Tag: energi bersih

  • Pembangunan PLTS Cirata Justru Membuat Warga Sekitar Kehilangan Mata Pencaharian

    Pembangunan PLTS Cirata Justru Membuat Warga Sekitar Kehilangan Mata Pencaharian

     

    7cloud.asia – Penggunaan energi bersih dan terbarukan sebanyak-banyaknya memang menjadi keharusan agar kita tak lagi ketergantungan pada energi fosil yang kotor seperti batu bara.

    Namun, pemakaian energi bersih ini seharusnya bermanfaat bagi semua orang, tak hanya pengusaha energi terbarukan, tetapi juga warga sekitarnya.

    Untuk melihat dampak energi bersih berskala besar, penulis tengah mengkaji implementasi salah satu proyek energi surya di Indonesia, yaitu pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS Cirata, Jawa Barat. Pembangkit , yang berkapasitas sekitar 192 megawatt peak (MWp) dan bernilai Rp1,7 triliun ini diresmikan pada 2023 lalu.


    Sejak Februari 2026, saya melakukan riset lapangan dengan pendekatan etnografi. Penulis mengunjungi langsung desa-desa yang berbatasan dengan lokasi Waduk Cirata, tempat PLTS Cirata dibangun.

    Selama kunjungan tersebut, saya telah mewawancarai sekitar 20 warga setempat. Menurut pengakuan mereka, manfaat PLTS Cirata, yang acap diklaim sebagai keberhasilan transisi energi, ternyata manfaatnya tidak dirasakan secara merata oleh penduduk sekitar.

    Terpinggirkan sejak pembangunan PLTA

    PLTS Cirata berada di kompleks PLTA Cirata, keduanya memanfaatkan Waduk Cirata sebagai lokasi utama.

    Jauh sebelum ada PLTS, warga sudah terdampak pembangunan PLTA. Waduk Cirata yang dibangun pada 1983 menenggelamkan sekitar 5.700 hektare lahan warga dan memaksa relokasi hampir 28 ribu orang (6.300 rumah tangga) dari desa-desa terdampak.

    Meski ada kompensasi, pada waktu itu terjadi penyakit klasik proyek pembangunan: harga tanah melonjak akibat ulah makelar. Alhasil, warga hanya memiliki dua (+ satu) pilihan: menerima kompensasi atau pindah atau yang ketiga kehilangan segalanya.

    Bagi sebagian besar warga, merelakan tanah mereka untuk pembangunan adalah sebuah pengorbanan besar. Pertalian mereka dengan kekerabatan, lingkungan, dan ruang hidup perlahan terputus seiring air yang mulai menggenangi wilayah aliran Sungai Citarum itu.

    Pembangunan waduk yang mengubah bentang alam juga memaksa masyarakat mengubah pola hidup. Pertanian masih ada, tetapi tidak lagi dominan. Warga mulai berwirausaha dan bekerja serabutan di tengah pilihan mata pencaharian yang terbatas.


    Sejak 1990-an, budi daya perikanan berkembang, warga pun beralih usaha. Keramba jaring apung muncul di waduk, bersamaan dengan kedatangan komunitas Toraja yang memperkenalkan teknologi budi daya air tawar, termasuk praktik bagang: rakit bambu dengan lampu untuk menangkap ikan di malam hari.

    Sebagian warga beralih menjadi nelayan, dan menyebut waduk sebagai “laut” mereka. Tetapi banyak keramba dimiliki orang-orang kaya dari luar desa, warga setempat hanya menjadi pengelola keramba milik orang lain. Sektor baru ini pun belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

    Kian terpinggirkan oleh PLTS

    Beberapa tahun kemudian, desas-desus tentang pembangunan PLTS terapung terdengar sejak pertengahan tahun 2010-an.

    Sebelum proyek meluncur, menurut warga, pihak konsultan yang mewakili perusahaan datang ke desa dan menyampaikan janji-janji: keterlibatan warga, kesempatan kerja, atau alih profesi menjadi tenaga teknis.

    Seorang warga yang saya temui mengatakan, peristiwa itu mengingatkan mereka pada pembangunan waduk dulu. Perantara konsultan pembangunan datang, seperti makelar tanah masa lalu.

    Mereka memediasi pertemuan antara kelompok nelayan terdampak, yang membahas zona restriksi dan batasan akses di permukaan waduk.

    Seiring pembangunan PLTS, area sekitar panel surya pun ditetapkan sebagai zona terbatas yang memengaruhi aktivitas dan akses perikanan warga di desa sekitar.

    Bagi warga, mereka tidak pernah ingin menguasai waduk, tetapi menyempitnya ruang dan dibatasinya akses ke waduk menyulitkan mereka. Padahal, beberapa dekade ini sebagian mereka terpaksa beradaptasi menjadi nelayan agar bisa bertahan hidup.

    Di suatu dusun yang saya datangi, dari sekitar 30 nelayan, hanya tersisa tiga nelayan yang masih menangkap ikan.

    Tangkapan sebelum pembangunan waduk mencapai 20 kilogram (kg) sekali berlayar, kini paling banyak 5 kg dengan harga jual Rp5 ribu/kg karena pengawasan ketat zona dan aturan waktu mencari ikan.

    Mereka hanya boleh menjaring sebelum malam hingga menjelang pagi. Jika melanggar, alat tangkap akan dirusak atau disita.

    Kompensasi “penggusuran kedua,” kata seorang nelayan, hanya sekitar Rp175 – 200 ribu per orang. Jumlah tersebut diperoleh karena kompensasi diberikan kepada kelompok, kemudian dibagi secara merata kepada setiap anggota. Seperti sebelumnya, warga hanya dihadapkan pada dua pilihan: menerima kompensasi atau kehilangan alat tangkapnya.

    Sebagai perbandingan, biaya membangun satu bagang saja bisa mencapai Rp3 juta. Kompensasi yang diberikan sama sekali tidak sepadan.

    Parahnya lagi, pembangunan PLTS Terapung ini juga nyaris tidak menyerap tenaga kerja lokal.

    Kini, sebagian nelayan beralih menjadi kuli harian, buruh sawah, tukang ojek, atau wirausaha. Keadaan mereka seperti “layangan putus,” tanpa arah kepastian ekonomi di masa mendatang, dengan penghasilan hanya sekitar Rp300 ribu per bulan.

    Pelajaran yang bisa dipetik

    Setiap proyek transisi energi bersih semestinya memberi manfaat pada komunitas lokal setempat. Namun, masyarakat di tingkat tapak sering luput dari agenda transisi energi karena proyek lebih sibuk dengan capaian angka dan indikator teknis.

    Kisah PLTS Terapung Cirata bisa menjadi rujukan pemerintah untuk memperbaiki praktik transisi energi.

    Jika tak bisa memenuhi aspek berkeadilan, maka proyek transisi energi yang digembar-gemborkan ‘hijau’, tak ada bedanya dibandingkan proyek infrastruktur lainnya.

    Empat dekade berselang, kompleks megah dua fasilitas ‘energi hijau’ Cirata justru memperparah kerentanan warga setempat. Mereka terpinggirkan dan hanya bisa menggigit jari di balik euforia transisi energi terbarukan.

     


    Irfan Nugraha, Etnografer, Universitas Indonesia

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Sektor Pariwisata Bali Mulai Beralih ke Energi Bersih

    Sektor Pariwisata Bali Mulai Beralih ke Energi Bersih

    7cloud.asia – Sektor pariwisata di Bali terus berupaya mengimplementasikan strategi energi bersih sebagai bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

    Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi global.

    Wujud komitmen ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia.

    Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.

    “Kami melihat adanya pergeseran struktural dalam strategi sektor perhotelan memandang energi,” kata Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, beberapa waktu lalu.

    Dia menambahkan, penggunaan energi bersih bukan lagi sekadar soal efisiensi biaya, melainkan tentang ketahanan energi, pemenuhan standar global, serta menjawab tuntutan wisatawan yang semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih tujuan maupun akomodasi.

    Baca: Kesiapan Transisi Energi Desa Masih Timpang

    Melalui pemanfaatan PLTS atap, operator hotel premium dapat mendiversifikasi bauran energi mereka dengan energi bersih dan terbarukan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis bahan bakar fosil.

    Tren ini turut mencerminkan perubahan yang lebih luas di industri pariwisata global.

    Faktor eksternal, seperti konflik geopolitik hingga fluktuasi harga bahan bakar, kini tidak lagi dipandang sebagai risiko jangka panjang, melainkan tantangan operasional yang harus diantisipasi sejak awal.

    Bagi Pulau Dewata, tuntutan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil kian urgen. Di luar faktor ketahanan energi, tekanan pasar turut mendorong tren ini.

    Hotel-hotel di Indonesia kini menghadapi tuntutan dari berbagai arah, mulai dari komitmen perusahaan induk global, investor, regulator, hingga wisatawan.

    Dari sudut pandang wisatawan, riset Sustainable Travel 2025 dari Booking.com, menunjukkan 93 persen responden kini secara aktif mempertimbangkan opsi perjalanan yang lebih berkelanjutan saat membuat keputusan bepergian.

    Baca: Krisis Energi Global Jadi Katalisator Transisi Energi

    Survei tersebut melibatkan 32.000 wisatawan dari 34 negara, termasuk Indonesia.

    Saat ini Bali masih bergantung pada sistem pasokan listrik dari luar pulau, sedangkan kebutuhan listrik terus meningkat sekitar 14–16 persen per tahun, berdasarkan estimasi Pemerintah Provinsi Bali. Padahal, Bali memiliki potensi energi surya yang besar, namun pemanfaatannya belum optimal.

    Berdasarkan data dari Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi PLTS di Bali diperkirakan mencapai 3,3 hingga 10,9 gigawatt, sedangkan tingkat pemanfaatannya per 2025 baru di bawah satu persen.

    Meski demikian, arah kebijakan pemerintah Bali juga semakin mendukung percepatan transisi energi bersih.

    Sejak 2019, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan regulasi yang mendorong adopsi PLTS atap di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, akomodasi dan pariwisata, hingga sektor swasta atau komersial.

    Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs Pemerintah Provinsi Bali pada Mei 2025, Gubernur Bali Wayan Koster, menyatakan kemandirian energi sebagai kebutuhan strategis bagi Bali.

    “Bali mandiri energi tidak bisa ditawar lagi. Ini soal kedaulatan dan masa depan pulau kita, yang notabene tidak memiliki sumber daya alam batu bara ataupun migas lainnya. Salah satu solusi nyata yang bisa segera dilakukan adalah pemanfaatan PLTS atap secara masif,” ujar Koster.

    Baca: Menggali Makna Adil untuk Masyarakat Terkait Transisi Energi 

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Transisi Energi Bersih di Bali hingga Pertumbuhan Ekonomi yang Rapuh

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Transisi Energi Bersih di Bali hingga Pertumbuhan Ekonomi yang Rapuh

    7cloud.asia – Artikel mengenai sejumlah hotel di Bali memanfaatkan energi surya sebagai upayanya menuju transisi energi bersih menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel mengenai kondisi sosial ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang rapuh dan penutupan ritel modernn untuk koperasi merah putih

    Artikel terkait isu lingkungan yakni ditunjuknya Gubernur DKI Jakarta menjadi pemimpin gerakan net zero emisssion juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Sektor pariwisata Bali beralih ke energi bersih
    Sektor pariwisata di Bali terus berupaya mengimplementasikan strategi energi bersih sebagai bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

    Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi global.

    Wujud komitmen ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia.

    Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Kritik terhadap pengembangan Koperasi Merah Putih
    Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto menyoroti polemik penutupan sejumlah gerai ritel modern di Lombok Tengah untuk pengembangan koperasi desa merah putih yang memicu keresahan di kalangan pekerja.

    Menurutnya, persoalan ini tidak boleh hanya dilihat sebagai isu penataan usaha atau perizinan daerah, tetapi juga harus dilihat dari dampaknya terhadap tenaga kerja yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

    Dikutip Parlementaria, Edy menilai, munculnya narasi yang membenturkan keberadaan gerai ritel modern dengan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak tepat.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. C40 Cities dan upaya Jakarta turunkan emisi
    C40 Cities pekan lalu mengumumkan penunjukan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebagai Wakil Ketua Steering Committee C40 Cities.

    C40 Cities adalah jaringan global yang terdiri dari hampir 100 kota besar di dunia yang berkomitmen untuk mengatasi krisis iklim.

    Jaringan ini berfokus pada kolaborasi antar-kota untuk berbagi pengetahuan, mendorong inovasi kebijakan, serta mempercepat implementasi solusi iklim yang berdampak nyata

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Militerisasi membuat demokrasi mati suri
    Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) mengecam keras semakin terbukanya praktik militerisasi ruang sipil yang dilakukan TNI.

    PBHI menilai keterlibatan militer dalam pengawasan warga sipil kritis hingga penanganan kriminalitas jalanan menjadi indikator serius kemunduran demokrasi dan bangkitnya kembali multifungsi TNI.

    Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI, Kahar Muamalsyah, menegaskan tindakan aparat militer yang memantau, mendata, hingga mendekati warga sipil karena kritik politik merupakan pola intimidasi yang identik dengan rezim otoritarian.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Pertumbuhan ekonomi 5,1 persen yang rapuh
    Baru-baru ini BPS merilis angka pertumbuhan PDB Q1 2026 sebesar 5,61 persen year on year, angka tertinggi sejak 2012 di luar periode pandemi Covid-19.

    Namun kajian terbaru yang dilakukan Ikhsan dan Riefky (2026) mengidentifikasi adanya inkonsistensi internal di dalam data BPS itu sendiri.

    Inkonsistensi itu ditunjukkan oleh kontraksi sektor listrik sebesar −0,99 persen seiring dengan sektor Manufaktur yang tumbuh sebesar +5,04 persen menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai integritas pengukuran.

    Apabila inkonsistensi tersebut dikoreksi, maka perkiraan pertumbuhan yang wajar berkisar pada 4,4 hingga 5,2 persen

    Baca berita selengkapnya di sini

  • Potensi Besar Energi Bersih Sia‑sia: Jutaan Warga Belum Nikmati Aliran Listrik

    Potensi Besar Energi Bersih Sia‑sia: Jutaan Warga Belum Nikmati Aliran Listrik

     

    7cloud.asia – Di saat dunia sudah jauh berbicara tentang kendaraan listrik dan berbagai teknologi canggih untuk transisi energi masa depan, sebagian warga Indonesia masih bergumul dengan persoalan mendasar, yakni akses listrik terbatas.

    Data 2024, masih ada sekitar 658 ribu keluarga yang belum memiliki akses listrik sama sekali. Sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Indonesia Timur, terutama Papua Pegunungan dan Papua Tengah.

    Selain itu, sekitar 1,17 juta keluarga masih bergantung pada sumber listrik non-PLN. Dalam banyak kasus, sumber listrik tersebut berasal dari generator diesel yang mahal, tidak efisien, dan menghasilkan emisi tinggi.

    Ironisnya, masyarakat desa harus membayar biaya energi yang lebih mahal untuk memperoleh layanan yang kualitasnya justru lebih rendah. Padahal, wilayah pedesaan memiliki sumber energi yang berlimpah.

    Riset terbaru CELIOS mengungkapkan bahwa sebagian besar potensi energi terbarukan di wilayah pedesaan belum dimanfaatkan. Hingga kini, kebijakan pemerintah tidak menyentuh sumber energi berbasis pengelolaan komunitas.

    Pemerintah gagal mengubah potensi lokal menjadi sumber kesejahteraan yang nyata bagi warga. Agenda transisi energi harus menjawab persoalan ini, memastikan manfaatnya benar-benar sampai ke desa.

    Kaya potensi, miskin pemanfaataan

    Kami melakukan studi analisis menggunakan data Potensi Desa (Podes) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 dan 2024 yang mencakup lebih dari 84 ribu desa di 38 provinsi.

    Kami membandingkan kondisi desa pada dua periode tersebut dengan 10 indikator yang tersedia dalam data Podes. Tujuannya untuk mengukur dan menggambarkan kondisi transisi energi di wilayah desa.

    Indikator itu mencakup pemanfaatan energi surya (publik dan rumah tangga), bioenergi, tenaga air, program kebijakan, infrastruktur, aset sumber daya alam, defisit akses energi, dan degradasi lingkungan.

    Paradoks terbesar terlihat pada energi air. Hasil analisis terhadap data potensi desa menunjukkan ada 120.546 desa yang memiliki sumber daya air seperti sungai, danau, embung, maupun saluran irigasi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi.

    Namun hingga 2024, hanya 1.039 desa yang memanfaatkan potensi tersebut untuk pembangkit listrik tenaga air, baik dalam bentuk mikrohidro maupun sistem pembangkit lainnya. Artinya, sekitar 99% potensi energi air di tingkat desa masih belum dimanfaatkan.

    Situasi serupa juga terlihat pada energi surya. Penggunaan panel surya rumah tangga justru menurun dalam tiga tahun terakhir, dari 4.176 desa pada 2021 menjadi hanya 3.076 desa pada 2024.

    Hampir semua kondisi infrastruktur dan program energi terbarukan di desa justru menurun. Kenaikan hanya terjadi pada Penerangan Jalan Umum (PJU) Surya yang naik 23,1%, dari 24.766 desa menjadi 30.476 desa (2021-2024).

    Nihil semangat membangun dari desa

    Untuk bisa menganalisis dengan lebih baik, kami mengembangkan Indeks Kerentanan Energi (IKE) yang bisa mengukur tingkat kerentanan antarprovinsi.

    IKE ini dibangun dari tujuh indikator utama: 1) persentase keluarga tanpa akses listrik; 2) ketergantungan pada sumber listrik non-PLN; 3) desa tanpa program EBT; 4) desa tanpa infrastruktur energi; 5) desa dengan permukiman kumuh; 6) desa tanpa sanitasi layak; dan 7) desa dengan risiko pencemaran air, tanah, dan udara.

    Seluruh indikator disusun dengan prinsip yang sama: semakin tinggi nilainya, semakin rentan kondisinya. Hasilnya, sebagian besar provinsi memiliki tingkat kerentanan menengah hingga rendah. Namun, ada beberapa provinsi dengan skor sangat tinggi yang menjadi outlier.

    Perbedaan ini menunjukkan ketimpangan pemerataan akses energi di Indonesia. Infrastruktur energi modern terkonsentrasi di wilayah yang sejak awal relatif lebih maju. Sementara daerah yang paling membutuhkan terus-menerus dianaktirikan.

    Daerah Indonesia Timur masih menjadi kawasan dengan kerentanan energi tertinggi. Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Maluku Utara berada pada kelompok provinsi dengan tingkat kerentanan energi teratas.

    Ketimpangan akses pembiayaan juga mengkhawatirkan. Dari total desa di Indonesia, baru 1.643 desa atau sekitar 1,95% yang tercatat mengakses kredit energi (KPP-E). Artinya, hampir seluruh desa masih belum tersentuh skema pembiayaan yang berasal dari himpunan bank milik negara (himbara).

    Dengan kata lain, ketimpangan energi yang selama ini terjadi belum berhasil dikoreksi oleh kebijakan transisi energi. 

    Pembiaraan selama ini harus dihentikan

    Paradoks lain muncul di kawasan pertambangan. Indonesia memiliki ribuan desa yang selama bertahun-tahun menjadi lokasi eksploitasi sumber daya energi dan mineral. Secara logika pembangunan, wilayah-wilayah ini seharusnya menjadi penerima manfaat utama dari transformasi energi nasional.

    Namun yang terjadi justru sebaliknya. Lebih dari 15 ribu desa masih masuk kategori desa tambang. Pada saat yang sama, desa-desa ini menunjukkan tingkat adopsi energi terbarukan yang rendah, pemanfaatan mikrohidro yang minim, dengan tingkat pencemaran lingkungan relatif tinggi. 

    Pencemaran air di desa bahkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fakta ini menunjukkan bahwa pencemaran air masih dominan, terjadi di 11.019 desa dan bahkan naik 3,15% dibanding tahun sebelumnya. Pencemaran udara tercatat di 4.754 desa, sementara pencemaran tanah di 947 desa. 

    Terlihat jelas bahwa selama ini kebijakan energi nasional masih sangat berorientasi pada proyek dan pembangunan infrastruktur skala besar. Pendekatan seperti ini memang penting untuk memenuhi kebutuhan sistem energi nasional.

    Namun desa tidak boleh hanya menjadi lokasi pembangunan proyek atau penerima dampak kebijakan. Masyarakat desa harus ditempatkan sebagai pelaku utama yang memiliki kendali atas sumber energi lokal melalui pengembangan mikrohidro komunitas, energi surya rumah tangga, koperasi energi, maupun skema pembiayaan yang terjangkau.

    Transisi energi yang adil seharusnya tidak hanya berbicara mengenai investasi hijau, pembangunan pembangkit baru, atau pencapaian target bauran energi nasional.

    Transisi energi harus memastikan bahwa seluruh masyarakat memiliki akses, kepemilikan, dan manfaat ekonomi dari sumber energi yang tersedia di wilayah mereka.


    Muhamad Saleh, Program Manager Policy and Strategic Litigation, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Sejumlah Negara Sediakan Listrik Gratis Saat Produksi Setrum Berlebih, Bisakah Indonesia Melakukannya?

    Sejumlah Negara Sediakan Listrik Gratis Saat Produksi Setrum Berlebih, Bisakah Indonesia Melakukannya?

     

    7cloud.asia – Di Jerman dan Australia, fenomena rumah tangga ditawari listrik gratis semakin sering terjadi.

    Hal ini terjadi pada waktu-waktu tertentu ketika produksi
    energi dari tenaga surya atau angin sedang tinggi-tingginya. Alhasil, listrik yang dihasilkan lebih banyak daripada yang dibutuhkan masyarakat.

    Sementara itu, kapasitas penyimpanan energi yang tersedia juga terbatas. Sebagian besar listrik pun perlu disalurkan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

    Seiring banyaknya negara yang memperluas penggunaan energi angin dan surya, semakin banyak pula masyarakat yang bisa menyalakan mesin cuci atau merebus air dengan ketel listrik tanpa kena tagihan listrik.

    Ketika pasokan melebihi permintaan, harga listrik bisa turun drastis, bahkan terkadang sampai negatif. Harga listrik negatif itu sederhananya, produsen listrik yang membayar konsumen untuk menggunakan kelebihan listrik yang tersedia.

    Fenomena ini bahkan sudah mulai terjadi di beberapa negara Eropa lain seperti Spanyol. Pada 2024 saja, pasar listrik Eropa mencatat tagihan listrik negatif melebihi seribu jam.

    Energi terbarukan telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Sebagian besar pertumbuhan ini merupakan sokongan tenaga surya.

    Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA)
    memperkirakan kapasitas tenaga surya akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030 dan menyumbang hampir 80% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik baru di dunia. Energi terbarukan juga diprediksi bakal memenuhi lebih dari 90% pertumbuhan kebutuhan listrik global pada 2030.

    Tahun 2025, produksi listrik rendah karbon global meningkat sekitar 887 TWh (terawatt-jam), sedikit lebih tinggi daripada kenaikan permintaan listrik.

    Energi surya memenuhi sekitar 75% pertumbuhan tersebut. Sementara gabungan energi surya dan angin memenuhi hampir semua kebutuhan listrik.

    Sejumlah negara memiliki kelebihan pasokan listrik

    Di berbagai belahan dunia lain, surplus pasokan kian melimpah pada tahun 2025 menunjukkan harga listrik negatif menjadi semakin tidak bernilai.

    Di Spanyol, angka ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Di Prancis meningkat hampir 50 persen, sementara Belanda mengalami kenaikan sekitar 25 persen.

    Pola serupa juga mulai terlihat di berbagai negara Eropa seperti Finlandia, Swedia, Inggris, dan Jerman,

    Sedangkan di Jerman, produksi listrik yang tinggi dari angin dan surya—terutama pada akhir pekan—juga menghasilkan surplus pasokan. Kondisi ini kini cukup sering terjadi sehingga memengaruhi harga listrik.

    Bergeser ke Australia, tren serupa terjadi karena pertumbuhan panel surya atap yang menghasilkan listrik dalam jumlah besar pada siang hari ketika kebutuhan rumah tangga relatif rendah.

    Di Australia Selatan, harga listrik negatif mencakup sekitar seperempat dari pasokan listrik secara keseluruhan pada 2023 dan 2024.

    Pun di California, Amerika Serikat, proporsi jam dengan harga listrik negatif meningkat dari sekitar 4% pada 2023 menjadi 15 persen di 2024. Semua terjadi karena bauran energi terbarukan yang konsisten dan terealisasi dengan optimal. 

    Kelebihan pasokan jadi berkah tersendiri bagi masyarakat Australia

    Pola terjadinya kelebihan pasokan ini sebenarnya menunjukkan bahwa sistem kelistrikan saat ini belum cukup fleksibel untuk merespons perubahan pasokan yang sangat cepat. Akibatnya operator terkadang terpaksa “membuang” kelebihan listrik dengan cara menyalurkan listrik secara cuma-cuma agar sistem tetap dapat beroperasi dengan baik.


    Pada saat-saat ketika pasokan energi dari tenaga surya di Australia melimpah, tarif listrik pun diturunkan.
    anatoliy_gleb/Shutterstock

    Namun, Australia sepertinya sudah mulai menemukan cara mengatasi masalah ini. Harga listrik negatif kini umum terjadi dua hingga tiga jam setiap hari. Tapi di sisi lain lonjakan harga listrik bisa ditekan sedemikian rupa.

    Harga listrik nol atau negatif itu terjadi di pasar grosir (wholesale markets), yaitu pasar tempat pembangkit menjual listrik ke perusahaan listrik. Namun, tagihan listrik rumah tangga biasanya memakai harga eceran yang juga mencakup biaya jaringan dan pajak.

    Sebagian konsumen mungkin bisa merasakan manfaat, seperti pelanggan yang menggunakan tarif fleksibel (harga berubah mengikuti kondisi pasar). Mereka bisa menikmati listrik lebih murah atau bahkan “gratis” pada jam-jam tertentu.

    Namun pelanggan yang memiliki baterai penyimpanan atau sistem pintar bakal mendapat manfaat lebih besar dari tren ini. Sebab, mereka bisa menyimpan energi untuk malam hari ketika konsumsi biasanya lebih tinggi. Artinya, mereka tidak perlu membeli setrum saat harga lebih mahal.

    Hal ini mencerminkan sistem yang mulai beradaptasi. Operator Pasar Energi Australia (AEMO) menyebut baterai skala besar semakin berperan penting untuk menyimpan listrik saat pasokan melimpah dan melepaskannya ketika permintaan meningkat.

    Langkah ini membantu meredam fluktuasi harga dan menstabilkan sistem.

    Secara keseluruhan, perubahan ini menandai perubahan besar dalam operasi sistem kelistrikan. Seiring bertambahnya pembangkit energi terbarukan, pasokan listrik akan semakin dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Oleh karenya, sistem listrik pun juga harus lebih fleksibel.

    Mulai diterapkan di Inggris

    Perubahan ini sudah mulai memengaruhi kebijakan di negara lain seperti Inggris. Menurut Operator Sistem Energi Nasional UK/NESO, mulai musim panas 2026, rumah tangga dan pelaku usaha akan didorong untuk menggunakan lebih banyak listrik pada saat pasokan berlebih, terutama saat produksi tenaga surya tinggi dan permintaan rendah.

    Waktu penerapan kebijakan ini bukanlah kebetulan. Sebagai bagian dari transisi menuju energi terbarukan, terutama tenaga surya, periode kelebihan pasokan listrik di Inggris, semakin sering terjadi.

    Pola serupa pernah terlihat di Jerman, ketika melonjak tajam, produksi tenaga surya menciptakan kebutuhan mendadak akan fleksibilitas sistem yang lebih besar.

    Pemadaman massal atau blackout yang terjadi di Spanyol dan Portugal pada 2025, menunjukkan betapa cepatnya ketidakstabilan dapat terjadi jika sistem tidak mampu merespons secara efektif.

    Untuk menanggulanginya, operator sistem Inggris memprioritaskan pemantauan kondisi semacam ini dan dikelola secara aktif.

    Pada akhirnya, listrik gratis mencerminkan perubahan yang lebih mendalam dalam cara kerja sistem energi modern.

    Seiring pertumbuhan energi terbarukan, kelebihan pasokan listrik bakal menjadi semakin hal lumrah di sejumlah negara. Listrik gratis—atau bahkan situasi saat konsumen ‘dibayar’ untuk menggunakan listrik—kemungkinan akan semakin sering terjadi di masa depan.


    Salma Al Arefi, Senior Lecturer in Renewable Energy, University of Leeds

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.