Tag: iran

  • Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal Dalam Kecelakaan Helikopter, Indonesia Berduka

    Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal Dalam Kecelakaan Helikopter, Indonesia Berduka

    7cloud.asia – Presiden Iran, Ebrahim Raisi dipastikan meninggal dunia setelah helikopter yang membawanya dan rombongan jatuh di Provinsi Azerbaijan Timur, pada Minggu (19/5). Pemerintah Indonesia turut berduka.

    Helikopter yang ditumpangi Presiden Raisi, bersama dua helikopter lainnya, sedang dalam perjalanan ke Kota Tabriz pada Minggu.

    Rombongan helikopter tersebut menempuh perjalanan bersama usai Presiden Raisi meresmikan Bendungan Qiz Qalasi di perbatasan dengan Republik Azerbaijan sehari sebelumnya.

    Baca: Kedubes Iran kecam serangan Israel

    Melansir kantor berita IRNA, sejumlah pejabat ikut serta dalam helikopter yang ditumpangi Presiden Raisi, yaitu Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amirabdollahian, Gubernur Provinsi Azarbaijan Timur, Malek Rahmati.

    Selain itu dalam helikopter tersebut juga terdapat Mehdi Mousavi, kepala tim pengawal Raisi serta Mohammad Ali Al-e-Hashem, perwakilan Pemimpin Tertinggi di provinsi tersebut juga menemani mereka.

    Helikopter diduga jatuh atau mendarat darurat di hutan Dizmar antara Kota Varzaqan dan Jolfa di Provinsi Azerbaijan Timur, dekat perbatasan Iran dengan Azerbaijan.

    Baca: Ketegangan Iran dan Israel untungkan kelompok Hamas

    Pejabat lokal yang hadir di lokasi kecelakaan telah mengonfirmasi kematian Raisi dan tim pendampingnya. Pemerintah Iran akan segera mengeluarkan pernyataan resmi.

    Tim penyelamat darurat telah tiba di lokasi jatuhnya helikopter tersebut namun operasi penyelamatan diperkirakan memakan waktu akibat cuaca buruk.

    Sementara itu, pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan atas musibah jatuhnya helikopter yang membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi serta rombongannya pada Minggu (19/5).

    “Teriring doa kami bagi mereka dan seluruh rakyat Iran,” kata Kementerian Luar Negeri RI dalam akun resmi X, Senin (20/05/2024).

    Baca: Iran luncurkan 200 serangan drone ke Israel

    Presiden Ebrahim Raisi menjabat sebagai presiden Iran ke 8 sejak 3 Agustus 2021. Selama masa jabatannya tersebut, Presiden Raisi pernah melakukan kunjungan kenagaraan ke Indonesia pada 23 Mei 2023 lalu.

    Saat itu, Presiden Raisi diterima dengan upacara kenegaraan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana Bogor.

    Pada kunjungannya tersebut, Presiden Raisi sempat bertemu ketua DPR RI, Puan Maharani dan berkunjung ke Masjid Istiqlal.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber  

  • Mengenal Mohammad Mokhber, Pengganti Ebrahim Raisi sebagai Penjabat Presiden Iran

    Mengenal Mohammad Mokhber, Pengganti Ebrahim Raisi sebagai Penjabat Presiden Iran

    7cloud.asia – Wakil Presiden pertama Iran, Mohammad Mokhber, ditunjuk sebagai penjabat presiden Republik Islam itu pada Senin.

    Penunjukan Mohammad Mokhber dilakukan setelah wafatnya Presiden Ebrahim Raisi dalam sebuah kecelakaan helikopter di wilayah barat laut negara itu.

    Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengeluarkan pengumuman terkait penunjukan Mokhber, dalam sebuah pesan duka cita yang dia sampaikan bagi wafatnya Raisi pada kecelakaan hari Minggu itu.

    Sesuai konstitusi Iran, wafatnya Raisi menjadikan Mokhber sorotan publik.

    Mohammad Mokhber yang saat ini berumur 68 tahun, secara luas hanya menjadi bayang-bayang jika dibandingkan dengan politisi lain dalam teokrasi Syiah di Iran.

    Dia diperkirakan akan menjabat sebagai presiden sementara untuk sekitar 50 hari, sebelum pemilihan presiden sebenarnya di Iran.

    Baca: Iran tetapkan masa berkabung lima hari

    Meskipun profil publiknya tidak menonjol, Mohammad Mokhber telah memegang sejumlah posisi utama di dalam struktur kekuasaan di Iran, khususnya di lembaga-lembaga amal.

    Kelompok-kelompok amal ini dibiayai dengan donasi atau aset yang disita setelah Revolusi Islam Iran 1979, terutama yang sebelumnya terkait dengan Shah Iran atau mereka yang ada di dalam pemerintahannya.

    Mohammad Mokhber mengelola sebuah lembaga amal yang juga disebut dalam bahasa Inggris sebagai Execution of Imam Khomeini’s Order (EIKO) atau Eksekusi Perintah Iman Khomeini, merujuk pada Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

    Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa organisasi tersebut mengelola aset bernilai miliaran dolar sebagai “sebuah raksasa bisnis di bawah pengawasan langsung Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei

    Sebagai pemimpin tertinggi, Ali Khamenei memiliki saham di hampir semua sektor ekonomi Iran, termasuk Energi, telekomunikasi, dan layanan keuangan.

    “EIKO secara sistemik telah melanggar hak-hak para pembangkang dengan menyita tanah dan properti dari para penentang rejim, termasuk musuh-musuh politik, kelompok minoritas keagamaan, dan warga Iran yang terbuang,” kata Kementerian Keuangan AS pada 2021, terkait pemberian sanksi terhadap Mokhber.

    Baca: Presiden Iran, Ebrahim Raisi meninggal dalam kecelakaan helikopter

    Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi terhadap Mokhber untuk sementara waktu bersama tokoh lain, karena kekhawatiran terkait program nuklir Iran.

    Sebagai kepala EIKO, Mokhber mengelola sebuah upaya untuk membuat vaksin COVID-19 selama puncak pandemi, berjanji untuk memproduksi puluhan juta dosis. Hanya sebagian kecil saja dari jumlah itu yang sampai ke publik, tanpa penjelasan lebih jauh.

    Mokhber sebelumnya bekerja di sektor perbankan dan telekomunikasi. Dia juga bekerja di Yayasan Mostazafan, sebuah konglomerasi besar mengelola proyek-proyek raksasa dan bisnis-bisnis negara itu.

    Ketika mengelola yayasan ini, dia mendapati dirinya terkait dengan perselisihan hukum yang pelik antara penyedia layanan telepon genggam Turkcell dan MTN dari Afrika Selatan, terkait kemungkinan untuk masuk ke pasar Iran.

    MTN akhirnya berhasil masuk Iran. Turkcell kemudian mengajukan gugatan yang menuduh Mokhber meminta dukungan MTN untuk mengamankan “peralatan pertahanan tertentu” sebagai imbalan untuk potensi kerja sama dengan mereka, yang menjadi saingan Turkcell.

    Mokhber menggunakan “pengaruh yang tidak tepat termasuk negosiasi dengan dan atas nama Pemimpin Tertinggi demi kepentingan MTN,” tuduh Turkcell kemudian dalam sebuah gugatan hukum.

    Baca: Pemilu Iran hanya diikuti separuh pemilih

    Sebuah laporan MTN kemudian menyatakan bahwa tidak ada pengiriman senjata, meskipun mengakui Mokhber sebagai pemain dalam keputusan Iran untuk bekerja sama dengan MTN.

    Laporan-laporan media Iran menunjukkan, bahwa Mokhber yang menyandang gelar doktor dalam hukum internasional, memegang peran penting dalam upaya Iran menghindari sanksi-sanksi Barat terkait industri minyaknya.

    Mokhber telah menjadi anggota Dewan Kemanfaatan Oran sejak 2022, yang memberikan saran bagi Pemimpin Tertinggi, sekaligus menyelesaikan perselisihan antara parlemen dan Dewan Wali, pengawasan konstitusi Oran yang juga mengawasi pemilihan umum di negara ini.

    Mokhber lahir pada 1 September 1955 di Dezful, provinsi Khuzestan di barat raya Iran, di tengah keluarga ulama.

    Dia menjadi pejabat di korps kesehatan Dewan Revolusi selama perang Iran-Irak pada 1980-an, menurut kelompok penekan, United Against Nuclear Iran (UANI).

    “Mokhber mengunakan kekayaan besar yang dikumpulkan oleh EIKO – dengan mengorbankan rakyat Iran – untuk memberi penghargaan kepada orang dalam rejim ini, termasuk dirinya sendiri,” kata UANI.

    “Mengelola jaringan patronase membuatnya dekat dengan Pemimpin Tertinggi, namun itu ada ongkosnya,” tambah lembaga ini.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Mahmoud Ahmadinejad Mendaftar sebagai Kandidat, Pilpres Iran Semakin Seru

    Mahmoud Ahmadinejad Mendaftar sebagai Kandidat, Pilpres Iran Semakin Seru

     

    7cloud.asia – Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, mendaftarkan diri pada hari Minggu (2/6/2024) sebagai calon kandidat dalam pemilihan presiden Iran mendatang.

    Ahmadinejad berusaha mendapatkan kembali posisi politik tertinggi di negara itu setelah insiden kecelakaan helikopter yang menewaskan presiden Iran Ebrahim Raisi.

    Pendaftaran Ahmadinejad yang dikenal sebagai pemimpin populis ini memberi tekanan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamaeini.

    Pasalnya, ketika menjabat, Ahmadinejad secara terbuka menantang ulama berusa 85 tahun itu dan upayanya pencalonan dirinya pada tahun 2021 dilarang oleh pihak berwenang.

    Baca: Mengenal Mohammad Mokhber, penjabat presiden Iran

    Ahmadinejad adalah kandidat paling menonjol yang mendaftar sejauh ini. Setelah pendaftarannya, ia mengatakan bahwa dirinya bertekad akan mengupayakan “keterlibatan konstruktif” dengan dunia dan meningkatkan hubungan ekonomi dengan semua negara.

    “Berbagai masalah ekonomi, politik, budaya dan keamanan telah melampaui situasi di tahun 2013,” kata Ahmadinejad, mengacu pada tahun ketika ia meninggalkan kursi kepresidenan setelah dua periode.

    Setelah berbicara kepada para jurnalis, Ahmadinejad berkata sembari mengacungkan jarinya ke udara, “Hidup kebangkitan, hidup Iran!”

    Kembalinya politisi yang kerap berbicara tentang holocaust tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Barat terkait beberapa isu.

    Baca: Presiden Iran meninggal dalam kecelakaan helikopter

    Sebut saja, program nuklir Iran yang berkembang pesat, mempersenjatai Rusia dalam perangnya di Ukraina, serta tindakan keras secara luas terhadap pembangkang di negara tersebut.

    Sementara itu, dukungan Iran terhadap pasukan proksi milisi di seluruh Timur Tengah secara umum juga menjadi sorotaan utama karena pemberontak Houthi Yaman menyerang kapal-kapal di Laut Merah akibat perang Israel-Hamas di Jalur Gaza.

    Pertahanan udara Ukraina mencegat drone produksi Iran “Shahed” di udara, dalam serangan udara Rusia di Kyiv, Ukraina, 30 Mei 2023.

    Pemilu Iran dijadwalkan berlangsung pada tanggal 28 Juni untuk menggantikan Presiden Ebrahim Raisi, anak didik garis keras Khamenei, yang tewas dalam sebuah kecelakaan helikopter pada bulan Mei bersama tujuh orang lainnya.

    Baca: Serangan Israel picu ketegangan Iran-Israel

    Periode pendaftaran selama lima hari akan ditutup pada hari Selasa (4/6/2024), dan Dewan Wali diperkirakan akan mengeluarkan daftar akhir kandidat dalam waktu 10 hari.

    Hal itu akan memungkinkan kampanye selama dua minggu sebelum pemungutan suara digelar pada akhir Juni mendatang.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Benarkah Konflik Iran-Israel Tak Mengganggu Impor Pangan Indonesia?

    Benarkah Konflik Iran-Israel Tak Mengganggu Impor Pangan Indonesia?

    7cloud.asia – Pertengahan April lalu, masyarakat global sempat dikejutkan oleh langkah Iran yang meluncurkan serangan pesawat nirawak dan misil ke Israel.

    Langkah Iran ini sempat menimbulkan kekhawatiran publik seputar konflik di Timur Tengah semakin panas di tengah gempuran serangan Israel ke Gaza dan Rafah.

    Meski demikian, ketegangan akibat serangan Iran ternyata tak berdampak ke Indonesia, khususnya terkait stabilitas pasokan pangan impor.

    Setidaknya itulah yang dikatakan Direktur Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan, Badan Pangan Nasional, Maino Dwi Hartono.

    “Kalau pangan tidak berdampak secara langsung semisal bawang putih kan dari China terus pangan-pangan lain juga banyak yang enggak berasal dari wilayah konflik.” ujar Maino Dwi Hartono di Jakarta, 18 April 2024.

    Untuk menguji kebenaran klaim Maino, The Conversation berkolaborasi dengan Riska Ayu Purnamasari, peneliti Innovation Center for Tropical Sciences (ICTS), untuk memeriksa kebenaran klaim Maino.

    Baca Juga: Pakar: Ketegangan Iran dan Israel Untungkan Kelompok Hamas

    Menurut Riska, klaim Maino tak sepenuhnya benar. Riska mengatakan bahwa secara langsung serangan Iran memang tidak berdampak langsung terhadap stabilitas impor pangan Indonesia.

    Sebab, berdasarkan data Kementerian Pertanian, Iran ataupun Israel bukanlah negara pemasok komoditas impor yang penting bagi Indonesia seperti bawang putih, kedelai, gandum, dan sebagainya.

    Namun, dia mengingatkan Indonesia perlu berhati-hati jika konflik Iran-Israel memanas kembali. Konflik ini tak melulu seputar serangan militer, tetapi juga perang dagang.

    Apalagi, perseteruan keduanya berisiko melibatkan negara adikuasa seperti Amerika Serikat (AS) ataupun Rusia dan China.

    Situasi yang memanas, kata Riska, berisiko menyebabkan guncangan harga minyak dunia—Iran merupakan salah satu negara penghasil minyak terbesar. Fluktuasi harga dapat memicu efek domino ke beraneka sektor.

    “Misalnya mengganggu jalur distribusi perdagangan yang memasok berbagai kebutuhan dan ekonomi berbagai negara,” tutur dia.

    Baca Juga: Iran Luncurkan 200 Serangan Drone ke Israel

    Risiko ini sudah terjadi. Misalnya, pada hari Israel menyerang Rafah tanggal 28 Mei lalu, harga minyak mentah di pasar berjangka Brent, naik 27 sen menjadi 84,49 dolar (Rp1,37 juta) per barel.

    Jika kenaikan harga minyak terus terjadi, pasokan logistik dunia akan terpengaruh. Ini akan berdampak pada harga komoditas di Indonesia, termasuk harga komoditas impor pangan dan pertanian.

    Riska mengingatkan situasi konflik di Timur Tengah yang tak kunjung mereda semestinya menjadi momen Indonesia untuk bersiap menjadi negara yang mandiri.

    Pemerintah dan masyarakat harus membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan.

    “Hal ini bisa dicapai dengan memperkuat kolaborasi antara berbagai pihak, seperti Kementerian Luar Negeri, Perdagangan, Pertanian, dan Kehutanan, serta melibatkan UMKM, jaringan petani, pelaku agribisnis, universitas, dan organisasi nonpemerintah,” kata dia.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

  • Massoud Pezeshkian dan Saeed Jalili Akan Bersaing di Putaran Kedua Pilpres Iran

    Massoud Pezeshkian dan Saeed Jalili Akan Bersaing di Putaran Kedua Pilpres Iran

    7cloud.asia – Pemilihan presiden Iran 2024 berlanjut ke putaran kedua usai tidak ada satupun dari empat calon presiden berhasil mendapat lebih dari 50 persen suara atau mayoritas.

    Juru bicara komisi pemilihan umum Iran Mohsen Eslami, dalam pernyataannya Sabtu (29/6/2024) mengatakan putaran kedua pilpres Iran akan digelar pada Jumat (5/7/2024) pekan depan.

    Calon presiden Massoud Pezeshkian, anggota parlemen dari kubu reformis, dan Saeed Jalili, mantan sekretaris dewan keamanan nasional dan negosiator nuklir Iran, akan berkompetisi di putaran kedua ini.

    Pemilih Iran pada Jumat (28/6/2024) memilih calon presiden yang mereka harapkan menggantikan Ebrahim Raisi, yang meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di utara negara tersebut pada 19 Mei lalu.

    Baca: Calon presiden Massoud Pezeshkian unggul di Pilpres Iran

    Eslami menyatakan bahwa surat suara yang terhimpun dari 58.640 tempat pemungutan suara (TPS) di seantero Iran dan 344 lainnya di luar negeri telah semuanya dihitung.

    Lebih dari 61 juta warga Iran berhak memilih dalam pilpres Iran kali ini, namun kurang dari separuhnya yang memberikan suaranya.

    Dari 24.535.185 atau 24,5 juta lebih suara yang dihitung, Pezeshkian mengungguli putaran pertama pemilu dengan mendapatkan 10.415.991 atau 10,42juta suara, sementara Jalili mendapat 9.473.298 atau 9,47juta suara.

    Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dan mantan menteri kehakiman Mostaf Pourmohammadi gugur dalam pilpres Iran karena hanya mendapat masing-masing 3.383.340 dan 206.397 suara.

    Baca: Presiden Ebrahim Raisi meninggal

    Sementara, dua capres lainnya, Amirhossein Ghazizadeh Hashemi and Alireza Zakani mengundurkan diri sebelum pemilihan berlangsung.

    Undang-undang pemilu Iran menetapkan bahwa jika tidak ada satupun capres yang memperoleh lebih dari 50 persen suara, maka dua calon dengan raihan suara tertinggi akan maju ke putaran kedua pemilu.

    Putaran kedua Pilpres Iran dilaksanakan pada Jumat pertama setelah hasil pemilu pertama diumumkan.

    Pilpres Iran ini dilakukan untuk mengisi kekosongan kursi presiden Iran, menyusul tewasnya Presiden Ibrahim Raisi, Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian, dan sejumlah pejabat lainnya pada 19 Mei 2024.

    Mereka tewas ketika helikopter yang mereka tumpangi jatuh di daerah Varzaqan, Provinsi Azerbaijan Timur di Iran utara.

    Sumber: Antara/IRNA-OANA

  • Iran Gelar Pilpres Putaran Kedua di Tengah Rendahnya Partisipasi Masyarakat

    Iran Gelar Pilpres Putaran Kedua di Tengah Rendahnya Partisipasi Masyarakat


    7cloud.asia – Iran menggelar pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua pada Jumat (5/7/2024) yang mempertemukan mantan perunding nuklir Saeed Jalili, dengan mantan menteri kesehatan, Massoud Pezeshkian.

    Pada putaran pertama, keduanya harus berjuang untuk membujuk masyarakat yang skeptis untuk memberikan suara. Putaran pertama Iran menunjukkan jumlah pemilih terendah dalam sejarah Republik Islam Iran.

    Pejabat pemerintah hingga Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memperkirakan tingkat partisipasi yang lebih tinggi seiring dengan berlangsungnya pemungutan suara.

    Dalam tayangan oleh televisi pemerintah, tidak tampak kepadatan terjadi di tempat-tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh negara itu.

    Namun, sejumlah video online menunjukkan beberapa TPS lengang, sementara survei terhadap puluhan lokasi di ibu kota, Teheran, memperlihatkan lalu lintas sepi di tengah kehadiran petugas keamanan yang ketat di jalan-jalan.

    Berikan Suara pada Putaran Kedua
    Pemungutan suara ditutup setelah tengah malam, setelah pemungutan suara diperpanjang, seperti yang sudah menjadi tradisi di Iran. TV pemerintah Iran mengatakan hasil awal diperkirakan akan diumumkan pada Sabtu (6/7/2024).

    Khamenei menegaskan rendahnya jumlah pemilih pada putaran pertama pada 28 Juni tidak mewakili referendum mengenai teokrasi Syiah di Iran.

    Namun, banyak pihak yang tetap kecewa karena Iran telah dilanda sanksi ekonomi yang berat selama bertahun-tahun, tindakan keras pasukan keamanan terhadap protes massal, dan ketegangan dengan negara-negara Barat terkait program nuklir Teheran.

    Iran semakin meningkatkan pengayaan uraniumnya hingga mencapai tingkat yang setara dengan senjata.

    Jalili memiliki reputasi sebagai tokoh yang keras kepala di kalangan diplomat Barat selama perundingan mengenai program nuklir Iran, sesuatu yang dibarengi dengan kekhawatiran di dalam negeri atas pandangan garis kerasnya mengenai kewajiban berjilbab di Iran.

    Pezeshkian, seorang ahli bedah jantung, telah berkampanye untuk melonggarkan penerapan jilbab dan menjangkau negara-negara Barat, meskipun selama beberapa dekade ia juga mendukung Khamenei dan paramiliter Garda Revolusi Iran.

    Para pendukung Pezeshkian telah memperingatkan Jalili akan membawa pemerintahan bergaya “Taliban” ke Teheran, sementara Jalili mengkritik Pezeshkian karena menjalankan kampanye yang menyebarkan rasa takut.

    Kedua kandidat tersebut memberikan suaranya pada Jumat di Teheran selatan, yang dipadati banyak permukiman miskin. Meskipun Pezeshkian unggul dalam putaran pertama pemungutan suara, Jalili berusaha mengamankan suara orang-orang yang mendukung ketua parlemen garis keras, Mohammad Bagher Qalibaf, yang berada di urutan ketiga dan kemudian mendukung mantan negosiator tersebut.

    Pezeshkian tidak memberikan komentar setelah pemungutan suara, dan berjalan keluar bersama mantan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, yang mencapai kesepakatan nuklir Iran pada 2015 dengan negara-negara besar.

    Massa yang gaduh mengepung orang-orang tersebut, sambil berteriak: “Harapan bangsa ini telah tiba!”

    “Saat ini seluruh dunia mengakui bahwa rakyatlah yang menentukan siapa presiden empat tahun ke depan,” kata Jalili setelahnya.

    “Ini adalah hak Anda untuk memutuskan orang mana, jalur mana, dan pendekatan apa yang harus memerintah negara ini dalam empat tahun ke depan.”

    Namun, seperti yang terjadi sejak Revolusi Islam pada 1979, perempuan dan mereka yang menyerukan perubahan radikal dilarang mengikuti pemilu, sementara pemilu itu sendiri tidak diawasi oleh lembaga pemantau yang diakui secara internasional. Kementerian Dalam Negeri, yang bertanggung jawab atas kepolisian, mengawasi hasilnya.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Tokoh Reformis Masoud Pezeshkian Terpilih Jadi Presiden Iran

    Tokoh Reformis Masoud Pezeshkian Terpilih Jadi Presiden Iran

    7cloud.asia – Masoud Pezeshkian, seorang anggota parlemen reformis veteran, terpilih sebagai presiden baru Republik Islam Iran setelah mengalahkan saingannya dari Partai Konservatif Saeed Jalili dalam pemilihan presiden putaran kedua.

    Masoud Pezeshkian seperti dilaporkan Anadolu, Sabtu (6/7/2024), mengumpulkan 16.384.403 (16,384 juta) suara dari 30.530.157 suara yang dihitung.

    Sementara pesaing Masoud Pezeshkian, Jalili tertinggal dengan 13.538.179 (13,54 juta) suara pada putaran kedua Pilpres Iran yang diikuti jumlah pemilih yang relatif lebih tinggi.

    Pemungutan suara dibuka pada Jumat (5/7/2024) pukul 08:00 pagi waktu setempat di seluruh negeri dan pemungutan suara diperpanjang tiga kali sebelum mencapai puncaknya pada tengah malam dengan lebih dari 30 juta orang memberikan suara.

    Jumlah pemilih pada pemilu putaran kedua tercatat lebih dari 50 persen dari total penduduk, jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah pemilih pada putaran pertama sebesar 40 persen dan jumlah pemilih pada pemilu presiden 2021 sebesar 48,8 persen.

    Baca Juga: Iran Gelar Pilpres Putaran Kedua di Tengah Rendahnya Partisipasi Masyarakat

    Menurut data resmi, sekitar 61 juta warga Iran berhak memilih dalam pemilu selain sekitar 10 juta warga Iran yang tinggal di luar negeri.

    Penghitungan suara dimulai segera setelah pemungutan suara ditutup pada tengah malam dan jumlah penghitungan suara tahap pertama diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri pada pukul 02.30.

    Pada awalnya, Pezeshkian unggul tipis dengan 1,26 juta suara berbanding 1,24 juta untuk Jalili. Namun, seiring berjalannya penghitungan, kesenjangan antara kedua kandidat semakin lebar.

    Penghitungan terakhir diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri sekitar pukul 06:45 dengan Pezeshkian memperoleh lebih dari 16,3 juta suara dibandingkan Jalili yang memperoleh 13,5 juta suara, jauh lebih unggul dibandingkan kandidat konservatif.

    Pada pemilu 28 Juni, Pezeshkian memperoleh 10,4 juta suara dari 24,5 juta suara yang dihitung dan Jalili menempati posisi kedua dengan 9,4 juta.

    Baca Juga: Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal Dalam Kecelakaan Helikopter, Indonesia Berduka

    Pezeshkian akan menggantikan Presiden Ebrahim Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 19 Mei bersama tujuh orang lainnya.

    Masoud Pezeshkian sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kesehatan di pemerintahan Mohammad Khatami (2001-2005) selain mewakili Tabriz di parlemen sejak 2008.

    Sebagai seorang ahli jantung, Pezeshkian juga mengepalai Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz yang merupakan salah satu institusi medis terkemuka di Iran utara.

    Dua pencalonannya yang gagal sebelumnya untuk kursi kepresidenan terjadi masing-masing pada tahun 2013 dan 2021.

    Sumber : Antaranews.com/Anadolu

  • Presiden Terpilih Iran Tegaskan Kembali Kebijakan Anti-Israel

    Presiden Terpilih Iran Tegaskan Kembali Kebijakan Anti-Israel

    7cloud.asia – Presiden terpilih Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan kembali bahwa Iran akan tetap bersikap anti-Israel di bawah kepemimpinannya.

    Dia menekankan bahwa gerakan perlawanan di seluruh wilayah tidak akan mengizinkan kebijakan “kriminal Israel” terhadap Palestina untuk terus berlanjut.

    “Republik Islam selalu mendukung perlawanan masyarakat di kawasan terhadap rezim Zionis tidak sah,” kata Pezeshkian dalam pesannya kepada Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, Senin (8/7/2024).

    Komentar tersebut mengisyaratkan tidak akan ada perubahan dalam kebijakan regional di bawah pemerintahan Pezeshkian yang relatif moderat.

    Baca: Tokoh reformis Iran terpilih gantikan Ebrahim Raisi

    Pezeshkian berhasil mengalahkan saingan garis kerasnya dalam pemilu putaran kedua pada Jumat pekan lalu.

    “Saya yakin bahwa gerakan perlawanan di wilayah [Timur Tengah]tidak akan membiarkan rezim ini melanjutkan kebijakan penghasutan dan kriminalnya terhadap rakyat tertindas di Palestina dan negara-negara lain di wilayah ini,” kata Pezeshkian yang dikutip oleh media Iran.

    Hizbullah Muslim Syiah dan Hamas Muslim Sunni Palestina adalah bagian dari kelompok faksi yang didukung Iran di wilayah yang dikenal sebagai Poros Perlawanan.

    Israel tidak segera memberi tanggapan terhadap pernyataan Pezeshkian ini.

    Baca: Pilpres Iran berlangsung dalam dua putaran

    Tak hanya dari Iran, agresi militer Israel ke Gaza menuai kecaman dari mayoritas negaravdi dunia. 

    Perang Israel melawan Hamas di Gaza dimulai setelah kelompok militan Islam yang menguasai daerah kantong Palestina tersebut menyerang Israel selatan pada 7 Oktober.

    Serangan tersebut menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang, menurut penghitungan Israel.

    Lebih dari 38.000 warga Palestina tewas dalam serangan militer Israel dan hampir 88.000 orang terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Sumber:VOA Amerika

  • Masoud Pezeshkian Sebut Tuduhan Anti-semitisme karena Iran Dukung Palestina sebagai Hal yang Absurd

    Masoud Pezeshkian Sebut Tuduhan Anti-semitisme karena Iran Dukung Palestina sebagai Hal yang Absurd

    7cloud.asia – Presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian dalam pesannya kepada pemuda Barat, menyebutkan tuduhan terhadap Republik Islam Iran tentang anti-Semitisme karena Tehran mendukung Palestina sebagai hal yang absurd.

    “Hari ini, tampaknya banyak anak muda di negara-negara Barat telah mengakui kebenaran dari sikap kami yang telah berlangsung selama beberapa dekade terhadap rezim Israel,” kata Masoud Pezeshkian.

    Dalam artikel berjudul ‘Pesan Saya untuk Dunia Baru’ yang diterbitkan di surat kabar Tehran Times pada Jumat (12/7/2024) itu Masoud Pezeshkian menyampaikan keinginannya untuk memberi tahu pemuda Barat terkait sikap Iran pada Palestina.

    Ia menyebut, tuduhan anti-Semitisme terhadap Iran karena prinsipnya dalam isu Palestina, tidak hanya sepenuhnya salah tetapi juga sebagai penghinaan terhadap budaya, keyakinan, dan nilai-nilai inti Iran.

    “Yakinlah bahwa tuduhan ini sama absurdnya dengan klaim anti-Semitisme yang tidak adil yang ditujukan kepada Anda saat Anda memprotes di kampus universitas untuk membela hak hidup warga Palestina, katanya”

    Baca Juga: Presiden Terpilih Iran Tegaskan Kembali Kebijakan Anti-Israel

    Sebelumnya, Masoud Pezeshkian sudah menegaskan bahwa Iran akan tetap bersikap anti-Israel di bawah kepemimpinannya.

    Dia menekankan bahwa gerakan perlawanan di seluruh wilayah tidak akan mengizinkan kebijakan “kriminal Israel” terhadap Palestina untuk terus berlanjut.

    “Republik Islam selalu mendukung perlawanan masyarakat di kawasan terhadap rezim Zionis tidak sah,” kata Pezeshkian dalam pesannya kepada Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, Senin (8/7/2024).

    Pada 6 Juli, juru bicara markas pemilihan Iran, Mohsen Eslami, mengatakan bahwa Pezeshkian, seorang reformis memenangkan putaran kedua pemilihan presiden Iran. Pezeshkian memperoleh 16.384.403 suara.

    Pesaingnya, mantan negosiator nuklir konservatif Saeed Jalili mendapatkan 13.538.179 suara. Secara keseluruhan, 30.573.931 surat suara dihitung.

    Baca Juga: Tokoh Reformis Masoud Pezeshkian Terpilih Jadi Presiden Iran

    Tingkat partisipasi pemilih mencapai 49,8 persen dari total jumlah pemilih yang sah.

    Pemilihan ini diadakan setelah Presiden Ebrahim Raisi meninggal dalam kecelakaan helikopter di pegunungan utara Iran pada Mei lalu.

    Pada 7 Oktober 2023, gerakan Palestina Hamas melancarkan serangan roket skala besar terhadap Israel dan menembus perbatasan, menyerang baik kawasan sipil maupun pangkalan militer.

    Hampir 1.200 orang di Israel tewas dan sekitar 240 lainnya diculik selama serangan tersebut.

    Israel melancarkan serangan balasan, memerintahkan blokade total terhadap Gaza, dan memulai serangan darat ke wilayah Palestina dengan tujuan yang dinyatakan untuk melenyapkan pejuang Hamas dan menyelamatkan para sandera.

    Jumlah korban tewas di Jalur Gaza telah mencapai 38.345 sejak Oktober lalu, sementara 88.200 lainnya terluka, menurut perkiraan kementerian kesehatan wilayah Palestina tersebut.

    Sumber: Sputnik-OANA

  • AS Sebut Tidak Terlibat Pembunuhan Ismail Haniyeh, Iran Bersumpah Membalas

    AS Sebut Tidak Terlibat Pembunuhan Ismail Haniyeh, Iran Bersumpah Membalas

    7cloud.asia – Amerika Serikat menyatakan tidak terlibat dalam pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam serangan di Teheran, Iran pada Rabu (31/7/2024).

    Ismail Haniyeh adalah pemimpin kedua kelompok militan yang didukung Iran yang dibunuh minggu ini, sehingga meningkatkan eskalasi di kawasan tersebut.

    Pembunuhan Ismail Haniyeh terjadi sehari setelah Israel melakukan serangan di Beirut, Lebanon, yang menewaskan Fu’ad Shukr, komandan Hizbullah, kelompok lain yang didukung Iran.

    Ismail Haniyeh terakhir terlihat dalam keadaan hidup ketika menghadiri pelantikan presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian pada tanggal 30 Juli.

    Di Singapura, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan kepada Channel News Asia, bahwa AS “tidak mengetahui atau terlibat” dalam pembunuhan Haniyeh.

    Baca: Ismail Haniyeh tewas dalam sebuah serangan di Teheran Iran

    “Yah, tentu saja, saya telah melihat laporannya, dan yang dapat saya katakan sekarang adalah, seperti yang saya katakan tadi, saya pikir tidak ada yang mengurangi pentingnya mencapai gencatan senjata.” ujarnya.

    Belum ada yang langsung mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, tetapi para pemimpin Hamas telah menjadi sasaran Israel, sejak serangan kelompok tersebut terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober, yang memicu perang di Gaza.

    Pada bulan April, serangan udara Israel juga menewaskan tiga putra Haniyeh.

    Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei yang bertemu dengan Haniyeh sehari sebelum ia dibunuh, telah bersumpah untuk membalas pembunuhan ini.

    Dalam sebuah pernyataan ia mengatakan, “Kami menganggap sudah menjadi kewajiban kami untuk melakukan pembalasan untuk darah tamu kami yang terkasih.”

    Baca: Palestina berduka atas kematian Ismail Haniyeh

    Duta Besar Iran untuk Lebanon Mojtaba Amani, juga menyalahkan Amerika Serikat. “Kita tahu bahwa Amerika biasanya membimbing dan mendukung Zionis dalam tindakan kriminal semacam itu,” sebutnya.

    Dengan meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi regional, negara-negara Barat mendesak pihak-pihak terkait untuk menahan diri.

    Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan perang bukanlah hal yang tak terelakkan.

    Dia mengatakan, selalu ada ruang dan peluang untuk diplomasi, dan dia ingin melihat pihak-pihak terkait mencari peluang tersebut.

    Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa lakukan untuk memastikan bahwa kami mencegah hal-hal berubah menjadi konflik yang lebih luas di seluruh kawasan itu,” jelasnya.

    Baca: Hamas dan Fatah sepakat berdamai

    Israel melanjutkan kampanye militernya di Gaza, sementara gencatan senjata untuk mencapai perjanjian mengenai pembebasan sandera masih sulit dicapai.

    MQatar dan Mesir, mediator utama dalam pembicaraan tersebut mengatakan pembunuhan Ismail Haniyeh membahayakan upaya gencatan senjata.

    Tetapi Blinken menolak untuk berspekulasi. “Kami sama sekali tidak tahu. Yang saya tahu adalah keharusan terus menerus untuk mencapai gencatan senjata. Dan, yang saya tahu adalah kami akan terus mengupayakannya setiap hari,” sebutnya.

    Invasi Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 39.000 orang di Gaza, menurut otoritas kesehatan Palestina, yang tidak membedakan korban dari pihak kombatan dan warga sipil.

    Operasi itu merupakan balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel, di mana para militan membunuh 1.200 orang dan menyandera lebih dari 200 lainnya.

    Sumber: VOA Indonesia