Tag: lingkungan

  • Yuk, Beralih ke Kendaraan Listrik Demi Lingkungan dan Keuangan Negara

    Yuk, Beralih ke Kendaraan Listrik Demi Lingkungan dan Keuangan Negara

    7cloud.asia – Pemerintah saat ini intensif mendorong penggunaan kendaraan listrik baik motor listrik maupun mobil listrik dengan memberikan insentif pajak bagi pembeli kendaraan listrik.

    Bagi pembeli motor listrik, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp 7 juta rupiah per unit. Sementara untuk pembelian mobil listrik pemerintah menggelontorkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).

    Kebijakan pemerintah menggelontorkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) terhadap pembelian kendaraan listrik baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat (mobil dan bus) memberi dua manfaat.

    Insentif untuk pembelian kendaraan listrik ini, selain bisa mengurangi polusi udara dan menyelamatkan kondisi lingkungan, juga dapat meringankan keuangan negara.

    Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Hageng Suryo Nugroho mengungkapkan, kehadiran kendaraan listrik diharapkan secara bertahap menggantikan penggunaan kendaraan konvensional yang menyumbang hampir 80 persen emisi karbon di Indonesia.

    Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memenuhi Net Zero Emission pada 2060. Sehingga transisi ke kendaraan listrik yang rendah emisi diharapkan dapat mendorong tercapainya target ini.

    “Hal ini yang membuat pemerintah sangat gencar mendorong migrasi kendaraan konvensional ke kendaraan listrik,” kata Hageng, di gedung Bina Graha Jakarta, Selasa (4/4/2023) lalu.

    Ia menambahkan, percepatan migrasi kendaraan bermotor berbahan bakar fosil (bensin dan solar) ke kendaraan listrik juga akan menekan uang yang harus dikeluarkan pemerintah untuk impor bahan bakar minyak (BBM).

    Disebutkan, saat ini impor BBM mencapai lebih dari separuh dari total kebutuhan konsumsi dalam negeri, yakni 1,6 juta barel per hari. Impor BBM saat ini mencapai 1 juta barel per hari.

    Jika asumsi harga minyak dunia USD 80 dolar, jelas Hageng, maka uang negara yang digunakan untuk impor BBM mencapai Rp 1,2 triliun per hari. Angka ini bisa dikurangi dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik itu.

    “Ketika harga minyak dunia bergejolak tentu besarnya volume impor BBM akan memberi tekanan yang besar terhadap APBN. Ini harus diselamatkan,” ujarnya.

    Menurut Hageng, percepatan migrasi kendaraan konvensional ke kendaraan listrik bisa dilakukan jika masyarakat sebagai konsumen perorangan mampu membeli kendaraan listrik dengan harga terjangkau.

    Untuk itulah, maka pemerintah memberikan insentif PPN DTP pembelian kendaraan listrik, baik motor listrik maupun mobil listrik dan bus listrik.

    Hal itu, sambung dia, telah diatur di dalam Perpres No 55/2019 tentang Percepatan Program KBLBB untuk Transportasi Jalan. Yakni, pemberian fasilitas APBN untuk mendukung percepatan penggunaan KBLBB.

    “Butuh tiga tahun bagi pemerintah untuk merumuskan aturan turunannya dan merealisasikan subsidi pembelian KBLBB dengan skema insentif PPN DTP,” tutur Hageng.

    Untuk diketahui, per 1 April 2023 pemerintah menetapkan pemberian insentif PPN DTP untuk KBLBB kendaraan listrik roda empat dan bus. Hal ini tertuang dalam PMK No 38/2023 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan KBLBB roda empat tertentu dan KBLBB bus tertentu yang ditanggung pemerintah tahun anggaran 2023.

    Pemberian insentif PPN DTP terhadap pembelian KBLBB roda empat dan bus yang memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 persen, maka akan diberikan PPN DTP sebesar 10 persen. Sehingga PPN yang harus dibayar hanya 1 persen.

    Sementara, KBLBB bus dengan nilai TKDN 20 – 40 persen akan diberikan PPN DTP sebesar 5 persen. Sehingga PPN yang harus dibayar hanya 6 persen.

    Hageng Tenaga Ahli Bidang Energi KSP ini menilai, syarat TKDN merupakan elemen penting untuk memastikan peran Indonesia sebagai pemain utama kendaraan listrik, bukan hanya target pasar.

    “Jangan sampai pasar kendaraan listrik dalam negeri dikuasai produk impor dan perusahaan asing. Industri otomotif kita harus bertransformasi menjadi industri yang berdaulat,” tegasnya.

    Pada kesempatan itu, Hageng meyakini pemberian insentif PPN DTP terhadap pembelian KBLBB kendaraan listrik roda empat dan bus akan berdampak luas bagi industrialisasi tidak hanya hilir namun juga di hulu.

    Di mana peningkatan permintaan akan memacu produsen kendaraan listrik di dalam negeri yang ujungnya berimbas pada penyerapan tenaga kerja dan penerimaan negara.

    “Semua dampak yang ditimbulkan akan better off (lebih baik) bagi pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.

     

  • WHO: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini di Seluruh Dunia

    WHO: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini di Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sedikitnya 7 juta orang mengalami kematian dini per tahun, termasuk sekitar 600.000 anak di bawah usia 15 tahun akibat dari polusi udara.

    Jumlah ini tanpa memperhitungkan jutaan yang menderita penyakit kronis terkait polusi udara.

    Polusi udara perlu mendapat perhatian serius. WHO menyebut, saat ini hanya kurang dari satu persen manusia di planet Bumi menghirup udara yang memenuhi pedoman kualitas udara yang ditetapkannya.

    Polusi udara sangat besar pengaruhnya pada kesehatan masyarakat global, ekonomi, pertanian, keanekaragaman hayati, lingkungan dan krisis iklim yang mempengaruhi dan membutuhkan perhatian mendesak dari semua sektor masyarakat.

    Buktinya sangat banyak dari paparan polusi udara yang berdampak buruk pada kesehatan semua orang, terutama kelompok rentan yaitu perempuan hamil, orang tua dan anak-anak.

    Kemudian, yang memiliki masalah kesehatan mendasar dan terutama anak-anak prenatal (sebelum lahir), hingga neonatus (bayi yang baru lahir) dan bayi selama tahap perkembangan.

    Karena itu, sejumlah ilmuwan WHO, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) telah berkumpul untuk menyoroti masalah kritis yang mempengaruhi polusi udara di dunia.

    Polusi udara juga sangat besar pengaruhnya bagi ekosistem. Deposisi belerang dan nitrogen dapat mengakibatkan pengasaman dan eutrofikasi (diperkaya secara berlebihan dengan nutrisi) sistem udara.

    Selanjutnya kerusakan Ozon troposfer dapat berdampak negatif pada ekosistem yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan berdampak negatif pada pertumbuhan dan vitalitas tanaman.

    Baca: Ini alasan untuk segera beralih ke kendaraan listrik

    Polusi udara yang mengakibatkan kerusakan ozon juga berdampak negative bagi kemampuan tanaman melakukan fotosintesis, menjaga keseimbangan udara, proses pembungaan, serta kemampuan vegetasi untuk menyerap karbon.

    Daftar Merah Spesies Terancam

    IUCN memasukkan klasifikasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati termasuk sub-kelas untuk polutan yang terbawa udara.

    Untuk vertebrata darat saja, ada 7.427 spesies yang terancam kehidupannya akibat polusi udara. Dari angka tersebut, 1.181 di antaranya diklasifikasikan sebagai terancam oleh polusi udara dan 64 secara khusus diklasifikasikan sebagai terancam oleh polutan yang terbawa udara.

    Paparan ozon juga dapat menyebabkan penurunan hasil tanaman utama antara 1 – 15 persen dan mempengaruhi kandungan nilai gizinya.

    Studi terbaru menunjukkan bahwa peningkatan karbon di atmosfer akibat polusi udara berdampak negatif pada kualitas nutrisi makanan yang dihasilkan alam.

    Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2006, memperkirakan bahwa kerugian ekonomi tahunan akibat dampak ozon pada 23 tanaman mencapai 26 miliar dolar AS.

    Polusi udara bahkan dapat berdampak pada sistem udara ketika konsentrasi polutan yang berbahaya menumpuk atau dengan mengurangi kemampuan vegetasi untuk menyaring sistem udara.

    Polusi udara juga berdampak pada biaya ekonomi tinggi bagi manusia. Saperti misalnya, karena kehilangan pekerjaan atau hari sekolah karena penyakit kronis seperti asma, meningkatnya biaya perawatan kesehatan, berkurangnya hasil panen, dan berkurangnya daya saing kota-kota yang terhubung secara global.

    Sebuah studi Bank Dunia pada tahun 2021, menemukan bahwa biaya ekonomi dari dampak kesehatan dari polusi udara saja mencapai 8,1 triliun dolar AS. Angka ini setara dengan 6,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2019.

    Dampak terbesar dari polusi udara terutama dirasakan di daerah terdekat dengan sumber emisi. Namun demikian, banyak polutan udara dapat menyebar atau terbentuk di atmosfer ratusan hingga ribuan kilometer dari sumber emisi. Kondisi ini menyebabkan dampak regional dan kontinental.

    Misalnya, debu mineral tanah dan pasir, yang membentuk sekitar 40% dari total aerosol di atmosfer yang lebih rendah, dapat tetap berada di atmosfer selama seminggu sehingga memungkinkannya untuk terbawa angin melintasi benua dan memiliki dampak global pada kesehatan, pertanian, transportasi, ekonomi, dan iklim dunia.

    Akhirnya, polusi udara sangat terkait dengan perubahan iklim, dengan banyak gas rumah kaca dan polutan udara yang dipancarkan oleh sumber yang sama.

    Ini berarti bahwa penerapan kebijakan dan tindakan yang koheren yang bertujuan untuk mengurangi emisi polutan juga dapat memberikan dampak yang menguntungkan pada kualitas udara.

    Sebaliknya, kebijakan ini juga dapat memperburuk satu sama lain dalam berbagai cara.

    Naiknya suhu Bumi akibat polusi udara dapat mengakibatkan peningkatan frekuensi kebakaran hutan, yang pada gilirannya mengakibatkan peningkatan kadar partikulat udara yang mengandung beberapa polutan udara lainnya,

    Hal ini terutama ozon dan karbon hitam (komponen PM 2.5) yang dapat mengubah pola cuaca dan berkontribusi terhadap pemanasan global, terutama di daerah yang tertutup es dan salju.

    Kabar baiknya, meskipun kompleks dan membutuhkan respons pemerintah yang terkoordinasi, polusi udara merupakan ancaman yang dapat dicegah dan dikelola. Sementara ini polusi udara memang belum terpecahkan di wilayah mana pun, dengan masalah yang terburuk ditemukan di kawasan perkotaan dan kawasan industri di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

    Banyak kota dan negara di seluruh dunia telah menunjukkan penurunan emisi dan konsentrasi polutan yang luar biasa di mana kebijakan, peraturan yang kuat dan sistem pemantauan telah diterapkan.

    Tapi polusi udara tidak mengenal batas kota atau nasional. Udara yang kita hirup benar-benar menghubungkan kita semua mengatasi ancaman ini secara berkelanjutan, Untuk mengatasi polusi udara ini dibutuhkan tindakan dan kerja sama di semua skala di seluruh dunia.

    Selain itu, negara-negara di seluruh dunia perlu saling berbagi informasi, guna mengidentifikasi kesenjangan dalam pengetahuan dan bertindak bersama mendorong lembaga yang mereka wakili untuk mengoordinasikan upaya pencegahan di skala nasional agar lebih cepat mengurangi ancaman polusi udara.

    Untuk itu, kepala ilmuwan di UNEP, WHO, IUCN, dan WMO akan berkontribusi pada pendekatan yang lebih terintegrasi dan berbasis sistem untuk mengatasi polusi udara dengan bekerja sama lebih erat di tingkat internasional untuk memahami skala masalah.

    Sebelumnya, dalam peringatan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru (International Day of Clean Air for blue skies) pada 7 September 2022,Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengatakan polusi udara tidak mengenal batas. Untuk itu negara-negara di dunia harus bekerja sama dalam mengatasi polusi udara.

    Udara kotor telah mempengaruhi 99 persen orang di planet Bumi. Di mana, orang miskin paling menderita dan merasakan dampaknya. Dari kelompok miskin ini, perempuan dan anak perempuan yang paling menderita karena harus memasak dan memanaskan dengan bahan bakar kotor.

    Sehubungan dengan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru Giterres menjelaskan bahwa pada bulan Juli 2022, negara-negara dunia telah mengakui hak universal untuk lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.

    Udara bersih kini menjadi hak asasi manusia. Iklim yang stabil adalah hak asasi manusia. Begitupula dengan alam yang sehat bebas dari polusi udara adalah hak asasi manusia.

    Sumber: Unep.org

  • Sisa Perayaan Lebaran yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    Sisa Perayaan Lebaran yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Hari raya Idul Fitri atau Lebaran tinggal menghitung hari. Dalam beberapa hari terakhir masyarakat disibukkan dengan tradisi mudik yang diperkirakan melibatkan jutaan orang. Sebuah aktifitas yang cukup masih dan punya dampak besar pada lingkungan.

    Masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri atau Lebaran dengan kegiatan saling berkunjung ke rumah kerabat maupun teman untuk saling memaafkan.

    Semarak Lebaran juga berlangsung sejak beberapa hari sebelum dan setelahnya, misalnya aktivitas pemudik yang memadati jalanan ataupun transportasi umum. Beberapa daerah turut mengadakan pesta kembang api pada semalam sebelum Idulfitri untuk menandai Ramadan yang berakhir.

    Sayangnya di balik kesemarakan ini, Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas menyambut Idul Fitri atau  Lebaran lebih ramah lingkungan sehingga sesuai dengan tujuan hakikinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian.

    Baca: Tips Mudik Ramah Lingkungan

    Berikut beberapa cara perayaan Lebaran yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan.

    1. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan. Arab Saudi menempati peringkat pertama. Amerika Serikat peringkat ketiga.

     

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah Indonesia. Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5% dari produk domestik bruto Indonesia.

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut. Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya. Ada juga karena perilaku belanja berlebihan, ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye.

    Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

    2. Penggunaan kendaraan pribadi

    Ancaman kedua terhadap lingkungan akibat perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan.

    Saat lebaran, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kemacetan tidak hanya terjadi di kota, tapi di banyak tempat di desa-desa. Arus mudik juga memindahkan polusi dari kota besar ke daerah pinggiran kota.

    Penggunaan alat transportasi secara masif dan bersamaan akan meningkatkan polusi udara dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan solar. Meski tak berlangsung lama, tren ini tetap membahayakan kesehatan maupun lingkungan..

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5).

    Keduanya berbahaya bagi kesehatan karena menyebabkan gangguan pernapasan, mengurangi angka harapan hidup, bahkan mengganggu kesehatan mental.

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana yang bisa memperparah perubahan iklim.

    Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dengan menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan dan nyaman.

    Pemerintah seyogianya perlu mengurangi perhatian terhadap produsen kendaraan pribadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi, tapi mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Pemerintah pusat maupun daerah perlu merumuskan aturan jelas mengenai transportasi publik dan kenyamanan masyarakat. Harapannya, momen hari raya menjadi momentum perubahan perilaku ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    3. Limbah pakaian

    Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan baju baru. Tek heran jika kemudian dikenal istilah baju Lebaran.

    Survei oleh perusahaan riset dan polling global, YouGov, pada 2022 menyatakan 81% masyarakat Indonesia menggunakan uang tunjangan hari raya atu THR mereka untuk membeli baju baru.

    Pusat-pusat perbelanjaan, platform e-commerce, ataupun toko pakaian acap memanfaatkan momen ini dengan mengobral diskon. 

    Namun, di tengah kondisi iklim yang berubah dan situasi pencemaran di Indonesia saat ini, kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    Tradisi baju baru dapat mengarah pada penumpukan sampah. Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Di Indonesia, limbah tekstil mencapai jutaan ton setiap tahun. Aktivitas produksi juga masih mengotori sungai-sungai di tanah air, seperti Sungai Citarum di Jawa BaratSungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, dan Sungai Brantas di Jawa Timur.

    4. Kembang api

    Perayaan dengan petasan dan kembang api sering kali membuat masyarakat takjub, tapi hal ini bersifat semu. Sebab, rasa ini hanya berlangsung sebentar dibandingkan kerusakan lingkungan jangka panjang yang ditimbulkan.

    Petasan dan kembang api mengandung zat kimia seperti logam berat, karbon, mesiu dan bahan bahan kimia lainnya. Asap yang ditimbulkan dari petasan dan kembang api menimbulkan polusi dan membahayakan saluran pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar. Partikel-partikel petasan dan kembang api yang jatuh ke tanah dapat merusak tanaman dan mencemari air.

    Dampak lainnya dari kembang api adalah mengganggu kehidupan satwa liar terutama burung-burung dan satwa arboreal yaitu hewan yang tinggal di pohon-pohon.

    Gangguan suara yang ditimbulkan oleh petasan dan kembang api juga diderita oleh hewan domestik yang sensitif terhadap frekuensi suara, seperti anjing dan ayam.

    Idulfitri atau Lebaran adalah momentum kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan. Mari kita merayakan lebaran dengan berperilaku bijak, bukan hanya pada sesama manusia tapi juga pada alam semesta.

    Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli di sini

  • Sisa Perayaan Idul Fitri yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    Sisa Perayaan Idul Fitri yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Hari raya Idul Fitri atau Lebaran tinggal menghitung hari. Dalam beberapa hari terakhir masyarakat disibukkan dengan tradisi mudik yang diperkirakan melibatkan jutaan orang. Sebuah aktifitas yang cukup masih dan punya dampak besar pada lingkungan.

    Masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri atau Lebaran dengan kegiatan saling berkunjung ke rumah kerabat maupun teman untuk saling memaafkan.

    Semarak Lebaran juga berlangsung sejak beberapa hari sebelum dan setelahnya, misalnya aktivitas pemudik yang memadati jalanan ataupun transportasi umum. Beberapa daerah turut mengadakan pesta kembang api pada semalam sebelum Idulfitri untuk menandai Ramadan yang berakhir.

    Sayangnya di balik kesemarakan ini, Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas menyambut Idul Fitri atau  Lebaran lebih ramah lingkungan sehingga tujuan hakikinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian benar-benar terwujud.

    Baca: Tips Mudik Ramah Lingkungan

    Berikut beberapa cara perayaan Lebaran yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan.

    1. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan. Arab Saudi menempati peringkat pertama. Amerika Serikat peringkat ketiga.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah Indonesia. Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5% dari produk domestik bruto Indonesia.

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut. Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya. Ada juga karena perilaku belanja berlebihan, ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye.

    Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

    2. Penggunaan kendaraan pribadi

    Ancaman kedua terhadap lingkungan akibat perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan.

    Saat lebaran, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kemacetan tidak hanya terjadi di kota, tapi di banyak tempat di desa-desa. Arus mudik juga memindahkan polusi dari kota besar ke daerah pinggiran kota.

    Penggunaan alat transportasi secara masif dan bersamaan akan meningkatkan polusi udara dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan solar. Meski tak berlangsung lama, tren ini tetap membahayakan kesehatan maupun lingkungan..

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5).

    Keduanya berbahaya bagi kesehatan karena menyebabkan gangguan pernapasan, mengurangi angka harapan hidup, bahkan mengganggu kesehatan mental.

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana yang bisa memperparah perubahan iklim.

    Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dengan menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan dan nyaman.

    Pemerintah seyogianya perlu mengurangi perhatian terhadap produsen kendaraan pribadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi, tapi mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Pemerintah pusat maupun daerah perlu merumuskan aturan jelas mengenai transportasi publik dan kenyamanan masyarakat. Harapannya, momen hari raya Idul Fitri menjadi momentum perubahan perilaku ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    3. Limbah pakaian

    Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan baju baru. Tek heran jika kemudian dikenal istilah baju Lebaran.

    Survei oleh perusahaan riset dan polling global, YouGov, pada 2022 menyatakan 81% masyarakat Indonesia menggunakan uang tunjangan hari raya atu THR mereka untuk membeli baju baru.

    Pusat-pusat perbelanjaan, platform e-commerce, ataupun toko pakaian acap memanfaatkan momen ini dengan mengobral diskon. 

    Namun, di tengah kondisi iklim yang berubah dan situasi pencemaran di Indonesia saat ini, kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    Tradisi baju baru dapat mengarah pada penumpukan sampah. Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Di Indonesia, limbah tekstil mencapai jutaan ton setiap tahun. Aktivitas produksi juga masih mengotori sungai-sungai di tanah air, seperti Sungai Citarum di Jawa BaratSungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, dan Sungai Brantas di Jawa Timur.

    4. Kembang api

    Perayaan dengan petasan dan kembang api sering kali membuat masyarakat takjub, tapi hal ini bersifat semu. Sebab, rasa ini hanya berlangsung sebentar dibandingkan kerusakan lingkungan jangka panjang yang ditimbulkan.

    Petasan dan kembang api mengandung zat kimia seperti logam berat, karbon, mesiu dan bahan bahan kimia lainnya. Asap yang ditimbulkan dari petasan dan kembang api menimbulkan polusi dan membahayakan saluran pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar. Partikel-partikel petasan dan kembang api yang jatuh ke tanah dapat merusak tanaman dan mencemari air.

    Dampak lainnya dari kembang api adalah mengganggu kehidupan satwa liar terutama burung-burung dan satwa arboreal yaitu hewan yang tinggal di pohon-pohon.

    Gangguan suara yang ditimbulkan oleh petasan dan kembang api juga diderita oleh hewan domestik yang sensitif terhadap frekuensi suara, seperti anjing dan ayam.

    Idulfitri atau Lebaran adalah momentum kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan. Mari kita merayakan lebaran dengan berperilaku bijak, bukan hanya pada sesama manusia tapi juga pada lingkungan dan alam semesta.

     Selamat merayakan hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli di sini

  • Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    7cloud.asia – Pernahkan kamu mengkaji bagaimana kamu menjalani gaya hidup mu selama ini? Konsumtif kah atau mengonsumsi secukupnya. 

    Ya, tanpa sadar makin banyak orang yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif baik karena pengaruh lingkungan sekitar ataupun media massa. Padahal, dalam jangka panjang gaya hidup konsumtif bisa membuat sengsara hidup kamu. 

    Menurut KBBI, konsumtif adalah kata sifat yang berarti sesuatu yang bersifat konsumsi semata, hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Gaya hidup konsumtif adalah perilaku yang berlebihan dalam mengonsumsi dan membeli barang, meski barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

     

    Dengan kata lain, gaya hidup konsumtif adalah perilaku atau gaya hidup individu yang senang membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang matang dengan mengabaikan kegunaannya.

     

    Selain itu, gaya hidup konsumtif juga bisa diartikan sebagai sebuah tindakan menggunakan suatu produk secara tidak tuntas. Hal ini berarti bahwa belum habis sebuah produk digunakan, seseorang telah membeli produk lain dengan fungsi yang sama.

    Beberapa produk yang masuk ke dalam gaya hidup konsumtif ini adalah kebutuhan skunder seperti pakaian, sepatu, aksesoris dan lain-lain.

    Sedangkan, pola hidup konsumtif adalah gambaran pola hidup seseorang yang hanya dikendalikan dan didorong oleh keinginan untuk memenuhi kesenangan semata.
     
     
    Ada banyak contoh gaya hidup konsumtif yang terkadang tidak kamu sadari, seperti membeli baju, tas, jam tangan atau sepatu secara berlebihan meski sudah memiliki barang tersebut. Sehingga, baju, tas, jam tangan atau sepatu hanya akan menumpuk dan tidak terpakai sama sekali.
     
    Contoh lain gaya hidup konsumtif yang paling sering terjadi adalah membeli barang branded hanya untuk meningkatkan status sosial. Lantas apa dampak gaya hidup konsumtif dan mengapa gaya hidup ini disorot? 
     
    Gaya hidup konsumtif tak hanya berdampak pada kondisi keuangan dan kesehatan mental seseorang, tapi juga berdampak pada kelestarian lingkungan. 
     
    Ini bisa dijelaskan sebagai berikut, dengan semakin banyak barang yang dibeli maka akan semakin banyak sumber daya alam yang diambil. Pembelian lebih banyak barang juga mengakibatkan lebih banyak sampah atau limbah yang harus dibuang. 
     
    Untuk urusan pakaian misalnya, pengikut gaya hidup konsumtif akan terus-menerus membeli pakaian baru dengan alasan malu untuk mengenakan pakaian yang sama dalam beberapa kali kesempatan.
     
     

    Sadar atau tidak, gaya hidup konsumtif akan mengakibatkan dampak yang besar bagi lingkungan. Limbah fashion nyatanya adalah penyumbang polusi terbesar kedua di dunia.

    Setiap tahun, setidaknya 92 juta ton sampah tekstil diproduksi dan dibuang ke alam. Sebagian dari limbah fashion itu dibuang begitu saja ke lautan sehingga mengakibatkan pencemaran air.
     
    Pencemaran air itu menyebabkan banyak ikan dan biota laut lainnya terkena mikroplastik. Mikroplastik tersebut bisa termakan oleh manusia secara tidak sengaja karena kita turut mengkonsumsi biota laut yang sudah tercemar itu.
     
    Produksi tekstil secara besar-besaran  juga mengakibatkan pencemaran di daratan. Studi yang dilakukan oleh Pusat Riset Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bulan Februari 2023, menemukan sebanyak 70 persen bagian tengah Sungai Citarum tercemar mikroplastik, berupa serat benang polyester. 
     

    Kandungan mikroplastik mengancam kehidupan biota di Daerah Aliran Sungai Citarum. Kerusakan yang terjadi berupa kecacatan hingga kematian ikan dan kerang di Sungai Citarum. Selain itu, penggunaan air Sungai Citarum untuk mandi dan mencuci baju oleh warga sekitar juga berpotensi memunculkan berbagai penyakit.

    Baca: Tips mudik ramah lingkungan

     

    Gambaran di atas hanya ditimbulkan oleh gaya hidup konsumtif untuk urusan pakaian. Jika gaya hidup ini diterapkan di banyak bidang, bisa dibayangkan bagaimana dampak yang ditimbulkan jika gaya hidup konsumtif ini juga dilakukan untuk urusan makanan, asesorie, alat komunikasi, transportasi yang bendanya jauh lebih besar dan terbuat dari bahan yang tak mudah diurai. 

    Jadi mulai sekarang kaji gaya hidupmu, dan mulai tinggalkan gaya hidup konsumtif sebelum kamu terjebak lebih jauh di dalamnya. 

  • Aksi Keren Anak Muda Bandung Bernama Pandawara: Nyebur Sungai Angkut Sampah

    Aksi Keren Anak Muda Bandung Bernama Pandawara: Nyebur Sungai Angkut Sampah

    7cloud.asia – Pandawara. Demikian lima anak muda asal Jalan Caringin, Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat ini menamai geng atau komunitasnya.

    Lima anak muda keren yang bergabung dalam Pandawara itu adalah Muchamad Ikhsan, Gilang Rahma, Agung Permana, Rafly Pasya, dan Rifki Sa’dula. Usia mereka rata-rata di usia awal 20an.

    Aksi Pandawara nggak tanggung-tanggung. Mereka nggak segan nyemplung ke saluran air atau sungai yang mampet untuk memunguti sampah-sampah yang menyumbat sungai tersebut.

    Bahkan tak jarang personel Pandawara nyemplung ke septic tank. Dan semua itu dilakukan dengan sukarela. Keren banget bukan?

    Pandawara yang berdiri pada 2022 ini punya tujuan besar, yakni ingin mengajak semua anak muda di Indonesia untuk peduli pada lingkungan. Aksi nyata yang dikampanyekan Pandawara adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan dan mau membersihkan sampah di depan matanya.

    “Ini jadi habit (kebiasaan) agar kita bisa menjaga lingkungan untuk bisa memperluas biar anak muda bisa mengikuti apa yang Pandawara lakukan, bahwa mengambil sampah itu gak sebosan apa yang dilihat, menjaga lingkungan juga bisa keren,” ungkap Muchamad Ikhsan seperti dikutip detik.com.

    Baca: Teba, kearifan warga Bali dalam mengelola sampah rumah tangga

    Kiprah Pandawara bermula pada pertengahan 2022 lalu. Kelima pemuda yang merupakan teman satu kompleks ini mengaku sering menjadi korban banjir kala hujan lebat mengguyur kota Bandung.

    “Pandawara ini terbentuk dari perkumpulan teman-teman SMA, inisiasinya karena kita terdampak dulu si, karena emang wilayah kita di Bandung suka banjir dan kita berlima mencari penyebab masalahnya apa sih bisa banjir,” kata Muchamad Ikhsan. 

    Awak Pandawara merasa risih saat lagi nongkrong suka kebanjiran. Ikhsan melanjutkan, dari situ timbul ide ketimbang dibersihin setelah banjir mereka coba cari sebabnya. Ternyata banjir yang sering melanda lingkungan mereka akibat tumpukan sampah yang menyumbat saluran air. 

    “Setelah ditelusuri penyebabnya apa karena penyumbatan sampah di sungai,” ujarnya.

    Soal nama Pandawara, menurut Ikhsan diambil dari dua kata yaitu Pandawa dan Wara. 
    Pandawa yang dalam kisah pewayangan artinya berlima juga, waranya di berbagai bahasa artinya membawa berita baik. Jadi Pandawara berarti lima anak muda yang membawa berita baik gitu kali ya. 

    Baca : Kurangi limbah lewat thrifting

    Awalnya Pandawara tidak turun langsung ke dalam sungai untuk membersihkan sampah seperti yang dilakukan saat ini. Mereka tadinya hanya membersihkan sampah di sisi-sisi sungai.

    Namun rupanya hal itu tidak berdampak besar untuk mengatasi banjir yang sering terjadi di wilayahnya. Dari situlah, Ikhsan dan keempat rekannya di Pandawara memutuskan untuk terjun langsung ke sungai untuk mengangkut sampah yang menumpuk disana.

    “Untuk awalnya kita mengurangi sampah di pelataran sungai, tapi selama 10 bulan berjalan kita turun ke sungai yang emang sampahnya sudah numpuk, kita eksekusi dan alhamdulillah sampai sekarang berjalan,” ungkap Ikhsan.

    Baca: Cara masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    Dengan bermodalkan peralatan seadanya, kelima pemuda ini turun ke kubangan sungai yang sudah menghitam dipenuhi sampah. Bau tak sedap hingga hewan-hewan seperti lintah sudah menjadi hal yang biasa mereka rasakan tiap beraksi.

    “Mening kotor baju pas lagi kerja? Atau dapet uang kotor diluar amanat kerja?” demikian tulis Pandawara di akun Instagram mereka @pandawaragroup.

    Jargon itu yang membuat Pandawara tidak berhenti melakukan aksi untuk membuat sungai-sungai di Bandung bersih dari sampah. Kini mereka telah menggunakan perlengkapan yang lebih memadai dengan memakai sepatu boot, sarung tangan hingga alat pengait sampah.

    “Kita coba memperluas juga kegiatan kita dan setelah di sekitaran kita sudah aman, kita cari sungai lain yang sampahnya sudah darurat numpuk. Selain di Kopo, pernah di Rancaekek, tapi banyaknya di Bandung Selatan dari sungai besar kecil dan septic tank,” ujarnya.

    Berbagai jenis sampah pernah diangkut oleh Pandawara dari sungai-sungai yang mereka bersihkan. Mulai dari sampah plastik hingga sampah ‘raksasa’ seperti kasur dan lemari.

    “Random ya, kalau nemu sampah itu di sungai ada sofa, kasur dan bongkahan lemari juga ada,” ucap Ikhsan.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Kepedulian Pandawara pada kebersihan lingkungan ini mendapat sorotan publik dan membuat Pandawara menjadi viral di sosial media. Saat ini akun medsos Pandawara telah memiliki jutaan follower dan aksi mereka menginspirasi banyak orang.

    Untuk mengajak lebih banyak orang melakukan hal yang sama, Pandawara juga sengaja membuat konten yang diunggah ke akun TikTok, Instagram hingga Youtube. 

    Aksi Pandawara dengan membuat konten bersih-bersih sungai banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Pandawara dianggap mampu menginspirasi anak muda dengan aksi menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.

    Jadi teruslah berkarya nyata Pandawara. Buat kamu yang membaca, semoga tergerak mengikuti aksi nyata Pandawara, setidaknya dengan mengurangi produksi sampah dan tidak membuang sampah sembarangan.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    https://waste4change.com/blog/pandawara-group-pemuda-inspiratif-penggiat-bebersih-sungai/

    https://www.detik.com/jabar/jabar-gaskeun/d-6496221/pandawara-group-lima-sahabat-menerjang-sungai-demi-pungut-sampah

  • Dear Anak Muda, 6 Gaya Hidup Tak Ramah Lingkungan Ini Layak Ditinggalkan

    Dear Anak Muda, 6 Gaya Hidup Tak Ramah Lingkungan Ini Layak Ditinggalkan

    7cloud.asia – Pernahkah kamu merenungkan apa dampak gaya hidup yang kamu jalani bagi lingkungan? Berapa banyak yang telah kau ambil dari lingkungan? Berapa banyak limbah atau sampah yang setiap hari kita hasilkan dan mengotori lingkungan?

    Memang tanpa sadari gaya hidup kita ternyata punya banyak dampak buruk bagi lingkungan. Kita sering mengambil terlalu banyak dari yang kita butuhkan, dan membuang terlalu banyak sampah yang mengotori lingkungan tanpa kita pernah melakukan sesuatu untuk lingkungan. 

    Dalam artikel ini, kami ingin mengajak kamu untuk mulai peduli pada lingkungan dan mulai memperhatikan gaya hidup kita agar lebih ramah lingkungan. 

    Berikut adalah beberapa gaya hidup yang kurang ramah lingkungan yang sebaiknya segera kamu tinggalkan:

    1. Penggunaan plastik sekali pakai

    Plastik kini menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, padahal plastik sudah terbukti tidak ramah lingkungan. Ini karena plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. 

    Dan limbah dari plastik sekali pakai memicu banyak masalah bagi lingkungan. Limbah plastik yang mencemari laut mengancam kelangsungan hidup binatang laut. Jika dibakar, limbah plastik akan menghasilkan gas berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.

    Baca: Cara bijak mengelola sampah

    2. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan di bawah Arab Saudi dan di atas Amerika Serikat.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SISPN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah di Indonesia.  

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut.
     
    Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga memicu produksi gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

     

    3. Penggunaan kendaraan pribadi

    Penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil yang berlebihan akan memicu polusi udara. 

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5) yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan. 

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana atau yang dikenal denga gas rumah kaca yang bisa mempercepat perubahan iklim. 

    Penggunaan kendaraan pribadi secara berlebihan juga memicu kemacetan di banyak kota besar, 

     

    4.  Fast fashion  

    Banyak orang enggan menggunakan pakaian yang sama dalam kesempatan berbeda. Kebiasaan mengenakan baju baru dalam kesempatan yang berbeda bisa memicu penumpukan sampah.

    Dilansir di The Conversation, Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Sehingga di tengah kondisi iklim yang berubah kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    5. Boros energi

    Boros energi juga masuk dalam kategori gaya hidup tak ramah lingkungan, karena dalam setiap energi yang kita gunakan ada emisi karbon atau gas rumah kaca yang dilepas ke alam yang selanjutnya akan mempengaruhi lingkungan.

    Jadi mulai sekarang, matikan listrik saat tidak digunakan. Gunakan air secukupnya dan matikan kran saat tidak digunakan. Dan cobalah mencari cara yang lebih ramah lingkungan.  

    6. Konsumsi daging secara berlebihan

    Mungkin kamu nggak mengira kalau gaya hidup yang satu ini nggak ramah lingkungan. Namun, tahukah kamu bahwa industri peternakan menyumbang gas metana dalam jumlah yang cukup besar?

    Gas metana sendiri merupakan gas rumah kaca yang paling banyak diproduksi di dunia dan menyebabkan pemanasan global. Gas metana dihasilkan dari kotoran hewan dan fermentasi enternik.

    Semakin banyak kebutuhan akan daging hewan, maka semakin banyak pula hewan yang dipelihara dan menyebabkan jumlah gas metana kian meningkat.

    Gas metana dari sapi mencapai 14,5 persen dari total emisi gas rumah kaca di dunia. Padahal, metana mempertipis lapisan ozon yang melindungi bumi, sehingga suhu bumi perlahan-lahan meningkat.

     

  • Kondisi Lingkungan Besar Pengaruhnya Bagi Penderita Asma, Begini Saran Dokter

    Kondisi Lingkungan Besar Pengaruhnya Bagi Penderita Asma, Begini Saran Dokter

    7cloud.asia – Kondisi lingkungan yang sehat menjadi faktor penting bagi penderita asma agar penyakitnya tidak mudah kambuh.

    “Sebelum obat-obatan, kita harus lihat dulu lingkungan sekitarnya (sehat atau tidak) untuk menyembuhkan pasien asma,” kata Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr. H. Mohamad Yanuar Fajar, Sp.P, FISR, FAPSR, MARS dalam acara temu media di Jakarta, Rabu (10/5/2023).

    Yanuar mengatakan mewujudkan lingkungan sehat bagi pengidap asma, terutama yang masih anak-anak, bisa dimulai dari rumah. Di antaranya, dengan tidak memelihara hewan berbulu serta tidak boleh menyimpan banyak buku dan kardus di dalam kamar.

    “Debu (dari buku dan kardus) dapat masuk ke dalam saluran napas yang saat (asma) kumat menyebabkan terjadi kolonisasi di saluran napas yang menyebabkan pneumonia,” ujar Yanuar.

    Baca: Mengapa penggunaan ganja sebagai obat dilarang?

    Dilansir Antaranews.com, Yanuar juga menganjurkan untuk rutin mencuci dan mengganti gorden di rumah guna menghindari penumpukan debu. Selain itu, baju yang sudah diletakkan selama dua bulan di dalam lemari juga harus dicuci.

    Kemudian, AC juga sebaiknya rutin dibersihkan setidaknya tiga bulan sekali untuk bagian blower dan seminggu sekali untuk bagian dalamnya agar pasien asam tidak sering kambuh.

    “Kalau blower-nya boleh tiga bulan sekali, kalau bagian dalamnya seminggu sekali karena dia kan berputar sehingga debu-debu mengumpul,” ujar Yanuar.

    Yanuar melanjutkan, usahakan juga untuk tidak memelihara hewan berbulu di rumah. Sebab, bulu hewan bisa masuk ke saluran pernapasan dan memicu asma.

    Baca: Manfaat jalan kaki untuk kesehatan fisik dan mental

    Sedangkan mengenai lingkungan di luar rumah, Yanuar mengingatkan bahwa polusi udara seperti asap kendaraan di tengah hiruk-pikuk kemacetan di DKI Jakarta juga dapat memicu asma.

    Bahkan, menurut Yanuar, polusi udara juga dapat mengakibatkan penyakit saluran pernapasan yang lebih berbahaya seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

    PPOK dikatakan Yanuar hampir sama dengan asma. Hanya saja, PPOK semakin lama akan semakin memburuk, berbeda dengan asma yang dapat dikontrol.

    “Kalau di rumah sakit, dengan sangat bercanda dengan pasien, saya bilang satu-satunya jalan pindah kota,” kata Yanuar.

    Baca: Ini penyebab cuaca panas akhir-akhir ini

    Pada kesempatan yang sama, Yanuar juga mengingatkan bahwa pada sebagian orang, asma juga dapat dipicu oleh perubahan cuaca dan minuman yang dingin.

    “Saya paling sering mendengar ‘saya habis minum es, dok’. Es kan dingin, dingin memicu bronkokonstriksi, makanya saat musim hujan asma kambuh pada malam atau pagi hari karena saluran napasnya mengecil,” ujar Yanuar.

     

  • DPR: Harus Ada Insentif untuk Daerah Agar Mau Merawat Lingkungan Penghasil Oksigen

    DPR: Harus Ada Insentif untuk Daerah Agar Mau Merawat Lingkungan Penghasil Oksigen

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mendorong agar dalam revisi UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) dimasukkan klausul pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) yang bersumber dari APBN dari Pemerintah Pusat untuk daerah yang penghasil oksigen.

    Hal ini, menurut Dedi, sebagai insentif untuk daerah yang wilayahnya memiliki mayoritas wilayah hutan atau perkebunan agar mereka terdorong untuk merawat dan menjaga kondisi lingkungan di daerahnya yang berupa hutan dan perkebunan tersebut.  

    “Dari dana bagi hasil pajak ke daerah-daerah, kita buat pemimpin daerah itu bahagia merawat dan menjaga konservasi lingkungan. Ini hal yang harus dilakukan agar kita memiliki tujuan yang sama dalam merawat lingkungan ke depan untuk anak dan cucu kita,” ujar Dedi saat memimpin Tim Kunker Komisi IV DPR ke Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (11/5/2023).

    Baca: Pemerintah menataulang perdagangan karbon untuk maksimalkan pendapatan 

    Dedi lantas memaparkan kondisi Subang saat ini. Di mana aliran air yang berada dari dataran tinggi di sini itu kencang ke bawah, karena sudah tidak ada lagi penghalang dan airnya mulai tegerus ke daerah Sagalaherang bahkan sampai Purwakarta.

    “Sungai Cipunagara juga jumlah luapannya sangat tinggi karena penambangan liar sudah sangat luar biasa,” tandasnya.

    Legislator Dapil Jabar VII ini berharap, ke depan segera ada rencana yang memadai untuk melakukan recovery lingkungan.

    Ia menekankan, semua pihak pasti menginginkan ekonomi tumbuh dengan baik, tapi jangan pernah melupakan terjaganya konservasi. Terpeliharanya ekologi dan lingkungan yang tertata tetapi keindahannya tidak boleh hilang.

    Baca:  Dana loss n damage yang bisa didapat Indonesia akibat perubahan iklim

    Ia menegaskan, Subang harus menjadikan hancurnya kawasan Puncak Bogor dan rusaknya kawasan Bandung Utara sebagai pelajaran, agar hal yang sama tidak terjadi di Subang.

    “Menurut saya kerusakan itu tidak boleh bergeser ke sini di Kabupaten Subang. Saya yakin bisa dijaga mudah-mudahan karena Pak Bupati Subang itu latar belakangnya adalah orang pertanian,” harapnya.

    Politisi F-Golkar ini menambahkan, kalau Subang yang masuk wilayah selatan sudah berkembang dengan baik dengan menjaga alamnya, nanti dari wilayah utara yang sudah berubah peruntukkan menjadi pusat industri.

    Dengan demikian maka kesejahteraan para pekerja industri itu akan mengalir juga ke wilayah selatan Subang itu.

    “Tapi kalau selatan rusak, mereka buang uangnya akhirnya ke luar,” imbuhnya.

    Baca: Dua alasan untuk beralih ke mobil listrik

    Terkait wacana dana bagi hasil tersebut, Dedi mengatakan hal itu sudah dimasukkan dalam hasil keputusan Rapat Kerja Komisi IV.

    “Sehingga daerah seperti Tangkuban Perahu di Subang ini akan mendapatkan dana besar untuk pemeliharaannya,” tutupnya.

    Revisi Undang-undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) merupakan RUU inisiatif DPR. RUU ini saat ini sedang dibahas di DPR. 

    Baca: Polusi dan kenaikan suhu dorong penyebaran malaria

  • Peringatan Soal Perubahan Iklim Muncul Sejak 70 Tahun Silam

    Peringatan Soal Perubahan Iklim Muncul Sejak 70 Tahun Silam

     

    7cloud.asia – Beberapa waktu belakangan ini, kita dijejali dengan informasi mengenai perubahan iklim.

    Dari waktu ke waktu, kita begitu terbiasa menyaksikan beraneka tayangan tentang lingkungan yang menjadi bagian dari sejarah perubahan iklim. Mulai dari foto kebakaran hutan ataupun hewan yang dikremasi.

    Ada juga bongkahan es raksasa yang runtuh ke laut, hingga janji-janji pemimpin dunia bahwa mereka akan memperhatikan “peringatan terakhir” dari para ilmuwan terkait perubahan iklim.

    Orang-orang berusia di bawah 40 tahun mungkin tak mengingat masa ketika media-media belum memberitakan emisi CO2 yang terkait “efek rumah kaca”, “pemanasan global”, “perubahan iklim”, hingga istilah populer saat ini: krisis iklim.

    Pada musim panas yang panjang tahun 1988 atau 35 tahun silam menjadi momentum pemimpin dunia mulai membicarakan hal yang benar terkait perubahan iklim

    Calon Presiden Amerika Serikat saat itu (yang menjadi Presiden), George H.W. Bush, berjanji bakal menggunakan “Efek Gedung Putih” (kantor Presiden AS) untuk mengatasi “Efek gas rumah kaca” yang dipercaya memicu perubahan iklim. Namun janjinya tidak ditepati.

    Perdana Menteri Inggris kala itu, Margaret Thatcher, juga pernah mengingatkan bahwa Bumi sedang melakukan sebuah eksperimen besar terhadap sistemnya sendiri menghadapi perubahan iklim.

    Ucapan Bush dan Tatcher merupakan sejarah 35 tahun silam. Namun sebenarnya, 35 tahun sebelumnya (70 tahun dari bulan Mei ini)-–topik soal bahaya emisi CO2 di atmosfer yang bisa memicu perubahan iklim pertama kali menjelajahi dunia.

    Dampak CO2 yang memerangkap panas adalah hal biasa. Ilmuwan asal Irlandia, John Tyndall (yang menggambar karya seorang warga Amerika, Eunice Foote) menunjukkan bahwa dampak emisi CO2 sudah disinggung sejak pertengahan 1800-an.

    Pada 1895, peraih Penghargaan Nobel asal Swedia, Svante Arrhenius, mengemukakan bahwa—selama seratus tahun—-CO2 yang mengepul akibat pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas akan memerangkap panas yang bisa melelehkan tundra dan membuat musim dingin tinggal sejarah.

    Meski mendapatkan tentangan, karya Svante beberapa kali muncul di jurnal populer. Pada 1938, misalnya, teknisi mesin uap asal Inggris bernama Guy Callendar berkata di depan Royal Society di London (organisasi sains terkemuka di Inggris) bahwa pemanasan bumi tengah berlangsung yang bisa memicu perubahan iklim

    Hingga pada awal Mei 1953, dalam pertemuan para pakar geofisika di American Geophysical Union, fisikawan asal Kanada Gilbert Plass–yang sudah bertukar surat dengan Callendar–berkata di depan para ilmuwan bahwa petaka sedang berjalan.

    Baca: Kondisi lingkungan dan pengaruhnya pada pasien asma

    Plass berkata:

    Lonjakan aktivitas industri abad ini melepaskan begitu banyak CO2 ke atmosfer sehingga temperatur rata-rata naik 1,5°C per 100 tahun.

    Sentilan Plass lantas dikutip media Associated Press dan kantor berita lainnya serta tayang di berbagai koran di seluruh dunia (bahkan media di tempat yang jauh seperti Sydney Morning Herald). Tujuh hari berselang, Peringatan Plass juga muncul di dua majalah beken yakni Newsweek pada 18 Mei dan Time.

    Fakta bahwa dunia tengah menghangat saat itu bukanlah hal yang mengejutkan di kalangan ilmuwan. Namun, keterkaitannya dengan emisi CO2 inilah–sebagaimana dikatakan Plass–menjadikannya bernilai berita. Ucapan Plass juga sekaligus menentang teori lainnya yang mencoba menjelaskan kenaikan suhu bumi akibat guncangan orbit ataupun aktivitas bintik matahari (sunspot).

    Minat Plass mencari tahu soal CO2 muncul kala dia bekerja di Ford Motor Company. Dia melihat bahwa emisi CO2 di Bumi sebenarnya bukan cuma terkait muka air laut (tanpa penjelasan yang rumit).

    Banyak ilmuwan yang akhirnya mengabaikan karya Arrhenius karena berbasiskan kepercayaan palsu bahwa CO2 beraktivitas dengan pergerakan yang sama seperti di stratosfer.

    Plass terus meneliti persoalan ini. Dia menerbitkan berbagai publikasi teknis maupun popular selama dekade 1950-an. Pada 1956, dia menulis artikel ilmiah berjudul “Teori Karbon Dioksida Perubahan Iklim” yang diterbitkan jurnal ilmiah Tellus Swedia. Ada juga artikel populer yang terbit di media American Scientist. Dia juga menghadiri sejumlah pertemuan penting untuk mendiskusikan pembentukan karbon dioksida.

    Baca: Pemicu cuaca panas akhir-akhir ini

     
     
    Media The Irish Times mendiskusikan perubahan iklim pada 1954. Irish Times / allouryesterdays.info

    Teori karbon dioksida kemudian jadi bahan ulasan para ilmuwan maupun jurnalis. Salah satu di antaranya, George Wendt, menuliskan temuannya dalam media bereputasi, UNESCO Courier, dan disebarkan oleh media Irish Times pada 1954. Pada tahun yang sama, wartawan Inggris mulai menuliskan teori Plass.

    Pada 1957, majalah New Scientist menyinggung teori tersebut. Hingga pada akhir dekade 1950-an, hampir setiap pembaca koran akhirnya mengetahui gagasan Plass.

    Selama dekade 50-an dan 60-an, ilmuwan Swedia, Jerman, dan Uni Soviet, memeriksa persoalan CO2. Pada 1965, Presiden Lyndon Johnson bahkan menyinggung CO2 dalam pidatonya di hadapan Kongres AS.

    Pada akhir 1960-an, kolaborasi internasional akhirnya dimulai, meski membutuhkan banyak pemantauan. Misalnya, pada April 1969, ilmuwan AS Charles Keeling, yang mengukur konsentrasi CO2 di atmosfer di observatorium Hawaii, mengungkapkan bahwa dia diminta mengubah judul paparan kuliahnya dari “Jika CO2 dari bahan bakar fosil berdampak pada lingkungan, apa yang akan kita lakukan untuk mengubahnya?” menjadi “Apakah CO2 dari bahan bakar fossil berdampak pada lingkungan?”

     
    Plass mempromosikan teorinya di majalah Scientific American pada 1959. Scientific American (1959)

    Bagi sejarawan iklim seperti saya, dekade 1970-an adalah periode yang menarik dalam pengukuran yang intens, pemodelan, observasi, dan pemikiran terkait perubahan iklim. Pada akhir dekade itu, semuanya berkontribusi menghasilkan kesimpulan bahwa masalah serius sedang terjadi. Kerja keras Plass pun berhasil.

    Ketika Plass kembali bersuara, konsentrasi CO2 di atmosfer mencapai 310 parts per million (ppm). Saat ini konsentrasinya mencapai sekitar 423. Setiap tahun, saat kita terus membakar minyak bumi, batu bara, dan gas, konsentrasi CO2 naik sehingga panas semakin terperangkap di atmosfer.

    Pada waktu ketika peringatan Plass berusia seabad, konsentrasinya akan jauh lebih tinggi. Kemungkinan besar kita akan melampaui batas “aman” pemanasan suhu bumi sebesar 2°C.


     

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, baca artikel asli di sini