7cloud.asia – Ramadan oleh banyak orang disebut sebagai bulan refleksi dan pengendalian diri. Ironisnya, puasa Ramadan justru jadi pendorong banyak orang untuk lapar mata,
Akibatnya saat puasa Ramadan yang harusnya jadi bulan pengendalian diri, justru lebih banyak makanan terbuang ke tempat pembuangan akhir. Dan, lonjakan sampah makanan ini jadi satu tantangan terbesar saat Ramadan.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, volume sampah meningkat rata-rata 10–20 persen selama Ramadan, dengan sekitar 40 persen berupa sisa makanan.
Merespon kondisi ini, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman mengatakan, untuk menekan sampah makanan atau food waste, masyarakat dapat meneladani cara Nabi Muhammad SAW saat berbuka: sederhana dan tidak berlebihan.
”Sisa makanan bisa disimpan untuk dikonsumsi kembali, dibagikan kepada yang membutuhkan, atau diolah menjadi kompos. Mengompos di rumah membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus mengembalikan nutrisi ke tanah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis di laman resmi Greenpeace.
Peningkatan konsumsi saat Ramadan juga terlihat dari maraknya penggunaan plastik sekali pakai untuk takjil dan buka puasa bersama.
Riska mengajak masyarakat membawa wadah guna ulang seperti tumbler dan kotak makan, serta memilih kemasan alami seperti besek, tampah, atau daun pisang untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan.
Untuk menjalankan puasa dengan lebih ramah lingkungan, ujarnya, kita juga bisa menerapkan gaya hidup minim sampah dan konsumsi bijak selama Ramadan dengan mengikuti panduan Ramadan Ramah Lingkungan.
Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat hablum minal ‘alam—hubungan dengan alam—melalui langkah sederhana yang berdampak nyata.
“Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga menahan sikap berlebih-lebihan yang membebani Bumi,” ujarnya.
Selain aksi sehari-hari, Greenpeace juga mengajak umat Muslim memanfaatkan waktu-waktu mustajab selama Ramadan untuk mendoakan kelestarian lingkungan dan kebijakan iklim yang lebih adil.
Doa dan aksi berjalan beriringan, ujar Riska, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual terutama kepada saudara-saudara kita yang masih belum pulih dari Bencana Iklim di Sumatera dan juga saudara-saudara kita di Palestina yang belum bebas merdeka dari ancaman zionis Israel.
Menjelang Idul Fitri, refleksi dapat terus disempurnakan lewat pilihan berpakaian. Menggunakan pakaian terbaik memang sunnah, namun tidak harus selalu baru.
Memakai kembali pakaian yang ada, memperbaiki yang rusak, memilih produk preloved, atau membeli pakaian berkualitas dan tahan lama adalah langkah sederhana untuk mengurangi dampak industri fesyen yang boros sumber daya.
“Ramadan adalah kesempatan membersihkan jiwa sekaligus memperbaiki jejak kita di Bumi. Aksi sederhana yang dilakukan bersama dapat menjadi wujud nyata amanah kita sebagai khalifah,” tutup Riska.
Sejumlah jemaah menunaikan salat di pelataran Taj Mahal saat merayakan Idulfitri. Kaisar Muslim Shah Jahan membangun mausoleum ini pada tahun 1631 untuk menyemayamkan mendiang istrinya. Wikimedia, CC BY-SA
7cloud.asia – Ada dua perayaan besar yang menjadi momentum istimewa bagi umat Muslim seluruh dunia pada setiap tahun: Idulfitri yang menandai berakhirnya Ramadan, serta Iduladha yang pelaksanaannya berkaitan erat dengan ibadah Haji, ziarah tahunan ke Mekkah.
Bagi lebih dari satu miliar umat Muslim global, idul (yang berarti “festival” atau “perayaan” dalam bahasa Arab) adalah waktu untuk bersuka cita. Namun, di sejumlah negara, termasuk Australia dan Indonesia, umat Muslim tidak selalu merayakan Idulfitri atau Iduladha pada hari yang serentak. Berikut alasannya:
Maju 10 hingga 12 hari setiap tahun
Selain perbedaan antarkelompok, tanggal Idulfitri dan Iduladha secara juga bergeser setiap tahun. Hal ini terjadi karena Islam menggunakan kalender lunar (Kamariah) yang berbasis pada siklus bulan—berbeda dengan kalender Gregorian (Masehi) yang mengikuti matahari.
Alhasil, tanggal pada kalender Islam jatuh 10–12 hari lebih awal setiap tahunnya. Ini berarti tanggal perayaan kedua Idul tersebut juga bergerak maju sekitar 11 hari setiap tahun dalam penanggalan masehi.
Dalam penanggalan Islam, Idulfitri jatuh pada tanggal 1 Syawal (bulan ke-10), yang dirayakan tepat setelah bulan Ramadan usai. Sementara Iduladha jatuh pada tanggal 10 Zulhijah (bulan ke-12), yang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah Haji.
Perbedaan di tingkat lokal
Karena Islam mengikuti kalender lunar (Kamariah), penentuan awal setiap bulan dalam kalender Islam—termasuk tanggal kedua hari raya Idul—bergantung pada terlihatnya hilal atau bulan sabit muda yang muncul tepat setelah fase bulan baru, yaitu fase ketika bulan tidak terlihat sama sekali.
Namun, terdapat berbagai metode untuk melakukan hal ini, serta perbedaan interpretasi di kalangan ulama mengenai metode mana yang terbaik. Variasi inilah yang menjadi alasan mengapa satu kelompok dalam masyarakat mungkin merayakan Lebaran pada hari Minggu, sementara kelompok lainnya baru merayakannya pada hari Senin.
Bulan Ramadan dalam kalender Islam berlangsung selama 29 hingga 30 hari, dihitung dari satu kemunculan hilal ke kemunculan berikutnya. Pendekatan dalam memantau hilal ini dapat bervariasi antarnegara, komunitas, bahkan hingga ke tingkat rumah tangga. Shutterstock
Sebagian umat Muslim meyakini bahwa setiap negara harus bergantung pada hasil pemantauan hilal lokal di wilayah masing-masing.
Artinya, jika bulan sabit muda terlihat di negara tetangga tetapi tidak tampak di Australia (misalnya karena tertutup awan), maka Australia harus merayakan Idulfitri sehari setelah negara tetangganya. Organisasi Moonsighting Australia mengikuti metode ini. Mereka hanya mengumumkan Idulfitri jika hilal telah terlihat secara lokal.
Namun, pihak lain berpendapat bahwa jika hilal telah terlihat di bagian dunia mana pun, maka hasil tersebut harus diterima oleh seluruh umat Muslim sebagai awal bulan baru dalam kalender Islam.
Sejumlah umat Muslim di Australia memilih pendekatan “pemantauan hilal global” dengan mengikuti pengumuman Idulfitri dari Arab Saudi, meskipun hilal tidak terlihat di wilayah lokal mereka.
Sejak abad-abad awal Masehi, masyarakat di dunia Arab telah menggunakan astrolab untuk mengamati langit. Instrumen ini merupakan milik Sultan Yaman, matematikawan, sekaligus astronom Al-Ashraf Umar II (sekitar 1242-1296). Metropolitan Museum of Art
Selain persoalan lokasi hilal terlihat, terdapat pula perbedaan pandangan mengenai cara memantaunya. Banyak ulama meyakini bahwa hilal harus dilihat dengan mata telanjang, sebagaimana yang dipraktikkan pada masa Nabi Muhammad.
Namun, sejumlah negara Muslim, seperti Turki dan sebagian wilayah Eropa, menggunakan perhitungan astronomi (hisab) untuk memprediksi kemunculan bulan baru. Metode ini memungkinkan mereka menetapkan tanggal Idulfitri maupun Iduladha jauh hari sebelumnya, bahkan hingga hitungan bulan atau tahun.
Pengaruh latar belakang budaya dan organisasi
Di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, penetapan hari Idulfitri dan Iduladha umumnya dilakukan oleh pemerintah.
Sebagai contoh, di Arab Saudi, Mahkamah Agung secara resmi mengumumkan tanggal tersebut berdasarkan laporan pemantauan hilal. Keputusan ini menetapkan waktu salat Id dan hari libur nasional bagi seluruh negeri, sehingga perayaannya serentak di seluruh negara.
Hal serupa juga terjadi di Australia. Muslim yang berasal dari latar belakang budaya yang beragam memegang pandangan yang berbeda-beda mengenai cara memantau hilal.
Sebagian mungkin mengikuti pengumuman Idulfitri dari negara asal mereka. Sementara yang lainnya bergantung pada pengumuman lokal, atau pada tanggal yang ditetapkan oleh lembaga tinggi seperti Dewan Imam Nasional Australia (ANIC).
Laporan tahun 2023 yang diterbitkan oleh ISRA Academy menyurvei lebih dari 5.500 Muslim di Australia untuk memahami bagaimana mereka menentukan tanggal Idulfitri.
Temuan tersebut mengungkapkan perbedaan signifikan di berbagai komunitas. Responden dari komunitas Arab terbagi hampir merata, antara pengikut pengumuman masjid lokal (28,5%) dan Dewan Imam Nasional Australia (28,0%). Ada persentase responden yang sedikit lebih rendah (23,9%) mengikuti Moonsighting Australia. Hanya 0,6% yang mengikuti keputusan negara asal mereka.
Sementara itu, di komunitas Turki, sebanyak 16,1 persen responden mengikuti keputusan negara asal mereka. Proporsi responden terbesar (28,5 persen) mengandalkan masjid lokal atau organisasi Islam.
Namun, mengingat masjid-masjid Turki cenderung mengikuti institusi keagamaan negara Turki, Diyanet, sebagian besar warga Turki di Australia (44,6 persen) pada akhirnya menyelaraskan diri dengan keputusan Idulfitri dari Turki.
Dari kelompok lainnya, sebanyak 18,8 persen mengikuti Moonsighting Australia dan 14,6 persen mengikuti dewan imam nasional.
Adapun di komunitas Muslim Afrika, sebanyak 48,4 persen mengikuti Moonsighting Australia, sementara 32,8 persen mengandalkan masjid lokal, dan 11,7 persen mengikuti dewan imam.
Perayaan Idulfitri terus berevolusi
Meskipun perbedaan perayaan Idulfitri terlihat memicu perpecahan dan fragmentasi, fenomena ini juga memiliki aspek positifnya.
Ini menunjukkan bahwa umat Muslim Australia secara aktif mencari informasi dari berbagai otoritas keagamaan. Fenomena ini mencerminkan tingginya keterlibatan publik dalam keputusan keagamaan—alih-alih sekadar mengikuti.
Kuatnya pengaruh organisasi seperti Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) dan Moonsighting Australia juga mengindikasikan bahwa lembaga keagamaan lokal telah menjadi sumber panduan yang tepercaya.
Lebih jauh lagi, tingginya persentase umat Muslim yang kini mengikuti Moonsighting Australia menandakan adanya tren menuju penentuan Idulfitri yang lebih terlokalisasi.
Tren ini kemungkinan besar akan semakin menguat seiring munculnya generasi ketiga dan keempat Muslim Australia yang memiliki ikatan lebih longgar dengan negara asal leluhur mereka.
Hanya waktu yang akan menjawab apakah Muslim pada akhirnya akan merayakan Idulfitri secara serentak. Untuk saat ini, yang terpenting adalah terus menavigasi perbedaan-perbedaan yang ada dengan sikap saling memahami dan menghormati.