS, serta tatanan baru yang menyertainya.

    1. Perluasan kekuasaan presiden
    Serangan terhadap Venezuela kemarin mengukuhkan doktrin baru mengenai presiden yang imperatif. Doktrin ini menggambarkan figur pemimpin AS yang mengeksekusi perintah tanpa menunggu persetujuan kongres, legitimasi hukum, maupun penilaian media.

    Dengan mekanisme check and balances yang makin melemah, pemerintahan Trump periode kedua menjadi leluasa untuk membingkai tatanan baru ini sebagai persoalan keamanan yang mendesak.

    AS membawa narasi bahwa Amerika tengah berada di tengah-tengah perang melawan perdagangan narkotika (atau migrasi) dan menghadapi ancaman “kekuatan-kekuatan baru” (sebuah eufemisme untuk Cina).

    Dengan kondisi ini, pemerintah AS tidak perlu lagi mematuhi prosedur maupun tenggat waktu yang semestinya.

    Baca: China nyatakan hormati kedaulatan Venezuela

    Trump memosisikan dirinya sejajar dengan ketiga figur pendiri AS yang dikenal sebagai pemimpin-pemimpin karismatik–seperti Washington, Lincoln, serta Roosevelt. Menjelang peringatan 250 tahun AS, upaya perbandingan semacam ini akhirnya semakin menguatkan retorika otoritarian Trump.

    Erosi terhadap sistem politik dan hukum AS pun dengan demikian semakin tidak terbantahkan.

    Presiden Trump telah menyetujui serangkaian regulasi luas yang mendorong kewenangan darurat, normalisasi kondisi krisis secara permanen, serta pembungkaman oposisi politik dan lembaga peradilan.

    Serangan terhadap Venezuela merupakan tonggak lain dalam penataan ulang relasi antara kepresidenan dengan cabang kekuasaan lainnya, seperti legislatif dan yudikatif. Hal ini sejalan dengan tradisi Hamiltonian yang mengedepankan peran eksekutif yang kuat.

    2. Amerika latin untuk Amerika Serikat
    Di panggung internasional, serangan terhadap Venezuela mendorong agenda diplomatik yang berakar pada pembelaan kepentingan nasional. Konsep “America for the Americans” akhirnya kembali menguat.

    Panama, Meksiko, Kanada dipaksa tunduk pada kehendak Trump, sementara pemerintahannya terus mendorong upaya penguasaan Greenland.

    Di Amerika Latin, pemerintahan sayap kiri Brazil dan Kolombia memimpin oposisi regional terhadap AS. Sebaliknya, pemimpin Chile yang terpilih, yakni José Antonio Kast, serta pemimpin Argentina Javier Milei menjadi sekutu ideologis dari Trump.

    Benua Amerika menjadi saksi dari pergeseran luas menuju partai-partai nasionalis sayap kanan yang menentang migrasi.

    Baca: Wakil Presiden Delcy Rodriguez gantikan posisi Nicolas Maduro

    Jika Venezuela pasca-Maduro berjalan dengan nilai-nilai nasionalis sayap kanan ini, maka harapan akan persatuan nasional dan transisi yang damai menuju demokrasi penuh dapat lenyap.

    3. Penguasaan sumber daya
    Sekali lagi, persoalan utamanya sebenarnya mengenai minyak, tapi dengan alasan yang berbeda dari Irak.

    Di dunia saat globalisasi telah bergeser menjadi geoekonomi, AS ingin memproyeksikan kekuasaannya dalam pasar dan regulasi energi internasional. Infrastruktur, pelabuhan, dan sumber daya mineral dari Venezuela merupakan kunci untuk mewujudukan ambisi tersebut.

    Dengan begitu, AS sebenarnya bukan hanya menginginkan minyak Venezuela untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Sebaliknya, AS ingin menetapkan harga internasional dan mendominasi rantai pasok.

    Visi baru ini berupaya untuk menyelaraskan kedaulatan energi dan pengembangan teknologi dengan kepentingan perdagangan dan keamanan.

    Pax Silica menandai hadirnya era diplomasi transaksional di mana chip komputer ditukar dengan mineral.

    Ia merupakan aliansi internasional yang dipimpin AS dan ditandatangani pada akhir 2025 untuk mengamankan rantai pasok teknologi kritis seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan.

    Bagi Venezuela yang “baru”, cadangan minyak yang ada akan membuka peluang untuk ikut serta dalam dinamika kekuasaan yang baru.

    Baca: China dan Rusia sebut serangan militar AS ke Venezuela langgar hukum internasional

    4. Penataan ulang geopolitik
    Cara pandang AS terhadap wilayah mendorong kebijakan luar negeri revisionis yang bertumpu pada kedaulatan.

    Hal ini mirip seperti kebijakan China, Israel, serta Rusia yang berakar pada konsep “nomos”. Konsep ini dirumuskan oleh filsuf Jerman Carl Schmitt pada pertengahan abad ke-20.

    Dalam cara pandangan konsep “nomos”, pembelahan dunia dalam kategori “kawan atau lawan” mengungguli pandangan liberal yang selama ini ditopang oleh kerja sama, hukum internasional, demokrasi, dan pasar bebas.

    Dalam logika tersebut, lingkup pengaruh terbentuk, sumber daya dibagi, dan blok-blok kekuasaan diseimbangkan. Hal ini tercermin dalam contoh-contoh negara di atas.

    Misalnya, tanpa oposisi, China akan mendominasi Asia Tenggara. Sementara itu, Rusia akan mengendurkan perangnya dengan dengan 20 persen wilayah Ukraina dengan imbalan kendali atas sumber daya material dan energinya.

    Israel, di sisi lain, akan menggambar ulang peta Timur Tengah sekaligus menjalin perjanjian dagang dengan negara-negara tetangga.

    5. Eropa, demokrasi, dan ‘Hobbes’
    Nilai-nilai seperti demokrasi, supremasi hukum, dan perdagangan bebas kian memudar. Tanpa kapasitas yang efektif, situasi seperti ini akhirnya tidak berakhir baik bagi Uni Eropa.

    Sebagaimana yang kita saksikan di Gaza, Uni Eropa seringkali memiliki ketidaksepakatan ideologis dengan kekuatan-kekuatan besar lainnya. Namun pada satu sisi, Uni Eropa juga tidak memiliki cukup daya tawar untuk melakukan tindakan nyata.

    Baca: Sekjen PBB kecam serangan militar AS ke Venezuela

    Intervensi militer AS akhirnya menghidupkan kembali realisme politik Hobbesian, yakni ketika kebebasan diserahkan kepada kedaulatan absolut sebagai imbalan atas perdamaian dan keamanan.

    Dalam tatanan baru Trump, otoritas presiden yang menjadi penentu akhir, bukan kebenaran, hukum, maupun nilai-nilai demokrasi.

    Politik domestik AS
    2026 merupakan tahun pemilu di AS. Akan ada 39 pemilihan gubernur serta rangkaian pemilihan negara bagian dan lokal yang berlangsung antara Maret hingga November.

    Melalui aksi di Venezuela, pemerintahan Trump secara efektif memperdebatkan model suksesi kekuasaannya.

    Satu faksi, yang dipimpin oleh JD Vance, ingin menghindari persoalan luar negeri dan memperbarui model ekonomi industri di dalam negeri.

    Sementara faksi lainnya yang dipimpin Menteri Luar negeri Marco Rubio, berkomitmen untuk membangun kembali tatantan internasional dengan AS sebagai kekuatan yang kuat dan dominan.

    Hasil operasi di Venezuela berpotensi menggeser keseimbangan antara kedua kubu ini dan dapat menentukan siapa yang akan menjadi penerus Trump pada pemilihan presiden 2028 mendatang.

    Serangan terhadap Venezuela bukan sekadar intervensi regional. Peristiwa ini juga merefleksikan perubahan zaman yang tengah kita hadapi.

    Jika sebelumnya Trumpisme internasional terbatas pada slogan-slogan yang sporadis dan retorika politik, saat ini ia masuk dalam strategi militer.

    Era soft power, hubungan trans-atlantik, dan perdamaian kawasan Ibero-Amerika pun kian memudar. Sebuah tatanan baru tengah dilahirkan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Spanish, penulis: Juan Luis Manfredi (Professor International Studies & Journalism, Universidad de Castilla-La Mancha). Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini ke dalam Bahasa Indonesia