Tag: paus fransiskus

  • Paus Fransiskus dalam Kondisi Kritis, Perayaan Jubilee Berlangsung Tanpa Kehadirannya

    Paus Fransiskus dalam Kondisi Kritis, Perayaan Jubilee Berlangsung Tanpa Kehadirannya

    7cloud.asia – Vatikan dalam sebuah pernyataannya pada Sabtu (22/2/2025) menyebut, Paus Fransiskus berada dalam kondisi kritis akibat krisis pernapasan asma yang berkepanjangan sehingga membutuhkan aliran oksigen yang tinggi.

    Dalam laporan terbarunya, Vatikan mengatakan bahwa Paus Fransiskus, yang sudah dirawat di rumah sakit selama sepekan karena infeksi paru-paru yang kompleks, juga menerima transfusi darah setelah tes menunjukkan kondisi yang berkaitan dengan anemia.

    “Bapa Suci masih sadar dan menghabiskan hari itu di kursi dengan sandaran lengan meskipun rasa sakitnya lebih parah dibandingkan kemarin. Saat ini prognosisnya masih terbatas,” kata pernyataan itu.

    Sebelumnya, para dokter mengatakan bahwa Paus Fransiskus sedang berjuang melawan pneumonia dan infeksi pernapasan kompleks yang menurut dokter masih rentan dan akan membuatnya dirawat di rumah sakit setidaknya selama seminggu lagi.

    Sementara itu, Vatikan melanjutkan perayaan Tahun Suci pada Sabtu tanpa Paus.

    Dalam pemutakhiran singkat sebelumnya pada Sabtu, Vatikan mengatakan Paus Fransiskus tidur nyenyak semalaman.

    Namun dokter telah memperingatkan bahwa ancaman utama yang dihadapi Paus Fransiskus adalah timbulnya sepsis, infeksi serius pada darah yang dapat terjadi sebagai komplikasi pneumonia.

    Hingga Jumat (21/2/2025), tidak ada bukti adanya sepsis, dan Paus Fransiskus memberikan respons terhadap berbagai obat yang diminumnya, kata tim medis Paus dalam pemutakhiran mendalam pertama mengenai kondisi Paus.

    “Beliau belum lolos dari bahaya,” kata dokter pribadinya, Dr. Luigi Carbone. “Jadi, seperti semua pasien yang rentan, menurut saya mereka selalu berada dalam skala emas. Dengan kata lain, hanya dibutuhkan waktu yang sangat singkat untuk berubah menjadi tidak seimbang.”

    Paus, yang menderita penyakit paru-paru kronis, dirawat di Rumah Sakit Gemelli pada 14 Februari setelah penyakit bronkitisnya memburuk selama seminggu.

    Dokter pertama kali mendiagnosis infeksi saluran pernafasan yang kompleks akibat virus, bakteri dan jamur dan kemudian timbulnya pneumonia di kedua paru-paru. Mereka meresepkan “istirahat total” dan kombinasi kortison dan antibiotik, serta oksigen tambahan saat dia membutuhkannya.

    Sementara itu, para diakon sedang berkumpul di Vatikan untuk merayakan akhir pekan Jubilee khusus. Paus Fransiskus jatuh sakit pada awal Tahun Suci Vatikan, perayaan umat Katolik yang diadakan setiap seperempat abad sekali.

    Akhir pekan ini, Paus Fransiskus seharusnya merayakan para diakon, sebuah pelayanan di gereja yang mendahului penahbisan imamat.

    Sebagai gantinya, penyelenggara Tahun Suci akan merayakan Misa Hari Minggu, kata Vatikan. Dan untuk akhir pekan kedua berturut-turut, Paus Fransiskus diperkirakan akan melewatkan pemberkatan tradisional Minggu siang, yang bisa ia sampaikan dari Gemelli, jika ia sanggup

  • Paus Fransiskus Meninggal di Usia 88 Tahun: Dunia Kehilangan Tokoh Panutan

    Paus Fransiskus Meninggal di Usia 88 Tahun: Dunia Kehilangan Tokoh Panutan

    7cloud.asia – Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia, Paus Fransiskus, meninggal dunia pada Senin (21/4/2025) pagi waktu setempat di usia 88 tahun.

    Dikutip dari Apnews, wafatnya sang Paus Fransiskus diumumkan langsung oleh Kardinal Kevin Ferrell, camerlengo Vatikan.

    “Pada pukul 7:35 pagi ini, Uskup Roma, Paus Fransiskus, telah kembali ke rumah Sang Bapa. Sepanjang hidupnya didedikasikan untuk pelayanan kepada Tuhan dan Gereja-Nya.”

    Setelah pengumuman tersebut disampaikan, lonceng-lonceng gereja di menara-menara di seluruh Roma pun berbunyi sebagai tanda berkabung.

    Paus Fransiskus menderita penyakit paru-paru kronis dan pernah menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru saat masih muda.

    Pada tanggal 14 Februari 2025, Paus Fransiskus dirawat di Rumah Sakit Gemelli akibat krisis pernapasan yang berkembang menjadi pneumonia ganda.

    Paus Fransiskus menjalani perawatan selama 38 hari—periode rawat inap terpanjang selama masa kepausannya yang berlangsung selama 12 tahun.

    Sejak awal masa jabatannya sebagai paus dengan sapaan sederhana “Buonasera” (Selamat malam), hingga sikapnya yang terbuka terhadap para pengungsi dan kaum tertindas,

    Baca: Paus Fransiskus dalam kondisi kritis

    Paus Fransiskus adalah Paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Latin dan dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana serta kepeduliannya terhadap kaum miskin,

    Dilansir islami.co, Paus Fransiskus membawa nuansa baru bagi kepausan. Ia menekankan kerendahan hati dibandingkan kesombongan dalam sebuah Gereja Katolik yang tengah menghadapi skandal dan tuduhan ketidakpedulian.

    Lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Argentina, ia terpilih menjadi paus setelah pengunduran diri mengejutkan Paus Benediktus XVI pada tanggal 13 Maret 2013.

    Kehadirannya dianggap sebagai angin segar bagi institusi berusia lebih dari dua ribu tahun itu—yang mengalami penurunan pengaruh selama masa jabatan pendahulunya.

    Sosok Paus Fransiskus terlibat dalam beberapa pertemuan penting dengan para pemimpin Islam dan dunia, serta mencerminkan komitmennya untuk membangun dialog antaragama.

    Ia percaya, agama bisa ikut menyumbang kepada dunia. Ia pun mengajak dunia untuk dialog, bukan perang sebagai alat negosiasi antar sesama manusia.

    “Jangan lupa satu hal ini, peperangan adalah sebuah kekalahan. Permusuhan di antara kita adalah sebuah kekalahan untuk kita,” katanya di Jakarta, Rabu, 4 September 2024.

    Paus Fransiskus juga dikenal sebagai sosok progresif ini tidak diam begitu saja meihat perang di Palestina. Pada Februari 2019 lalu, Paus Fransiskus melakukan kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab.

    Baca: Paus Fransiskus serukan puasa dan doa bersama untuk Palestina

    Di sana, ia bertemu dengan Sheikh Ahmed el-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar. Saat itu, Paus Fransiskus dan Sheikh Ahmed el-Tayeb menandatangani sebuah dokumen penting bagi peradaban dunia.

    Dokumen ini juga jadi momen bagi agama-agama berfleksi, apakah agama bisa jadi solusi masa depan dunia atau justu sebaliknya: jadi masalah?

    Paus dan Sheikh Al-Azhar pun bersama-sama berdeklarasi, gandengan tangan dan menyuarakan testamen berjudul Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama di Abu Dhabi.

    Sebuah Peristiwa yang bersejarah di era modern ini. Dokumen tersebut merupakan deklarasi bersama yang menekankan persaudaraan manusia, perdamaian, dan toleransi.

    Di dalamnya, Paus Fransiskus dan Sheikh el-Tayeb menyerukan kepada umat beragama di seluruh dunia untuk meninggalkan kekerasan dan ekstremisme, serta berkomitmen untuk mempromosikan persaudaraan, toleransi, dan koeksistensi damai.

    Bagi keduanya, agama-agama seharusnya menjadi sumber persatuan, bukan pemecah belah, dan bahwa setiap orang berhak hidup dalam damai, terlepas dari keyakinan mereka.

    Ada sejumlah poin penting dalam dokumen itu, yakni pengakuan atas hidup sebagai anugerah, komitmen dalam kebebasan bergama dan satu lagi adalah, penolakan terhadap kekerasan berbau agama.

    Satu poin lagi, untuk mencapai hal itu dan masuk poin selanjutnya, bagaimana dialog menjadi penting.

  • Vatikan Umumkan Masa Berkabung Selama 9 Hari Atas Wafatnya Paus Fransiskus

    Vatikan Umumkan Masa Berkabung Selama 9 Hari Atas Wafatnya Paus Fransiskus

    7cloud.asia – Tahta Suci Vatikan mengumumkan masa berkabung selama sembilan hari setelah meninggalnya Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025.

    Pemakaman Paus Fransiskus yang terlahir sebagai Jose Mario Bergoglio itu akan berlangsung setelah masa berkabung selama sembilan hari tersebut. Sementara pemilihan pengganti Paus Fransiskus bakal dilakukan 15 hari pasca kepulangannya.

    Informasi seputar pemakaman Paus Fransiskus ini disampaikan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo, Senin (21/4/2025)

    “Masa berkabung di Vatikan itu sembilan hari. Jadi sembilan hari sejak hari ini baru akan dilaksanakan pemakaman,” kata Suharyo di Gereja Katedral Jakarta beberapa jam setelah wafatnya Paus Fransiskus.

    Suharyo mendapatkan informasi mengenai proses berkabung dan pemakaman Paus Fransiskus setelah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia.

    Baca: Paus Fransiskus meninggal di usia 88 tahun

    Selain itu, Suharyo menyampaikan Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta akan mulai membuka kantornya untuk masa berkabung mulai Selasa (22/4/2025) pagi.

    Dilansir Tempoco, Kedutaan negara-kota itu berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 18, Jakarta Pusat.

    “Besok pagi Kedutaan Besar Vatikan akan memulai membuka kedutaan bagi saudara-saudara kita yang ingin menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Paus,” ucap Suharyo.

    Camerlengo Gereja Romawi Suci Kardinal Kevin Farrell mengumumkan kabar duka berpulangnya Paus Fransiskus melalui keterangan tertulis. Kardinal Kevin menyebut Paus wafat pada 21 April 2025 pukul 07.35 waktu Vatikan.

    “Saudara-saudari yang terkasih, dengan kedukaan mendalam saya umumkan kematian Bapa Suci Fransiskus. Pada 7:35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya,” kata Kardinal Kevin Ferrell, Senin, 21 April 2025.

    Baca: Paus Fransiskus dalam kondisi kritis

    Bersama dengan pernyataan tersebut, Kardinal Kevin turut menyampaikan rasa terima kasih dari Vatikan untuk Paus Fransiskus.

    “Atas contoh darinya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kami menyerahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih sayang tak terhingga dari Allah yang Esa dan Tritunggal.”

    Paus Fransiskus wafat satu hari setelah peringatan Paskah yang jatuh pada Ahad, 20 April 2025. Dalam momen Paskah, Paus menyampaikan beberapa pesan melalui seorang ajudan, sementara laki-laki asal Argentina itu hanya muncul sesaat di balkon Basilika Santo Petrus.

    Paus Fransiskus sempat dirawat di rumah sakit pada tanggal Februari 2025 karena menderita bronkitis yang berkembang menjadi pneumonia ganda. Ia pernah menderita radang selaput dada saat beranjak dewasa dan sebagian paru-parunya telah diangkat.

    Dokter ketika itu meminta Paus Fransiskus untuk beristirahat selama dua bulan di kediamannya di Vatikan untuk pemulihan.

  • Paus Fransiskus Wafat, Meninggalkan Reformasi dan Kontroversi

    Paus Fransiskus Wafat, Meninggalkan Reformasi dan Kontroversi

    7cloud.asia – Paus Fransiskus meninggal dunia pada hari Senin Paskah di usia 88 tahun. Sebelum meninggal, pemimpin Gereja Katolik sedunia ini sempat pulih setelah dirawat di rumah sakit karena pneumonia ganda.

    Ada banyak aspek yang luar biasa dari kepausan Paus Fransiskus. Beliau adalah paus Yesuit pertama, paus pertama dari benua Amerika (dan belahan bumi selatan), paus pertama yang memilih nama “Fransiskus” dan paus pertama yang memberikan TED talk.

    Paus Fransiskus juga merupakan paus pertama—dalam lebih dari 600 tahun—yang terpilih setelah pengunduran diri, bukan kematian pendahulunya.

    Sejak awal kepausannya, Paus Fransiskus tampak bertekad untuk melakukan hal-hal dengan cara yang berbeda dan mempersembahkan cahaya baru dalam kepausan. Bahkan untuk pemakamannya, dia memilih untuk diletakkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, bukan di Vatikan.

    Paus menjadi paus pertama yang dimakamkan di sana setelah ratusan tahun.

    Vatican News melaporkan bahwa mendiang Paus Fransiskus telah meminta agar upacara pemakamannya dilakukan secara sederhana.

    “Ritus yang diperbarui,” kata Uskup Agung Diego Ravelli, “berusaha untuk lebih menekankan bahwa pemakaman Paus Roma adalah pemakaman seorang gembala dan murid Kristus, bukan seorang tokoh berkuasa di dunia ini.”

    Memimpin di tengah kubu “progresif” dan “konservatif”, Francis mengalami ketegangan dengan kedua belah pihak. Dalam kepausannya, ia menunjukkan makna menjadi Katolik saat ini.

    Sehari sebelum kematiannya, Paus Fransiskus muncul, meski dalam waktu singkat, pada Hari Minggu Paskah untuk memberkati kerumunan di Lapangan Santo Petrus.

    Antara dua pilihan berat
    Bagi sebagian orang, Francis dianggap tidak cukup progresif. Namun bagi sebagian lainnya, ia terlalu progresif.

    Eksortasi (pengajaran resmi paus tentang isu atau tindakan tertentu) apostolik beliau, Amoris Laetitia, memicu kontroversi besar karena cenderung terbuka terhadap pertanyaan apakah orang yang telah bercerai dan menikah lagi dapat menerima Ekaristi.

    Fransiskus juga disebut pernah mengecewakan umat Katolik progresif, yang kebanyakan berharap dia akan membuat perubahan yang lebih kuat pada isu-isu seperti peran perempuan, rohaniwan yang sudah menikah, dan menyerukan inklusi yang lebih luas bagi umat Katolik LGBTQIA+.

    Penerimaan dari seruannya Querida Amazonia adalah salah satu contohnya. Dalam dokumen ini, Fransiskus tidak mendukung pernikahan bagi para imam, meskipun ada permintaan dari para uskup untuk ini.

    Dia juga tidak mengizinkan kemungkinan perempuan ditahbiskan sebagai diakon untuk mengatasi kekurangan menteri yang ditahbiskan. Menurutnya, ada terlalu banyak perpecahan dan tidak ada konsensus yang jelas untuk perubahan.

    Fransiskus juga secara terbuka mengkritik kontroversi “Synodal Way”—serangkaian konferensi dengan para uskup dan awam—yang mendukung posisi yang bertentangan dengan ajaran Gereja. Francis menyatakan keprihatinan pada beberapa kesempatan bahwa proyek ini merupakan ancaman bagi kesatuan Gereja.

    Pada saat yang sama, Francis tidak asing dengan kontroversi dari kubu konservatif Gereja, cenderung menerima “dubia” atau “keraguan teologis” atas ajarannya dari beberapa Kardinalnya.

    Pada tahun 2023, ia mengambil langkah yang tidak biasa dengan menanggapi beberapa keraguan ini.

    Dampaknya bagi gereja Katolik
    Salah satu hal yang paling mencolok tentang Fransiskus bukanlah kata-katanya atau teologinya, tetapi gayanya. Dia adalah orang yang sederhana, bahkan menolak tinggal di istana kepausan yang megah, Istana Apostolik, dan lebih memilih tinggal di penginapan sederhana di Vatikan.

    Hal yang akan paling diingat dari dirinya mungkin adalah kesederhanaan berpakaian dan kebiasaannya, gaya sambutannya yang ramah dan pastoral, serta semangat kebijaksanaan dalam perbedaan.

    Ia diakui sebagai contoh kehidupan, cinta, dan sukacita Yesus dalam semangat Konsili Vatikan II—sebuah titik reformasi besar dalam sejarah Gereja modern. Kesaksian ini telah diterjemahkan menjadi dua perkembangan besar dalam ajaran dan kehidupan Gereja.

    Cinta bagi rumah bersama
    Salah satu ajaran Fransiskus adalah yang berkaitan dengan lingkungan. Pada tahun 2015, ia merilis ensikliknya, Laudato si’: On Care for Our Common Home yang memberikan penjelasan komprehensif tentang bagaimana lingkungan mencerminkan “rumah bersama” yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Ini telah memperluas ajaran sosial Katolik.

    Konsisten dengan paus-paus terbaru seperti Benediktus XVI dan Yohanes Paulus II, Fransiskus mengakui perubahan iklim dan dampak serta penyebab destruktifnya. Ia mendukung pendekatan berbasis bukti dalam menangani dampak perilaku manusia terhadap lingkungan.

    Dia juga telah berkontribusi besar dan inovatif dalam debat perubahan iklim melalui identifikasi penyebab etis dan spiritual dari kerusakan lingkungan.

    Menurut Fransiskus, upaya memerangi perubahan iklim bergantung pada “konversi ekologis” hati manusia. Manusia perlu mengenali sifat planet kita yang diberikan oleh Tuhan dan panggilan untuk merawatnya.

    Tanpa konversi ini, langkah-langkah pragmatis dan politik tidak akan mampu melawan kekuatan konsumerisme, eksploitasi, dan egoisme.

    Fransiskus juga berpendapat bahwa diperlukan adanya pembaharuan dalam etika dan spiritualitas. Secara khusus, dia mengatakan jalan kasih Yesus—untuk orang lain dan seluruh ciptaan—adalah kekuatan transformatif yang dapat membawa perubahan berkelanjutan bagi lingkungan dan menumbuhkan persaudaraan di antara orang-orang (terutama dengan orang miskin).

    Sinodalitas: Menuju gereja yang mendengar
    Kontribusi besar lainnya dari Fransiskus—yang menjadi salah satu aspek paling signifikan dari kepausannya—adalah komitmennya terhadap “sinodalitas”, yaitu cara mendengarkan dan membedakan melalui keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus–meskipun masih ada kebingungan tentang apa makna sinodalitas sebenarnya dan potensi distorsi politiknya.

    Sinodalitas melibatkan hierarki dan orang awam yang secara transparan dan jujur berdiskusi bersama, dalam pelayanan misi gereja. Sinodalitas sama pentingnya dengan prosesnya seperti halnya tujuannya. Ini masuk akal karena Paus Fransiskus adalah seorang Yesuit, sebuah ordo yang berfokus pada penyebaran Katolik melalui pembentukan spiritual dan diskernimen.

    Dengan menggali kekayaan spiritualitas Yesuit, Fransiskus memperkenalkan cara percakapan yang berpusat pada mendengarkan Roh Kudus dan orang lain, sambil berusaha menumbuhkan persahabatan dan kebijaksanaan.

    Dengan berakhirnya sesi kedua Sinode tentang Sinodalitas pada Oktober 2024, masih terlalu dini untuk menilai hasilnya. Namun, mereka yang telah terlibat dalam proses sinodal telah melaporkan kembali tentang potensi transformasinya.

    Uskup Agung Brisbane, Mark Coleridge, menceritakan bagaimana ia berpartisipasi dalam Sinode 2015 dan bagaimana hal itu adalah “pengalaman luar biasa dan dalam beberapa hal merupakan sebuah pencerahan” baginya.

    Katolik di era modern
    Kepausan Fransiskus menginspirasi baik sukacita dan aspirasi yang besar, serta kemarahan dan penolakan.

    Dia mengungkapkan garis-garis patah yang menyakitkan dalam komunitas Katolik dan menyerang isu-isu kunci identitas Katolik, memicu perdebatan tentang apa artinya menjadi Katolik di dunia saat ini.

    Paus Fransiskus meninggalkan sebuah gereja yang tampak lebih terpecah belah daripada sebelumnya, dengan argumen, ketidakpastian, dan banyak pertanyaan yang muncul di belakangnya.

    Tetapi dia juga telah membuka jalan bagi gereja untuk lebih melihat cara cinta Yesus, melalui sinodalitas dan dialog.

    Paus Fransiskus menunjukkan kepada kita bahwa memegang label seperti “progresif” atau “konservatif” tidak akan memungkinkan gereja untuk menjalankan misi cinta Yesus—sebuah misi yang dia tekankan sejak awal kepausannya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Joel Hodge (Senior Lecturer, Faculty of Theology and Philosophy, Australian Catholic University) dan Antonia Pizzey (Postdoctoral Researcher Research Centre for Studies of the Second Vatican Council, Australian Catholic University)

     

  • Paus Fransiskus Akan Dimakamkan Besok, Seperti Ini Prosesinya

    Paus Fransiskus Akan Dimakamkan Besok, Seperti Ini Prosesinya

    7cloud.asia – Prosesi pemakaman Paus Fransiskus dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (26/4/2025), dengan makam yang terbuat dari batu marmer asal Liguria, Italia.

    Saat ini jenazah Paus Fransiskus disemayamkan di Basilika Santo Petrus. Seemnatara makamnya disiapkan di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma.

    Liguria, sebuah wilayah yang terletak di Italia barat laut, merupakan tempat kakek buyut Paus Fransiskus, Vincenzo Sivori, berasal.

    Sesuai wasiatnya, makam tersebut tampak sederhana dengan hanya bertuliskan “FRANCISCUS” — nama Paus dalam bahasa Latin — serta dihiasi replika salib yang selalu dikenakan di dada mendiang.

    Baca: Paus Fransiskus meninggalkan reformasi dan kontroversi

    Makam itu terletak di ceruk bagian tengah antara Kapel Salus Populi Romani dan Cappella Sforza di Basilika Santa Maria Maggiore, gereja pertama dan terbesar di dunia yang didedikasikan kepada Bunda Suci Maria, Ibu Yesus.

    Prosesi pemakaman Paus Fransiskus akan dimulai di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Sabtu (26/4/2025) pukul 10.00 waktu setempat (15.00 WIB).

    Misa pemakaman akan dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, Dekan Dewan Kardinal.

    Setelah itu, jenazah Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu akan dibawa dengan sangat perlahan ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk dimakamkan.

    Baca: Paus Fransiskus meninggal, dunia kehilangan panutan

    “Prosesi pemakaman yang akan mengiringi jenazah mendiang Paus dari Basilika Santo Petrus ke Basilika Santa Maria Maggiore akan dilaksanakan dengan (kecepatan) pejalan kaki, agar orang-orang dapat mengucapkan selamat tinggal padanya,” kata Direktur Kantor Pers Vatikan Matteo Bruni, Kamis (24/4/2025).

    Upacara pemakaman tersebut akan disiarkan secara langsung di televisi, hingga jenazah Fransiskus sampai di pintu masuk basilika yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Vatikan itu.

    Selanjutnya, proses pemakaman di dalam ruangan basilika akan berlangsung secara tertutup dan sederhana, sesuai keinginan mendiang Paus Fransiskus.

    Paus Fransiskus wafat dalam usia 88 tahun pada Senin (21/4/2025). Menurut keterangan dokter Vatikan, Paus dari Argentina itu meninggal dunia karena stroke yang diikuti kondisi koma dan gagal jantung.

    Sumber: Antaranews.com/ANSA

  • Rangkaian Upacara Pemakaman Paus Fransiskus

    Rangkaian Upacara Pemakaman Paus Fransiskus

    7cloud.asia – Prosesi pemakaman jenazah Paus Fransiskus berlangsung pada Sabtu (26/4/2025), di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma dengan lancar.

    Makam Paus Fransiskus yang terbuat dari batu marmer asal Liguria, Italia, telah disiapkan di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

    Liguria, sebuah wilayah yang terletak di Italia barat laut, merupakan asal kakek buyut Paus Fransiskus.

    Sesuai wasiatnya, makam Paus Fransiskus dibuat sederhana dengan hanya bertuliskan “FRANCISCUS” – nama Paus dalam bahasa Latin – serta dihiasi replika salib yang selalu dikenakan di dada mendiang.

    Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah rangkaian prosesi upacara pemakaman Paus Fransiskus.

    1. Misa pemakaman Paus Fransiskus digelar di Katedral Notre Dame Paris
    Misa pemakaman Paus Fransiskus digelar di Katedral Notre Dame di Paris, Prancis, pada Jumat malam waktu setempat, BFMTV melaporkan.

    Banyak jemaat mengikuti misa bagi pemimpin Gereja Katolik itu, yang juga dihadiri Perdana Menteri Prancis François Bayrou, Menteri Tenaga Kerja dan Kesehatan Catherine Vautrin, dan Wali Kota Paris Anne Hidalgo.

    Di Vatikan City pada Jumat (25/4/2025), sekitar 250.000 orang mendatangi Basilika Santo Petrus untuk mempersembahkan penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus selama tiga hari persemayamannya.

    Upacara pemakaman Paus Fransiskus berlangsung pada Sabtu pukul 8.00 GMT (15.00 WIB), dipimpin Dekan Dewan Kardinal, Giovanni Battista Re.

    2. Umat Katolik mulai tiba di Basilika Santo Petrus untuk pemakaman Paus
    Kelompok pertama umat Katolik mulai tiba di Lapangan Santo Petrus di Kota Vatikan, tempat upacara pemakaman Paus Fransiskus pada Sabtu (26/4/2025).

    Upacara pemakaman Paus Fransiskus dijadwalkan berlangsung di Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan, pada pukul 10.00 waktu setempat (08.00 GMT atau 15:00 WIB), Sabtu pagi.

    Sekitar 130 delegasi dari berbagai negara diperkirakan akan menghadiri upacara tersebut, termasuk 50 kepala negara dan 10 raja yang saat ini menjalankan kekuasaannya.

    3. Pemakaman Paus Fransiskus dihadiri Trump dan 160 lebih delegasi
    Upacara pemakaman Paus Fransiskus yang berlangsung di Kota Vatikan telah dimulai, saat peti jenazah sang Pemimpin Katolik sedunia itu dibawa ke Alun-alun Santo Petrus, pada Sabtu.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menghadiri pemakaman Paus Fransiskus. Trump bersama sang istri, Melania, menjadi di antara tamu terakhir yang tiba pada upacara tersebut, katanya.

    Menurut otoritas Kepolisian Roma, lebih dari 160 delegasi dari berbagai negara dan organisasi internasional telah tiba untuk menghadiri pemakaman.

  • Laudato Si: Pesan Lingkungan Paus Fransiskus yang Harus Selalu Digaungkan

    Laudato Si: Pesan Lingkungan Paus Fransiskus yang Harus Selalu Digaungkan

    7cloud.asia – Pada 24 Mei 2015 lalu, Paus Fransiskus menandatangani ensiklik Laudato Si’—yang berarti “Terpujilah Engkau” dalam bahasa Italia Tengah. Ensiklik itu diberi judul: “On the care for our common home” atau “Tentang merawat rumah kita bersama”.

    Surat edaran Paus kepada para uskup Katolik Roma ini bukan sekadar pernyataan biasa: isinya seruan mendalam untuk mengubah gaya hidup demi Bumi dan keadilan sosial.

    Dalam ensiklik ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis iklim adalah cermin dari krisis moral dan spiritual.

    “…. Tidak akan ada pembaharuan hubungan kita dengan alam tanpa pembaharuan kemanusiaan itu sendiri. Tidak akan ada ekologi tanpa antropologi yang layak …” (§-118)

    Paus Fransiskus mengingatkan bahwa dampak pemanasan global sudah semakin parah:

    “Pemanasan berdampak pada siklus karbon. Ini menciptakan lingkaran setan yang memperburuk keadaan, memengaruhi ketersediaan sumber daya esensial seperti air bersih, energi, dan produksi pertanian di wilayah-wilayah yang lebih hangat, serta menyebabkan punahnya sebagian keanekaragaman hayati di planet ini.” (§-24)

    Oleh karenanya, Paus mengkritik gaya hidup konsumtif dan pembangunan tidak terkendali yang menyebabkan kerusakan lingkungan serta ketidakadilan sosial, terutama terhadap kaum miskin yang paling terdampak oleh krisis lingkungan.

     

    Baca: Mengenal Paus Leo XIV dan pandangannya soal lingkungan

    Paus mengajak umat Katolik untuk melakukan pertobatan ekologis demi kemaslahatan alam dan seluruh umat manusia.

    “[…] krisis ekologi merupakan panggilan untuk melakukan pertobatan batin yang mendalam.” (§-217)

    Kini, Paus Fransiskus telah wafat, tapi Laudato Si’ yang diserukannya satu dekade silam itu masih sangat relevan bahkan semakin mendesak jika melihat situasi hari ini, termasuk di daerah asal saya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah NTT termasuk yang paling rawan bencana hidrometeorologi di Indonesia. Setiap tahun, NTT dilanda bencana dan mengalami dampak nyata perubahan iklim seperti kekeringan dan kelangkaan air bersih.

    Meski begitu, kesadaran ekologis warga masih rendah. Di berbagai kota dan desa di NTT, sampah acap dibuang sembarangan, bahkan di lingkungan sekolah, gereja, dan pasar. Eksploitasi alam semakin menjadi.

    Sebagai daerah mayoritas Katolik dan dipimpin oleh seorang gubernur Katolik, warga NTT sepatutnya membaca kembali dokumen Laudato Si’ dengan lebih saksama, menghayati, dan mengimplementasinya.

    Peran gereja, lembaga pendidikan, dan masyarakat adat
    Dampak perubahan iklim yang kita rasakan saat ini seharusnya mengetuk nurani untuk melakukan tobat ekologis. Dalam hal ini, gereja memiliki posisi strategis untuk menanamkan nilai-nilai dan tanggung jawab ekologis.

    Terinspirasi dari Laudato Si’, para uskup dalam dokumen Gereja Katolik Indonesia terkait krisis iklim mendorong umat untuk menjadikan ekologi sebagai bagian dari spiritualitas harian. Namun pekerjaan rumah besarnya adalah, penerapannya.

    Selain itu, pendidikan formal di sekolah dan universitas juga memegang peran penting. Sebagai peneliti dalam bidang pendidikan perubahan iklim di universitas-universitas di NTT, saya melihat perlunya integrasi antara nilai iman dan kesadaran ekologis dalam kurikulum.

     

    Baca: Paus Fransiskus meninggalkan reformasi dan kontroversi

    Pendidikan harus mempersiapkan generasi muda bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis. Keduanya harus berjalan seiring.

    Di sisi lain, masyarakat adat yang terus melestarikan kearifan lokal, seperti menggunakan pewarna alami untuk tenun ikat—seperti akar mengkudu, daun nila, daun tarum, dan kulit kayu—adalah gaya hidup berkelanjutan yang patut dicontoh.

    Praktik ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan contoh nyata hidup harmonis berdampingan dengan alam.

    Butuh gerakan solidaritas
    Laudato Si’ adalah ensiklik pertama yang didedikasikan sepenuhnya untuk isu ekologi. Laudato Si’ resmi diterbitkan Vatikan pada 18 Juni 2015, beberapa bulan sebelum Konferensi Iklim Paris (COP21).

    Pesan yang dibawa dalam ensiklik ini sangat jelas: perubahan untuk menjawab tantangan krisis iklim butuh aksi solidaritas global. Semua orang bisa berkontribusi sesuai porsinya masing-masing.

    […] Kita membutuhkan sebuah solidaritas yang baru dan universal. […] Kita semua dapat bekerja sama sebagai alat Allah untuk merawat ciptaan, masing-masing sesuai dengan budaya, pengalaman, keterlibatan dan talenta masing-masing. […]“ (§-14)

    Laudato Si’ bukan sekadar dokumen gereja, melainkan seruan hidup yang mendesak untuk seluruh umat manusia.

    Paus Fransiskus adalah seorang pemimpin Katolik, tetapi warisannya jauh melampaui sekat-sekat agama. Pesan dan ajakannya menyentuh rasa kemanusiaan secara universal—untuk bersama-sama menjaga Bumi: satu-satunya rumah kita.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Hermina Manlea (Researcher in Climate Change Education, The University of Western Australia)