Tag: puasa

  • Ngaji Ramadan: Sekadar Menahan Lapar atau Transformasi Diri?

    Ngaji Ramadan: Sekadar Menahan Lapar atau Transformasi Diri?

    7cloud.asia – Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang bagaimana kita bisa bertumbuh secara ruhani dan menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri.

    Seperti disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 186, puasa Ramadan adalah wajib hukumnya agar umat Islam menjadi orang-orang yang bertakwa.

    Berbicara dalam kajian Al Fatih Ramadhan Festival (ARF) yang dipantau secara daring pada Sabtu (1/3/2025) sore, Ustadzah Nur Rofiah dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia mengajak peserta yang hadir untuk melakukan refleksi agar ibadah puasa Ramadan tak sekadar puasa fisik belaka.

    Ahli tafsir lulusan Universitas AL Azhar Kairo ini, mengatakan bahwa puasa Ramadan adalah media untuk menjembatani umat Islam agar benar-benar menjadi manusia yang tauhid atau benar-benar hanya menghamba kepada Allah SWT.

    Hanya menghamba kepada Allah, berarti benar-benar mengabdikan diri kepada sang Pencipta dan meniadakan hal atau alasan lain dalam beribadah.

    Baca: Program Ngaji Ramadan bersama Kongres Ulama Perempuan Indonesia

    Dia menegaskan, kata bertaqwa harus diartikan tidak hanya berkaitan dengan hubungan dengan sang Khalik, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia.

    Seorang muslim yang bertakwa, ujarnya, adalah mereka yang bisa memberikan kebaikan dan kemaslahatan bagi alam dan sesama manusia.

    “Seseorang bisa disebut bertakwa jika dia bisa bersikap adil baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,“ tandasnya.

    Dipaparkannya, ibadah puasa Ramadan adalah latihan bagi umat Islam untuk menahan diri dan bersikap tenang terhadap kebutuhan ruhani maupun ragawi. Yang semula dihalalkan saat tidak puasa menjadi dilarang saat puasa.

    Diingatkannya, puasa ruhani jauh lebih penting daripada puasa fisik. Puasa fisik, seperti menahan lapar dan haus hanya bersifat sementara. Lapar dan haus itu, ujarnya, akan segera hilang setelah kita makan atau minum.

    Baca: Kapan datangnya malam Lailatul Qadar

    Sementara, lapar ruhani sering tidak terbatas dan lebih sulit dikendalikan. Bahkan tidak jarang, seseorang yang coba memenuhi rasa lapar ruhaninya justru akan terjebak dalam rasa ketidakpuasan yang tidak terbatas.

    “Jadi ketika usai puasa Ramadan, seorang muslim masih bersikap dzalim maka dia telah gagal menjalankan puasa ruhani,“ imbuhnya.

    Nur Rofiah mengingatkan, jika selama bulan Ramadan adalah latihan maka 11 bulan lainnya adalah ujian yang sebenarnya.

    Jadi, lanjutnya, kurang tepat jika kita menyebut 1 Syawal sebagai hari kemenangan. Pasalnya Hari Raya Idul Fitri justru menjadi hari pertama ujian panjang yang harus dilalui.

    Jika memasuki hari-hari ujian ini dengan sikap seolah sudah menang, maka akan membuat lengah dalam menghadapi ujian.

     

  • Ngaji Ramadan: Puasa Dikenal di Semua Agama dan Bukan Monopoli Umat Islam

    Ngaji Ramadan: Puasa Dikenal di Semua Agama dan Bukan Monopoli Umat Islam

    7cloud.asia – Ibadah puasa ternyata bukan monopoli umat Islam, meskipun terkait puasa ini umat Islam memiliki romantisme dan estetika tersendiri terhadap bulan suci Ramadan.

    Namun esensi puasa tetaplah universal dan tidak dapat dimiliki secara sepihak. Bahkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 secara jelas puasa merujuk kepada bangsa, kaum, generasi sebelum kita dan sebelum Rasulullah lahir.

    Itu bukti bahwa pada dasarnya kebudayaan dan peradaban, dan agama di masa silam jauh-jauh hari telah juga diperintah berpuasa. Adalah hal yang tidak berdasar jika puasa dimonopoli sebagai kepunyaan suatu kaum belaka.

    Dilansir di mubadalah.id, puasa adalah laku lintas makhluk. Puasa sebagai sebuah ritual ibadah, sekaligus penggemblengan lahir-batin untuk meraih peningkatan kualitas diri dan keselamatan, pada hakikatnya tidak pandang agama.

    Bahkan puasa secara esensial—dalam konteks menahan dan mengendalikan diri—telah telanjur sublim ke dalam hampir semua aspek kehidupan. Puasa hewan, engkau akan ingat dengan puasa ular, ulat dan kepompong.

    Hewan lain juga punya kecenderungan naluriah yang khas terkait puasa sesuai Sunnatullah. Sebagaimana beberapa mamalia berhibernasi, menjalani lockdown, physical distancing, menempuh tirakat ash-habul kahfi dalam rentang waktu tertentu.

    Baca: Puasa sekadar menahan lapar atau transformasi diri?

    Puasa laut, pasang-surutnya dan tenang-tsunaminya. Lalu puasa angin, hembus sepoi dan dera badainya. Puasa air, rintik damainya sampai banjir bandangnya. Selain itu, puasa api, hangat-mematangkan hingga membumi-hanguskan. Semesta sejatinya berpuasa. Bahkan Tuhan pun juga berpuasa.

    “Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak. Allah memelihara kesehatan tubuh kita dari detik ke detik meskipun ketika bangun pagi hanya ada satu dua belaka hamba-Nya yang mengucapkan syukur bahwa matanya masih bisa melek. Allah sendiri ‘berpuasa’. Kalau tidak, kita sudah dilenyapkan oleh-Nya hari ini, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu.” (Emha Ainun Nadjib, dalam buku “Tuhan pun Berpuasa”, hlm. 52)

    Maka puasa tidak hanya tak pandang agama. Bahkan ia juga tidak hanya manusia yang menjalaninya. Namun lebih jauh dari itu, hewan, tetumbuhan, seluruh semesta dan bahkan Tuhan sendiri juga ‘berpuasa’.

    Puasa dan laku manusia agung
    Siddhartha Gautama berpuasa dengan menidakkan istana dan memilih ‘terjun bebas’ ke ladang tandus kehidupan rakyat kecil. Ibrahim bin Adham seorang sufi yang mantan sultan pun melakukan hal yang mirip.

    Terlebih para Nabi, puasa telah merasuk ke dalam seluruh tindak perilaku agung beliau-beliau. Juga mohon tidak kaget, sssttt…akan saya bisiki dan jangan bilang-bilang: bahkan orang gila pun selalu berpuasa.

    Tidak peduli gondrong compang-camping, atau rapi klimis berdasi sekalipun, siapa saja bisa berpuasa. Tanpa pandang suku, ras, agama, warna kulit, corak bola-mata, selera pakaian, preferensi channel kesukaan, dan drakor genre apa. Puasa sangat membuka diri dan siap menerima untuk siapapun bisa menjalaninya.

    Baca: Kapan datangnya malam Lailatul Qadar

    Dialektika Puasa-Berbuka
    Dasarnya, dialektika puasa-berbuka dapat ditemukan di mana saja. Umpamanya dengan pertanyaan ini: bukankah bersikap ramah di tengah gelombang amarah itu merupakan puasa?

    Sama halnya saat kita memilih saling mengasihi sesama di tengah pusaran permusuhan dan perseteruan antarumat manusia, adalah juga puasa.

    Silakan sebutkan satu hal positif apa saja, engkau akan terantuk kesadaran kecil bahwa itu puasa. Kejujuran, tidak lain adalah puasa dari kebohongan. Atau boleh engkau berikan satu sifat yang engkau sangka negatif, akan diungkap bahwa itu juga puasa.

    Saat seseorang marah, sejatinya dia sedang berpuasa dari kesabaran dan keramahan—atau pada sayap makna lain, tindakan tersebut menunjukkan bahwa engkau sedang berbuka.

    Ketika seseorang “geram” pada ketidakadilan, “berontak” pada segala bentuk penindasan, bukankah itu adalah sekaligus puasa dari kesabaran diperlakukan tidak adil dan berbuka dengan menu ‘geram dan berontak’?

    Mengamuk pada pelbagai jenis diskriminasi dan pelecehan, juga bisa kita artikan sebagai puasa dari rasa nriman dan legowo atas segala warna nasib. Bukankah itu hakikatnya sama saja puasa?

    Baca: Self care saat puasa Ramadan

    Kemudian jika mengacu pada Al-Qur’an, puncak pencapaian dari puasa adalah taqwa. Kualitas ruhaniah yang senantiasa berkesadaran secara utuh, taat dan waspada dengan dan kepada Allah—yang kemudian kita terjemahkan menjadi i’tikad melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi seluruh laranganNya.

    Meski begitu, metadinamika ulang-aling antara puasa-berbuka akan tetap memerlukan reorientasi kiblat hati ke mana akan menuju. Sangkan paraning dumadi. Asal muasal segala (kejadian) dan penciptaan: Allah.

    Maka kualitas taqwa hanya bersifat tersemogakan dan karenanya Allah menyuruh umat Muslim rutin melisankan ihdinas-shirathal mustaqim sekurang-kurangnya 17 kali sehari.

    Hal itu mengandung suatu simbolisme bahwa kebenaran kita, sehebat apapun kedudukan kita, ternyata pada dasarnya bersifat relatif.

    Yang bisa kita usahakan adalah melanggengkan etos berpuasa kita agar la’allakum tattaqun lebih memungkinkan diberikan Allah kepada kita.

    Dan sejauh apapun langkah pikiran, pencapaian spiritual, dan setinggi apapun maqam kita, hanya rendah hati—sebagai bentuk puasa—yang mampu menyelamatkan kita dari dosa favorit Iblis yang bernama “kesombongan”.

    Sebab karena kesombongannyalah, Iblis diusir dan dihukum menyesatkan manusia hingga hari kiamat.

  • Ngaji Ramadan: Menahan Diri Berbelanja Saat Puasa Ramadan

    Ngaji Ramadan: Menahan Diri Berbelanja Saat Puasa Ramadan

    7cloud.asia – Puasa Ramadan saat ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perilaku konsumsi yang meningkat pesat.

    Paradoks puasa Ramadan ini bisa dijelaskan melalui konsep ritual economy (ekonomi ritual), yaitu bagaimana praktik keagamaan dan budaya memengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat.

    Puasa Ramadan menciptakan pola konsumsi yang khas: masyarakat secara kolektif meningkatkan pengeluaran untuk makanan, pakaian, serta kegiatan sosial lainnya.

    Tren melonjaknya konsumsi selama puasa Ramadan ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar.

    Studi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2021 menunjukkan bahwa di banyak negara Muslim, limbah makanan selama Ramadan–yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan–justru meningkat hingga 30 persen.

    Di berbagai kisah dan penelitian psikologi, kemampuan mengelola pikiran dan menahan impuls terbukti menjadi faktor penting dalam pengendalian diri dan kesuksesan jangka panjang.

    Baca: Puasa Ramadan sekadar menahan lapar atau transformasi diri

    Berikut adalah strategi yang dapat kita terapkan untuk mencegah pembelian impulsif, sebagaimana dipaparkan Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII) dalam tulisannya di The Conversation.

    1. Delay of gratification dan precommitment.
    Delay of gratification (penundaan kepuasan) melibatkan latihan kesabaran dengan menunda kepuasan instan demi manfaat jangka panjang, seperti membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar dan hanya membeli sesuai kebutuhan.

    Sementara itu, precommitment (prakomitmen) berarti menciptakan batasan sebelum tergoda.

    Caranya, kita dapat membawa uang tunai dalam jumlah terbatas saat berbelanja atau berbuka dengan porsi kecil sebelum memutuskan apakah kita masih perlu makan lagi.

    2. Menciptakan batasan lingkungan.
    Menciptakan lingkungan yang mendukung pengendalian diri menjadi langkah penting dalam mengelola impulsivitas.

    Menghindari tempat belanja saat perut kosong atau membatasi interaksi dengan iklan makanan dapat membantu mengurangi paparan terhadap godaan konsumsi berlebihan .

    Baca: Ibadah puasa bukan hanya monopoli umat Islam

    Menggunakan metode pembayaran tertentu—seperti uang tunai dengan jumlah terbatas—dapat berfungsi sebagai pengingat fisik terhadap limit pengeluaran kita.

    Penelitian menemukan bahwa penggunaan uang fisik memicu efek biaya psikologis lebih tinggi dibandingkan uang elektronik. Ini dapat membantu kita menekan pengeluaran impulsif.

    Tak hanya itu, memilih piring kecil dapat membantu kita mengurangi konsumsi makanan saat berbuka puasa.

    Sementara memiliki kulkas dan lemari pakaian yang lebih kecil dapat mendorong kita berpikir dua kali sebelum membeli makanan dan pakaian berlebihan.

    Baca: Kapan datangnya malam lailatul qadar

    3. Mental accounting atau akuntansi mental.
    Kita sering kali secara subjektif mengelompokkan uang ke dalam kategori mental yang berbeda. Ini kemudian memengaruhi pengambilan keputusan keuangan kita.

    Sebagai contoh, seseorang mungkin memperlakukan bonus tahunan secara berbeda dibandingkan dengan gaji bulanan, meskipun jumlah keduanya sama.

    Bonus cenderung digunakan untuk pengeluaran konsumtif atau investasi berisiko, sedangkan gaji lebih sering dialokasikan untuk kebutuhan rutin.

    Dalam konteks Ramadan, khususnya THR, bias kognitif ini dapat digunakan untuk tujuan positif. Kita, misalnya, dapat menyisihkan uang tunjangan hari raya (THR) ke rekening pendidikan anak.

    Dengan memahami mekanisme psikologis yang mendorong perilaku konsumtif selama Ramadan serta menerapkan strategi yang tepat, kita dapat menjadikan bulan suci ini sebagai latihan nyata dalam menyeimbangkan antara kebutuhan, keinginan, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi.

  • Paradoks Puasa Ramadan: Justru Memicu Konsumsi dan Belanja Secara Impulsif

    Paradoks Puasa Ramadan: Justru Memicu Konsumsi dan Belanja Secara Impulsif

    7cloud.asia – Ramadan selalu menjadi bulan yang dinantikan banyak orang termasuk penulis. Bulan ini menjadi momen bagi muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sebulan penuh menahan diri dari hawa nafsu dan belajar hidup sederhana.

    Meski demikian, ada satu kebiasaan yang selalu saya ulang setiap tahun: belanja berlebihan menjelang berbuka. Menjelang azan Magrib, penulis kerap berdiri di antrean kasir dengan troli penuh makanan.

    Tak hanya kurma dan kolak yang jadi menu hidangan berbuka, tetapi juga ayam panggang, martabak, serta aneka camilan yang tak ada di daftar belanja saya. “Ah, kapan lagi? Mumpung Ramadan!” batin penulis.

    Namun, ketika berbuka, perut yang sejak siang menjerit kelaparan ternyata hanya mampu menampung segelas air dan sedikit makanan. Sisanya? Masih tersisa di meja.

    Pemandangan serupa dapat ditemui di luar pusat perbelanjaan. Pasar tradisional tumpah ke jalanan, pedagang kaki lima berjejer di trotoar, dan kendaraan nyaris tak bergerak menjelang waktu berbuka.

    Banyak titik kota yang penuh sesak, terutama di sore hari, ketika orang-orang berburu takjil dan makanan berbuka. Bahkan, restoran cepat saji sering kali kehabisan stok sebelum waktu berbuka tiba.

    Baca: Puasa Ramadan sekadar menahan lapar atau saatnya berefleksi

    Ritual ekonomi Ramadan
    Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perilaku konsumsi yang meningkat pesat.

    Fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep ritual economy (ekonomi ritual), yaitu bagaimana praktik keagamaan dan budaya memengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat.

    Ramadan menciptakan pola konsumsi yang khas: masyarakat secara kolektif meningkatkan pengeluaran untuk makanan, pakaian, serta kegiatan sosial lainnya.

    Sebagai akademisi yang mendalami soal ekonomi perilaku, penulis mencoba membedah bagaimana konsumsi selama bulan puasa, yang seharusnya mengajarkan pengendalian diri, menjadi bentuk partisipasi dalam ritual sosial dan agama yang memiliki nilai simbolis.

    Fakta menunjukkan bahwa puasa Ramadan adalah momen melonjaknya konsumsi rumah tangga.

    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran rumah tangga meningkat 20-30 persen selama Ramadan, harga bahan pokok naik hingga 10-15 persen, dan limbah makanan bertambah 40 persen dibanding bulan biasa.

    Tren melonjaknya konsumsi selama Ramadan bukan hanya terjadi di Indonesia. Studi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2021 menunjukkan bahwa di banyak negara Muslim, limbah makanan selama Ramadan–yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan–justru meningkat hingga 30 persen.

    Baca: Program Ngaji Ramadan bersama ulama KUPI

    Secara psikologis, puasa menempatkan tubuh dalam kondisi hot state (keadaan emosional tinggi) akibat rasa lapar dan lelah. Dalam kondisi ini, kemampuan self-control (pengendalian diri) melemah.

    Dalam keadaan ini, kita lebih mudah membuat keputusan yang impulsif tanpa pemikiran yang tenang. Tak heran, menjelang berbuka, kita sering kali membeli lebih banyak makanan daripada yang benar-benar kita butuhkan.

    Saat lapar, otak kita mengalami bias proyeksi. Ini membuat kalkulasi kita seputar porsi asupan makanan yang dibutuhkan tubuh cenderung meleset.

    Efek dopamin yang memicu rasa senang berlebihan juga membuat kita lebih menikmati proses berbelanja makanan, meskipun nantinya tidak dikonsumsi.

    Tak hanya itu, self-licensing effect (efek pembenaran diri) turut membuat seseorang merasa layak menghadiahi dirinya sendiri setelah berpuasa seharian.

    Efek ini memberikan “izin moral” untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip sebelumnya: sesudah menahan lapar seharian, wajar kalau sekarang ingin makan lebih banyak.

    Serupa, seseorang yang sudah berolahraga merasa tidak masalah untuk makan junk food dalam jumlah besar.

    Dorongan kelelahan berpikir dan norma kolektif
    Sepanjang hari berpuasa, kita dihadapkan pada berbagai keputusan kecil. Misalnya mulai dari menentukan aktivitas agar tetap produktif, memilih menu sahur yang tepat, hingga mengatur energi agar bertahan sampai jam berbuka puasa.

    Proses pengambilan keputusan yang terus-menerus ini menyebabkan decision fatigue (kelelahan dalam mengambil keputusan). Hal tersebut merupakan situasi ketika kemampuan seseorang untuk berpikir rasional menurun akibat rentetan keputusan yang harus dibuat.

    Saat melihat banyak pilihan dalam rak makanan di supermarket atau menu berbuka yang menggoda, kelelahan mental ini membuat kita lebih cenderung memilih berdasarkan dorongan sesaat ketimbang pertimbangan rasional.

    Inilah mengapa belanja impulsif dan konsumsi berlebihan sering terjadi di waktu berbuka.

    Selain itu, peningkatan konsumsi bukan hanya terjadi karena faktor psikologis, tetapi juga karena adanya normative reinforcement (penguatan normatif).

    Artinya, masyarakat merasa bahwa berbelanja lebih banyak, terutama untuk berbagi makanan dengan keluarga dan kerabat adalah bagian dari kewajiban sosial dan ekspresi kepatuhan terhadap norma keagamaan. Hal ini memperkuat perilaku konsumsi yang mencolok (conspicuous consumption).

    Dalam Teori Konsumsi Mencolok, ekonom dan sosiolog asal Amerika Serikat Thorstein Verble menyatakan bahwa, perilaku konsumsi tidak hanya didorong oleh kebutuhan. Perilaku tersebut juga dipicu oleh keinginan untuk menunjukkan status sosial dan kepatuhan terhadap norma kolektif.

    Dalam konteks Indonesia, teori ini semakin relevan karena budaya kolektivisme yang tinggi sebagaimana dijelaskan dalam model Dimensi Budaya Hofstede.

    Ia adalah pakar psikologi sosial asal Belanda yang membedah enam dimensi dasar yang memengaruhi bagaimana masyarakat mengorganisasikan komunitasnya sendiri.

    Fenomena ini adalah ‘paradoks Ramadan’—ketika niat menahan diri berubah menjadi dorongan untuk mengonsumsi lebih banyak.

    Dari sudut pandang psikologi, sosiologi, hingga ekonomi perilaku, Ramadan mengungkap betapa kuatnya pengaruh emosi, sosial, dan budaya dalam membentuk perilaku konsumsi kita.

    Ramadan seharusnya menjadi bulan refleksi, bukan sekadar ajang konsumsi. Karena sejatinya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga mengendalikan keinginan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII)

  • Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    7cloud.asia – Tahukah kamu jika puasa bukan cuma dilakukan manusia, tapi juga terjadi di dunia tumbuhan?

    Tentu saja, jangan membayangkan tumbuhan “berpuasa” dalam arti tradisional seperti cara puasa yang dilakukan manusia. Tumbuhan punya cara sendiri dalam berpuasa.

    Jika manusia biasanya berpuasa pada waktu tertentu seperti saat bulan Ramadan, tumbuhan berpuasa saat kondisi tertentu. Misalnya, saat tidak ada asupan air di masa kekeringan atau saat cuaca panas ekstrem.

    Selama “berpuasa”, tumbuhan memperlambat aktivitas metabolisme tubuhnya demi bertahan hidup dalam kondisi yang kurang mendukung.

    “Puasa” tumbuhan biasa dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti:

    1. Dormansi biji
    Dormansi berarti tidur, mengurangi aktivitas pertumbuhan, atau bisa disebut juga “berpuasa tumbuh”. Biji akan dorman saat berada dalam kondisi lingkungan sekitar yang tidak cocok untuk perkecambahan.

    Misalnya, biji jatuh di bebatuan atau tanah yang kering akan menyebabkan biji “berpuasa” atau tidak banyak melakukan aktivitas pertumbuhan.

    Ada dua hormon penentu kapan biji harus “berpuasa” atau berkecambah, yakni asam absisat (ABA) dan giberelin. Kadar ABA tinggi menyebabkan biji tetap “berpuasa”, dan sebaliknya, giberelin yang tinggi akan membuat biji berkecambah.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan tanaman pisang liar 

    2. Dormansi tunas
    Tunas adalah bagian ujung dari tumbuhan, yang biasanya ada di batang, daun, atau akar. Tunas disebut dorman saat meristem atau jaringan tumbuhan yang aktif membelah, tidak bekerja.

    Dormansi tunas umum terjadi pada pohon yang hidup di negeri empat musim, seperti pohon poplar (Populus tremula) atau sakura (Prunus serrulata), saat mereka memasuki musim dingin.

    3. Absisi atau menggugurkan daun
    Jika kamu pernah melihat pohon-pohon menggugurkan daun, itu juga adalah salah satu bentuk “puasa” tumbuhan.

    Daun adalah “dapur” tumbuhan tempat mereka memasak bahan-bahan “makanan” yang diperoleh dari tanah (air) dan udara (karbon dioksida) dengan bantuan cahaya matahari.

    Proses memasak ini disebut sebagai fotosintesis. Jika tumbuhan tidak punya bahan-bahan makanan, maka “dapur” mereka akan “ditutup” sementara dengan cara menggugurkan daun.

    Strategi ini membantu tumbuhan menghemat air dan energi agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

    Lantas, kapan tumbuhan “berpuasa”? Tumbuhan biasanya “berpuasa” pada kondisi tertentu, seperti berikut ini:

    1. Peralihan musim gugur-dingin-semi
    Suhu yang turun drastis di musim dingin bisa mengakibatkan pembekuan seluler dan mengganggu suplai air dari perakaran di tanah. Pembekuan seluler ini seperti balon kecil dengan air membeku di dalamnya.

    Air beku ini dapat dengan mudah merusak kulit sel tumbuhan. Angin musim dingin yang kering juga mengganggu kelembapan daun dan berpotensi merusak fungsi daun.

    Dengan “berpuasa”, tumbuhan bisa mengurangi risiko kerusakan dan bertahan hingga musim semi.

    Baca: Indonesia miliki lebih dari 300 jenis tanaman pisang lokal

    2. Kekeringan
    Dalam kondisi kekeringan, tumbuhan umumnya “berpuasa” dengan menghemat penggunaan air hanya untuk fungsi vital, salah satunya adalah fotosintesis.

    Bahkan di daerah yang sering kering, beberapa tumbuhan tetap “berpuasa” meski sudah memasuki musim hujan, karena mereka terbiasa mengandalkan cadangan air daripada menyerap langsung dari tanah.

    Contohnya adalah Pohon Baobab yang menyimpan air di dalam batangnya yang besar untuk bekal menghadapi kemarau panjang. Pohon ini disebut juga semi-sukulen atau tanaman yang mampu menyimpan air.

    Kerabatnya dari jenis sukulen sejati, seperti kaktus, melakukan hal serupa untuk bertahan di lingkungan yang gersang.

    Saat kondisi benar-benar kering, beberapa jenis tumbuhan bahkan bisa “berpuasa ekstrem”. Tumbuhan akan tampak seperti mati karena kehilangan sebagian besar kandungan airnya.

    Laju metabolisme tumbuhan akan pulih saat kondisi air lingkungan mencukupi. Itulah mengapa mereka dikenal sebagai ressurection plant atau tanaman kebangkitan, salah satu contohnya adalah Craterostigma plantagineum atau blue carpet yang banyak tumbuh di Afrika.

    3. Perubahan iklim dan polusi
    Polusi dan cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim juga bisa membuat tumbuhan stres. Ketika tumbuhan mengalami stres, mereka harus mengalihkan energi dari pertumbuhan dan reproduksi ke mekanisme pertahanan.

    Proses-proses ini membutuhkan energi, sehingga tumbuhan harus mengurangi atau menghentikan sementara pertumbuhan dan reproduksi, seperti “berpuasa”.

    Baca: Beragam jenis pohon Ficus yang menjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    Selain perubahan iklim, polusi juga membuat tumbuhan harus lebih sering “berpuasa”. Polusi ozon (O3) di udara bisa merusak daun. Sementara polusi logam berat di tanah secara umum bisa mengganggu pertumbuhan tumbuhan dan perkecambahan biji.

    Masih banyak informasi yang harus digali lewat penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana perubahan iklim dan polusi membuat tumbuhan harus “berpuasa”.

    Intinya, “berpuasa” bagi tumbuhan bukan sekadar fenomena alam, melainkan bagian dari survival mode atau strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan tidak mendukung.

    Masalahnya, jika sebelumnya mayoritas tumbuhan hanya “berpuasa” di musim dingin atau kemarau, kini cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim dan pencemaran yang disebabkan oleh manusia memaksa mereka “berpuasa” lebih keras, sekaligus lebih lama.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Mafrikhul Muttaqin (Lecturer, Department of Biology, IPB University)

  • Empat Manfaat Puasa untuk Kinerja Otak

    7cloud.asia – Banyak orang sudah tahu manfaat puasa bagi kesehatan fisik. Tapi, apakah kamu sudah tahu jika puasa juga menyimpan manfaat bagi kesehatan otak.

    Tidak makan dan minum dari pagi sampai petang saat berpuasa memang akan memengaruhi proses metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi.

    Padahal, supaya bisa bekerja dengan optimal, otak dan seluruh jaringan di tubuh butuh energi yang cukup.

    Walaupun tidak mendapatkan asupan energi dalam rentang waktu tertentu, tubuh punya mekanisme khusus dalam proses penyaluran energi.

    Salah satunya, energi banyak dialirkan ke otak saat puasa. Inilah salah satu alasan kenapa puasa punya manfaat untuk otak.

    Berikut ini adalah beberapa manfaat puasa untuk otak, seperti dikutip dari alodokter.com:

    1. Menjernihkan pikiran
    Saat tidak berpuasa, beberapa orang mungkin cenderung mengonsumsi segala jenis makanan, termasuk makanan yang tidak sehat seperti makanan cepat saji.

    Nah, kebiasaan mengonsumsi jenis makanan yang minim nutrisi akan membuat kebutuhan nutrisi harian tubuh menjadi tidak terpenuhi. Lambat laun, hal ini juga bisa memengaruhi sel-sel otak dan mengurangi kecerdasan.

    Ketika kamu berpuasa dengan benar serta mengonsumsi makanan sehat saat sahur dan berbuka, hal ini tidak akan memperparah efek dari konsumsi makanan minim nutrisi sebelumnya. Sebaliknya, hal ini justru akan membantu otak untuk bekerja lebih optimal.

    Baca: Jalan kaki setiap pagi bagus untuk kekuatan otot dan otak

    2. Memperbaiki sel otak
    Segala yang baik untuk tubuh akan baik juga untuk kesehatan otak. Begitu pula dengan puasa saat bulan Ramadan.

    Beberapa penelitian menyatakan bahwa puasa akan mengaktifkan proses autofagi yang membantu membuang sel-sel yang rusak dan membentuk sel-sel yang baru.

    Hal inilah yang membuat puasa bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel otak, bahkan dikatakan bisa melindungi sel otak dari penyakit neurodegeneratif, seperti penyakit Alzheimer.

    3. Mengurangi kerusakan sel otak
    Pola hidup yang tidak sehat ditambah paparan radikal bebas, bisa menyebabkan peradangan hingga kerusakan jaringan tubuh, tak terkecuali sel dan jaringan otak.

    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa puasa bisa membantu mengurangi tingkat peradangan dan membantu menyehatkan tubuh.

    Puasa dipercaya mampu menurunkan kadar protein C-reaktif, yang merupakan penanda terjadinya peradangan dalam tubuh. Itulah yang membuat puasa juga diyakini memiliki manfaat dalam mengurangi kerusakan sel-sel otak.

    4. Meningkatkan fungsi otak
    Seperti yang telah dibahas sebelumnya, puasa bisa memberikan perlindungan pada otak dari beragam kerusakan dan menjaga kesehatannya. Dengan otak yang sehat, otak pun bisa berfungsi secara maksimal.

    Selain itu, puasa juga diketahui meningkatkan hormon otak, yaitu BDNF (brain derived neutrophic factor). Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia untuk membuktikan kebenaran hal ini.

    Selain bermanfaat untuk kesehatan secara menyeluruh, manfaat puasa untuk otak juga sangat banyak. Agar mendapatkan manfaat-manfaat di atas, kamu perlu menerapkan pola hidup sehat saat berpuasa.

    Selain itu, kamu juga dianjurkan untuk mengonsumsi beragam makanan sehat untuk otak saat sahur atau berbuka, seperti ikan, sayuran berdaun hijau, telur, kacang-kacangan, serta buah jeruk dan blueberry.

    Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar manfaat puasa untuk otak atau memiliki kondisi medis tertentu, tetapi ingin menjalankan ibadah ini dan merasakan manfaatnya, jangan ragu konsultasi ke dokter, ya.

    Baca: Kontaminasi mikroplastik berdampak serius pada fungsi kognitif otak