Tag: cuaca ekstrem

  • BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem di Puncak Musim Hujan

    BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem di Puncak Musim Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi selama periode puncak musim hujan di bulan Januari dan Februari.

    BMKG mengimbau masyarakat waspada dan siap mengantisipasi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang masih mengancam sebagian besar wilayah Indonesia hingga Februari 2024.

    “Potensi cuaca ekstrem sperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi masih memiliki peluang yang tinggi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (12/1/2024).

    Baca: Kenali tiga cuaca ekstrem yang merusak

    Ia mengemukakan terdapat tiga penyebab terjadinya cuaca ekstrem. Pertama, Monsun Asia yang menunjukkan aktifitas cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.

    “Kondisi ini berpotensi disertai adanya fenomena seruakan dingin yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” paparnya.

    Kedua, adanya daerah tekanan rendah yang terpantau di sekitar Laut Timor, Teluk Carpentaria dan di Samudra Hindia barat Sumatra .

    Kondisi ini dapat memicu terbentuknya pola pumpunan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan ekuator.

    Baca: Wilayah di Jakarta yang berpotensi terjadi banjir dan tanah longsor

    Kemudian dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan angin kencang di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian selatan, serta berdampak pada peningkatan gelombang tinggi di perairan sekitarnya.

    Dan, ketiga yaitu aktivitas gelombang atmosfer masih menunjukkan kondisi yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan.

    Fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang menurut Dwikora, terbentuk bersamaan dengan aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial.

    “Kondisi tersebut dapat meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah Indonesia,” kata Dwikorita.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometrologi makin sering terjadi

    Karena itu BMKG mengingatkan masyarakat untuk senantiasa waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai dengan kilat atau petir dan angin kencang hingga sepekan ke depan.

    Sedangkan, untuk daerah dataran tinggi atau rawan longsor dan banjir, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor.

    Jalan licin, pohon tumbang akibat angin kencang dan berkurangnya jarak pandang.

    “Sebaiknya, secara berkala atau sebelum beraktivitas, masyarakat memantau informasi cuaca yang dikeluarkan resmi oleh BMKG. Dengan begitu dapat lebih antisipatif jika sewaktu-waktu terjadi cuaca ekstrem,” tuturnya.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Cuaca Ekstrem Landa Wilayah Ini, Waspada Banjir

    Cuaca Ekstrem Landa Wilayah Ini, Waspada Banjir

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem berupa hujan lebat terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia dalam sepekan kedepan.

    BMKG melalui TCWC Jakarta (Tropical Cyclone Warning Center) mendeteksi adanya pembentukan 1 Siklon Tropis Anggrek di sekitar Samudra Hindia sebelah Barat Daya Bengkulu yang menyebabkan cuaca ekstrem.

    TCWC juga mendeteksi  adanya 1 Bibit Siklon 99S di sekitar Utara Australia.

    Selain itu, adanya fenomena Madden Jullian Oscillation (MJO) yang mulai aktif di wilayah Indonesia dan disertai dengan fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Wave.

    Adanya penguatan aliran Monsun Asia Musim Dingin cukup berkontribusi juga untuk memicu peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia.

    Cuaca ekstrem berupa hujan lebat diperkirakan akan mengguyur wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten.

    Wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo berpotensi dilanda hujan lebat.

    Kondisi cuaca serupa juga diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk menghindari kegiatan pelayaran di wilayah perairan yang terdampak.

    Masyarakat juga diimbau untuk menghindari daerah rentan mengalami bencana seperti lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon yang mudah tumbang, tepi pantai, dan lainnya.

    Selain itu, masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi dampak seperti banjir, banjir bandang, banjir pesisir, tanah longsor terutama di daerah yang rentan.

    BMKG berharap instansi terkait juga dapat terus mengintensifkan koordinasi dalam rangka antisipasi bencana hidrometeorologi.

    Sementara itu, BMKG memperkirakan seluruh wilayah DKI Jakarta pada Rabu (17/01/2024) berawan seharian. Hanya wilayah Jakarta Barat yang diprediksi hujan dengan intensitas ringan pada siang hari.

    Suhu berkisar antara 24 hingga 32 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 75 hingga 95 persen.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem Saat Pencoblosan Nanti

    BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem Saat Pencoblosan Nanti

    7cloud.asia – Pemilu 2024 akan digelar beberapa hari lagi. Potensi cuaca ekstrem diprediksi akan melanda wilayah Jawa Barat saat pencoblosan tanggal 14 Februari nanti.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan curah hujan tertinggi dan penduduk terpadat di Indonesia.

    BMKG memperkirakan puncak musim hujan di wilayah ini dimulai pada akhir Januari hingga Maret mendatang.

    Karena itu, Pemprov Jabar perlu melakukan sejumlah mitigasi untuk menghadapi cuaca ekstrem.

    Hal ini agar perhelatan Pemilu 2024 yang dilaksanakan pada 14 Februari mendatang dapat berjalan lancar di Jawa Barat.

    Baca: Cuaca ekstrem landa wilayah ini, waspada banjir

    “Kunjungan BMKG hari ini adalah untuk menyampaikan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi puncak musim hujan yang di akhir Januari hingga Maret mendatang. Apalagi kita akan punya hajat besar, pemungutan suara Pemilu 2024. Tentunya kita berkoordinasi dengan Pak Gubernur, BPBD bagaimana upaya mitigasi agar curah hujan yang tinggi tidak menimbulkan bencana dan mengganggu hajat nasional kita,” papar Dwikorita.

    Selanjutnya perempuan yang akrab disapa Rita ini mengatakan pada musim hujan kali ini tidak ada anomali cuaca.

    Menurutnya musim hujan tahun ini berlangsung normal, sesuai dengan rata-rata klimatologisnya selama 30 tahun terakhir, dapat mencapai 400 milimeter dalam satu bulan.

    Meski normal, tetapi sesekali dapat terjadi hujan ekstrem ketika curah hujan dapat mencapai 150 milimeter per hari pada skala harian.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem di puncak musim hujan

    Kondisi ini dapat menyebabkan banjir, banjir bandang dan tanah longsor jika tidak diantisipasi sejak awal. Karena itu, BMKG mengajak semua pihak untuk melakukan berbagai mitigasi bencana.

    Misalnya membersihkan saluran air atau drainase lingkungan, membersihkan sungai dari material sumbatan berupa batu, tanah, kayu, ranting pohon, dan sampah, yang dapat memicu terjadinya banjir bandang.

    Bencana ini sering terjadi terutama di daerah dataran rendah sekitar perbukitan, pada saat pasca kejadian gempabumi di musim hujan.

    Akibat gempa, kerap terjadi banyak titik longsor di lereng lembah-lembah hulu sungai di perbukitan.

    Material longsor beserta pohon-pohon dan tanah ataupun batuan yang terseret longsor akan mengendap di lembah-lembah sungai tersebut.

    Baca: Tanggul sungai jebol, banjir hingga 2 meter rendam rumah warga

    Hal ini mengakibatkan terbentuknya sumbatan yang membendung aliran air sungai di daerah hulu.

    Jika hujan turun selama berhari-hari, bendung tersebut akhirnya jebol karena tidak mampu menahan tekanan akumulasi air sungai yang terbendung.

    Akibatnya terjadi banjir bandang atau aliran debris dengan kecepatan tinggi ke arah dataran rendah di hilir.

    “Contohnya seperti banjir bandang yang terjadi di kawasan Braga beberapa waktu lalu yang diduga karena terjadi penyumbatan di sungai di daerah hulunya,” kata Rita.

    “Karenanya, untuk mengantisipasi kejadian tersebut berulang maka perlu dilakukan inspeksi sungai apakah ada sumbatan agar tidak menyebabkan banjir bandang,” tambahnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • BRIN: Cuaca Ekstrem Makin Sering Terjadi sehingga Perlu Dibentuk Tim Khusus untuk Menangani

    BRIN: Cuaca Ekstrem Makin Sering Terjadi sehingga Perlu Dibentuk Tim Khusus untuk Menangani

    7cloud.asia – Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN Erma Yulihastin menjelaskan bahwa cuaca ekstrem mengalami peningkatan signifikan.

    Cuaca ekstrem yang ditandai oleh kekeringan dan hujan ekstrem ini berdampak ke sejumlah wilayah di Sumatra bagian tengah dan selatan.

    Cuaca ekstrem dalam bentuk kekerigan ekstrem di masa mendatang juga berdampak pada wilayah Kalimantan bagian tengah, timur dan selatan (termasuk IKN).

    Sedangkan wilayah Kalimantan bagian barat diproyeksikan mengalami hari-hari yang lebih basah.

    “Untuk Pulau Jawa, sebagian besar wilayah terancam mengalami suhu maksimum yang lebih tinggi dan suhu minimum yang lebih rendah khususnya untuk pantura Jawa Timur,” sebut Erma seperti dilansir di laman resmi BRIN.

    Selain kajian proyeksi perubahan iklim tersebut, lanjut Erma, kajian klimatologis terkini mengenai karakteristik hujan tahunan dan musiman di Indonesia juga diperlukan.

    Baca: BMKG minta masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem saat puncak musim hujan

    Hal ini sebagai bentuk validasi agar indikasi perubahan iklim yang terjadi secara aktual saat ini di Indonesia dapat dipetakan dengan lebih baik, khususnya dalam hal perubahan pada pola musim dan cuaca ekstrem.

    Erma mengatakan bahwa kajian mengenai indikasi perubahan hujan diurnal menjadi kunci penting untuk memahami pola cuaca ekstrem yang terjadi di BMI selama dekade terkini sebagai dampak dari pemanasan global.

    Pada dasarnya, pola hujan diurnal di BMI mengikuti pola umum hujan di darat yang dipengaruhi oleh angin darat-laut dan gelombang gravitasi sehingga fase kejadian hujan adalah sore hari di atas darat dan pagi hari di atas laut.

    Namun demikian, lanjut Erma, terdapat variasi fase hujan diurnal sehingga hujan maksimum di darat terjadi pada dinihari dengan frekuensi yang signifikan (~20%) untuk wilayah di utara Jawa bagian barat termasuk DKI Jakarta.

    Hujan dinihari yang turun dengan intensitas tinggi atau ekstrem (P99th) tersebut bahkan telah dibuktikan merupakan penyebab banjir besar di Jakarta pada 2007, 2013, 2014, 2020.

    Baca: Kenali cuaca ekstrem yang bersifat merusak

    Selanjutnya Erma memaparkan hasil kajian BRIN yang menunjukkan karakteristik utama hujan dinihari yang terjadi di utara Jawa bagian barat, yaitu:

    (1) hujan mengalami propagasi yang kuat dari laut menuju darat maupun sebaliknya,

    (2) keacakan dalam hal fase terjadinya hujan pada rentang waktu dinihari (01.00–04.00 WIB),

    (3) hujan dinihari memiliki keterkaitan yang kuat dengan hujan ekstrem yang memicu banjir besar di DKI Jakarta,” papar Erma.

    Dengan adanya kajian ini, Erma Yulihastin mengusulkan agar Indonesia membentuk Komite Cuaca Ekstrem.

    Menurutnya, sudah saatnya dibangun kolaborasi yang erat dari hulu ke hilir antara BRIN-BMKG-BNPB-BPBD-Pemda-Relawan dan Media dalam sebuah forum bersama atau komite sudah saatnya.

    Langkah ini sebagai bagian dari langkah strategi nasional melakukan mitigasi dan antisipasi dampak cuaca ekstrem yang semakin meluas akibat perubahan iklim.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometrologi makin sering terjadi

    “Di luar negeri, kita dapat mencontoh negara-negara federal di Amerika Serikat yang memiliki Komite Khusus Cuaca Esktrem beranggotakan ilmuwan, prakirawan, politisi yang merupakan wakil pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat, serta menggandeng media, LSM dan relawan,” jelasnya.

    Erma menyebutkan bahwa komite cuaca ekstrem ini bisa dibuat dalam sebuah program strategis nasional yang dinamakan Bangsa Siaga Cuaca atau Weather-Ready Nation (WRN) yang sebenarnya juga diinisiasi oleh badan cuaca dunia yaitu World Meteorological Organization (WMO).

    Tujuan utama WRN tak sekadar memperkuat hilirisasi informasi peringatan dini cuaca ekstrem semata, tapi juga melakukan edukasi secara intensif dan meluas kepada publik.

    Dijelaskan Erma, melalui komite tersebut juga dapat dirumuskan program-program penting untuk edukasi publik.

    Komite ini juga bisa membangun simpul-simpul relawan yang efektif dan berdaya jangkau luas dengan engagement yang signifikan, serta secara aktif bekerja terus menerus dalam membangun kesadaran publik.

    Ia menekankan, berbeda dengan jenis bencana alam lain seperti gempa dan tsunami, cuaca ekstrem adalah jenis bencana alam yang paling dinamis dan paling sering terjadi sehingga butuh terus-menerus untuk keep up to date.

    Baca: Perubahan iklim membuat kemarau semakin kering

    “Bahkan informasi prediksi cuaca ekstrem pun harus terus-menerus diperbarui idealnya dua kali dalam sehari, mengikuti dinamika cuaca yang berubah-ubah setiap waktu,” ungkapnya.

    Menurutnya, tantangan terbesar keilmuan meteorologi dan klimatologi adalah menghasilkan model prediksi hujan yang akurat untuk wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI).

    Oleh karena itu, semua bentuk studi dari hulu ke hilir yang berkaitan dengan meteorologi dan klimatologi sama-sama memiliki tujuan akhir agar dapat menghasilkan prediksi cuaca ekstrem yang lebih baik.

    Dalam rangka mencapai target menjaga suhu bumi tidak melampaui 1,5 derajat Celcius pada 2050, ujarnya, di bagian hulu, Indonesia harus segera menguasai teknologi prediksi cuaca dan iklim.

    “Informasi-informasi prediksi cuaca di Indonesia sudah saatnya dihasilkan dari kemampuan periset-periset handal bangsa ini dalam menghasilkan data-data prediksi resolusi tinggi dan akurat untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana terkait cuaca ekstrem di Indonesia,” pungkas Erma.

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Grobogan, Lebih 2000 Rumah Terendam

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Grobogan, Lebih 2000 Rumah Terendam

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang ditandai curah hujan tinggi mengakibatkan tanggul Sungai Jragung jebol sehingga kawasan di sekitar Kecamatan Karangawen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah tergenang. 

    Banjir akibat cuaca ekstrem di Kabupaten Grobogan ini dilaporkan merendam setidaknya 2.662 rumah dan 56 hektare lahan persawahan dengan ketinggian di atas 1 meter.

    “Penyebab banjir tersebut adalah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Senin malam, 5 Februari 2024,” kata Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Selasa (6/2/2023).

    Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng yang diterima pukul 12.00 WIB, banjir di Grobogan berdampak di 32 desa di 12 kecamatan di wilayah tersebut.

    Baca: BRIN ingatkan cuaca ekstrem akan makin sering terjadi

    Tak hanya merendam rumah dan sawah, banjir juga menggenangi enam unit fasilitas pendidikan, satu rumah ibadah, satu kandang sapi, hingga merusak talud dan infrastruktur jalan.

    Banjir juga sempat mengganggu dan memutus jaringan tranportasi darat  

     

    Hujan deras yang terjadi pada Senin (5/2/2024) malam, kata dia, mengakibatkan volume air di tiga daerah aliran sungai (DAS), yakni Sungai Lusi, Sungai Serang, dan Sungai Tuntang di Grobogan meluap.

    Kecamatan yang terdampak banjir tersebut meliputi, Godong, Tawangharjo, Geyer, dan Tegowanu, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Karangrayung, Kedungjati, Tanggungharjo, Grobogan, dan Gubug.

    Baca: BMKG ingatkan warga bersiap hadapi cuaca ekstrem di puncak musim penghujan

    Di Kecamatan Gubug, banjir menyebabkan Jalan Raya Purwodadi-Gubug terendam limpahan air di sisi barat jembatan sehingga lalu lintas terputus.

    Nana mengatakan bahwa kondisi banjir saat ini telah berangsur surut di beberapa titik, dan masih dalam penanganan BPBD Jateng bersama dengan BPBD Kabupaten Grobogan.

    Terkait upaya penanganan, kata dia, BPBD Jateng terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Grobogan untuk memastikan kondisi di lapangan.

    Koordinasi dilakukan, baik evakuasi masyarakat terdampak, penyiapan dapur umum, dan distribusi logistik yang diperlukan.

    Baca: Kenali tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    BPBD Kabupaten Grobogan bersama Pemprov Jateng dibantu TNI dan Polri terus melakukan langkah-langkah untuk evakuasi.

    “Masyarakat yang terdampak kami arahkan ke beberapa tempat yang aman. Dapur lapangan dan pengiriman logistik juga dilakukan,” katanya.

    Selain itu, BPBD Grobogan juga berkoordinasi dengan perangkat desa untuk melakukan penanganan dan evakuasi warga yang terjebak banjir, termasuk pendistribusian nasi bungkus untuk warga yang terdampak.

    Usai diwawancara, Nana bersama sejumlah jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Jateng juga langsung bertolak menuju Kabupaten Grobogan untuk meninjau lokasi banjir.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana metrohidrologi makin sering terjadi

  • Sebagian Wilayah Indonesia Lewati Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Pancaroba

    Sebagian Wilayah Indonesia Lewati Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Pancaroba

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem selama periode pancaroba (peralihan musim).

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan peralihan musim atau pancaroba ini diprakirakan berlangsung pada bulan Maret hingga April 2024.

    “Selama periode pancaroba, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es,” ujarnya di Jakarta, Minggu (25/2/2024).

    Berdasarkan analisa dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG, kata dia, sejumlah daerah Indonesia khususnya bagian selatan Indonesia telah melewati puncak musim hujan.  

    Baca: Musim tanam tiba petani mengeluh kesulitan beli pupuk 

    Hal tersebut, kata dia, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut akan mulai memasuki peralihan musim pada bulan Maret hingga April.

    Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

    Kondisi itu terjadi karena radiasi matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan.

    Karakteristik hujan pada periode ini, kata Dwikorita, cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem di puncak musim hujan

    Apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat.

    “Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es. Bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas,” katanya.

    Menurutnya, yang patut diwaspadai yakni curah hujan lebat yang menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor.

    “Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal didaerah perbukitan yang rawan longsor, kami juga mengimbau untuk waspada dan berhati-hati,” katanya

    Baca: Kenali tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    Sementara itu Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan terdapat beberapa fenomena atmosfer yang terpantau masih cukup signifikan.

    Fenomena atmosfer ini dapat memicu peningkatan curah hujan yang disertai kilat/angin kencang di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Guswanto memaparkan, fenomena alam tersebut, yaitu pertama aktivitas Monsun Ssia yang masih dominan.

    Kedua, aktivitas Madden Jullian Oscillation (MJO) pada kuadran 3 (Samudra Hindia bagian timur) yang diprediksi akan memasuki wilayah Pesisir Barat Indonesia pada beberapa pekan ke depan.

    Baca: BRIN ingatkan cuaca ekstrem akan makin sering terjadi sebagai dampak perubahan iklim

    Selanjutnya, kata dia, adanya aktivitas gelombang atmosfer di sekitar Indonesia bagian selatan, tengah, dan timur.

    Keempat, terbentuknya pola belokan dan pertemuan angin yang memanjang di Indonesia bagian tengah dan selatan.

    “Seluruh fenomena atmosfer tersebut berkontribusi terhadap terjadinya fenomena cuaca ekstrem di berbagai wilayah di Indonesia,” kata dia.

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah di Jawa Tengah pada 9-11 Maret

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah di Jawa Tengah pada 9-11 Maret

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah selama periode 9 hingga 11 Maret 2024.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo di Semarang Sabtu mengatakan, cuaca ekstrem di Jawa Tengah ini dipicu aktivitas angin muson yang bertiup dari Asia.

    Angin muson Asia berpengaruh terhadap massa udara basah di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan ekuator sehingga memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

    “Kondisi tersebut (potensi cuaca ekstrem, red) termasuk wilayah Jawa Tengah,” katanya.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem saat pancaroba

    Selain itu, katanya, daerah konvergensi dan belokan angin juga terpantau di sekitar Jawa Tengah.

    Kondisi tersebut, menurut dia, meningkatkan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai dengan petir dan angin kencang.

    Sejumlah wilayah di Jawa Tengah yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem antara lain Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo.

    Baca: 3 jenis cuaca ekstrem yang merusak 

     

    Potensi cuaca ekstrem juga bisa terjadi di Magelang, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, dan Demak.

    Cuaca ekstrem juga berpotensi terjadi di Kabupaten Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Tegal, Pekalongan, Brebes, serta Kota Magelang, dan Salatiga.

     

    Yoga mengimbau masyarakat untuk waspada dan bersiap guna mengantisipasi kemungkinan bencana yang timbul akibat cuaca ekstrem.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometeorologi makin sering terjadi 

    “Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang diimbau lebih waspada,” katanya.

  • BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    7cloud.asia – Kajian dengan menggunakan teknik dynamic downscaling resolusi tinggi dari tim periset BRIN mengugkap, cuaca ekstrem berupa kekeringan dan hujan ekstrem meningkat signifikan.

    Untuk memberikan pemahaman kepada publik dalam menghadapi cuaca ekstrem, pada akhir Januari lalu BRIN menggelar Media Lounge Discussion (MELODI). 

    Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN Erma Yulihastin sebagai salah satu narasumber utama mengatakan, cuaca ektrem berdampak di wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan.

    Dilansir dari laman resmi BRIN, cuaca ekstrem berupa kekeringan ekstrem di masa mendatang diperkirakan juga akan berdampak pada wilayah Kalimantan bagian tengah, timur dan selatan (termasuk IKN).

    Baca: BRIN usul dibentuk tim khusus untuk antisipasi cuaca ekstrem yang makin sering terjadi

    Sedangkan wilayah Kalimantan bagian barat diproyeksikan mengalami hari-hari yang lebih basah.

    “Untuk Pulau Jawa, sebagian besar wilayah terancam mengalami suhu maksimum yang lebih tinggi dan suhu minimum yang lebih rendah khususnya untuk pantura Jawa Timur,” sebut Erma.

    Selain kajian proyeksi perubahan iklim tersebut, lanjut Erma, kajian klimatologis terkini mengenai karakteristik hujan tahunan dan musiman di Indonesia juga diperlukan.

    Hal ini untuk memastikan  agar indikasi perubahan iklim yang terjadi secara aktual saat ini di Indonesia dapat dipetakan dengan lebih baik, khususnya dalam hal perubahan pada pola musim dan cuaca ekstrem.

    Baca: Tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    Erma mengatakan bahwa kajian mengenai indikasi perubahan hujan diurnal (pola yang terulang karena rotasi bumi) menjadi kunci penting.

    Perubahan hujan diurnal ini penting untuk memahami pola cuaca ekstrem yang terjadi di BMI selama dekade terkini sebagai dampak dari pemanasan global.

    Pada dasarnya, pola hujan diurnal di BMI mengikuti pola umum hujan di darat yang dipengaruhi oleh angin darat-laut dan gelombang gravitasi sehingga fase kejadian hujan adalah sore hari di atas darat dan pagi hari di atas laut.

    Namun demikian, lanjut Erma, terdapat variasi fase hujan diurnal sehingga hujan maksimum di darat terjadi pada dinihari dengan frekuensi yang signifikan (sekitar 20%) untuk wilayah di utara Jawa bagian barat termasuk DKI Jakarta.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometeorologi makin sering terjadi

    Hujan dinihari yang turun dengan intensitas tinggi atau ekstrem (P99th) tersebut bahkan telah dibuktikan merupakan penyebab banjir besar di Jakarta pada 2007, 2013, 2014, 2020.

    Hasil kajian BRIN menunjukkan karakteristik utama hujan dinihari yang terjadi di utara Jawa bagian barat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu:

    (1) hujan mengalami propagasi (merambat/bergerak) yang kuat dari laut menuju darat maupun sebaliknya,

    (2) keacakan dalam hal fase terjadinya hujan pada rentang waktu dinihari (01.00–04.00 WIB),

    (3) hujan dinihari memiliki keterkaitan yang kuat dengan hujan ekstrem yang memicu banjir besar di Jakarta.

     

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Timur pada 14-18 Maret 2024

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Timur pada 14-18 Maret 2024

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah kabupaten dan kota di Jawa Timur pada pekan ini.

    Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Jawa Timur Taufiq Hermawan dalam keterangannya Rabu (13/3/2024) mengatakan, cuaca ekstrem ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, banjir dan juga tanah longsor.

    Berdasarkan pantauan citra satelit beberapa wilayah di Jawa Timur diminta mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat mengakibatkan terjadinya hujan lebat, angin kencang, puting beliung dan hujan es pada periode 12 – 18 Maret 2024.

    Beberapa wilayah yang perlu waspada yaitu di Kabupaten Bangkalan, Lamongan, Madiun, Magetan, Ngawi, Sumenep, Kota Surabaya, Tuban, Gresik, Bojonegoro, Nganjuk, Pamekasan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Banyuwangi.

    Baca: Cuaca ekstrem meningkat signifikan, dampaknya sudah terasa di Jawa dan Sumatera

    Cuaca ekstrem juga berpotensi terjadi di Kota Batu, Kota Blitar, Jember, Jombang, Kota Kediri, Kota Mojokerto, Pacitan, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Situbondo, Tulungagung, Kediri dan Mojokerto.

    Taufiq juga mengingatkan warga Probolinggo, Pasuruan, Blitar, Bondowoso, Lumajang, Malang, Trenggalek, Kota Madiun, Kota Malang untuk mengantisipasi cuaca ekstrem ini.

    Ia mengemukakan, saat ini wilayah Jawa Timur berada di akhir musim hujan dan memasuki fase peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

    Ia mengatakan, adanya aktivitas Madden Jullian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby menambah tingginya potensi pertumbuhan awan konvektif di wilayah Jawa Timur, serta adanya sirkulasi siklonik di utara Australia mengakibatkan adanya pola konvergensi atau pertemuan angin di wilayah Jawa Timur.

    Baca: BRIN usul dibentuk tim khusus untuk tangani cuaca ekstrem yang makin sering terjadi  

    “Kondisi ini yang berpengaruh terhadap peningkatan cuaca ekstrem sepekan ke depan,” katanya.

    BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama sepekan ke depan.

    Wilayah dengan topografi curam atau bergunung atau tebing diharapkan lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan cuaca ekstrem ini.

    Karena berpotensi terjadi banjir, banjir bandang, tanah longsor jika terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat dengan durasi yang panjang.

    Baca: Kenali tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    “Bagi yang sedang berkendara perlu diwaspadai jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang saat hujan lebat berlangsung,” ujarnya.

    Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca WOFI melalui website https://stamet-juanda.bmkg.go.id/radar.

    BMKG, ujar Taufiq, selalu membagikan informasi peringatan dini tiga harian dan peringatan dini 2-3 jam ke depan melalui website https://stamet-juanda.bmkg.go.id dan media sosial @infobmkgjuanda.

    Warga juga bisa menghubungi di saluran telepon 24 jam (031) 8668989 dan WhatsApp: 0895800300011

    Sumber: Antaranews.com

  • Waspada, Cuaca Ekstrem Hari Ini Hingga Seminggu ke Depan Berpotensi Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    Waspada, Cuaca Ekstrem Hari Ini Hingga Seminggu ke Depan Berpotensi Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem masih akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada Jumat (15/03/2024) hingga seminggu kedepan.

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto dalam rilisnya menjelaskan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi terjadi hingga tanggal 18 Maret mendatang disebabkan oleh dua faktor, yaitu:

    Pertama, adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) serta fenomena Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial masih terpantau dan diprediksi aktif di wilayah Indonesia dalam beberapa hari kedepan.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem di Jawa Timur

    Kedua, adanya tiga bibit siklon tropis, yaitu bibit siklon tropis 91S, 94S, dan 93P termonitor berada di sekitar Samudera Hindia selatan Jawa, Laut Timor, dan Laut Australia menunjukkan pengaruh terhadap wilayah Indonesia bagian selatan.

    Kombinasi pengaruh fenomena-fenomena tersebut diprakirakan menimbulkan potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat yang disertai kilat/angin kencang di sebagian wilayah Indonesia hingga 18 Maret 2024.

    Wilayah tersebut adalah Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur.

    Selain itu, wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua juga berpeluang hujan dengan intensitas sedang-lebat yang disertai kilat/angin kencang.

    Baca: Cuaca ekstrem berdampak signifikan bagi Indonesia

    Sementara itu untuk wilayah Jabodetabek, umumnya didominasi kondisi cuaca hujan ringan hingga sedang.

    Potensi hujan dengan intensitas hingga sedang dapat terjadi terutama di wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.

    Guswanto memaparkan intensitas hujan di wilayah Jabodetabek akan menurun mulai tanggal 17 Maret 2024.

    Meski demikian, warga di wilayah Jabodetabek perlu mewaspadai potensi hujan lebat disertai angin kencang sesaat di sebagian wilayah Jabodetabek utamanya pada sore – hingga dini hari.

    Peningkatan curah hujan hingga kategori lebat di sebagian besar wilayah Indonesia dapat memicu bencana hidrometeorologi untuk tanggal 14 – 16 Maret 2024.

    Pada kategori SIAGA bencana berlaku untuk wilayah Banten, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

    Baca: Waspada cuaca buruk di Jabodetabek

    Untuk kategori WASPADA bencana berlaku di wilayah Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua.

    Guswanto menguraikan adanya bibit siklon tropis 91S di selatan Jawa dan Bibit Siklon Tropis 94S di Laut Timor – tenggara NTT memberikan dampak signifikan berupa peningkatan kecepatan angin hingga mencapai 35 knot.

    “Kondisi tersebut mempengaruhi peningkatan tinggi gelombang di beberapa wilayah perairan Indonesia,” katanya.

    “Kemudian fenomena Super New Moon atau fase Bulan Baru yang bersamaan dengan Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) memberikan dampak pada peningkatan ketinggian pasang air laut maksimum, sehingga berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir pesisir (rob) di beberapa wilayah pesisir Indonesia,” jelasnya lagi.

    Baca: Siap-siap banjir, cuaca buruk landa wilayah ini

    Potensi Tinggi Gelombang Periode 14 -18 Maret 2024 dengan ketinggian 4.0 – 6.0 m (Very Rough Sea) dapat terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga NTB.

    Sedangkan potensi banjir pesisir (Rob) Periode 14 -18 Maret 2024, meliputi Pesisir utara Medan – Sumatera Utara, Pesisir Batam, Karimun, dan Bintan – Kepulauan Riau, Pesisir Lampung, Pesisir utara Jawa Tengah.

    Bencana serupa juga berpeluang terjadi di Pesisir barat Banten, Pesisir selatan Jawa, Pesisir selatan Bali, Pesisir selatan NTB dan NTT, Pesisir timur Kendari, Konawe, dan Konawe Utara – Sulawesi Tenggara.

    Wilayah pesisir Saumlaki – Maluku dan pesisir Merauke – Papua Selatan juga berpotensi terjadi rob.

    Reporter: Nurakhmayani