Tag: Israel

  • Advokasi Buah Semangka bagi Perjuangan Rakyat Palestina

    Advokasi Buah Semangka bagi Perjuangan Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Media sosial memainkan peran penting dalam situasi perang, termasuk dalam Perang Palestina baik sebagai alat propaganda maupun sebagai alat advokasi pembebasan pihak yang ditindas.

    Di Indonesia, media sosial belakangan ini dipenuhi advokasi-advokasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan krisis kemanusiaan di Palestina dan mengutuk agresi pemerintah Israel.

    Pascaserangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang kemudian dibalas Israel dengan apa yang komunitas internasional banyak sebut sebagai “genosida terhadap warga sipil Palestina”, terjadi peningkatan aktivitas media sosial yang signifikan secara global terkait konflik di Gaza.

    Tagar #freepalestine telah digunakan lebih dari 5,2 juta kali di Instagram, sementara tagar #gazaunderattack telah diunggah sebanyak hampir 1,7 juta kali.

    Kini bentuk lain kampanye pro-Palestina di media sosial adalah dengan membagikan berbagai ilustrasi buah semangka, mulai dari foto, karya seni, hingga emoji.

    Baca: Akar konflik perang Israel-Palestina

    Mengapa buah semangka dan apa maknanya dalam perjuangan kemerdekaan Palestina?

    Warna buah semangka, yang terdiri dari merah (daging buah), hitam (biji), serta putih dan hijau (kulit), disebut merepresentasikan warna bendera dan identitas nasional Palestina.

    Membagikan foto atau ilustrasi buah semangka dan disertai tagar #freepalestine atau #asliceofhope mencerminkan dukungan terhadap Palestina.

    Buah semangka sebenarnya telah lama menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel.

    Kampanye semangka (watermelon resistance) muncul pertama kali setelah Perang Enam Hari pada 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat, Jalur Gaza, dan merebut Yerusalem Timur.

    Baca: Majelis Umum PBB setujui resolusi gencatan senjata di Gaza

    Saat itu, pemerintah Israel menyatakan pengibaran bendera Palestina di tempat umum sebagai tindakan kriminal.

    Untuk mengelak dari larangan menggunakan bendera, orang Palestina dan pendukungnya mulai mengadopsi semangat semangka dan membawa bendera bergambar semangka pada setiap aksinya.

    Jika dikaji lagi sejarahnya, semangat perlawanan melalui semangka juga terkait erat dengan aspek kedaulatan makanan.

    Pada masa Intifada pertama (1987-1993), pemerintah Israel melarang petani Palestina menanam beberapa jenis bibit tanaman pangan, termasuk varietas asli Palestina dari buah semangka.

    Sebagai gantinya, pemerintah Israel menanam bibit varietas hibrida dan hampir menyebabkan kepunahan varietas semangka lokal Palestina yang dikenal bernama Jadu’i.

    Baca: Baik Palestina dan Israel kesulitan kuburkan korban perang

    Jadi secara singkat, buah semangka juga merepresentasikan semangat rakyat Palestina dalam mempertahankan hak atas tanah mereka.

    Tahun 2021 lalu, pemerintah Israel mengancam akan mengusir penduduk Palestina di Syeikh Jarrah karena ingin membangun fasilitas umum bagi kaum Yahudi Israel.

    Kampanye semangka kemudian langsung merebak, baik di media sosial maupun selama aksi protes massa di jalanan.

    Hari ini, kampanye semangka kembali digunakan, lebih sebagai cara pengguna media sosial menghindari sensor dan pembatasan konten.

    Pemerintah Israel memang telah lama menjalankan upaya sistemik secara global untuk membungkam dan menghilangkan jejak digital Palestina.

    Di bawah propaganda Israel, platform digital menerapkan lebih dari 4.800 tindakan pembatasan terhadap konten mengenai Palestina, termasuk penutupan akun dan shadowbanning (pembatasan distribusi konten) tanpa pemberitahuan dan persetujuan pemilik akun.

    Baca: Bantuan untuk Palestina dinilai masih kurang

    Meta, misalnya, mengakui bahwa mereka telah menghapus 795.000 konten dalam tiga hari pertama perang di Gaza.

    Baru-baru ini, pengelola akun Instagram @eye.on.palestine harus bernegosiasi dengan Meta agar akunnya yang sempat ditutup secara sepihak dapat diaktifkan kembali.

    Untuk mengelabui algoritme yang dipakai oleh platform media sosial, pengguna harus menggunakan Algospeak saat membicarakan Palestina dan Israel.

    Algospeak adalah cara menciptakan kata-kata baru atau menggunakan kode untuk mengganti kata asli dalam sebuah percakapan atau postingan media sosial, agar tidak dikenali oleh algoritme.

    Contohnya, kata P4le5+ina, i5r4el, dan G4z@ adalah Algospeak untuk Palestina, Israel, dan Gaza.

    Praktik pembatasan secara diam-diam oleh platform media sosial ini telah menjadi ancaman bagi ekspresi pembelaan terhadap Palestina.

    Baca: OKI diminta segera bertindak untuk bantu Palestina

    Banyak pengguna jadi enggan mengambil risiko dan memilih berhati-hati dalam menunjukkan dukungan.

    Namun, harapan untuk selamat dari pembatasan sepihak platform media sosial muncul ketika kampanye semangka bergaung kembali di Instagram akhir-akhir ini.

    Buah semangka–setidaknya hingga saat ini–tidak termasuk dalam daftar kriteria sensor Instagram. Jadi, akun pengunggah gambar semangka dapat terbebas dari risiko pembatasan.

    Semangat perlawanan Palestina dalam ilustrasi buah semangka pun lebih mudah diterima karena pesannya yang cenderung damai, ramah, dan universal.

    Kampanye semangka menguatkan argumen bahwa konflik di Palestina semestinya dilihat melampaui isu agama dan identitas bangsa.

    Kampanye ini juga berhasil menarik perhatian lebih banyak pengguna. Jika detik ini kamu mengetik tagar #freepalestine di laman pencarian Instagram, puluhan hingga ratusan konten teratas di hasil pencarianmu mungkin menunjukkan gambar sepotong semangka.

    Baca: Belasan jurnalis turut menjadi korban perang Palestina dan Israel

    Akan tetapi, sebagaimana aktivisme lainnya yang menggunakan media sosial sebagai kendaraan, kampanye semangka memiliki risiko berakhir menjadi slacktivism, alias usaha minimal untuk terlibat dalam sebuah aktivisme online.

    Tanpa langkah strategis lainnya, kampanye semangka berpotensi menjadi gerakan advokasi temporer yang hanya akan trending sesaat.

    Agar gaung kampanye ini berumur panjang, upaya membanjiri platform media sosial dengan gambar buah semangka perlu diimbangi dengan membagikan informasi edukatif dan akurat mengenai Palestina.

    Sejauh ini, konten audio-visual terkait Palestina di media sosial telah membantu membentuk narasi global tentang situasi di negara itu.

    Di TikTok, terdapat gelombang dukungan yang besar untuk Palestina. Axios.com, platform berita digital untuk audiens globalmencatat, pada periode 16-23 Oktober 2023, jumlah view konten TikTok yang mendukung Palestina dan Israel relatif seimbang.

    Tagar #standwithpalestine tercantum dalam 123.000 postingan dan ditonton sebanyak 11 juta kali. Sementara itu, tagar #standwithisrael digunakan dalam 8.000 konten, dengan jumlah view sebanyak 12 juta.

    Baca: Konten soal Palestina dibatasi

    Namun, seminggu setelahnya (23-30 Oktober 2023), jumlah view konten yang menggunakan tagar #standwithpalestine adalah sebanyak 285 juta, hampir empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan postingan bertagar #standwithisrael.

    Perubahan arah dukungan ini dapat terjadi salah satunya karena dokumentasi audio-visual yang dibagikan oleh orang-orang yang tinggal di Palestina. Konten Instagram yang diunggah dua WNI di Gaza, @abumuslim_gaza dan @bangonim, misalnya, memberikan informasi otentik tentang kehidupan masyarakat Palestina.

    Melalui postingan mereka, pengguna Instagram dapat langsung melihat dampak buruk dari tindakan Israel, tanpa dikaburkan oleh pemberitaan media–terutama media Barat–yang bisa sangat bias.

    Pendukung kampanye semangka dapat mengiringi konten-konten seperti ini dengan menyebarkan narasi tandingan atas konten pro-Israel atau menyanggah misinformasi tentang Palestina.

    Dengan demikian, semangat perlawanan dalam sepotong semangka dapat mendorong keterlibatan dan dukungan global yang lebih bermakna terhadap kondisi di Palestina.

    Artikel ini ditulis Pratiwi Utami, PhD in Film, Media, Communications, and Journalism, Monash University dan telah terbit di The Conversation

     

  • Israel Buka Kemungkinan Jeda Taktis Agar Bantuan Bisa Masuk Jalur Gaza

    Israel Buka Kemungkinan Jeda Taktis Agar Bantuan Bisa Masuk Jalur Gaza

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan mempertimbangkan jeda jangka pendek dalam operasi militernya agar bantuan kemanusiaan dapat mencapai Jalur Gaza.

    Jeda ini juga dipertimbangkan Israel agar para sandera yang ditawan militan Hamas dapat dibebaskan. Namun, Netanyahu mengesampingkan gencatan senjata umum dalam perang satu bulan antara Israel melawan Hamas.

    Berbicara kepada ABC News, Netanyahu mengatakan ia membayangkan Israel akan “memiliki tanggung jawab keamanan secara menyeluruh” di Gaza untuk periode yang tidak ditentukan setelah mencapai targetnya menyingkirkan Hamas.

    “Kalau kita tidak memiliki tanggung jawab keamanan, apa yang kita alami adalah meletusnya teror Hamas dalam skala yang tidak dapat kita bayangkan,” kata Netanyahu.

    Gedung Putih pada Senin (6/11/2023 ) mengatakan bahwa Presiden AS, Joe Biden dan Netanyahu membahas kemungkinan jeda taktis untuk memungkinkan warga sipil meninggalkan Gaza secara aman dari daerah-daerah pertempuran.

    Baca: Gaza telah menjadi ‘kuburan’ bagi anak-anak

    Jeda ini untuk memastikan bantuan menjangkau warga sipil yang memerlukan, dan mengenai bagaimana para sandera mungkin dapat dibebaskan.

    Biden menegaskan lagi dukungannya untuk Israel dalam perangnya melawan Hamas sambil menekankan pentingnya melindungi warga sipil dan mengurangi kerugian sipil selama operasi militer.

    Ia juga membahas situasi di Tepi Barat dan perlunya menuntut pertanggungjawaban para pemukim ekstremis atas tindakan kekerasan.

    Kantor kemanusiaan PBB mengatakan 93 truk yang mengangkut bahan makanan, obat-obatan, pasokan medis dan air telah menyeberang dari Mesir ke Gaza pada Senin (6/11/2023).

    Dikatakan sejak pengiriman dimulai pada 21 Oktober, total ada 593 truk yang memasuki Gaza, dibandingkan dengan rata-rata 500 truk per hari yang memasuki daerah itu sebelum perang dimulai.

    Baca: Israel tegaskan tidak akan ada gencatan senjata dengan Hamas

    Konflik Israel-Hamas masuk agenda pembahasan pertemuan para menteri luar negeri dari kelompok tujuh negara industri maju G7 di Jepang.

    Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan ia akan memberi pengarahan kepada para sejawatnya mengenai kunjungan empat hari ke Timur Tengah yang mencakup persinggahan di Israel, Tepi Barat, Yordania, Siprus, Irak dan Turki.

    Berbicara kepada Menteri Luar Negeri Jepang Yoko Kamikawa, Blinken mengatakan hari Selasa bahwa

    “ini merupakan momen sangat penting bagi G7 untuk bersatu dalam menghadapi krisis ini dan berbicara seperti yang kami lakukan dengan satu suara yang jelas.”

    Pada pengarahan virtual pada Senin (6/11/2023), juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih menyatakan harapan jeda kemanusiaan akan diberlakukan sesegera mungkin di Gaza.

    Baca: Advokasi buah semangka bagi perjuangan rakyat Palestina

    Ia mengatakan AS akan melanjutkan dialognya dengan Israel selama diperlukan dan mengatakan ada sejumlah indikasi bahwa upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalkan kerusakan lebih besar di Gaza.

    Namun ia memperingatkan, “Saya tidak ingin membesar-besarkan hal itu.”

    Kirby mengatakan ribuan orang tak bersalah telah tewas, seraya menambahkan bahwa “kematian setiap orang adalah tragedi” dan “kami tidak ingin melihat ada nyawa tak berdosa yang terenggut.”

    Ia mengatakan AS melakukan semua cara untuk mendesak para pemimpin Israel agar sedapat mungkin berhati-hati dalam operasi militernya.

    Namun, ia mengingatkan bahwa Israel juga menghadapi musuh yang bersembunyi di belakang warga sipil.

    Baca: Akar konflik Israel dan Palestina

    Kementerian Kesehatan di Gaza yang dijalankan oleh Hamas mengatakan bahwa korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui 10 ribu orang.

    Israel telah membantah sengaja menargetkan orang-orang Palestina tak bersalah di Gaza, seraya mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, menggali terowongan di bawah rumah sakit-rumah sakit dan mengangkut para anggota Hamas di dalam ambulans.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Israel Akan Terapkan Jeda Operasi Militer 4 Jam Sehari di Gaza

    Israel Akan Terapkan Jeda Operasi Militer 4 Jam Sehari di Gaza

    7cloud.asia – Pemerintah AS menyatakan, Israel akan mulai menerapkan jeda operasi militer mereka terhadap Hamas selama empat jam di area Gaza utara setiap hari, mulai Kamis (9/11/2023).

    Pengumuman penerapan jeda operasi militer ini diungkapkan oleh Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby, Kamis waktu setempat.

    Jeda operasi militer ini disampaikan ketika pasukan Israel bertempur melawan militan Hamas di Kota Gaza, saat makin banyak warga sipil Palestina melarikan diri dari kota itu.

    Jeda operasi militer itu akan memberi warga Palestina waktu untuk melarikan diri dari Gaza dengan menggunakan dua jalur kemanusiaan dan merupakan terobosan penting untuk mengurangi korban perang, kata Kirby.

    “Kami telah diberitahu oleh Israel bahwa tidak akan ada operasi militer di area-area di Gaza ini selama durasi jeda, dan bahwa proses ini dimulai hari ini,” kata Kirby seperti dilansir VOA Indonesia.

    Baca: Israel isyaratkan jeda di Gaza untuk pembebasan sandera

    Ia menambahkan, gagasan mengenai jeda itu disampaikan dalam diskusi antara Presiden AS Joe Biden dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

    Selain pertempuran darat di kota terbesar Jalur Gaza itu, pasukan Israel juga terus melancarkan serangan ke daerah itu melalui udara.

    Pertempuran itu telah memicu pengungsian besar-besaran, di mana Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan pada hari Rabu saja (8/11/2023) sebanyak 50.000 orang melarikan diri ke sisi selatan Jalur Gaza.

    Angka itu merupakan jumlah pengungsi tertinggi pekan ini. PBB mengatakan, secara keseluruhan ada 72.000 orang yang telah mengevakuasi diri dari Gaza utara sejak hari Minggu (5/11/2023).

    Israel mulai membuka sebuah koridor evakuasi di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Gaza utara dan selatan pada hari Minggu.

    Jalur itu tetap dibuka selama empat jam setiap hari agar warga sipil dapat meninggalkan pusat pertempuran.

    Baca: Gaza disebut telah menjadi kuburan bagi anak-anak

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan pada hari Rabu bahwa pihaknya menambah waktu dibukanya koridor tersebut selama satu jam, karena saking banyaknya orang yang memanfaatkan jalur tersebut.

    PBB dan kelompok bantuan lainnya membagikan air minum dan biskuit berenergi tinggi di sisi selatan garis yang memisahkan Gaza utara dan selatan.

    Kondisi di sisi utara Gaza menjadi semakin mengerikan, di mana selama seminggu terakhir ini tidak ada bantuan kemanusiaan yang tiba di sana.

    PBB mengatakan, per hari Selasa (7/11), tidak ada toko roti yang buka karena ketiadaan bahan bakar, air, tepung gandum serta kerusakan di banyak toko.

    Israel meluncurkan serangan balasan terhadap serangan Hamas 7 Oktober lalu di Israel selatan, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang, sebagian besarnya warga sipil.

    Baca: Netanyahu tegaskan tak akan ada gencatan senjata dengan Hamas

    Hamas juga menculik sekitar 240 orang. AS, Inggris, Uni Eropa dan negara-negara lainnya di Barat telah mengelompokkan Hamas sebagai organisasi teroris.

    Kementerian Kesehatan di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan serangan Israel telah menewaskan lebih dari 10.500 orang, dua pertiganya perempuan dan anak-anak.

    Informasi tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen, meskipun PBB menyatakan bahwa di masa lalu, angka dari kementerian tersebut bisa diandalkan.

    PBB telah memperingatkan membludaknya tempat-tempat penampungan di Gaza selatan sehingga “tidak dapat mengakomodasi pengungsi yang baru tiba.”

    Sekitar dua pertiga penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta orang kini mengungsi, menurut PBB.

    Di salah satu tempat pengungsian di Khan Younis, yang menampung 22.000 pengungsi Palestina, PBB mengatakan sedikitnya 600 orang berbagi satu toilet.

    Baca: Majelis Umum PBB setujui resolusi gencatan senjata di Gaza

    Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada hari Rabu (8/11/2023) bahwa risiko penyebaran penyakit menular di Gaza semakin meningkat, seiring membusuknya mayat-mayat yang ada di bawah reruntuhan bangunan; sementara sistem kesehatan, air dan sanitasi sangat terganggu.

    Kasus diare di kalangan anak-anak melonjak. Kasus kudis, kutu, infeksi kulit dan saluran pernapasan atas juga meningkat.

    WHO dan badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka memfasilitasi pengiriman pasokan medis darurat ke RS Al-Shifa di Kota Gaza, meski terdapat “risiko besar terhadap staf kami dan mitra kesehatan” karena terus terjadinya pemboman.

    Pengiriman pasokan medis itu adalah yang kedua kalinya dikirimkan ke rumah sakit tersebut sejak perang pecah.

    Badan-badan PBB tersebut menyatakan bahwa hal itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang sangat besar.

    Israel sendiri menuduh Hamas menyembunyikan pusat komandonya di bawah RS Al-Shifa.

    Baca: Korban terus berjatuhan, korban perang di Gaza sulit dimakamkan

    PBB mengatakan pintu perbatasan Rafah dengan Mesir tidak dibuka hari Rabu, sehari setelah 600 warga asing dan dwikewarganegaraan meninggalkan Gaza.

    Komisioner HAM PBB Volker Turk berada di perbatasan Rafah hari Rabu, tempat yang disebutnya “gerbang menuju mimpi buruk di dunia nyata.”

    “Hukuman kolektif Israel terhadap warga sipil Palestina tergolong kejahatan perang, demikian juga evakuasi paksa warga sipil secara tidak sah,” ungkapnya. “Pemboman besar-besaran oleh Israel telah menewaskan, melumpuhkan dan melukai, khususnya, perempuan dan anak-anak.”

    Ia juga mengutuk tindakan Hamas pada 7 Oktober dan menyebut serangan teror dan penyanderaan yang dilakukan sebagai kejahatan perang.

    “Kita sudah jatuh ke dalam jurang. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya, sambil kembali menyerukan gencatan senjata kemanusiaan.

    Sumber: VOA INdonesia

  • Rumah Sakit Digempur Israel dan Pasokan Listrik Terputus, Tiga Bayi Prematur Meninggal

    Rumah Sakit Digempur Israel dan Pasokan Listrik Terputus, Tiga Bayi Prematur Meninggal

    7cloud.asia – Rumah Sakit Al Shifa dan rumah sakit lain di Gaza utara digempur habis-habisan oleh militer Israel.

    Akibatnya tiga bayi yang lahir prematur meninggal dunia kerena tiada pasokan listrik di rumah sakit di Gaza itu  pada Minggu (12/11/2023).

    Petugas medis di Rumah Sakit Al Shifa mengatakan Setiap hari, jumlah korban tewas dan terluka akibat serangan Israel kian bertambah, tetapi tempat untuk merawat mereka semakin sedikit.

    Bahkan banyak rumah sakit yang hampir tidak mampu merawat pasien. Di RS Al Shifa, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf Al-Qidra, mengatakan serangan Israel “meneror petugas medis dan warga sipil”.

    baca: israel akan terapkan jeda operasi militer 4 jam sehari di gaza

    Selain itu, Al-Qidra mengatakan dari 45 bayi yang dirawat, tiga di antaranya sudah meninggal dunia dan mereka tidak diberi tahu oleh militer Israel bagaimana membawa bayi-bayi itu ke tempat yang aman.

    Sementara itu juru bicara militer Israel, Laksamana Madya Daniel Hagari, mengatakan militer Israel akan membantu evakuasi bayi dari rumah sakit tersebut atas permintaan staf di sana.

    Namun, Seorang ahli bedah plastik di Al Shifa mengatakan akibat pengeboman terhadap ruang inkubator, bayi-bayi prematur terpaksa dirawat di ranjang biasa dengan sedikit daya yang tersedia untuk mengubah AC menjadi pemanas.

    “Kami tahu ini sangat berisiko. Kami menduga akan kehilangan bayi lebih banyak lagi setiap hari,” kata dr Ahmed El Mokhallalati seperti yang dilansir Reuters.

    baca: israel gencatan senjata dengan hamas tidak akan terjadi

    Hantaman roket Israel mengakibatkan bayi laki-laki bernama Mosab Subeih dilarikan ke RS Indonesia di Beit Lahiya, Gaza utara setelah rumah keluarganya hancur.

    “Dia terluka langsung di kepala dan mengalami pendarahan, dan kami tidak punya operasi,” kata petugas medis yang merawatnya dengan resusitator manual karena listrik padam.

    Minimnya obat-obatan, makanan dan air membuat staf medis di RS terbesar kedua di Gaza utara, Al-Quds, kesulitan merawat pasien.

    “Rumah sakit Al Quds terisolasi dari dunia dalam 6-7 hari terakhir. Tak ada jalan masuk, tak ada jalan keluar,” kata Tommaso Della Longa, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

    baca: korban tewas akibat perang israel dan hamas palestina dekati 4000 orang

    Salah seorang dokter pada RS Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, Mohammad Qandil, mengatakan RS Shifa juga tak dapat diakses oleh mereka yang baru saja terluka.

    “RS Shifa sekarang tidak berfungsi, tak ada yang diizinkan masuk, tak ada yang boleh keluar,”

    Kondisi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kehilangan kontak dengan RS itu dan mengkhawatirkan orang-orang yang terjebak di sana.

    Israel mengatakan RS-RS di Gaza utara harus dikosongkan sehingga militer bisa menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai pusat komando Hamas di bawah gedungnya dan di daerah sekitarnya. Hamas membantah dalih Israel itu.

    Pihak Israel  mengatakan orang-orang bisa dievakuasi dengan aman dari tiga RS di Gaza utara, termasuk Al Shifa.

    Direktur RS itu, Mohammad Abu Selmeyah, mengatakan kepada stasiun TV Al Arabiya bahwa tidak ada jalur keluar yang aman.

    Reporter: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Israel Bersikeras Akan Kelola Gaza Pasca Perang, Palestina Menolak

    Israel Bersikeras Akan Kelola Gaza Pasca Perang, Palestina Menolak

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan militer Israel akan mengelola Jalur Gaza setelah perang berakhir nanti.

    Isarel akan menyiapkan kamp pengungsi bagi warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza karena perang Israel-Hamas.

    Gagasan Israel soal pengelolaan Gaza pasca perang ini ditolak mentah-mentah oleh Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh.

    “Pembicaraan tentang apa yang akan terjadi setelah perang berakhir baru akan dilakukan setelah Hamas dapat dihancurkan. Gaza akan didemiliterisasi sehingga tidak akan ada lagi ancaman dari Jalur Gaza terhadap Israel. Untuk memastikan hal itu, maka selama diperlukan Pasukan Pertahanan Israel akan tetap mengontrol keamanan di Jalur Gaza.”

    Demikian petikan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato yang disiarkan secara nasional dari Tel Aviv, Sabtu (11/11/2023).

    Baca: Israel terapkan jeda kemanusiaan 4 jam sehari di Gaza

    Netanyahu kembali menegaskan hal ini saat diwawancarai CNN di program “State of the Union” hari Minggu (12/11/2023).

    Ia jelas menolak proposal Amerika agar pengelolaan Gaza pasca perang nanti dikembalikan kepada rakyat Palestina, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken dalam konferensi pers di Tokyo pada 8 November lalu.

    “Jelas bahwa Israel tidak dapat menduduki Gaza. Kenyataannya, mungkin perlu ada masa transisi di akhir konflik, tetapi sangat penting bagi rakyat Palestina untuk memimpin pusat pemerintahan di Gaza dan Tepi Barat, dan sekali lagi, kami tidak melihat adanya pendudukan kembali (oleh Israel.red).” ujarnya saat itu

    Dan apa yang saya dengar dari para pemimpin Israel, lanjutnya, adalah bahwa mereka tidak berniat untuk menduduki kembali Gaza dan mengambil alih kendali atas Gaza.

    “Jadi pertanyaannya adalah, apakah ada periode transisi yang mungkin diperlukan, dan mekanisme apa yang dapat dilakukan untuk memastikan adanya keamanan? Yang pasti kami (Amerika.red) sangat tegas, tidak akan ada pendudukan kembali (oleh Israel.red). Hal ini sama tegasnya seperti sikap kami bahwa tidak akan ada pemindahan penduduk Palestina,” tandas Blinken.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan, PBB serukan gencatan senjata

    Lebih jauh Blinken ketika itu juga menegaskan bahwa ini harus mencakup pemerintahan yang dipimpin oleh Palestina, dan bahwa Gaza bersatu dengan Tepi Barat di bawah kepemimpinan Otoritas Palestina.

    Hampir 40 hari sejak berkecamuknya perang Israel-Hamas, lebih dari 11.000 warga Palestina di Gaza tewas.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan dua per tiga dari jumlah itu adalah perempuan dan anak-anak.

    Sementara di pihak Israel, sedikitnya 1.200 orang tewas ketika Hamas melancarkan serangan awal 7 Oktober lalu.

    Masih terus berlanjutnya serangan Israel ke Gaza, yang kini bahkan mulai memasuki wilayah pemukiman padat penduduk, memaksa ribuan warga di bagian utara kota itu melarikan diri ke bagian selatan untuk menyelamatkan diri. Sejumlah tenda pengungsian pun bermunculan di antara jalur itu.

    Deretan tenda berwarna putih itu paling banyak terdapat di kota Khan Younis, di mana setiap pagi warga antri untuk mendapatkan makanan ala kadarnya, seperti roti dan satu kaleng biji-bijian atau ikan tuna.

    Baca: Setiap 10 menit satu anak meninggal di Gaza

    PM Palestina Tolak Pendirian Kamp Pengungsi Baru, Serukan Pemulangan Warga

    Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh, dalam rapat kabinet hari Senin (13/11/2023) di Tepi Barat, menolak pendirian kamp pengungsi bagi warga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

    Ia menyerukan pemulangan mereka yang terpaksa mengungsi ke rumah mereka.

    “Kami menolak pendirian kamp-kamp sementara bagi para pengungsi, seperti yang diminta oleh tentara Israel pada organisasi-organisasi internasional.

    “Kami ingin rakyat kami kembali ke rumah mereka, di mana mereka dipindahkan secara paksa. Dalam sejarah Palestina, tidak ada yang namanya ‘sementara’, karena pengalaman telah mengajarkan kita bahwa yang sementara itu bersifat permanen,” tegasnya.

    Mimpi Buruk “Nakba”. Keberadaan warga Palestina yang dengan tergesa-gesa mendirikan tenda-tenda PBB di Khan Younis itu, membuka kenangan menyakitkan tentang eksodus massal, yang oleh warga Palestina disebut sebagai Nakba, atau “malapetaka”.

    Pada bulan-bulan sebelum dan selama perang 1948, sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau diusir dari wilayah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

    Banyak dari mereka yang berharap untuk kembali ke rumah mereka ketika perang berakhir, tetapi semua harapan itu sirna.

    Baca: Majelis Umum PBB sepakati resolusi gencatan senjata di Gaza

    Tujuh puluh lima tahun kemudian, tenda-tenda sementara di Tepi Barat, Gaza, dan negara-negara Arab yang berdekatan telah menjadi rumah-rumah batako yang permanen.

    Pakar studi Arab di Universitas Columbia, Rashid Khalidi, kepada Associated Press mengatakan “langsung teringat tahun 1948 ketika warga Palestina di Gaza diperintahkan untuk mengungsi, langsung teringat akan hal itu ketika Anda melihat gambar-gambar (tenda) itu. Para penulis Palestina telah mengukir hal ini ke dalam kesadaran orang Arab.”

    UNRWA: Pendirian Kamp Pengungsi Tidak Bersifat Permanen

    Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina UNRWA mengatakan kamp-kamp pengungsi itu tidak bersifat permanen.

    UNRWA menambahkan, mereka mendistribusikan tenda dan selimut kepada puluhan keluarga pengungsi di Khan Younis itu karena mereka tidak dapat ditampung di fasilitas PBB lainnya.

    “Hal ini untuk melindungi mereka dari hujan dan memberikan martabat dan privasi,” demikian petikan pernyataan UNRWA.

    Sumber: VOA Indonesia

  • PBB: Israel Hanya Izinkan Separuh Bantuan Masuk ke Gaza, Palestina

    PBB: Israel Hanya Izinkan Separuh Bantuan Masuk ke Gaza, Palestina

    7cloud.asia – Direktur Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza, Thomas White mengatakan, Israel tak sepenuhnya membuka pintu agar semua bantuan masuk ke Gaza, Palestina.

    Dalam pernyataan yang dilansir Sabtu (18/11/2023) White mengumumkan bahwa Israel hanya mengizinkan masuknya setengah bahan bakar yang dibutuhkan dari bantuan kemanusiaan harian ke Gaza.

    “Bahan bakar dalam jumlah yang terbatas telah masuk ke Gaza, Palestina” kata White dalam sebuah pernyataannya di akun media sosial X.

    “Ketika otoritas Israel membatasi bahan bakar yang masuk ke Gaza, Palestina – ini berarti mengurangi kapasitas di Perbatasan Rafah untuk menerima truk bantuan,” ujarnya.

    Baca: Israel kekeuh untuk kelola Gaza pasca perang, Palestina menolak

    White menyatakan bahwa “otoritas Israel hanya mengizinkan 50 persen dari kebutuhan bahan bakar harian untuk bantuan kemanusiaan yang dapat menyelamatkan orang-orang.”

    Ada “kesenjangan besar dalam respons bantuan ini – misalnya orang-orang hanya akan mendapatkan dua pertiga dari kebutuhan harian mereka terhadap air minum yang bersih,” tandas White

    Saat ini 1,5 juta orang di Jalur Gaza terpaksa mengungsi akibat serangan intensif Israel, lebih dari 800 ribu warga Palestina mencari perlindungan di fasilitas-fasilitas UNRWA.

    Sejak Israel mulai melakukan pengeboman pada 7 Oktober, lebih dari 12 ribu warga Palestina telah tewas. sementara lebih dari 30 ribu orang lainnya luka-luka,

    Baca: Israel terapkan jeda kemanusiaan 4 jam sehari di Gaza

    Sebagian besar korban meninggal adalah anak-anak, yakni lebih dari 8.300 perempuan dan anak-anak,  menurut data terbaru.

    Ribuan bangunan, termasuk rumah sakit, masjid dan gereja, telah rusak atau hancur akibat serangan udara dan darat tanpa henti yang dilakukan Israel di Gaza yang terkepung itu.

    Blokade Israel juga telah memutus pasokan bahan bakar, listrik dan air ke Gaza, dan mengurangi pengiriman bantuan hingga hanya sedikit yang tersalurkan.

    Sementara itu, jumlah korban tewas di Israel adalah sekitar 1.200 orang, menurut data resmi.

    Sumber: Antaranews/Anadolu

     

  • Presiden Turki Sebut Banyak Bukti untuk Seret Israel ke Mahkamah Internasional

    Presiden Turki Sebut Banyak Bukti untuk Seret Israel ke Mahkamah Internasional

    7cloud.asia – Tindakan brutal yang dilakukan Israel terhadap Palestina mengundang kecaman berbagai tokoh. Salah satunya Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang akan membawa Israel ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

    “Ada banyak bukti untuk mengadili pemerintah Israel di Mahkamah Pidana Internasional. Kita akan melakukan segala daya upaya kita untuk memastikan kejahatan ini dihukum secara setimpal,” jelas Erdogan setelah kembali dari kunjungan sehari ke Jerman.

    Melansir Antaranews, Erdogan menyoroti PM Benjamin Netanyahu karena dianggap gagal mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober. “Netanyahu akan hancur, kita akan menyingkirkannya,” katanya

    baca:israel gencatan senjata dengan hamas tidak akan terjadi

    “Mudah-mudahan, Israel akan menyingkirkannya, dan semua Yahudi di dunia menyingkirkan dia. Saat ini, 60-70 persen warga negaranya menentang Netanyahu,” kata Erdogan lagi.

    Erdogan menegaskan pemerintah dan rakyat Turki mendukung rakyat tertindas di Gaza dan akan terus melakukan hal yang sama. 

    “Israel berusaha menghalangi bantuan dan membuat warga Gaza kelaparan dan kekurangan makanan dan air. Tapi, kami tidak menyerah,” ujar Erdogan.

    “Apa pun hambatannya, kami akan terus menghidupkan Gaza. Seluruh dunia, terutama negara-negara Islam, harus bergerak memberikan bantuan,” lanjutnya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, Israel terus melancarkan serangan udara dan daratnya di Gaza sejak Hamas melancarkan serangan  mengejutkan pada 7 Oktober lalu. 

    baca: setidaknya 15 jurnalis tewas saat meliput perang israel hamas

    Akibat serangan Israel tersebut, sedikitnya 12 ribu warga Palestina tewas. Sementara itu, jumlah korban tewas pihak Israel mencapai 1.200 orang.

    Selain itu, serangan Israel juga menghancurkan ribuan bangunan, termasuk rumah sakit, masjid dan gereja, juga rusak atau hancur.

    Israel menentang seruan internasional untuk gencatan senjata kecuali semua sandera yang ditangkap Hamas dibebaskan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    7cloud.asia – Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE), Josep Borrell, menegaskan bahwa pembentukan negara Palestina merupakan cara terbaik untuk menjamin keamanan Israel.

    Pengakuan negara Palestina dari Israel itu dikatakan Borrell Senin (20/11/2023) usai menggelar pertemuan video dengan para menteri luar negeri ke-27 negara anggota UE.

    Sebelum pertemuan Menlu UE ini, Borrell telah mengunjungi Timur Tengah untuk membahas perang Israel dengan hamas, salah satu faksi di Palestina

    Diplomat tertinggi UE itu mengatakan dirinya sudah mengambil “kesimpulan politik mendasar” dari hasil diskusinya di kawasan TimTeng.

    Baca: Israel bersikukuh akan kelola Gaza jika perang berakhir

    “Saya rasa jaminan terbaik bagi keamanan Israel adalah pembentukan negara Palestina,” ungkapnya dalam ringkasan tertulis pertemuan UE.

    Borrell telah menekankan bahwa Israel tidak boleh menduduki Gaza setelah konflik antara Israel-Hamas yang berlangsung sejak awal Oktober lalu ini, berakhir.

    Borrell juga menekankan, kekuasaan wilayah di Gaza tersebut harus diserahkan kepada Otoritas Palestina.

    “Terlepas dari tantangan besar yang ada, kita harus menjalankan pemikiran kita mengenai upaya penstabilan wilayah Gaza dan negara Palestina pada masa depan,” ungkapnya.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan, PBB serukan gencatan senjata segera

    Dalam jangka pendek, Borrell mengatakan, setelah mengunjungi sejumlah negara Arab, ada “urgensi” mengenai situasi kemanusiaan yang gawat di Gaza.

    “Resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan jeda kemanusiaan sesegera mungkin merupakan sebuah kemajuan besar, namun kita harus memastikan penerapannya secara cepat,” kata pejabat UE itu.

    Kekhawatiran besar lainnya adalah kemungkinan konflik itu akan semakin memperburuk situasi di Tepi Barat dan menyeret aktor-aktor lain di Timur Tengah.

    “Mengingat meningkatnya kekerasan ekstremis dan pemukim terhadap warga Palestina, terdapat risiko nyata bahwa situasi itu dapat mengeskalasi,” kata Borrell.

    Baca: Korban terus berjatuhan, otoritas Palestina kesulitan memakamkan korban

    “Laporan mengenai sebuah kapal yang dibajak oleh Houthi adalah sinyal mengkhawatirkan lainnya mengenai risiko meluasnya konflik regional.”

    Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan, pada Selasa (21/11/2023), bahwa gerakan militannya mendekati kesepakatan gencatan senjata dengan Israel, menurut sebuah pernyataan yang diposting di Telegram.

    “Kami hampir mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata,” kata Haniyeh, menurut postingan tersebut.

    Para perunding telah berupaya untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembebasan sekitar 240 sandera, yang sebagian besarnya adalah warga Israel yang ditangkap pada 7 Oktober lalu. 

    Baca: OKI diminta segera ambil sikap soal Palestina

    Serangan Hamas ini merupakan serangan paling mematikan terhadap Israel yang kemudian memicu serangan besar-besaran ke Gaza yang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang Palestina.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kesepakatan Gencatan Senjata Tercapai, 14.100 Orang Tewas dalam 46 Hari Konflik Israel-Hamas

    Kesepakatan Gencatan Senjata Tercapai, 14.100 Orang Tewas dalam 46 Hari Konflik Israel-Hamas

    7cloud.asia – Sejumlah badan bantuan internasional dan pemimpin dunia menyambut baik gencatan senjata sementara antara Israel dan kelompok militan Hamas.

    Gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini disertai pembebasan sandera yang ditahan kedua belah pihak, dan masuknya bantuan kemanusiaan di daerah-daerah yang paling membutuhkan. 

    Tak kurang dari Perdana Menteri India, Inggris, Turki dan Paus menyambut baik gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini.

    Mereka berharap gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas ini bisa diperpanjang, untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.   

    Kementerian Kesehatan Palestina dan Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), seperti dikutip Al Jazeera, mencatat setidaknya ada 14.100 korban tewas akibat perang antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober lalu.

    Baca: UE tegaskan pengakuan Palestina kunci perdamaian di Timur Tengah

    Korban tewas ini termasuk 5.300 anak-anak dan 3.550 wanita. Angka ini naik 800 jiwa dari hari sebelumnya.

    Korban luka-luka 33.000 orang, dengan sekitar 70% diantaranya adalah anak-anak dan perempuan. Setidaknya 6.800 warga dilaporkan hilang di Gaza.

    Selain menyampaikan harapan pembebasan seluruh sandera, Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell bersama Direktur Eksekutif UN Women Sima Sami Bahous menyoroti kematian lebih dari 5.300 anak Palestina dalam 46 hari ini.

    “Lebih dari 5.300 anak Palestina dilaporkan tewas dalam hanya 46 hari terakhir ini. Atau berarti lebih dari 115 orang setiap hari,” ujarnya

    Berdasarkan angka ini, tampak jelas bahwa 40 persen korban tewas di Gaza adalah anak-anak.

    Baca: Israel kekeuh kelola Gaza usai perang dengan Hamas

    Ini, lanjut Sima,  tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, Jalur Gaza saat ini merupakan daerah paling berbahaya di dunia bagi anak-anak,” katanya.

    Paus Ajak Semua Berdoa

    Paus Fransiskus secara terpisah melakukan pertemuan dengan keluarga sandera di Gaza dan keluarga Palestina yang hidup di tengah kesengsaraan perang antara Israel dan Hamas ini.

    Dia memohon diakhirinya apa yang disebutnya sebagai terorisme, dan “hasrat untuk membunuh siapa pun.”

    “Tadi pagi saya menerima dua delegasi, satu dari Israel yang anggota keluarganya menjadi sandera di Gaza, dan lainnya dari Palestina yang anggota keluarganya ditahan di Israel. Mereka sama-sama sangat menderita,” ujar Paus.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan bagi anak-anak

    Saya, lanjut Paus, mendengar penderitaan yang mereka rasakan. Perang yang mengakibatkan semua ini. Tetapi sekarang ini bukan perang lagi, ini terorisme. Mohon wujudkan perdamaian.

    Berdoalah bagi perdamaian. Banyak lah kita berdoa demi perdamaian. Semoga Tuhan membantu kita menyelesaikan masalah ini dan tidak ada lagi hasrat untuk membunuh siapa pun.

    “Mari berdoa bagi warga Palestina. Mari berdoa bagi warga Israel. Agar perdamaian dapat segera terwujud,” harapnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berlaku, Israel Bebaskan 150 Perempuan dan Anak Palestina yang Ditahan

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berlaku, Israel Bebaskan 150 Perempuan dan Anak Palestina yang Ditahan

    7cloud.asia – Gencatan senjata selama empat hari antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat (24/11/2023 ) pukul 07.00 waktu setempat (pukul 12.00 WIB).

    Gencatan senjata tersebut diperkirakan akan diikuti pembebasan puluhan sandera yang ditawan Hamas dan 150 warga Palestina yang ditahan Israel.

    Gencatan itu mencakup gencatan senjata komprehensif di bagian utara dan selatan Gaza, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari kepada wartawan di Doha sebelumnya.

    Menurut kesepakatan, 50 perempuan dan anak-anak yang diculik dari Israel oleh Hamas pada 7 Oktober lalu akan dibebaskan sebagai pertukaran bagi 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang dipenjarakan di Israel.

    Baca: Kesepakatan gencatan senjata dicapai, tercatat lebih dari 14.000 orang tewas dalam 46 perang Israel-Hamas

    Tiga belas sandera akan dibebaskan dari Gaza pada hari Jumat, dan kelompok sandera tambahan akan dibebaskan setiap hari selama gencatan senjata hingga total 50 orang bebas.

    “Kami semua berharap gencatan senjata ini akan mengarah pada kesempatan bagi dimulainya tugas yang lebih luas untuk mencapai gencatan permanen,” kata Al-Ansari.

    Para pakar soal penganiaya anak dari Institut Haruv Yerusalem telah mengembangkan pedoman mengenai bagaimana tentara Israel harus menangani anak-anak di bawah umur begitu mereka dibebaskan dari Gaza.

    Hal ini dilakukan atas permintaan pemerintah Israel. 

    Baca: Uni Eropa tegaskan pengakuan Palestina untuk perdamaian Timur Tengah

    Israel telah menerima daftar awal para sandera yang akan dibebaskan dari Gaza pada hari Jumat, kata kantor perdana menteri Israel, Kamis (23/11/2023).

    “Otoritas terkait sedang memeriksa detail daftar itu dan sekarang ini sedang berhubungan dengan seluruh keluarga,” kata kantor perdana menteri dalam sebuah pernyataan.

    Berdasarkan kesepakatan itu, Israel akan menghentikan untuk sementara serangan-serangannya terhadap Gaza selama empat hari.

    Selain itu, Hamas mengukuhkan di saluran perpesanan Telegram bahwa serangan-serangan dari pasukannya juga akan dihentikan untuk sementara.

    Baca: Israel bersikukuh kelola Gaza jika perang berakhir

    Israel mengatakan jeda pertempuran selama empat hari akan diperpanjang ekstra satu hari untuk setiap 10 sandera tambahan yang dibebaskan Hamas.

    Juru bicara Qatar mengatakan Doha berharap akan memperantarai kesepakatan lainnya untuk membebaskan lebih banyak sandera dari Gaza pada hari keempat gencatan senjata.

    Komite Palang Merah Internasional mengatakan akan membantu apapun pembebasan sandera.

    Ke-50 sandera itu semula diperkirakan akan dibebaskan pada hari Kamis (23/11/2023).

    Baca: Gaza berubah jadi kuburan saat berlangsungnya perang Israel-Hamas

    Penasihat keamanan nasional Israel, Tzachi Hanegbi, mengatakan dalam sebuah pernyataan Rabu malam bahwa perundingan masih terus berlangsung.

    Sandera-sandera awal yang ditawan Hamas di Gaza tidak akan dibebaskan setidaknya hingga Jumat (23/11/2023).

    Tidak satu pun identitas para sandera yang dibebaskan pada Jumat (24/11/2023) telah diungkapkan.

    Tapi para pejabat AS mengatakan mereka yakin beberapa dari sembilan orang Amerika yang diduga disandera Hamas akan termasuk yang dibebaskan.

    Sumber: VOA Indonesia