Tag: cuaca ekstrem

  • BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem Seminggu Ke Depan

    BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem Seminggu Ke Depan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta  masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem pada seminggu kedepan (26 hingga 31 Agustus 2023).

    Dipantau dari situs BMKG, cuaca ekstrem tersebut ditandai dengan potensi terjadinya puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll.

    Kondisi ini, menurut BMKG dapat memicu terjadinya banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

    Baca: Dampak El Nino picu kenaikan harga beras dunia

    Karena itu BMKG mengimbau agar masyarakat waspada dan tetap berhati-hati dalam menghadapi cuaca ekstrem ini.

    Cuaca ekstrem ini terjadi akibat adanya aktivitas gelombang atmosfer Rossby
    Ekuator diprakirakan aktif di sebagian wilayah Sumatera bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara dan tengah, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku bagian utara, Papua Barat, dan Papua.

    Faktor lainnya adalah adanya gelombang Kelvin yang diprakirakan aktif di Sumatera bagian selatan, Papua Barat, dan Papua bagian utara dalam sepekan ke depan.

    Baca: Fenomena El Nino percepat lelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    Berbagai faktor inilah yang mendukung potensi pertumbuhan awan hujan yang bisa memicu cuaca ekstrem.

    BMKG memperkirakan cuaca ekstrem terjadi pada 25-26 Agustus 2023 di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan. Riau,Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan.

    Cuaca ekstrem juga berpotensi terjaid di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
    Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah,
    Sulawesi Selatan,Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

    Baca: Fenomena El Nino picu kanaikan harga beras, warga Rangkasbitung mulai beralih ke palawija

    Sementara pada tanggal 27 hingga 28 Agustus 2023 cuaca ekstrem diperkirakan
    terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu.

    Cuaca ekstrem juga berpeluang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

    Pada tanggal 29 hingga 31 Agustus 2023, wilayah Sumatera Utara,
    Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Utara,Sulawesi Utara, Maluku Utara Papua Barat dan Papua diperkirakan terjadi cuaca ekstrem.

    Baca: Dampak El Nino, warga Bandung Barat kesulitan air bersih

    Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan puncak musim
    kemarau diprakirakan terjadi pertengahan Agustus hingga September 2023.

    “Nanti setelah masuk Oktober mulai berkurang, berkurang tapi masih kering. Nah
    diprediksi hujan ini November,” ungkap Dwikorita.

    Dalam kurun waktu tersebut, cuaca panas dan kering akan terus meningkat. Kondisi ini dapat membuat cuaca panas akan terus meningkat dalam kurun waktu tersebut dan membuka peluang terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

    Reporter: Nurakhmayani)

  • Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Kehidupan Fauna Terdampak

    Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Kehidupan Fauna Terdampak

    7cloud.asia – Beberapa bulan ini Indonesia mengalami cuaca panas ekstrem. Cuaca seperti ini mempengaruhi kelangsungan hidup fauna di Indonesia.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pengembangan dan Pelayanan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia / Research Center for Climate Change University of Indonesia (RCCC UI), Dr Nurul L Winarni.

    “Dampak yang mungkin dialami oleh fauna di wilayah iklim tropis adalah ketersediaan makanan dan air serta migrasi dan distribusi habitatnya,” ungkap Nurul seperti yang dilansir Antara.

    Selanjutnya Nurul menjelaskan hewan-hewan yang ada di Indonesia memang merupakan jenis hewan yang hidup di daerah tropis, mengikuti iklim Indonesia.

    Hewan-hewan ini merupakan hewan karismatik, seperti harimau, gajah, badak, hingga berbagai jenis burung, reptil, amfibi, ikan, serangga, dan sebagainya.

    baca juga: bmkg waspadai cuaca ekstrem seminggu ke depan

    Namun, cuaca ekstrem ternyata berdampak signifikan terhadap berbagai jenis fauna. Misalnya burung-burung yang tinggal di pegunungan menjadi semakin sempit habitatnya karena pengaruh perubahan suhu yang semakin panas.

    Jenis-jenis hewan eksoterm, seperti amfibi, hewan yang memiliki sensitivitas terhadap perubahan suhu.

    Jika suhu terlalu panas, dapat mempengaruhi kondisi vital, seperti pencernaan, reproduksi, dan metabolisme serta kondisi ketersediaan air pada habitatnya yang mengalami kekeringan.

    “Dengan semakin minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan, fauna seperti burung dan kupu-kupu juga diperkirakan dapat kehilangan habitatnya,” ujarnya.

    Tidak hanya itu, cuaca ekstrem juga berdampak pada ketersediaan pakan satwa tersebut. Tumbuhan memiliki peran penting sebagai sumber makanan bagi hewan.

    baca juga: pertemuan g20 gagal capai kesepakatan pangkas bahan bakar fosil meski krisis iklim di depan mata

    Cuaca panas ekstrem menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah yang mempengaruhi ketersediaan pakan.. Kondisi ini tentu berdampak bagi hewan pemakan tumbuhan.

    Produksi nektar dan buah dapat terpengaruh, termasuk juga pola musim berbunga dan berbuah dapat bergeser. Ini menyebabkan satwa harus dapat mencari alternatif sumber daya lain.

    Menurutnya, fauna yang berpotensi migrasi seperti burung yang melakukan perjalanan musiman.

    Burung yang habitatnya mengalami musim panas ke musim dingin maka akan melakukan migrasi ke daerah yang lebih hangat seperti iklim tropis. Jika musim dingin berakhir, kemudian akan kembali ke tempat habitat awal.

    Sementara untuk hewan yang tinggal di daerah tropis, tidak terjadi migrasi. Namun, hewan tersebut membutuhkan persediaan sumber air yang cukup.

    baca juga: el nino percepat laju lelehnya salju abadi gunung puncak jaya

    Pergerakan hewan mungkin terjadi untuk mencari tempat-tempat yang masih menyediakan makanan, sumber air, dan tempat berlindung. Kompetisi antar satwa berpotensi terjadi untuk memperebutkan sumber daya ini.

    Akibat cuaca panas ekstrem, kebakaran hutan dan lahan terjadi dimana-mana.  Kondisi ini mengancam hilangnya habitat bagi spesies yang hidup di hutan tersebut.

    Selain itu, cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan kekeringan pada habitat perairan seperti rawa, sungai, danau. Hal ini dapat mengancam keberadaan jenis-jenis ikan tertentu.

    baca juga: klhk sejumlah spesies baru ditemukan di hutan indonesia

    Jika hal tersebut terjadi dapat berdampak juga pada siklus ekosistem satwa, seperti rantai makanan dan jaring jaring makanan.

    Apabila salah satu rantai makanan hilang, lanjut Nurul, maka mempengaruhi tingkat trofik produsen, konsumen, dekomposer atau pengurai dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

    Ini dapat terjadi karena adanya perubahan sumber daya makanan yang dapat menyebabkan perubahan komposisi komunitas hewan dalam ekosistem tersebut.

    Akibatnya terjadi kehilangan spesies tertentu atau peningkatan populasi organisme lain yang lebih dominan.

    baca juga: hari spesies terancam punah kapan dan mengapa diperingati
    Karena itu, ada beberapa hal menurut Nurul dapat dilakukan untuk menanggulangi dampak jangka pendek cuaca ekstrem terhadap fauna.

    Diantaranya dengan menyediakan sumber air, mencegah kebakaran hutan, menanam pohon buah dan tanaman berbunga di perkotaan.

    Untuk jangka panjang, dapat melakukan restorasi dan proteksi habitat, menyediakan alternatif habitat khususnya untuk kawasan perkotaan.

    Misalnya dengan menyediakan ruang terbuka hijau seperti taman, termasuk memanfaatkan halaman rumah dan konservasi sumber daya air.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Peringatan Dini BMKG, Beberapa Hari ke Depan Cuaca Ekstrem Landa Wilayah Ini  

    Peringatan Dini BMKG, Beberapa Hari ke Depan Cuaca Ekstrem Landa Wilayah Ini  

     

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem berpeluang terjadi hingga beberapa hari kedepan di wilayah Sulawesi Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga untuk waspada.

    “BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem hingga 5 November 2023 mendatang,” ujar Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Ben A Molle dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Ben menjelaskan cuaca ekstrem ini dipicu oleh adanya suhu muka laut (Sea Surface Temperature) atau SST dengan anomali +0,5 derajat celsius hingga +2,9 derajat celsius berada di Laut Sulawesi dan sekitarnya.

    Baca: bmkg cuaca di jakarta cerah berawan sepanjang hari

    Selanjutnya, kondisi labilitas lokal kuat juga mendukung aktivitas konvektif dalam skala lokal terdapat di beberapa wilayah Sulawesi Utara.

    “Waspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga Iebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang,” katanya.

    Potensi cuaca ekstrem diperkirakan mulai terjadi pada hari tanggal 2 November 2023 di wilayah Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan.

    Baca: LRT fase dua akan mulai dibangun

    Selain itu  Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara juga berpeluang terjadi cuaca ekstrem.

    Di hari berikutnya, berpotensi terjadi di wilayah Kota Tomohon Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Minahasa Selatan,

    baca: peran tanaman hias dalam mengatasi cuaca panas ekstrem

    Cuaca ekstrem juga diprediksi terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

    Sementara di tanggal 4 November 2023 diperkirakan terjadi di Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

    Sedangkan di tanggal 5 Oktober 2023, cuaca ekstrem akan melanda wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir Bandang di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir Bandang di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan banjir bandang di Desa Batur dan Tajuk di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sejak Jumat (24/11/2023).

    Cuaca ekstrem sejak Jumat sore hingga malam ditandai hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Jawa Tengah. 

    Melansir Antaranews, Kepala Desa Batur, Radix Wahyu Dwi Yuni Ariadi menjelaskan banjir bandang diduga akibat tersumbatnya saluran air di wilayah tersebut.

    “Dugaannya saluran air tersumbat sehingga air meluap ke permukiman,” ungkapnya.

    Baca: Peringatan dini BMKG cuaca ekstrem landa wilayah ini

    Tidak ada korban jiwa, namun banji bandang yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB tersebut menghanyutkan satu unit sepeda motor.

    Akibat banjir bandang, lanjut dia, akses menuju ke Desa Batur terganggu akibat lumpur yang menutupi jalan.

    Sementara Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Semarang, Mediarso Tri Soelistyo masih belum dapat memastikan wilayah yang terdampak banjir bandang.

    “Ini saya baru di lokasi, masih dilakukan pembersihan akses jalan menuju Desa Tajuk,” katanya.

    Baca: Banjir bandang landa nagan raya puluhan warga mengungsi

    Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat  agar waspada dengan potensi cuaca ekstrem.

    Sebab di bulan November terjadi peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba.

    “Cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. Mulai dari hujan lebat disertai petir dan angin kencang serta hujan es,” kata Dwikorita.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan arah angin bertiup sangat bervariasi, sehingga mengakibatkan kondisi cuaca bisa dengan tiba-tiba berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya.

    Baca: Banjir satu meter lebih di Aceh Selatan 1 balita tewas

    Namun, secara umum biasanya hujan akan turun jelang sore atau malam hari. Sedangkan cuaca di pagi hari cerah, kemudian siang hari mulai tumbuh awan.

    Dwikorita memaparkan awan Cumulonimbus (CB) biasanya tumbuh di saat pagi menjelang siang, bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas.

    Namun, menjelang sore hari, awan ini akan berubah menjadi gelap yang kemudian dapat menyebabkan hujan, petir, dan angin.

    “Curah hujan dapat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan yang rawan longsor, kami mengimbau untuk waspada dan berhati-hati,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Wilayah Ini, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Bencana

    Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Wilayah Ini, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Bencana

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah dii Jawa Tengah dan Sulawesi Utara berpotensi mengalami cuaca ekstrem hingga Kamis (07/12/2023). 

    Karena itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau  masyarakat waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem ini.

    Melansir Antaranews, Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah.

    Faktor pertama, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Samudra Hindia yang berpengaruh terhadap pembentukan awan.

    Selanjutnya faktor kedua, aktifnya gelombang atmosfer Rossby Ekuator dan Kelvin di sekitar Pulau Jawa, serta adanya sirkulasi siklonik di utara Pulau Jawa.

    Faktor ketiga, hangatnya suhu muka laut di wilayah perairan Jateng khususnya Laut Jawa dan kelembapan udara yang cukup tinggi dari lapisan permukaan hingga lapisan 500 milibar dan labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal.

    “Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah Jateng pada 4-6 Desember,” ujarnya.

    Cuaca ekstrem tersebut diprakirakan terjadi antara lain di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Tegal, dan Brebes, serta Pekalongan. 

    “Terkait dengan cuaca ekstrem yang berpotensi di wilayah-wilayah tersebut, kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, dan angin kencang terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” papar Teguh.

    Selain itu, BMKG juga memprediksi hujan lebat disertai angin kencang melanda wilayah Sulawesi Utara (Sulut) hingga Kamis.

    “BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem hingga 7 Desember 2023,” ucap Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Ben A Molle.

    Sebagian besar wilayah kabupaten dan kota di provinsi ujung utara Sulawesi tersebut memperoleh peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.

    “Waspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang,” katanya.

    Peringatan dini cuaca ekstrem pada Selasa (05/12/2023) mencakup wilayah Kota Manado, Kota Bitung, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan.

    Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan juga diperkirakan terjadi cuaca ekstrem.

    Pada hari berikutnya, Rabu, cuaca ekstrem berpotensi melanda wilayah Kota Manado, Kota Bitung, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, dan Kabupaten Kepulauan Sitaro.

    Sedangkan pada Kamis, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan.

    Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Kepulauan Talaud juga berpotensi dilanda cuaca ekstrem. 

    Reporter: Nurakhmayani

  • Cuaca Ekstrem di Siberia: Suhu Anjlok hingga Minus 50 Derajat Celcius

    ruangkotacom – Cuaca ekstrem menerjang belahan bumi utara. Siberia dihantam suhu minus 50 derajat Celsius.

    Sementara cuaca ekstrem di Ibu Kota Moskow dilanda badai salju parah yang memecahkan rekor sehingga menyebabkan gangguan penerbangan saat musim dingin melanda Rusia.

    Cuaca ekstrem ini antara lain terjadi Ddi Republik Sakha, tempat salah satu kota terdingin di dunia, Yakutsk, suhu anjlok di bawah minus 50 derajat Celcius, menurut stasiun cuaca di wilayah tersebut.

    Cuaca ekstrem di Sakha ini ditandai dengan turunnya suhu hingga di bawah minus 50 derajat Celsius akibat cuaca dingin dini yang tidak biasa.

    Baca: Emisi karbon cetak rekor tertinggi

    Hampir seluruh wilayah Sakha yang hampir seukuran India. terletak di zona permafrost atau lapisan tanah atau batuan yang terus-menerus membeku secara permanen.

    Di ibu kota wilayah, Yakutsk, yang berjarak sekitar 5.000 km ke timur dari Moskow, suhu berkisar antara minus 44-48 derajat Celsius.

    Suhu minus 50 derajat Celcius semakin jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir karena perubahan iklim.

    Baca: El Nino percepat pelelehan salju abadi di Puncak Jaya

    Lapisan es di kawasan ini menunjukkan tanda-tanda pencairan yang semakin meningkat.

    Di ibu kota Rusia, beberapa hujan salju terbesar yang pernah terjadi menyebabkan penundaan di beberapa bandara pada Senin (4/12/2023). Landasan pacu tertutup salju tebal.

    Setidaknya 54 penerbangan ditunda dan lima lainnya dibatalkan di tiga bandara terbesar di ibu kota, kantor berita RIA melaporkan.

    Baca: Ini dampak pemanasan global

    Suhu di Moskow diperkirakan anjlok hingga minus 18 derajat Celcius pada akhir pekan ini.

    Perubahan iklim membuat kondisi cuaca yang makin tidak menentu. Pada musim panas lalu, gelombang panas parah melanda sejumlah wilayah di Eropa Selatan seperti Yunani dan Turki.

    Cuaca ekstrem ini memicu kebakaran hebat yang menewaskan puluhan orang. 

    Baca : Gelombang panas mengganas di Eropa, dampak perubahan iklim

    Sumber: VOA Indonesia 

  • Jelang Natal Hingga Awal Bulan Cuaca Ekstrem Bepotensi Landa Indonesia, Masyarakat Diimbau Waspada

    Jelang Natal Hingga Awal Bulan Cuaca Ekstrem Bepotensi Landa Indonesia, Masyarakat Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Menjelang Natal hingga awal bulan Januari 2024, kondisi cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Masyarakat diimbau waspada.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati di Jakarta pada Selasa (19/12/2023).

    “Waspadai untuk wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa dan Sumatera bagian selatan itu, setelah Natal hingga sampai setelah tahun baru, awal bulan. Itu potensi hujan lebat bisa sampai ekstrem dapat disertai angin kencang,” jelas perempuan yang akrab disapa Rita ini.

    Melansir Detik.com, Rita mengimbau masyarakat juga mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang terjadi sebelum Natal. Terutama untuk wilayah Utara Indonesia, dengan batasnya daerah khatulistiwa.

    “Namun, untuk masa itu, sebelum Natal yang perlu diwaspadai di wilayah Indonesia bagian utara. Utara khatulistiwa, batasnya khatulistiwa, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan itu sudah perlu diwaspadai sejak sebelum Natal,” terangnya.

    Selain cuaca ekstrem, lanjut Rita, terjadi potensi gelombang tinggi di Samudera Hindia, Pasifik, hingga Selat Sunda.

    “Seperti itu juga gelombang tinggi, terutama di Samudera Hindia, di Samudera Pasifik, di Selat Sunda, terutama menjelang akhir tahun. Terutama arus kencang, angin kencang, dan bisa dengan gelombang tinggi,” urainya.

    Pada kesempatan itu, Rita juga menjelaskan adanya potensi peningkatan gempa yang diperkirakan terjadi jelang Natal dan tahun baru di wilayah Jawa Barat.

    “Kemudian, potensi gempa itu masih ada lah ya, kita bisa melihat di Jawa Barat ada peningkatan, di beberapa wilayah lain juga perlu diwaspadai. Istilahnya tidak perlu panik, terus saja memonitor info BMKG, untuk masyarakat ya,” kata Rita.

    Sementara itu, cuaca di seluruh wilayah Jakarta cerah berawan sepanjang hari Rabu (20/12/2023). Suhu udara berkisar antara 34 hingga 35 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 40 hingga 90 persen.

    Berdasarkan laman resmi BMKG, kondisi serupa juga terjadi di sebagian besar kota di Indonesia. Namun beberapa kota diperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir.

    Kota-kota tersebut adalah Kota Gorontalo, Jambi, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Tarakan, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, Kupang, Jayapura, Manokwari, Pekanbaru, Mamuju.

    Selain itu hujan juga berpotensi mengguyur Kota Makassar, Kendari, Manado, Padang, Palembang dan Medan.

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 35 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung. Sedangkan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Surabaya dan Jakarta.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • Sepekan Kedepan Cuaca Ekstrem Landa Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada

    Sepekan Kedepan Cuaca Ekstrem Landa Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada

     

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem selama sepekan kedepan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Masyarakat diimbau waspada.

    Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam rilisnya pada Rabu (27/12/2023).

    “Kepada masyarakat dan instansi terkait agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai dengan kilat atau petir dan angin kencang hingga sepekan ke depan,” jelasnya.

    Selanjutnya Guswanto memaparkan khusus daerah bertopografi curam, bergunung, tebing atau rawan longsor dan banjir, masyarakat setempat diminta untuk tetap waspada.

    Sebab berpotensi terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, dan berkurangnya jarak pandang.

    Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani mengatakan berdasarkan Prakiraan Berbasis Dampak (Impact Based Forecast/IBF) beberapa wilayah yang masuk dalam kategori waspada untuk dua hari ke depan.

    Yaitu wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah.

    Selain itu, wilayah lainnya adalah DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Papua.

    “Untuk wilayah yang masuk dalam kategori siaga untuk dua hari ke depan yaitu meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Riau,” ucapnya.

    Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan penyebab bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat.

    Menurutnya hal ini akibat kondisi dinamika atmosfer, diantaranya melemahnya pusat tekanan rendah yang membentuk sirkulasi angin di sekitar Laut China Selatan.

    “Hal ini menyebabkan aliran massa udara basah dari utara masuk ke wilayah selatan ekuator dan membentuk pola pertemuan angin di sekitar wilayah Jawa Barat sehingga memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan yang intens di sekitar Jawa Barat,” jelas Rita sapaan akrabnya.

    Kondisi ini kemudian diperkuat dengan adanya aktifitas gelombang Kelvin dan Rossby Wave yang aktif bersamaan di sekitar wilayah Indonesia bagian Barat.

    “BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia pada periode Natal dan Tahun Baru 2023/2024 ini sejak tanggal 18 Desember 2023 dan diperbaharui kembali pada tanggal 23 Desember 2023. Jawa Barat termasuk salah satu wilayah yang masuk dalam kategori peringatan dini selama periode tersebut,” paparnya.

    Reporter: NUrakhmayani

  • BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Jawa Tengah pada 4-10 Januari

    BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Jawa Tengah pada 4-10 Januari

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng) pada 4-10 Januari 2024.

    Warga diminta meningkatkan kewaspadaannya karena cuaca ekstrem ini  berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

    Cuaca ekstrem yang ditandai Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi pegunungan tengah Jateng, Jateng bagian selatan dan barat, serta beberapa wilayah lainnya.

    Baca: BNPB minta warga waspadai bencana hidrometrologi

    Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, potensi cuaca ekstrem tersebut sudah terjadi sejak akhir Desember 2023 dan diprakirakan masih akan berlangsung hingga 10 Januari 2024

    Berdasarkan data yang dirilis BMKG, kata dia, potensi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer, antara lain Monsun Asia musim dingin

    Angin ini diasosiasikan sebagai musim angin baratan mulai menunjukkan dampaknya terhadap potensi peningkatan massa udara basah di sekitar wilayah Indonesia.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir semakin sering terjadi

    “Dengan demikian pertumbuhan awan hujan pada periode Januari ini diprediksikan cukup intens,” katanya.

    Selain itu, kata dia, aktivitas Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini sudah mulai memasuki wilayah Indonesia.

    Dalam sepekan ke depan secara tidak langsung dapat memicu peningkatan potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat di beberapa wilayah.

    Baca: Ganjar Pranowo usulkan pendidikan perubahan iklim masuk dalam kurikulum

    Menurut dia, kondisi tersebut diperkuat dengan adanya aktivitas gelombang Rossby di wilayah Indonesia bagian barat dan cukup bertahan hingga lima hari ke depan.

    “Faktor dinamika lain yang turut memperkuat potensi tersebut adalah terbentuknya pola pertemuan angin serta belokan angin di sekitar wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan,” katanya.

    Terkait dengan hal itu, Teguh mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di daerah rawan bencana hidrometeorologi, untuk mewaspadai potensi terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor, tanah bergerak.

    Baca: Mahasiswa ini angkat perubahan iklim dlam tugas akhirnya dan raih penghargaan

    Angin puting beliung juga berpotensi terjadi saat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

     

  • Dampak Perubahan Iklim: Kenali 3 Jenis Cuaca Ekstrem yang Merusak

    Dampak Perubahan Iklim: Kenali 3 Jenis Cuaca Ekstrem yang Merusak

    7cloud.asia – BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah kota di Pulau Jawa dalam sepekan ke depan.

    Warga diminta waspada karena cuaca ekstrem ini bisa memicu hidrometrologi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang. 

    Peringatan BMKG akan terjadinya cuaca ekstrem seperti ini makin sering terjadi. Ya, perubahan iklim telah membuat anomali cuaca semakin parah.

    Di Indonesia, sebagai negara kepulauan di garis khatulistiwa, iklim yang berubah membuat kejadian dan cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi.

    Contohnya fenomena iklim El Nino 2023-2024 yang menyebabkan pemanasan suhu menunda musim hujan di Indonesia hingga awal Januari ini, atau sekitar lima dasarian (sekitar 50 hari) dari kondisi normal.

    Rekor tersebut melampaui penundaan musim hujan saat El Nino terparah yang pernah tercatat melanda Indonesia pada 1997-1998 (2-3 dasarian).

    Baca: BMKG ingatkan kemungkinan cuaca ekstrem di Jawa sepekan ke depan 

    Perubahan iklim juga membuat cuaca ekstrem semakin intens. Misalnya, iklim yang berubah dapat menambah kecepatan angin dari 5 meter menjadi 10 meter per detik sehingga dampaknya lebih merusak.

    Kita perlu mengetahui cuaca ekstrem apa saja yang kerap terjadi di Indonesia agar bisa mengantisipasi risiko ke depannya di tengah perubahan iklim.

    Setidaknya ada tiga cuaca ekstrem di Indonesia dalam skala menengah atau meso (sekitar 2-2000 km) yang perlu kita waspadai.

    1. Squall line
    Seperti namanya, squall line adalah fenomena cuaca ekstrem berbentuk garis memanjang. Garis ini terbentuk dari awan kumulonimbus yang terus memanjang hingga menyerupai landasan pesawat, lalu bertemu dengan awan serupa.

    Seiring perjalanannya, pertemuan kedua awan ini menciptakan energi yang dahsyat. Squall line yang terjadi di laut bahkan dapat menciptakan hempasan badai (storm surge) lalu membawa angin kencang dan rob ke daerah pesisir.

    Banjir rob yang melanda kawasan pantai utara maupun pantai selatan Jawa hingga Bali pada akhir Mei hingga Juni 2020, misalnya, terbentuk karena squall line.

    Saat itu Brebes, daerah di Jawa Tengah, diklaim mengalami banjir rob terbesar sepanjang sejarah. Fenomena ini bahkan menciptakan gelombang tinggi yang berisiko menimbulkan abrasi di kawasan pesisir dan merusak infrastruktur seperti tanggul ataupun jembatan.

    Dari mana squall line ini muncul? Kami dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional merekam perjalanan squall line saat itu terbentuk di Sumatra bagian tengah.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometrologi makin sering terjadi

    Awalnya, kami mengira squall line akan meluruh atau menyeberang ke arah Selat Malaka yang berada antara Malaysia dan Pulau Sumatra.

    Ternyata squall line saat itu malah bertahan lalu mengarah ke Selat Sunda dan berlangsung lebih dari 24 jam.

    Ini menandakan betapa dahsyatnya energi badai dari squall line saat itu karena bisa mengambil energi dari sekitar beberapa kali untuk memperkuat dirinya dan melanjutkan perjalanan sampai Bali.

    Lantas, berapa kecepatan squall line tersebut untuk menyeberang dari Sumatra ke Jawa? Perhitungan kami sekitar enam jam. Jadi, jika squall line terbentuk pada dini hari, warga di Banten dan Jawa Barat perlu bersiap-siap sejak pagi untuk menghadapi badai dan gelombang tinggi.

    2. Bow echo
    Bow echo adalah fenomena cuaca ekstrem squall line tapi melengkung seperti busur atau bumerang.

    Lengkungan inilah yang perlu kita waspadai. Sebab, lengkungan terjadi karena ada pusaran angin di kedua ujung garis, yakni pusaran siklon (berlawanan dengan arah jarum jam) dan antisiklon (searah jarum jam). Bayangkan betapa parahnya daya rusak dari bow echo akibat dua pusaran yang berpasangan ini.

    Bukan hanya siklon, di kedua ujungnya, bow echo juga biasanya mengandung awan downburst di bagian tengah atau lengkungannya. Awan ini menumpahkan hujan yang sangat deras dengan tempo amat cepat di suatu tempat.

    Besarnya energi bow echo menghasilkan angin puting beliung yang begitu destruktif. Ini kami amati dari rekonstruksi kejadian bow echo di Cimenyan, Bandung, pada Mei 2021 (riset sedang dalam proses telaah). Saat itu, sang bumerang yang berkecepatan 56 km/jam merusak sekitar 361 rumah.

    Baca: Dampak El Nino

    3. Mesoscale convective complex (MCC)
    Mesoscale convective complex (MCC) adalah fenomena cuaca ekstrem yang sering terjadi pada akhir tahun lalu di Pulau Jawa.

    MCC terbentuk dari kluster-kluster awan yang saling bergabung lalu membentuk satu bulatan. Kluster ini pada awalnya hanya berskala kecil kemudian perlahan-lahan membesar. MCC dapat menciptakan hujan ekstrem selama tiga hari berturut-turut.

    Contoh fenomena MCC terjadi di Bandung raya, Jawa Barat, pada 23-25 Maret 2021. Banjir ini menyebabkan 4.161 rumah di Kabupaten Bandung terendam.

    Perjalanan berkumpulnya kluster awan yang mengakibatkan hujan ekstrem di sekitar Bandung raya selama tiga hari berturut-turut pada Maret 2021. 

    Kluster awan juga bisa terbentuk lebih dari satu kumpulan dalam waktu bersamaan, atau biasa disebut MCC kembar. Kondisi ini menyebabkan kejadian badai stasioner yang memicu hujan ekstrem dan lama.

    Di Luwu, Sulawesi Selatan, MCC kembar menyebabkan banjir bandang pada Juli 2020. Cuaca ekstrem kemudian 38 orang meninggal dunia, 58 korban luka, dan 14 ribu penduduk mengungsi.

    Baca: Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas

    Pentingnya prediksi cuaca ekstrem
    Dengan kondisi negara yang dikelilingi laut, Indonesia memiliki risiko tinggi mengalami cuaca ekstrem. Sebab, fenomena meteorologi di atmosfer dapat terkombinasi dengan dinamika di laut.

    Kita membutuhkan cara memprediksi yang lebih baik untuk mengantisipasi berbagai anomali cuaca akibat perubahan iklim. Kita, misalnya, tidak bisa hanya mengasumsikan puting beliung seperti sebelumnya yakni kondisi angin ekstrem yang berlangsung cepat.

    Untuk mengantisipasi ekstrem, kita perlu lebih aktif mempelajari dinamika cuaca dan pola kejadian ekstrem. Indonesia memerlukan tim ‘pemburu badai’ yang memantau kejadian ekstrem lalu mempelajarinya. Tujuannya agar di masa depan kejadian serupa dapat diantisipasi.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga harus lebih berkoordinasi langsung ke pimpinan daerah dan kelompok masyarakat seputar risiko cuaca ekstrem.

    Harapannya, sistem pencegahan dini dapat semakin kuat, dan masyarakat lebih sigap menghadapi kejadian ekstrem yang berisiko lebih sering di masa depan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Erma Yulihastin, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)