Tag: lingkungan

  • Menilik Kesiapan Mobil Listrik Jadi Angkutan Massal

    Menilik Kesiapan Mobil Listrik Jadi Angkutan Massal

    7cloud.asia – Beberapa hari lalu, subsidi mobil listrik menuai kritik. Mobil listrik, disebut mengeluarkan emisi karbon yang lebih besar ketimbang mobil berbahan bakar fosil. 

    Tak dipungkiri, kemunculan mobil listrik memang masih menuai pro-kontra. Beberapa beranggapan mobil listrik memiliki sejumlah kekurangan dibandingkan mobil berbahan bakar fosil.

    Selain itu penambangan nikel yang menjadi bahan pembuatan baterai pada mobil listrik dinilai tidak ramah lingkungan, sehingga akan kontra produktif pada kampanye mobil listrik sebagai sarana menuju emisi nol persen.

    Namun, tidak sedikit pula juga yang menyambut baik masa transisi dalam dunia otomotif dengan masuknya mobil listrik ke Indonesia ini.

    Meski masih pro kontra, pabrikan mobil-mobil menganggap bahwa mobil listrik sudah siap meramaikan jalanan di Tanah Air.

    Fasilitas yang dibutuhkan, baik itu yang disediakan oleh merk pabrikan maupun infrastruktur jalan yang disediakan oleh Pemerintah dinilai sudah mendukung mengaspalnya mobil listrik. 

    Itu sebabnya, hingga saat ini tercatat sudah sekitar 10 varian mobil listrik dari berbagai merk, baik dari China, Jepang, Korea hingga Eropa.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Pemerintah sendiri secara langsung mendukung penggunaan mobil listrik di Indonesia, antara lain dengan aturan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang berlaku.

    Tarif PPnBM mobil listrik jenis battery electric vehicle (BEV) Pasal (Ps 36) sebesar 0 persen, sementara mobil listrik hibrida atau hybrid electric vehicle (HEV) tarif pajaknya berkisar 5 persen hingga 7 persen.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa adanya perbedaan tarif tersebut akan menarik investasi mobil listrik.  

    Terlepas dari dukungan Pemerintah dalam bentuk regulasi, saat ini sejumlah instansi Pemerintahan sudah menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas.

    Kementerian Perhubungan contohnya, telah menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas sejak tahun 2020, Penggunaan kendaraan listrik ini disebut Kementerian Perhubungan sebagai salah satu upaya Pemerintah untuk mendorong perkembangan kendaraan yang ramah lingkungan.

    Lantas, bagaimana ya penggunaan mobil listrik jika digunakan sebagai mobil dinas? Apakah mampu menjawab semua kebutuhan dan menunjang kinerja suatu instansi tersebut?

    Berikut beberapa poin penting yang perlu jadi pertimbangan sebelum menjadikan mobil listrik menjadi angkutan massal maupun kendaraan dinas. 

    Baca: Kontroversi kereta cepat Jakarta-Bandung

    Daya Tahan Kendaraan

    Iklim tropis dan kondisi infrastruktur yang belum cukup baik, menjadi 2 poin utama yang harus dihadapi mobil listrik di Indonesia.

    Perlu diketahui, tidak hanya sebatas mampu tahan dengan 2 kondisi tersebut, tetapi mobil listrik juga tahan selama kurun waktu yang lama dan kendaraan tetap reliable serta memberikan performa yang prima.

    Kita tahu, pertimbangan saat sebuah instansi ingin melakukan pembelian kendaraan adalah supaya kendaraan tersebut dapat dipakai untuk jangka panjang, serta memiliki kapabilitas melalui berbagai medan jalan.

    Lantas bagaimana kapabilitas mobil listrik dalam melibas jalanan di Indonesia?

    Dari segi struktur mobil, sepertinya mobil listrik dapat menjawab dengan cukup berani bahwa mereka mampu melibas jalanan di Seluruh Indonesia.

    Sebab, saat ini banyak mobil listrik dengan bentuk Sport Utility Vehicle (SUV) dan juga crossover yang memiliki ground clearance (jarak dari tanah ke bagian mobil paling bawah) yang cukup tinggi sehingga mampu melewati jalan di Indonesia yang cenderung tidak rata.

    Bahkan jalanan yang tidak rata serta medan jalan menanjak yang mengharuskan  mobil lebih mengandalkan torsi yang besar daripada tenaga Hp (horsepower), hal tersebut dimiliki oleh mobil listrik yang dikenal dengan memiliki torsi yang instan dan besar.

    Baca: Jakarta berbenah lewat penataan transportasi publik

    Sedangkan dari segi mesin, meski mengandalkan baterai dan kekhawatiran saat ini adalah biaya perbaikan pada baterai atau bahkan penggantian yang dapat membuat anggaran membengkak, khusus dalam urusan menerobos hujan deras atau bahkan banjir, pasti juga akan menjadi pertimbangan yang krusial mengingat air merupakan musuh bebuyutan dari barang elektronik.

    Menurut Bonar Pakpahan, Product Expert PT Hyundai Motors Indonesia, bahwa baterai mobil listrik sudah dirancang sedemikian rupa sehingga tahan segala cuaca dan kondisi.

    “Baterai ditempatkan di bawah mobil dengan sealed construction yang sangat kedap,” tutur Bonar.

    Meskipun begitu, mobil konvensional pun tidak dirancang untuk menghadapi jalan dalam keadaan terendam, sehingga pengguna kendaraan konvensional dan listrik sama-sama harus berhati-hari dalam menghadapi banjir.

    Tapi tenang saja, semua pabrikan mobil listrik di Indonesia saat ini memberikan garansi yang cukup panjang antara 5 hingga 8 tahun untuk baterai, sehingga akan menekan biaya perawatan.

    Efisiensi Sumber Energi

    Efisiensi ini menjadi pertimbangan krusial, karena jika konsumsi energi kendaraan cenderung boros maka akan membebani biaya perjalanan untuk dinas Instansi Pemerintah.

    Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan biaya pengisian daya mobil listrik lebih murah dibandingkan biaya pengisian bensin pada mobil konvensional.

    Untuk itu, penulis akan membuat perbandingan konsumsi energi antara mobil bermesin konvensional yang ada pada saat ini dan konsumsi energi mobil listrik berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber di internet.

     

    Jenis Kendaraan

    Konsumsi Energi

    (rata-rata)

    Harga per

    Satuan Energi

    Biaya dikeluarkan per Kilometer

    Konvensional

    10-12 Km/Liter

    Rp9.000,00 – Rp10.000,00 per Liter (pertamax)

    Rp750,00/Km – Rp1.000,00/Km

    BEV (Listrik)

    7-8 Km/KWh

    Rp1.650,00 – Rp1.800,00

    per KWh

    Rp206,00/km –

    Rp257,00/Km

     

    Dapat dilihat, konsumsi energi dan juga biaya yang dihasilkan dari mobil listrik jauh lebih murah dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional. Hal ini, tentu akan berdampak baik untuk memangkas anggaran untuk biaya perjalanan dinas suatu instansi.

    Selisih bahkan dapat lebih murah lebih dari 100 persen dibanding mobil konvensional, hal ini tentunya dapat menjawab dengan telak bahwa dari segi efisiensi energi dan biaya, mobil listrik jauh lebih unggul.

    Jarak Tempuh Kendaraan

    Mobil listrik yang dijual di pasaran, saat ini memiliki jarak tempuh maksimal yang sangat impresif dan dapat bersaing dengan mobil konvensional. Dilansir dari Kumparan.com, mobil listrik yang dijual di Indonesia bisa menempuh jarak 300 km hingga 499 km dalam sekali pengisian daya (penuh).

    Namun perlu dicatat, khusus di daerah-daerah khususnya di luar Jabodetabek dan pulau Jawa, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) masih sangat terbatas.

    Bahkan di beberapa pulau besar di Indonesia masih belum tersedia, hal ini yang menjadikan mobil listrik kurang bisa diandalkan untuk perjalanan jauh antar kota atau antar provinsi.

    Dengan kata lain, kalau ada instansi yang melakukan pengadaan mobil listrik di daerah, kemungkinan hanya bisa digunakan untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh.

    Belum lagi, apabila di Kota tersebut belum memiliki SPKLU, maka pengguna mobil listrik wajib melakukan instalasi pengecasan daya mandiri di rumah atau di kantor masing-masing.

    Hal ini tentu akan menimbulkan biaya tambahan untuk instalasi dengan koordinasi dari pihak pabrikan dan juga kantor PLN (Perusahaan Listrik Negara) terdekat.

     Biaya Perawatan

    Percaya atau tidak, biaya perawatan mobil listrik justru jauh lebih murah loh dibandingkan dengan mobil konvensional. Mengapa begitu?, basis yang digunakan pada mobil listrik dan konvensional pada umumnya sama, dari penggerak, mekanikal, dan kelistrikan, semuanya cenderung sama, tapi dengan catatan dengan mobil keluaran di tahun yang sama.

    Pembeda terbesar yaitu dari segi komponen mesin, pada mobil konvensional, lebih banyak memiliki komponen-komponen didalam mesin yang memiliki usia pakai. sedangkan, pada mobil listrik komponennya cenderung sedikit dan apabila telah mencapai usianya, maka pabrikan akan merekomendasikan untuk dilakukan penggantian.

    Bukannya kalau penggantian justru lebih mahal dibanding perbaikan? Perlu diingat, komponen baterai pada mobil listrik saat ini pabrikan memberikan garansi 5 s.d. 8 tahun.  Artinya, selama itu pengguna tidak perlu memikirkan pengeluaran pos  tersebut.

    Kecuali untuk item-item di luar baterai yang secara berkala pasti akan mengalami ‘kehausan’ seperti kampas rem, dan filter AC. Meski begitu, karena basis teknologi yang sama pada komponen selain baterai, maka biaya perawatan rutin mobil listrik akan cenderung sama seperti biaya perawatan mobil konvensional.

    Baca: Seperti ini rencana pengembangan Stasiun Manggarai

    Berdasarkan 4 poin di atas, dapat disimpulkan bahwa halangan terbesar bagi Instansi Pemerintah untuk dapat menggunakan mobil listrik menjadi kendaraan dinas adalah karena belum tersedianya SPKLU di daerah.

    Namun, untuk instansi yang berada di Jabodetabek dan memiliki wilayah kerja yang tidak terlalu luas (bisa terjangkau dengan jarak tempuh maksimal), hal tersebut tidak menjadi masalah.

    Bahkan memiliki kendaraan yang hemat, efisien, serta reliable tentu akan sangat menunjang kinerja dari setiap instansi. Sehingga, ke depan mobil listrik dapat digunakan oleh Instansi Pemerintah secara bertahap.

    Mulai dari instansi pemerintah di Jabodetabek yang memiliki wilayah kerja yang tidak terlalu luas, sehingga menaikkan minat produsen pabrikan untuk menambah unit mobil listrik dan akan segera diimbangi kapabilitas pabrikan serta Pemerintah dalam menyediakan infrastruktur SPKLU di seluruh wilayah di Indonesia.

    Dengan begitu, dapat mewujudkan jalanan Indonesia yang lebih kondusif, ramah lingkungan, dan juga efisien dalam penggunaan anggaran.

     

    Penulis : Tim Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Palu

    Referensi :

    [1] https://nasional.kontan.co.id/news/tarif-ppnbm-mobil-listrik-0-untuk-dongkrak-investasi-mobil-listrik (diakses pada 14 September 2021)

    [2] https://www.gridoto.com/read/222536737/mobil-listrik-rentan-korsleting-saat-hujan-atau-banjir-simak-dulu-ini (diakses pada 14 September 2021)

    [3] https://www.cnbcindonesia.com/news/20210104153420-4-213393/murah-ini-perbandingan-ongkos-charging-mobil-listrik-vs-bbm (diakses pada 14 September 2021)  

  • Kurangi Sampah Plastik dengan Sistem Isi Ulang dari Siklus

    Kurangi Sampah Plastik dengan Sistem Isi Ulang dari Siklus

    7cloud.asia – “Membuang sampah pada tempatnya tidak cukup menjadi solusi untuk lingkungan!” demikian tagline yang tertulis di laman resmi Siklus. 

    Siapa sebenarnya Siklus? Siklus adalah start up lokal yang punya misi untuk menciptakan sistem ritel berkelanjutan yang dapat mengurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang untuk berbagai barang kebutuhan sehari-hari.

    Siklus menawarkan solusi untuk mengatasi tingginya produksi sampah plastik dengan cara yang sangat berbeda! Siklus yang berdiri pada 2020 menyediakan alternatif untuk pengganti kemasan sachet dengan produk isi ulang yang diantarkan langsung ke rumah pelanggan.

    Dengan Siklus, kita dapat belanja produk kebutuhan rumah tangga favorit dalam berbagai ukuran tanpa kemasan plastik dan tentu dengan harga yang lebih murah! 

    Produk yang disediakan Siklus meliputi cairan pencuci piring, sabun, sampo, deterjen, minyak goreng, kopi dan masih banyak lagi.

    Selain lewat aplikasi Siklus, pelanggan nantinya juga bisa memesan melalui WhatsApp ataupun DM via Instagram.

    “Solusi dari Siklus tentunya dapat menghilangkan pajak kemiskinan dan mengurangi sampah plastik sekali pakai! Semua orang diuntungkan!” demikian Siklus menuliskan misi mereka.

    Baca: Gaya hidup nggak ramah lingkungan yang layak kamu tinggalkan

     

    Siklus mengantarkan isi ulang produk rumah tangga tanpa kemasan plastik langsung ke depan rumah kita!

    Jadi untuk beli sampo, sabun cuci dan sebagainya kita tinggal menghubungi mereka, dan awak Siklus akan mendatangi rumah kita. Kita cukup menyediakan wadahnya dan membayar uang seharga produk yang kita beli. 

    “#AmbilLangkahmu dan isi ulang produk kebutuhanmu di Siklus. Pesan sekarang dan kami antar langsung ke depan rumahmu #TanpaPlastik,”  demikian pesan tambahan dari Siklus.

    Baca: 5 Ciri produk ramah lingkungan

    Dilansir di laman resminya, https://www.siklus.com, Siklus berdiri pada Juni 2020. Awalnya melayani kelompok menengah bawah di Jabodetabek, namun ke depan diharapkan bisa berkembang ke seluruh Indonesia.

    “Kami memulai perjalanan ini dengan tim yang terdiri dari dua orang yang bekerja di rumah sederhana dan hanya mengoperasikan satu Gerobak. Kami dulunya adalah tim yang kecil tetapi memiliki mimpi yang besar – untuk menciptakan cara kerja retail yang berbeda dari biasanya,” demikian Siklus menuliskan awal berdirinya usaha ini.

    Setiap hari, lanjut Siklus, kami berkomunikasi dengan pelanggan kami, mendengar cerita perjuangan dan kemenangan mereka. Mendengar cerita bagaimana mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka di tengah pandemi.

     

    Baca: Alasan untuk beralih ke mobil listrik

    Mereka tinggal di tempat yang dipenuhi sampah plastik. Kami melihat anak-anak bermain di dekat asap beracun dari pembakaran plastik dan banyak rumah-rumah terkena banjir.

    “Inilah kenapa kami peduli. Inilah kenapa kami ingin membuat sebuah perubahan bersama pelanggan kami – pada setiap isi ulang,” imbuh Siklus

    Siklus lahir karena keprihatinan atas tingginya produksi sampah plastik di Indonesia. Indonesia adalah pencemar plastik di laut terbesar kedua di dunia.

    Sebanyak satu truk plastik dibuang ke lautan Indonesia setiap 20 detik! Barang yang paling sering ditemukan di pantai Indonesia adalah sachet dan bungkus plastik yang tidak dapat didaur ulang.

    Baca: Aksi keren ini layak ditiru

    Kemasan-kemasan plastik tersebut hanya digunakan sekali dan berakhir di lautan, sungai, danau dan tempat pembuangan sampah yang menyebabkan banjir, penyakit, dan banyak hewan laut mati.

    Parahnya lagi, uang yang harus dikeluarkan untuk bungkus plastik yang akhirnya hanya mencemari laut itu tidak sedikit. Sekitar 15% dari harga produk adalah biaya kemasan plastik.
     
    “Ketika produk kebutuhan sehari-hari dijual dalam jumlah yang lebih sedikit, biaya dari kemasan plastik tersebut harus ditanggung oleh pembeli sehingga menyebabkan pembeli membayar lebih besar dan ini yang dinamakan ‘pajak kemiskinan’.
     

     

     

    Berangkat dari keprihatinan ini maka Siklus membangun armada yang siap mendatangi pemukiman untuk mengisi ulang 

    Maka mulai sekarang gunakan kembali wadah dan isi ulang produk pesananmu lewat Siklus. Karena dengan demikian kamu turut menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi sampah plastik sekali pakai.

     

     
     

     

  • Seperti Ini Dampak Sampah Makanan pada Lingkungan

    Ilustrasi sampah makanan. Foto: majalahcsr.id

    7cloud.asia – Waktu kita kecil orang tua kita sering memberikan nasihat agar tidak membuang-buang makanan sehingga menjadi sampah makanan.

    “Jangan menyisakan nasi, nanti nasinya nangis lho,” demikian nasehat orang tua yang pernah kita dengar agar kita tidak sering-sering menghasilkan sampah makanan.

    Alasan orang tua memberikan nasihat seperti itu biasanya karena tindakan membuang makanan menjadi sampah makanan adalah cermin sikap tidak bersyukur, sebab di luar sana masih banyak orang yang merasa kelaparan karena kesulitan makan.

    Akan tetapi, sebenarnya terdapat alasan lain yang mengharuskan kita untuk tidak membuang makanan. Sampah makanan bisa memicu masalahan serius bagi lingkungan.

    Namun demikian, masih banyak orang yang menganggap membuang makanan menjadi sampah makanan sebagai hal yang wajar dan tidak ada dampaknya bagi lingkungan. 

    Baca: Cara bijak kurangi sampah plastik 

    Food Loss & Food Waste

    Mungkin kita lebih sering mendengar istilah food waste yang merujuk pada limbah atau sampah makanan. Namun sebenarnya limbah atau sampah makanan (food wastage) bisa dikategorikan menjadi dua macam, yaitu food loss dan food waste

    Food loss merupakan makanan yang mengalami penurunan kualitas yang disebabkan oleh berbagai faktor selama prosesnya dalam rantai pasokan makanan sebelum menjadi produk akhir. Food loss biasanya terjadi pada tahap produksi, pasca panen, pemrosesan, hingga distribusi dalam rantai pasokan makanan.

    Misalnya saat hama menyerang tanaman atau cuaca buruk yang dapat merusak hasil panen. Kemudian ketika diangkut dalam proses distribusi, makanan juga bisa menjadi rusak sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

    Sementara itu, food waste adalah makanan yang telah melewati rantai pasokan makanan hingga menjadi produk akhir, berkualitas baik, dan layak dikonsumsi, tetapi tetap tidak dikonsumsi dan dibuang. Makanan yang dibuang ini termasuk yang masih layak ataupun dibuang karena sudah rusak sehingga menjadi sampah makanan.

    Baca: 6 Gaya hidup tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan

    Food waste biasanya terjadi pada tingkat ritel dan konsumen. Contohnya adalah makanan yang tersisa di piring dan makanan yang sudah kedaluwarsa sehingga akhirnya menjadi sampah makanan

    Secara global, sebanyak 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahunnya. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan (food loss dan food waste) terbesar di dunia, selain Arab Saudi dan Amerika Serikat.

    Menurut kajian Bappenas, sampah makanan yang terbuang di Indonesia pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya.

    Kerugian ekonomi yang diakibatkan sampah makanan ini diperkirakan mencapai Rp 300 triliun lebih setahun.

    Kemudian berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2021, di antara semua jenis sampah yang dibuang, sampah makanan menjadi komposisi sampah yang paling banyak yaitu sebesar 29,1 persen dari total sampah.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan

    Dampak Negatif Food Loss & Food Waste

    Setiap makanan yang terbuang menjadi sampah makanan berarti sumber daya yang digunakan untuk setiap langkah tersebut juga terbuang sia-sia. Misalnya, plastik yang digunakan sebagai kemasan sayuran beku yang dibuang. Atau, semua asap dan bahan bakar yang dikeluarkan saat buah dikirim dari suatu wilayah ke wilayah lain.

    Penggunaan non-produktif sumber daya alam seperti tanah dan air yang dihasilkan dari food loss dan food waste berdampak pada pengentasan kelaparan dan kemiskinan, gizi, peningkatan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi.

    Untuk produsen kecil, kerugian kuantitatif secara langsung mengakibatkan lebih sedikit makanan yang tersedia, yang berkontribusi pada kerawanan pangan.

    Dampak food loss dan food waste secara kualitatif dapat menyebabkan penurunan status gizi, sementara produk berkualitas rendah mungkin juga tidak aman karena efek buruknya pada kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas konsumen.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Untuk setiap makanan yang terbuang, didalamnya juga terdapat biaya lingkungan yang harus dibayar. Misalnya, air selalu digunakan dalam setiap tahap proses produksi makanan.

    Saat ini, sekitar 70% dari sumber daya air tawar global yang tersedia digunakan untuk mengairi tanaman dan menghasilkan makanan. Pengemasan dan pengangkutan makanan juga membutuhkan air.

    Ketika makanan terbuang menjadi sampah makanan, maka semua air itu juga terbuang sia-sia. Begitu juga air di dalam makanan yang terbuang misalnya buah yang mengandung air.

    Air yang terbuang tersebut setara dengan sekitar 170 triliun liter (atau 45 triliun galon) air per tahun.

    Menurut WHO, jumlah minimum air yang dibutuhkan setiap orang per hari adalah sekitar 15-20 liter. Jika sebagian kecil dari air yang terbuang dapat diselamatkan, hal tersebut sangat membantu dalam menyediakan air bagi orang-orang di seluruh dunia.

    Membuang-buang makanan artinya membuang begitu banyak air. Sehingga, jika digabungkan, dapat menutupi semua kebutuhan air rumah tangga dunia.

    Baca: Mengapa ada Hari Spesies Terancam Punah?

    Sampah makanan juga sangat berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Saat membusuk di tempat pembuangan sampah, ia menghasilkan gas rumah kaca yang disebut metana, yang lebih berbahaya daripada CO₂.

    Gas rumah kaca juga dikeluarkan dalam produksi dan transportasi makanan. Emisi dari kendaraan yang mengangkut makanan menghasilkan CO₂. Kelebihan jumlah gas rumah kaca seperti metana, CO₂ dan CFC menyerap radiasi infra merah dan memanaskan atmosfer bumi, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

    Para ilmuwan percaya bahwa jika kita berhenti membuang makanan, kita dapat mencegah 11% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sistem pangan.

    Kita juga harus mengingat langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menghasilkan makanan sejak awal. Misalnya, untuk membuat pabrik, harus membuka lahan. Pembukaan lahan dapat menghancurkan habitat satwa liar dan dapat mengurangi keanekaragaman hayati.

    Sumber: ui.ac.id

     
  • Ini yang Bisa Kita Lakukan untuk Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Makanan yang terbuang akan menjadi limbah atau sampah makanan terbukti memicu masalah serius bagi lingkungan.

    Sampah makanan tak hanya membuat banyak sumber daya yang telah digunakan terbuang sia-sia. Sampah makanan juga memicu produksi metana, gas ruang kaca yang lebih berbahaya dibanding karbondioksida.

    Pencegahan produksi sampah makanan bisa dilakukan baik oleh konsumen, produsen, maupun pemerintah lewat kebijakan.

    Sebagai konsumen kita dapat melakukan sejumlah langkah sederhana yang terbukti efektif mengurangi dampak yang ditimbulkan sampah makanan pada lingkungan. 

    Baca: Sampah makanan timbulkan masalah serius bagi lingkungan

    Berikut beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mencegah atau mengurangi produksi sampah makanan agar tidak mencemari lingkungan.

    1. Memanfaatkan sisa makanan sebaik mungkin dengan membuat makanan baru untuk dimakan keesokan hari daripada membuangnya

    2. Menyimpan makanan dengan benar supaya tidak mudah busuk

    3. Merencanakan menu makanan dengan porsi yang sesuai kebutuhan supaya makanan tidak terbuang nantinya dan dapat menghemat uang. Kita bisa meminta porsi yang lebih kecil jika makan di restoran.

    4. Mengubah pola makan kita menjadi pola makan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, dengan membatasi daging (memproduksi 1,9 pon daging melepaskan 28,6 pon CO₂, serta menggunakan sejumlah besar tanah dan air untuk produksinya)

    5. Mengonsumsi susu serta menjadikan buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan sebagai makanan pokok.

    6. Memeriksa kulkas atau lemari penyimpanan sebelum pergi berbelanja dan mendaftar apa saja yang dibutuhkan untuk dibeli

    6. Memahami perbedaan tanggal expired (kedaluwarsa) dengan best before (baik digunakan sebelum). Tanggal best before (baik digunakan sebelum) hanyalah panduan kapan produk akan melewati masa terbaiknya sehingga tidak apa-apa untuk memakannya setelah tanggal, selama belum busuk, berjamur, berbau, berubah rasa, atau melewati tanggal kedaluwarsa (jika tertera)

    7. Buah-buahan yang bentuknya salah atau “jelek” tidak selalu buruk dan masih bisa dibeli dan digunakan dalam masakan seperti sup

    8. Membekukan makanan jika tidak dipakai segera, bahkan juga untuk susu. Di beberapa tempat, terutama negara berkembang, pendinginan tidak selalu praktis.

    Salah satu pilihannya adalah dengan mengeringkan makanan atau bisa juga menyimpannya dalam wadah penyimpanan tahan lembab

    9. Terakhir, alih-alih membuang semua makanan makanan yang sudah tidak layak konsumsi, beberapa di antaranya dapat digunakan kembali sebagai pakan ternak. Kita juga bisa membantu tanah dengan membuat kompos dari sisa makanan daripada membuangnya

    Baca: Dengan sistem isi ulang Siklus, kita bisa kurangi sampah plastik

    Selain sembilan langkah di atas, kita juga dapat mengurangi sampah makanan dengan mengatur cara penyimpanan makanan di kulkas supaya tetap segar, awet, dan tidak cepat busuk atau rusak.

    Sedangkan bagi produsen atau pemasok dapat melakukan langkah-langkah berikut ini untuk mengurangi sampah makanan.

    • Peningkatan perencanaan produksi, selaras dengan pasar
    • Menyeimbangkan produksi dengan permintaan, yang berarti penggunaan sumber daya alam lebih sedikit untuk menghasilkan makanan
    • Lebih banyak upaya harus dilakukan untuk mengembangkan proses pemanenan, penyimpanan, pemrosesan, dan pendistribusian makanan yang lebih baik. Jika terjadi kelebihan pasokan, harus mengambil langkah untuk mendistribusikan kembali makanan atau mengirimkannya kepada orang-orang yang membutuhkan
    • Memiliki data yang akurat untuk melihat di titik mana biasa terjadi food loss dan food waste
    • Menerapkan inovasi misalnya dengan membuat platform e-commerce untuk pemasaran atau sistem pemrosesan makanan yang dapat ditarik
    • Pengemasan makanan yang lebih baik serta melonggarkan peraturan dan standar tentang persyaratan estetika untuk buah dan sayuran
    • Penggunaan peti selama pengangkutan telah mengurangi food loss dari sayuran dan buah-buahan hingga 87 persen. Di mana peti menggantikan kantong plastik sekali pakai, ini juga membawa manfaat lingkungan

    Bagi Supermarket dan Toko Grosir

    • Supermarket dapat menurunkan harga makanan yang mungkin dianggap “tidak sempurna” atau “jelek”. Harus juga memperhatikan tanggal “best before” atau “baik digunakan sebelum” pada makanan yang dijual. Dengan begitu, makanan yang benar-benar enak tidak akan dibuang
    • Supermarket juga dapat menyumbangkan makanan yang tidak dijual
    • Mengidentifikasi dimana pemborosan terjadi
    • Jika memang harus dibuang, beberapa dapat diberikan untuk pakan ternak masyarakat setempat

    Bagi Pemerintah

    • Insentif pemerintah untuk mendukung aksi mengurangi tingkat food loss dan food waste serta kolaborasi di seluruh rantai pasokan
    • Mengadakan pelatihan, mendukung teknologi dan inovasi, termasuk untuk produsen skala kecil
    • Memfasilitasi pengadaan bank makanan
    • Memfasilitasi akses petani ke konsumen dengan menjadikan rantai nilai yang lebih pendek melalui pasar petani

    Bagi Sektor Swasta

    Organisasi publik tidak dapat secara langsung mengurangi food loss dan food waste tetapi mereka sangat diperlukan dalam memfasilitasi tindakan dari sektor swasta melalui:

    • Penciptaan lingkungan yang mendukung kebijakan dan kelembagaan
    • Penciptaan iklim investasi yang menguntungkan serta memastikan bahwa semua pelaku rantai, termasuk perempuan dan produsen kecil, menerima bagian yang adil dari manfaat
    • Peningkatan kesadaran dan advokasi
    • Pengembangan kemitraan dan aliansi
    • Dukungan untuk produk dan proses inovatif
    • Pengembangan kapasitas di tingkat rantai pasokan dan kelembagaan
    Sumber: ui.ac.id baca artikel asli di sini

     

  • Penjelasan Mengapa Pupuk Kandang Lebih Baik untuk Lingkungan

    Penjelasan Mengapa Pupuk Kandang Lebih Baik untuk Lingkungan

    Guru Besar Agronomi dan Hortikultura dari Institut Pertanian Bogor, Sobir, mengatakan pemanfaatan pupuk kandang dapat menjadi solusi dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang dialami oleh lahan-lahan pertanian.

     

    “Kita menambah pupuk kandang karena memiliki tiga manfaat,” ujarnya dalam kegiatan kunjungan ke fasilitas pengembangan produk bioteknologi di Malang, Jawa Timur, Selasa (23/5/2023).

     

    Sobir menjelaskan pupuk kandang bisa menyimpan air hingga lima kali lipat dari volumenya lantaran keberadaan bahan organik yang terkandung pada pupuk kandang.

     
    Baca: Cara sederhana mengolah sampah rumah tangga 

     
    Menurutnya, pupuk kandang membuat lahan-lahan pertanian yang semula kering bisa kembali terisi air dan airnya tidak cepat menguap.

     

    “Pupuk kandang meningkatkan water holding capacity atau kapasitas penyimpanan air,” kata Sobir.
     
    Kedua, pupuk kandang meningkatkan kesuburan biologis tanah. Semakin banyak pupuk kandang yang dipakai di lahan-lahan pertanian, maka semakin banyak pula mikroorganisme yang bisa membantu tanaman untuk menjaga kekeringan dan menyerap hara lebih baik, sehingga tanaman lebih efisien dari sisi produksi.

     

    “Ketiga, pupuk kandang juga menyediakan hara,” ucapnya.

     

    Sobir mengungkap tingkat kesuburan lahan yang ada di Indonesia sudah menurun karena kandungan bahan organik sudah berkurang. Dan, ini bisa diperbaiki dengan penggunaan pupuk kandang.

     

    Dia menjelaskan tanah subur memiliki kandungan organik minimal 2 persen. Sedangkan, mayoritas lahan pertanian di Indonesia dengan angka sekitar 60 persen memiliki kandungan organik di bawah 1 persen.
     

     

    Faktor kebiasaan petani yang menggunakan pupuk kimia telah menyebabkan kesuburan tanah berkurang. Kondisi itu menjadi masalah yang cukup serius bagi sektor pertanian di Indonesia.

     

    “Orang merasa yakin dengan penggunaan pupuk kimia karena lebih praktis. Pupuk kandang butuh 10 ton untuk setiap hektare lahan, kalau pupuk kimia paling hanya beberapa ratus kilogram,” kata Sobir.
     
    Kondisi itu menyebabkan banyak residu dari pupuk kimia tersimpan di dalam tanah dan membuat struktur tanah menjadi tidak baik.
     
    “Penambahan pupuk kandang akan meningkatkan struktur tanah menjadi lebih baik dan ada mikroorganisme yang membantu menyerap itu,” imbuhnya.

     

    Pada akhir April 2023 lalu, Presiden Joko Widodo menekankan penggunaan pupuk organik, termasuk pupuk kandang, untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan juga menjaga tingkat kesuburan tanah di Indonesia.
     

     

    Presiden meminta Kementerian Pertanian untuk memacu produktivitas produsen pupuk organik terkhusus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

     

    Ketua Kemitraan Strategis dan Advokasi Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Sidi Asmono, mengatakan beberapa sentra pertanian kian masif menggunakan pupuk organik. Bahkan, para petani sudah mulai memproduksi pupuk organik secara mandiri.

     

    Menurutnya, petani adalah pengusaha sekaligus peneliti yang melakukan riset dari pengalaman-pengalaman pribadi untuk membuat pupuk organik.

     

    “Mereka melakukan inovasi pupuk organik di tingkat desa. Ini yang perlu kita dorong terus, sehingga kesuburan tanah diperbaiki, kemudian produksi bisa ditingkatkan,” pungkas Sidi.
     
    Sumber: Antaranews.

  • Kaca dan Plastik, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan

    Kaca dan Plastik, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sejak ditemukan pada abad ke-4 Masehi, penggunaan kaca sebagai wadah penyimpanan terus meluas. Sejarah mencatat ketahanan dan fungsionalitas material kaca sebagai perangkat sehari-hari. 

    Kaca adalah bahan yang berguna untuk segala hal, mulai dari mengawetkan makanan hingga membawa sinyal yang membuat internet bisa bekerja. Kaca juga sering disebut lebih ramah lingkungan.

    Begitu pentingnya kaca dalam pembangunan manusia sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun 2022 sebagai Tahun Kaca Internasional, untuk merayakan kontribusi kaca terhadap perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan.

    Kaca terkadang disebut sebagai bahan yang dapat didaur ulang tanpa batas, tanpa memengaruhi kualitas, kemurnian, atau daya tahannya.

    Kaca daur ulang dapat dihancurkan menjadi cullet, yang dapat dilebur dan digunakan untuk menghasilkan lebih banyak kaca.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Kaca yang digunakan untuk kemasan memiliki tingkat daur ulang yang tinggi dibandingkan dengan bahan kemasan lainnya.

    Di Eropa, tingkat daur ulang kaca rata-rata adalah 76%. Sementara tingkat daur ulang kemasan plastik 41% dan kemasan kayu 31%.

    Ketika kaca dibiarkan di lingkungan alami, kecil kemungkinannya menyebabkan polusi daripada plastik.

    Tidak seperti plastik, yang terurai menjadi mikroplastik yang dapat larut ke dalam tanah dan air kita, kaca tidak beracun sehingga lebih ramah lingkungan.

    “Kaca sebagian besar terbuat dari silika, yang merupakan bahan alami,” kata Franziska Trautmann, salah satu pendiri Glass Half Full, sebuah perusahaan yang berbasis di New Orleans.

    Perusahaan itu mendaur ulang kaca menjadi pasir yang dapat digunakan untuk restorasi pantai dan bantuan bencana.

    Silika, yang juga dikenal sebagai silika dioksida, membentuk 59% kerak bumi. Sifatnya sebagai senyawa alami tidak menimbulkan kekhawatiran tentang pencucian atau degradasi lingkungan.

    Baca: Ini yang bisa kita lakukan untuk minimalkan sampah makanan

    Karena itu, kaca sering disebut-sebut sebagai alternatif plastik yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian? 

     

    Ternyata, botol kaca memiliki jejak ekologi yang lebih tinggi daripada plastik, dan bahan wadah botol lainnya termasuk karton minuman dan kaleng aluminium.

    Penambangan pasir silika dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan, mulai dari kerusakan lahan hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

    Pelanggaran hak dasar pekerja juga ditemukan di Shankargarh, India, yang merupakan pemasok terbesar pasir silika untuk industri kaca di negara tersebut.

    Beberapa penelitian juga menunjukkan paparan debu silika (bahan kaca) yang berkepanjangan dapat menimbulkan risiko kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan silikosis akut, yaitu penyakit paru-paru jangka panjang dan tidak dapat disembuhkan yang disebabkan oleh penghirupan debu silika dalam jangka waktu yang lama.

    Gejala awalnya termasuk batuk terus-menerus atau sesak napas – yang dapat mengakibatkan gagal napas.

    Mengekstraksi pasir untuk produksi kaca mungkin juga berkontribusi pada kekurangan pasir global yang terjadi saat ini.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus 

    Pasir adalah sumber daya kedua yang paling banyak digunakan di dunia setelah air – orang menggunakan sekitar 50 miliar ton “agregat”, istilah industri untuk pasir dan kerikil, setiap tahun.

    Kegunaannya berkisar dari regenerasi lahan hingga microchip. Menurut PBB, saat ini penggunaan pasir lebih cepat daripada yang menunggu ‘isi ulangnya’.

     

    Dibandingkan plastik dan aluminium, kaca membutuhkan suhu yang lebih tinggi untuk meleleh dan terbentuk, kata Alice Brock, seorang peneliti PhD di University of Southampton di Inggris.

    Bahan mentah untuk membuat kaca untuk pertama kalinya juga melepaskan gas rumah kaca selama proses peleburan, menambah jejak ekologisnya.

    Menurut International Energy Agency, industri kontainer dan lembaran kaca mengeluarkan lebih dari 60 megaton CO2 per tahun.

    Ini mungkin tampak mengejutkan, tetapi penelitian Brock menemukan botol plastik tidak terlalu merusak lingkungan dibandingkan botol kaca.

    Baca: Kenali jenis-jenis plastik agar tak salah pilih

    Meskipun plastik tidak dapat didaur ulang tanpa henti, proses pembuatannya kurang intensif energi, karena titik leleh plastik lebih rendah dibandingkan dengan kaca.

    Bahan baku kaca dilebur bersama dalam tungku pada suhu 1.500 derajat Celsius. Cairan kaca kemudian dikeluarkan dari tungku, kemudian dibentuk dan dicetak.

    Fasilitas produksi kaca sering menambahkan sebagian cullet kaca daur ulang ke dalam campuran bahan baku.

    Secara umum, peningkatan 10% cullet kaca ke dalam wadah campuran peleburan kaca dapat menurunkan konsumsi energi sebesar 2-3%.

    Ini karena membutuhkan titik leleh yang lebih rendah untuk melelehkan kaca cullet dibandingkan dengan bahan pembuatan pertama yang digunakan untuk memproduksi kaca.

    Sebagai gantinya, proses ini sedikit mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan selama pembuatan.

    Baca: Mengkaji kebijakan larangan plastik sekali pakai

    Masalah utama daur ulang kaca adalah tidak menghilangkan proses peleburan kembali, yang merupakan bagian produksi kaca yang paling intensif energi.

    Proses ini menyumbang 75% dari konsumsi energi selama produksi. Meskipun wadah kaca dapat digunakan kembali rata-rata 12-20 kali, kaca sering diperlakukan sebagai barang sekali pakai.

    Kaca sekali pakai yang dibuang di tempat pembuangan sampah membutuhkan waktu hingga satu juta tahun untuk terurai.

    Tingkat daur ulang kaca sangat bervariasi di seluruh dunia. Uni Eropa dan Inggris memiliki tingkat daur ulang rata-rata 74% dan 76%, sedangkan angka AS adalah 31,3% pada 2018.

    Salah satu alasan angka daur ulang AS yang lebih buruk adalah karena bahan daur ulang biasanya dikumpulkan dalam “aliran tunggal”, yang berarti semua bahan dicampur menjadi satu.

    Daur ulang aliran tunggal seringkali mempersulit proses penyortiran karena kaca harus dipisahkan dari bahan daur ulang lainnya dan disortir berdasarkan warna, sebelum dapat dilebur kembali.

    Baca: Langkah sederhana kelola sampah rumah tangga

    Proses seperti ini seringkali terlalu memakan waktu, dan mahal, untuk memisahkan kaca berwarna campuran di fasilitas daur ulang.

    Alih-alih diubah menjadi botol baru, pecahan kaca campuran diubah menjadi produk serat kaca yang dapat digunakan untuk insulasi. Cullet kaca adalah kualitas tertinggi ketika dipisahkan dari bahan daur ulang lainnya sejak awal – ini dikenal sebagai daur ulang multi-aliran.

    Warna kaca memengaruhi seberapa murni aliran yang dibutuhkan. Kaca berwarna hijau dapat menggunakan 95% kaca daur ulang.

    Sementara kaca bening atau tidak berwarna, yang juga dikenal sebagai “kaca batu”, memiliki spesifikasi kualitas yang lebih tinggi dan hanya mengizinkan hingga 60% kaca daur ulang karena kontaminasi apa pun bisa memengaruhi kualitas.

    Kaca daur ulang harus dilebur dua kali, sekali menjadi cullet dan sekali lagi menjadi produk baru. Itulah sebabnya kaca daur ulang mungkin hanya lebih hemat energi sedikit saja daripada kaca murni.

    Tidak diragukan lagi bahwa kaca masih memainkan peran penting di banyak industri. Daya tahan dan sifatnya yang tidak beracun menjadikannya ideal untuk makanan dan bahan yang perlu diawetkan.

    Namun, anggapan bahwa kaca berkelanjutan hanya karena dapat didaur ulang tanpa batas adalah salah tafsir. Mempertimbangkan seluruh siklus hidupnya, produksi kaca mungkin sama merusak lingkungannya dengan plastik.

    Lain kali, ketika Anda ingin membuang botol kaca, mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk menggunakannya kembali. Kaca adalah bahan yang tangguh dan tahan lama, yang tidak dibuat untuk dibuang setelah hanya digunakan sekali.

    Artikel ini pertama kali terbit di BBC dalam bahasa InggrisGlass or plastic: which is better for the environment? bisa Anda simak di laman BBC Future.

  • Sneakers Vokalis Coldplay Ini Dibuat dari 70 Sepatu Tua

    Sneakers Vokalis Coldplay Ini Dibuat dari 70 Sepatu Tua

    7cloud.asia – Grup musik dari Inggris Coldplay dikenal sangat peduli lingkungan. Dalam setiap turnya, Coldplay yang berdiri di London pada 1996 itu selalu berupaya menekan jejak karbon yang dihasilkan. 

    Tak hanya itu, sebagai bentuk kepedulian mereka pada kelestarian lingkungan manajemen Coldplay juga berjanji untuk menanam satu batang pohon untuk setiap tiket mereka yang terjual. 

    Ternyata aksi peduli lingkungan personel Coldplay juga berlaku dalam gaya berpakaian mereka. Seperti yang dilakukan vokalis Coldplay, Chris Martin. 

    Baca: Era baru thrifting, nggka cuma pakai baju second doang

    Chris Martin dalam sebuah acara di Perancis untuk promo album teranyar Coldplay bertajuk  “Music Of The Spheres”  pada 2021 mengungkapkan jika sepatu yang ia kenakan merupakan hasil rework atau daur ulang dari 70 pasang sepatu tua.

    Sepatu-sepatu itu diambil dari tempat sampah dan disatukan kembali menjadi sebuah sneakers warna-warni yang sangat catchy.

    “Sepatu saya dibuat dari 70 pasang sepatu tua yang dipungut dari tempat sampah dan dijadikan satu lagi,” demikian tulis Chris Martin di akun twitter resmi Coldplay @coldplayxtra pada 6 Oktober 2021.

    Baca: Lagi ngetrend, anak muda berburu barang second di thrifting store

    Sneakers hasil ulang tersebut tersebut tampil catchy, seolah menjadi aksen dari penampilan Chris Martin hari itu yang mengenakan celana panjang dan jaket hitam, yang dipadu dengan kaos abu-abu polos.

    Sneakers warna-warna itu bagian atasnya berwarna ungu, pink. Sedangkan di bagian bawah terdapat warna orange dan kuning. 

    Sepatu daur ulang tersebut akan dipakai Chris Martin dalam tur keliling dunia guna mempromosikan album terbaru Coldplay.

    Dan mungkin banget sepatu itu masih dikenakan Chris Martin saat Coldplay melakukan tur di Jakarta pada November 2023 mendatang. 

    Jadi, buat kamu yang lagi cari ide untuk aksi ramah lingkungan bisa tiru sikap keren dari vokalis Coldplay ini.

     

  • 6 Cara Asyik Kurangi Sampah Plastik

    6 Cara Asyik Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Di balik beragam manfaatnya, plastik terutama plastik sekali pakai ternyata menyimpan banyak hal negatif bagi kelestarian lingkungan.

    Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Dan sebagian besar limbah plastik ini berakhir di laut, mencemari dan kemudian meracuni lingkungan.

    Banyak dari kita yang sudah tahu, bahwa sampah plastik butuh waktu ratusan tahun untuk terurai, Sampah yang terurai menjadi mikroplastik kemudian mencemari lingkungan dan bahkan meracuni makhluk hidup termasuk manusia.

    Karena itu, kesadaran untuk menghindari penggunaan plastik secara berlebihan menjadi salah satu solusinya.

    Baca: Kenali jenis plastik biar tak salah pilih

    Selain dimulai dari para individu mengurangi penggunaan plastik juga dibutuhkan dukungan kebijakan pemerintah agar pembatasan penggunaan plastik sekali pakai bisa berlangsung secara massal. 

    Dari sisi produsen juga perlu didorong agar berinovasi untuk mengurangi penggunaan plastik untuk kemasan produk mereka. 

    Namun sebelum semua itu terlaksana, kita sebagai individu bisa mulai melakukan sejumlah langkah kecil yang besar dampaknya bagi lingkungan.

    Baca: Mengapa plastik sekali pakai harus dilarang?

    Berikut sejumlah langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi produksi limbah plastik: 

    1. Bawa Kantong Belanja Sendiri
    Meskipun kantong plastik memang praktis, tapi hal inilah yang membuat sampah pada bumi terus bertumpuk tak terkendali.

    Membawa kantong belanja sendiri saat belanja atau bepergian adalah cara yang paling mudah untuk berkontribusi mengurangi sampah pribadi.

    Baca: Cara ayiik mengolah sampah rumah tangga

    2. Bawa tempat makan dan botol minum 
    Lebih baik menyiapkan air minum dari rumah dengan menggunakan botol minum atau tumbler.

    Kamu juga bisa selalu membawa tempat makan sendiri, sehingga saat beli makan tidak perlu dibungkus.

    Selain bentuk dari peduli terhadap lingkungan, membawa botol minum sendiri juga bisa menghemat uang.

    3. Tidak menggunakan sedotan plastik
    Sedotan plastik memang terlihat remeh. Tapi bayangkan jika ribuan orang yang berfikir seremeh itu?

    Tentulah sangat berdampak bagi lingkungan. Sekarang, mulailah mengganti sedotan plastik dengan sedotan bambu atau kertas yang ramah lingkungan.

    Baca: Benarkah kaca lebih ramah lingkungan?

    4. Hindari beli makanan/minuman kemasan plastik
    Membeli produk dalam kemasan sachet, tapi belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah.

    Jika memungkinkan, pilih produk yang dikemas dalam botol kaca atau daun.

    5. Beli Produk Isi Ulang

    Saat ini banyak tersedia produk isi ulang, salah satunya Siklus yang melayani pembelian kebutuhan sehari-hari dengan sistem isi ulang. Uniknya, armada Siklus melayani pembeli hingga di depan rumah mereka.

    6. Daur Ulang Sampah Plastik
    Tidak semua plastik bisa didaur ulang. Namun, beberapa barang, seperti botol minuman dan pot tanaman dapat dilakukan proses recycle.

    Kreasikan sampah plastik menjadi hiasan atau barang lain yang dibutuhkan di rumah. Atau kamu bisa memilah sampah plastik lalu menjualnya ke bank sampah. 

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang

  • Produk Ramah Lingkungan: Mulai Sedotan Reusebale hingga Produk Isi Ulang

    Produk Ramah Lingkungan: Mulai Sedotan Reusebale hingga Produk Isi Ulang

    7cloud.asia – Perubahan iklim membangun kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan. Mungkin di antara kamu yang ingin tahu apa yang bisa dilakukan untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.

    Aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan adalah dengan memilih alat rumah tangga yang ramah lingkungan.

    Dengan langkah kecil ini kamu bisa terlibat dalam aksi nyata pelestarian lingkungan.

    Saat ini mayoritas alat rumah tangga terbuat dari plastik atau mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan tubuh maupun mengancam kelestarian lingkungan.

    Namun, jangan dulu berkecil hati. Karena saat ini makin banyak produsen yang memproduksi alat rumah tangga yang ramah lingkungan. 
     
    Berikut beberapa produk ramah lingkungan yang bisa kamu gunakan sehari-hari sebagaimana dilansir rupa-rupa.com. 

    1. Sedotan Re-useable

    Meski terlihat sepele, sedotan plastik merupakan salah satu menyumbang limbah plastik terbanyak. Maka dari itu, sejumlah kedai minuman telah meniadakan penggunaan sedotan plastik ini.

    Nah, agar lebih ramah lingkungan, kamu bisa menggunakan sedotan yang terbuat dari besi, stainless steel, bambu, ataupun silikon.

    Tenang saja, sedotan ini biasanya sudah sepaket dengan wadah penyimpanan dan sikat pembersih khusus agar memudahkanmu dalam merawatnya.

    2. Wadah Tempat Makan

     

    Tempat makan yang terbuat dari plastik, stainless steel, keramik, ataupun kaca akan mengurangi sampah plastik sekali pakai.

    Selain ramah lingkungan, penggunaan produk tempat makan bisa menjaga kualitas makanan yang kita simpan. Hal paling penting adalah pilih kotak makan yang sudah bebas BPA.

    Selain itu, jika kamu suka menyimpan makanan ke dalam lemari pendingin, kamu bisa memilih produk tempat makan dengan tutup silikon agar kedap udara.

    3. Pembalut dari Kain atau Menstrual Cup

    Faktanya, sampah pembalut sekali pakai termasuk ke dalam sampah anorganik yang sulit terurai 100%. Untuk mengurangi sampah ini, kamu bisamenggunakan pembalut yang terbuat dari bahan kain dan menstrual cup.

    Selain ramah lingkungan, pembalut bahan kain biasanya terbebas dari zat kimia, sehingga bisa menjadi solusi bagi wanita yang kulitnya sangat sensitif. Namun, jangan lupa untuk selalu menjaga higienitas produk pembalut, ya.

    4. Tas Belanja Lipat

    Ataru Tas Belanja Lipat – Cokelat

    Penggunaan plastik secara berlebihan memang dapat membahayakan lingkungan, baik  kualitas air maupun kualitas tanah. Pasalnya, sampah plastik ini memiliki kandungan kimia yang sulit untuk terurai dan di daur ulang.

    Oleh sebab itulah hampir semua supermarket dan pasar tradisional meniadakan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan menggantinya dengan kantong belanja kanvas

    Kamu juga bisa membawa produk tas belanja lipat kemanapun kamu pergi. Selain muat lebih banyak, tas ini juga bisa kamu simpan dengan mudahnya ketika sudah tidak digunakan.

    5. Loofah atau Gambas Kering

    Loofah atau spons alami terbuat dari tanaman gambas yang dikeringkan sehingga lebih ramah lingkungan.

    Meskipun memiliki tekstur yang sedikit kasar dibandingkan bahan spons pada umumnya, loofah ini dapat mengangkat sel kulit mati dan membersihkan tubuh dengan lebih maksimal.

    Selain itu, kamu juga bisa menggunakannya sebagai pengganti spons cuci piring untuk membersihkan noda membandel yang menempel.

    6. Pencuci Piring dari Sabut Kelapa

    Salah satu produk ramah lingkungan yang bisa kamu jadikan sebagai pengganti spons cuci piring adalah sabut kelapa. Tenang saja, meskipun terlihat tipis dan sangat ramah lingkungan, produk ini juga memiliki daya bersih yang sama dengan spons biasa.

    Bila produk sabut kelapa sudah rusak, kamu bisa menjadikannya sebagai kompos tanpa perlu khawatir akan mencemari lingkungan.

    Selain itu, jika kamu merasa sabut kelapa sekarang sulit untuk ditemmukan, kamu juga bisa menggunakan spons dari sisal fiber sebagai alternatif.

    7. Tumbler

    Kamu sering takeaway atau membeli minuman kemasan? Untuk mengurangi sampah yang kamu hasilkan, lebih baik kamu mulai membawa botol minummu sendiri kemanapun kamu pergi.

    Selain menghemat biaya,  botol minum ini sudah food safe grade lagi lebih ramah lingkungan. Bahkan, ada juga botol minum dengan material tahan panas, seperti tumbler.

    Jadi, kamu bisa menikmati kopi dan teh hangat lebih lama.

    8. Sabun dan Shampo Bebas Karbon 

    Bila kamu memiliki kulit sensitif, gunakanlah pembersih tubuh ramah lingkungan seperti sabun atau shampo yang bebas karbon. Pasalnya, produk ini tidak mengandung senyawa kimia yang berbahaya.

    Agar lebih hemat biaya sekaligus membuat kamar mandi terlihat lebih estetik, kamu bisa menyiapkan dispenser sabun dan cukup diisi dengan sabun refill

    9. Set Alat Makan

    Produk ramah lingkungan berikutnya yang bisa kamu gunakan adalah set alat makan. Alih-alih menggunakan yang sekali pakai, lebih baik kamu membawa set alat makan sendiri dari rumah.

    Selain memiliki bahan yang lebih kokoh, bobotnya juga ringan dan memiliki bentuk yang praktis. Biasanya, set alat makan ini dijual lengkap dengan wadah penyimpanan sehingga  lebih higienis.

    Nah, itu dia berbagai produk ramah lingkungan untuk melengkapi keperluan rumah tanggamu. Kamu bisa mendapatkan produk ramah lingkungan tersebut melalui situs belanja online ruparupa.

  • Tika Bisono Ajak Anggota Iluni Tularkan Virus Peduli Lingkungan

    Foto: detiksaga.com

    7cloud.asia – Tika Bisono tak bisa menyembunyikan kegemasannya saat mengikuti diskusi untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Ikatan Alumni UI (Iluni) pada Sabtu (3/6/2023) di Kampus UI Depok, Jawa Barat. 

    Tanpa dipersilakan, Tika yang didapuk menjadi salah satu juri lomba terkait peringatan Hari Lingkungan Hidup ini langsung mengambil alih mic untuk bicara. 

    “Apa yang dibicarakan hari ini nothing, tak ada kemajuan berarti dalam aksi menyelamatkan lingkungan dibanding 30 tahun lalu,” ujar Tika tanpa tedeng aling-aling.

    Baca: Perlu tindakan nyata, bukan hanya kata-kata untuk hadapi perubahan iklim

    Kenapa Tika Bisono yang juga tercatat sebagai anggota Iluni dari Fakultas Psikologi UI bisa gemas terhadap paparan para narasumber di Hari Lingkungan Hidup ini?

    Karena ia menilai, apa yang dibicarakan oleh para pembicara di Hari Lingkungan Hidup lebih banyak pada kebijakan dan teori di atas kertas. 

    Anggota Iluni yang juga dikenal sebagai penyanyi tenar di tahun 90an ini menegaskan, untuk melestarikan lingkungan langkah nyata jauh lebih penting.

    Baca: Simak aneka produk ramah lingkungan berikut ini

    Tika Bisono yang sejak lama dikenal sebagai pencinta lingkungan ini, mengatakan semua kebijakan tidak ada artinya jika tidak penerapannya nol besar.

    Telah dilakukannya untuk ikut aktif dalam melestarikan lingkungan. Selain mengajak anak muda untuk memunguti sampah di Gunung Gede, ia juga coba memediasi Pemprov DKI Jakarta-Pemkot Bekasi dan sebuah perusahaan di Jerman soal pengolahan sampah di Jakarta.

    Namun sayangnya hingga kini tak kelanjutan apalagi realisasinya. 

    “Untuk melestarikan lingkungan dibutuhkan perubahan perilaku baik dari masyarakat, pengambil kebijakan, maupun pelaku usaha,” tandasnya di depan ratusan anggota Iluni.

    Baca: Berbagai produk isi ulang dari Siklus

    Untuk itu, Tika Bisono menegaskan, pentingnya psikolog dilibatkan dalam pengambilan kebijakan untuk melestarikan lingkungan. 

    “Harus ada intervensi untuk mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan lingkungan,” ujarnya.

    Tika yang saat muda hobi naik gunung ini lantas memaparkan bahwa intervensi itu harus dilakukan secara masif dan dikenalkan pada anak sejak dini.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing perubahan iklim

    Tika lantas memaparkan bagaimana menularkan rasa peduli lingkungan yang bisa diawali dengan membuang sampah di tempatnya. 

    Kemudian secara bertahap dengan cara memilah sampah, mengolah sampah dan akhirnya mengurangi sampah dengan cara cerdas dalam mengonsumsi.

    Tak hanya itu, Tika juga menyebarkan virus untuk lebih mencintai tanaman. 

    ”Orang semakin sadar kalau mencintai tanaman juga ada kegunaannya. Tanaman memberi oksigen yang kita butuhkan. Hal itu hanya bisa dilakukan kalau kita mau menanam tanaman. Sekecil apa pun rumahnya. Enggak ada cerita deh rumah lahannya enggak cukup. Pokoknya harus ditanami,” tutur Tika Bisono mengingatkan.