Tag: diabetes

  • Diabetes yang Tidak Tertangani dengan Baik Berisiko Memicu Gangguan yang Berujung pada Retinopati Diabetik

    Diabetes yang Tidak Tertangani dengan Baik Berisiko Memicu Gangguan yang Berujung pada Retinopati Diabetik

    7cloud.asia – Penyakit diabetes yang tidak tertangani dengan baik bisa berisiko retinopati diabetik yang berujung mengganggu penglihatan penyintasnya.

    Pada telewicara daring yang digelar, Kamis (10/10/2024), Kepala Departemen Oftalmologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Prof. Muhammad Bayu Sasongko, mengungkap bahwa diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk pada mata.

    Salah satu bagian penting di mata, ujarnya, adalah retina yang isinya sensor penglihatan yang kaya akan jaringan dari pembuluh darah.

    ”Nah, ketika diabetes sudah berlanjut apalagi tidak terkontrol dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel retina yang berfungsi sebagai sensor penglihatan,” ujar Bayu.

    “Dan kerusakan (penglihatan) yang diakibatkan itu permanen biasanya,” tambah dokter yang juga ahli retina tersebut.

    Baca: Pentingnya deteksi dini diabetes melitus

    Bayu lantas memaparkan lebih lanjut tentang retinopati diabetik, sebagai salah satu bentuk komplikasi diabetes melitus

    Komplikasi retinopati diabetik ini terjadi saat kadar gula yang tinggi pada akhirnya mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah retina mata, terutama di jaringan-jaringan yang sensitif terhadap cahaya.

    Adapun gangguan penglihatan yang dapat dialami pasien yang telah mengalami retinopati diabetik yakni penglihatan kabur hingga mempercepat munculnya katarak.

    Namun katarak itu kalau kondisi retinanya masih relatif baik, kemudian yang selanjutnya bisa juga muncul glukoma, ini biasanya terjadi pada stadium lanjut,

    “Dan, tahap lanjut itu penglihatan sudah tidak bagus dan itu permanen, jadi tidak bisa disembuhkan penglihatannya,” jelas Bayu.

    Baca: Pekerja shift malam rentan menyintas diabetes melitus

    Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa pasien yang telah mengalami diabetes selama 10-15 tahun umumnya akan mengalami tanda retinopati.

    Namun, jika selama waktu tersebut diabetes selalu dikontrol dengan baik dengan bantuan dokter progres risiko retinopati dapat diperlambat.

    Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini retinopati diabetik, sebagai langkah krusial dalam manajemen diabetes dan pencegahan komplikasi yang lebih lanjut.

    Kalau itu terdeteksi awal, ujar Bayu, perawatan itu bisa menahan laju dengan signifikan, jadi kualitas penglihatan masih baik walaupun sebenarnya sudah retinopati.

    “Kemudian skrining deteksi dini supaya kasus itu ketahuan di awal sehingga kita bisa bergerak atau bisa menata laksana itu lebih dini,” kata Bayu. (Sumber:Antaranews.com)

  • Yuk, Kenali Jenis-jenis Diabetes dan Cara Mencegahnya

    Yuk, Kenali Jenis-jenis Diabetes dan Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Kasus diabetes di Indonesia terus meningkat, dan usia penyintas diabetes juga semakin muda karena faktor gaya hidup.

    Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) di tahun 2021, Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan penderita diabetes terbanyak di dunia, jumlahnya mencapai 19,5 juta kasus untuk usia 20-79 tahun.

    Jadi prevalensi diabetes pada orang dewasa di Indonesia mencapai 10,8 persen dari seluruh penduduk.

    ”Diperkirakan pada tahun 2045 jumlah kasus diabetes Indonesia akan mencapai 28,6 juta orang karena trendnya dari tahun ke tahun itu memang selalu bertambah,” Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUI dr. Livy Bonita, Sp.PD

    Penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, dan umumnya memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

    Baca: Deteksi diabetes sejak dini

    Kurangnya edukasi tentang diabetes mengakibatkan banyak pasien diabetes datang berobat dalam fase yang sudah lanjut atau fase koma.

    Karena itu memahami jenis dan gejala diabetes, menjadi penting untuk pencegahan dan penanganan dokter dengan segera. Livy pun menjelaskan mengenai berbagai jenis diabetes.

    “Sebetulnya diabetes ini tipenya ada banyak, ada diabetes tipe 1, tipe 2, gestasional, atau diabetes tipe lain. Namun yang paling banyak terjadi, atau 90-95 persen dari seluruh kasus diabetes di dunia memang diabetes tipe 2,” kata dia pada seminar daring, Rabu (20/11/2024).

    Diabetes tipe 1 terjadi akibat kerusakan sel pankreas yang disebabkan oleh proses autoimun. Kondisi ini mengakibatkan tubuh kekurangan insulin, sehingga penderita harus bergantung pada injeksi insulin untuk mengontrol kadar gula darah.

    Livy mengatakan diabetes tipe 1 umumnya muncul pada usia muda, bahkan pada anak-anak.

    Baca: Pekerja shift malam lebih rentan terkena diabetes

    Sementara itu, diabetes tipe 2 adalah yang paling sering ditemukan. Pada tipe ini, tubuh tidak dapat menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak mampu menggunakan insulin dengan efektif.

    Insulin adalah hormon yang fungsinya untuk mengatur metabolisme gula darah, sehingga gula darah yang bersirkulasi itu bisa masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk diolah akan menjadi sumber energi.

    “Kalau kurang insulin, gula darah tidak dapat digunakan oleh tubuh, disirkulasi, dan terjadi lah diabetes,” jelas Livy.

    Faktor-faktor risiko diabetes tipe 2 antara lain pola hidup tidak sehat seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, serta konsumsi gula berlebihan.

    Meskipun sebelumnya lebih banyak dijumpai pada orang dewasa, diabetes tipe 2 kini mulai banyak terjadi pada usia muda, terutama pada mereka yang mengalami obesitas.

    Baca: Penting bagi penderita diabetes sebelum konsumsi obat herbal

    “Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada usia dewasa, tapi trennya kini mulai banyak pada usia muda termasuk pada usia di bawah 40 tahun,” kata Livy.

    Adapun diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang muncul selama masa kehamilan. Meskipun bisa sembuh setelah melahirkan, kondisi ini meningkatkan risiko ibu untuk terkena diabetes tipe 2 di masa yang akan datang.

    Selain itu, ada juga jenis diabetes lain, seperti diabetes yang disebabkan oleh obat-obatan tertentu atau diabetes monogenik yang jarang terjadi.

    Pencegahan dan pengelolaan diabetes sangat penting untuk menghindari komplikasi yang dapat mengancam kesehatan.

    Mengadopsi gaya hidup sehat, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga adalah langkah utama untuk mencegah diabetes.

  • Kenali 12 Jenis Diabetes, Beberapa Diantaranya Tergolong Langka

    Kenali 12 Jenis Diabetes, Beberapa Diantaranya Tergolong Langka

    7cloud.asia – Federasi Diabetes Internasional (IDF) belum lama ini mengumumkan jenis penyakit kencing manis baru bernama diabetes tipe 5.

    Diabetes tipe 5 ini menambah daftar panjang lebih dari 12 jenis diabetes yang sudah lebih dulu diketahui 

    Diabetes adalah kondisi kronis yang ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) yang tinggi. Penyebabnya adalah tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik (resistensi insulin).

    Diabetes bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf.

    Penamaan jenis diabetes sendiri ada yang menggunakan nomor, ada pula yang tidak. Bahkan beberapa jenisnya mungkin masih terdengar asing buat kita.

    Biar lebih paham, simak penjelasan mengenai penyebab dan penanganan beberapa varian diabetes berikut.

    Diabetes tipe 1
    Diabetes tipe 1 disebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel penghasil insulin di pankreas.

    Reaksi autoimun ini mengakibatkan tubuh menghasilkan insulin (hormon yang mengubah gula darah menjadi energi) lebih sedikit atau tidak sama sekali, sehingga kadar gula darah pun melonjak.

    Diabetes tipe 1 bisa dialami semua usia, dari bayi hingga lanjut usia (lansia). Namun, jenis penyakit kencing manis ini tidak ada hubungannya dengan pola makan atau gaya hidup.

    Kemungkinan diabetes tipe 1 disebabkan oleh faktor keturunan ataupun pemicu dari luar seperti infeksi virus.

    Penanganan diabetes tipe 1 sendiri bisa melalui terapi insulin seumur hidup, yang diberikan lewat suntikan atau pompa insulin.

    Pada beberapa kasus, pasien diabetes tipe 1 bisa mengalami hipoglikemia (gula darah rendah) akibat penggunaan insulin berlebihan, pola makan buruk, hingga konsumsi alkohol.

    Pasien diabetes dengan hipoglikemia bisa menerima transplantasi sel pankreas yang masih memproduksi insulin dari pedonor yang sudah meninggal.

    Prosedur bernama transplantasi islet ini terbukti mengurangi gejala penyakit maupun kebutuhan suntik insulin harian bagi banyak pasien diebetes tipe 1, bahkan beberapa di antaranya bisa berhenti menggunakan insulin sama sekali.

    Puluhan pasien dibetes tipe 1 juga melakukan transplantasi sel punca (stem cell) yang efektif “mengatasi” penyakit kencing manis. Namun, mereka harus mengonsumsi obat imunosupresan (penekan kekebalan tubuh) dosis tinggi, yang sayangnya belum tersedia secara luas.

    Diabetes tipe 2
    Diabetes tipe 2 merupakan tipe diabetes paling umum yang sering kali dikaitkan dengan tingginya indeks massa tubuh (IMT). Namun, jenis penyakit kencing manis ini bisa dialami pula oleh orang berbobot tubuh normal, terutama yang punya riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2.

    Kelompok etnis tertentu (Asia Selatan, Afrika, dan Karibia) berisiko lebih besar mengalami diabetes tipe 2, kendati punya berat badan lebih rendah.

    Diabetes tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin, yaitu ketidakmampuan tubuh merespons hormon insulin secara efektif. Untuk megendalikan kadar gula darah, pasien diabetes tipe 2 perlu melakukan terapi pengobatan dengan mengonsumsi sejumlah obat yang bisa meningkatkan sensitivitas insulin maupun produksi insulin di pankreas.

    Contohnya metformin yang sudah dikonsumsi ratusan juta orang di seluruh dunia. Obat ini bekerja dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan menghentikan produksi gula di hati.

    Masih ada puluhan obat lain untuk mengontrol gula darah pasien diabetes tipe 2. Pemberian terapi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi tiap pasien, terbukti bisa meningkatkan efektivitas penanganan diabetes tipe 2 secara signifikan.

    Perubahan gaya hidup juga penting untuk menangani diabetes tipe ini. Misalnya lewat diet rendah kalori dengan mengonsumsi maksimal 800 kalori per hari.

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 46% peserta yang jalani diet rendah kalori selama 12 bulan, berhasil mengurangi berat badan dan mengalami peningkatan kualitas hidup.

    Diabetes gestasional
    Diabetes gestasional adalah tipe diabetes yang terjadi saat masa kehamilan, biasanya di usia kehamilan 24-28 minggu. Diabetes ini disebabkan oleh perubahan hormonal yang dapat mengurangi sensitivitas tubuh pada insulin.

    Faktor yang meningkatkan risiko seseorang kena diabetes gestasional, meliputi kelebihan berat badan, punya riwayat keluarga dengan diabetes, dan melahirkan bayi berukuran besar pada kehamilan sebelumnya.

    Kelompok etnis tertentu (Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan Karibia) juga berisiko lebih besar mengalami diabetes gestasional. Faktor usia juga berperan karena berkurangnya sensitivitas insulin seiring bertambahnya usia.

    Diabetes gestasional dapat diatasi lewat pola makan sehat dan olahraga teratur, disertai konsumsi obat ataupun suntik insulin.

    Tipe diabetes yang lebih langka
    Terdapat setidaknya sembilan subtipe diabetes yang mencakup sejumlah kondisi genetik langka. Beberapa kasus diabetes ini disebabkan oleh kelainan gen tunggal.

    Kasus lainnya disebabkan oleh tindakan medis, seperti operasi atau paparan obat tertentu (misalnya steroid), berikut penjelasannya:

    1. Diabetes neonatal
    Diabetes neonatal muncul sejak usia bayi. Orang dengan diabetes jenis ini mengalami perubahan genetik yang memengaruhi cara insulin dilepaskan dari pankreas.

    Sebagian pasien diabetes neonatal masih bisa memproduksi insulin secara mandiri, sehingga terapi pengobatannya cukup dengan konsumsi tablet yang membantu sel pankreas menghasilkan insulin.

    2. Diabetes usia muda pada masa dewasa
    Maturity-onset diabetes of the young (MODY) alias diabetes usia muda pada masa dewasa merupakan jenis penyakit kencing manis yang muncul pada individu berusia lebih dewasa, biasanya sebelum usia 30 tahun.

    Diabetes ini berkaitan dengan perubahan genetik.

    Beberapa perubahan genetik dapat memengaruhi cara kerja sel pankreas dalam mendeteksi gula ataupun cara pankreas berkembang.

    3. Diabetes tipe 3c
    Diabetes tipe 3c sangat berbeda dari tipe lainnya. Diabetes ini disebabkan oleh kerusakan pankreas.

    Pasien kanker pankreas, misalnya, berisiko mengalami diabetes setelah beberapa bagian pankreas mereka diangkat. Diabetes tipe ini juga bisa muncul akibat pankreatitis (radang pankreas).

    4. Diabetes terkait fibrosis kistik
    Orang dengan fibrosis kistik (kondisi lendir dalam tubuh lebih lengket) berisiko besar mengalami kerusakan pankreas yang umumnya berujung diabetes. Kondisi ini dinamakan cystic fibrosis-related diabetes (CFRD) alias diabetes terkait fibrosis kistik.

    Risiko ini kian meningkat seiring bertambahnya usia. Sekitar sepertiga orang dengan dengan fibrosis kistik mengalami diabetes menjelang usia 40 tahun.

    Diabetes tipe 5
    Diabetes tipe 5 disebabkan oleh malnutrisi kronis (kekurangan gizi dalam jangka panjang), terutama saat masa kanak-kanak.

    Malnutrisi bisa menyebabkan pankreas tidak berkembang dengan optimal sehingga menghasilkan lebih sedikit cadangan sel penghasil insulin. Akibatnya, lonjakan kadar gula darah terjadi di kemudian hari.

    Penelitian pada hewan pengerat menunjukkan bahwa mengonsumsi sedikit protein saat remaja atau selama masa kehamilan dapat menghambat perkembangan pankreas. Pada dasarnya, pankreas yang berukuran lebih kecil dari ukuran normal lebih berisiko mengalami berbagai jenis diabetes.

    Dibetes tipe 5 sendiri umum terjadi di negara-negara berpendapatan rendah. Jenis penyakit kencing manis ini menyerang sekitar 20-25 juta orang dari seluruh dunia.

    Diabetes merupakan istilah umum untuk berbagai kondisi yang mengakibatkan peningkatan kadar gula darah. Namun, penyebab yang mendasarinya sangat beragam.

    Memahami jenis diabetes yang diidap seseorang sangatlah penting guna membantu dokter memberikan terapi pengobatan yang tepat.

    Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, klasifikasi diabetes juga semakin luas. Mengidentifikasi diabetes tipe 5 yang disebabkan oleh malnutrisi merupakan langkah yang baik untuk memicu diskusi.

    Pada gilirannya, hal ini akan bantu mengembangkan pemahaman maupun perawatan kesehatan global, khususnya di negara-negara berpendapatan rendah.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Craig Beall (Senior Lecturer in Experimental Diabetes, University of Exeter). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.

  • Kenali Lima Gejala Awal Diabetes

    Kenali Lima Gejala Awal Diabetes

    7cloud.asia – Diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular yang diwaspadai bahkan hingga tingkat global. Jumlah penderita diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun, baik karena faktor genetik maupun gaya hidup.

    Pada beberapa kasus, diabetes diawali dengan fase pradiabetes, fase transisi saat kadar gula darah lebih tinggi dari gula darah normal dengan kondisi kadar glukosa di antara 100-125 mg/dL

    Dengan kadar gula darah sebesar ini, maka belum cukup tinggi untuk memenuhi syarat diagnosis diabetes.

    Mengutip Times of India, Sabtu (16/8/2025) pemeriksaan rutin bisa membantu mendeteksinya namun beberapa orang juga mengalami kondisi pradiabetes dengan gejala-gejala keanehan pada tubuh.

    Sayangnya hal itu kerap diabaikan karena terkesan sebagai masalah kesehatan yang tidak serius.

    Berikut lima gejala peringatan pradiabetes yang bisa diwaspadai oleh seseorang apabila sering mengalaminya sehingga dapat dilakukan pencegahan dini agar penyakit ini tidak berubah menjadi penyakit yang lebih parah yakni diabetes.

    Meningkatnya rasa haus dan sering buang air kecil
    Salah satu tanda awal pradiabetes adalah rasa haus yang berlebihan dan dikenal dengan nama polidipsia.

    Kondisi ini menyebabkan seseorang merasa haus lebih sering meski sebenarnya hidrasinya telah cukup dan karena kondisi akhirnya seseorang jadi sering buang air kecil.

    Ketika kadang gula darah tinggi, ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyerap kelebihan glukosa dan menyebabkan lebih banyak cairan dikeluarkan dari tubuh. Ini akan terjadi berulang dan menjadi salah satu tanda yang perlu diawasi sebagai gejala dari pradiabetes.

    Kulit yang menggelap
    Gejala signifikan dari tubuh yang mengalami pradiabetes adalah menghitamnya kulit di beberapa area tertentu seperti ketiak dan belakang leher.

    Kondisi ini memiliki nama medis akantosis nigrikansa, kulit-kulit di daerah lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan mungkin tampak gelap dan seperti beludru.

    Gejala ini tentu menjadi tanda yang mengkhawatirkan dan sebaiknya apabila mengalami ini ada baiknya seseorang dapat melakukan pemeriksaan kesehatan ke tenaga medis.

    Kelelahan
    Kelelahan tubuh yang berulang dan rasa tak memiliki energi dapat menjadi gejala peringatan dari pradiabetes.

    Ketika kondisi ini terjadi berulang besar kemungkinan tubuh tidak mampu menggunakan glukosa sebagai energi dan biasanya kelelahan yang dirasakan tidak hanya terjadi pada fisik tapi juga mental. Kelelahan kronis bisa berdampak negatif pada konsentrasi, suasana hati, dan produktivitas.

    Apabila kelelahan tidak dapat dijelaskan dan terjadi dalam waktu yang lama meski sudah beristirahat, cukup penting untuk segera melakukan pemeriksaan kadar glukosa dalam darah.

    Penglihatan kabur
    Kadar gula darah yang tinggi juga dapat memengaruhi penglihatan menjadi kabur. Gula darah tinggi dapat menyebabkan pergeseran cairan di lensa mata, menjadi penyebab pembengkakan dan akhirnya penglihatan menjadi kabur.

    Gejala ini bisa datang dan pergi dalam jangka waktu yang panjang, sehingga konsultasi dengan dokter menjadi penting sebelum pembuluh darah di retina rusak dan tidak berfungsi sepenuhnya.

    Kebas atau kesemutan pada kaki dan tangan
    Kerusakan saraf dapat terjadi akibat kadar gula yang tinggi dan dikenal dengan kondisi bernama neuropati.

    Kondisi ini biasanya menyebabkan seseorang sering mengalami kesemutan, kebas, atau mati rasa di tangan dan kakinya. Gejala ini menjadi salah satu tanda krusial penderita pradiabetes.

  • Riset BRIN Deteksi Obat Diabetes Cemari Sungai di Jakarta

    Riset BRIN Deteksi Obat Diabetes Cemari Sungai di Jakarta

    7cloud.asia – Perairan di Jakarta, baik sungai maupun pantai tak hanya tercemar sampah, tetapi juga mengandung limbah obat-obatan. Pada 2021 silam, riset penulis menemukan Teluk Jakarta terkontaminasi material acetaminophen atau parasetamol.

    Dalam penelitian terbaru, penulis kembali mendapati obat lain, yakni metformin terdeteksi di air sungai Jakarta untuk pertama kalinya. Metformin adalah obat diabetes yang paling umum diresepkan di dunia.

    Pada Juni 2022, penulis bersama tim peneliti dari BRIN, Laboratorium Kesehatan DKI Jakarta, serta dua universitas di Inggris menemukan metformin di tiga dari enam titik sampel di Sungai Angke.

    Temuan ini menambah daftar panjang pencemaran zat aktif farmasi di perairan dan sungai di Indonesia.

    Dari toilet ke sungai: Bagaimana metformin mencemari air?
    Metformin adalah obat untuk mengontrol kadar gula darah orang dengan diabetes tipe 2. Berbeda dengan obat kebanyakan, metformin tidak hancur diolah oleh tubuh manusia. Akibatnya, obat ini keluar hampir utuh melalui urine.

    Saat seseorang yang mengonsumsi metformin buang air kecil, obat tersebut langsung masuk ke sistem pembuangan rumah tangga.

     

    Masalahnya, di kota metropolitan seperti Jakarta, sebagian besar limbah dari toilet domestik berakhir di sungai tanpa diolah secara memadai.

    Sungai Angke sendiri, tempat ditemukannya metformin, menerima beban pencemaran dari berbagai sumber. Mulai dari limbah domestik yang tak diolah, limbah industri, hingga sampah padat.

    Kondisi inilah yang menciptakan jalur langsung bagi metformin dan zat farmasi lainnya untuk masuk ke ekosistem perairan.

    Analisis kualitas air di enam titik sampel yang kami lakukan menunjukkan tingkat pencemaran yang bervariasi antara 27 hingga 414 nanogram per liter (ng/L).

    Pencemaran air
    Kadar metformin yang terdeteksi di Sungai Angke, Jakarta. Koagouw et al (2024), CC BY
    Situs ketiga memiliki kadar metformin tertinggi. Ini ditandai dengan air yang lebih keruh, warna air yang pekat, dan kadar mangan (unsur logam) yang sangat tinggi.

    Kehadiran metformin di Sungai Angke tidak bisa dianggap sepele. Kadarnya memang tidak separah di negara lain, tapi juga tidak bisa dibilang aman.

    Baca: Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar

    Studi ini menemukan bahwa konsentrasi terendah (27 ng/L) berada di persentil kelima data global, sementara konsentrasi tertinggi (414 ng/L) berada di persentil ke-40 dari kisaran global.

    Artinya, kadar terendah metformin di Sungai Angke lebih tinggi daripada 5 persen data sungai di dunia. Sementara, kadar tertingginya lebih tinggi daripada 40 persen data global, sehingga cukup mengkhawatirkan.

    Studi sebelumnya di berbagai belahan dunia sudah membuktikan bahwa metformin berdampak negatif terhadap organisme air, bahkan pada kadar rendah sekitar 100 ng/L saja sudah bisa memicu efek biologis.

    Misalnya pada kerang biru (Mytilus edulis), paparan metformin dapat memicu gangguan reproduksi dan kerusakan jaringan tubuh.

    Sedangkan pada ikan, metformin dapat menghambat perkembangan embrio, pertumbuhan, metabolisme, dan sistem reproduksi.

    Baca: Upaya Komunitas Tumbuh Pohon Nusantara merawat Sungai Angke

    Yang lebih mengkhawatirkan, metformin sulit terurai secara alami. Tanpa degradasi yang sempurna, senyawa kimia ini dan produk turunannya (guanylurea) bisa dengan mudah terakumulasi dan masuk kembali ke dalam rantai makanan.

    Air sungai yang tercemar juga berpotensi digunakan untuk irigasi pertanian atau perikanan. Ujungnya, metformin bisa kembali masuk ke tubuh manusia lewat air minum, ikan, atau sayuran yang menggunakan air tercemar.

    Paparan jangka panjang terhadap residu obat ini bisa menimbulkan resiko serius bagi kesehatan manusia, meskipun dampak pastinya masih terus diteliti.

    Pemerintah memang sudah mengatur standar baku mutu air sungai atau limbah. Namun, obat-obatan farmasi seperti metformin ini belum termasuk dalam daftar resmi zat berbahaya yang diatur dalam regulasi.

    Regulasi seperti apa dan apa yang harus dilakukan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Wulan Koagouw (Senior Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)